Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 284


لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
Lillahi maa fiis-samaawaati wamaa fiil ardhi wa-in tubduu maa fii anfusikum au tukhfuuhu yuhaasibkum bihillahu fayaghfiru liman yasyaa-u wayu’adz-dzibu man yasyaa-u wallahu ‘ala kulli syai-in qadiirun;

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.
Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
―QS. 2:284
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
2:284, 2 284, 2-284, Al Baqarah 284, AlBaqarah 284, Al-Baqarah 284
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 284. Oleh Kementrian Agama RI

Dari ayat ini dapat diambil pengertian tentang kesempurnaan keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal:

1.Esa dalam kekuasan-Nya.
2.Esa dalam mengetahui segala yang terjadi di alam ini.

Allah subhanahu wa ta’ala Esa dalam memiliki seluruh makhluk, maksudnya ialah hanya Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang menciptakan, menumbuhkan, mengembangkan dan memiliki seluruh alam ini, tidak ada sesuatu pun yang berserikat dengan Dia.

Allah subhanahu wa ta’ala Esa dalam mengetahui segala sesuatu di alam ini maksudnya ialah Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui yang besar dan yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak oleh manusia.
Segala yang terjadi, yang wujud di alam ini, maka wujudnya itu tidak lepas dari pengetahuan Allah, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala Esa dalam kekuasaan-Nya, maksudnya ialah apa yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat merubah kehendak-Nya.
Apabila Dia menghendaki adanya sesuatu, maka adalah dia, sebaliknya apabila Dia menghendaki lenyapnya sesuatu, lenyaplah ia.
Hanya Dialah yang dapat mengetahui perbuatan hamba-Nya, serta mengampuni atau mengazabnya dan keputusan yang adil hanyalah di tangan-Nya saja.

Yang ada di dalam hati manusia itu ada dua macam:

Pertama:
Sesuatu yang ada di dalam hati yang datang dengan sendirinya tergerak tanpa ada yang menggerakkannya, terlintas di dalam hati dengan sendirinya.
Gerak yang demikian tidak berdasarkan iradah (kehendak) dan ikhtiar (pilihan) manusia, hanya timbul saja dalam hatinya.
Hal yang seperti ini tidak dihukum dan dihisabi Allah subhanahu wa ta’ala, kecuali bila diikuti dengan iradah, niat dan ikhtiar.

Kedua:
Sesuatu yang ada di dalam hati yang timbul dengan usaha, pikiran, hasil renungan dan sebagainya.
Gerak yang seperti ini berubah menjadi cita-cita keinginan yang kuat, sehingga timbullah iradah, niat dan ikhtiar untuk melaksanakannya.
Gerak hati yang seperti inilah yang dihisab dan dijadikan dasar dalam menentukan balasan pekerjaan manusia.

Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar manusia selalu mengawasi, meneliti dan merasakan apa yang ada di dalam hatiya.
Bila yang ada itu sesuai dengan perintah Allah dan tidak berlawanan dengan larangan-larangan-Nya, maka peliharalah dan hidup suburkanlah dia sehingga mewujudkan amal yang baik.
Sebaliknya bila yang ada di dalam hati itu bertentangan dengan perintah-perintah Allah atau memungkinkan seseorang mengerjakan larangan-Nya, hapuskan segera dan enyahkanlah yang demikian itu, sehingga tidak sampai mewujudkan perbuatan dosa.
Hendaklah manusia waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan masuknya sesuatu yang tidak baik di dalam hatinya, sehingga mewujudkan perbuatan dosa.

Sebagai contoh ialah rasa dengki, pada mulanya tumbuh karena rasa tidak senang kepada seseorang.
Perasaan itu bertambah setiap ada peristiwa yang menyuburkannya.
Kemudian timbullah marah, dendam, ingin membalas dan sebagainya.
Jika telah demikian perasaannya, sukarlah untuk menghilangkannya dengan segera.
Bahkan dikhawatirkan dapat melahirkan perbuatan dosa.
Tetapi bila dipadamkan perasaan itu pada saat ia mulai tumbuh, maka rasa dengki itu tidak akan timbul, dan kalau pun timbul dapat dihilangkan dengan mudah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata: “Tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat 284 ini kepada Rasulullah ﷺ, maka sahabat merasa bebannya bertambah berat, lalu mereka datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Kami telah dibebani dengan pekerjaan-pekerjaan yang sanggup kami mengerjakannya, yaitu salat, puasa, jihad, sedekah, dan kini telah turun pula ayat ini yang kami tidak sanggup melaksanakannya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah kamu hendak mengatakan seperti perkataan ahli kitab sebelum kamu, mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami durhaka.” Katakanlah: “Kami dengar dan kami taat, kami memohon ampunan-Mu, ya Tuhan kami, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
Maka tatkala Rasulullah ﷺ membacakan ayat ini kepada mereka, lidah mereka mengikutinya.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat berikutnya, yaitu ayat 285 Al-Baqarah.
Berkata Abu Hurairah: “Tatkala para sahabat telah mengerjakan yang demikian Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan kekhawatiran mereka terhadap ayat itu dan Dia menurunkan ayat berikutnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(Q.S Al Baqarah: 286)

Hadis di atas melukiskan kekhawatiran para sahabat yang sangat takut kepada azab Allah.
Para sahabat dahulunya adalah orang-orang yang hidup, dididik dan dibesarkan di dalam lingkungan kehidupan Arab Jahiliyah.
Pikiran, hati, kepercayaan dan adat istiadat Jahiliyah telah sangat berpengaruh di dalam diri mereka.
Bahkan di antara mereka adalah pemuka dan pemimpin orang-orang Arab Jahiliyah.
Setelah Nabi Muhammad ﷺ.
diutus, mereka mengikuti seruan Nabi dan masuk agama Islam dengan sepenuh hati.
Walaupun demikian bekas-bekas pengaruh kepercayaan dan kebudayaan Arab Jahiliyah masih ada di dalam jiwa mereka.
Hal ini hilang dan hapus secara berangsur-angsur, setiap turun ayat-ayat Alquran dan setiap menjelaskan risalah yang dibawanya kepada mereka.
Dalam pada itu mereka sendiri selalu berusaha agar bekas dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik itu segera hilang dari diri mereka.
Tatkala turun ayat ini mereka merasa khawatir, kalau-kalau Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengampuni dosa-dosa mereka, sebagai akibat dari bekas-bekas kepercayaan dan kebudayaan Arab Jahiliyah yang masih ada pada hati dan jiwa mereka, walaupun mereka telah berusaha sekuat tenaga menghilangkannya.
Karena kecemasan dan kekhawatiran itulah mereka segera bertanya kepada Rasulullah ﷺ

Rasa kekhawatiran akan diazab Allah subhanahu wa ta’ala itu tergambar pada pertanyaan Umar bin Khattab kepada Huzaifah.
Beliau pernah bertanya kepada Huzaifah: “Adakah engkau (Huzaifah) dapati dari diriku salah satu dari tanda-tanda munafik?”
Maka untuk menghilangkan kekhawatiran itu dan menenteramkan hati mereka maka turunlah ayat:

Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya….
(Q.S Al Baqarah: 286)

Dengan turunnya ayat ini, hati para sahabat merasa tenang dan tenteram, karena mereka telah yakin bahwa segala larangan dan perintah Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah sesuai dengan batas kemampuan manusia.
Tidak ada perintah-perintah dan larangan-larangan Allah yang tidak sanggup manusia melakukan atau menghentikannya.
Hanya orang-orang yang ingkar kepada Allah sajalah yang merasa berat menghentikan larangan-larangan-Nya.
Dan mereka telah yakin pula bahwa pekerjaan buruk yang terlintas di dalam pikiran mereka dan mereka benci pula kepada pekerjaan itu, telah mereka usahakan menghilangkannya, karena itu mereka tidak akan dihukum.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu.
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

(Q.S Al Baqarah: 225)

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Dia menghisab (menghitung) apa yang ada di dalam hati manusia, baik yang disembunyikan atau yang dinyatakan dan dengan perhitungan-Nya itu, Dia membalas perbuatan manusia dengan adil karena perhitungan dan pembalasan itu dilandasi dengan sifat Allah Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa dengan karunia-Nya Dia mengampuni hamba-Nya dan mengazabnya dengan adil serta memberi pahala yang berlipat ganda kepada orang yang mengerjakan amal saleh.

Akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dari ayat ini dipahami bahwa karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka mintalah pertolongan kepada-Nya agar dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-Nya, mohonkan taufik dan hidayah-Nya.

Al Baqarah (2) ayat 284 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 284 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 284 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang di langit dan di bumi adalah milik Allah.
Kekuasaan dan ilmu- Nya meliputi semua itu.
Apa yang kalian nyatakan dan sembunyikan dalam diri kalian, Allah mengetahuinya.
Dia akan menuntut pertanggungjawaban kalian atas itu semua pada hari kiamat.
Lalu mengampuni dan menyiksa siapa saja yang dikehendaki.
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Milik Allahlah apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi dan jika kamu menyatakan) atau melahirkan (apa yang ada di dalam hatimu) berupa kejahatan dan rencana untuk melakukannya (atau kamu menyembunyikan) maksudnya merahasiakannya (pastilah akan dihisab), yakni dibukakan (oleh Allah) pada hari kiamat.
Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya) untuk diampuni, (dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya) untuk disiksa.
Kedua kata kerja ini dapat dihubungkan pada jawab syarat dengan baris mati dan dapat pula dengan baris di depan dengan perkiraan, ‘fahuwa…’ (Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu), di antaranya melakukan hisab atas perhitungan terhadapmu dan memberikan balasannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hanya milik Allah apa yang di langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.
Kepemilikannya, pengaturannya dan ilmunya adalah di tangan Allah, tiada sesuatu yang samar bagi-Nya.
Apa yang kalian tampakkan dari dalam dada kalian atau kalian sembunyikan, maka Allah tetap Mengetahuinya dan tetap akan menghisab kalian atasnya.
Lalu Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki.
Allah MahaKuasa atas segala sesuatu.

Namun setelah ini Allah memuliakan kaum muslimin dengan memaafkan pembicaraan hati dan apa yang terlintas di dalam benak selama ia tidak diikuti dengan kata-kata atau perbuatan, sebagaimana hal itu diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada padanya yang ada di antara keduanya.
Dia mengetahui semua yang ada di dalamnya, tiada yang samar bagi-Nya semua hal yang tampak dan yang tersembunyi serta yang tersimpan di dalam hati, sekalipun sangat kecil dan sangat samar.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan pula bahwa Dia kelak akan melakukan hisab (perhitungan) terhadap hamba-hamba-Nya atas semua yang telah mereka lakukan dan mereka sembunyikan di dalam hati mereka.
Seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Katakanlah, “Jika kalian menyembunyikan apa yang ada dalam hati kalian atau kalian melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
(Ali Imran:29)

Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
(Thaahaa:7)

Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak, dan dalam ayat ini disebutkan keterangan yang lebih, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala akan melakukan perhitungan terhadap hal tersebut.

Karena itulah ketika ayat ini diturunkan, para sahabat merasa keberatan dan takut terhadap apa yang disebutkan oleh ayat ini serta takut terhadap hisab Allah yang akan dilakukan atas diri mereka menyangkut semua amal perbuatan mereka yang besar dan yang sekecil-kecilnya.
Perasaan ini timbul dalam hati mereka karena iman dan keyakinan mereka sangat kuat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Abu Abdur Rahman (yakni Al-Ala), dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa ketika diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi.
Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu.
Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Maka hal ini terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasul ﷺ Lalu mereka datang menghadap Rasulullah ﷺ dan bersimpuh di atas lutut mereka seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah dibebani amal-amal yang sudah memberatkan kami, yaitu salat, puasa, jihad, dan sedekah (zakat), sedangkan telah diturunkan kepadamu ayat ini dan kami tidak kuat menyanggahnya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Apakah kalian hendak mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh kaum ahli kitab sebelum kalian, yaitu: “Kami mendengarkan dan kami durhaka?
“Tidak, melainkan kalian harus mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat, kami mengharapkan ampunan-Mu, wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mulah (kami) dikembalikan.” Setelah kaum merasa tenang dengan ayat ini dan tidak mengajukan protes lagi, maka Allah menurunkan ayat berikut sesudahnya, yaitu firman-Nya:

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
(Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,”dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Ketika mereka melakukan hal tersebut, lalu Allah me-nasakh-nya dengan firman-Nya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.”
, hingga akhir ayat.

Imam Muslim meriwayatkannya sendirian melalui hadis Yazid ibnu Zurai’, dari Rauh ibnul Qasim, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, lalu ia menyebutkan hadis yang semisal.

Lafaznya adalah seperti berikut, bahwa setelah mereka melakukan hukum tersebut, maka Allah me-nasakh-nya dan menurunkan firman-Nya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al Baqarah:286) Maka Allah berfirman, “Ya.” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
(Al Baqarah:286) Allah berfirman, “Ya.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
(Al Baqarah:286) Allah berfirman, “Ya.” Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
(Al Baqarah:286) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ya.”

Hadis Ibnu Abbas mengenai masalah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Ia mengatakan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Adam ibnu Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnu Jubair menceritakan hadis berikut dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya:

Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu.
Maka timbullah di dalam hati mereka sesuatu hal yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Katakanlah oleh kalian, “Kami dengar, kami taat, dan kami berserah diri.” Kemudian Allah memasukkan iman ke dalam kalbu mereka, dan menurunkan firman-Nya:

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
(Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al Baqarah:285) sampai dengan firman-Nya: maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
(Al Baqarah:286)

Demikian pula menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, Abu Kuraib, Ishaq ibnu Ibrahim, ketiga-tiganya meriwayatkan hadis ini dari Waki’.
Hanya di dalam riwayatnya ditambahkan seperti berikut: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
(Al Baqarah:286) Maka Allah berfirman, “Telah Aku lakukan.” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.
(Al Baqarah:286) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Telah Aku lakukan.” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
(Al Baqarah:286) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Telah Kami lakukan.” Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
(Al Baqarah:286) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Telah Aku lakukan.”

Jalur lain dari Ibnu Abbas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Humaid Al-A’raj, dari Mujahid yang mengatakan bahwa ia pernah masuk menemui Ibnu Abbas, lalu ia berkata, “Wahai Abu Abbas, ketika aku berada di rumah Ibnu Umar, ia membacakan ayat ini, lalu ia menangis.” Ibnu Abbas bertanya, “Ayat apakah itu?”
Ia menjawab bahwa yang dimaksud adalah firman-Nya: Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya.
(Al Baqarah:284) Maka Ibnu Abbas mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, semua sahabat Rasulullah ﷺ tertimpa kesusahan yang sangat, dan hati mereka sangat gundah gulana, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami pasti binasa jika kami dihukum karena hal-hal yang kami ucapkan dan yang kami kerjakan.
Hal itu sudah wajar, tetapi hati kami tidak dapat menguasainya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Katakanlah oleh kalian, “Kami dengar dan kami taat.” Maka mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa ayat tersebut di-mansukh oleh ayat berikut, yaitu firman-Nya: Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Allah, (Al Baqarah:285) sampai dengan firman-Nya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Al Baqarah:286).
Maka dimaafkan dari mereka apa yang tersimpan di dalam hati mereka, dan mereka hanya mendapat balasan dari amal perbuatan mereka saja.

Jalur lain dari Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Zaid, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id ibnu Murjanah, bahwa Ibnu Syihab pernah mendengar Sa’id ibnu Murjanah menceritakan hadis berikut, ketika dia sedang duduk bersama Abdullah ibnu Umar, maka Ibnu Umar membacakan firman-Nya: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi.
Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan itu.
Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya.
(Al Baqarah:284), hingga akhir ayat.
Lalu ia mengatakan, “Demi Allah, sekiranya kita dihukum oleh Allah disebabkan hal ini, niscaya kita akan binasa,” kemudian ia menangis sehingga terdengar isakannya.
Ibnu Murjanah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bangkit dan pergi menuju tempat Ibnu Abbas, ia menceritakan apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar kepadanya setelah membaca ayat tersebut.
Maka Ibnu Abbas menjawab, “Semoga Allah mengampuni Abu Abdur Rahman.
Demi umurku, sesungguhnya kaum muslim pun merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Ibnu Umar ketika ayat tersebut diturunkan.” Sesudah itu Allah menurunkan firman-Nya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(Al Baqarah:286), hingga akhir surat.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa bisikan tersebut merupakan hal yang tidak kuat disanggah oleh kaum muslim, dan pada akhirnya Allah memutuskan bahwa masing-masing diri memperoleh pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya, baik berupa ucapan ataupun perbuatan.

Jalur lain diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, dari Sufyan ibnu Husain, dari Az-Zuhri, dari Salim, bahwa ayah Salim pernah membaca firman-Nya: Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tenlang perbuatan kalian itu.
(Al Baqarah:284) Maka berlinanganlah air matanya, lalu perbuatannya itu disampaikan kepada Ibnu Abbas.
Lalu Ibnu Abbas mengatakan, “Semoga Allah merahmati Abu Abdur Rahman.
Sesungguhnya dia telah melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ ketika ayat ini diturunkan.
Kemudian ayat ini di-mansukh oleh ayat sesudahnya, yaitu firman-Nya: ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya’ (Al Baqarah:286).”

Jalur sanad ini berpredikat sahih dari Ibnu Abbas, dan telah ditetapkan pula yang bersumber dari Ibnu Umar sama dengan apa yang ditetapkan dari Ibnu Abbas.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Khalid Al-Hazza, dari Marwan Al-Asgar, dari seorang lelaki sahabat Nabi ﷺ yang menurut dugaanku (Imam Bukhari) adalah Ibnu Umar, sehubungan dengan firman-Nya: Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya.
(Al Baqarah:284) Ia mengatakan bahwa ayat ini di-mansukh oleh ayat sesudahnya.
Hal yang sama telah diriwayatkan pula dari Ali, Ibnu Mas’ud, Ka’b Al-Ahbar, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, dan Qatadah, disebutkan bahwa ayat ini di-mansukh oleh ayat sesudahnya.

Telah ditetapkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh jamaah di dalam kitab-kitab mereka yang enam melalui jalur Qatadah, dari Zurarah ibnu Abu Aufa, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah telah memaafkan aku buat umatku semua hal yang dibisikkan oleh hati mereka selagi hal itu tidak dikatakan atau dikerjakan.

Di dalam hadis Sahihain melalui Sufyan ibnu Uyaynah, dari Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Allah berfirman, “Apabila hamba-Ku berniat untuk melakukan suatu perbuatan yang buruk, maka janganlah kalian (para malaikat) mencatatkan hal itu terhadapnya, dan jika dia mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu sebagai satu keburukan.
Apabila dia berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu sebagai satu kebaikan, dan jika dia mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu pahala sepuluh kebaikan.

Lafaz hadis ini menurut Imam Muslim.

Dan dia meriwayatkannya sendiri melalui jalur Ismail ibnu Jafar, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ, yaitu:

Allah berfirman, “Apabila hamba-Ku berniat untuk melakukan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka Aku catatkan hal itu untuknya sebagai satu kebaikan, dan jika dia mengerjakannya, maka aku catatkan untuknya pahala sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kali lipat.
Dan jika dia berniat hendak mengerjakan suatu keburukan, dan ternyata dia tidak mengerjakannya, maka Aku tidak mencatatkan apa pun terhadapnya.
Dan jika dia mengerjakan, maka Aku catatkan sebagai suatu keburukan.”

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a.
pernah menceritakan kepada kami hadis berikut dari Muhammad Rasulullah ﷺ, yaitu: Allah berfirman, “Apabila hamba-Ku berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan, maka Aku mencataikan baginya suatu kebaikan selama dia belum mengerjakannya, dan jika dia mengerjakannya, maka Aku catatkan baginya sepuluh pahala yang semisal dengan amal baiknya.
Dan apabila dia berniat hendak mengerjakan suatu keburukan, maka Aku mengampuni hal itu baginya selagi dia tidak mengerjakannya.
Dan jika dia mengerjakannya, maka Aku mencatatkan hal itu baginya hal yang semisal (dengan) keburukannya.” Rasulullah ﷺ telah bersabda: Para malaikat berkata, “Wahai Tuhan, hamba-Mu itu hendak melakukan suatu amal keburukan?”
Sedangkan Dia lebih melihat tentangnya.
Maka Dia berfirman, “Awasilah dia, jika dia mengerjakan keburukan itu, maka catatkanlah baginya hal yang semisal dengan keburukannya.
Dan jika dia meninggalkannya, maka catatkanlah baginya pahala satu kebaikan, karena sesungguhnya dia meninggalkan keburukan itu (tidak mengerjakannya) karena demi Aku.” Rasulullah ﷺ telah bersabda: Apabila seseorang berbuat baik dalam Islamnya, maka sesungguhnya setiap amal kebaikan yang dikerjakannya dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan yang serupa hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan setiap keburukan dicatatkan hal yang semisal dengan keburukannya, hingga ia bersua dengan Allah subhanahu wa ta’ala (di hari kiamat).

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Muhammad ibnu Rafi’, dari Abdur Razzaq dengan konteks dan lafaz yang sama, tetapi sebagian darinya terdapat pula di dalam Sahih Bukhari.

Imam Muslim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Khalid Al-Ahmar, dari Hisyam, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, lalu ia tidak melakukannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan.
Dan barang siapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, lalu ia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus (kali lipat).
Dan barang siapa yang berniat akan melakukan suatu kejahatan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka tidak dicatatkan (apa pun) terhadapnya, tetapi jika dia mengerjakannya, maka kejahatan itu dicatatkan terhadapnya.

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim sendiri di antara para pemilik kitab sunnah, sedangkan yang lainnya tidak.

Imam Muslim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Farukh, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, dari Al-Ja’d Abu Usman, telah menceritakan kepada kami Abu Raja Al-Utaridi, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah ﷺ dalam sabdanya yang menceritakan dari Tuhannya hal berikut, yaitu: Sesungguhnya Allah mencatat semua amal baik dan amal buruk, kemudian Dia menjelaskan hal tersebut, bahwa barang siapa yang berniat akan melakukan suatu amal baik, lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatkan di sisi-Nya pahala suatu kebaikan penuh.
Dan jika ia berniat akan mengerjakannya, lalu ia mengerjakannya, maka Allah mencatatkan di sisi-Nya (pahala) sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai penggandaan yang banyak (buat pelakunya).
Dan jika dia berniat akan mengerjakan suatu keburukan, lalu dia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatkan hal itu di sisi-Nya pahala satu kebaikan.
Dan jika dia berniat akan melakukannya, lalu ia mengerjakannya, maka Allah mencatatkan hal itu di sisi-Nya satu amal keburukan.

Imam Muslim meriwayatkan pula dari Yahya ibnu Yahya, dari Ja’far ibnu Sulaiman, dari Al-Ja’d (yaitu Abu Usman) dalam sanad ini, yang isinya semakna dengan hadis Abdur Razzaq, hanya di dalam riwayat ini ditambahkan:

Lalu Allah menghapuskan Catatan amal buruk itu, dan tiada yang dibinasakan oleh Allah kecuali orang yang ditakdirkan binasa.

Di dalam hadis Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah disebutkan seperti berikut:

Sejumlah orang dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ datang, lalu mereka bertanya kepadanya, untuk itu mereka berkata, “Sesungguhnya kami merasakan di dalam hati kami sesuatu yang sangat berat dikatakan oleh seseorang dari kami.” Nabi ﷺ bersabda, “Apakah kalian benar-benar telah merasakannya?”
Mereka menjawab, “Ya.” Nabi ﷺ bersabda, “Itulah tandanya iman yang jelas.”

Lafaz hadis ini menurut Imam Muslim.
Menurut Imam Muslim pula melalui jalur Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ disebutkan hal yang sama.

Imam Muslim meriwayatkan pula melalui hadis Mugirah, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ Pernah ditanya mengenai waswas.
Maka beliau bersabda:

Hal itu merupakan pertanda iman yang jelas.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan itu.
(Al Baqarah:284) Sesungguhnya ayat ini tidak di-mansukh Tetapi bila Allah menghimpun semua makhluk di hari kiamat, maka Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang kalian sembunyikan di dalam hati kalian hingga para malaikat-Ku tidak mengetahuinya.” Adapun terhadap orang-orang mukmin, maka Allah memberitahukan kepada para malaikat apa yang dibisikkan di dalam hati mereka, tetapi Allah memberikan ampunan-Nya bagi mereka.
Hal ini disebutkan di dalam firman-Nya: niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu.
(Al Baqarah:284) Adapun terhadap orang-orang yang bimbang dan ragu, maka Allah memberitahukan kepada para malaikat apa yang disembunyikan oleh mereka di dalam hatinya, yaitu berupa kedustaan.
Hal ini diungkapkan oleh firman-Nya: Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya.
(Al Baqarah:284) Juga disebutkan oleh firman-Nya: tetapi Allah menghukum kalian disebabkan (sumpah kalian) yang disengaja (untuk bersumpah) di dalam hati kalian.
(Al Baqarah:225) Yakni berupa keraguan dan kemunafikan.

Al-Aufi dan Ad-Dahhak meriwayatkan pula hal yang hampir semakna dengan asar ini.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid dan Ad-Dahhak hal yang semisal.

Disebutkan dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa ia pernah mengatakan ayat ini muhkam (masih berlaku hukumnya) dan tidak di-mansukh.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir dalam alasannya yang mengatakan bahwa adanya hisab bukan berarti pasti adanya hukuman, dan Allah subhanahu wa ta’ala adakalanya melakukan hisab, kemudian memberikan ampunan, dan adakalanya melakukan hisab, lalu mengazab, berdasarkan kepada hadis yang diriwayatkannya dalam tafsir ayat ini, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ubay, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Abdi, dari Sa’id ibnu Hisyam.
Telah menceritakan kepadaku (kata Ibnu Jarir) Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hisyam.
Keduanya mengatakan dalam hadisnya masing-masing bahwa mereka meriwayatkannya dari Qatadah, dari Safwan ibnu Muharriz yang menceritakan bahwa ketika kami sedang melakukan tawaf di Baitullah bersama Abdullah ibnu Umar yang juga sedang melakukan tawaf, tiba-tiba muncullah seorang lelaki menghadangnya, lalu bertanya, “Hai Ibnu Umar, apakah yang telah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ mengenai masalah najwa (bisikan)?”
Maka ia menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Orang mukmin mendekat kepada Tuhannya, lalu Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan hijab-Nya pada dia, kemudian membuatnya mengakui semua dosa-dosanya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepadanya, “Tahukah kamu dosa anu?”
Ia menjawab, “Wahai Tuhanku, aku mengakuinya” (sebanyak dua kali), hingga sampailah pertanyaan Allah kepadanya ke tahap apa yang dikehendaki-Nya.
Setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku sekarang telah menutupi (mengampuni)nya darimu ketika di dunia, dan sesungguhnya pada hari ini pun Aku mengampuninya bagimu.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Maka Allah memberikan lembaran atau Catatan amal-amal baiknya dengan tangan kanan (kekuasaan)-Nya.
Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka diserukan kepada mereka di hadapan para saksi (semua makhluk), ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.’ Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (Huud:18).

Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain dan selain keduanya, melalui berbagai jalur dari Abu Qatadah dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Siti Aisyah r.a.
tentang ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu.
(Al Baqarah:284) Maka Siti Aisyah menjawab, “Tidak ada seorang pun yang menanyakannya semenjak aku telah menanyakannya kepada Rasulullah ﷺ” Rasulullah ﷺ bersabda: hal ini merupakan mubaya’ah (tawar-menawar) antara Allah dengan hamba-Nya, sedangkan si hamba terkena demam dan penyakit, dan ternyata si hamba kehilangan barang dagangannya, padahal ia meletakkannya pada kantong baju jubahnya.
Kemudian si hamba menemukan kembali barang dagangannya berada di kantongnya.
Sesungguhnya orang mukmin itu benar-benar keluar dari dosanya sebagaimana emas yang merah dikeluarkan.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Jarir melalui jalur Hammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadis Hammad ibnu Salamah.

Menurut kami, guru Hammad ibnu Salamah adalah Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an, orangnya daif dan garib dalam periwayatannya.
Dia meriwayatkan hadis ini dari ibu tirinya yang bernama Ummu Muhammad (yaitu Umayyah binti Abdullah), dari Siti Aisyah.
Di dalam kitab-kitab hadis tidak terdapat hadis lainnya dari Umayyah binti Abdullah dari Siti Aisyah r.a.
kecuali hanya hadis ini.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 284
Telah menceritakan kepada kami Muhammad Telah menceritakan kepada kami An Nafali Telah menceritakan kepada kami Miskin dari Syu’bah dari Khalid Al Hadza dari Marwan Al Ashfar dari salah seorang sahabat Nabi ﷺ yaitu Ibnu Umar, bahwa ayat, Jika kalian menampakkan apa yang ada dalam diri kalian atau menyembunyikannya (QS. Al Baqarah: ) telah di naskh.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4181

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 284

Diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain, yang bersumber dari Abu Hurairah.
Dan diriwayatkan pula oleh Muslim dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa ketika turun ayat,….wa ing tubduu maa fii angfusikum au tukhfuuhu yuhasbikum bihillaah…(..dan jika kamu melahirkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu…) (al-Baqarah: 284), para shahabat merasa keberatan, sehingga datang kepada Rasulullah sambil berlutut memohon keringanan, dengan berkata: “Kami tidak mampu mengikuti ayat ini (al-Baqarah: 284).” Nabi ﷺ bersabda: “Apakah kalian akan berkata ‘sami’naa wa ‘ashainaa’ (kami mendengar, akan tetapi tidak mau menurut) seperti yang diucapkan oleh ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) sebelum kalian?
Ucapkanlah, sami’naa wa atha’naa ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir (kami mendengar dan taat; ampunilah kami ya Rabbanaa, hanya kepada-Mu lah tempat kembali).” Setelah dibacakan kepada para shahabat dan lidah merekapun sudah terbiasa, turunlah ayat ini (al-Baqarah: 285).
Kemudian mereka melaksanakan ayat tersebut (al-Baqarah: 285).
Lalu turunlah ayat selanjutnya (al-Baqarah: 286).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (284-286) - Indonesian - Apsari Indriyani
QS 2 Al-Baqarah (284-286) - Arabic - Apsari Indriyani


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 284 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 284



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku