QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 50 [QS. 2:50]

وَ اِذۡ فَرَقۡنَا بِکُمُ الۡبَحۡرَ فَاَنۡجَیۡنٰکُمۡ وَ اَغۡرَقۡنَاۤ اٰلَ فِرۡعَوۡنَ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ
Wa-idz faraqnaa bikumul bahra fa-anjainaakum waaghraqnaa aala fir’auna wa-antum tanzhuruun(a);

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.
―QS. 2:50
Topik ▪ Kelebihan yang diberikan Allah untuk bangsa Yahudi
2:50, 2 50, 2-50, Al Baqarah 50, AlBaqarah 50, Al-Baqarah 50

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 50

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 50. Oleh Kementrian Agama RI

Maka dalam ayat-ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada mereka, yaitu bahwa Dia telah menyelamatkan mereka dulunya ketika mereka meninggalkan Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa ‘alaihis salam dikejar oleh Firaun bersama tentaranya.

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat Musa ‘alaihis salam menjadi Rasul-Nya, Dia memerintahkan supaya menyeru Firaun dan kaumnya untuk beriman kepada-Nya dan agar menuntut kepada Firaun supaya membebaskan Bani Israil yang berada di negeri itu dan untuk menghentikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan terhadap mereka.
Sebagai jawabannya, Firaun memperhebat siksaan dan kekejaman mereka terhadap Bani Israil itu dan diperintahkannya kepada rakyatnya untuk meningkatkan kerja paksa yang ditimpakan kepada mereka itu.

Allah subhanahu wa ta’ala lalu memberikan mukjizat-mukjizat kepada Musa ‘alaihis salam dan saudaranya, yaitu Nabi Harun, antara lain ialah.
tongkat Nabi Musa ‘alaihis salam dapat berubah menjadi ular dan dapat menelan ular-ular yang dijelmakan oleh ahli ahli sihir yang dikerahkan Firaun untuk melawan mukjizat Nabi Musa ‘alaihis salam

Melihat kenyataan-kenyataan itu, para ahli sihir itu pun mengakui kekalahan mereka, lalu menyatakan beriman kepada Tuhan.
Akhirnya Firaun mengusir dan mengejar-ngejar mereka.

Maka berangkatlah mereka meninggalkan negeri itu di bawah pimpinan Musa ‘alaihis salam, sedangkan Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka.

Ketika mereka itu sampai di tepi laut Qulzum, yaitu laut Merah yang membatasi negeri Mesir dengan semenanjung Sinai, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam supaya memukulkan tongkatnya ke laut itu.
Lalu Musa ‘alaihis salam melakukannya, maka terbelahlah air laut itu dan terbentanglah dua belas jalur jalan raya yang akan dilalui Nabi Musa ‘alaihis salam bersama pengikut-pengikutnya yang terdiri dari dua belas rombongan, sehingga selamatlah mereka sampai ke seberang.

Sementara itu Firaun bersama tentaranya terus mengejar mereka tetapi ketika mereka sampai di tengah-tengah laut itu, maka air laut kembali bertaut, sehingga mereka semuanya tenggelam ditelan air laut.
Kejadian itu disaksikan oleh Bani Israil yang telah selamat ke seberang.

Terbelahnya laut merupakan salah satu dari mukjizat-mukjizat Nabi Musa ‘alaihis salam untuk membuktikan kepada manusia bahwa Allah adalah Maha Kuasa.
Dialah yang menciptakan alam ini dan Dia pula yang menetapkan undang-undang alam yang berlaku sepanjang masa dan Dia berkuasa pula merubah atau membatalkan undang-undang alam tersebut apabila dikehendaki-Nya.
Hukum-hukum alam yang berlaku pada air ialah bahwa air sebagai salah satu benda cair tidaklah dapat terpisah tanpa adanya benda lain yang memisahkannya.
Undang-undang inilah yang dirubah dan dibatalkan-Nya ketika terbelahnya air laut itu.
Air laut bersibak dan berdiri seperti dinding-dinding yang tegak lurus tanpa adanya sesuatu yang menahannya, sehingga terbentanglah jalan raya di antara dinding-dinding tersebut.

Demikianlah besarnya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Bani Israil itu.
Mereka telah dibebaskan dari kekejaman Firaun dan rakyatnya.
Kemudian mereka diselamatkan pula ketika menyeberang laut.
Sesudah itu mereka dapat pula menyaksikan dengan mata kepala sendiri tenggelamnya musuh-musuh mereka di tengah laut yang tentu saja menggembirakan hati mereka.
Sepatutnyalah mereka mensyukuri mikmat-nikmat tersebut.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah pula salah satu nikmat Allah kepada kalian, ketika Kami membelah laut untuk kalian.
Air laut itu Kami pisahkan agar kalian bisa menyeberanginya, sehingga kalian dapat menghindar dari kejaran Fir’aun dan para tentaranya.
Dengan anugerah Kami, kalian dapat selamat.
Lalu kalian Kami bela dari kejaran mereka.
Kami tenggelamkan mereka–di depan mata kalian–sehingga kalian dapat melihat mereka tenggelam, dan laut tertutup setelah kalian menyeberang dengan selamat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Kami pisah) Kami belah (demi karenamu) (lautan) sehingga kamu dapat masuk dan melintasinya ketika melarikan diri dari musuhmu (lalu Kami selamatkan kamu) dari bahaya tenggelam, (dan Kami tenggelamkan keluarga Firaun) beserta kaumnya (sedang kamu sendiri menyaksikan) hal itu, yaitu bertautnya lautan yang menyungkup mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah nikmat kami kepada kalian, saat kami membelah lautan untuk kalian.
Kami membentangkan jalan yang kering di tengahnya, lalu kalian bisa menyeberanginya.
Dan kami menyelamatkan kalian dari firaundan bala tentaranya, dan dari tenggelam di lautan.
Manakala firaun dan bala tentaranya masuk ke jalan yang kalian lewati, kami membinasakan mereka di dalam air di depan mata kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Makna ayat, yaitu: Sesudah Kami selamatkan kalian dari Fir’aun dan bala tentaranya, lalu kalian berangkat bersama Musa ‘alaihis salam, dan Fir’aun pun berangkat pula mengejar kalian, maka Kami belahkan laut buat kalian.
Hal ini diberitakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala secara rinci yang akan di-kemukakan pada tempatnya, dan yang paling panjang pembahasannya ialah dalam surat Asy-Syu’ara, insya Allah.

Fa anjainakum, yakni Kami selamatkan kalian dari mereka dan Kami halang-halangi antara kalian dan mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka, sedangkan kalian sendiri menyaksikan hal tersebut, agar hati kalian lebih tenang dan lega serta lebih meyakinkan dalam menghina musuh kalian.

Abdur Razzaq meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Amr ibnu Maimun Al-Audi sehubungan dengan firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami belah laut untuk kalian,” sampai dengan firman-Nya, “sedangkan kalian menyaksikan.” Bahwa tatkala Musa berangkat bersama kaum Bani Israil, beritanya terdengar oleh Fir’aun.
Maka Fir’aun berkata, “Janganlah kalian mengejar mereka sebelum ayam berkokok (waktu pagi hari).” Akan tetapi, demi Allah, pada malam itu tiada seekor ayam jago pun yang berkokok hingga pagi hari.
Lalu Fir’aun memerintahkan agar didatangkan ternak kambing, lalu kambing-kambing itu disembelih.
Fir’aun berkata, “Aku tidak akan mengambil hatinya sebelum berkumpul di hadapanku enam ratus ribu orang Qibti.” Ternyata sebelum dia mengambil hati kambing-kambing yang telah disembelih itu telah berkumpul di hadapannya enam ratus ribu orang Qibti.

Ketika Musa sampai di tepi laut, maka berkatalah kepadanya salah seorang dari sahabatnya yang dikenal dengan nama Yusya’ ibnu Nun, “Manakah perintah Tuhanmu?”
Musa berkata, “Di hadapanmu,” seraya mengisyaratkan ke arah laut.
Lalu Yusya’ ibnu Nun memacu kudanya ke arah laut hingga sampai di tempat yang besar ombaknya, kemudian ombak menepikannya dan ia kembali (ke tepi), lalu bertanya lagi, “Manakah perintah Tuhanmu, hai Musa?
Demi Allah, engkau tidaklah berdusta, tidak pula didustakan.” Yusya’ ibnu Nun melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali.
Kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Musa dan memerintahkan kepadanya agar memukul laut dengan tongkatnya.
Musa ‘alaihis salam memukulkan tongkatnya, ternyata laut terbelah, dan tersebutlah bahwa setiap belahan itu pemandangannya sama dengan bukit yang besar.

Kemudian Musa berjalan bersama orang-orang yang mengikutinya, lalu Fir’aun dan bala tentaranya mengejar mereka melalui jalan yang telah ditempuh mereka.
Tetapi ketika Fir’aun dan semua bala tentaranya telah masuk ke laut, maka Allah menenggelamkan mereka dengan menangkupkan kembali laut atas diri mereka.
Karena itu, disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya, sedangkan kalian sendiri menyaksikan.

Di dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa hari tersebut adalah hari yang jatuh dalam bulan Asyura.
Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan:

telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abdullah ibnu Sa’id ibnu Jubair, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut: Rasulullah ﷺ tiba di Madinah dan beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa pada hari Asyura.
Maka beliau bersabda, “Hari apakah sekarang yang kalian melakukan puasa padanya?”
Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik, ini adalah hari ketika Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan Bani Israil dan musuh mereka, maka Musa melakukan puasa padanya.” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Kemudian Rasulullah ﷺ puasa dan memerintahkan (para sahabat) agar melakukan puasa di hari itu.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui berbagai jalur periwayatan dari Ayub As-Sukhtiyani dengan lafaz yang semisal.


Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 50 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 50 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 50 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Baqarah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 286 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 2:50
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.6
Ratingmu: 4.2 (8 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/2-50









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta