Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 282


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا تَدَایَنۡتُمۡ بِدَیۡنٍ اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی فَاکۡتُبُوۡہُ ؕ وَ لۡیَکۡتُبۡ بَّیۡنَکُمۡ کَاتِبٌۢ بِالۡعَدۡلِ ۪ وَ لَا یَاۡبَ کَاتِبٌ اَنۡ یَّکۡتُبَ کَمَا عَلَّمَہُ اللّٰہُ فَلۡیَکۡتُبۡ ۚ وَ لۡیُمۡلِلِ الَّذِیۡ عَلَیۡہِ الۡحَقُّ وَ لۡیَتَّقِ اللّٰہَ رَبَّہٗ وَ لَا یَبۡخَسۡ مِنۡہُ شَیۡئًا ؕ فَاِنۡ کَانَ الَّذِیۡ عَلَیۡہِ الۡحَقُّ سَفِیۡہًا اَوۡ ضَعِیۡفًا اَوۡ لَا یَسۡتَطِیۡعُ اَنۡ یُّمِلَّ ہُوَ فَلۡیُمۡلِلۡ وَلِیُّہٗ بِالۡعَدۡلِ ؕ وَ اسۡتَشۡہِدُوۡا شَہِیۡدَیۡنِ مِنۡ رِّجَالِکُمۡ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یَکُوۡنَا رَجُلَیۡنِ فَرَجُلٌ وَّ امۡرَاَتٰنِ مِمَّنۡ تَرۡضَوۡنَ مِنَ الشُّہَدَآءِ اَنۡ تَضِلَّ اِحۡدٰىہُمَا فَتُذَکِّرَ اِحۡدٰىہُمَا الۡاُخۡرٰی ؕ وَ لَا یَاۡبَ الشُّہَدَآءُ اِذَا مَا دُعُوۡا ؕ وَ لَا تَسۡـَٔمُوۡۤا اَنۡ تَکۡتُبُوۡہُ صَغِیۡرًا اَوۡ کَبِیۡرًا اِلٰۤی اَجَلِہٖ ؕ ذٰلِکُمۡ اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ اَقۡوَمُ لِلشَّہَادَۃِ وَ اَدۡنٰۤی اَلَّا تَرۡتَابُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَ تِجَارَۃً حَاضِرَۃً تُدِیۡرُوۡنَہَا بَیۡنَکُمۡ فَلَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ اَلَّا تَکۡتُبُوۡہَا ؕ وَ اَشۡہِدُوۡۤا اِذَا تَبَایَعۡتُمۡ ۪ وَ لَا یُضَآرَّ کَاتِبٌ وَّ لَا شَہِیۡدٌ ۬ؕ وَ اِنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاِنَّہٗ فُسُوۡقٌۢ بِکُمۡ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ وَ یُعَلِّمُکُمُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu idzaa tadaayantum bidainin ila ajalin musamman faaktubuuhu walyaktub bainakum kaatibun bil ‘adli walaa ya’ba kaatibun an yaktuba kamaa ‘allamahullahu falyaktub walyumlilil-ladzii ‘alaihil haqqu walyattaqillaha rabbahu walaa yabkhas minhu syai-an fa-in kaanal-ladzii ‘alaihil haqqu safiihan au dha’iifan au laa yastathii’u an yumilla huwa falyumlil walii-yuhu bil ‘adli waastasyhiduu syahiidaini min rijaalikum fa-in lam yakuunaa rajulaini farajulun waamraataani mimman tardhauna minasyyuhadaa-i an tadhilla ihdaahumaa fatudzakkira ihdaahumaal akhra walaa ya’basyyuhadaa-u idzaa maa du’uu walaa tasamuu an taktubuuhu shaghiiran au kabiiran ila ajalihi dzalikum aqsathu ‘indallahi waaqwamu li-sysyahaadati waadna alaa tartaabuu ilaa an takuuna tijaaratan haadhiratan tudiiruunahaa bainakum falaisa ‘alaikum junaahun alaa taktubuuhaa waasyhiduu idzaa tabaaya’tum walaa yudhaarra kaatibun walaa syahiidun wa-in taf’aluu fa-innahu fusuuqun bikum waattaquullaha wayu’allimukumullahu wallahu bikulli syai-in ‘aliimun;

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.
Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.
Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.
Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.
Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu).
Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.
Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.
Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.
(Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya.
Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan.
Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu.
Dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
―QS. 2:282
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Allah memiliki kunci alam ghaib
2:282, 2 282, 2-282, Al Baqarah 282, AlBaqarah 282, Al-Baqarah 282
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 282. Oleh Kementrian Agama RI

Dengan adanya perintah membelanjakan harta di jalan Allah, anjuran bersedekah dan larangan melakukan riba, maka tidak boleh tidak manusia harus berusaha memelihara dan memperkembangkan hartanya, tidak menyia-nyiakannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa harta itu sendiri bukan sesuatu yang dibenci Allah dan dicela agama Islam.
Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala di samping memberi perintah untuk itu, juga memberi petunjuk dan menetapkan ketentuan-ketentuan umum serta hukum-hukum yang mengatur cara-cara mencari, memelihara, menggunakan dan menafkahkan harta di jalan Allah.
Harta yang diperoleh sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah adalah harta yang paling baik, sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

Harta yang paling baik ialah harta kepunyaan orang saleh.
(Ahmad dan At Tabrani dari Amar bin ‘As)

Yang dibenci Allah dan yang dicela agama Islam ialah harta yang diperoleh dengan cara-cara yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan harta orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai budak harta.
Seluruh kehidupan, usaha dan pikirannya dicurahkan untuk menumpuk harta dan memperkaya diri sendiri.
Karena itu timbullah sifat-sifat tamak, serakah, bakhil dan kikir pada dirinya sehingga ia tidak mengindahkan orang yang miskin dan terlantar.

Bersabda Rasulullah ﷺ:

“Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham.
(HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada orang yang beriman agar mereka melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah setiap melakukan perjanjian perserikatan yang tidak tunai, yaitu melengkapinya dengan alat-alat bukti sehingga dapat dijadikan dasar untuk menyelesaikan perselisihan yang mungkin timbul di kemudian hari.
Pembuktian itu ialah:

1.Bukti tertulis
2.Saksi

1.Bukti tertulis
Bukti tertulis hendaklah ditulis oleh seorang juru tuli, yang menuliskan isi perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Syarat-syarat juru tulis itu ialah:

a.Hendaklah juru tulis itu orang adil, tidak memihak kepada salah satu dari pihak-pihak yang mengadakan perjanjian, sehingga menguntungkan pihak yang satu dan merugikan pihak yang lain.
b.Hendaklah juru tulis itu mengetahui hukum-hukum Allah terutama yang berhubungan dengan hukum perjanjian, sehingga ia dapat memberi nasihat dan petunjuk yang benar kepada pihak-pihak yang berjanji itu, karena juru tulis itu ikut bertanggung jawab dan menjadi juru pendamai antara pihak-pihak yang berjanji, seandainya terjadi perselisihan di kemudian hari.

Dalam susunan ayat ini didahulukan menyebut sifat “adil” daripada sifat “berilmu” adalah karena sifat adil lebih utama ada pada seorang juru tulis.
Banyak orang yang berilmu, tetapi mereka tidak adil, karena itu diragukan kebenaran petunjuk dan nasihat yang diberikannya.
Orang yang adil sekalipun ilmunya kurang dapat diharapkan daripadanya nasihat dan petunjuk yang benar dan tidak memihak.

Tugas juru tulis itu ialah menuliskan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang berjanji.
Caranya ialah pihak yang berutang mendiktekan kepada juru tulis tentang sesuatu yang telah dipinjamnya dan cara serta pelaksanaan perjanjian itu dan sebagainya.
Tujuan mendiktekan isi perjanjian itu oleh pihak yang berjanji ialah agar yang ditulis itu merupakan pengakuan dari pihak yang berutang, karena dengan tulisan semata-mata tanpa ada ucapan yang dilakukan oleh pihak yang berutang, maka yang ditulis itu saja tidak dapat dijadikan sebagai pengakuan.

Dalam pada itu Allah memperingatkan orang-orang yang berjanji agar ia selalu menepati janjinya dengan baik.
Hendaklah ia takut kepada Allah, hati-hati terhadap janji yang telah diucapkan, jangan sekali-kali dikurangi atau sengaja lalai dalam melaksanakannya.
Hendaklah bersyukur kepada Allah yang telah melunakkan hati orang yang telah membantunya dalam kesukaran.
Bila ia bersyukur, Allah akan selalu menjaga, memelihara serta memberinya petunjuk ke jalan yang mudah dan ke jalan kebahagiaan.

Jika orang yang berjanji itu adalah orang yang lemah akalnya atau dia sendiri tidak berkesanggupan untuk mendiktekan, maka hak untuk mendiktekan itu pindah ke tangan wali yang bersangkutan.
Hendaklah wali itu orang yang adil dan mengetahui tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan muamalah.
Hendaklah para wali berhati-hati dalam melaksanakan tugas perwalian itu.
Yang dimaksud dengan “orang yang lemah akalnya” ialah orang yang belum cakap memelihara dan menggunakan hartanya.
Orang yang tidak sanggup mengimlakkan ialah seperti orang bisu, orang yang gagap dan sebagainya.

2.Saksi
“Saksi” ialah orang yang melihat dan mengetahui terjadinya sesuatu kejadian atau peristiwa.
Persaksian termasuk salah satu dari alat-alat bukti (bayyinah) yang dapat dijadikan dasar untuk menyelesaikan sesuatu perselisihan atau perkara.
Menurut ayat ini persaksian dalam muamalah sekurang-kurangnya dilakukan oleh dua orang laki-laki atau jika tidak ada dua orang laki-laki boleh dilakukan oleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan.

Mengenai syarat-syarat laki-laki bagi yang akan menjadi saksi adalah sebagai berikut:

a.Saksi itu hendaklah seorang muslim.
Pendapat ini berdasarkan perkataan “min rijaalikum” (dari orang laki-laki di antara kamu orang-orang yang beriman) yang terdapat di dalam ayat.
Dari perkataan ini dipahami bahwa saksi itu hendaklah seorang muslim.
Menurut sebagian ulama, beragama Islam bukanlah merupakan syarat bagi seorang saksi dalam muamalah.
Karena tujuan persaksian di dalam muamalah ialah agar ada alat-alat bukti seandainya terjadi perselisihan atau perkara antara pihak-pihak yang berjanji di kemudian hari.
Karena itu orang yang tidak beragama Islam dibolehkan menjadi saksi asal saja tujuan mengadakan persaksian itu dapat tercapai.

b.Saksi itu hendaklah seorang yang adil, tidak memihak sehingga tercapailah tujuan diadakannya persaksian, sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

….dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.
(Q.S At Talaq: 2)

Selanjutnya ayat ini membedakan persaksian laki-laki dengan persaksian perempuan.
Seorang saksi laki-laki dapat diganti dengan dua orang saksi perempuan.

Para ulama berbeda pendapat tentang apa sebabnya Allah membedakan jumlah saksi laki-laki dengan jumlah saksi perempuan itu.
Alasan yang sesuai dengan akal pikiran ialah bahwa laki-laki dan perempuan itu masing-masing diciptakan Allah mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Masing-masing mempunyai kesanggupan dan kemampuan dalam suatu lapangan lebih besar dari kesanggupan pihak yang lain.
Dalam bidang muamalah laki-laki lebih banyak mempunyai kemampuan dibandingkan dengan perempuan dan pada umumnya muamalah itu lebih banyak laki-laki yang mengerjakannya.
Karena perhatian perempuan kurang dibandingkan dengan perhatian laki-laki dalam bidang muamalah, maka pemikiran dan ingatan mereka dalam bidang ini pun kurang pula.
Bila persaksian dilakukan oleh seorang wanita, kemungkinan ia lupa, ,karena itu hendaklah ada wanita yang lain yang ikut sebagai saksi yang dapat mengingatkannya.

Menurut Syekh Ali Ahmad Al-Jurjani: “Laki-laki lebih banyak menggunakan pikiran dalam menimbang suatu masalah yang dihadapinya, sedang wanita lebih banyak menggunakan perasaannya.
Karena itu wanita lebih lemah iradahnya, kurang banyak menggunakan pikirannya dalam masalah pelik, lebih-lebih apabila ia dalam keadaan benci dan marah, ia akan gembira atau sedih karena sesuatu hal yang kecil.
Lain halnya dengan laki-laki, ia sanggup, tabah dan sabar menanggung kesukaran, ia tidak menetapkan sesuatu urusan kecuali setelah memikirkannya dengan matang.”

Bidang muamalah adalah bidang yang lebih banyak menggunakan pikiran daripada perasaan.
Dalam pada itu seorang saksi dalam muamalah juga berfungsi sebagai juru pendamai antara pihak-pihak yang berjanji bila terjadi perselisihan di kemudian hari.
Berdasarkan keterangan Syekh Ali Ahmad Al-Jurjani dan keterangan-keterangan berikutnya diduga itulah di antara hikmah mengapa Allah menyamakan saksi seorang laki-laki dengan saksi dua orang perempuan.

Menurut Imam Syafii: “Penerimaan persaksian seseorang saksi hendaklah dengan bersumpah.
Beliau beralasan dengan sunah Rasulullah ﷺ yang mana beliau menyuruh saksi mengucapkan sumpah sebelum mengucapkan kesaksiannya.” Sedang menurut Abu Hanifah: “Penerimaan kesaksian seorang tidak perlu disertai dengan sumpah.”

Dalam ayat ini disebutkan bahwa “janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil”,
maksudnya ialah:

1.Hendaklah seseorang bersedia menjadi saksi dalam suatu kejadian atau peristiwa, bila kesaksiannya diperlukan.
2.Hendaklah seseorang bersedia menjadi saksi bila terjadi suatu perkara, sedang ia adalah orang yang mengetahui terjadinya peristiwa itu.
3.Hendaklah seseorang bersedia menjadi saksi terhadap suatu peristiwa yang terjadi, bila tidak ada orang lain yang akan menjadi saksi.

Diriwayatkan oleh Ar-Rabi’ bahwa ayat ini diturunkan ketika seorang laki-laki mencari saksi di kalangan orang banyak untuk meminta persaksian mereka, tetapi tidak seorang pun yang bersedia.

Menurut suatu pendapat yang dimaksud dengan “janganlah mereka enggan” ialah janganlah mereka enggan menerima permintaan menjadi saksi dan melaksanakannya.
Enggan melakukan keduanya itu hukumnya haram.
Hukum melakukan persaksian itu fardu kifayah.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan lagi perintah-Nya, agar orang-orang yang beriman jangan malas dan jangan jemu menuliskan perjanjian yang akan dilakukannya baik kecil maupun besar dan dijelaskan syarat-syarat dan waktunya.

Dalam ayat ini Allah mendahulukan menyebut “yang kecil” dari “yang besar”,
karena kebanyakan manusia selalu memandang enteng dan menganggap mudah perjanjian yang kecil.
Orang yang bermudah-mudah dalam perjanjian yang kecil tentu ia akan bermudah-mudah pula dalam perjanjian yang besar.
Dari ayat ini juga dapat dipahamkan bahwa Allah memperingatkan kepada manusia agar berhati-hati dalam persoalan hak dan kewajiban, sekalipun hak dan kewajiban itu kecil.

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan hikmah perintah dan larangan yang terdapat pada permulaan ayat ini ialah untuk menegakkan keadilan, menegakkan persaksian, untuk menimbulkan keyakinan dan menghilangkan keragu-raguan.

Jika perdagangan dilakukan secara tunai, maka tidaklah ia berdosa bila tidak dituliskannya.
Dari ayat ini dipahami bahwa sekalipun tidak berdosa bila tidak menuliskan perdagangan secara tunai itu, namun yang paling baik ialah bila selalu dituliskannya, baik tunai atau tidak.

Sekalipun tidak diwajibkan menuliskan perdagangan tunai itu namun Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk mendatangkan saksi-saksi.
Perintah di sini bukan wajib, hanyalah memberi pengertian sunat.
Tujuannya ialah agar manusia selalu berhati-hati di dalam muamalah.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan agar juru tulis, saksi dan orang-orang yang melakukan perjanjian memudahkan pihak-pihak yang lain, jangan menyulitkan dan jangan pula salah satu pihak bertindak yang berakibat merugikan pihak yang lain.
Sebab terlaksananya perjanjian dengan baik bila masing-masing pihak mempunyai niat yang baik terhadap pihak yang lain.

Berfirman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu.
(Q.S Al Baqarah: 237)

Jika seseorang mempersulit atau merugikan orang lain, maka perbuatan yang demikian adalah perbuatan orang-orang fasik, dan tidak menaati ketentuan-ketentuan dari Allah subhanahu wa ta’ala

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar manusia bertakwa kepada-Nya dengan memelihara diri supaya selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya.
Dia mengajarkan kepada manusia segala yang berguna baginya, yaitu cara-cara memelihara harta, cara menggunakannya sedemikian rupa sehingga menimbulkan ketenangan bagi dirinya dan orang-orang yang membantunya dalam usaha mencari dan menggunakan harta itu.
Allah mengetahui segala sesuatu yang diperbuat manusia, dan Dia akan memberi balasan sesuai dengan perbuatan itu.

Al Baqarah (2) ayat 282 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 282 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 282 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan utang piutang (tidak secara tunai) dengan waktu yang ditentukan, maka waktunya harus jelas, catatlah waktunya untuk melindungi hak masing- masing dan menghindari perselisihan.
Yang bertugas mencatat itu hendaknya orang yang adil.
Dan janganlah petugas pencatat itu enggan menuliskannya sebagai ungkapan rasa syukur atas ilmu yang diajarkan-Nya.
Hendaklah ia mencatat utang tersebut sesuai dengan pengakuan pihak yang berutang, takut kepada Allah dan tidak mengurangi jumlah utangnya.
Kalau orang yang berutang itu tidak bisa bertindak dan menilai sesuatu dengan baik, lemah karena masih kecil, sakit atau sudah tua, tidak bisa mendiktekan karena bisu, karena gangguan di lidah atau tidak mengerti bahasa transaksi, hendaknya wali yang ditetapkan agama, pemerintah atau orang yang dipilih olehnya untuk mendiktekan catatan utang, mewakilinya dengan jujur.
Persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki.
Kalau tidak ada dua orang laki- laki maka boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan untuk menjadi saksi ketika terjadi perselisihan.
Sehingga, kalau yang satu lupa, yang lain mengingatkan.
Kalau diminta bersaksi, mereka tidak boleh enggan memberi kesaksian.
Janganlah bosan-bosan mencatat segala persoalan dari yang kecil sampai yang besar selama dilakukan secara tidak tunai.
Sebab yang demikian itu lebih adil menurut syariat Allah, lebih kuat bukti kebenaran persaksiannya dan lebih dekat kepada penghilangan keraguan di antara kalian.
Kecuali kalau transaksi itu kalian lakukan dalam perdagangan secara langsung (tunai), kalian tidak perlu mencatatnya, sebab memang tidak diperlukan.
Yang diminta dari kalian hanyalah persaksian atas transaksi untuk menyelesaikan perselisihan.
Hindarilah tindakan menyakiti penulis dan saksi.
Sebab yang demikian itu berarti tidak taat kepada Allah.
Takutlah kalian kepada-Nya.
Dan rasakanlah keagungan-Nya dalam setiap perintah dan larangan.
Dengan begitu hati kalian dapat memandang sesuatu secara proporsional dan selalu condong kepada keadilan.
Allah menjelaskan hak dan kewajiban kalian.
Dan Dia Maha Mengetahui segala perbuatan kalian dan yang lainnya[1].

[1] Masalah hukum yang paling pelik di semua perundang-undangan modern adalah kaidah afirmasi.
Yaitu, cara-cara penetapan hak bagi seseorang jika mengambil jalur hukum untuk menuntut pihak lain.
Al-Qur’an mewajibkan manusia untuk bersikap proporsional dan berlaku adil.
Jika mereka sadar akan itu, niscaya akan meringankan pekerjaan para hakim.
Akan tetapi jiwa manusia yang tercipta dengan berbagai macam tabiat seperti cinta harta, serakah, lupa dan suka balas dendam, menjadikan hak-hak kedua pihak diperselisihkan.
Maka harus ada kaidah-kaidah penetapan yang membuat segalanya jelas.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengadakan utang piutang), maksudnya muamalah seperti jua beli, sewa-menyewa, utang-piutang dan lain-lain (secara tidak tunai), misalnya pinjaman atau pesanan (untuk waktu yang ditentukan) atau diketahui, (maka hendaklah kamu catat) untuk pengukuhan dan menghilangkan pertikaian nantinya.
(Dan hendaklah ditulis) surat utang itu (di antara kamu oleh seorang penulis dengan adil) maksudnya benar tanpa menambah atau mengurangi jumlah utang atau jumlah temponya.
(Dan janganlah merasa enggan) atau berkeberatan (penulis itu) untuk (menuliskannya) jika ia diminta, (sebagaimana telah diajarkan Allah kepadanya), artinya telah diberi-Nya karunia pandai menulis, maka janganlah dia kikir menyumbangkannya.
‘Kaf’ di sini berkaitan dengan ‘ya’ba’ (Maka hendaklah dituliskannya) sebagai penguat (dan hendaklah diimlakkan) surat itu (oleh orang yang berutang) karena dialah yang dipersaksikan, maka hendaklah diakuinya agar diketahuinya kewajibannya, (dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah, Tuhannya) dalam mengimlakkan itu (dan janganlah dikurangi darinya), maksudnya dari utangnya itu (sedikit pun juga.
Dan sekiranya orang yang berutang itu bodoh) atau boros (atau lemah keadaannya) untuk mengimlakkan disebabkan terlalu muda atau terlalu tua (atau ia sendiri tidak mampu untuk mengimlakkannya) disebabkan bisu atau tidak menguasai bahasa dan sebagainya, (maka hendaklah diimlakkan oleh walinya), misalnya bapak, orang yang diberi amanat, yang mengasuh atau penerjemahnya (dengan jujur.
Dan hendaklah persaksikan) utang itu kepada (dua orang saksi di antara laki-lakimu) artinya dua orang Islam yang telah balig lagi merdeka (Jika keduanya mereka itu bukan), yakni kedua saksi itu (dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan) boleh menjadi saksi (di antara saksi-saksi yang kamu sukai) disebabkan agama dan kejujurannya.
Saksi-saksi wanita jadi berganda ialah (supaya jika yang seorang lupa) akan kesaksian disebabkan kurangnya akal dan lemahnya ingatan mereka, (maka yang lain (yang ingat) akan mengingatkan kawannya), yakni yang lupa.
Ada yang membaca ‘tudzkir’ dan ada yang dengan tasydid ‘tudzakkir’.
Jumlah dari idzkar menempati kedudukan sebagai illat, artinya untuk mengingatkannya jika ia lupa atau berada di ambang kelupaan, karena itulah yang menjadi sebabnya.
Menurut satu qiraat ‘in’ syarthiyah dengan baris di bawah, sementara ‘tudzakkiru’ dengan baris di depan sebagai jawabannya.
(Dan janganlah saksi-saksi itu enggan jika) ‘ma’ sebagai tambahan (mereka dipanggil) untuk memikul dan memberikan kesaksian (dan janganlah kamu jemu) atau bosan (untuk menuliskannya), artinya utang-utang yang kamu saksikan, karena memang banyak orang yang merasa jemu atau bosan (biar kecil atau besar) sedikit atau banyak (sampai waktunya), artinya sampai batas waktu membayarnya, menjadi ‘hal’ dari dhamir yang terdapat pada ‘taktubuh’ (Demikian itu) maksudnya surat-surat tersebut (lebih adil di sisi Allah dan lebih mengokohkan persaksian), artinya lebih menolong meluruskannya, karena adanya bukti yang mengingatkannya (dan lebih dekat), artinya lebih kecil kemungkinan (untuk tidak menimbulkan keraguanmu), yakni mengenai besarnya utang atau jatuh temponya.
(Kecuali jika) terjadi muamalah itu (berupa perdagangan tunai) menurut satu qiraat dengan baris di atas hingga menjadi khabar dari ‘takuuna’ sedangkan isimnya adalah kata ganti at-tijaarah (yang kamu jalankan di antara kamu), artinya yang kamu pegang dan tidak mempunyai waktu berjangka, (maka tidak ada dosa lagi kamu jika kamu tidak menulisnya), artinya barang yang diperdagangkan itu (hanya persaksikanlah jika kamu berjual beli) karena demikian itu lebih dapat menghindarkan percekcokan.
Maka soal ini dan yang sebelumnya merupakan soal sunah (dan janganlah penulis dan saksi -maksudnya yang punya utang dan yang berutang- menyulitkan atau mempersulit), misalnya dengan mengubah surat tadi atau tak hendak menjadi saksi atau menuliskannya, begitu pula orang yang punya utang, tidak boleh membebani si penulis dengan hal-hal yang tidak patut untuk ditulis atau dipersaksikan.
(Dan jika kamu berbuat) apa yang dilarang itu, (maka sesungguhnya itu suatu kefasikan), artinya keluar dari taat yang sekali-kali tidak layak (bagi kamu dan bertakwalah kamu kepada Allah) dalam perintah dan larangan-Nya (Allah mengajarimu) tentang kepentingan urusanmu.
Lafal ini menjadi hal dari fi`il yang diperkirakan keberadaannya atau sebagai kalimat baru.
(Dan Allah mengetahui segala sesuatu).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya Muhammad, bila kalian bermuamalah dengan hutang untuk jangka waktu tertentu maka tulislah demi menjaga harta dan menepis perselisihan.
Hendaknya yang menulis adalah seorang laki-laki yang dipercaya lagi teliti.
Hendaknya orang yang telah diajari menulis oleh Allah tidak menolak untuk melakukan hal itu.
Hendaknya pihak penghutang mendiktekan hutang yang dipikulnya, merasa diawasi oleh Rabbnya dan tidak mengurangi hutangnya sedikitpun.
Bila pihak penghutang adalah seseorang yang telah mendapatkan vonis tidak boleh bertransaksi karena dia menghambur-hamburkan hartanya atau berfoya-foya, atau dia masih kecil atau orang gila, atau tidak bisa berbicara karena bisu atau tidak mampu berbicara secara sempurna, maka hendaknya walinya yang melakukan hal itu untuknya.
Carilah dua orang saksi muslim dewasa dari kalangan orang-orang yang adil.
Bila tidak ada dua orang laki-laki, maka terimalah kesaksian satu orang laki-laki dan dua orang wanita yang kalian terima kesaksiannya, sehingga bila salah seorang dari kedua wanita tersebut lupa maka yang lainnya mengingatkannya.
Hendaknya para saksi berkenan mengabulkan permintaan siapa yang meminta mereka untuk bersaksi, para saksi juga harus memberikan kesaksiannya bila diminta untuk itu.
Jangan merasa jenuh untuk menulis hutang-piutang, besar maupun kecil, sampai waktu yang telah ditentukan, karena hal itu lebih adil dalam syariat Allah dan petunjuk-Nya, lebih membantu dalam menegakkan kesaksian dan menunaikannya, serta lebih menjauhkan kemungkinan terjadinya keragu-raguan terkait dengan jenis hutang, kadar dan waktu pelunasannya.
Akan tetapi bila masalahnya adalah jual beli, mengambil barang dan membayar harganya saat itu juga, maka tidak diperlukan penulisan, dianjurkan mengajukan saksi dalam hal ini demi menepis perselisihan dan percekcokan.
Di antara kewajiban saksi dan penulis adalah menunaikan kesaksian sebagaimana ia dan penulisan sebagimana yang diperintahkan oleh Allah.
Pemilik hak atau pemikul kewajiban tidak boleh menimpakan kesulitan kepada penulis dan saksi, demikian pula penulis dan saksi tidak boleh merugikan pihak yang memerlukan penulisan dan kesaksiannya.
Bila kalian melakukan apa yang dilarang, maka hal itu merupakan penyimpangan dari ketaatan kepada Allah dan akibat buruknya akan menimpa kalian sendiri.
Takutlah kalian semuanya kepada Allah dalam segala apa yang Dia perintahkan dan Dia larang.
Dia mengajarkan kepada kalian segala apa yang bermanfaat di dunia dan akhirat kalian.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tiada yang samar bagi Allah dari urusan-urusan kalian dan Dia akan membalas kalian sesuai dengan apa yang kalian kerjakan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat yang mulia ini merupakan ayat yang terpanjang di dalam Al-Qur’an.

Imam Abu Jafar ibnu jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab yang menceritakan bahwa telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnul Musayyab, telah sampai kepadanya bahwa ayat Al-Qur’an yang menceritakan peristiwa yang terjadi di Arasy adalah ayat dain (utang piutang).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa tatkala ayat mengenai utang piutang diturunkan, Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya orang yang mula-mula berbuat ingkar adalah Adam ‘alaihis salam Bahwa setelah Allah menciptakan Adam, lalu Allah mengusap punggung Adam, dan dikeluarkan dari punggungnya itu semua keturunannya hingga hari kiamat, semua keturunannya ditampilkan kepadanya.
Lalu Adam melihat di antara mereka seorang lelaki yang kelihatan cemerlang.
Maka Adam bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah orang ini?”
Allah menjawab, “Dia adalah anakmu Daud.” Adam berkata, “Wahai Tuhanku, berapakah umurnya?”
Allah menjawab, “Enam puluh tahun.” Adam berkata, “Wahai Tuhanku, tambahlah usianya.” Allah berfirman, “Tidak dapat, kecuali jika Aku menambahkannya dari usiamu.” Dan tersebutlah bahwa usia Adam (ditakdirkan) selama seribu tahun.
Maka Allah menambahkan kepada Daud empat puluh tahun (diambil dari usia Adam).
Lalu Allah mencatatkan hal tersebut ke dalam suatu catatan dan dipersaksikan oleh para malaikat.
Ketika Adam menjelang wafat dan para malaikat datang kepadanya, maka Adam berkata, “Sesungguhnya masih tersisa usiaku selama empat puluh tahun.” Lalu dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya kamu telah memberikannya kepada anakmu Daud.” Adam menyangkal, “Aku tidak pernah melakukannya.” Maka Allah menampakkan kepadanya catatan itu dan para malaikat mempersaksikannya.
Telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir ibnu Hammad ibnu Salamah, lalu ia menyebutkan hadis ini, tetapi di dalamnya ditambahkan seperti berikut: Maka Allah menggenapkan usia Daud menjadi seratus tahun, dan menggenapkan bagi Adam usia seribu tahun.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Yusuf ibnu Abu Habib, dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Hammad ibnu Salamah.
Hadis ini garib sekali.
Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an hadis-hadisnya berpredikat munkar (tidak dapat diterima).

Tetapi hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya dengan lafaz yang semisal dari hadis Al-Haris ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Wisab, dari Sa’id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah.
Juga dari riwayat Abu Daud ibnu Abu Hind, dari Asy-Sya’bi, dari Abu Hurairah, serta dari jalur Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, juga dari hadis Tammam ibnu Sa’d, dari Zaid ibnu Aslam, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ Lalu Imam Hakim menuturkan hadis yang semisal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.

Hal ini merupakan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala buat hamba-hamba-Nya yang mukmin apabila mereka mengadakan muamalah secara tidak tunai, yaitu hendaklah mereka mencatatkannya, karena catatan itu lebih memelihara jumlah barang dan masa pembayarannya serta lebih tegas bagi orang yang menyaksikannya.
Hikmah ini disebutkan dengan jelas dalam akhir ayat, yaitu melalui firman-Nya:

Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan kesaksian dan lebih dekat kepada tidak’ (menimbulkan) keraguan kalian.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.
(Al Baqarah:282) Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan transaksi salam yang dibatasi dengan waktu tertentu.

Qatadah meriwayatkan dari Abu Hassan Al-A:raj, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Aku bersaksi bahwa utang yang dalam tanggungan sampai dengan batas waktu yang tertentu merupakan hal yang dihalalkan dan diizinkan oleh Allah pemberlakuannya.” Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan.
(Al Baqarah:282)

Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari.
Telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Abdullah ibnu Kasir, dari Abul Minhal, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, para penduduknya telah terbiasa saling mengutangkan buah-buahan untuk masa satu tahun, dua tahun, sampai tiga tahun.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang berutang, maka hendaklah ia berutang dalam takaran yang telah dimaklumi dan dalam timbangan yang telah dimaklumi untuk waktu yang ditentukan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…hendaklah kalian menuliskannya.

Melalui ayat ini Allah memerintahkan adanya catatan untuk memperkuat dan memelihara.
Apabila timbul suatu pertanyaan bahwa telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain dari Abdullah ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi (buta huruf), kami tidak dapat menulis dan tidak pula menghitung.

Maka bagaimanakah menggabungkan pengertian antara hadis ini dan perintah mengadakan tulisan (catatan)?

Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa utang piutang itu bila dipandang dari segi hakikatnya memang tidak memerlukan catatan pada asalnya.
Dikatakan demikian karena Kitabullah telah dimudahkan oleh Allah untuk dihafal manusia, demikian pula sunnah-sunnah, semuanya dihafal dari Rasulullah ﷺ Hal yang diperintahkan oleh Allah untuk dicatat hanyalah masalah-masalah rinci yang biasa terjadi di antara manusia.
Maka mereka diperintahkan untuk melakukan hal tersebut dengan perintah yang mengandung arti petunjuk, bukan perintah yang berarti wajib seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama.

Ibnu Juraij mengatakan, “Barang siapa yang melakukan transaksi utang piutang, hendaklah ia mencatatnya, dan barang siapa yang melakukan jual beli, hendaklah ia mengadakan persaksian.

Qatadah mengatakan, disebutkan kepada kami bahwa Abu Sulaiman Al-Mur’isyi (salah seorang yang berguru kepada Ka’b) mengatakan kepada teman-teman (murid-murid)nya, “Tahukah kalian tentang seorang yang teraniaya yang berdoa kepada Tuhannya, tetapi doanya tidak dikabulkan?”
Mereka menjawab, “Mengapa bisa demikian?”
Abu Sulaiman berkata, “Dia adalah seorang lelaki yang menjual suatu barang untuk waktu tertentu, tetapi ia tidak memakai saksi dan tidak pula mencatatnya.
Ketika tiba masa pembayarannya, ternyata si pembeli mengingkarinya.
Lalu ia berdoa kepada Tuhannya, tetapi doanya tidak dikabulkan.
Demikian itu karena dia telah berbuat durhaka kepada Tuhannya (tidak menuruti perintah-Nya yang menganjurkannya untuk mencatat atau mempersaksikan hal itu).”

Abu Sa’id, Asy-Sya’bi, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Al-Hasan, Ibnu Juraij, dan Ibnu Zaid serta lain-lainnya mengatakan bahwa pada mulanya hal ini (menulis utang piutang dan jual beli) hukumnya wajib, kemudian di-mansukh oleh firman-Nya:

Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya).
(Al Baqarah:283)

Dalil lain yang memperkuat hal ini ialah sebuah hadis yang menceritakan tentang syariat umat sebelum kita, tetapi diakui oleh syariat kita serta tidak diingkari, yang isinya menceritakan tiada kewajiban untuk menulis dan mengadakan persaksian.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Lais, dari Ja’far ibnu Rabi’ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang mengisahkan dalam sabdanya: Bahwa (dahulu) ada seorang lelaki dan kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang yang juga dari kalangan Bani Israil agar meminjaminya uang sebanyak seribu dinar.
Maka pemilik uang berkata kepadanya, “Datangkanlah kepadaku para saksi agar transaksiku ini dipersaksikan oleh mereka.” Ia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksi.” Pemilik uang berkata, “Datangkanlah kepadaku seorang yang menjaminmu.” Ia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” Pemilik uang berkata, “Engkau benar.” Lalu pemilik uang memberikan utang itu kepadanya untuk waktu yang ditentukan.
Lalu ia berangkat memakai jalan laut (naik perahu).
Setelah keperluannya selesai, lalu ia mencari perahu yang akan mengantarkannya ke tempat pemilik uang karena saat pelunasan utangnya hampir tiba.
Akan tetapi, ia tidak menjumpai sebuah perahu pun.
Akhirnya ia mengambil sebatang kayu, lalu melubangi tengahnya, kemudian uang seribu dinar itu dimasukkan ke dalam kayu itu berikut sepucuk surat buat alamat yang dituju.
Lalu lubang itu ia sumbat rapat, kemudian ia datang ke tepi laut dan kayu itu ia lemparkan ke dalamnya seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa aku pernah berutang kepada si Fulan sebanyak seribu dinar.
Ketika ia meminta kepadaku seorang penjamin, maka kukatakan, ‘Cukuplah Allah sebagai penjaminku,’ dan ternyata ia rela dengan hal tersebut.
Ia meminta saksi kepadaku, lalu kukatakan, ‘Cukuplah Allah sebagai saksi,’ dan ternyata ia rela dengan hal tersebut.
Sesungguhnya aku telah berusaha keras untuk menemukan kendaraan (perahu) untuk mengirimkan ini kepada orang yang telah memberiku utang, tetapi aku tidak menemukan sebuah perahu pun.
Sesungguhnya sekarang aku titipkan ini kepada Engkau.” Lalu ia melemparkan kayu itu ke laut hingga tenggelam ke dalamnya.
Sesudah itu ia berangkat dan tetap mencari kendaraan perahu untuk menuju ke negeri pemilik piutang.
Lalu lelaki yang memberinya utang keluar dan melihat-lihat barangkali ada perahu yang tiba membawa uangnya.
Ternyata yang ia jumpai adalah sebatang kayu tadi yang di dalamnya terdapat uang.
Maka ia memungut kayu itu untuk keluarganya sebagai kayu bakar.
Ketika ia membelah kayu itu, ternyata ia menemukan sejumlah harta dan sepucuk surat itu.
Kemudian lelaki yang berutang kepadanya tiba, dan datang kepadanya dengan membawa uang sejumlah seribu dinar, lalu berkata, “Demi Allah, aku terus berusaha keras mencari perahu untuk sampai kepadamu dengan membawa uangmu, tetapi ternyata aku tidak dapat menemukan sebuah perahu pun sebelum aku tiba dengan perahu ini.” Ia bertanya, “Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?”
Lelaki yang berutang balik bertanya, “Bukankah aku telah katakan kepadamu bahwa aku tidak menemukan sebuah perahu pun sebelum perahu yang datang membawaku sekarang?”
Ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah membayarkan utangmu melalui apa yang engkau kirimkan di dalam kayu tersebut.
Maka kembalilah kamu dengan seribu dinarmu itu dengan sadar.”

Sanad hadis ini sahih, dan Imam Bukhari meriwayatkannya dalam tujuh tempat (dari kitabnya) melalui berbagai jalur yang sahih secara muallaq dan memakai sigat jazm (ungkapan yang tegas).
Untuk itu ia mengatakan bahwa Lais ibnu Sa’id pernah meriwayatkan, lalu ia menuturkan hadis ini.

Menurut suatu pendapat, Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadis ini melalui Abdullah ibnu Saleh, juru tulis Al-Lais, dari Al-Lais.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan hendaklah seorang penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar.

Yakni secara adil dan benar.
Dengan kata lain, tidak berat sebelah dalam tulisannya, tidak pula menuliskan, melainkan hanya apa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, tanpa menambah atau menguranginya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis.

Janganlah seorang yang pandai menulis menolak bila diminta untuk mencatatnya buat orang lain, tiada suatu hambatan pun baginya untuk melakukan hal ini.
Sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya apa yang belum ia ketahui sebelumnya, maka hendaklah ia bersedekah kepada orang lain yang tidak pandai menulis, melalui tulisannya.
Hendaklah ia menunaikan tugasnya itu dalam menulis, sesuai dengan apa yang disebutkan oleh sebuah hadis:

Sesungguhnya termasuk sedekah ialah bila kamu memberikan bantuan dalam bentuk jasa atau membantu orang yang bisu.

Dalam hadis yang lain disebutkan:

Barang siapa yang menyembunyikan suatu pengetahuan yang dikuasainya, maka kelak di hari kiamat akan dicocok hidungnya dengan kendali berupa api neraka.

Mujahid dan Ata mengatakan, orang yang pandai menulis diwajibkan mengamalkan ilmunya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.

Dengan kata lain, hendaklah orang yang berutang mengimlakan kepada si penulis tanggungan utang yang ada padanya, dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam hal ini.

…dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari utangnya.

Artinya, jangan sekali-kali ia menyembunyikan sesuatu dari utangnya.

Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya.

Yang dimaksud dengan istilah safih ialah orang yang dilarang ber-tasarruf karena dikhawatirkan akan berbuat sia-sia atau lain sebagainya.

…atau lemah keadaannya.

Yakni karena masih kecil atau berpenyakit gila.

…atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan.

Umpamanya karena bicaranya sulit atau ia tidak mengetahui mana yang seharusnya ia lakukan dan mana yang seharusnya tidak ia lakukan (tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah).
Dalam keadaan seperti ini disebutkan oleh firman-Nya:

…maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antara kalian).

Ayat ini memerintahkan mengadakan persaksian di samping tulisan untuk lebih memperkuat kepercayaan.

Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan.

Hal ini berlaku hanya dalam masalah harta dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Sesungguhnya persaksian wanita diharuskan dua orang untuk menduduki tempat seorang lelaki, hanyalah karena akal wanita itu kurang.
Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya:

telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ja’far, dari Amr ibnu Abu Amr, dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Hai semua kaum wanita, bersedekahlah dan banyaklah beristigfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah mayoritas penghuni neraka.
Lalu ada salah seorang wanita dari mereka yang kritis bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa kami adalah kebanyakan penghuni neraka?”
Nabi ﷺ menjawab, “Kalian banyak melaknat dan ingkar kepada suami.
Aku belum pernah melihat orang (wanita) yang lemah akal dan agamanya dapat mengalahkan orang (lelaki) yang berakal selain dari kalian.” Wanita itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan lemah akal dan agamanya itu?”
Nabi ﷺ bersabda, “Adapun kelemahan akalnya ialah kesaksian dua orang wanita mengimbangi kesaksian seorang lelaki, inilah segi kelemahan akalnya.
Dan ia diam selama beberapa malam tanpa salat serta berbuka dalam bulan Ramadan (karena haid), maka segi inilah kelemahan agamanya.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dari saksi-saksi yang kalian ridai.

Di dalarn ayat ini terkandung makna yang menunjukkan adanya persyaratan adil bagi saksi.
Makna ayat ini bersifat muqayyad (mengikat) yang dijadikan pegangan hukum oleh Imam Syafii dalam menangani semua kemutlakan di dalam Al-Qur’an yang menyangkut perintah mengadakan persaksian tanpa syarat.
Ayat ini dijadikan dalil oleh orang yang menolak kesaksian seseorang yang tidak dikenal.
Untuk itu ia mempersyaratkan, hendaknya seorang saksi itu haras adil lagi disetujui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Supaya jika seorang lupa.

Yakni jika salah seorang dari kedua wanita itu lupa terhadap kesaksiannya,

…maka yang seorang lagi mengingatkannya.

Maksudnya, orang yang lupa akan diingatkan oleh temannya terhadap kesaksian yang telah dikemukakannya.
Berdasarkan pengertian inilah sejumlah ulama ada yang membacanya fatuzakkira dengan memakai tasydid.
Sedangkan orang yang berpendapat bahwa kesaksian seorang wanita yang dibarengi dengan seorang wanita lainnya, membuat kesaksiannya sama dengan kesaksian seorang laki-laki, sesungguhnya pendapat ini jauh dari kebenaran.
Pendapat yang benar adalah yang pertama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila dipanggil.

Makna ayat ini menurut suatu pendapat yaitu ‘apabila para saksi itu dipanggil untuk mengemukakan kesaksiannya, maka mereka harus mengemukakannya’.
Pendapat ini dikatakan oleh Qatadah dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.
Hal ini sama dengan makna firman-Nya:

Dan janganlah penults enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis.

Berdasarkan pengertian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa mengemukakan kesaksian itu hukumnya fardu kifayah.
Menurut pendapat yang lain, makna ini merupakan pendapat jumhur ulama, dan yang dimaksud dengan firman-Nya:
Dan janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila dipanggil., menunjukkan pengertian pemberian keterangan secara hakiki.
Sedangkan firman-Nya, “Asy-syuhada” yang dimaksud dengannya ialah orang yang menanggung persaksian.
Untuk itu apabila ia dipanggil untuk memberikan keterangan, maka ia harus menunaikannya bila telah ditentukan.
Tetapi jika ia tidak ditentukan, maka hukumnya adalah fardu kifayah.

Mujahid dan Abu Mijlaz serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan, “Apabila kamu dipanggil menjadi saksi, maka kamu boleh memilih antara mau dan tidak.
Tetapi jika kamu telah bersaksi, kemudian dipanggil untuk memberikan keterangan, maka kamu harus menunaikannya.”

Di dalam kitab Sahih Muslim telah ditetapkan —demikian pula di dalam kitab-kitab sunnah lainnya— melalui jalur Malik, dari Abdullah ibnu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm, dari ayahnya (yaitu Abdullah ibnu Amr ibnu Usman), dari Abdur Rahman ibnu Abu Amrah, dari Zaid ibnu Khalid, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Maukah aku ceritakan kepada kalian sebaik-baik para saksi?
Yaitu orang yang memberikan keterangan (kesaksian)nya sebelum diminta untuk mengemukakannya.

Hadis lain dalam kitab Sahihain menyebutkan:

Maukah aku ceritakan kepada kalian para saksi yang buruk?
Yaitu orang-orang yang mengemukakan kesaksiannya sebelum diminta melakukannya.

Demikian pula sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Kemudian datanglah suatu kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpah, dan sumpah mereka mendahului kesaksiannya.

Menurut riwayat yang lain disebutkan:

Kemudian datanglah suatu kaum yang selalu mengemukakan kesaksian mereka, padahal mereka tidak diminta untuk mengemukakan kesaksiannya.

Mereka adalah saksi-saksi palsu.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Basri bahwa makna ayat ini mencakup kedua keadaan itu, yakni menanggung dan mengemukakan persaksian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan janganlah kalian jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.

Hal ini merupakan kesempurnaan dari petunjuk, yaitu perintah untuk mencatat hak, baik yang kecil maupun yang besar.
Karena disebutkan pada permulaannya.
la tas-amu, artinya janganlah kalian merasa enggan mencatat hak dalam jumlah seberapa pun, baik sedikit ataupun banyak, sampai batas waktu pembayarannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguan kalian.

Maksudnya, hal yang Kami perintahkan kepada kalian —yaitu mencatat hak bilamana transaksi dilakukan secara tidak tunai— merupakan hal yang lebih adil di sisi Allah.
Juga lebih menguatkan persaksian, yakni lebih kukuh kesaksian si saksi bila ia membubuhkan tanda tangannya, karena manakala ia melihatnya, ia pasti ingat akan persaksiannya.
Mengingat bisa saja seandainya ia tidak membubuhkan tanda tangannya, ia lupa pada persaksiannya, seperti yang kebanyakan terjadi.

…dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguan kalian.

Yakni lebih menghapus keraguan, bahkan apabila kalian berselisih pendapat, maka catatan yang telah kalian tulis di antara kalian dapat dijadikan sebagai rujukan, sehingga perselisihan di antara kalian dapat diselesaikan dan hilanglah rasa keraguan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kalian jalankan di antara kalian, maka tak ada dosa bagi kalian, (jika) kalian tidak menulisnya.

Dengan kata lain, apabila transaksi jual beli dilakukan secara kontan dan serah terima barang dan pembayarannya, tidak mengapa jika tidak dilakukan penulisan, mengingat tidak ada larangan bila tidak memakainya.

Adapun mengenai masalah persaksian atas jual beli, hal ini disebutkan oleh firman-Nya:

Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abdullah ibnu Bakr, telah menceritakan kepadaku Ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepadaku Ata ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli.
(Al Baqarah:282) Yaitu buatlah persaksian atas hak kalian jika memakai tempo waktu, atau tidak memakai tempo waktu.
Dengan kata lain, buatlah persaksian atas hak kalian dalam keadaan apa pun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Jabir ibnu Zaid, Mujahid, Ata, dan Ad-Dahhak hal yang semisal.

Asy-Sya’bi dan Al-Hasan mengatakan bahwa perintah yang ada dalam ayat ini di-mansukh oleh firman-Nya: Akan tetapi jika sebagian kalian mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanat-nya (utangnya).

Tetapi menurut jumhur ulama, perintah yang terkandung di dalam ayat ini ditafsirkan sebagai petunjuk dan anjuran, namun bukan perintah wajib.
Sebagai dalilnya ialah hadis Khuzaimah ibnu Sabit Al-Ansari yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Imarah ibnu Khuzaimah Al-Ansari, bahwa pamannya yang merupakan salah seorang sahabat Nabi ﷺ pernah menceritakan kepadanya hadis berikut: Nabi ﷺ pernah membeli seekor kuda dari seorang Arab Badui.
Setelah harganya disetujui, maka Nabi ﷺ mencari lelaki Badui itu untuk membayar harga kuda tersebut.
Nabi ﷺ mengambil keputusan yang cepat, sedangkan lelaki Badui itu terlambat.
Akhirnya di tengah jalan lelaki Badui itu dikerumuni oleh banyak orang lelaki, mereka menawar harga kuda itu, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Nabi ﷺ telah membelinya.
Hingga salah seorang dari mereka ada yang mau membelinya dengan harga yang lebih tinggi dari apa yang pernah ditawar oleh Nabi ﷺ Lalu lelaki Badui itu berseru kepada Nabi ﷺ, “Jika engkau ingin membeli kuda ini, maka belilah, dan jika engkau tidak mau membelinya, aku akan menjualnya (kepada orang lain).” Maka Nabi ﷺ berdiri dan bangkit ketika mendengar seruan itu, lalu beliau bersabda, “Bukankah aku telah membelinya darimu?”
Lelaki Badui itu menjawab, “Tidak, demi Allah, aku belum menjualnya kepadamu.” Nabi ﷺ bersabda, “Tidak, bahkan aku telah membelinya darimu.” Maka orang-orang mengerumuni Nabi ﷺ dan lelaki Badui yang sedang berbantahan itu.
Orang Badui itu berkata, “Datangkanlah seseorang yang mempersaksikan bahwa aku telah menjual kuda ini kepadamu.” Lalu setiap orang yang datang dari kaum muslim mengatakan kepada lelaki Badui itu, “Celakalah kamu ini, sesungguhnya Nabi ﷺ tidak pernah berbicara tidak benar melainkan hanya benar belaka.” Hingga datanglah Khuzaimah, lalu ia mendengarkan pengakuan Nabi ﷺ dan sanggahan lelaki Badui yang mengatakan, “Datangkanlah seorang saksi yang mempersaksikan bahwa aku telah menjual(nya) kepadamu.” Lalu Khuzaimah berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau (Nabi ﷺ) telah membeli kuda itu darinya.” Lalu Nabi ﷺ berpaling ke arah Khuzaimah dan bersabda, “Dengan alasan apakah kamu bersaksi?”
Khuzaimah menjawab, “Dengan percaya kepadamu, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah ﷺ menjadikan persaksian Khuzaimah sama kedudukannya dengan persaksian dua orang lelaki.

Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Imam Abu Daud melalui hadis Syu’aib dan An-Nasai melalui riwayat Muhammad ibnul Walid Az-Zubaidi, keduanya meriwayatkan hadis ini dari Az-Zuhri dengan lafaz yang semisal.

Akan tetapi, untuk lebih hati-hati sebagai tindakan preventif ialah pendapat yang mengatakan sebagai petunjuk dan sunnah, karena berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh kedua Imam, yaitu Al-Hafiz Abu Bakar Ibnu Murdawaih dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui riwayat Mu’az ibnu Mu’az Al-Anbari, dari Syu’bah, dari Firas, dari Asy-Sya’bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Ada tiga macam orang yang berdoa kepada Allah, tetapi tidak diperkenankan bagi mereka, yaitu seorang lelaki yang mempunyai istri yang berakhlak buruk, tetapi ia tidak menceraikannya.
Seorang lelaki yang menyerahkan harta anak yatim kepada anak yatim yang bersangkutan sebelum usianya balig, dan seorang lelaki yang memberikan sejumlah utang kepada lelaki lain tanpa memakai saksi.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain.
Imam Hakim mengatakan, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya, mengingat murid-murid Syu’bah me-mauquf-kan hadis ini hanya pada Abu Musa (yakni kata-kata Abu Musa).
Sesungguhnya yang mereka sepakati sanad hadis Syu’bah hanyalah hadis yang mengatakan: Ada tiga macam orang yang diberikan pahalanya kepada mereka dua kali lipat…

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan janganlah penulis serta saksi saling sulit-menyulitkan.

Menurut suatu pendapat, makna ayat ini ialah janganlah penulis dan saksi berbuat menyeleweng, misalnya dia menulis hal yang berbeda dari apa yang diimlakan kepadanya, sedangkan si saksi memberikan keterangan yang berbeda dengan apa yang didengarnya, atau ia menyembunyikan kesaksiannya secara keseluruhan.
Pendapat ini dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah serta selain keduanya.
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah tidak boleh mempersulit keduanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usaid ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Ibnu Hafs), telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan janganlah penulis serta saksi saling sulit-menyulitkan.
(Al Baqarah:282) Bahwa seorang lelaki datang, lalu memanggil keduanya (juru tulis dan saksi) supaya mencatat dan mempersaksikan, lalu keduanya mengatakan, “Kami sedang dalam keperluan.” Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya kamu berdua telah diperintahkan melakukannya.” Maka tidak boleh baginya mempersulit keduanya.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ikrimah, Mujahid, Tawus, Sa’id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Atiyyah, Muqatil ibnu Hayyan, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas serta As-Saddi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jika kalian lakukan (yang demikian itu), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada diri kalian.

Yakni jika kalian menyimpang dari apa yang diperintahkan kepada kalian atau kalian melakukan hal

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 282

AMAANAH
أَمَٰنَتَه

Menurut Al Kafawi, amanah ialah setiap perkara yang dianggap dapat dipercayai ke atasnya seperti harta dan rahsia-rahsia.

Lafaz ini berasal dari kata amina dan amanatan yang bermakna jujur, dapat dipercayai dan sebagainya. Amaanah juga bermakna titipan dan menunaikan apa yang dipercayai,sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang (diserahkan bagi disimpan dan lain-lain), segala yang perintah Allah kepada hambanya, lawan khianat.

Lafaz amaanah dalam bentuk mufrad disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 283,
-Al Ahzab (33), ayat 72.

Sedangkan dalam bentuk jamak disebut tiga kali yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 58;
-Al Anfal (8), ayat 27;
-Al Mu’minuun (23), ayat 8,
-Al Ma’aarij (70), ayat 32.

Dalam Tafsir Al Khazin, Ibn Abbas berkata,
“Makna amaanah dalam surah Al Ahzab ialah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang difardukan ke atas hambanya.”

Ibn Mas’ud berkata,
Amaanah ialah mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadan, haji, jujur dalam percakapan, melangsai hutang, jujur dalam timbangan dan ukuran dan lebih daripada itu setiap yang dititipkan, ada yang mengatakan setiap yang diperintah dan dilarang.”

Abdullah bin Amni bin Al As berkata,
“Pertama sekali yang diciptakan dari manusia adalah kemaluan (al-faraj) dan ini adalah amanah yang diberikan. Faraj adalah amanah. Telinga, mata, tangan dan kaki adalah amanah. Diriwayatkan dalam hadis, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada dalam dirinya amanah.”

Oleh karena itu, An Nasafi berkata,
“Orang kafir dan munafik tidak ada dalam dirinya sifat amanah karena mereka berbuat khianat dan tidak patuh sebagaimana kepatuhan para nabi dan orang yang beriman.”

Sedangkan dalam tafsir Tanwir Al Miqbas, dijelaskan makna amaanah ialah ketaatan dan ubudiyah.

Muhammad Rasyid Rida berpendapat berkenaan amaanah dalam surah Al Baqarah, ”Ayat ini turun berkenaan dengan hukum­ hukum harta dan perkara yang diamanahkan kepada seseorang adalah bersifat umum mencakup titipan (wadi’ah) dan lain­ lain. Maknanya, setiap yang diamanahkan kepadanya perlu ditunaikan serta bertakwa kepada Allah dan jangan mengkhianati sesuatu apa pun dari amanah itu'”

Al-Fayruz Abadi berkata “Terdapat dua aspek atau makna amaanah di dalam Al Qur’an:

Pertama, bermakna kewajiban-kewajiban.

Kedua, bermakna al ‘iffah yaitu menjauhi diri dari perkara yang tidak baik, hina, syubhah dan al-siyanah (penjagaan).”

Kesimpulannya, amaanah di dalam Al Qur’an mencakupi dua perkara.

Pertama, amanah dalam harta.

Kedua, amanah dalam mentaati segala yang diperintah dan menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah atau segala apa yang diamanahkan Allah kepada manusia.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:46-47

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 282 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 282



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku