Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 285


اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ
Aamanarrasuulu bimaa unzila ilaihi min rabbihi wal mu’minuuna kullun aamana billahi wamalaa-ikatihi wakutubihi warusulihi laa nufarriqu baina ahadin min rusulihi waqaaluuu sami’naa waatha’naa ghufraanaka rabbanaa wailaikal mashiir(u);

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
(Mereka mengatakan):
“Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”,
dan mereka mengatakan:
“Kami dengar dan kami taat”.
(Mereka berdoa):
“Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.
―QS. 2:285
Topik ▪ Malaikat ▪ Kewajiban beriman kepada malaikat ▪ Kasih sayang Allah yang luas
2:285, 2 285, 2-285, Al Baqarah 285, AlBaqarah 285, Al-Baqarah 285
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 285. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata, “Tatkala Allah menurunkan ayat 284 kepada Rasulullah ﷺ, maka sahabat merasa bebannya bertambah berat, lalu mereka datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kami telah dibebani dengan pekerjaan-pekerjaan yang sanggup kami kerjakan, yaitu salat, puasa, jihad, sedekah, dan kini telah turun pula ayat ini, yang kami tidak sanggup melaksanakannya”.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Apakah kamu hendak mengatakan seperti perkataan Ahli Kitab sebelum kamu, mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami durhaka”.
Katakanlah, “Kami dengar dan kami taat, kami memohon ampunan-Mu Ya, Tuhan kami, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
Tatkala Rasulullah membacakan ayat ini kepada mereka, lidah mereka mengikutinya.
Lalu turun ayat berikutnya, ayat 285 Al-Baqarah.
Abu Hurairah berkata, “Tatkala para sahabat telah mengerjakan yang demikian Allah menghilangkan kekhawatiran mereka terhadap ayat itu dan Dia menurunkan ayat berikutnya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(Al-Baqarah: 286)

Hadis di atas melukiskan kekhawatiran para sahabat yang sangat takut kepada azab Allah.
Para sahabat dahulunya adalah orang-orang yang hidup, dididik dan dibesarkan di dalam lingkungan kehidupan Arab jahiliah.
Pikiran, hati, kepercayaan dan adat istiadat jahiliah telah sangat berpengaruh di dalam diri mereka.
Bahkan di antara mereka ada pemuka dan pemimpin orang-orang Arab jahiliah.
Setelah Nabi Muhammad ﷺ diutus, mereka mengikuti seruan Nabi dan masuk agama Islam dengan sepenuh hati.
Walaupun demikian bekas-bekas pengaruh kepercayaan dan kebudayaan Arab jahiliah masih ada di dalam jiwa mereka.
Kepercayaan dan kebudayaan tersebut hilang dan hapus secara berangsur-angsur, setiap turun ayat-ayat Al-Qur’an dan setiap menjelaskan risalah yang dibawanya kepada mereka.
Mereka sendiri selalu berusaha agar bekas dari pengaruh yang tidak baik itu segera hilang dari diri mereka.
Tatkala turun ayat ini mereka merasa khawatir, kalau Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengampuni dosa-dosa mereka, sebagai akibat dari bekas-bekas kepercayaan dan kebudayaan Arab jahiliah yang masih ada pada hati dan jiwa mereka, walaupun mereka telah berusaha sekuat tenaga menghilangkannya.
Karena kecemasan dan kekhawatiran itulah mereka segera bertanya kepada Rasulullah ﷺ Rasa kekhawatiran akan diazab Allah subhanahu wa ta’ala tergambar pada pertanyaan ‘Umar bin al-Khaththab kepada Huzaifah.
Beliau pernah bertanya kepada Huzaifah, “Adakah engkau (Huzaifah) dapati pada diriku salah satu dari tanda-tanda munafik?”
Maka untuk menghilangkan kekhawatiran itu dan menenteramkan hati mereka, turunlah ayat seperti yang dikutip di atas (Al-Baqarah:286).
Dengan turunnya ayat ini, hati para sahabat merasa tenang dan tenteram, karena mereka telah yakin bahwa segala larangan dan perintah Allah itu sesuai dengan batas kemampuan manusia.
Tidak ada perintah dan larangan yang tidak sanggup dilakukan manusia atau dihentikannya.
Hanya orang yang ingkar kepada Allah sajalah yang merasa berat menghentikan larangan-Nya.
Mereka telah yakin pula bahwa pekerjaan buruk yang terlintas di dalam pikiran mereka dan mereka benci kepada pekerjaan itu, telah mereka usahakan untuk menghilangkannya, karena itu mereka tidak akan dihukum.

Allah berfirman:

Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu.
Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.
(Al-Baqarah: 225)

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Dia menghisab (memperhitungkan) apa yang ada di dalam hati manusia, baik yang disembunyikan atau yang dinyatakan, dan dengan perhitungan-Nya itu, Dia membalas perbuatan manusia dengan adil, karena perhitungan dan pembalasan itu dilandasi dengan sifat Allah Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya.

Kemudian Allah menegaskan bahwa dengan karunia-Nya Dia mengampuni hamba-Nya dan mengazabnya dengan adil serta memberi pahala yang berlipat ganda kepada orang yang mengerjakan amal saleh.
Akhirnya Allah menyatakan bahwa “Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”.
Dari ayat ini dipahami bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, maka mintalah pertolongan kepada-Nya, agar dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-Nya, mohonlah taufik dan hidayah-Nya.

Awal surah Al-Baqarah dimulai dengan menerangkan bahwa Al-Qur’an tidak ada keraguan padanya dan juga menerangkan sikap manusia terhadapnya, yaitu ada yang beriman, ada yang kafir, dan ada yang munafik.
Selanjutnya disebutkan hukum-hukum salat, zakat, puasa, haji, pernikahan, jihad, riba, hukum perjanjian dan sebagainya.

Ayat ini merupakan ayat penutup surah Al-Baqarah yang menegaskan sifat Nabi Muhammad ﷺ, dan para pengikutnya terhadap Al-Qur’an itu.
Mereka mempercayainya menjadikannya sebagai pegangan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Ayat ini juga menegaskan akan kebesaran dan kebenaran Nabi Muhammad, dan orang-orang yang beriman, dan menegaskan bahwa hukum-hukum yang tersebut itu adalah hukum-hukum yang benar.
Dengan ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan dan menetapkan bahwa Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang beriman, benar-benar telah mempercayai Al-Qur’an, mereka tidak ragu sedikit pun dan mereka meyakini kebenaran Al-Qur’an itu.

Pernyataan Allah ini terlihat pada diri Rasulullah ﷺ dan pribadi-pribadi orang mukmin, terlihat pada kesucian dan kebersihan hati mereka, ketinggian cita-cita mereka, ketahanan dan ketabahan hati mereka menerima cobaan dalam menyampaikan agama Allah, sikap mereka di waktu mencapai kemenangan dan menghadapi kekalahan, sikap mereka terhadap musuh-musuh yang telah dikuasai, sikap mereka di waktu ditawan dan sikap mereka di waktu memasuki daerah-daerah luar Jazirah Arab.
Sikap dan watak yang demikian adalah sikap dan watak yang ditimbulkan oleh ajaran Al-Qur’an, dan ketaatan melaksanakan hukum Allah.
Inilah yang dimaksud dengan jawaban ‘Aisyah r.a.
ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad ﷺ, beliau menjawab: “Bukankah engkau selalu membaca Al-Qur’an?
Jawabnya, “Ya”.
‘Aisyah berkata, “Maka sesungguhnya akhlak Nabi itu sesuai dengan Al-Qur’an.” (Riwayat Muslim)

Seandainya Nabi Muhammad ﷺ tidak meyakini benar ajaran-ajaran yang dibawanya, dan tidak berpegang kepada kebenaran dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tentulah dia dan pengikutnya tidak akan berwatak demikian.
Dia akan ragu-ragu dalam melaksanakan cita-citanya, ragu-ragu menceritakan kejadian-kejadian umat yang dahulu yang tersebut di dalam Al-Qur’an, terutama dalam menghadapi reaksi orang Yahudi dan Nasrani.
Apalagi mengingat orang Yahudi dan Nasrani adalah orang yang banyak pengetahuan mereka tentang sejarah purbakala di masa itu, karena itu Nabi Muhammad selalu memikirkan dan tetap meyakini kebenaran setiap ajaran agama yang akan beliau kemukakan kepada mereka.
Orang-orang yang hidup di zaman Nabi, baik pengikut beliau maupun orang-orang yang mengingkari, semuanya mengatakan bahwa Muhammad adalah orang yang dapat dipercaya, bukan seorang pendusta.
Setiap orang yang beriman yakin adanya Allah Yang Maha Esa.
Hanya Dia yang menciptakan makhluk, tidak berserikat dengan sesuatu pun.
Mereka percaya kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para nabi-Nya, percaya kepada malaikat-malaikat Allah, dan malaikat yang menjadi penghubung antara Allah dengan rasul-rasul-Nya, pembawa wahyu Allah.
Mengenai keadaan zat, sifat-sifat dan pekerjan-pekerjaan malaikat itu termasuk ilmu Allah, hanya Allah yang Mahatahu.
Percaya kepada malaikat merupakan bukti percaya kepada Allah.

Dinyatakan pula pendirian kaum Muslimin terhadap para rasul, tidak membeda-bedakan antara rasul-rasul Allah; mereka berkeyakinan bahwa semua rasul itu sama dalam mengimaninya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka.
Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 136)

Di ayat lain diterangkan bahwa masing-masing rasul itu mempunyai keutamaan dibandingkan dengan rasul-rasul yang lain.
Suatu keutamaan yang dipunyai seorang rasul mungkin tidak dipunyai oleh rasul yang lain, dan rasul yang lain itu mempunyai keutamaan pula.
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain (Al-Baqarah: 253)

Ayat ini mengisyaratkan keutamaan umat Islam atas umat-umat lainnya yang membedakan rasul-rasul Allah.
Ada yang mereka percayai dan ada yang tidak mereka percayai.
Bahkan sebagian dari para rasul itu semasa hidupnya ada yang mereka perolok-olokkan.
Sementara umat Islam tidak memperlakukan mereka seperti itu.
Allah menerangkan lagi sifat-sifat lain yang dimiliki orang Islam.
Yaitu apabila mereka mendengar suatu perintah atau larangan Allah, mereka mendengar dengan penuh perhatian, melaksanakan perintah itu, dan menjauhi larangan-Nya.
Mereka merasakan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan yakin bahwa hanya Allah sajalah yang wajib disembah dan ditaati.
Oleh karena orang mukmin mempunyai sifat-sifat yang demikian, maka mereka selalu memanjatkan doa kepada Allah, yaitu: “Ampunilah kami wahai Tuhan kami, dan kepada Engkaulah kami kembali”.
Sesungguhnya doa orang yang beriman bukanlah sekadar untuk meminta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat, bahkan juga memohon ke hadirat Allah agar selalu diberi taufik dan hidayah, agar dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Dari doa ini dapat dipahami bahwa orang yang beriman selalu berusaha melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya setelah mereka mendengar, memahami perintah dan larangan itu.
Mereka sadar bahwa mereka seorang manusia yang tidak sempurna, tidak luput dari kekurangan.
Sekalipun hati dan jiwa mereka telah berjanji akan menaati perintah dan larangan Allah setelah mendengar dan memahaminya, tetapi tanpa mereka sadari mereka sering lupa dan lalai, sehingga mereka mengabaikan perintah dan larangan itu.
Sekalipun mereka telah mengetahui bahwa Allah tidak akan menghukum manusia karena lupa dan lalai, tetapi orang-orang yang beriman merasa dirinya wajib memohon ampun dan bertobat kepada Allah, agar Allah tidak menghukumnya karena perbuatan yang demikian itu.
Pengaruh iman yang demikian tampak pada tingkah laku, sifat, tindakan dan perbuatan mereka.
Semuanya itu dijuruskan dan diarahkan ke jalan yang diridai Allah.
Hal ini dipahami dari pernyataan mereka,

“Hanya kepada Engkaulah kami kembali”.

Pernyataan ini mengungkapkan hakikat hidup manusia yang sebenarnya, menggariskan pedoman hidup dan tujuan akhir yang harus dicapai oleh manusia.

Al Baqarah (2) ayat 285 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 285 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 285 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya apa yang diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad, itu adalah kebenaran dari Allah.
Ia telah mengimaninya.
Begitu juga orang-orang Mukmin yang bersamanya.
Mereka semuanya beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, dan Rasul-rasul-Nya.
Mereka menyamakan penghormatan dan keimanan kepada rasul-rasul Allah dengan mengatakan, “Kami tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya, satu dengan yang lainnya.” Dan mereka menegaskan keimanan hati dengan ungkapan lisan seraya menengadah kepada Allah, “Ya Tuhan, kami dengar pesan-pesan-Mu dan kami ikuti, maka berikanlah kami ampunan, ya Allah.
Hanya kepada-Mulah tempat kembali.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Telah beriman), artinya membenarkan (Rasul), yakni Muhammad (terhadap apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya), yakni Alquran, demikian pula (orang-orang yang beriman), ma`thuf atau dihubungkan kepada Rasul (semuanya), tanwinnya menjadi pengganti bagi mudhaf ilaih (beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-Kitab-Nya) ada yang membaca secara jamak dan ada pula secara mufrad atau tunggal (serta para Rasul-Nya) kata mereka, (“Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun di antara Rasul-Rasul-Nya”) hingga kami beriman kepada sebagian dan kafir kepada lainnya, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen (Dan mereka mengatakan, “Kami dengar”), maksudnya apa yang diperintahkan kepada kami itu, disertai dengan penerimaan (dan kami taati) serta kami bermohon, (“Ampunilah kami, wahai Tuhan kami, dan kepada Engkaulah kami kembali”), yakni dengan adanya saat berbangkit.
Tatkala turun ayat yang sebelumnya, orang-orang mukmin mengadukan waswas dan kekhawatiran mereka serta terasa berat bagi mereka saat perhitungan, maka turun pula ayat:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Rasulullah beriman dan meyakini apa yang diwahyukan kepadanya dari Rabbnya.
Dia memang patut untuk meyakini, demikian pula orang-orang mukmin mereka membenarkan dan mengamalkan al-Qur an yang agung.
Masing-masing dari mereka membenarkan Allah sebagai Rabb dan sesembahan yang disifati dengan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, bahwa Allah memiliki para malaikat yang mulia, bahwa Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus Rasul-rasul-Nya kepada manusia, maka kita sebagai orang-orang mukmin tidak boleh beriman kepada sebagian dan ingkar kepada sebagian yang lain, akan tetapi kita beriman kepada mereka semuanya.
Rasul dan orang-orang beriman mengucapkan :
Kami dengar apa yang Engkau wahyukan dan kami taati dalam semua itu wahai Rabb kami.
Kami berharap Engkau mengampuni dosa-dosa kami dengan karunia-Mu.
Engkaulah yang telah menjaga kami dengan nikmat-nikmat-Mu kepada kami dan hanya kepada-Mulah semata kami akan kembali dan berpulang.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya.

Ayat ini memberitakan perihal Nabi ﷺ dalam hal tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah yang menceritakan, “Telah diceritakan kepada kami bahwa tatkala diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat ini (Al Baqarah:285), maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Dan sudah seharusnya baginya beriman’.”

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya,

telah menceritakan kepada kami Abun Nadr Al-Faqih, telah menceritakan kepada kami Mu’az ibnu Najdah Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Uqail, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa setelah diturunkan kepada Nabi ﷺ firman-Nya: Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya.
(Al Baqarah:285), Maka Nabi ﷺ bersabda: Sudah merupakan keharusan baginya beriman.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…demikian pula orang-orang yang beriman.

di-ataf-kan kepada lafaz Ar-Rasul, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan perihal semuanya (Rasul dan orang-orang mukmin).
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
(Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.”

Orang-orang mukmin beriman bahwa Allah adalah Satu lagi Maha Esa, dan Tunggal lagi bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada Rabb selain Dia.
Mereka percaya kepada semua nabi dan semua rasul, serta semua kitab yang diturunkan dari langit kepada hamba-hamba Allah yang menjadi utusan dan nabi.
Mereka tidak membeda-bedakan seseorang pun di antara mereka dari yang lainnya.
Mereka tidak beriman kepada sebagian dari mereka, lalu kafir (ingkar) kepada sebagian yang lain.

Bahkan semuanya menurut mereka adalah orang-orang yang sadiq (jujur), berbakti, berakal, mendapat petunjuk, dan menunjukkan ke jalan kebaikan, sekalipun sebagian dari mereka me-nasakh syariat sebagian yang lain dengan seizin Allah, hingga semuanya di-mansukh oleh syariat Nabi Muhammad ﷺ yang merupakan pemungkas para nabi dan para rasul, hari kiamat terjadi dalam masa syariatnya, dan masih terus-menerus ada segolongan dari umatnya yang membela perkara yang hak hingga hari kiamat tiba.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.”

Yakni kami mendengar firman-Mu, ya Tuhan kami, dan kami memahaminya, dan kami menegakkan serta mengerjakan amal sesuai dengannya.

Ampunilah kami, ya Tuhan kami…

Ayat ini mengandung makna permohonan ampun dan rahmat serta belas kasihan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Harb Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fadl, dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
(Al Baqarah:285) sampai dengan firman-Nya: (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami.” (Al Baqarah:285) Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Aku telah mengampuni bagi kalian.”

…dan kepada Engkaulah tempat kembali.

Yang dimaksud dengan al-masir ialah tempat kembali dan merujuk kelak di hari perhitungan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Sinan, dari Hakim, dari Jabir yang menceritakan bahwa ketika diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat ini, yaitu firman-Nya: Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
(Mereka mengatakan), “Kami tidak membedabedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al Baqarah:285), Lalu Malaikat Jibril berkata: Sesungguhnya Allah telah memujimu dengan baik dan juga kepada umatmu.
Maka mintalah, niscaya kamu akan diberi apa yang kamu minta.
Maka Nabi ﷺ meminta, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(Al Baqarah:286), hingga akhir ayat.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 285
Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Rabi’ dan Ahmad bin Jawwas Al Hanfi keduanya berkata,
telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Ammar bin Ruzaiq dari Abdullah bin Isa dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata,
Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka dari arah atas kepalanya. Lalu malaikat Jibril berkata:
Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini. Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata:
Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja. Lalu ia memberi salam dan berkata:
Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu pembuka Al Kitab (surat Al Fatihah) dan penutup surat Al Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu.

Shahih Muslim, Kitab Shalatnya Musafir dan Penjelasan Tentang Qashar – Nomor Hadits: 1339

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (284-286) - Indonesian - Apsari Indriyani
QS 2 Al-Baqarah (284-286) - Arabic - Apsari Indriyani


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 285 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 285



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (29 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku