Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 41


وَ اٰمِنُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَکُمۡ وَ لَا تَکُوۡنُوۡۤا اَوَّلَ کَافِرٍۭ بِہٖ ۪ وَ لَا تَشۡتَرُوۡا بِاٰیٰتِیۡ ثَمَنًا قَلِیۡلًا ۫ وَّ اِیَّایَ فَاتَّقُوۡنِ
Waaaminuu bimaa anzaltu mushaddiqan limaa ma’akum walaa takuunuu au-wala kaafirin bihi walaa tasytaruu biaayaatii tsamanan qaliilaa waii-yaaya faattaquun(i);

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.
―QS. 2:41
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Agama bangsa Yahudi
2:41, 2 41, 2-41, Al Baqarah 41, AlBaqarah 41, Al-Baqarah 41
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini terdapat empat macam perintah Allah yang ditujukan kepada Bani Israil, yaitu:

1.
Agar mereka beriman kepada Alquran yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Rasul terakhir yang diutus Allah kepada seluruh umat manusia.

Walaupun keharusan ini pada hakikatnya telah termasuk dalam perintah Allah yang disebutkan pada ayat yang lalu, yaitu agar mereka memenuhi janji yang antara lain beriman kepada setiap rasul dan kitab yang dibawanya, namun Allah menegaskan lagi perintah ini secara khusus, untuk menunjukkan bahwa beriman kepada Alquran itu adalah sangat penting, sebab Alquran itu membenarkan apa-apa yang telah tercantum dalam kitab suci mereka, yaitu Taurat.
Dan juga membenarkan kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah kepada Nabi nabi yang sebelumnya.
Perintah-perintah yang dibawa Alquran, antara lain perintah agar melakukan dakwah, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun tidak, suruhan untuk berbuat kebaikan, larangan berbuat yang mungkar, mempercayai adanya hari akhirat, sebagai hati pembalasan.
Hal itu sama dengan apa yang telah diserukan oleh Nabi Musa a.s.
kepada mereka dan juga oleh nabi-nabi tersebut adalah sama, yaitu: mengokohkan yang hak, memberikan bimbingan kepada semua makhluk serta membasmi kesesatan yang telah mengotori akidah yang benar.

2.
Agar mereka jangan tergesa-gesa mengingkari Alquran itu sehingga mereka menjadi orang yang pertama-tama mengingkarinya, padahal seharusnya merekalah orang yang mula-mula beriman dengannya, sebab mereka telah lebih dahulu mengetahui hakikat karena telah diberitakan dalam kitab suci mereka.

Dalam sejarah Nabi Muhammad ﷺ, disebutkan bahwa ketika beliau datang ke Madinah, maka orang-orang Yahudi yang ada di sana mendustakan beliau.
Kemudian diikuti pula oleh orang-orang Yahudi lainnya dari Bani Quraizah, Bani Nadir dan selanjutnya oleh semua orang orang Yahudi.

3.
Agar mereka jangan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.
Maksudnya, mereka jangan berpaling dengan meninggalkan petunjuk-petunjuk Alquran itu untuk mengejar keuntungan yang sedikit, berupa harta ataupun pangkat.
Keuntungan-keuntungan yang diharapkan itu adalah kecil sekali karena dengan demikian mereka tidak akan memperoleh rida Allah, bahkan sebaliknya mereka akan ditimpa azab-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak.

4.
Agar mereka bertakwa hanya kepada Allah semata-mata, yaitu dengan beriman kepada-Nya serta mengikuti yang benar dan meninggalkan kelezatan duniawi ini apabila ternyata kelezatan duniawi itu menghalangi pekerjaan-pekerjaan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak.

Al Baqarah (2) ayat 41 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Benarkanlah Al Quran yang Aku turunkan untuk membenarkan kitab-kitab yang ada pada kalian, juga membenarkan ilmu tentang tauhid dan ibadah kepada Allah dan prinsip keadilan di antara manusia.
Jangan buru-buru mengingkari Al Quran, karena dengan begitu kalian akan menjadi orang pertama yang mengingkarinya.
Padahal, seharusnya kalian menjadi orang pertama yang mempercayainya.
Jangan kalian tinggalkan ayat-ayat Allah untuk kemudian mengambil kesenangan hidup di dunia--yang sebenarnya sangat murah dan tidak abadi-sebagai pengganti.
Takutlah kalian hanya kepada-Ku, kemudian ikutilah jalan-Ku dan tinggalkanlah kebatilan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan berimanlah kalian pada apa yang Kuturunkan), yakni Alquran (yang membenarkan apa yang ada beserta kalian), yaitu Taurat berupa kesamaan dalam ketauhidan kenabian Muhammad (dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya), yakni dari golongan Ahlul Kitab karena orang-orang yang di belakang itu hanya akan mengikuti sikap dan tindakan kalian, sehingga dosa kekafiran mereka akan terpikul di atas pundak kalian (dan janganlah kalian jual) janganlah kalian tukar (ayat-ayat-Ku) yang terdapat dalam Kitab Suci kalian tentang sifat-sifat dan ciri-ciri Muhammad (dengan harga yang rendah) dengan pengganti yang rendah nilainya berupa harta dunia.
Maksudnya janganlah kalian sembunyikan karena khawatir tidak akan memperoleh lagi keuntungan-keuntungan yang kalian dapatkan selama ini dari nenek moyang kalian (dan hanya kepada-Kulah kalian harus bertakwa) maksudnya harus takut dalam hal itu dan bukan kepada selain-Ku.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Bani Israil, berimanlah kalian kepada Al-Quran yang telah Aku turunkan kepada Muhammad, Nabi Allah dan UtusanNya, karena hal itu sesuai dengan keterangan yang shahih dalam Taurat yang kalian ketahui.
Jangan menjadi orang pertama di kalangan ahli kitab yang pertama kali ingkar kepada nya.
Jangan menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit dalam bentuk harta dunia yang fana.
Beramallah kalian hanya demi Aku, taatilah Aku dan tinggalkan kemaksiatan kepada-Ku .

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya.

Menurut sebagian ulama ahli i'rab (Nahwu) mengatakan bahwa bentuk lengkap ayat ialah awwala fariqin kafirin bihi (golongan pertama yang kafir kepadanya), atau kalimat yang semakna.

Menurut Ibnu Abbas r.a., janganlah kalian merupakan orang pertama yang kafir kepadanya, mengingat pada kalian terdapat pengeta-uan mengenainya yang tidak dimiliki oleh selain kalian.

Abul Aliyah mengatakan, janganlah kalian menjadi orang pertama yang kafir kepada Muhammad ﷺ, yakni dia sejenis dengan kalian karena dia mempunyai Al-Kitab (Al-Qur'an), maka janganlah kalian kafir kepadanya sesudah kalian mendengar kerasulannya.
Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.

Akan tetapi, Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa damir bihi merujuk kepada Al-Qur'an yang telah disebut dalam kalimat sebelumnya, yaitu bima anzaltu (apa yang telah Aku turunkan).
Tetapi kedua pendapat tersebut (yang mengatakan bahwa damir kembali kepada Muhammad ﷺ dan Al-Qur'an) kedua-duanya benar, mengingat satu sama lain saling menguatkan.
Dengan kata lain, orang yang kafir kepada Al-Qur'an berarti sama saja kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ Orang yang kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ berarti sama saja dengan kafir kepada Al-Qur'an.

Adapun mengenai firman-Nya, "Awwala kafirin bihi," artinya orang pertama yang kafir kepadanya dari kalangan Bani Israil, mengingat banyak orang yang kafir kepadanya lebih dahulu daripada mereka, yaitu dari kalangan orang-orang kafir Quraisy dan lain-lainnya dari kalangan orang-orang Arab.

Sesungguhnya makna yang dimaksud dari kalimat 'hanya kaum Bani Israil sebagai orang pertama kafir kepadanya', mengingat orang-orang Yahudi Madinah merupakan orang pertama dari kalangan Bani Israil yang diajak berbicara oleh Al-Qur'an.
Kekafiran mereka berarti menyimpulkan bahwa mereka adalah orang pertama kafir kepadanya dari kalangan ahli kitab.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.

Maksudnya, janganlah kalian menukar iman kepada ayat-ayat-Ku dan percaya kepada Rasul-Ku (Nabi Muhammad ﷺ) dengan harta keduniawian dan kelezatannya, karena sesungguhnya harta duniawi itu dinilai sedikit tak ada artinya lagi fana (bila dibandingkan dengan pahala di akhirat yang kekal dan abadi).

Pengertian ini diungkapkan oleh Abdullah ibnul Mubarak melalui riwayatnya yang menyebutkan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Jabir, dari Harun ibnu Yazid yang telah menceritakan bahwa Al-Hasan (yakni Al-Basri) pernah ditanya mengenai makna firman-Nya, "Samanan qalila” (harga yang sedikit atau rendah), bahwa yang dimaksud adalah dunia berikut segala isinya.

Ibnu Luhai'ah mengatakan, telah menceritakan kepadanya Ata ibnu Dinar, dari Sa'id ibnu Jubair, sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.
Sesungguhnya yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah ialah Kitab-Nya yang diturunkan-Nya kepada mereka, sedangkan yang dimaksud dengan harga yang sedikit ialah duniawi dan kesenangannya.

Menurut As-Saddi, makna 'janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit' ialah janganlah kalian mengambil keinginan yang sedikit dan janganlah kalian menyembunyikan asma Allah, ketamakan tersebut adalah harganya.

Abu Ja'far meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.
Yakni janganlah kalian menerima upah atasnya.
Abul Aliyah mengatakan, bahwa hal ini telah tertera dalam kitab terdahulu yang ada pada mereka, yaitu: "Hai anak Adam, ajarkanlah ilmu dengan cuma-cuma sebagaimana kamu mempelajarinya secara cuma-cuma."

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah janganlah kalian menukar penjelasan, keterangan, dan menyiarkan ilmu yang bermanfaat di kalangan manusia dengan cara menyembunyikannya dan memutarbalikkan kenyataan, dengan tujuan agar kalian tetap lestari dalam menguasai keduniawian yang sedikit lagi rendah dan pasti lenyap dalam waktu yang dekat itu.

Di dalam kitab Sunan Abu Daud disebutkan sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diniatkan untuk memperoleh rida Allah, lalu ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh sejumlah harta duniawi, niscaya ia tidak dapat mencium bau surga kelak di hari kiamat.

Mengajarkan ilmu dengan imbalan upah, jika orang yang bersangkutan telah beroleh gaji, tidak boleh baginya mengambil upah sebagai imbalannya.
Diperbolehkan baginya mengambil gaji dari baitul mal dalam jumlah yang cukup untuk keperluan dirinya dan orang-orang yang berada di dalam tanggungannya.

Tetapi jika dia tidak memperoleh suatu gaji pun dari baitul mal, sedangkan tugas mengajarnya telah menyita banyak waktu hingga ia tidak dapat mencari nafkah, maka kedudukannya sama dengan orang yang tidak menerima gaji (yakni boleh mengambil upah).
Apabila dia tidak menerima gaji, maka ia diperbolehkan mengambil upah mengajar, menurut pendapat Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan jumhur ulama.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam hadis sahih Bukhari, dari Abu Sa'id, mengenai kisah orang yang disengat binatang berbisa, yaitu sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil atas sesuatu jasa ialah Kitabullah.

Demikian pula sabda Nabi ﷺ dalam kisah wanita yang dilamar (dinikahi), yaitu:

Aku nikahkan kamu dengan dia dengan imbalan mengajarkan Al-Qur'an yang kamu kuasai (hafalannya).

Hadis Ubadah ibnus Samit yang menceritakan bahwa Ubadah ibnus Samit pernah mengajarkan sesuatu dari Al-Qur'an kepada seorang lelaki dari kalangan ahli suffah, lalu lelaki tersebut menghadiahkan sebuah busur kepadanya.
Kemudian Ubadah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai hal itu, maka beliau bersabda:

Jikalau kamu kelak suka dibelit oleh busur api neraka, maka terimalah.
Lalu Ubadah menolak hadiah itu.
(Hadis riwayat Abu Daud)

Hadis semisal diriwayatkan pula melalui Ubay ibnu Ka'b secara marfu.
Seandainya hadis ini sahih, maka pengertian yang dimaksud menurut kebanyakan ulama —antara lain ialah Abu Umar ibnu Abdul Bar— bahwa Abu Ubadah mengajar demi mengharapkan pahala Allah, maka tidak boleh baginya menukar pahala Allah dengan busur tersebut Jika seseorang sejak pertama mengajar biasa menerima upah, maka ia diperbolehkan menerima upah, seperti yang telah dinyatakan di dalam hadis orang yang disengat binatang berbisa dan hadis Sahl mengenai wanita yang dilamar tadi.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan hanya kepada Akulah kalian harus bertakwa.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Amr Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Abu Ismail (seorang pendidik), dari Asim Al-Ahwal, dari Abul Aliyah, dari Talq ibnu Habib yang mengatakan bahwa pengertian takwa itu ialah hendaknya kami mengamalkan ketaatan kepada Allah karena mengharapkan rahmat Allah atas dasar nur (petunjuk) dari Allah.
Hendaknya kamu meninggalkan perbuatan maksiat kepada Allah atas dasar nur dari Allah karena takut terhadap siksa Allah.

Makna firman-Nya,

Dan hanya kepada Akulah kalian harus bertakwa

ialah bahwa Allah mengancam mereka terhadap perbuatan yang sengaja mereka lakukan, yaitu menyembunyikan perkara yang hak dan menampakkan hal yang bertentangan dan menentang Rasul ﷺ

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 41

KAAFIR
كَافِر

Ism fa'il mufrad dari kata kafara, arti bahasanya tidak beriman dengan ketuhanan, kenabian, syari'at atau tidak beriman dengan kedua-duanya. Apabila disandarkan kepada an ni'mah, ia bermakna ingkar pada nikmat dengan tidak mensyukurinya.

Al Kafawi berkata,
setiap sesuatu yang menutupi sesuatu dinamakan al kufr. Darinya terbit lafaz al kaafir karena dia menutupi nikmat Allah.

Ar Razi berkata,
al kufr dalam arti bahasa mempunyai dua makna.

Pertama, lawan kepada keimanan.
Kedua, juhuud an ni'mah atau ingkar pada nikmat dan lawan bagi syukur.

Sedangkan lafaz al kaafir mencakup makna malam yang gelap karena ia menutupi segala sesuatu.

Ibn As Sikkiit berkata,
darinya dinamakan al kaafir karena ia menutupi nikmat Allah Kalimah dalam bentuk fa'il juga mengandung makna orang yang tidak beriman kepada Allah, rasul dan orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah.

Dalam bentuk ini, ia disebut lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 41, 217;
-Al Furqaan (25), ayat 55;
-At Taghaahbun (64), ayat 2;
-An Naba' (78), ayat 40.

M. Quraish Shihab berkata,
" Al Qur'an menggunakan kufur untuk berbagai bagai makna. Sementara pakar menguraikan lima jenis kekufuran.

Pertama, apa yang mereka namakan kufur juhuud yang terdiri dari dua macam yaitu mereka yang tidak mengakui wujud Allah seperti para atheis dan orang komunis.

Kedua, mereka yang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya karena dengki dan iri hati kepada pembawa kebenaran itu.

Kufur ketiga dalam makna tidak mensyukuri nikmat Allah seperti yang diisyaratkan dalam kata-kata Allah yang berarti,

"Sekiranya kamu bersyukur, pastilahku tambah bagi kamu (nikmatku) dan apabila kamu kafir, maka sesungguhnya seksaanku pastilah amat pedih."

Kufur yang keempat adalah kufur dengan meninggalkan atau tidak mengerjakan tuntunan agama, walaupun percaya. Ini seperti firman Allah yang berarti,

''Apakah kamu percaya kepada sebahagian Al Kitab dan kafir terhadap sebahagian lainnya."

Yang kelima adalah kufur dalam makna tidak merestui dan melepaskan diri seperti firman Allah yang mengabadikan ucapan Nabi Ibrahim kepada umatnya,

"Kami kafir kepada kamu dan telah jelas antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya."

Di dalam Al Qur'an, ayat yang menyebut kata dalam bentuk ini yaitu kaafir mengandung makna juhuud atau ingkar untuk beriman kepada Allah dan pada apa yang diturunkan dari Nya berupa kenabian, kitab, syari'at dan sebagainya. Sebagaimana Allah berfirman,

وَءَامِنُوا۟ بِمَآ أَنزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوٓا۟ أَوَّلَ كَافِرٍۭ بِهِۦۖ

Ibn Katsir berkata,
pertama kali yang kufur dalam ayat ini adalah dari Bani Israil karena orang Yahudi Madinah terlebih dahulu diperintahkan beriman dengan Al Quran, tetapi mereka kufur padanya. Oleh karena itu, lazimnya mereka yang pertama sekali ingkar dari keturunan mereka.

Ataupun yang dimaknakan awwala yaitu pertama bukan bermakna yang paling dahulu, tetapi maknanya yang tampil ke depan dan giat mengingkarinya, hingga maknanya orang Yahudi adalah orang yang giat dan tampil ke depan sebagai pemimpin dalam mengingkari penurunan Al Qur'an.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:510-511

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 41 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 41



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.9
Rating Pembaca: 4.9 (13 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku