Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 78


وَ مِنۡہُمۡ اُمِّیُّوۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ الۡکِتٰبَ اِلَّاۤ اَمَانِیَّ وَ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَظُنُّوۡنَ
Waminhum ummii-yuuna laa ya’lamuunal kitaaba ilaa amaanii-ya wa-in hum ilaa yazhunnuun(a);

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.
―QS. 2:78
Topik ▪ Keabadian neraka
2:78, 2 78, 2-78, Al Baqarah 78, AlBaqarah 78, Al-Baqarah 78
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 78. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menceritakan orang-orang awam pengikut-pengikut mereka yang mengikuti saja kemauan pendeta-pendeta yang memutar balikkan isi Taurat, baik pemimpin ataupun pengikutnya, keduanya dalam kesesatan.
Di antara orang-orang Yahudi itu ada golongan ummi yaitu orang-orang yang beta huruf, tidak dapat membaca dan menulis.
Mereka hanya dapat menghafal-hafal Kitab Taurat tetapi mereka tidak dapat memahami makna dan kandungan isinya dan amal perbuatannyapun tidak dapat mencerminkan apa yang dimaksud oleh isi Taurat itu.

Mereka ini adalah kaum yang hanya mendasarkan sesuatu kepada sangkaan saja tidak sampai kepada martabat keyakinan yang berdasarkan keterangan-keterangan yang pasti yang tidak ada keraguan lagi.
Orang-orang Yahudi itu memang banyak ingkar terhadap kebenaran, meskipun kebenaran itu telah terang dan jelas.
Dan banyak mendustakan ayat-ayat Allah dan paling banyak tertipu oleh dirinya sendiri serta suka memakan harta orang lain dengan cara haram, seperti riba, mengicuh dan suap.
Dalam pada itu mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling utama di antara bangsa di dunia.

Al Baqarah (2) ayat 78 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 78 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 78 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara orang-orang Yahudi itu terdapat kelompok orang yang bodoh, buta huruf dan tidak mengetahui apa pun tentang Tawrat kecuali kebohongan yang sesuai dengan angan-angan mereka.
Yaitu kebohongan yang dihiasi oleh pendeta-pendeta Yahudi itu dan diberikan anggapan pada mereka bahwa hal ini adalah kebenaran dari kitab.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan di antara mereka) di antara orang-orang Yahudi itu (ada yang buta huruf) atau orang-orang awam yang (tidak mengetahui Alkitab) maksudnya Taurat (kecuali) (angan-angan) atau kebohongan belaka, yakni yang mereka dengar dari para pemimpin mereka lalu mereka terima dan percayai.
(Dan tiadalah) (mereka) yakni dalam menentang kenabian Muhammad dan soal-soal lainnya yang mereka buat-buat itu (kecuali hanyalah menduga-duga belaka) yakni dugaan yang tidak berdasarkan ilmu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara orang-orang Yahudi ada sekelompok orang yang tidak mengetahui baca tulis.
Mereka tidak mengetahui Taurat dan isinya yang menetapkan sifat-sifat Nabiyullah Muhammad ﷺ, mereka tidak memiliki apa pun selain kedustaan dan dugaan-dugaan rusak,

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Waminhum ummiyyuna, di antara ahli kitab itu ada yang buta huruf, menurut Mujahid.
Al-ummiyyun adalah bentuk jamak dari lafaz ummiy yang artinya orang yang buta huruf.
Demikian pula yang dikatakan oleh Abul Aliyah, Ar-Rabi', Qatadah, Ibrahim An-Nakha'i, serta banyak ulama lainnya.
Makna ini jelas terdapat di dalam firman-Nya, "La ya'lamunal kitaba," yakni mereka tidak mengetahui apa yang terkandung di dalam kitab Taurat.
Sehubungan dengan pengertian lafaz ini disebutkan dalam sifat-sifat Nabi ﷺ bahwa beliau adalah seorang yang ummiy.
Dikatakan demikian karena beliau adalah orang yang tidak dapat menulis (yakni buta huruf), seperti yang disebutkan oleh ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur'an) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), niscaya akan ragulah orang yang mengingkari(mu).
(Al-'Ankabut: 48)

Nabi ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak dapat menulis, dan kami tidak dapat menghitung, satu bulan itu adalah segini, segini, dan segini (yakni tiga puluh hari)

Dengan kata lain dalam ibadah kami, kami tidak memerlukan tulisan dan hitungan untuk menentukan waktu-waktunya.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka.
(Al Jumuah:2)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa orang-orang Arab menisbatkan orang yang tidak dapat menulis dan membaca kepada ibunya, karena disamakan dengan keadaan ibunya yang tidak dapat menulis, tetapi bukan dinisbatkan kepada ayahnya.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas suatu pendapat yang berbeda dengan pendapat ini, yaitu sebuah riwayat yang diceritakan oleh Abu Kuraib.
Dia menceritakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Sa'id ibnu Bisyr ibnu Imarah, dari Abu Rauq, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara mereka ada yang buta huruf.
(Al Baqarah:78) Bahwa orang-orang ummi adalah suatu kaum yang tidak percaya kepada rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta'ala, tidak pula kepada kitab yang telah diturunkan oleh Allah.
Kemudian mereka menulis suatu kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka katakan kepada orang-orang yang bodoh dari kalangan mereka bahwa kitab tersebut dari sisi Allah.

Ibnu Jarir memberikan komentarnya, telah diberitakan bahwa mereka (orang-orang Yahudi tersebut) menulis sebuah kitab dengan tangan mereka.
Tetapi setelah itu mereka disebut sebagai orang-orang yang ummi karena keingkaran mereka kepada kitab-kitab Allah dan rasul-rasul-Nya.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa takwil ini merupakan takwil yang berbeda dengan apa yang dikenal di dalam percakapan orang-orang Arab dan bahasanya yang telah baku di kalangan mereka.
Demikian itu karena istilah ummi artinya ditujukan kepada orang yang tidak dapat membaca dan menulis (yakni buta huruf).

Menurut kami kesahihan sanad riwayat ini, dari Ibnu Abbas, masih perlu dipertimbangkan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Illa amaniyya," menurut Ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa makna yang dimaksud ialah omongan-omongan belaka.

Menurut Ad-Dahhak —juga dari Ibnu Abbas— illa amaniyya artinya hanya omongan yang keluar dari mulut mereka secara dusta.
Sedangkan menurut Mujahid, amaniyya artinya dusta.

Sunaid meriwayatkan dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya:

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka.

Segolongan orang dari kalangan orang-orang Yahudi yang tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat) barang sedikit pun —dan mereka berbincang-bincang hanya dengan dugaan belaka tanpa dasar dari Kitabullah— mengatakan bahwa omongan bohong tersebut adalah dari Al-Kitab.
Padahal apa yang mereka katakan itu hanyalah omongan dusta belaka yang mereka duga-duga.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri.

Abul Aliyah, Ar-Rabi', dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Illa amaniyya,'" bahwa apa yang mereka katakan itu hanyalah angan-angan belaka yang mereka harapkan dari Allah, padahal mereka sama sekali tidak berhak untuk mendapatkannya.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna illa amaniyya, bahwa mereka berangan-angan dan mengatakan, "Kami adalah ahli kitab," padahal kenyataannya mereka bukan termasuk ahli kitab.

Menurut Ibnu Jarir, pendapat yang lebih mirip kepada kebenaran ialah apa yang telah dikemukakan oleh Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas tadi.

Mujahid mengatakan, sesungguhnya orang-orang ummi itu ialah kaum yang disebutkan ciri-cirinya oleh Allah subhanahu wa ta'ala, bahwa mereka tidak sedikit pun memahami kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa, tetapi mereka membuat-buat kedustaan dan kebatilan serta kedustaan dan kepalsuan.
Dengan demikian, berarti makna tamanni dalam ayat ini ialah membuat-buat kedustaan dan kepalsuan.
Termasuk ke dalam pengertian ini, ada sebuah riwayat yang bersumber dari sahabat Usman ibnu Affan r.a.
Disebutkan bahwa ia pernah mengatakan, "Aku tidak pernah bersyair, tidak pernah pula membuat kebatilan, serta aku tidak pernah membuat kedustaan."

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan makna illa amaniyya —dibaca dengan tasydid dan takhfif ialah illa tilawatan— hanyalah bacaan belaka.
Berdasarkan pengertian ini, berarti istisna yang ada bersifat munqati.
Para pendukung pendapat ini memperkuat pen-apatnya berdalil kepada firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan, "Melainkan apabila ia hendak membaca, maka setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap bacaannya itu," hingga akhir ayat 52 surat Al-Hajj (menurut orang yang mengartikan lamanna dengan makna tala, yakni membaca).

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan, telah menceritakan kepadanya Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

mereka tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat) kecuali dongengan-dongengan bohong belaka, dan mereka hanya menduga-duga.

Artinya, mereka tidak mengetahui apa yang terkandung di dalam Kitabullah (Taurat) dan mereka menemukan kenabianmu hanya dengan menduga-duga saja.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Wa in hum illa yazunnuna” dan mereka hanya berdusta belaka.

Qatadah, Abul Aliyah, dan Ar-Rabi' mengatakan bahwa mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 78

AMANIY
أَمَانِي

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari umniyah yang berarti al bughyah yaitu durhaka, menyimpang dari kebenaran atau dusta karena pendusta membuat perkataan dalam dirinya kemudian mengatakannya.

Al Kafawi berkata,
umniyah ialah apa yang hilang dari bacaannya sebagaimana Allah berfirman,

أَلْقَى ٱلشَّيْطَٰنُ فِىٓ أُمْنِيَّتِهِ

Makna pada bacaannya bermaksud apa yang diharapkan oleh manusia dan diingininya, dan makna lainnya ialah kebohongan-kebohongan.

Lafaz amaaniy disebut lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 78, 111;
-An Nisaa (4), ayat 123, 123;
-Al­ Hadid (57), ayat 14.

Az Zamakhsyari menafsirkan makna amaaniy yang terdapat dalam surah Al Baqarah dengan "mereka berada dalam rekaan atau pembohongan. Allah memaafkan dan me­ rahmati mereka serta tidak menghitung kesalahan-kesalahan mereka. Sesungguhnya bapak-bapak mereka dari nabi-nabi memohon syafaat bagi mereka dan ulama-ulama mereka (ahbar) mereka-reka neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali beberapa saat saja.

Ada yang mengatakan (amani) itu adalah dusta-dusta yang berbagai, mereka mendengarnya dari ulama-ulama mereka dan mereka menerimanya secara taklid semata-semata.

Ibn Qutaibah berkata,
"Mereka tidak mengetahui Al Kitab kecuali yang diriwayatkan oleh ulama-ulama mereka dan menerimanya serta menyangka ia adalah benar, padahal ia adalah dusta."

Dalam ayat 111, lafaz amani bermakna khayalan-khayalan dan mimpi­ mimpi mereka.

Makna amani dalam surah An-Nisaa menurut Qatadah, "Disebutkan kepada kami orang Islam dan orang Yahudi berbangga-bangga." Ahli Kitab berkata,
"Nabi kami lebih dahulu daripada nabi kamu dan kitab kami lebih dahulu daripada kitab kamu. Oleh itu, kami lebih mulia daripada kamu" Orang Muslim berkata,
"Kami lebih mulia di sisi Allah daripada kamu karena nabi kami adalah penutup segala nabi-nabi dan kitab kami memansuhkan kitab-kitab sebelumnya," maka turunlah ayat ini.

Ibn Katsir menafsirkan lafaz amani dalam surah Al Hadid sebagai "kamu ditipu oleh keduniaan."

Al Khazin menafsirkan lafaz amaaniy dalam surah itu dengan al-abathil (kebatilan­kebatilan) yaitu di mana kamu berkeinginan supaya kehancuran menimpa orang Islam.

An-Nasafi berpendapat, maknanya ialah tal al amal (panjang angan-angan) dan ingin umur panjang.

Ibn 'Abbas berkata,
maksudnya ialah kebatilan-kebatilan dan at tamanni (kemauan atau angan-angan).

Sa'id Hawwa berkata,
"Juga kemauan­ kemauan atau angan-angan serta tamak kepada harta benda dan keduniaan."

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:47-48

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 78 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 78



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (8 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku