QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 55 [QS. 2:55]

وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ
Wa-idz qultum yaa muusa lan nu’mina laka hatta narallaha jahratan faakhadzatkumush-shaa’iqatu wa-antum tanzhuruun(a);

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:
“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”.
―QS. 2:55
Topik ▪ Burung-burungan yang disebut dalam Al Qur’an
2:55, 2 55, 2-55, Al Baqarah 55, AlBaqarah 55, Al-Baqarah 55

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 55

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 55. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan Bani Israil kepada sifat-sifat dan keingkaran nenek moyang mereka dahulunya kepada Nabi Musa ‘alaihis salam yaitu bahwa mereka pernah berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, “Kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami dapat melihat Allah terang-terangan”.
Karena sikap dan kelakuan mereka yang demikian itu maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan azab kepada mereka, yaitu halilintar yang menyambar mereka.
Menurut riwayat, mereka berjumlah tujuh puluh orang yang dipilih oleh Nabi Musa ‘alaihis salam untuk pergi bersamanya ke bukit Tursina, meminta ampun atas kesalahan mereka menyembah anak sapi.
Mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam bahwa sebelum mereka dapat melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, mereka tidak akan beriman, tidak akan membenarkan ucapan Nabi Musa ‘alaihis salam bahwa Taurat itu adalah Kitab Allah dan bahwa Musa telah mendengar perkataan-Nya bahwa dia memerintahkan untuk menerima perkataan dan mengamalkannya.
Lalu datanglah halilintar menyambar mereka itu, sedang yang lain menyaksikan peristiwa itu dengan jelas .

Demikian sikap Bani Israil itu terhadap Nabi Musa ‘alaihis salam mereka selalu bertingkah dan membangkang.
Maka datanglah azab Tuhan kepada mereka.
Bermacam-macam penyakit menimpa mereka.
Binatang-binatang kecil yang menyebarkan penyakit-penyakit itu telah membinasakan sejumlah besar dari mereka.
Maka tidaklah mengherankan bahwa ketika datang Nabi Muhammad ﷺ menyeru mereka kepada agama Islam, mereka bersikap menentang dengan dalih, mereka menolak seruan itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah ucapan kalian kepada Musa, “Kami tidak akan beriman sebelum kami melihat Allah secara jelas dengan mata kepala kami dan tidak terhalang oleh sesuatu apa pun.” Kemudian, petir dan api dari langit menyambar dan menggoncang kalian, sebagai akibat dari sikap membangkang, kelaliman dan permintaan kalian yang mustahil terjadi.
Pada saat itu kalian melihat keadaan dan apa yang yang menimpa kalian, yaitu berupa musibah dan siksa yang ada dalam sambaran petir itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan ketika kamu berkata) yaitu setelah kamu pergi bersama Musa untuk memohon ampun kepada Allah sebab menyembah patung anak lembu dan telah kamu dengar pula firman-Nya.

(“Hai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah secara terang!”) secara nyata.

(Sebab itu kamu disambar petir) atau halilintar hingga kamu tewas (sedang kamu menyaksikannya) atas peristiwa yang menimpa dirimu itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah ketika kalian berkata, “Wahai, Musa! Selamanya kami tidak akan mempercayai bahwa apa yang kami dengar darimu itu adalah firman Allah kecuali kami melihat Allah secara langsung.” Kemudian langit menurunkan api yang langsung kalian lihat sendiri.
Lalu, api itu membunuh kalian karena dosa-dosa kalian dan kelancangan kalian terhadap Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Kulimpahkan kepada kalian, yaitu Aku hidupkan kembali kalian sesudah kalian mati tertimpa halilintar, ketika kalian meminta sebelumnya agar dapat melihat-Ku secara terang-terangan, padahal hal tersebut tidak akan mampu kalian lakukan dan tidak pula bagi orang-orang seperti kalian.” Demikian menurut tafsir yang dikatakan oleh Ibnu Juraij.

Ibnu Abbas r.a.
mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, makna jahratan ialah terang-terangan.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Ibrahim ibnu Tahman, dari Abbad ibnu Ishaq, dari Abul Huwairis, dari Ibnu Abbas.
Disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,

“Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami dapat melihat Allah dengan terang”

Yang dimaksud dengan lafaz jahrah ialah terang-terangan.
Dengan kata lain, kami baru mau beriman kepadamu bila kami dapat melihat Allah dengan terang.

Qatadah dan Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Hatta narallaha jahratan.” Yang dimaksud dengan jahratan ialah ‘iyanan (terang-terangan tanpa aling-aling).

Abu Ja’far meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas.
Mereka yang mengatakan demikian berjumlah tujuh puluh orang, yaitu mereka yang dipilih oleh Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu mereka berangkat bersama Nabi Musa.
Ar-Rabi’ ibnu Anas melanjutkan kisahnya, bahwa mereka hanya mendengar kalam saja, lalu mereka berkata:

Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.
Kemudian mereka mendengar suara pekikan yang dahsyat, akhirnya mereka mati semua.

Marwan ibnul Hakam, ketika sedang berkhotbah di atas mimbar Mekah, antara lain mengatakan bahwa makna as-sa’iqah ialah suara pekikan yang dahsyat dari langit.

Urwah ibnu Ruwayyim mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…sedangkan kalian menyaksikannya.

Sebagian dari mereka disambar halilintar, sedangkan sebagian yang lainnya melihat peristiwa tersebut.
Kemudian mereka yang tersambar halilintar itu dihidupkan kembali, lalu sebagian yang lainnya tersambar halilintar.

As-Saddi mengatakan bahwa firman-Nya,

“Karena itu, kalian disambar halilintar”

lalu mereka mati.
Maka berdirilah Nabi Musa seraya menangis dan berdoa kepada Allah serta mengatakan, “Wahai Tuhanku, apakah yang akan kukatakan kepada Bani Israil jika aku kembali menemui mereka, sedangkan Engkau telah binasakan orang-orang terpilih dari mereka.” Musa berkata pula yang disitir oleh firman-Nya:

Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.
Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?
(Q.S. Al-A’raf [7]: 155)


Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 55 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 55 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 55 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Baqarah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 286 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 2:55
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.5
Ratingmu: 4.7 (13 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/2-55







Pembahasan ▪ al baqarah 55 ▪ Al Baqarah 55 tafsir

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim