Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 surah 2 ayat 255 juga bisa langsung diakses di URL risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 67


وَ اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖۤ اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُکُمۡ اَنۡ تَذۡبَحُوۡا بَقَرَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَتَّخِذُنَا ہُزُوًا ؕ قَالَ اَعُوۡذُ بِاللّٰہِ اَنۡ اَکُوۡنَ مِنَ الۡجٰہِلِیۡنَ
Wa-idz qaala muusa liqaumihi innallaha ya’murukum an tadzbahuu baqaratan qaaluuu atattakhidzunaa huzuwan qaala a’uudzu billahi an akuuna minal jaahiliin(a);

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”.
Mereka berkata:
“Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”
Musa menjawab:
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.
―QS. 2:67
Topik ▪ Sikap bangsa Yahudi terhadap kitab-kitab samawi
2:67, 2 67, 2-67, Al Baqarah 67, AlBaqarah 67, Al-Baqarah 67
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 67. Oleh Kementrian Agama RI

Ketika Mesa memerintahkan Bani Israil menyembelih sapi.
mereka berkata kepada Nabi Musa, “Apakah kamu mempermainkan kami?”
Kami bertanya kepadamu tentang perkara pembunuhan, lalu kamu menyuruh kami menyembelih sapi betina.
ini ganjil sekali dan jauh dari pada yang kami maksudkan.

Seharusnya Bani Israil menjalankan perintah Nabi Musa itu dan menyambutnya dengan patuh dan taat, kemudian mereka menunggu apa yang akan terjadi sesudah itu tetapi mereka berbuat sebaliknya.

Perkataan mereka itu sebagai bukti bahwa mereka sangat kasar tabiatnya dan tidak mengakui kekuasaan Allah Taala.
Musa menjawab, “Saya berlindung kepada Allah dari pada memperolok-olokan manusia” karunia perbuatan itu termasuk perbuatan orang jahil, lebih-lebih bagi seorang rasul yang akan menyampaikan risalah dan menyampaikan hukum-hukum Allah kepada manusia.

Al Baqarah (2) ayat 67 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya saat terjadi kasus pembunuhan yang tidak diketahui siapa pembunuhnya.
“Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi, karena hal ini adalah kunci untuk mengetahui si pembunuh,” kata Musa.
Mereka merasa heran mengenai kaitan antara pembunuhan dengan penyembelihan sapi, seraya berkata, “Apakah kamu mengejek kami, Musa?”
Musa menjawab, “Aku akan berpegang teguh dengan tuntunan Tuhanku agar tidak termasuk golongan orang-orang bodoh yang mengejek hamba-hamba-Nya.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Musa berkata kepada kaumnya,) yakni ketika ada di antara mereka itu seseorang yang terbunuh sedangkan mereka tidak tahu siapa pembunuhnya, lalu mereka minta kepada Musa untuk memohonkan kepada Allah agar Dia dapat memberitahukan siapa pembunuhnya itu.
Maka dia memohon, lalu katanya, (“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Jawab mereka, “Apakah kamu hendak menjadikan kami sebagai bahan ejekan?”) artinya suruhan kamu itu akan menyebabkan kami menjadi sasaran olok-olok dan tertawaan orang.
(Jawab Musa, “Aku berlindung) maksudnya aku tidak sudi (kepada Allah) akan (menjadi golongan orang-orang yang jahil.”) yang suka berolok-olok.
Tatkala mereka ketahui bahwa Musa bersungguh-sungguh.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah wahai Bani Israil kejahatan leluhur kalian, seringnya mereka menentang dan membantah Musa, saat itu Musa berkata kepada mereka, Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menyembelih seekor sapi betina.
Lalu mereka menjawabnya dengan kesombongan, Apakah kamu menjadikan kami sebagai sasaran ejekan dan olok-olokan?
Maka Musa menjelaskan, Aku berlindung kepada Allah bila aku termasuk orang-orang yang memperolok-olok.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui ayat ini, “Ingatlah kalian, hai kaum Bani Israil, akan nikmat-Ku yang telah Kulimpahkan kepada kalian dalam hal yang menyangkut perkara yang berlainan dengan hukum alam bagi kalian,” yaitu mengenai seekor sapi betina dan keterangan mengenai si pembunuhnya dengan melalui sapi betina itu, kemudian Allah menghidupkan si terbunuh, lalu si terbunuh menyebut siapa pelaku yang telah membunuh dirinya dari kalangan mereka.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Ubaidah As-Salmani yang menceritakan hadis berikut:

Ada seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil yang mandul, tidak mempunyai anak, sedangkan dia mempunyai harta benda yang banyak.
Orang yang mewarisinya hanyalah anak lelaki dari saudara laki-lakinya.
Pada suatu malam keponakannya itu membunuhnya dan meletakkan mayatnya di depan pintu rumah salah seorang dari kalangan mereka.
Di pagi harinya si pembunuh menuduh mereka, hingga masing-masing pihak memakai senjatanya dan sebagian dari mereka berperang dengan sebagian yang lain.

Kemudian orang-orang yang bijak dan berkuasa dari kalangan mereka berkata, “Mengapa kalian saling membunuh di antara sesama kalian, sedangkan utusan Allah berada di antara kalian?”
Akhirnya mereka datang menghadap Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu menceritakan peristiwa tersebut.
Maka Nabi Musa ‘alaihis salam berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina” Mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”
Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil.”

Perawi mengatakan, seandainya mereka tidak menyangkal, niscaya sapi apa pun yang mudah didapat sudah cukup bagi mereka.
Tetapi mereka keras kepala, akhirnya mereka diperberat.
Setelah mereka mendapatkan sapi betina yang diperintahkan agar mereka menyembelihnya, ternyata sapi betina itu adalah milik seorang lelaki yang tidak punya sapi lain kecuali satu-satunya yang mereka harapkan itu.
Akhirnya si pemilik sapi berkata, “Demi Allah, sebagai tukarannya aku tidak mau kurang dari sejumlah emas yang memenuhi kulitnya.” Maka mereka terpaksa mengambil sapi betina tersebut dengan memberikan tukaran berupa emas sepenuh kulitnya.
Mereka menyembelih sapi tersebut, lalu memukulkan sebagian dari anggota badannya ke tubuh mayat yang dimaksudkan.
Akhirnya si mayat dapat hidup.
Mereka bertanya, “Siapakah yang telah membunuhmu?”
Ia menjawab, “Orang ini,” seraya mengisyaratkan kepada keponakannya, lalu ia lunglai dan mati.

Si pembunuh tidak diberi sedikit harta pun dari peninggalan si mayat.
Setelah peristiwa tersebut, maka pembunuh tidak dapat mewarisi (harta si terbunuh).

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis semisal melalui hadis Ayyub, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Ubaidah.
Diriwayatkan pula oleh Abdu Ibnu Humaid di dalam kitab tafsirnya, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun dengan lafaz yang sama.
Telah diriwayatkan pula oleh Adam ibnu Abu Iyas di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Ja’far (yakni Ar-Razi), dari Hisyam ibnu Hassan dengan lafaz yang sama.

Adam ibnu Abu Iyas di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’, dari Abul Aliyah mengenai firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Tersebutlah bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, dia orang kaya dan tidak mempunyai seorang anak pun, yang mewarisinya adalah salah seorang kerabatnya.
Kemudian si kerabat membunuhnya agar cepat memperoleh harta warisannya, lalu mayatnya ia campakkan di perempatan jalan.
Si pembunuh datang kepada Nabi Musa dan berkata, “Sesungguhnya kerabatku telah terbunuh, hal ini merupakan suatu peristiwa yang sangat berat, karena aku tidak menjumpai seorang pun selainmu yang dapat menjelaskan kepadaku siapa pembunuhnya, wahai Nabi Allah?”

Maka Nabi Musa menyeru kepada semua orang, “Kuminta —demi Allah— siapa yang mengetahui peristiwa ini, hendaknya dia menceritakannya kepada kami.” Ternyata tiada seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.
Lalu si pembunuh datang kepada Musa dan berkata, “Engkau adalah Nabi Allah, maka mintakanlah kepada Allah buat kami agar Dia menjelaskannya kepada kami.” Nabi Musa ‘alaihis salam memohon kepada Tuhannya, lalu Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Mereka heran dengan jawaban tersebut, lalu berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”
Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil’ Mereka menjawab, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?
” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu.” (Al Baqarah:67-68) Artinya sapi betina tersebut tidak terlalu tua, tidak pula terlalu muda, melainkan pertengahan di antara keduanya.

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami warna sapi itu.” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” (Al Baqarah:69) Sapi betina tersebut berwama kuning mulus lagi membuat takjub orang-orang yang memandangnya.

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikal sapi betina itu?
Karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami, dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” (Al Baqarah:70-71) Yakni sapi betina tersebut belum pernah dipekerjakan untuk membajak tanah dan mengairi tanaman, juga tidak ada cacat serta tidak ada belangnya.
Mereka berkata, “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
(Al Baqarah:71)

Perawi mengatakan, “Seandainya kaum itu di saat menerima perintah untuk menyembelih sapi betina, mereka langsung mendatangkan seekor sapi betina yang mana pun, hal itu sudah cukup.
Tetapi mereka memperberat dirinya sendiri, maka Allah benar-benar memperberat mereka.
Seandainya saja kaum itu tidak mengucapkan kata istisna seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.
(Al Baqarah:70) niscaya mereka tidak akan beroleh petunjuk untuk mendapatkan sapi betina tersebut untuk selama-lamanya.”

Menurut riwayat yang sampai kepada kami, mereka tidak menemukan sapi betina yang spesifikasinya disebutkan kepada mereka kecuali hanya pada seorang wanita tua yang memelihara banyak anak yatim, si nenek itulah yang mengurus mereka.
Tatkala si nenek mengetahui bahwa tiada yang dapat membersihkan mereka kecuali hanya sapi miliknya, maka ia melipatgandakan harganya kepada mereka.
Lalu mereka menghadap Nabi Musa ‘alaihis salam dan menceritakan kepadanya bahwa mereka tidak menemukan sapi berciri khas seperti itu kecuali pada seorang wanita dan wanita itu meminta harga pembelian yang berlipat ganda dari biasanya.

Nabi Musa ‘alaihis salam berkata, “Sesungguhnya Allah telah memberikan keringanan kepada kalian, tetapi kalian memperberat diri kalian sendiri.
Maka berikanlah kepada si nenek itu apa yang disukainya dan apa yang telah ditetapkannya.” Lalu mereka melakukannya, membeli sapi betina itu dan menyembelihnya.
Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam memerintahkan mereka agar memotong salah satu dari tulang sapi betina itu untuk dipukulkan kepada jenazah tersebut.
Mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam, dan ternyata jenazah tersebut dapat hidup kembali, lalu menyebutkan kepada mereka nama orang yang telah membunuhnya.
Sesudah itu ia mati kembali seperti semula.
Maka Nabi Musa ‘alaihis salam menangkap si pembunuh yang ternyata adalah orang yang pernah datang dan mengadu kepada Nabi Musa ‘alaihis salam itu sendiri.
Akhirnya si pembunuh tersebut dihukum mati sebagai pembalasan dari perbuatan jahatnya itu.

Muhammad ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat yang menceritakan perihal sapi betina ini.
Disebutkan bahwa ada seorang lelaki yang lanjut usia di kalangan kaum Bani Israil pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam Lelaki tua tersebut mempunyai harta yang banyak, sedangkan anak-anak saudara lelakinya miskin, tak berharta.
Lelaki tua itu tidak beranak, dan ahli warisnya adalah anak-anak saudara lelakinya.
Mereka berkata, “Aduhai, seandainya paman kita telah mati, niscaya kita akan mewarisi hartanya.” Tetapi setelah masa berlalu sangat lama, sedangkan paman mereka tidak juga mati, datanglah setan kepada mereka dan mengatakan kepada mereka, “Mengapa tidak kalian bunuh saja paman kalian, niscaya kalian akan segera mewarisi hartanya dan kalian menimpakan diatnya kepada penduduk kota yang kalian tidak ada di dalamnya.” Demikian itu karena ada dua kota di sekitar daerah tersebut, dan mereka berada di salah satunya.
Sedangkan hukum yang berlaku di kalangan mereka ialah apabila ada seseorang yang terbunuh, lalu mayatnya tergeletak di antara kedua kota, maka dilakukan pengukuran jarak antara si mayat dan dua kota tersebut.
Kota mana pun di antara keduanya yang jaraknya lebih dekat kepada si mayat, maka penduduk kota tersebutlah yang harus menanggung diatnya.

Ketika setan membujuk mereka untuk melakukan hal tersebut, mengingat paman mereka tidak juga mati dalam waktu yang cukup lama, mereka terbujuk.
Maka dengan sengaja mereka membunuh pamannya, sesudah itu mereka lemparkan mayatnya di depan pintu gerbang kota yang mereka bukan berasal dari kota tersebut.
Pada keesokan harinya penduduk kota kedatangan anak-anak saudara lelaki tua tersebut, lalu mereka berkata, “Paman kami terbunuh di depan pintu gerbang kalian.
Demi Allah, kalian harus membayar diat paman kami kepada kami.” Penduduk kota menjawab, “Kami bersumpah dengan nama Allah, kami tidak membunuhnya dan kami tidak mengetahui siapa pembunuhnya.
Kami belum pernah membuka pintu gerbang kota kami sejak kami menutupnya hingga pagi hari.”

Mereka datang kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu berkata, “Paman kami telah kami temukan dalam keadaan terbunuh di depan pintu kota mereka.” Penduduk kota menjawab, “Kami bersumpah kepada Allah, kami tidak membunuhnya dan kami tidak pernah membuka pintu gerbang kota kami bila telah kami tutup hingga pagi hari.”

Kemudian datanglah Malaikat Jibril —membawa perintah dari Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui— kepada Nabi Musa ‘alaihis salam Nabi Musa ‘alaihis salam berkata kepada mereka:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Kemudian kalian pukul mayat itu dengan salah satu anggota badan sapi betina yang telah disembelih itu.

As-Saddi meriwayatkan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.”
Tersebutlah bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang memiliki banyak harta dan seorang anak perempuan serta seorang keponakan laki-laki yang miskin.
Lalu si keponakan melamar anak perempuannya.
tetapi ia menolak dan tidak mau mengawinkan anak perempuannya dengan keponakannya itu.
Akhirnya si keponakan yang masih muda itu marah dan mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar akan membunuh pamanku, merampas hartanya, mengawini anak perempuannya, dan memakan diat pembunuhannya.”

Si pemuda datang kepada pamannya ketika ada berita tentang kedatangan para pedagang di salah satu suku Bani Israil, lalu si pemuda mengatakan kepada pamannya, “Hai paman, berangkatlah bersamaku dan tolong ambilkan buatku sebagian dari harta dagangan kaum tersebut, barangkali aku dapat memperoleh keuntungan darinya.
Sesungguhnya jika mereka melihat engkau bersamaku, niscaya mereka mau memberikannya kepadaku.” Si paman berangkat bersama keponakannya di malam hari.
Ketika si paman sampai di tempat kabilah yang dituju, maka si keponakan membunuhnya, lalu si keponakan kembali kepada keluarganya.

Pada keesokan harinya si keponakan tersebut datang seakan-akan sedang mencari pamannya, ia berpura-pura tidak mengetahui di mana pamannya berada dan seakan-akan ia tidak menemukannya.
Lalu ia berangkat menuju tempat pamannya terbunuh, ternyata ia menjumpai kabilah tersebut sedang mengerumuni mayat pamannya.
Lalu ia mengambil mayat pamannya seraya berkata, “Kalian telah membunuh pamanku, maka kalian harus membayar diatnya kepadaku.” Ia mengatakan demikian seraya menangis dan menaburkan pasir ke atas kepalanya sendiri dan mengatakan, “Aduhai pamanku.’

Ia melaporkan hal tersebut kepada Nabi Musa ‘alaihis salam Maka Nabi Musa ‘alaihis salam menjatuhkan keputusan agar mereka membayar diat kepada si pemuda itu.
Tetapi mereka berkata, “Wahai utusan Allah, mohonkanlah kepada Tuhanmu buat kami agar Dia menjelaskan kepada kami siapakah yang telah membunuhnya, lalu kita tangkap pelakunya.
Demi Allah, sesungguhnya diat si terbunuh ini mudah bagi kami, tetapi kami merasa malu dituduh sebagai pembunuh.” Yang demikian itu disebutkan di dalam firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika kalian membunuh seorang manusia, lalu kalian saling tuduh-menuduh tentang itu.
Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan.
(Al Baqarah:72)

Musa ‘alaihis salam berkata kepada mereka, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya melalui ayat berikut:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Tetapi jawaban mereka, “Kami bertanya kepadamu tentang orang yang dibunuh dan orang yang membunuhnya, tetapi engkau menjawabnya, ‘Sembelihlah seekor sapi betina.’ Apakah engkau memperolok-olokkan kami?”
Maka Nabi Musa ‘alaihis salam menjawab:

Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil.”

Sahabat Ibnu Abbas r.a.
mengatakan, seandainya mereka mengambil seekor sapi betina mana pun lalu, mereka menyembelihnya, niscaya hal itu sudah cukup bagi mereka.
Akan tetapi, mereka bersikpp keras dan membandel terhadap Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah memperkeras sanksi-Nya terhadap mereka.
Mereka mengatakan: Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu.
Musa menjawab, “Se-ungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yangg tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu.” (Al Baqarah:68)

Al-farid.
sapi betina yang sudah tua dan tidak beranak lagi.
Al-bikr, sapi betina yang belum pernah beranak kecuali hanya baru sekali.
Al-‘awan, pertengahan di antara keduanya.

Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian.
Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.'”‘ Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.” Musa berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak cacat, tidak ada belangnya.”(Al Baqarah:68-71) Yakni tidak ada belang putih, belang hitam, dan belang merah, melainkan kuning mulus.

Mereka berkata, “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” (Al Baqarah:71) Mereka mencarinya, dan ternyata mereka tidak mampu menemukannya.

Tersebut di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ayahnya, pada suatu hari ada seorang lelaki lain yang lewat kepadanya seraya membawa mutiara jualannya.
Ketika itu ayahnya sedang tidur, sedangkan kunci brankas berada di bawah bantalnya.
Si lelaki penjual mutiara itu berkata kepadanya, “Maukah engkau beli mutiara ini dengan harga tujuh puluh ribu dirham?”
Si pemuda menjawab, “Jika kamu bersabar hingga ayahku terbangun dari tidur, aku mau membelinya darimu dengan harga delapan puluh ribu dirham.” Si penjual mutiara berkata, “Bangunkan saja ayahmu, nanti mutiara ini kujual kepadamu dengan harga enam puluh ribu dirham.” Maka si penjual mutiara terus menurunkan harganya hingga mencapai harga tiga puluh ribu dirham, sedangkan si pemuda menaikkannya sampai harga seratus ribu dirham, dengan syarat ayahnya harus terbangun dengan sendirinya terlebih dahulu.
Ketika si penjual mendesak terus, maka si pemuda kesal, lalu berkata kepadanya “Demi Allah, aku tidak mau membelinya darimu dengan harga berapa pun juga selama-lamanya.” Dia menolak untuk membangunkan ayahnya.
Maka Allah mengganti mutiara tersebut menjadi sapi betina untuk si pemuda (sebagai pahala berbakti kepada ayahnya).

Ketika kaum Bani Israil yang sedang mencari sapi betina itu melihat sapi betina yang dicarinya berada di tangan si pemuda, mereka langsung meminta agar si pemuda menjual sapinya kepada mereka, ditukar dengan sapi yang lain, tetapi si pemuda itu menolak.
Lalu mereka menambahkan tukarannya dengan dua ekor sapi, namun si pemuda tetap menolak, dan mereka terus-menerus menambah hingga sampai sepuluh ekor sapi seraya berkata, “Demi Allah, kami tidak akan membiarkanmu sebelum kami membelinya darimu.”

Lalu mereka membawa si pemuda itu kepada Nabi Musa ‘alaihis salam Mereka berkata, “Hai Nabi Allah, sesungguhnya kami menemukan sapi betina itu berada di tangan lelaki muda ini, tetapi dia menolak memberikannya kepada kami, padahal kami telah memberinya harga yang pantas.” Maka Nabi Musa ‘alaihis salam berkata kepada si pemuda, “Berikanlah kepada mereka sapi betinamu itu.” Si pemuda menjawab, “Wahai urusan Allah, aku lebih berhak terhadap harta bendaku.” Nabi Musa ‘alaihis salam menjawab, “Engkau benar.” Selanjutnya Nabi Musa ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya, “Buatlah teman kalian ini rela.” Akhirnya mereka bersedia mengganti.
sapi betinanya itu dengan emas seberat sapi tersebut, tetapi si pemuda tetap menolak, dan mereka terus menambah nilai tukarnya hingga sampai sepuluh kali lipat emas seberat timbangan sapi betinanya.
Akhirnya si pemuda memberikan sapi betinanya kepada mereka dan mengambil harganya, lalu mereka menyembelih sapi betina tersebut.

Nabi Musa ‘alaihis salam berkata, “Pukullah mayat itu dengan sebagian dari anggota tubuh sapi betina yang disembelih itu!” Mereka memukulnya dengan bagian tubuh di antara dua pundak sapi, maka mayat itu dapat hidup kembali.
Lalu mereka bertanya kepadanya, “Siapakah yang telah membunuhmu?”
Ia berkata kepada mereka, “Keponakanku.
Dia mengatakan bahwa dia akan membunuhku, merampas hartaku, dan mengawini anak perempuanku.” Akhirnya mereka menangkap si pembunuh dan membunuhnya.

Sunaid meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj (yakni Ibnu Muhammad), dari Ibnu Juraij, dari Mujahid, dan Hajjaj, dari Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan Muhammad ibnu Qais —riwayat sebagian dari mereka dimasukkan ke dalam riwayat sebagian yang lainnya—.
Disebutkan, ketika suatu suku dari kalangan Bani Israil merasakan bahwa tindak kejahatan di kalangan mereka kian banyak, maka mereka membangun sebuah kota terpisah, lalu mereka menghindar dari kejahatan yang biasa dilakukan kebanyakan orang.
Untuk itu apabila sore hari tiba, mereka tidak membiarkan ada seorang pun di luar kota melainkan disuruh masuk ke dalam kota.
Apabila pagi hari tiba, pemimpin mereka naik ke atas benteng dan melihat-lihat keadaan di luar, apabila ia tidak melihat sesuatu pun yang mecurigakan, barulah ia membuka pintu gerbang kotanya, dan ia selalu bersama mereka hingga petang harinya.

Tersebutlah bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang memiliki harta yang banyak, sedangkan ia tidak mempunyai ahli waris kecuali hanya saudara lelakinya.
Tetapi setelah dirasakan oleh si saudara pewaris bahwa saudaranya yang kaya itu tidak juga mati melainkan berusia panjang, terdorong keinginannya untuk mewaris dengan secepatnya.
Maka ia membunuh saudaranya itu, kemudian mayatnya ia letakkan di depan pintu kota tersebut, lalu ia dan teman-temannya bersembunyi di suatu tempat yang tak terlihat.

Ketika pemimpin kota naik ke atas benteng pintu gerbang kotanya, lalu melihat-lihat keadaan di luar, dan ternyata ia tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan, barulah ia membuka pintu gerbang kotanya.
Tetapi begitu ia membuka pintu gerbang kotanya, ia melihat ada seseorang yang mati terbunuh, untuk itu ia segera menutup kembali pintu gerbang kotanya.
Lalu saudara si terbunuh dan teman-temannya berseru dari tempat persembunyiannya dan menampakkan diri, “Kalian telah membunuhnya, kemudian kalian tutup kembali pintu gerbang kalian.”

Tersebutlah pula ketika Nabi Musa ‘alaihis salam melihat banyak kejahatan pembunuhan di kalangan kaum Bani Israil, maka apabila ia melihat ada seseorang terbunuh di dekat suatu kaum, ia menghukum kaum tersebut.
Di antara saudara si terbunuh dan penduduk kota hampir terjadi perang di saat kedua belah pihak menyandang senjatanya masing-masing, tetapi masing-masing masih bisa dapat menahan diri.
Kemudian mereka datang kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan menceritakan persoalan mereka.
Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya orang-orang penduduk kota ini telah membunuh seseorang, setelah itu mereka menutup pintu gerbangnya.” Penduduk kota menjawab, “Wahai utusan Allah, sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami telah menghindarkan diri dari segala bentuk kejahatan, untuk itu kami telah membangun kota tersendiri seperti yang engkau lihat dengan tujuan untuk menghindarkan diri dari kejahatan orang lain.
Demi Allah, kami tidak membunuh dan tidak pula mengetahui pembunuhnya.”

Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, memerintahkan agar mereka menyembelih seekor sapi betina.
Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam berkata kepada mereka:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.

Konteks ini berasal dari Ubaidah, Abul Aliyah, As-Saddi, dan lain-lainnya, masing-masing terdapat perbedaan, tetapi pada lahiriahnya riwayat ini diambil dari kitab-kitab Bani Israil dari kategori yang boleh dinukil, namun tidak boleh dibenarkan dan tidak boleh didustakan.
Karena itu, maka kisah ini tidak dapat dijadikan pegangan kecuali hal-hal yang sesuai dengan kebenaran yang ada pada kita.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 67

HUZUWAA
هُزُوًا

Asal lafaz huzuwaa adalah huz’an, yaitu berdasarkan qira’at ulama Kufah. Sedangkan Hafsah membacanya dengan huzuwan dengan menjadikan al zay berbaris depan dan menukar al hamzah kepada al waw, seperti lafaz kuf’an menjadi kufuwan. Kata ini bisa dalam bentuk mudhaf ilayh (sandaran kepadanya) dengan menghilangkan mudhaf (sandarannya) yaitu mawdhu’ atau makaan huz’in (tempat untuk diperolok, dipersenda atau diejek), dan bisa dalam bentuk mashdar (kata dasar/terbitan) yang bermakna ism maf”ul yaitu mahzu’an ( orang yang dipermainkan dan direndahkan)

Lafaz ini disebut 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 67, 231;
-Al Maa’idah (5), ayat 57, 58;
-Al Kahfi (18), ayat 56, 106;
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 36;
-Al Furqaan (25), ayat 41;
-Luqman (31), ayat 6;
-Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35.

Pada surah Al Baqarah (2), ayat 67 lafaz huzuwaa dikaitkan dengan perkataan adanya tuduhan Bani Isra’il kepada Musa, “Adakah engkau wahai Nabi Musa menjadikan kami tempat untuk diperolok-olok dan engkau mau jadikan kami orang yang dipersendakan dan dipermainkan.”

Pada ayat ini, suruhan Musa kepada mereka supaya menyembelih sapi (baqarah) sebagaimana yang diwahyukan kepadanya untuk mengetahui pembunuh seseorang yang berlaku di antara mereka dianggap sebagai huzuwa atau bahan olok-olok. Awalnya mereka berkeinginan supaya Musa berdoa kepada Allah untuk mengetahui si pembunuh itu. Namun, apa yang mereka minta lain yang disampaikan oleh Musa. Oleh karena itu mereka berkata demikian. Padahal mereka enggan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Musa.

Al Qurtubi rnenerangkan, “Kata- kata ini memberikan isyarat tentang larangan mempermainkan dan mempersenda agama Allah dan orang Islam karena perbuatan itu adalah tanda kejahilan dan yang melakukannya akan mendapat azab dan balasan, sebagaimana yang di jelaskan dalam surah Al Jaatsiyah (45), ayat 9

Pada ayat-ayat yang lain, lafaz huzuwaa mencakup beberapa keadaan, yaitu:

Pertama, larangan menjadikan bahan huzuwaa atau mainan dan olok-olokkan pada apa yang datang dari Allah berupa kitab, ayat-ayat Nya, rasul-rasul Nya, agama Nya dan sebagainya. Sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 231.

Kedua, larangan bagi orang yang beriman mengikuti orang yang menjadikan agama Allah sebagai bahan persendaan dan gurauan dari Ahli Kitab dan orang kafir (Al Maa ‘idah (5), ayat 57). Seperti ketika kumandang azan untuk mendirikan shalat, maka mereka mempersendanya dan memperolok-oloknya (Al Maa’ idah (5), ayat 58).

Diriwayatkan dari As Suddi, seseorang lelaki dari orang Nasrani di Madinah, tatkala ia mendengar kumandang azan maka ia berkata,
“Bakarlah pendusta ini” Pada suatu malam pembantunya masuk dengan membawa api, sedang ia dan keluarganya dalam keadaan tidur, lalu api itu jatuh dan rumah pun terbakar, maka ia dan keluarganya turut terbakar.

Seperti mempersenda dan mendustakan hujah, dalil dan mukjizat yang didatangkan Allah kepada rasul-rasul Nya (Al Kahfi (18), ayat 56).

Seperti mendustakan dan mempersenda kerasulan Muhammad dari kalangan kafir Quraisy seperti Abu Jahl (Al Anbiya’ (21), ayat 36), (Al Furqan (25), ayat 41).

Seperti menjadikan jalan Allah atau ayat-ayat Allah bahan permainan dan olok-olokkan (Luqman (31), ayat 6), (Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35).

Ketiga, perkhabaran tentang siksaan yang menimpa ke atas orang yang menjadikan ayat-ayat Allah dan apa saja yang datang darinya sebagai bahan ejekan, sendaan dan olok-olokkan. Seperti bagi mereka ‘adzaab muhiin yaitu siksaan yang berterusan, selamanya dan menghinakan di hari kiamat. (Luqman (31), ayat 6) dan (Al Jaatsiyah (45), ayat 9)

Seperti menggugurkan amalan-amalan mereka yang mereka sangka baik dan betul dan tidak memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, maka mereka menjadi penghuni neraka jahanam di hari akhirat. (Al Kahfi (18), ayat 104-106).
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah dimana Rasulullah bersabda, pada hari kiamat, didatangkan seorang lelaki yang tegap, gemuk, tinggi dan besar. Namun, Allah tidak menimbang sebarang amalnya walau sebelah sayap seekor nyamuk.

Kesimpulannya, kata huzuwan atau huzuwa mencakup makna sesuatu dijadikan bahan persendaan, ejekan, permainan, sendaan dan yang sinonim dengannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:644-646

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 67 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 67



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (11 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku