Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 surah 2 ayat 255 juga bisa langsung diakses di URL risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 60


وَ اِذِ اسۡتَسۡقٰی مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ فَقُلۡنَا اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ الۡحَجَرَ ؕ فَانۡفَجَرَتۡ مِنۡہُ اثۡنَتَاعَشۡرَۃَ عَیۡنًا ؕ قَدۡ عَلِمَ کُلُّ اُنَاسٍ مَّشۡرَبَہُمۡ ؕ کُلُوۡا وَ اشۡرَبُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ اللّٰہِ وَ لَا تَعۡثَوۡا فِی الۡاَرۡضِ مُفۡسِدِیۡنَ
Wa-idziistasqa muusa liqaumihi faqulnaaadhrib bi’ashaakal hajara faanfajarat minhuutsnataa ‘asyrata ‘ainan qad ‘alima kullu unaasin masyrabahum kuluu waasyrabuu min rizqillahi walaa ta’ tsau fiil ardhi mufsidiin(a);

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman:
“Pukullah batu itu dengan tongkatmu”.
Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.
Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing).
Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.
―QS. 2:60
Topik ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
2:60, 2 60, 2-60, Al Baqarah 60, AlBaqarah 60, Al-Baqarah 60
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Pada permulaan ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan bagaimana Nabi Musa a.s.
berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan air minum bagi para pengikutnya itu yang terdiri dari dua belas suku.
Allah mengabulkan doa tersebut, lalu memerintahkan Nabi Musa a.s.
memukulkan tongkatnya ke sebuah batu besar yang ada di padang pasir itu.
Tiba-tiba memancarlah air dari batu sebanyak dua belas sumber, sehingga masing-masing suku dari kaum Nabi Musa a.s.
mendapatkan air minum dengan cukup.

Kejadian ini merupakan mukjizat bagi Musa a.s.
untuk membuktikan kerasulannya dan untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya Allah kuasa memancarkan air dari batu, tanpa dipukul dengan tongkat lebih dahulu akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala hendak memperlihatkan kepada hamba-Nya hubungan sebab dengan akibat, supaya mereka itu apabila menginginkan sesuatu haruslah berusaha dan bekerja mendapatkannya menurut proses hubungan antara sebab dan akibat.
Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan rezeki untuk setiap makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini, akan tetapi rezeki itu tak datang sendiri, melainkan harus diusahakan dan harus ditempuh cara caranya.
Siapa yang malas berusaha tentu tidak akan mendapatkan rezeki yang diperlukan.

Akan tetapi, di samping itu Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia ini mempunyai pikiran dan perasaan yang terbatas, sehingga ia hanya dapat memahami yang berada dalam daerah jangkauan indera pikiran dan perasaannya.
Apabila ia melihat adanya sesuatu yang berada di luar kemampuannya, ia berusaha untuk mengembalikan persoalannya kepada yang telah diketahuinya.
Bila ia tidak dapat memahaminya sama sekali maka ia menjadi bingung, apabila hal itu terjadi di hadapannya berulang kali.
Maka Allah memperlihatkan mukjizat melalui para nabi sesuai dengan keadaan umat pada masa nabi itu.

Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh mereka makan dan minum dari rezeki yang telah dilimpahkan kepada mereka dan dilarang-Nya mereka untuk berbuat kezaliman.

Al Baqarah (2) ayat 60 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah, wahai Bani Israil, hari ketika Musa, nabi kalian, memohonkan air kepada Tuhannya untuk kalian pada saat kalian sangat haus di padang Tih.(1) Kami pun mengasihi kalian dan Kami memfirmankan kepada Musa, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Kemudian memancarlah air dari dua belas mata air, sehingga setiap kelompok memiliki satu mata air.
Karena mereka berjumlah dua belas kelompok, maka setiap kabilah bisa mendapatkan tempat minum mereka.
Kami firmankan kepada kalian, “Makanlah mann dan salwa, minumlah dari air yang memancar ini dan lupakanlah apa yang pernah kalian lakukan.
Dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam berbuat kerusakan di bumi, tetapi tahanlah diri kalian dari perbuatan maksiat.”

(1) Padang pasir tempat mereka berkeliaran dan hidup tidak menentu selama empat puluh tahun setelah keluar dari negeri Mesir.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Musa memohon air) (untuk kaumnya) yakni ketika mereka telah kehausan di padang Tih (lalu firman Kami, “Pukulkanlah tongkatmu ke atas batu itu!”) yaitu batu yang pernah membawa lari pakaiannya, bentuknya tipis persegi empat sebesar kepala manusia, batu lunak atau seperti keduanya lalu dipukulkannya (maka terpancarlah) terbelahlah batu itu lalu keluar air (daripadanya dua belas mata air) yaitu sebanyak jumlah suku Bani Israel (sesungguhnya telah mengetahui tiap-tiap suku) yakni tiap-tiap suku di antara mereka (tempat minum mereka) masing-masing hingga mereka tidak saling berebut.
Lalu firman Kami kepada mereka, (“Makan dan minumlah rezeki yang diberikan Allah dan janganlah kamu berbuat keonaran di muka bumi dengan melakukan pengrusakan!”) ‘Mufsidiin’ menjadi ‘hal’ yang memperkuat perbuatan pelaku ‘`atsiya’ yang berarti berbuat keonaran.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah terhadap nikmat Kami yang diberikan kepada kalian ketika kalian sangat kehausan selama masa pembuangan, ketika Musa dengan sangat merendah berdoa kepada Kami agar Kami menurunkan hujan bagi kaumnya.
Kami berkata, “Pukulkan tongkatmu ke batu itu.” Musa pun melakukannya sehingga mengalirlah dari batu itu dua belas mata air sesuai dengan jumlah kabilah yang ada di bani Israil.
Setiap kabilah mengetahui mata air yang dikhususkan bagi mereka sehingga tidak saling berebut dan Kami ucapkan kepada mereka, “Makan dan minumlah sebagian rezeki Allah itu dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi.”

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah berfirman, “Ingatlah kalian kepada nikmat yang telah Kulimpahkan setelah Aku memperkenankan doa nabi kalian, yaitu Musa.
Di kala ia meminta air minum kepada-Ku buat kalian hingga Aku mudahkan memperoleh air itu, dan Aku keluarkan air itu dari batu yang kalian bawa.
Aku pancarkan air darinya buat kalian sebanyak dua belas mata air, bagi tiap-tiap suku di antara kalian terdapat mata airnya sendiri yang telah diketahui.
Makanlah salwa dan manna, dan minumlah air ini yang telah Kupancarkan tanpa jerih payah dan usaha kalian, dan sembahlah oleh kalian Tuhan yang telah menundukkan hal tersebut.”

Dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.

Yakni janganlah kalian membalas air susu dengan air tuba, kenikmatan kalian balas dengan kedurhakaan, karena akibatnya nikmat itu akan dicabut dari kalian.

Para Mufassirin membahas kisah ini secara panjang lebar dalam pembicaraan mereka, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a.
Disebutkan bahwa di hadapan mereka diletakkan sebuah batu berbentuk empat persegi panjang, lalu Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salam supaya memukul batu itu dengan tongkatnya.
Lalu Musa memukulnya dengan tongkatnya, maka memancarlah dua belas mata air, pada tiap-tiap sudut batu tersebut memancar tiga buah mata air.
Kemudian Musa memberitahukan kepada tiap-tiap suku itu mata airnya masing-masing buat minum mereka.
Tidak sekali-kali mereka berpindah ke tempat yang lain melainkan mereka menjumpai hal tersebut, sama halnya dengan kejadian yang pernah terjadi di tempat yang pertama.
Kisah ini merupakan suatu bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim, yaitu hadis mengenai fitnah-fitnah yang cukup panjang.

Atiyyah Al-Aufi mengatakan, dijadikan buat mereka sebuah batu yang besarnya sama dengan kepala banteng, lalu batu itu dimuat di atas sapi jantan.
Apabila mereka turun istirahat, mereka meletakkan batu itu dan Musa memukul batu itu dengan tongkatnya, maka memancarlah dua belas mata air.
Apabila mereka berangkat meneruskan perjalanan, mereka mengangkut batu itu ke atas punggung seekor sapi jantan, lalu airnya berhenti dengan sendirinya.

Usman ibnu Ata Al-Khurrasani meriwayatkan dari ayahnya, bahwa kaum Bani Israil mempunyai sebuah batu, dan Nabi Harun yang selalu meletakkannya, sedangkan Nabi Musa yang memukul batu itu dengan tongkatnya.

Qatadah mengatakan bahwa batu tersebut berasal dari Bukit Tur, merekalah yang mengambil batu tersebut dan yang memikulnya (ke mana pun mereka pergi).
Apabila mereka turun istirahat, Nabi Musa ‘alaihis salam memukul batu itu dengan tongkatnya (agar keluar air darinya).

Az-Zamakhsyari mengatakan, menurut suatu pendapat batu tersebut adalah granit berukuran satu hasta kali satu hasta.
Menurut pendapat lain, bentuknya sebesar kepala manusia.
Menurut pendapat lainnya lagi batu tersebut berasal dari surga yang tingginya sepuluh hasta, sama dengan tinggi Nabi Musa ‘alaihis salam, sedangkan batu tersebut mempunyai dua cabang yang kedua-duanya menyala dalam kegelapan, dan selalu dibawa di atas punggung keledai.

Menurut pendapat yang lain, batu tersebut dibawa turun oleh Nabi Adam ‘alaihis salam dari surga, lalu diwarisi secara turun-temurun hingga sampai ke tangan Nabi Syu’aib, lalu Nabi Syu’aib menyerahkan batu itu bersama tongkatnya kepada Musa ‘alaihis salam

Menurut pendapat yang lainnya, batu tersebutlah yang pernah membawa lari pakaian Nabi Musa ‘alaihis salam ketika sedang mandi.
Lalu Malaikat Jibril berkata kepada Musa ‘alaihis salam, “Angkatlah batu itu, karena sesungguhnya pada batu itu terdapat kekuatan dan engkau mempunyai mukjizat padanya.” Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam membawanya pada pikulannya.

Az-Zamakhsyari mengatakan, dapat pula diartikan bahwa huruf Alif lam pada lafaz al-hajar bermakna liljinsi, bukan lil’ahdi.
Dengan kata lain dikatakan, “Pukullah sesuatu benda yang disebut batu!”

Diriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam tidak diperintahkan memukul sebuah batu secara tertentu.
Al-Hasan mengatakan, penafsiran seperti ini lebih menonjolkan mukjizat dan lebih menggambarkan tentang kekuasaan mukjizat.
Disebutkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam memukul batu, lalu memancarlah mata air darinya, setelah itu dia memukulnya lagi, maka berhentilah airnya dan kering.
Kemudian mereka (Bani Israil) mengatakan, “Jika Musa kehilangan batu ini, niscaya kita akan kehausan.” Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Musa ‘alaihis salam yang memerintahkan agar berbicara kepada batu tersebut.
Batu itu akan memancarkan air tanpa menyentuhnya dengan tongkat, dengan harapan mereka kelak mau percaya dan mengakuinya.

Yahya ibnun Nadr mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Juwaibir, “Bagaimanakah tiap-tiap suku mengetahui mata air untuk minumnya?”
Juwaibir menjawab, “Nabi Musa ‘alaihis salam meletakkan batu tersebut, lalu masing-masing suku diwakili oleh seseorang dari kalangannya.
Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam memukul batu itu, maka memancarlah dua belas mata air.
Tiap-tiap mata air memancar ke arah masing-masing wakil tersebut, selanjutnya tiap-tiap lelaki memanggil sukunya untuk mengambil air dari mata airnya masing-masing.”

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ketika Bani Israil berada di padang pasir, Musa membelah batu untuk mereka menjadi mata air.

As-Sauri meriwayatkan dari Sa’id, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi di Padang Sahara, Musa memukul batu untuk mereka, maka memancarlah dari batu itu dua belas mata air, masing-masing suku meminum dari satu mata air.

Mujahid mengatakan seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas.
Kisah ini mirip dengan kisah yang ada di dalam surat Al-A’raf, hanya kisah yang ada di dalam surat Al-A’raf diturunkan di Mekah.
Oleh karena itu, pemberitaan tentang mereka memakai damir gaib, mengingat Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan kepada Rasul-Nya apa yang telah mereka perbuat.
Adapun kisah yang ada di dalam surat ini —yakni Al-Baqarah— diturunkan di Madinah.
Untuk itu, khitab yang ada padanya langsung ditujukan kepada mereka (orang-orang Yahudi Madinah).
Di dalam surat Al-A’raf diberitakan melalui firman-Nya:

Maka memancarlah darinya dua belas mata air.
(Al A’raf:160)

Yang dimaksud dengan inbijas ialah permulaan memancar, sedangkan dalam ayat surat Al-Baqarah disebutkan keadaan sesudahnya, yakni meluapnya air tersebut dalam pancarannya.
Maka sesuailah bila dalam ayat yang sedang kita bahas ini disebut istilah infijar, sedangkan dalam ayat surat Al-A’raf disebut dengan memakai inbijas.
Di antara kedua ungkapan terdapat perbedaan ditinjau dari sepuluh segi lafzi dan maknawi.
Hal tersebut disebutkan dengan panjang lebar oleh Az-Zamakhsyari di dalam kitab tafsirnya dengan ungkapan tanya jawab.
Memang apa yang diketengahkannya itu mendekati kebenaran.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 60

HAJAR
حَجَر

Lafaz hajar berarti benda keras yang biasa disebut sebagai batu. Hijaarah adalah bentuk jamak katsrah dari lafaz tunggal. Maksud jamak katsrah adalah bentuk jamak yang menunjukkan jumlah yang banyak melebihi ukuran minimum. Selain itu, lafaz hajar juga mempunyai bentuk jamak qillah (yaitu lafaz jamak yang menunjukkan jumlah banyak, namun sebatas jumlah minimum saja) yaitu ahjaar.

Selain lafaz hajar, lafaz shafwan juga menunjukkan arti batu, namun kedua­ lafaz ini bukan sinonim (muraadif). Ada perbedaan antara keduanya. Lafaz shafwan khusus digunakan untuk menunjukkan batu yang licin, sedangkan lafaz hajar lebih umum karena ia mencakup semua bentuk batu yang keras.

Di dalam Al Qur’an hanya menyebut bentuk tunggal dan jamak katsrah saja dari lafaz hajar ini, sementara bentuk jamak qillah tidak disebut.

Bentuk tunggal hajar disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 60 dan surah Al A’raaf (7), ayat 160. Dalam kedua ayat ini, lafaz hajar me­nunjukkan arti batu yang dipukul Nabi Musa dengan tongkatnya, kemudian batu itu memancarkan 12 sumber air sesuai dengan jumlah kabilah Bani Israil.

Banyak perbedaan pendapat mengenai jenis batu yang dipukul Nabi Musa ini diantara­nya adalah pendapat Hasan Al Basri yang mengatakan batu itu bukanlah dari jenis batu tertentu.

Ada juga yang mengatakan batu itu adalah batu yang dibawa dari Gunung Thur yang berbentuk segi empat, setelah dipukul Nabi Musa setiap sisinya mengeluarkan tiga sumber air.

Imam Al Alusi menegaskan me­ngenai jenis batu ini mempunyai banyak pendapat dan saling berlawanan, namun penentuan jenis batu itu bukanlah masalah agama. Oleh karena itu, sikap yang lebih baik dan lebih selamat adalah menyerahkan masalah ini kepada Allah.

Sedangkan bentuk jamak katsrah hijaarah diulang sepuluh kali yaitu dalam surah:
-Al­ Baqarah (2), ayat 24, 74 (dua kali);
-Al­ Anfaal (8), ayat 32;
-Hud (11), ayat 82;
-Al Hijr (15), ayat 74;
-Al Israa (17), ayat 50;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 33;
-At Tahrim (66), ayat 6;
-Al Fiil (105), ayat 4.

Dalam surah A Baqarah (2), ayat 72, lafaz ini dijadikan perumpamaan untuk meng­gambarkan keras dan sombongnya hati Bani Israil.

Abdur Rahman Hasan Habannakah Al­ Midani memasukkan perumpamaan ini ke dalam kelompok perumpamaan yang diulang sekali saja di dalam Al Qur’an. Beliau berkata,
“Dalam ayat ini, Allah mengumpama­kan kerasnya hati yang tidak terlihat oleh mata dengan kerasnya batu-batu yang dapat dilihat oleh mata. Apabila dibandingkan hati­ manusia, didapati diantaranya ada yang lembut, lunak dan mudah menerima ke­benaran, hidayah dan ajakan melakukan ke­ bajikan. Ada juga hati yang tidak lembut dan lunak apabila dibandingkan dengan jenis hati yang pertama. Ada yang keras dan ada juga yang begitu keras.

Pada sisi lain, apabila diperhati­kan benda-benda material, didapati diantara­nya ada yang lunak seperti adonan tepung yang masih basah, ada juga benda yang tidak begitu lunak seperti adonan tepung yang sudah kering, ada juga yang keras seperti tanah liat yang sudah mengeras dan ada juga benda yang begitu keras seperti batu.

Apabila dibandingkan perkara-perkara ini, didapati kerasnya hati Bani Israil (yang disebut dalam ayat) menyamai kerasnya batu. Malah, hati mereka amat keras karena tidak mau menerima kebaikan sama sekali padahal antara batu-batu di gunung, ada yang mengalirkan air sungai dan diantaranya ada yang terbelah (meskipun susah), lalu keluarlah mata air daripadanya. Oleh karena hati Bani Israil penuh dengan kesombongan dan ego, tidak mau tunduk pada keagung­an Allah, tidak mau sujud kepadaNya dan tidak mhu bersimpuh takut kepada Nya, sedangkan diantara batu-batu yang berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, ada yang jatuh meluncur ke kaki-kaki gunung dan ke lembah-lembah dibawa aliran air hujan. Turunnya batu-batu dari puncak gunung yang tinggi ini adalah karena ia takut kepada Allah dan ini adalah bentuk sujudnya batu kepada Allah serta tunduk kepada kekuasaan qadha’ dan qadarnya.”

Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 24 dan surah At Tahrim (66), ayat 6, lafaz hijaarah di­ gunakan untuk menunjukkan batu-batu yang dipakai sebagai bahan bakar api di neraka. Ini menunjukkan betapa hebat dan kuat­nya panas api neraka. Berbeda dengan api di dunia yang tidak mau menyala dengan bahan bakar batu.

Ibnu Mas’ud menafsirkan lafaz hijaarah dalam kedua ayat itu dengan batu belerang (kibrit) yaitu sejenis benda keras kuning yang mudah hancur dan mudah terbakar dengan mengeluarkan nyala­ api yang biru.

Dalam surah Hud (11), ayat 82; surah Al Hijr (15), ayat 74 dan surah Adz Dzaariyaat (51), ayat 33, lafaz hijaarah dipakai buntuk me­nunjukkan batu-batu yang digunakan untuk mengazab kaum Nabi Luth yang durhaka.

Dalam surah Hud dan Al Hijr, lafaz hijjarah diberi keterangan min sijjiil, sedangkan dalam surah Adz Dzaariyaat diberi keterangan min thiin. Kedua keterangan ini tidak berlawanan karena lafaz sijjiil artinya batu yang ber­campur dengan tanah liat dan lafaz thiin artinya tanah liat.

Dapat disimpulkan, jenis batu-batu yang mengazab kaum Luth adalah batu-batu yang bercampur dengan tanah liat. Hal ini terjadi karena bumi, tempat hidup kaum Luth dibalikkan oleh Allah sehingga mereka terkubur di bawah tanah dan terkena reruntuhan batu-batu yang bercampur dengan tanah liat yang menghujani mereka.

Lafaz hijaarah dalam surah Al Fiil (105), ayat 4 juga diberi keterangan dengan min sijjiil sehingga ia juga berarti batu-batu yang bercampur tanah liat. Batu-batu ini dilempar oleh burung Abaabili ke arah bala tentara gajah pimpinan Abrahah yang hendak meruntuhkan Ka’bah.

Al Midani menerangkan batu-batu yang bercampur tanah liat itu mengandung wabah penyakit yang merusakkan dan menyiksa orang yang dikenainya.

Sedangkan lafaz hijaarah dalam surah Al Israa (17), ayat 50 digunakan di dalam Al Qur’an untuk mengejek kaum kafir yang tidak percaya pada hari kebangkitan kembali manusia. Dalam ayat itu, Nabi Muhammad diperintahkan Allah supaya berkata kepada orang kafir, “Jadilah kalian batu atau besi” Batu dan besi dipilih dalam ayat ini karena kedua benda itu kuat dan keras se­hingga apabila rusak menurut perkiraan akal manusia, ia sukar dikembalikan semula. Namun, Allah tetap berkuasa mengembali­kan ciptaanNya.

Dalam surah Al Anfaal (8), ayat 32 lafaz hijaarah digunakan oleh orang kafir pada zaman nabi dalam ucapannya yang me­lampaui batas yaitu, “Ya Allah, sekiranya betul Al­ Quran ini, benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:179-181

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 60 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 60



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku