Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 286


لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ
Laa yukallifullahu nafsan ilaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa’alaihaa maaaktasabat rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa rabbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahu ‘alaal-ladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi waa’fu ‘annaa waaghfir lanaa waarhamnaa anta maulaanaa faanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin(a);

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdoa):
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
―QS. 2:286
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat ▪ Kewajiban beriman pada hari akhir
2:286, 2 286, 2-286, Al Baqarah 286, AlBaqarah 286, Al-Baqarah 286
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 286. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam mencapai tujuan hidup itu, manusia diberi beban oleh Allah sesuai kesanggupannya, mereka diberi pahala lebih dari yang telah diusahakannya dan mendapat siksa seimbang dengan kejahatan yang telah dilakukannya.
Amal yang dibebankan kepada seseorang hanyalah yang sesuai dengan kesanggupannya.
Agama Islam adalah agama yang tidak membebani manusia dengan beban yang berat dan sukar.
Mudah, ringan dan tidak sempit adalah asas pokok dari agama Islam.

Allah berfirman:

dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.
(Al-Hajj: 78).

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.
(An-Nisa' :28).

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
(Al-Baqarah: 185)

Kemudian Allah menerangkan hasil amalan yang telah dibebankan dan dilaksanakan oleh manusia, yaitu amal saleh yang dikerjakan mereka.
Maka balasannya akan diterima dan dirasakan oleh mereka berupa pahala dan surga.
Sebaliknya perbuatan dosa yang dikerjakan oleh manusia, maka hukuman mengerjakan perbuatan dosa itu, akan dirasakan dan ditanggung pula oleh mereka, yaitu siksa dan azab di neraka.

Ayat ini mendorong manusia agar mengerjakan perbuatan yang baik serta menunaikan kewajiban yang telah ditetapkan agama.
Ayat ini memberi pengertian bahwa perbuatan baik itu adalah perbuatan yang mudah dikerjakan manusia karena sesuai dengan watak dan tabiatnya, sedang perbuatan yang jahat adalah perbuatan yang sukar dikerjakan manusia karena tidak sesuai dengan watak dan tabiatnya.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang suci dan telah tertanam dalam hatinya jiwa ketauhidan.
Sekalipun manusia oleh Allah diberi potensi untuk menjadi baik dan menjadi buruk, tetapi dengan adanya jiwa tauhid yang telah tertanam dalam hatinya sejak dia masih dalam rahim ibunya, maka tabiat ingin mengerjakan kebajikan itu lebih nyata dalam hati manusia dibanding dengan tabiat ingin melakukan kejahatan.
Adanya keinginan yang tertanam pada diri seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang baik, akan memberikan kemungkinan baginya untuk mendapat jalan yang mudah dalam mengerjakan pekerjaan itu.
Apalagi bila dia berhasil dan dapat menikmati usahanya, maka dorongan dan semangat untuk melakukan pekerjaan baik yang lain semakin bertambah pada dirinya.
Segala macam pekerjaan jahat adalah pekerjaan yang bertentangan dan tidak sesuai dengan tabiat manusia.
Mereka melakukan perbuatan jahat pada mulanya adalah karena terpaksa.
Bila dia mengerjakan perbuatan jahat, maka timbullah pada dirinya rasa takut, selalu khawatir akan diketahui oleh orang lain.
Perasaan ini akan bertambah setiap melakukan kejahatan.
Akhirnya timbullah rasa malas, rasa berdosa pada dirinya dan merasa dirinya dibenci oleh orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala yang tergores di dalam hatimu, sedang engkau tidak suka orang lain mengetahuinya".
(Riwayat Muslim)

Kesukaran yang timbul akibat perbuatan jahat akan bertambah terasa oleh manusia bila dia telah mulai menerima hukuman, langsung atau tidak langsung dari perbuatannya itu.

Dari ayat ini juga dipahami pula bahwa seseorang tidak akan menerima keuntungan atau kerugian disebabkan perbuatan orang lain; mereka tidak akan diazab karena dosa orang lain.
Mereka diazab hanyalah karena kejahatan yang mereka lakukan sendiri.
(Yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, (An-Najm:38 dan 39)

Di sisi lain, manusia bisa menerima keuntungan berupa pahala, apabila sudah mati kelak, dari hasil usahanya semasa hidupnya.
Termasuk usaha manusia ialah anaknya yang saleh yang mendoakannya, sedekah jariah yang dikeluarkannya dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat yang diajarkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:

Apabila seseorang telah meninggal dunia, putuslah (pahala) amalnya kecuali tiga hal, yaitu: anak saleh yang mendoakannya, sedekah jariah, dan ilmu yang bermanfaat.
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Setelah disebutkan sifat-sifat orang yang beriman dan menyebutkan karunia yang telah dilimpahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu tidak membebani hamba dengan yang tidak sanggup mereka kerjakan, maka Allah mengajarkan doa untuk selalu dimohonkan kepada-Nya agar diampuni dari segala dosa karena mengerjakan perbuatan terlarang disebabkan lupa, salah atau tidak disengaja.
Doa yang diajarkan kepada kita bukanlah sekadar untuk dibaca dan diulang-ulang lafaznya saja, melainkan maksudnya ialah agar doa itu dibaca dengan tulus ikhlas dengan sepenuh hati dan jiwa, di samping melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sesuai dengan kesanggupan hamba itu sendiri.
Doa erat hubungannya dengan tindakan dan perbuatan.
Tindakan dan perbuatan erat pula hubungannya dengan ilmu pengetahuan.
Sebab itu orang yang berdoa belumlah dapat dikatakan berdoa, bila ia tidak mengerjakan perbuatan yang harus dikerjakan serta menjauhi larangan yang harus ditinggalkan.
Berbuat dan beramal haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan.
Ada amal yang sanggup dikerjakan dan ada amal yang tidak sanggup dikerjakan, ada amal yang dikerjakan dengan sempurna dan ada pula amal yang tidak dapat dikerjakan dengan sempurna.
Untuk menyempurnakan kekurangan ini, Allah mengajarkan doa kepada hamba-Nya.
Dengan perkataan lain; doa itu menyempurnakan amal yang tidak sanggup dikerjakan dengan sempurna.
Dari doa itu dipahami bahwa pada hakikatnya perbuatan terlarang yang dikerjakan karena lupa atau salah dan tidak disengaja, ada juga hukumannya.
Hukuman itu ditimpakan kepada pelakunya.
Karena itu Allah mengajarkan doa tersebut kepada hamba-Nya agar dia terhindar dari hukuman itu.
Setelah diajarkan doa untuk meminta ampun kepada Allah dari segala perbuatan yang dilakukannya karena lupa dan tidak sengaja, maka diajarkan juga doa yang lain untuk memohon agar dia tidak dibebani dengan beban yang berat sebagaimana yang telah dibebankan kepada orang-orang dahulu.
Kemudian diajarkan lagi doa untuk memohon agar dia tidak dibebani dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya.

Di antara doa orang-orang yang beriman ini sebagai berikut:

"Ya Allah, hapuskanlah dosa dan kesalahan kami, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, dan janganlah kami diazab karena dosa perbuatan yang telah kami kerjakan.
Janganlah kami disiksa karenanya, berilah kami taufik dan hidayah dalam segala perbuatan kami, sehingga kami dapat melaksanakan perintah-perintah Engkau dengan mudah".

Kita sudah diberi pedoman dalam berdoa kepada Allah, memohon pertolongan-Nya dalam menghadapi orang kafir.
Pertolongan yang dimohonkan di sini ialah pertolongan agar mencapai kemenangan.
Yang dimaksud kemenangan ialah kemenangan dunia dan akhirat, bukan semata-mata kemenangan dalam peperangan.

Al Baqarah (2) ayat 286 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 286 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 286 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah tidak membebani hamba-hamba-Nya kecuali dengan sesuatu yang dapat dilaksanakan.
Maka, setiap orang yang mukallaf, amalnya akan dibalas:
yang baik dengan kebaikan, dan yang jelek dengan kejelekan.
Tunduklah kamu sekalian, hai orang-orang Mukmin, dengan berdoa, "Ya Tuhan, jangan hukum kami jika kami lupa dalam melaksanakan perintah-Mu, atau bersalah karena beberapa sebab.
Janganlah Engkau beratkan syariat untuk kami seperti Engkau memberatkan orang-orang Yahudi oleh sebab kekerasan dan kelaliman mereka.
Dan janganlah Engkau bebankan kepada kami tugas yang tidak mampu kami lakukan.
Berilah kami maaf dengan kemuliaan-Mu.
Ampunilah kami dengan karunia-Mu.
Berikan kami rahmat-Mu yang luas.
Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami, ya Tuhan--untuk menegakkan dan menyebarkan agamamu--terhadap kaum yang kafir."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Allah tidaklah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya), artinya sekadar kesanggupannya.
(Ia mendapat dari apa yang diusahakannya) berupa kebaikan artinya pahalanya (dan ia beroleh pula dari hasil kejahatannya), yakni dosanya.
Maka seseorang itu tidaklah menerima hukuman dari apa yang tidak dilakukannya, hanya baru menjadi angan-angan dan lamunan mereka.
Mereka bermohon, ("Wahai Tuhan kami! Janganlah kami dihukum) dengan siksa (jika kami lupa atau tersalah), artinya meninggalkan kebenaran tanpa sengaja, sebagaimana dihukumnya orang-orang sebelum kami.
Sebenarnya hal ini telah dicabut Allah terhadap umat ini, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadis.
Permintaan ini merupakan pengakuan terhadap nikmat Allah.
(Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat) yang tidak mungkin dapat kami pikul (sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami), yaitu Bani Israel berupa bunuh diri dalam bertobat, mengeluarkan seperempat harta dalam zakat dan mengorek tempat yang kena najis.
(Wahai Tuhan kami! Janganlah Kamu pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup) atau tidak kuat (kami memikulnya) berupa tugas-tugas dan cobaan-cobaan.
(Beri maaflah kami) atau hapuslah sekalian dosa kami (ampunilah kami dan beri rahmatlah kami) dalam rahmat itu terdapat kelanjutan atau tambahan keampunan, (Engkaulah pembela kami), artinya pemimpin dan pengatur urusan kami (maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir."), yakni dengan menegakkan hujah dan memberikan kemenangan dalam peraturan dan pertempuran dengan mereka, karena ciri-ciri seorang maula atau pembela adalah menolong anak buahnya terhadap musuh-musuh mereka.
Dalam sebuah hadis tercantum bahwa tatkala ayat ini turun dan dibaca oleh Nabi ﷺ, maka setiap kalimat diberikan jawaban oleh Allah subhanahu wa ta'ala, "Telah Engkau penuhi!"

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Agama Allah adalah agama yang mudah, tidak ada kesulitan padanya.
Allah tidak menuntut dari hamba-hamba-Nya sesuatu yang mereka tidak mampu melakukannya.
Siapa yang melakukan kebaikan, maka dia mendapatkan balasan kebaikan.
Siapa yang melakukan sebaliknya, maka dia mendapatkan sebaliknya.
Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menyiksa kami bila kami lupa terhadap sesuatu yang telah Engkau wajibkan atas kami, atau bila kami berbuat salah dalam melakukan sesuatu dari apa yang Engkau larang kami dari mengerjakannya.
Wahai Rabb kami, janganlah Engkau membebani kami amal-amal yang berat yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang durhaka sebelum kami sebagai hukuman atas mereka.
Wahai Rabb kami, janganlah Engkau membebani kami dengan beban-beban dan musibah-musibah yang kami tidak kuasa memikulnya.
Hapuslah dosa-dosa kami, tutupilah aib-aib kami, berbuat baiklah kepada kami, Engkau adalah pemegang urusan kami dan pengaturnya, tolonglah kami atas orang-orang yang mengingkari agama-Mu dan mengingkari keesaan-Mu serta mendustakan Nabi-Mu Muhammad, jadikanlah akibat yang baik bagi kami atas mereka di dunia dan akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Dengan kata lain, seseorang tidak dibebani melainkan sebatas kesanggupannya.
Hal ini merupakan salah satu dari lemah-lembut Allah subhanahu wa ta'ala kepada makhluk-Nya dan kasih sayang-Nya kepada mereka, serta kebaikan-Nya kepada mereka.

Ayat inilah yang me-nasakh dan merevisi apa yang sangat dikhawatirkan oleh para sahabat dalam firman-Nya:

Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan itu.
(Al Baqarah:284)

Yakni sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala sekalipun melakukan perhitungan hisab dan menanyai, tetapi Dia tidak menyiksa kecuali terhadap hal-hal yang orang yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk menolaknya.
Adapun terhadap hal-hal orang yang bersangkutan tidak mempunyai kemampuan untuk menolaknya, seperti bisikan hati, maka manusia tidak dibebaninya, dan benci terhadap bisikan yang jahat termasuk iman.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Ia mendapat pahala dari apa yang diusahakannya.

Yakni dari kebaikan yang diusahakannya.

Dan ia mendapat siksa dari apa yang dikerjakannya.

Yaitu dari kejahatan yang dikerjakannya.
Yang demikian itu berlaku atas semua amal perbuatan yang termasuk ke dalam taklif.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya, bagaimana cara memohon kepada-Nya dan Dia menjamin akan memperkenankannya, seperti yang diajarkan kepada mereka melalui firman-Nya:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah, (Al Baqarah:286)

Maksudnya, jika kami meninggalkan suatu hal yang difardukan karena lupa, atau kami mengerjakan sesuatu yang haram karena lupa, atau kami keliru dari hal yang dibenarkan dalam beramal, karena kami tidak mengetahui cara yang dianjurkan oleh syariat.
Dalam hadis sahih Muslim yang lalu telah disebutkan melalui hadis Abu Hurairah hal seperti berikut: Allah berfirman, "Ya."

Demikian pula dalam hadis Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Aku telah melakukan(nya).

Ibnu Majah meriwayatkan di dalam kitab sunnahnya dan Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya melalui hadis Umar dan Al-Auza'i, dari Ata, menurut Ibnu Majah di dalam riwayatnya menyebutkan dari Ibnu Abbas, dan Imam Tabrani serta Ibnu Hibban mengatakan dari Ata, dari Ubaid ibnu Umair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku keliru, lupa, dan apa yang dipaksakan kepada mereka untuk melakukannya.

Hadis ini diriwayatkan pula melalui jalur yang lain.
Imam Ahmad Ibnu Abu Hatim menilai hadis ini ada celanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Huzali, dari Syahr, dari Ummu Darda, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap tiga perkara, yaitu keliru, lupa, dan dipaksa.
Abu Bakar mengatakan bahwa lalu ia menuturkan hadis ini kepada Al-Hasan.
Maka Al-Hasan menjawab, "Memang benar, apakah engkau tidak membaca hal tersebut di dalam Al-Qur'an?",
yaitu firman-Nya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
(Al Baqarah:286)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.

Artinya, janganlah Engkau membebani kami dengan amal-amal yang berat, sekalipun kami sanggup mengerjakannya, seperti yang telah Engkau syariatkan kepada umat-umat terdahulu sebelum kami, berupa belenggu-belenggu dan beban-beban yang dipikulkan di pundak mereka.
Engkau telah mengutus Nabi-Mu —yaitu Nabi Muhammad ﷺ— sebagai nabi pembawa rahmat yang di dalam syariatnya Engkau telah memerintahkannya untuk menghapus semua beban tersebut, sebagai agama yang hanif, mudah, lagi penuh dengan toleransi.

Telah disebutkan di dalam hadis sahih Muslim, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda bahwa setelah ayat itu diturunkan, Allah berfirman, "Ya."

Disebutkan dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda, "Setelah ayat ini diturunkan, Allah berfirman, 'Aku telah melakukannya'."

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur disebutkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ pernah bersabda:

Aku diutus dengan membawa agama yang hanif (cenderung kepada perkara yang hak) lagi samhah (penuh dengan toleransi/keringanan).

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.

Yakni dari beban, musibah, dan cobaan, atau janganlah Engkau menguji (mencoba) kami dengan cobaan yang tidak kuat kami hadapi.

Makhul telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
(Al Baqarah:286), Yaitu hidup melajang dan memperturutkan hawa nafsu, riwayat Ibnu Abu Hatim.
Allah menjawab, "Ya." Di dalam hadis lain Allah menjawab, "Aku telah melakukan(nya)."

Beri maaflah kami.

Artinya, maafkanlah semua kelalaian dan kekeliruan kami menurut pengetahuan-Mu menyangkut semua hal yang terjadi antara kami dan Engkau.

...ampunilah kami...

Yaitu atas semua kelalaian dan kekeliruan antara kami dan hamba-hamba-Mu, maka janganlah Engkau menampakkan kepada mereka keburukan-keburukan kami dan amal perbuatan kami yang tidak baik.

...dan rahmatilah kami...

Yakni untuk masa datang kami.
Karena itu, janganlah Engkau jerumuskan kami ke dalam dosa yang lain berkat taufik dan bimbingan-Mu.

Berangkat dari pengertian inilah maka mereka mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang berdosa itu memerlukan tiga perkara, yaitu pemaafan dari Allah atas dosanya yang terjadi antara dia dengan Allah, dosanya ditutupi oleh Allah dari mata hamba-hamba-Nya hingga ia tidak dipermalukan di antara mereka, dan dipelihara oleh Allah hingga tidak lagi terjerumus ke dalam dosa yang serupa.

Dalam hadis yang lalu telah disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Ya," dan dalam hadis yang lainnya disebutkan bahwa Allah berfirman, "Telah Aku lakukan," sesudah ayat ini diturunkan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Engkaulah Penolong kami.

Artinya, Engkau adalah Pelindung dan Penolong kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan Engkaulah yang dimintai pertolongan, dan hanya kepada Engkaulah berserah diri, tiada daya dan tiada kekuatan bagi kami kecuali dengan pertolongan-Mu.

...maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

Yakni orang-orang yang ingkar kepada agama-Mu, ingkar kepada keesaan-Mu dan risalah Nabi-Mu, dan mereka menyembah selain-Mu serta mempersekutukan Engkau dengan seseorang di antara hamba-hamba-Mu.
Tolonglah kami terhadap mereka, dan jadikanlah akibat yang terpuji bagi kami atas mereka di dunia dan akhirat.
Lalu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Ya." Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui Ibnu Abbas, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Telah Aku lakukan."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Musanna Ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, bahwa Mu'az r.a.
apabila selesai dari bacaan surat ini yang diakhiri dengan fimnan-Nya: Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
(Al Baqarah:286), maka ia selalu mengucapkan, "Amin."

Asar ini diriwayatkan pula oleh Waki', dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari seorang lelaki, dari Mu'az ibnu Jabal.
Disebutkan bahwa sahabat Mu'az ibnu Jabal apabila mengkhatamkan surat Al-Baqarah selalu mengucapkan, "Amiin."

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 286

THAAQAH
طَاقَة

Lafaz ini adalah ism mashdar dari kata kerja thaqa, artinya mampu melakukan sesuatu, dan thaaqah bermakna al qudrah (kemampuan, kekuatan) yang kuat dari benang dan selainnya atau seikat rambut, tumbuh-tumbuhan, bunga, tali, sepotong kayu dan apa yang dapat dikerjakan oleh manusia dengan susah payah.

Ar Razi berkata,
"Ia bermakna apa yang berada di bawah kemampuannya."

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 249 dan 286.

Di dalam Al Qur'an lafaz thaaqah merangkum dua keadaan:
(1) bersumber dari perkataan Bani Israil seperti yang terkandung dalam surah Al Baqarah (2), ayat 248;

(2) Bersumber dari mulut orang yang beriman seperti yang terdapat dalam maksud ayat surah Al Baqarah (2), ayat 286.

Az Zamakhsyari menyatakan, "Thaaqah dalam surah Al Baqarah (2), ayat 286 ialah kepayahan atau beban yang kemungkinan hampir tidak mampu dilakukan.

Tafsirannya ialah orang mukmin meminta diringankan dari taklif yang membebankan dan berat yang dibebankan kepada orang sebelum mereka kemudian dari apa yang menimpa mereka karena enggan dan tidak menjaganya."

Rasyid Rida berkata,
"Ath thaaqah bermakna di bawah derajat atau tingkatan kemampuan dan kekuatan."

Dalam Tafsir Al Azhar diterangkan orang mukmin berdoa, "Ya Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan ke atas kami perintah yang tidak mampu kami lakukan" Misalnya shalat 50 waktu, atau menunaikan haji setiap tahun, berpuasa terus menerus, atau dilarang menikah, atau dilarang makan daging. Mungkin ada yang sanggup, tetapi "kami" bersama, janganlah mendapat perintah demikian."

Al Kafawi berkata,
"Ia adalah nama bagi kadar apa yang mungkin dapat manusia lakukan dengan susah payah, dan ayat di atas tidak bermakna apa yang kami tidak mampu, tetapi apa yang menyebabkan kami dalam kesusahan."

Sedangkan dalam ayat 249, Ibn Jarir" melriwayatkan dari Ibn Abbas dan riwayat dari As Suddi di mana yang melintasi sungai bersama Thalut adalah orang Mukmin yang tidak meminum air sungai kecuali satu ceduk dengan tangan mereka dan orang kafir yang meminum air sungai itu dengan banyak. Kemudian terjadi perpecahan di antara mereka setelah melihat dan berhadapam dengan Jalut dan bala tenteranya lalu orang musyrik dan kafir memisahkan diri mereka dan mereka itulah yang berkata,
"Sesungguhnya tidaklah ada kesanggupan bagi kami hari ini pada Jalut dan tenteranya," Menurut riwayat As Suddi, mereka sebanyak 76,000 tentera.

Sedangkan Ahal Bashirah maju ke hadapan dengan perintah Tuhan mereka di mana mereka itu adalah orang yang tetap di atas keimanan yaitu mereka yang berkata,
"Berapa banyak golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah"

Menurut riwayat Qatadah dan Al Barra, bilangan mereka sebanyak bilangan sahabat nabi pada perang Badar, yaitu 315 orang.

Kesimpulannya, makna umum dari lafaz thaaqah adalah kemampuan dan kekuatan. Namun lafaz ini didahulukan dengan perkataan laa yang bermaksud "tidak', jadi lafaz la thaaqah bermakna tidak ada kemampuan, kekuatan dan kesanggupan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:343-344

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (284-286) - Indonesian - Apsari Indriyani
QS 2 Al-Baqarah (284-286) - Arabic - Apsari Indriyani


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 286 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 286



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (20 votes)
Sending







✔ al baqarah 286, surat al baqarah ayat 286, surah al baqarah ayat 286, al baqarah ayat 286, Q S Al-Baqarah: 286, al quran surah ke 2 ayat 286, al baqaqara286, QS AL BAQARAH 286, al baqoroh 286, kandungan surat al baqarah ayat 286, gambar beserta ari surah Al-Baqarah ayat 286, Arti al baqarah 286, Albaqoroh, albaqarah ayat 286, al-baqarah ayat 286