Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 71


قَالَ اِنَّہٗ یَقُوۡلُ اِنَّہَا بَقَرَۃٌ لَّا ذَلُوۡلٌ تُثِیۡرُ الۡاَرۡضَ وَ لَا تَسۡقِی الۡحَرۡثَ ۚ مُسَلَّمَۃٌ لَّا شِیَۃَ فِیۡہَا ؕ قَالُوا الۡـٰٔنَ جِئۡتَ بِالۡحَقِّ ؕ فَذَبَحُوۡہَا وَ مَا کَادُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ
Qaala innahu yaquulu innahaa baqaratun laa dzaluulun tutsiirul ardha walaa tasqiil hartsa musallamatun laa syiyata fiihaa qaaluuuaana ji-ata bil haqqi fadzabahuuhaa wamaa kaaduu yaf’aluun(a);

Musa berkata:
“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya”.
Mereka berkata:
“Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”.
Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
―QS. 2:71
Topik ▪ Peredaran air dalam alam
2:71, 2 71, 2-71, Al Baqarah 71, AlBaqarah 71, Al-Baqarah 71
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 71. Oleh Kementrian Agama RI

Seekor sapi yang diperintahkan untuk disembelih itu ialah seekor sapi yang belum pernah dipergunakan untuk membajak dan mengangkut air, sehat, dan tidak cacat sedikit pun.
Setelah mendapat keterangan ini, mereka menyatakan sekarang barulah jelas buat mereka.
Akhirnya mereka pun mendapatkannya dan kemudian mereka menyembelihnya.
Hampir-hampir mereka tidak sanggup mengerjakannya, karena terlalu sukar untuk mendapatkan sapi yang dimaksud.

Dalam suatu hadis disebutkan, “Kalau sekiranya mereka langsung menyembelih saja seekor sapi betina pada waktu mereka menerima perintah, cukuplah sudah.
Tetapi mereka mengajukan pertanyaan yang memberatkan mereka sendiri, maka Allah pun memberatkannya.” (Riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas)

Permintaan Nabi Musa atas perintah Allah kepada kaumnya itu (ayat 67) sederhana sekali: “Sembelihlah seekor sapi betina”.
Selesai, tanpa harus banyak bertanya.
Tetapi mereka sudah biasa cerewet dan mengajukan pertanyaan macam-macam sekitar sapi itu”yang maksudnya hendak mengejek”padahal soalnya sudah jelas.
Karena mereka keras kepala, maka akibatnya menyulitkan mereka sendiri, seperti dilukiskan dalam ayat 71 dan dipertegas dalam hadis di atas.
Cara-cara bertanya demikian itu kemudian menjadi ungkapan dalam bahasa Arab, ditujukan kepada mereka yang cerewet dengan pertanyaan yang dicari-cari: Ma hiya wa ma lawnuha, (Yang bagaimana dan apa warnanya?).
Ayat-ayat di atas (67-71) merupakan satu kesatuan.
Peristiwanya erat hubungannya dengan ayat 72 di bawah.
Menurut tradisi Yahudi dalam syariat Musa a.s., apabila terjadi suatu pembunuhan yang tidak diketahui siapa pembunuhnya, maka para sesepuh dan hakim harus keluar mengukur jarak ke kota-kota sekeliling orang yang terbunuh; mereka harus mengambil seekor lembu betina muda yang belum pernah dipakai membajak; mereka harus mematahkan leher lembu itu di suatu lembah; semua sesepuh dari kota terdekat harus membasuh tangannya ke atas lembu muda yang lehernya sudah dipatahkan di lembah itu, dan mereka harus menyatakan, bahwa tangan mereka tidak mencurahkan darah dan mata mereka tidak melihatnya; maka diadakan perdamaian dan mereka mengimbaunya untuk tidak menimpakan darah kepada orang yang tidak bersalah (Kitab Ulangan xxi.
1-9).

Al Baqarah (2) ayat 71 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 71 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 71 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kemudian Musa berkata kepada mereka, “Firman Allah, ‘Sapi itu adalah sapi yang tidak pernah dipakai untuk membajak tanah untuk ditanami.
Juga bukan sapi yang dipakai untuk menyirami tanah yang akan dipakai untuk bercocok tanam.
Sapi itu tidak memiliki cela dan tidak memiliki warna yang berbeda dengan kebanyakan warna tubuhnya.
‘” Mereka berkata, “Sekarang kamu telah memberikan keterangan yang jelas tentang sapi itu.” Mereka kemudian mencari sapi yang memiliki ciri-ciri itu untuk disembelih.
Hampir saja mereka tidak dapat melaksanakannya akibat banyaknya pertanyaan mereka dan akibat kekeraskepalaan mereka yang terus-menerus.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kata Musa, “Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk bekerja) (membajak tanah) untuk ditanami.
Kalimat belakang ini menjadi sifat bagi ‘dipakai untuk bekerja’ dan termasuk barang yang dinafikan.
(dan tidak pula untuk mengairi tanaman) atau tanah yang dipersiapkan untuk ditanami tumbuh-tumbuhan (tidak bercacat) bebas dari aib dan bekas-bekas bekerja berat (tidak ada belangnya.”) tidak ada warna lain dari warna aslinya.
(Kata mereka, “Sekarang barulah kamu mengatakan kebenaran.”) Maksudnya memberikan penjelasan yang cukup jelas tentang sapi yang dimaksud.
Mereka cari sapi tersebut dan kebetulan ditemukan pada seorang anak muda yang berbakti kepada ibunya, lalu mereka beli dengan emas sepenuh bungkusan yang terbuat dari kulit sapi itu.
(Lalu mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakannya) karena harganya yang tinggi.
Dalam sebuah hadis disebutkan, seandainya mereka segera menyembelih seekor sapi betina yang ada tanpa banyak tanya, yang demikian itu akan mencukupi.
Tetapi mereka menyusahkan diri mereka sendiri sehingga dipersulit oleh Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka Musa berkata kepada mereka, Sesungguhnya Allah berfirman, Ia adalah sapi yang jinak yang telah digunakan untuk membajak sawah untuk pertanian, tidak digunakan untuk menyiram tanaman, bebas dari segala cacat, di kulitnya tidak ada warna lain selain warna kulitnya.
Mereka menjawab, Sekarang engkau telah mendatangkan ciri-ciri sapi sebenarnya.
Mereka akhirnya menyembelih setelah proses negosiasi panjang dan mereka hampir saja tidak kuasa melakukannya karena penentangan mereka.
Manakala mereka mempersulit diri, Allah pun mempersulit mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Musa berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman.”

Sapi betina tersebut bukan sapi betina yang dipersiapkan untuk membajak tanah, tidak pula dipersiapkan untuk mengangkut air guna pengairan, melainkan sapi betina yang dipelihara sebagai hewan kesayangan dalam keadaan sehat, utuh, lagi tiada bercacat.

La syiyatafiha, tiada warna lain pada kulitnya selain dari warna kuning, yakni tidak ada belangnya.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa musallamah artinya tidak bercacat.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Abul Aliyah dan Ar-Rabi’.
Mujahid mengatakan, musallamah artinya bebas dari belang, yakni tidak ada belangnya.

Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa musallamah artinya semua kaki dan seluruh tubuhnya mulus, bebas dari belang.
Menurut Mujahid, la syiyata fiha artinya tidak ada warna putih dan hitam, yakni tidak berbelang.
Abul Aliyah, Ar-Rabi’, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan tidak ada belang putihnya.
Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa la syiyatafiha warnanya satu lagi tua.
Telah diriwayatkan dari Atiyyah Al-Aufi, Wahb ibnu Munabbih dan Ismail ibnu Abu Khalid hal yang semisal.
As-Saddi mengatakan, la syiyata fiha artinya tidak ada belang putih, belang hitam, dan belang merahnya.

Semua makna yang telah disebutkan di atas hampir sama maksudnya, tetapi ada sebagian ulama yang menduga bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Innaha baqaratul La zalulun,” artinya sesungguhnya sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak dipersiapkan untuk dipekerjakan.
Kemudian lafaz selanjutnya dianggap sebagai kalimat baru, yaitu firman-Nya, “Tusirul arda” yakni dipekerjakan untuk membajak tanah, hanya sapi betina tersebut tidak dipakai untuk mengairi tanaman.
Pendapat ini lemah karena lafaz La zalulun ditafsirkan oleh firman selanjutnya, yaitu tusirul arda, yakni sapi betina itu tidak dipersiapkan untuk membajak tanah, tidak pula untuk mengairi tanaman.
Demikian menurut ketetapan Al-Qurtubi dan lain-lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka berkata, “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”

Menurut Qatadah, makna ayat ialah ‘sekarang barulah kamu menerangkan yang sebenarnya kepada kami’.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, pendapat lain mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Allah telah menyebutkan kepada mereka hakikat sapi betina yang sebenarnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa mereka hampir saja tidak melakukan perintah itu, karena tujuan mereka bukanlah demikian melainkan mereka bermaksud agar tidak menyembelih sapi betina yang dimaksudkan.
Dengan kata lain, setelah ada penjelasan, tanya jawab, dan keterangan ini mereka tidak juga menyembelihnya kecuali setelah susah payah.
Di dalam ungkapan ini terkandung arti celaan yang ditujukan kepada mereka.
Demikian itu karena maksud dan tujuan mereka yang sesungguhnya hanyalah sebagai ungkapan pembangkangan mereka, maka dikatakanlah bahwa mereka hampir saja tidak menyembelihnya.

Muhammad ibnu Ka’b dan Muhammad ibnu Qais mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Kemudian mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
mengingat harganya yang sangat mahal.

Tetapi penafsiran ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat berita bahwa harganya mahal masih belum dapat terbukti dengan kuat melainkan hanya melalui nukilan dari kaum Bani Israil, seperti yang telah disebutkan di atas dalam riwayat Abul Aliyah dan As-Saddi, dan Al-Aufi telah meriwayatkannya pula dari Ibnu Abbas.

Ubaidah, Mujahid, Wahb ibnu Munabbih, Abul Aliyah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah meriwayatkan bahwa kaum Bani Israil membeli sapi betina tersebut dengan harta yang banyak jumlahnya.
Akan tetapi, hal ini masih diperselisihkan.
Kemudian menurut pendapat yang lain harga pembayarannya tidaklah sebanyak itu.

Abdur Razzaq meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Suqah, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa harga pembelian sapi betina itu hanyalah tiga dinar saja.
Sanad riwayat ini berpredikat jayyid, bersumber dari Ikrimah.
Akan tetapi, pengertian lahiriah riwayat ini menunjukkan bahwa hal ini pun dinukil dari ahli kitab juga.

Ibnu Jarir mengatakan, sehubungan dengan makna ayat ini ulama lainnya mengatakan bahwa mereka hampir tidak melaksanakan perintah itu karena takut rahasia pembunuh yang sebenarnya —yang mereka perselisihkan— akan terungkap.
Riwayat ini tidak disandarkan kepada seorang pun oleh perawi.
Kemudian Ibnu Jarir memilih bahwa pendapat yang benar dalam masalah ini ialah mereka hampir tidak melaksanakan perintah itu karena harganya terlampau mahal, juga karena takut rahasia mereka terungkap.
Akan tetapi, pendapat ini pun masih perlu dipertimbangkan, dan pendapat yang benar —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— ialah seperti apa yang telah disebutkan di atas dalam riwayat Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, menurut pengarahan kami.
Hanya kepada Allahlah kami memohon taufik.

Kesimpulan hukum

Ayat ini —yang mengandung pembatasan sifat-sifat (spesifikasi) sapi betina tersebut hingga bentuknya tertentu atau jelas ciri-cirinya yang sebelum itu masih bersifat mutlak— menunjukkan sah melakukan transaksi salam (pesanan) menyangkut hewan ternak, seperti yang disimpulkan oleh mazhab Maliki, Al-Auza’i, Al-Lais, Asy-Syaqi’i, Ahmad, serta jumhur ulama Salaf dan Khalaf.
Sebagai dalilnya ialah sebuah hadis di dalam kitab Sahihain, disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Janganlah seorang istri menggambarkan sifat-sifat wanita lain kepada suaminya (hingga tersimpulkan oleh suaminya) seakan-akan ia melihat wanita yang dimaksud.

Dalil lainnya ialah seperti sifat-sifat yang dikemukakan oleh Nabi ﷺ tentang ternak unta diat dalam kasus pembunuhan secara keliru dan serupa dengan sengaja, yaitu dengan sifat-sifat (spesifikasi) yang disebutkan di dalam hadis mengenainya.

Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah, As-Sauri, dan ulama Kufah.
Mereka berpendapat, tidak sah melakukan transaksi salam menyangkut hewan ternak, mengingat keadaan hewan ternak selalu tidak stabil.
Hal yang sama diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Huzaifah ibnul Yaman, Abdur Rahman ibnu Samurah, dan lain-lainnya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 71

DZALUUL
ذَلُول

Dzaluul adalah mufrad, jamaknya dzulul. Berasal dari kata adz dzillah atau dzalla-yadzullu yang berarti rendah, hina, tunduk, patuh, belas kasihan, mudah dan sebagainya.

Al Husain bin Muhammad Ad­ Damaaghani mengatakan asal lafaz ini dengan berbagai perubahannya di dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna, yaitu sedikit, tawaddu’, lemah lembut, kehinaan, terbentang dan tersedia, terbelenggu, yang menurut dan patuh, ka’bah atau kedudukan.

Disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 71;
-Al Mulk (67), ayat 15.

Lafaz dzaluul yang terdapat dalam kedua ayat ini berbeda maknamenurut subjek perbincangan.

1. Dalam surah Al Baqarah, lafaz dzaluul dikaitkan dengan Al Baqarah yaitu sapi betina, Allah berfirman:

نَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ ٱلْأَرْضَ وَلَا تَسْقِى ٱلْحَرْثَ

Ibn Qutaibah berkata,
Daaban dzaluul ialah hewan yang jinak. Baqaratul laa dzaluul ialah sapi betina yang tidak jinak.”

Dalam Tafsir Asy Sya’rawi, al baqarah adz dzaluul ialah sapi betina yang sudah terlatih mengerja­kan kewajibannya tanpa rasa susah.

Dalam ayat ini, sifat pertama bagi sapi itu adalah ia tidak terlatih, tidak ada yang mengendalikannya dan tidak digunakan untuk bekerja, ia berkeliaran secara alami tanpa ada penunggunya.”

Dalam Tafsir Al Misbah, makna baqaratul laa dzaluul adalah sapi yang tidak jinak, maknanya belum pernah ada yang menuntun atau membebaninya dengan pekerjaan tertentu.

Kesimpulannya, dzaluul bermakna yang menurut dan jinak, sedangkan makna baqaratul laa dzaluul adalah sapi yang tidak jinak.

2. Dalam surah Al Mulk, lafaz dzaluul disandarkan kepada al ardh (bumi), Allah berfirman:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا

Dalam Safwah Al Tafasir, dzaluul pada ayat ini bermakna lunak dan mudah dijadikan tempat berjalan.”

Az Zujjaj berkata,
makna dzaluul adalah mudah, artinya Allah menjadikan bumi satu kemudahan bagi kamu berjalan di bukitnya, apabila kamu bisa ber­jalan di atas bukitnya, ia lebih mudah darinya (berjalan).

Dalam Tafsir Al Azhar, dzaluul diartikan dengan rendah, maknanya bumi rendah di bawah kaki manusia atau di bawah pijakan manusia. Bagaimana tingginya gunung, apabila manusia mendakinya, namun puncak gunung itu terletak di bawah kaki manusia juga.

Kesimpulannya, maksud dzaluul dalam ayat ini bermakna bumi yang rendah dan mudah dijadikan tempat ber­jalan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:239

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 71 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 71



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (15 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku