Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 8 [QS. 2:8]

وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ بِالۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ مَا ہُمۡ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ۘ
Waminannaasi man yaquulu aamannaa billahi wa bil yaumi-aakhiri wamaa hum bimu’miniin(a);

Di antara manusia ada yang mengatakan:
“Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
―QS. 2:8
Topik ▪ Sifat orang munafik
2:8, 2 8, 2-8, Al Baqarah 8, AlBaqarah 8, Al-Baqarah 8

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 8

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 8. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini diterangkan golongan yang ketiga yaitu golongan munafik, golongan yang mengaku bahwa mereka beriman, tetapi sebenarnya tidak beriman.
Pengakuan mereka tidaklah benar.
Mereka mengakui demikian itu untuk mengelabui mata dan mempermainkan orang Islam.

Sewaktu Rasulullah ﷺ hijrah dari Mekah ke Medinah, banyak penduduk Medinah masuk Islam dari kabilah ‘Aus dan Khazraj dan beberapa orang Yahudi.
Pada mulanya masih belum tampak golongan ini.
Tetapi sesudah perang Badar tahun kedua Hijri, yang membawa kemenangan bagi kaum Muslimin, mulailah timbul golongan munafik ini.
Abdullah bin Ubay, seorang pemimpin di Medinah dari kabilah Khazraj, anak dari seorang yang pernah menjadi pemimpin suku Aus dan Khazraj, oleh pengikut-pengikutnya dijadikan calon raja di Medinah.
Dia berkata kepada pengikut-pengikutnya, “Situasi sekarang jelas menunjukkan kemenangan bagi Muhammad”.
Kemudian Abdullah bin Ubay dan pengikut-pengikutnya menyatakan masuk Islam tetapi hati mereka tetap membenci.
Tujuan mereka hendak menghancurkan kaum Muslimin dari dalam, dengan berbagai macam usaha dan tipu daya.
Di antara mereka banyak pula orang Yahudi.

Sabda Nabi ﷺ:

Perumpamaan orang munafik seperti seekor anak kambing yang bingung dan ragu di antara dua kambing, bolak-balik, kadang-kadang mengikuti yang satu ini, kadang-kadang mengikuti yang lainnya.
(H.R Muslim dari Ibnu Umar)

Mereka bukanlah termasuk orang-orang yang beriman yang benar dan yang merasakan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala, bukanlah pula mereka menyadari bahwa Allah sebenarnya mengetahui perbuatan mereka lahir dan dalam.
Sekiranya mereka beriman dengan iman yang benar, tentulah mereka tidak melakukan perbuatan yang menyakitkan hati Nabi ﷺ dan kaum muslimin.
Mereka melakukan ibadah salat dan puasa, hanya untuk mengelabui mata umum, sedang mereka sesungguhnya tidak menghayati jiwa ibadah-ibadah itu






Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta