Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 268


اَلشَّیۡطٰنُ یَعِدُکُمُ الۡفَقۡرَ وَ یَاۡمُرُکُمۡ بِالۡفَحۡشَآءِ ۚ وَ اللّٰہُ یَعِدُکُمۡ مَّغۡفِرَۃً مِّنۡہُ وَ فَضۡلًا ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
Asy-syaithaanu ya’idukumul faqra waya’murukum bil fahsyaa-i wallahu ya’idukum maghfiratan minhu wafadhlaa wallahu waasi’un ‘aliimun;

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.
―QS. 2:268
Topik ▪ Penciptaan ▪ Sifat iblis dan pembantunya ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
2:268, 2 268, 2-268, Al Baqarah 268, AlBaqarah 268, Al-Baqarah 268
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 268. Oleh Kementrian Agama RI

Setan selalu menakut-nakuti orang-orang yang berinfak dan membujuk mereka agar bersifat bakhil dan kikir.
Setan membayangkan kepada mereka bahwa berinfak atau bersedekah itu akan menghabiskan harta benda, dan akan menyebabkan mereka menjadi miskin dan sengsara.
Oleh sebab itu harta benda mereka harus disimpan untuk persiapan di hari depan.

Menafkahkan barang-barang yang jelek, dan keengganan untuk menafkahkan barang-barang yang baik oleh Tuhan disebut sebagai suatu kejahatan atau bukan kebajikan karena orang yang bersifat demikian berarti mempercayai setan dan tidak mensyukuri nikmat Allah, serta tidak percaya akan kekayaan Allah dan kekuasaan-Nya untuk memberi tambahan rahmat kepadanya.

Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan kepada hamba-Nya melalui rasul-Nya, untuk memberikan ampunan atas kesalahan-kesalahan yang banyak, terutama dalam masalah harta bendanya.
Karena sudah menjadi tabiat manusia mencintai harta benda sehingga berat baginya untuk menafkahkannya.

Selain menjanjikan ampunan, maka Allah juga menjanjikan kepada orang-orang yang berinfak itu akan memperoleh ganti dari harta yang dinafkahkannya, baik di dunia ini berupa kemuliaan dan nama baik di kalangan masyarakatnya lantaran keikhlasannya dalam berinfak atau dengan bertambahnya hartanya yang masih tinggal, maupun di akhirat kelak ia akan menerima pahala yang berlipat ganda.

Dalam hubungan ini Allah telah berfirman:

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
(Q.S Saba’: 39)

Berinfak adalah salah satu cara untuk bersyukur.
Maka orang yang berinfak dengan ikhlas adalah orang yang bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan harta benda itu kepadanya dan Dia akan menambah rahmat-Nya kepada orang tersebut.
Firman-Nya:

Sesungguhnya jika kamu bersyukur (atas nikmat-Ku), maka Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.
(Q.S Ibrahim: 7)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan suatu hadis yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Setiap pagi ada dua malaikat turun kepada hamba-hamba Allah.
Salah satu dari malaikat itu berdoa: “Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menafkahkan (harta bendanya di jalan Allah) ganti (dari harta yang dinafkahkannya).” Dan malaikat yang satu lagi berdoa: “Berikanlah kepada orang yang enggan (menafkahkan harta di jalan Allah) kemusnahan.”

Yang dimaksud dengan ganti dari harta yang dinafkahkan itu ialah Allah akan memudahkan jalan baginya untuk memperoleh rezekinya, dan ia mendapatkan kehormatan dalam masyarakat.
Sedang yang dimaksud dengan “kemusnahan” ialah bahwa harta bendanya itu habis tanpa memberikan faedah kepadanya.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan bahwa Dia Maha Luas rahmat dan karunia-Nya memberikan ampunan dan ganti dari harta yang dinafkahkan itu.
Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang dinafkahkan hamba-Nya, sehingga Dia tidak akan menyia-nyiakannya, bahkan akan diberi-Nya pahala yang baik.

Al Baqarah (2) ayat 268 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 268 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 268 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan, memalingkan dari amal saleh sehingga kalian tidak berinfak di jalan kebaikan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan.
Ampunan Allah amatlah luas.
Dia Mahakuasa untuk membuat kalian kaya.
Tidak ada satu masalah pun yang tidak diketahui-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Setan menjanjikan kemiskinan bagimu), artinya menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan sekiranya kamu mengeluarkan zakat, maka hendaklah waspada (dan menyuruh kamu berbuat kejahatan) bersifat kikir dan menahan zakat (sedangkan Allah menjanjikan kepadamu) dengan mengeluarkan nafkah itu (keampunan dari-Nya) terhadap dosa-dosamu (dan karunia), yakni rezeki sebagai penggantinya (dan Allah Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) orang-orang yang suka mengeluarkan nafkah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kebakhilan dan kesengajaan memilih yang buruk untuk disedekahkan adalah dari setan yang menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan dan mendorong kalian untuk bersikap kikir.
Dia juga memerintahkan kalian agar berbuat maksiat dan menyelisihi perintah Allah, padahal Allah menjanjikan dengan infak kalian itu ampunan bagi dosa-dosa kalian dan rizki yang lapang bagi kalian.
Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui niat dan perbuatan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Hannad ibnus Sirri, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Ata ibnus Saib, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya setan mempunyai dorongan dalam diri anak Adam dan malaikat pun mempunyai dorongan pula (dalam dirinya).
Adapun dorongan dari setan ialah dorongan yang menganjurkan kepada kejahatan dan mendustakan perkara yang hak.
Dan adapun dorongan dari malaikat ialah dorongan yang menganjurkan kepada kebaikan dan percaya kepada perkara yang hak.
Maka barang siapa yang merasakan dalam dirinya hal ini, hendaklah ia mengetahui bahwa yang demikian itu dari Allah, hendaklah ia memuji kepada Allah, dan barang siapa yang merasakan selain dari itu, maka hendaklah ia meminta perlin-dungan (kepada Allah) dari godaan setan.
Kemudian Nabi ﷺ membacakan firman-Nya:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan, sedangkan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia., hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai di dalam kitab tafsir dari kitab sunnah masing-masing, dari Hannad ibnus Sirri.
Ibnu Hibban mengetengahkannya pula di dalam kitab sahihnya dari Abu Ya’la Al-Mausuli, dari Hannad dengan lafaz yang sama, Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.
Hadis ini bersumber dari Abul Ahwas (yakni Salam ibnu Salim).
Kami tidak mengenal hadis ini berpredikat marfu’ kecuali dari hadisnya.

Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan hadis ini di dalam kitab tafsirnya dari Muhammad ibnu Ahmad, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Mas’ud secara marfu’ dengan lafaz yang semisal.
Akan tetapi, diriwayatkan oleh Mis’ar dari Ata ibnus Saib, dari Abul Ahwas (yaitu Auf ibnu Malik ibnu Nadlah), dari Ibnu Mas’ud, lalu ia menjadikannya sebagai perkataan Ibnu Mas’ud sendiri.

Makna firman-Nya:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan.

Maksudnya, menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan agar kalian kikir dengan harta yang ada di tangan kalian sehingga kalian tidak menginfakkannya ke jalan yang diridai oleh Allah subhanahu wa ta’ala

…dan menyuruh kalian berbuat fahsya (kekejian).

Selain setan mencegah kalian untuk berinfak dengan mengelabui kalian akan jatuh miskin karenanya, dia pun memerintahkan kalian untuk melakukan perbuatan maksiat, dosa-dosa, serta hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang bertentangan dengan akhlak yang mulia.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…sedangkan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya.

sebagai lawan dari apa yang dianjurkan oleh setan kepada kalian yang mendorong kepada perbuatan-perbuatan yang keji.

…dan karunia.

sebagai lawan dari kemiskinan yang ditakut-takutkan oleh setan kepada kalian.

Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 268

FAQR
فَقْر

Arti kata faqr adalah kefakiran yaitu kebalikan kaya. Sedangkan orang yang berada dalam keadaan memerlukan dinamakan faqr dan bentuk jamaknya adalah fuqaraa’. Orang yang fakir biasanya bertumpu kepada tulang punggungnya untuk memenuhi keperluan dan hajatnya.

Kata faqr diulang sekali saja dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 268. Allah memerintahkan orang beriman untuk menginfakkan sebahagian harta-harta yang baik hasil usaha mereka dan juga sebahagian hasil tanaman yang baik. Allah melarang orang beriman menginfakkan harta dan hasil tanaman yang buruk. Kemudian pada ayat ini Allah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengikuti bujuk rayu setan yang menakut-nakuti mereka dengan kefakiran faqr apabila mereka menginfakkan harta.

Sedangkan kata faqiir diulang lima dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 181;
-An Nisa (4), ayat 6, 135;
-Al Hajj (22), ayat 28;
-Al Qashash (28), ayat 24.

Aturan-aturan Allah selalunya mengedepankan rasa kasih sayang kepada fakir miskin dan memperhatikan hak-haknya. Hal ini tampak pada surah An Nisaa’ (4), ayat 6. Ayat ini menerangkan tentang aturan pengurusan harta anak-anak yatim yang masih kecil. Prinsip dasar yang harus dipatuhi oleh orang yang ditugasi mengelola (wali) harta anak yatim adalah dia tidak boleh mengambil sebahagian harta itu untuk keperluannya sendiri. Namun apabila orang yang bertanggungjawab mengurus harta tersebut fakir faqiir, maka dia boleh mengambil sebahagian harta tersebut untuk keperluan hidupnya, namun menurut kadar yang sewajarnya.

Begitu juga dengan aturan yang terdapat dalam surah Al Hajj (22), ayat 28. Di awal ayat, Allah menegaskan bahwa binatang ternak adalah rezeki dan anugerah bagi manusia, oleh itu hendaklah manusia mengingat Allah semasa menyembelih binatang-binatang ternak tersebut pada hari-hari haji. Dan di akhir ayat Allah menegaskan apabila hewan itu sudah disembelih, maka hendaklah mereka memakannya dan membagikannya kepada orang fakir (faqiir).

Namun perasaan kasihan kepada fakir miskin ini tidak boleh menyebabkan seseorang kehilangan sikap tegas dan adil dalam menetapkan hukum. Perkara inilah yang ditekankan oleh Allah dalam surah An Nisa’ (4), ayat 135, di mana Allah menyuruh orang beriman untuk bertindak adil dalam menghukum seseorang. Jangan sampai kekayaan dan kefakiran seseorang mempengaruhi keputusan hukuman. Mengikuti perintah Allah untuk bersikap adil adalah lebih utama dibandingkan mengikuti kehendak hati hanya karena takut kepada orang kaya atau kasihan kepada orang faktr (faqiir).

Sementara itu pada surah Ali Imran (3), ayat 181, diterangkan salah satu sikap kaum Yahudi yang sangat keji, yaitu mereka menuduh bahwa Allah adalah fakir(faqiir) memerlukan bantuan manusia, karena Allah meminta manusia untuk bersedekah. Ini merupakan perkataan yang sangat keji dan akan mendapat balasan di akhirat nanti. Perkataan mereka itu sungguh keliru, karena Allah (s.w.t.) adalah Zat yang Maha Kaya Penguasa alam raya Sedangkan manusia sangat memerlukan bantuan dan anugerah-Nya.

Keyakinan seperti inilah yang semestinya mengakar di dalam hati orang beriman, sepertimana yang dicontohkan oleh Nabi Musa (a.s.) yang berdoa kepada Allah, “

رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Al Qashash (28), ayat 24).

Doa ini dibaca Nabi Musa semasa beliau berada di daerah Madyan, setelah beliau lari dari Mesir karena takut kezaliman kaumnya. Kemahakayaan Allah dan kefakiran manusia kepada-Nya juga ditegaskan dalam firman Allah pada surah Faathir (35), ayat 15; Muhammad (47), ayat 38. Pada kedua ayat tersebut manusia disifatkan dengan al fuqaraa.

Pada surah al-Baqarah (2), ayat 271, 273 diterangkan mengenai cara terbaik memberikan sedekah kepada fakir dan kriteria-kriteria fakir yang berhak mendapat sedekah.

Pada ayat 271 Allah menjelaskan bahwa memberikan sedekah secara umum boleh dilakukan dengan cara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Namun ayat ini juga mengisyaratkan bahwa memberikan sedekah khas kepada fakir miskin (al fuqaraa) dengan cara sembunyi-sembunyi adalah lebih baik dari dengan cara terang-terangan. 1 Ini menunjukkan bahwa aturan Allah sangat memihak dan mengambil kira perasaan hati fakir miskin.

Sedangkan pada ayat ke 273 Allah menerangkan enam sifat orang yang paling berhak mendapatkan sedekah. Enam sifat tersebut adalah:

(1).Fakir (al fuqaraa);

(2).Yang telah menentukan dirinya dengan menjalankan khidmat atau berjuang pada jalan Allah (membela Islam);

(3).Yang tidak mampu mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya);

(4).Mereka itu disangka sebagai orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, karena mereka menahan diri dari meminta-minta;

(5).Mereka dikenali kefakirannya oleh orang yang pandai dengan sifat-sifat yang dimilikinya;

(6).Mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak.

Pada surah At Taubah (9), ayat 60, Allah juga menyebutkan daftar delapan orang yang berhak mendapatkan sedekah wajib (zakat). Dan yang pertama adalah orang-orang fakir (al fuqaraa).

Begitu juga pada surah Al Hasyr (59), ayat 8, orang-orang fakir (al fuqaraa) ditetapkan sebagai salah satu dari lima pihak (kelompok) yang mendapatkan bahagian harta Al Fay’. Dan pada ayat itu orang-orang fakir yang dimaksudkan adalah orang-orang fakir kaum Muhajirin yang meninggalkan rumah dan hartanya karena memenuhi perintah Allah (s.w.t.).

Sedangkan pada surah An Nuur (24), ayat 32 menegaskan bahwa jika orang yang menikah itu miskin maka dia akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpahan karunia-Nya karena Allah Maha Luas (rahmat-Nya), lagi Maha Mengetahui. Oleh karena itu jangan sampai seseorang tidak mau menikah karena khawatir akan fakir sebab tanggungan keluarga akan bertambah. Kekuatiran akan mejadi fakir ini adalah sama dengan kekuatiran yang dibisikkan oleh setan kepada orang yang bersedekah seperti yang terdapat pada surah Al Baqarah (2), ayat 268 di atas. Dengan demikian maka ayat ini mengandung anjuran untuk menikah dan juga janji Allah kepada orang-orang yang berkahwin bahwa Dia akan memberi karunia kepada mereka.

Dengan demikian maka bentuk jamak (al fuqaraa) diulang sebanyak tujuh kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 271, 273;
-At Taubah (9), ayat 60;
-An Nuur (24), ayat 32;
-Faathir (35), ayat 15;
-Muhammad (47), ayat 38;
-Al Hasyr (59), ayat 8.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:412-414

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 268 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 268



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.8
Rating Pembaca: 4.4 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku