Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 67 [QS. 2:67]

وَ اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖۤ اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُکُمۡ اَنۡ تَذۡبَحُوۡا بَقَرَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَتَّخِذُنَا ہُزُوًا ؕ قَالَ اَعُوۡذُ بِاللّٰہِ اَنۡ اَکُوۡنَ مِنَ الۡجٰہِلِیۡنَ
Wa-idz qaala muusa liqaumihi innallaha ya’murukum an tadzbahuu baqaratan qaaluuu atattakhidzunaa huzuwan qaala a’uudzu billahi an akuuna minal jaahiliin(a);
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya,
“Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.”
Mereka bertanya,
“Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?”
Dia (Musa) menjawab,
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”
―QS. Al Baqarah [2]: 67

And (recall) when Moses said to his people,
"Indeed, Allah commands you to slaughter a cow."
They said,
"Do you take us in ridicule?"
He said,
"I seek refuge in Allah from being among the ignorant."
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 67]

وَإِذْ dan ketika

And when
قَالَ berkata

said
مُوسَىٰ Musa

لِقَوْمِهِۦٓ kepada kaumnya

to his people,
إِنَّ sesungguhnya

"Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
يَأْمُرُكُمْ Dia menyuruh kamu

commands you
أَن untuk

that
تَذْبَحُوا۟ kamu menyembelih

you slaughter
بَقَرَةً sapi betina

a cow."
قَالُوٓا۟ mereka berkata

They said,
أَتَتَّخِذُنَا apakah kamu menjadikan kami

"Do you take us
هُزُوًا bahan ejekan

(in) ridicule."
قَالَ (Musa) berkata

He said,
أَعُوذُ aku berlindung

"I seek refuge
بِٱللَّهِ kepada Allah

in Allah
أَنْ bahwa

that
أَكُونَ aku menjadi

I be
مِنَ dari

among
ٱلْجَٰهِلِينَ orang-orang yang jail

the ignorant."

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:67

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 67. Oleh Kementrian Agama RI


Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka berkata kepada Nabi Musa,
"Apakah kamu mempermainkan kami?
Kami bertanya kepadamu tentang perkara pembunuhan, lalu kamu menyuruh kami menyembelih seekor sapi.
Ini ganjil sekali dan jauh daripada yang kami maksudkan.
"
Seharusnya Bani Israil menjalankan perintah Nabi Musa itu dan menyambutnya dengan patuh dan taat, kemudian mereka menunggu apa yang akan terjadi sesudah itu, tetapi mereka berbuat sebaliknya.


Perkataan mereka itu sebagai bukti bahwa mereka sangat kasar tabiatnya dan tidak mengakui kekuasaan Allah.

Nabi Musa menjawab,
"Saya berlindung kepada Allah dari memperolok-olokkan manusia karena perbuatan itu termasuk perbuatan orang jahil, lebih-lebih bagi seorang rasul yang akan menyampaikan risalah dan hukumhukum Allah kepada manusia."

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 67. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya saat terjadi kasus pembunuhan yang tidak diketahui siapa pembunuhnya. "Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi, karena hal ini adalah kunci untuk mengetahui si pembunuh,"
kata Musa.


Mereka merasa heran mengenai kaitan antara pembunuhan dengan penyembelihan sapi, seraya berkata,
"Apakah kamu mengejek kami, Musa?"
Musa menjawab,
"Aku akan berpegang teguh dengan tuntunan Tuhanku agar tidak termasuk golongan orang-orang bodoh yang mengejek hamba-hamba-Nya."

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Ingatlah wahai Bani Israil kejahatan leluhur kalian, seringnya mereka menentang dan membantah Musa, saat itu Musa berkata kepada mereka,
"Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menyembelih seekor sapi betina."
Lalu mereka menjawabnya dengan kesombongan,
"Apakah kamu menjadikan kami sebagai sasaran ejekan dan olok-olokan?"
Maka Musa menjelaskan,
"Aku berlindung kepada Allah bila aku termasuk orang-orang yang memperolok-olok."

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan) ingatlah


(ketika Musa berkata kepada kaumnya,) yakni ketika ada di antara mereka itu seseorang yang terbunuh sedangkan mereka tidak tahu siapa pembunuhnya, lalu mereka minta kepada Musa untuk memohonkan kepada Allah agar Dia dapat memberitahukan siapa pembunuhnya itu.
Maka dia memohon, lalu katanya,


("Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina."
Jawab mereka,
"Apakah kamu hendak menjadikan kami sebagai bahan ejekan?") artinya suruhan kamu itu akan menyebabkan kami menjadi sasaran olok-olok dan tertawaan orang.


(Jawab Musa,
"Aku berlindung) maksudnya aku tidak sudi


(kepada Allah) akan


(menjadi golongan orang-orang yang jahil.") yang suka berolok-olok.
Tatkala mereka ketahui bahwa Musa bersungguh-sungguh.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui ayat ini,
"Ingatlah kalian, hai kaum Bani Israil, akan nikmat-Ku yang telah Kulimpahkan kepada kalian dalam hal yang menyangkut perkara yang berlainan dengan hukum alam bagi kalian,"
yaitu mengenai seekor sapi betina dan keterangan mengenai si pembunuhnya dengan melalui sapi betina itu, kemudian Allah menghidupkan si terbunuh, lalu si terbunuh menyebut siapa pelaku yang telah membunuh dirinya dari kalangan mereka.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Ubaidah As-Salmani yang menceritakan hadis berikut:

Ada seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil yang mandul, tidak mempunyai anak, sedangkan dia mempunyai harta benda yang banyak.
Orang yang mewarisinya hanyalah anak lelaki dari saudara laki-lakinya.
Pada suatu malam keponakannya itu membunuhnya dan meletakkan mayatnya di depan pintu rumah salah seorang dari kalangan mereka.
Di pagi harinya si pembunuh menuduh mereka, hingga masing-masing pihak memakai senjatanya dan sebagian dari mereka berperang dengan sebagian yang lain.

Kemudian orang-orang yang bijak dan berkuasa dari kalangan mereka berkata,
"Mengapa kalian saling membunuh di antara sesama kalian, sedangkan utusan Allah berada di antara kalian?"
Akhirnya mereka datang menghadap Nabi MusaMusafirman-Nya:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina"
Mereka berkata,
"Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?"
Musa menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil."


Perawi mengatakan, seandainya mereka tidak menyangkal, niscaya sapi apa pun yang mudah didapat sudah cukup bagi mereka.
Tetapi mereka keras kepala, akhirnya mereka diperberat.
Setelah mereka mendapatkan sapi betina yang diperintahkan agar mereka menyembelihnya, ternyata sapi betina itu adalah milik seorang lelaki yang tidak punya sapi lain kecuali satu-satunya yang mereka harapkan itu.
Akhirnya si pemilik sapi berkata,
"Demi Allah, sebagai tukarannya aku tidak mau kurang dari sejumlah emas yang memenuhi kulitnya."
Maka mereka terpaksa mengambil sapi betina tersebut dengan memberikan tukaran berupa emas sepenuh kulitnya.
Mereka menyembelih sapi tersebut, lalu memukulkan sebagian dari anggota badannya ke tubuh mayat yang dimaksudkan.
Akhirnya si mayat dapat hidup.
Mereka bertanya,
"Siapakah yang telah membunuhmu?"
Ia menjawab,
"Orang ini,"
seraya mengisyaratkan kepada keponakannya, lalu ia lunglai dan mati.

Si pembunuh tidak diberi sedikit harta pun dari peninggalan si mayat.
Setelah peristiwa tersebut, maka pembunuh tidak dapat mewarisi (harta si terbunuh).

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis semisal melalui hadis Ayyub, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Ubaidah.
Diriwayatkan pula oleh Abdu Ibnu Humaid di dalam kitab tafsirnya, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun dengan lafaz yang sama.
Telah diriwayatkan pula oleh Adam ibnu Abu Iyas di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Ja’far (yakni Ar-Razi), dari Hisyam ibnu Hassan dengan lafaz yang sama.

Adam ibnu Abu Iyas di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’, dari Abul Aliyah mengenai firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Tersebutlah bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, dia orang kaya dan tidak mempunyai seorang anak pun, yang mewarisinya adalah salah seorang kerabatnya.
Kemudian si kerabat membunuhnya agar cepat memperoleh harta warisannya, lalu mayatnya ia campakkan di perempatan jalan.
Si pembunuh datang kepada Nabi Musa dan berkata,
"Sesungguhnya kerabatku telah terbunuh, hal ini merupakan suatu peristiwa yang sangat berat, karena aku tidak menjumpai seorang pun selainmu yang dapat menjelaskan kepadaku siapa pembunuhnya, wahai Nabi Allah?"

Maka Nabi Musa menyeru kepada semua orang,
"Kuminta —demi Allah— siapa yang mengetahui peristiwa ini, hendaknya dia menceritakannya kepada kami."
Ternyata tiada seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.
Lalu si pembunuh datang kepada Musa dan berkata,
"Engkau adalah Nabi Allah, maka mintakanlah kepada Allah buat kami agar Dia menjelaskannya kepada kami."
Nabi MusaSesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Mereka heran dengan jawaban tersebut, lalu berkata:
"Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?"
Musa menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil’ Mereka menjawab,
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?
"
Musa menjawab,
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu."
(QS. Al-Baqarah [2]: 67-68)
Artinya sapi betina tersebut tidak terlalu tua, tidak pula terlalu muda, melainkan pertengahan di antara keduanya.

Mereka berkata,
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami warna sapi itu."
Musa menjawab,
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."
(QS. Al-Baqarah [2]: 69)
Sapi betina tersebut berwama kuning mulus lagi membuat takjub orang-orang yang memandangnya.

Mereka berkata,
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikal sapi betina itu?
Karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami, dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk."
Musa menjawab,
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya."
(QS. Al-Baqarah [2]: 70-71)
Yakni sapi betina tersebut belum pernah dipekerjakan untuk membajak tanah dan mengairi tanaman, juga tidak ada cacat serta tidak ada belangnya.
Mereka berkata,
"Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya."
Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
(QS. Al-Baqarah [2]: 71)

Perawi mengatakan,
"Seandainya kaum itu di saat menerima perintah untuk menyembelih sapi betina, mereka langsung mendatangkan seekor sapi betina yang mana pun, hal itu sudah cukup.
Tetapi mereka memperberat dirinya sendiri, maka Allah benar-benar memperberat mereka.
Seandainya saja kaum itu tidak mengucapkan kata istisna seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
Dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.
(QS. Al-Baqarah [2]: 70)
niscaya mereka tidak akan beroleh petunjuk untuk mendapatkan sapi betina tersebut untuk selama-lamanya."

Menurut riwayat yang sampai kepada kami, mereka tidak menemukan sapi betina yang spesifikasinya disebutkan kepada mereka kecuali hanya pada seorang wanita tua yang memelihara banyak anak yatim, si nenek itulah yang mengurus mereka.
Tatkala si nenek mengetahui bahwa tiada yang dapat membersihkan mereka kecuali hanya sapi miliknya, maka ia melipatgandakan harganya kepada mereka.
Lalu mereka menghadap Nabi MusaNabi MusaMusaMusaMusaMusaMuhammad ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat yang menceritakan perihal sapi betina ini.
Disebutkan bahwa ada seorang lelaki yang lanjut usia di kalangan kaum Bani Israil pada zaman Nabi Musahukum yang berlaku di kalangan mereka ialah apabila ada seseorang yang terbunuh, lalu mayatnya tergeletak di antara kedua kota, maka dilakukan pengukuran jarak antara si mayat dan dua kota tersebut.
Kota mana pun di antara keduanya yang jaraknya lebih dekat kepada si mayat, maka penduduk kota tersebutlah yang harus menanggung diatnya.

Ketika setan membujuk mereka untuk melakukan hal tersebut, mengingat paman mereka tidak juga mati dalam waktu yang cukup lama, mereka terbujuk.
Maka dengan sengaja mereka membunuh pamannya, sesudah itu mereka lemparkan mayatnya di depan pintu gerbang kota yang mereka bukan berasal dari kota tersebut.
Pada keesokan harinya penduduk kota kedatangan anak-anak saudara lelaki tua tersebut, lalu mereka berkata,
"Paman kami terbunuh di depan pintu gerbang kalian.
Demi Allah, kalian harus membayar diat paman kami kepada kami."
Penduduk kota menjawab,
"Kami bersumpah dengan nama Allah, kami tidak membunuhnya dan kami tidak mengetahui siapa pembunuhnya.
Kami belum pernah membuka pintu gerbang kota kami sejak kami menutupnya hingga pagi hari."

Mereka datang kepada Nabi MusaKemudian datanglah Malaikat Jibril —membawa perintah dari Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui— kepada Nabi MusaMusaSesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Kemudian kalian pukul mayat itu dengan salah satu anggota badan sapi betina yang telah disembelih itu.

As-Saddi meriwayatkan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya,
"Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina."

Tersebutlah bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang memiliki banyak harta dan seorang anak perempuan serta seorang keponakan laki-laki yang miskin.
Lalu si keponakan melamar anak perempuannya.
tetapi ia menolak dan tidak mau mengawinkan anak perempuannya dengan keponakannya itu.
Akhirnya si keponakan yang masih muda itu marah dan mengatakan,
"Demi Allah, aku benar-benar akan membunuh pamanku, merampas hartanya, mengawini anak perempuannya, dan memakan diat pembunuhannya."

Si pemuda datang kepada pamannya ketika ada berita tentang kedatangan para pedagang di salah satu suku Bani Israil, lalu si pemuda mengatakan kepada pamannya,
"Hai paman, berangkatlah bersamaku dan tolong ambilkan buatku sebagian dari harta dagangan kaum tersebut, barangkali aku dapat memperoleh keuntungan darinya.
Sesungguhnya jika mereka melihat engkau bersamaku, niscaya mereka mau memberikannya kepadaku."
Si paman berangkat bersama keponakannya di malam hari.
Ketika si paman sampai di tempat kabilah yang dituju, maka si keponakan membunuhnya, lalu si keponakan kembali kepada keluarganya.

Pada keesokan harinya si keponakan tersebut datang seakan-akan sedang mencari pamannya, ia berpura-pura tidak mengetahui di mana pamannya berada dan seakan-akan ia tidak menemukannya.
Lalu ia berangkat menuju tempat pamannya terbunuh, ternyata ia menjumpai kabilah tersebut sedang mengerumuni mayat pamannya.
Lalu ia mengambil mayat pamannya seraya berkata,
"Kalian telah membunuh pamanku, maka kalian harus membayar diatnya kepadaku."
Ia mengatakan demikian seraya menangis dan menaburkan pasir ke atas kepalanya sendiri dan mengatakan,
"Aduhai pamanku.’

Ia melaporkan hal tersebut kepada Nabi MusaMusafirman-Nya:
Dan (ingatlah) ketika kalian membunuh seorang manusia, lalu kalian saling tuduh-menuduh tentang itu.
Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan.
(QS. Al-Baqarah [2]: 72)

Musafirman-Nya melalui ayat berikut:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.
Tetapi jawaban mereka, "Kami bertanya kepadamu tentang orang yang dibunuh dan orang yang membunuhnya, tetapi engkau menjawabnya, ‘Sembelihlah seekor sapi betina.’ Apakah engkau memperolok-olokkan kami?"
Maka Nabi MusaMusa menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil."


Sahabat Ibnu Abbas r.a. mengatakan, seandainya mereka mengambil seekor sapi betina mana pun lalu, mereka menyembelihnya, niscaya hal itu sudah cukup bagi mereka.
Akan tetapi, mereka bersikpp keras dan membandel terhadap Nabi MusaMusa menjawab,
"Se-ungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yangg tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu."
(QS. Al-Baqarah [2]: 68)

Al-farid.
sapi betina yang sudah tua dan tidak beranak lagi.
Al-bikr, sapi betina yang belum pernah beranak kecuali hanya baru sekali.
Al-‘awan, pertengahan di antara keduanya.

Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian.
Mereka berkata,
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya."
Musa menjawab,
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.’"’ Mereka berkata,
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk."
Musa berkata,
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak cacat, tidak ada belangnya."(QS. Al-Baqarah [2]: 68-71)
Yakni tidak ada belang putih, belang hitam, dan belang merah, melainkan kuning mulus.

Mereka berkata,
"Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya."
(QS. Al-Baqarah [2]: 71)
Mereka mencarinya, dan ternyata mereka tidak mampu menemukannya.

Tersebut di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ayahnya, pada suatu hari ada seorang lelaki lain yang lewat kepadanya seraya membawa mutiara jualannya.
Ketika itu ayahnya sedang tidur, sedangkan kunci brankas berada di bawah bantalnya.
Si lelaki penjual mutiara itu berkata kepadanya,
"Maukah engkau beli mutiara ini dengan harga tujuh puluh ribu dirham?"
Si pemuda menjawab,
"Jika kamu bersabar hingga ayahku terbangun dari tidur, aku mau membelinya darimu dengan harga delapan puluh ribu dirham."
Si penjual mutiara berkata,
"Bangunkan saja ayahmu, nanti mutiara ini kujual kepadamu dengan harga enam puluh ribu dirham."
Maka si penjual mutiara terus menurunkan harganya hingga mencapai harga tiga puluh ribu dirham, sedangkan si pemuda menaikkannya sampai harga seratus ribu dirham, dengan syarat ayahnya harus terbangun dengan sendirinya terlebih dahulu.
Ketika si penjual mendesak terus, maka si pemuda kesal, lalu berkata kepadanya
"Demi Allah, aku tidak mau membelinya darimu dengan harga berapa pun juga selama-lamanya."
Dia menolak untuk membangunkan ayahnya.
Maka Allah mengganti mutiara tersebut menjadi sapi betina untuk si pemuda (sebagai pahala berbakti kepada ayahnya).

Ketika kaum Bani Israil yang sedang mencari sapi betina itu melihat sapi betina yang dicarinya berada di tangan si pemuda, mereka langsung meminta agar si pemuda menjual sapinya kepada mereka, ditukar dengan sapi yang lain, tetapi si pemuda itu menolak.
Lalu mereka menambahkan tukarannya dengan dua ekor sapi, namun si pemuda tetap menolak, dan mereka terus-menerus menambah hingga sampai sepuluh ekor sapi seraya berkata,
"Demi Allah, kami tidak akan membiarkanmu sebelum kami membelinya darimu."

Lalu mereka membawa si pemuda itu kepada Nabi MusaMusaMusaMusaNabi MusaSunaid meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj (yakni Ibnu Muhammad), dari Ibnu Juraij, dari Mujahid, dan Hajjaj, dari Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan Muhammad ibnu Qais —riwayat sebagian dari mereka dimasukkan ke dalam riwayat sebagian yang lainnya—.
Disebutkan, ketika suatu suku dari kalangan Bani Israil merasakan bahwa tindak kejahatan di kalangan mereka kian banyak, maka mereka membangun sebuah kota terpisah, lalu mereka menghindar dari kejahatan yang biasa dilakukan kebanyakan orang.
Untuk itu apabila sore hari tiba, mereka tidak membiarkan ada seorang pun di luar kota melainkan disuruh masuk ke dalam kota.
Apabila pagi hari tiba, pemimpin mereka naik ke atas benteng dan melihat-lihat keadaan di luar, apabila ia tidak melihat sesuatu pun yang mecurigakan, barulah ia membuka pintu gerbang kotanya, dan ia selalu bersama mereka hingga petang harinya.

Tersebutlah bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang memiliki harta yang banyak, sedangkan ia tidak mempunyai ahli waris kecuali hanya saudara lelakinya.
Tetapi setelah dirasakan oleh si saudara pewaris bahwa saudaranya yang kaya itu tidak juga mati melainkan berusia panjang, terdorong keinginannya untuk mewaris dengan secepatnya.
Maka ia membunuh saudaranya itu, kemudian mayatnya ia letakkan di depan pintu kota tersebut, lalu ia dan teman-temannya bersembunyi di suatu tempat yang tak terlihat.

Ketika pemimpin kota naik ke atas benteng pintu gerbang kotanya, lalu melihat-lihat keadaan di luar, dan ternyata ia tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan, barulah ia membuka pintu gerbang kotanya.
Tetapi begitu ia membuka pintu gerbang kotanya, ia melihat ada seseorang yang mati terbunuh, untuk itu ia segera menutup kembali pintu gerbang kotanya.
Lalu saudara si terbunuh dan teman-temannya berseru dari tempat persembunyiannya dan menampakkan diri,
"Kalian telah membunuhnya, kemudian kalian tutup kembali pintu gerbang kalian."

Tersebutlah pula ketika Nabi MusaBani Israil, maka apabila ia melihat ada seseorang terbunuh di dekat suatu kaum, ia menghukum kaum tersebut.
Di antara saudara si terbunuh dan penduduk kota hampir terjadi perang di saat kedua belah pihak menyandang senjatanya masing-masing, tetapi masing-masing masih bisa dapat menahan diri.
Kemudian mereka datang kepada Nabi MusaMusa, sesungguhnya orang-orang penduduk kota ini telah membunuh seseorang, setelah itu mereka menutup pintu gerbangnya."
Penduduk kota menjawab,
"Wahai utusan Allah, sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami telah menghindarkan diri dari segala bentuk kejahatan, untuk itu kami telah membangun kota tersendiri seperti yang engkau lihat dengan tujuan untuk menghindarkan diri dari kejahatan orang lain.
Demi Allah, kami tidak membunuh dan tidak pula mengetahui pembunuhnya."

Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi MusaMusaSesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.

Konteks ini berasal dari
Ubaidah, Abul Aliyah, As-Saddi, dan lain-lainnya, masing-masing terdapat perbedaan, tetapi pada lahiriahnya riwayat ini diambil dari kitabkitab Bani Israil dari kategori yang boleh dinukil, namun tidak boleh dibenarkan dan tidak boleh didustakan.
Karena itu, maka kisah ini tidak dapat dijadikan pegangan kecuali hal-hal yang sesuai dengan kebenaran yang ada pada kita.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 67

HUZUWAA
هُزُوًا

Asal lafaz huzuwaa adalah huz’an, yaitu berdasarkan qira’at ulama Kufah.
Sedangkan Hafsah membacanya dengan huzuwan dengan menjadikan al zay berbaris depan dan menukar al hamzah kepada al waw, seperti lafaz kuf’an menjadi kufuwan.
Kata ini bisa dalam bentuk mudhaf ilayh (sandaran kepadanya) dengan menghilangkan mudhaf (sandarannya) yaitu mawdhu’ atau makaan huz’in (tempat untuk diperolok, dipersenda atau diejek), dan bisa dalam bentuk mashdar (kata dasar/terbitan) yang bermakna ism maf”ul yaitu mahzu’an ( orang yang dipermainkan dan direndahkan)

Lafaz ini disebut 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 67, 231;
-Al Maa’idah (5), ayat 57, 58;
Al Kahfi (18), ayat 56, 106;
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 36;
Al Furqaan (25), ayat 41;
Luqman (31), ayat 6;
-Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35.
Pada surah Al Baqarah (2), ayat 67 lafaz huzuwaa dikaitkan dengan perkataan adanya tuduhan Musa, "Adakah engkau wahai Nabi Musa menjadikan kami tempat untuk diperolok-olok dan engkau mau jadikan kami orang yang dipersendakan dan dipermainkan."

Pada ayat ini, suruhan Musa kepada mereka supaya menyembelih sapi (baqarah) sebagaimana yang diwahyukan kepadanya untuk mengetahui pembunuh seseorang yang berlaku di antara mereka dianggap sebagai huzuwa atau bahan olok-olok.
Awalnya mereka berkeinginan supaya Musa berdoa kepada Allah untuk mengetahui si pembunuh itu.
Namun, apa yang mereka minta lain yang disampaikan oleh Musa.
Oleh karena itu mereka berkata demikian.
Padahal mereka enggan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Musa.

Al Qurtubi rnenerangkan, "Kata- kata ini memberikan isyarat tentang larangan mempermainkan dan mempersenda agama Allah dan orang Islam karena perbuatan itu adalah tanda kejahilan dan yang melakukannya akan mendapat azab dan balasan, sebagaimana yang di jelaskan dalam surah Al Jaatsiyah (45), ayat 9

Pada ayat-ayat yang lain, lafaz huzuwaa mencakup beberapa keadaan, yaitu:

Pertama, larangan menjadikan bahan huzuwaa atau mainan dan olok-olokkan pada apa yang datang dari Allah berupa kitab, ayat-ayat Nya, rasulrasul Nya, agama Nya dan sebagainya.
Sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 231.
Kedua, larangan bagi orang yang beriman mengikuti orang yang menjadikan agama Allah sebagai bahan persendaan dan gurauan dari Ahli Kitab dan orang kafir (Al Maa ‘idah (5), ayat 57).
Seperti ketika kumandang azan untuk mendirikan shalat, maka mereka mempersendanya dan memperolok-oloknya (Al Maa’ idah (5), ayat 58).

Diriwayatkan dari As Suddi, seseorang lelaki dari orang Nasrani di Madinah, tatkala ia mendengar kumandang azan maka ia berkata,
"Bakarlah pendusta ini" Pada suatu malam pembantunya masuk dengan membawa api, sedang ia dan keluarganya dalam keadaan tidur, lalu api itu jatuh dan rumah pun terbakar, maka ia dan keluarganya turut terbakar.

Seperti mempersenda dan mendustakan hujah, dalil dan mukjizat yang didatangkan Allah kepada rasulrasul Nya (Al Kahfi (18), ayat 56).

Seperti mendustakan dan mempersenda kerasulan Muhammad dari kalangan kafir Quraisy seperti Abu Jahl (Al Anbiya‘ (21), ayat 36), (Al Furqan (25), ayat 41).

Seperti menjadikan jalan Allah atau ayat-ayat Allah bahan permainan dan olok-olokkan (Luqman (31), ayat 6), (Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35).

Ketiga, perkhabaran tentang siksaan yang menimpa ke atas orang yang menjadikan ayat-ayat Allah dan apa saja yang datang darinya sebagai bahan ejekan, sendaan dan olok-olokkan.
Seperti bagi mereka ‘adzaab muhiin yaitu siksaan yang berterusan, selamanya dan menghinakan di hari kiamat.
(Luqman (31), ayat 6) dan (Al Jaatsiyah (45), ayat 9)

Seperti menggugurkan amalan-amalan mereka yang mereka sangka baik dan betul dan tidak memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, maka mereka menjadi penghuni neraka jahanam di hari akhirat.
(Al Kahfi (18), ayat 104-106).

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah dimana Rasulullah bersabda, pada hari kiamat, didatangkan seorang lelaki yang tegap, gemuk, tinggi dan besar.
Namun, Allah tidak menimbang sebarang amalnya walau sebelah sayap seekor nyamuk.

Kesimpulannya, kata huzuwan atau huzuwa mencakup makna sesuatu dijadikan bahan persendaan, ejekan, permainan, sendaan dan yang sinonim dengannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 644-646

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 67 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 67 - Gambar 2
Statistik QS. 2:67
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.3 (11 votes)
Tags:

2:67, 2 67, 2-67, Surah Al Baqarah 67, Tafsir surat AlBaqarah 67, Quran Al-Baqarah 67, Surah Al Baqarah ayat 67

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 56 [QS. 7:56]

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut sehingga kamu lebih khusyuk dan terdorong untuk menaati-Nya, dan penuh harap terhada … 7:56, 7 56, 7-56, Surah Al A’raaf 56, Tafsir surat AlAraaf 56, Quran Al Araf 56, Al-A’raf 56, Surah Al Araf ayat 56

QS. Ad Dukhaan (Kabut) – surah 44 ayat 24 [QS. 44:24]

23-24. Allah menyambut permohonan Nabi Musa dengan berfirman kepadanya, “Karena itu berjalanlah pada malam hari dengan hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kamu, wahai Musa dan pengikut-pengikutmu, akan di ik … 44:24, 44 24, 44-24, Surah Ad Dukhaan 24, Tafsir surat AdDukhaan 24, Quran AdDukhan 24, Ad Dukhan 24, Ad-Dukhan 24, Surah Ad Dukhan ayat 24

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan ...

Benar! Kurang tepat!

Orang yang suka berbohong adalah orang ...

Benar! Kurang tepat!

Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Lawan kata dari jujur ​​adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #5
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #5 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #5 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … lima empat tiga tujuh enam Benar! Kurang tepat! Meja, kursi, manusia,

Pendidikan Agama Islam #8

Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali … Hadits Syaz Hadits Mu’allaq Hadits Daif Hadits Daif wa Mursal Hadits Mursal Benar!

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya … Amal perbuatan yang menjadikan

Instagram