Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 264


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِکُمۡ بِالۡمَنِّ وَ الۡاَذٰی ۙ کَالَّذِیۡ یُنۡفِقُ مَالَہٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَ لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا ؕ لَا یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tubthiluu shadaqaatikum bil manni wal adza kaal-ladzii yunfiqu maalahu ri-aa-annaasi walaa yu’minu billahi wal yaumi-aakhiri famatsaluhu kamatsali shafwaanin ‘alaihi turaabun faashaabahu waabilun fatarakahu shaldan laa yaqdiruuna ‘ala syai-in mimmaa kasabuu wallahu laa yahdiil qaumal kaafiriin(a);

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).
Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
―QS. 2:264
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Menjaga kehormatan diri
2:264, 2 264, 2-264, Al Baqarah 264, AlBaqarah 264, Al-Baqarah 264
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 264. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang yang beriman agar mereka jangan sampai melenyapkan pahala infak mereka lantaran menyertainya dengan kata-kata yang menyakitkan hati atau dengan menyebut-nyebut infak yang telah diberikan itu.

Infak bertujuan untuk menghibur dan meringankan penderitaan fakir miskin dan untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Itulah sebabnya, maka sedekah itu tidak boleh disebut-sebut, atau disertai kata-kata yang menyakitkan hati si penerimanya.

Apabila infak tersebut disertai kata-kata semacam itu, maka tujuan utama dari infak tersebut, yaitu untuk menghibur dan meringankan penderitaan tidak akan tercapai.
Sebab itu Allah subhanahu wa ta'ala melarangnya, dan menegaskan bahwa infak semacam itu hapus pahalanya.

Orang yang berinfak karena riya sama halnya dengan orang yang melakukan ibadah lainnya dengan riya, salatnya itu batal pahalanya dan tidak mencapai tujuan yang dimaksud.
Sebab tujuan salat adalah menghadapkan segenap hati dan jiwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta meresapkan kebesaran dan kekuasaan-Nya, dan memanjatkan syukur atas segala rahmat-Nya.
Sedang orang yang salat karena riya, perhatiannya bukan tertuju kepada Allah, melainkan kepada orang yang diharapkannya untuk memuji dan menyanjungnya.

Sifat riya adalah suatu tabiat yang tidak baik.
Sebagian orang ingin dipuji dan disanjung atas suatu kebajikan yang dilakukannya.
Orang yang bersedekah yang mengharapkan pujian dan terima kasih dari yang menerima sedekah itu, bila pada suatu ketika ia merasa kurang dipuji dan kurang ucapan terima kasih kepadanya dari si penerima atau kurang penghargaan si penerima terhadap sedekahnya itu, dia akan merasa sangat kecewa.
Dalam keadaan demikian, sangat besar kemungkinan ia akan mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan si penerima sehingga sedekahnya itu tidak akan mendatangkan pahala di sisi Allah.
Dan orang yang bertabiat semacam ini, sesungguhnya tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhirat.
Sedekah semacam itu adalah seperti debu di atas batu yang licin, apabila datang hujan lebat maka debu itu hilang lenyap.

Demikian pulalah halnya sedekah yang diberikan karena riya, tidak akan mendatangkan pahala apa pun di akhirat nanti sebab amalan itu tidak dilakukan untuk mencapai rida Allah melainkan karena mengharapkan pujian manusia semata-mata.
Dengan demikian ia tidak memperoleh hasil apa pun, baik di dunia maupun di akhirat.
Di dunia la tidak mendapatkan hasil apa-apa dari sedekahnya itu karena sedekahnya yang disertai rasa riya atau perkataan yang menyakitkan hati hanyalah akan menimbulkan kebencian masyarakat kepadanya.
Sedang di akhirat, ia tidak memperoleh pahala dari sisi Allah, karena riya dan kata-kata yang tidak menyenangkan itu telah menghapuskan pahala amalnya.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala memberikan pahala hanya kepada orang-orang yang beramal dengan ikhlas, ingin mensucikan diri dan memperbaiki keadaan mereka, dan mengharapkan rida-Nya semata-mata.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa Dia tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir karena petunjuk itu berdasarkan iman.
Iman itulah yang membimbing seseorang kepada keikhlasan beramal dan menjaga diri dari perbuatan dan ucapan yang dapat merusak amalnya serta melenyapkan pahalanya.
Maka dalam ayat ini terdapat sindirian bahwa sifat riya dan kata-kata yang tidak menyenangkan itu adalah sebagian dari sifat-sifat dan perbuatan orang-orang kafir dan harus dijauhi oleh orang-orang yang mukmin.

Banyak hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang mencela sedekah yang disertai dengan ucapan yang menyakitkan hati.
Imam Muslim meriwayatkan hadis berikut dari Abu Zar.
Rasulullah ﷺ bersabda:

Ada tiga macam orang yang pada hari kiamat nanti Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan berbicara dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka dan tidak akan mensucikan mereka dari dosa dan akan mendapat azab yang pedih.
Yaitu orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya apabila ia memberikan sesuatu, dan orang yang suka memakai sarungnya terlalu dalam sampai menyapu tanah karena congkaknya dan orang yang berusaha melariskan dagangannya dengan sumpah yang bohong.
(HR Muslim dari Abi Zar)

Dan Imam Nasai juga meriwayatkan suatu hadis dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ.
bahwa beliau bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang selalu minum khamar dan tidak pula orang yang durhaka terhadap ibu bapaknya dan tidak pula orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya.
(HR An Nasa'i dari Ibnu Abbas)

Al Baqarah (2) ayat 264 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 264 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 264 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang Mukmin, janganlah kalian hilangkan pahala sedekah dengan menyebut-nyebut kebaikan kalian di hadapan orang-orang yang membutuhkan dan dengan menyakiti mereka.
Sebab, dengan begitu, kalian seperti orang-orang yang berinfak dengan motif ketenaran dan ingin dipuji.
Mereka itu tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.
Keadaan orang yang berinfak dengan motif riya, perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya terdapat tanah.
Begitu hujan deras turun menyirami batu itu, hilanglah tanah itu semua.
Seperti halnya tanah yang subur dan produktif itu hilang dari batu yang licin karena diterpa hujan deras, begitu pula pahala sedekah akan hilang karena perbuatan riya dan menyakiti.
Tidak ada sedikit pun yang dapat diambil manfaatnya.
Itulah sifat-sifat kaum kafir, maka hindarilah.
Sebab Allah tidak akan menunjuki orang-orang kafir kepada kebaikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu batalkan sedekah-sedekahmu), maksudnya pahala-pahalanya (dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan) si penerima hingga menjadi hapus (seperti orang), maksudnya seperti batalnya nafkah orang yang (menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia) maksudnya ingin mendapatkan pujian manusia (dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari yang akhir) yakni orang munafik (Maka perumpamaannya adalah seperti sebuah batu licin yang bertanah di atasnya, lalu ditimpa oleh hujan lebat) (hingga menjadi licin tandas) tanpa tanah dan apa-apa lagi di atasnya.
(Mereka tidak menguasai).
Kalimat ini untuk menyatakan tamsil keadaan orang munafik yang menafkahkan hartanya dengan tujuan beroleh pujian manusia.
Dhamir atau kata ganti manusia di sini menunjukkan jamak, mengingat makna 'alladzii' juga mencakupnya (suatu pun dari hasil usaha mereka) yang telah mereka kerjakan, maksudnya pahalanya di akhirat, tak ubahnya bagai batu licin yang ditimpa hujan hingga tanahnya habis dihanyutkan air.
(Dan Allah tidak menunjukkan orang-orang yang kafir).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah kalian menyia-nyiakan pahala sedekah kalian dengan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti.
Itu sama dengan orang yang bersedekah agar dilihat oleh manusia sehingga mereka memujinya, sementara dia juga tidak beriman kepada Allah dan tidak meyakini hari akhir.
Perumpamaannya adalah seperti baju licin, di atasnya ada debu lalu hujan besar lagi deras mengguyurnya, hujan itu pun melenyapkan debu di atas batu tersebut, sehingga batu itu pun licin tiada bekasnya.
Demikian pula keadaan orang-orang yang bersedekah dengan dorongan riya, amal-amal mereka lenyap di sisi Allah, mereka tidak mendapatkan balasan apapun disisi-Nya atas apa yang telah mereka nafkahkan.
Allah tidak akan membimbing orang-orang kafir untuk mengetahui kebenaran dalam perkara infak dan lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dengan ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala memberitahukan bahwa amal sedekah itu pahalanya terhapus bila diiringi dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerimanya.
Karena dengan menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti hati penerimanya, maka pahala sedekah menjadi terhapus oleh dosa keduanya.

Dalam ayat selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

...seperti orang yang membelanjakan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia.

Dengan kata lain, janganlah kalian menghapus pahala sedekah kalian dengan perbuatan manna dan aza.
Perbuatan riya juga membatalkan pahala sedekah, yakni orang yang menampakkan kepada orang banyak bahwa sedekah yang dilakukannya adalah karena mengharapkan rida Allah, padahal hakikatnya ia hanya ingin dipuji oleh mereka atau dirinya menjadi terkenal sebagai orang yang memiliki sifat yang terpuji, supaya orang-orang hormat kepadanya, atau dikatakan bahwa dia orang yang dermawan dan niat lainnya yang berkaitan dengan tujuan duniawi, tanpa memperhatikan niat ikhlas karena Allah dan mencari rida-Nya serta pahala-Nya yang berlimpah.
Karena itu, disebutkan dalam firman selanjutnya:

...dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Perumpamaan ini dibuatkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk orang yang pamer (riya) dalam berinfak.
Ad-Dahhak mengatakan bahwa orang yang mengiringi infaknya dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti perasaan penerimanya, perumpamaannya disebut oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin.

Lafaz safwan adalah bentuk jamak dari safwanah.
Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa lafaz safwan dapat digunakan untuk makna tunggal pula yang artinya sofa, yakni batu yang licin.

...yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat.

Yang dimaksud dengan wabilun ialah hujan yang besar.

...lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).

Dengan kata lain, hujan yang lebat itu membuat batu licin yang dikenainya bersih dan licin, tidak ada sedikit tanah pun padanya, melainkan semuanya lenyap tak berbekas.
Demikian pula halnya amal orang yang riya (pamer), pahalanya lenyap dan menyusut di sisi Allah, sekalipun orang yang bersangkutan menampakkan amal perbuatannya di mata orang banyak seperti tanah (karena banyaknya amal).
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 264 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 264



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (12 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ famatsali kamatsai, pengertian bilmanni waladza