Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 29 [QS. 2:29]

ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ لَکُمۡ مَّا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ٭ ثُمَّ اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ فَسَوّٰىہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ ؕ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ
Huwal-ladzii khalaqa lakum maa fiil ardhi jamii’an tsummaastawa ilassamaa-i fasau-waahunna sab’a samaawaatin wahuwa bikulli syai-in ‘aliimun;
Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit.
Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
―QS. Al Baqarah [2]: 29

It is He who created for you all of that which is on the earth.
Then He directed Himself to the heaven, (His being above all creation), and made them seven heavens, and He is Knowing of all things.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 29]

هُوَ Dialah

He
ٱلَّذِى yang

(is) the One Who
خَلَقَ menciptakan

created
لَكُم bagi kalian

for you
مَّا apa

what
فِى pada

(is) in
ٱلْأَرْضِ bumi

the earth,
جَمِيعًا seluruhnya

all.
ثُمَّ kemudian

Moreover
ٱسْتَوَىٰٓ Dia menuju

He turned
إِلَى kepada

to
ٱلسَّمَآءِ langit

the heaven
فَسَوَّىٰهُنَّ maka Dia menyempurnakan

and fashioned them
سَبْعَ tujuh

seven
سَمَٰوَٰتٍ langit

heavens.
وَهُوَ dan Dia

And He
بِكُلِّ dengan segala

of every
شَىْءٍ sesuatu

thing
عَلِيمٌ Maha Mengetahui

(is) All-Knowing.

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:29

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 29. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menegaskan peringatan Allah ﷻ yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu yaitu Allah telah menganugerahkan karunia yang besar kepada manusia, menciptakan langit dan bumi untuk manusia, untuk diambil manfaatnya, sehingga manusia dapat menjaga kelangsungan hidupnya dan agar manusia berbakti kepada Allah penciptanya, kepada keluarga dan masyarakat.


Kalimat
"Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit"
memberi pengertian bahwa Allah menciptakan bumi dan segala isinya untuk manusia, Allah telah menciptakan langit lalu Allah menyempurnakannya menjadi tujuh langit.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًا قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi,
"Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa."
Keduanya menjawab,
"Kami datang dengan patuh.
"
(Fussilat [41]: 11)


Jadi langit pertama yang diciptakan Allah sebelum menciptakan bumi waktu itu masih berupa asap tebal yang gemulung dan suhunya panas sekali.
Keduanya yaitu langit dan bumi.

Dipanggil maksudnya ditetapkan ketentuan dan proses pekerjaannya oleh Allah supaya bekerjasama secara sinergi dan mewujudkan alam yang harmonis.


Pada ayat 29 ini dijelaskan bahwa Allah menyempurnakan langit yang satu dan masih berupa asap itu menjadi tujuh langit.

Angka tujuh dalam bahasa Arab dapat berarti enam tambah satu, bisa juga berarti banyak sekali lebih sekadar enam tambah satu.
Jika kita mengambil arti yang pertama (enam tambah satu) maka berarti Allah menjadikan langit yang tadinya satu lapis menjadi tujuh lapis, atau Allah menjadikan benda langit yang tadinya hanya satu menjadi tujuh benda langit.

Tiap-tiap benda langit ini beredar mengelilingi matahari menurut jalannya pada garis edar yang tetap sehingga tidak ada yang berbenturan.
Tetapi matahari hanya berputar dan beredar pada garis porosnya saja karena matahari menjadi pusat dalam sistem tata surya ini.

Sungguh Allah Mahakaya dan Mahabijaksana mengatur alam yang besar dan luas ini.


Dalam pemahaman astronomi, langit adalah seluruh ruang angkasa semesta, yang di dalamnya ada berbagai benda langit termasuk matahari, bumi, planet-planet, galaksi-galaksi, supercluster, dan sebagainya.



Hal ini dikemukakan oleh Allah di dalam Surah al-Mulk [67]: 5, yang artinya:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat (langit dunia) dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa Neraka yang menyala-nyala.
(al-Mulk [67]: 5)


Jadi, langit yang berisi bintang-bintang itu memang disebut sebagai langit dunia.
Itulah langit yang kita kenal selama ini.
Dan itu pula yang dipelajari oleh para ahli astronomi selama ini, yang diduga diameternya sekitar 30 miliar tahun cahaya.
Dan mengandung trilyunan benda langit dalam skala tak berhingga.
Namun demikian, ternyata Allah menyebut langit yang demikian besar dan dahsyat itu baru sebagian dari langit dunia, dan mungkin langit pertama.
Maka dimanakah letak langit kedua sampai ke tujuh?


Sejauh ini belum ada temuan ilmiah
"yang tidak dicari-cari"
mengenai hubungan antara angka tujuh dan
"langit"
yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal dengan alam semesta.
Memang ada beberapa skala benda langit, misalnya pada satu tata-surya (solar system) ada
"matahari"
(bintang yang menjadi pusat tata-surya yang bersangkutan) dan ada planet beserta satelitnya.
Milyaran tatasurya membentuk galaksi.
Milyaran galaksi membentuk alam semesta.
Ini baru enam, untuk menjadikannya tujuh, bisa saja ditambah dengan dimensi alam semesta, yaitu bahwa seluruh alam ini berisikan sejumlah alam semesta.
Jadi ada tujuh dimensi dalam alam, dan ini mungkin yang dimaksud dengan langit yang tujuh lapis.
Tetapi masalahnya adalah dalam perjalanan mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, beliau melalui lapis demi lapis dari langit itu secara serial, dari lapis pertama, ke lapis kedua dan seterusnya sampai lapis ketujuh dan akhirnya keluar alam makhluk menuju Sidratil-Muntaha.
Jadi lapis demi lapis langit itu seperti kue lapis yang berurutan, dari dalam (lapisan pertama) sampai ke lapisan ketujuh.
Kenyataan ini berbeda dengan temuan ilmiah.
T.
Djamaluddin, salah seorang astronom Indonesia, yang cenderung memahami
"tujuh langit"
sebagai benda-benda langit yang tak terhitung jumlahnya dan bukan berlapis-lapis.
Dalam bahasa Arab, bilangan tujuh biasanya dipakai untuk menggambarkan jumlah yang sangat banyak.


Di sisi lain tujuh langit, kemungkinan adalah tujuh lapisan-lapisan atmosfer yang dekat dengan bumi ini yaitu:


(1) Troposphere (Troposfer),
(2) Tropopause (Tropopaus),
(3) Stratosphere (Stratosfer),
(4) Stratopause (Stratopaus),
(5) Mesosphere (Mesofer),
(6) Mesopause (Mesopause),
(7) Thermosphere (Termosfer).


Pembagian ini berdasarkan temperatur (suhu) tiap-tiap lapis atmosfer dan jaraknya dari permukaan bumi.
Lapisan-lapisan tersebut bersifat kokoh dalam pengertian menyeliputi dan melindungi bola bumi kita secara kokoh karena adanya gaya gravitasi bumi.
(Lihat pula tafsir ilmiah Surah ar-Ra’d [13]: 2, Surah an-Naba‘ [78]: 12.) Dalam tafsir Surah ar-Ra’d [13]: 2 dijelaskan pembagian lapisan atmosfer sedikit berbeda dengan yang dijelaskan di sini, dimana Ionosfer dan Eksosfer disatukan dalam Termosfer.
Namun apabila pengertian tujuh langit dalam hal ini dikaitkan dengan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, nampaknya kurang tepat.



Tujuh langit mungkin pula dapat ditafsirkan sebagai Tujuh Dimensi Ruang-Waktu dalam Kaluza-Klein Theory (KKT).
Dalam ilmu Fisika terdapat empat (4) Gaya Fundamental yang ada di jagad raya ini, yaitu Gaya Elektromagnetik, Gaya Nuklir Lemah, Gaya Nuklir Kuat, dan Gaya Gravitasi.
Jika ke-empat Gaya ini terbentuk dari Ledakan Besar (Big Bang) dari suatu Singularity, maka mestinya ke-empat gaya ini dahulunya ‘menyatu sebagai Satu Gaya Tunggal (Grand Unified Force), ini yang dikenal dalam Grand Unified Theory (GUT, Teori Ketersatuan Agung).
KKT menjelaskan bahwa untuk dapat menerangkan ketersatuan gaya-gaya yang empat itu, maka adanya geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini tidaklah cukup.
Geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini hanya mampu menjelaskan sedikit tentang gaya-gaya Elektromagnetik dan dalam beberapa hal Gaya Gravitasi.
Untuk bisa menjelaskan keempat gaya tersebut, maka KKT menyatakan harus ada tujuh dimensi ruang-waktu (time-space dimensions) yang lain.
Dengan demikian bersama empat dimensi yang sudah dikenal, yaitu:
garis, bidang, ruang dan waktu;
maka total dimensi ada sebelas dimensi (11 dimensi).
Pernyataan ini berbasiskan pada perhitungan Matematika-Fisika.
Berbasiskan pada KKT ini para scientists telah mampu pula menghitung ‘garis tengah salah satu dimensi ruang-waktu itu, yaitu sebesar 10-32 cm, jadi dimensi itu sangat kecil sekali.
Dengan demikian, tidaklah mungkin dengan instrument yang ada sekarang ini kita dapat menembus tujuh dimensi ruang-waktu yang lain itu.
Kaluza-Klein Theory telah memberikan gambaran adanya Tujuh Dimensi Ruang-Waktu, yang kesemuanya ini akan mengokohkan geometri jagad-raya dengan empat gaya-gaya fundamentalnya.
Mungkinkah tujuh langit tersebut adalah tujuh dimensi ruang-waktu menurut Kaluza-Klein Theory?
Wallahu a’lam bis-sawab.


Pada akhir ayat Allah menyebutkan,
"Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu",
maksudnya bahwa alam semesta ini diatur dengan hukumhukum Allah, baik benda itu kecil maupun besar, tampak atau tidak tampak.
Semuanya diatur, dikuasai dan diketahui oleh Allah.


Ayat ini mengisyaratkan agar manusia menuntut ilmu untuk memikirkan segala macam ciptaan Allah, sehingga dapat menambah iman dan memurnikan ketaatannya kepada Allah.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 29. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya Allah yang harus disembah dan ditaati adalah yang memberikan karunia kepada kalian dengan menjadikan seluruh kenikmatan di bumi untuk kemaslahatan kalian.
Kemudian bersamaan dengan penciptaan bumi dengan segala manfaatnya, Allah menciptakan tujuh lapis langit bersusun.


Di dalamnya terdapat apa-apa yang bisa kalian lihat dan apa-apa yang tidak bisa kalian lihat.
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Hanya Allah semata yang menciptakan untuk kalian segala kenikmatan yang ada di muka bumi yang dapat kalian manfaatkan.
Kemudian Dia menuju langit dan menciptakan nya dalam bentuk tujuh lapisan.


Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Ilmu-Nya meliputi segala apa yang Dia ciptakan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dialah yang telah menciptakan bagimu segala yang terdapat di muka bumi) yaitu menciptakan bumi beserta isinya,


(kesemuanya) agar kamu memperoleh manfaat dan mengambil perbandingan darinya,


(kemudian Dia hendak menyengaja hendak menciptakan) artinya setelah menciptakan bumi tadi Dia bermaksud hendak menciptakan pula


(langit, maka dijadikan-Nya langit itu) ‘hunna’ sebagai kata ganti benda yang dimaksud adalah langit itu.
Maksudnya ialah dijadikan-Nya, sebagaimana didapati pada ayat yang lain, ‘faqadhaahunna,’ yang berarti maka ditetapkan-Nya mereka,


(tujuh langit dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu) dikemukakan secara ‘mujmal’ ringkas atau secara mufasshal terinci, maksudnya,
"Tidakkah Allah yang mampu menciptakan semua itu dari mula pertama, padahal Dia lebih besar dan lebih hebat daripada kamu, akan mampu pula menghidupkan kamu kembali?"

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya kepada makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, lalu Dia menyebutkan bukti lain melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit dan bumi.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dialah Allah, yang menciptakan semua yang ada di bumi untuk kalian, dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit

Istawa ilas sama, berkehendak atau bertujuan ke langit.
Makna lafaz ini mengandung pengertian kedua lafaz tersebut, yakni berkehendak dan bertujuan, karena ia di-muta’addi-kan dengan memakai huruf ila.

Fasawahunna, lalu Dia menciptakan langit tujuh lapis.
Lafaz as-sama dalam ayat ini merupakan isim jinis, karena itu disebutkan sab’a samawat.

Wahuwa bi kulli syai-in ‘alim, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, yakni pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk yang telah Dia ciptakan.
Pengertiannya sama dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian lahirkan dan yang kalian rahasiakan?) (QS. Al-Mulk [67]: 14)

Rincian makna ayat ini diterangkan di dalam surat ha mim sajdah, yaitu melalui firman-Nya:

Katakanlah,
"Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kalian adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?
(Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam."
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia.
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan Langit itu masih merupakan asap, lalu dia berkata kepadanya dan kepada bumi,
"Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa"
Keduanya menjawab,
"Kami datang dengan suka hati."
Maka Dia menjadikan tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.
Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(QS. Fushshilat [41]: 9-12)

Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memulai ciptaan-Nya dengan menciptakan bumi, kemudian menciptakan tujuh lapis langit.

Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya.
Para ulama tafsir menjelaskan hal ini, keterangannya akan kami kemukakan sesudah ini, insya Allah.
Adapun mengenai firman-Nya:

Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?
Allah telah membinanya.
Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.
Dan bumi sesudah dihamparkan-Nya, Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.
(QS. An-Nazi’at [79]: 27-33)

Maka sesungguhnya huruf summa dalam ayat ini (QS. Al-Baqarah [2]: 29)
hanya untuk menunjukkan makna ‘ataf khabar kepada khabar, bukan ‘ataf fi’ il kepada fi’il yang lain.

Menurut suatu pendapat, ad-daha (penghamparan) bumi dilakukan sesudah penciptaan langit dan bumi.
Demikianlah menurut riwayat Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas.

As-Saddi telah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.
Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Disebutkan bahwa ‘Arasy Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas air, ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala belum menciptakan sesuatu pun selain dari air tersebut.
Ketika Allah berkehendak menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (gas) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit).
Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu.
Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Ahad dan Senin.
Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Alquran melalui firman-Nya:

Nun, demi qalam.
(QS. Al-Qalam [68]: 1)

Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air.
Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat.
Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin.
Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit, bukan pula di bumi.

Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang, gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi.
Hal inilah yang dinyatakan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) guncang bersama mereka.
(QS. Al-Anbiyaa [21]: 31)

Allah menciptakan gunung di bumi dan makanan untuk penghuninya, menciptakan pepohonannya dan semua yang diperlukan di bumi pada hari Selasa dan Rabu.
Hal inilah yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

Katakanlah,
"Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?
(Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam."
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia memberkahinya.
(QS. Fushshilat [41]: 9-10)

Kemudian dalam ayat selanjutnya disebutkan bahwa Allah menumbuhkan pepohonannya, yaitu melalui firman-Nya

Dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya.
(QS. Fushshilat [41]: 10)

Lalu dalam firman selanjutnya disebutkan:
dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya.
(QS. Fushshilat [41]: 10)

Dalam ayat selanjutnya disebutkan pula:

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap.
(QS. Fushshilat [41]: 11)

Asap itu merupakan uap dari air tadi, kemudian asap dijadikan langit tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Kamis dan Jumat.
Sesungguhnya hari Jumat dinamakan demikian karena pada hari itu diciptakan langit dan bumi secara bersamaan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit urusannya.
(QS. Fushshilat [41]: 12)
Artinya, Allah menciptakan makhluk tersendiri bagi tiap-tiap langit, terdiri atas para malaikat dan semua makhluk yang ada padanya, seperti laut, gunung, embun, serta lain-lainnya yang tidak diketahui.
Selanjutnya Allah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang yang Dia ciptakan sebagai hiasan dan penjaga yang memelihara langit dari setan-setan.

Setelah Allah menyelesaikan penciptaan apa yang Dia sukai, lalu Dia menuju ‘Arasy, sebagaimana dijelaskan di dalam firman-Nya:

Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas ‘Arasy.
(QS. Al-Hadid [57]: 4)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dahulu langit dan bumi keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.
(QS. Al-Anbiyaa [21]: 30)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadanya Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Abu Ma’syar, dari Sa’id ibnu Abu Sa’id, dari Abdullah ibnu Salam yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memulai penciptaan makhluk-Nya pada hari Ahad, menciptakan berlapis-lapis bumi pada hari Ahad dan hari Senin, menciptakan berbagai makanan dan gunung pada hari Selasa dan Rabu, lalu menciptakan langit pada hari Kamis dan Jumat.
Hal itu selesai di akhir hari Jumat yang pada hari itu juga Allah menciptakan Adam dengan tergesa-gesa.
Pada saat itulah kelak hari kiamat akan terjadi.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian.
Bahwa Allah menciptakan bumi sebelum menciptakan langit.
Ketika Allah menciptakan bumi, maka keluarlah asap darinya.
Yang demikian itulah pengertian yang dimaksud dalam firman-Nya:

Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.
Yang dimaksud ialah sebagian dari langit berada di atas sebagian lainnya.
Dikatakan sab’u aradina artinya tujuh lapis bumi, yakni sebagian berada di bawah sebagian yang lain.


Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, sebagaimana yang dijelaskan di dalam surat As-Sajdah, yaitu:

Katakanlah,
"Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kalian adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?
(Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam."
Dan Dia menciptakan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi,
"Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa."
Keduanya menjawab,
"Kami datang dengan suka hati?
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.
Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(QS. Fushshilat [41]: 9-12)

Ayat ini dan yang sebelumnya menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit.
Menurut pengetahuanku, tiada seorang ulama pun yang memperselisihkan hal ini, kecuali apa yang dinukil oleh Ibnu Jarir dari Qatadah, diduga langit diciptakan sebelum bumi.
Akan tetapi, dalam menanggapi masalah ini Al-Qurtubi hanya bersikap tawaqquf (tidak memberi komentar apa pun), yaitu ketika ia menafsirkan makna firman-Nya:

Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?
Allah telah membinanya.
Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.
Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya, Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.
(QS. An-Nazi’at [79]: 27-32)

Mereka mengatakan bahwa penciptaan langit terjadi sebelum penciptaan bumi.
Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai masalah ini, lalu ia menjawab bahwa bumi diciptakan sebelum langit, dan sesungguhnya bumi baru dihamparkan hanya setelah penciptaan langit.
Hal yang sama dikatakan pula bukan hanya oleh seorang ulama tafsir terdahulu dan sekarang.

Kami mencatat hal tersebut di dalam tafsir surat An-Nazi’at yang garis besarnya menyatakan bahwa penghamparan bumi yang terdapat di dalam firman-Nya:
Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya, Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.
(QS. An-Nazi’at [79]: 30-32)

Artinya, semua yang terkandung di dalam bumi dikeluarkan secara paksa hingga menjadi kenyataan.
Setelah Allah selesai dari penciptaan bumi dan langit, lalu Allah menghamparkan bumi dan mengeluarkan segala sesuatu yang tersimpan di dalamnya, yaitu air.
Berkat air itu tumbuhlah berbagai macam tetumbuhan yang beraneka ragam jenis.
bentuk.
dan warnanya.
Demikian pula tata surya, semuanya beredar, terdiri atas bintang-bintang yang tetap dan bintang-bintang yang beredar pada garis edarnya.

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis sehubungan dengan tafsir ayat ini, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Nasai, juga diketengahkan oleh keduanya dalam Bab
"Tafsir"
melalui riwayat Ibnu Juraij.
Ibnu Juraij mengatakan:


telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Umayyah, dari Ayyub ibnu Khalid, dari Abdullah ibnu Rafi’ maula Ummu Salamah, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ memegang tanganku, lalu beliau bersabda:
Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung yang ada padanya pada hari Ahad, menciptakan pepohonan yang ada padanya pada hari Senin, menciptakan hal yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan nur pada hari Rabu, mengembangbiakkan (menciptakan) binatang-binatang yang ada di bumi pada hari Kamis, dan menciptakan Adam sesudah Asar pada hari Jumat, yaitu di saat-saat terakhir hari Jumat antara Asar sampai malam hari.

Hadis ini termasuk salah satu hadis garib dalam Sahih Muslim.
Banyak komentar mengenai hadis ini, antara lain ialah dari Ali ibnul Madini dan Imam Bukhari serta sejumlah kalangan ahli huffaz hadis.
Mereka menganggap hadis ini merupakan perkataan Ka’b, dan sesungguhnya Abu Hurairah hanya mendengamya dari kata-kata Ka’b Al-Ahbar.
Hadis ini menjadi samar di kalangan sebagian para perawi hingga membuat mereka menganggapnya sebagai hadis yang marfu‘.
Demikian keterangan yang dikemukakan oleh Imam Baihaqi.

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 29 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 29 - Gambar 2
Statistik QS. 2:29
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.5 (15 votes)
Tags:

2:29, 2 29, 2-29, Surah Al Baqarah 29, Tafsir surat AlBaqarah 29, Quran Al-Baqarah 29, Surah Al Baqarah ayat 29

▪ al baqoroh 29
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Az Zukhruf (Perhiasan) – surah 43 ayat 34 [QS. 43:34]

33-35. Dan sekiranya bukan karena Kami menghindarkan semua manusia menjadi umat yang satu dalam kekafiran, pastilah sudah Kami buatkan untuk orang-orang yang kafir kepada Allah, Yang Maha Pengasih, ba … 43:34, 43 34, 43-34, Surah Az Zukhruf 34, Tafsir surat AzZukhruf 34, Quran Az-Zukhruf 34, Surah Az Zukruf ayat 34

QS. Al Mulk (Kerajaan) – surah 67 ayat 3 [QS. 67:3]

3-4. Kuasa Allah menciptakan hidup dan mati dikaitkan dengan kuasa-Nya menciptakan alam raya. Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis sangat serasi dan harmonis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yan … 67:3, 67 3, 67-3, Surah Al Mulk 3, Tafsir surat AlMulk 3, Quran Al-Mulk 3, Surah Al Mulk ayat 3

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Nama pedang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
== Cuka ==
Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi, telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Hassan telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka.' (HR. Muslim, No: 3823).

== Labu ==
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far dan diriwayatkan pula oleh 'Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah dari Qatabah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. menyebutkan 'Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menggemari labu. Maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.'

Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Pertempuran Badar (غزوة بدر, / gazwah badr‎), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624).
Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

+

Array

Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah pula mayit dengan kain putih.'
(HR. An Nasai no. 5324, hadits shahih)

Sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya ... kali."

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.'
(HR. Muslim, no. 408)

Pendidikan Agama Islam #13
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #13 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #13 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #11

Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah

Pendidikan Agama Islam #29

وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Al Mujadalah ayat

Pendidikan Agama Islam #23

Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … من شرّ ماخلق ومن شرّ النفّثت فى العقد ومن شرّ حاسدٍ إذا

Instagram