Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 260


وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ
Wa-idz qaala ibraahiimu rabbi arinii kaifa tuhyil mauta qaala awalam tu’min qaala bala walakin liyathma-inna qalbii qaala fakhudz arba’atan minath-thairi fashurhunna ilaika tsummaaj’al ‘ala kulli jabalin minhunna juz-an tsummaad’uhunna ya’tiinaka sa’yan waa’lam annallaha ‘aziizun hakiimun;

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata:
“Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”.
Allah berfirman:
“Belum yakinkah kamu?”
Ibrahim menjawab:
“Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman:
“(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu.
(Allah berfirman):
“Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”.
Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
―QS. 2:260
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
2:260, 2 260, 2-260, Al Baqarah 260, AlBaqarah 260, Al-Baqarah 260
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 260. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menambahkan suatu perumpamaan lain tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali suatu makhluk yang telah mati.
Kalau pada ayat 258 dikemukakan peristiwa dialog antara Nabi Ibrahim dan raja Namruz, maka pada ayat ini diceritakan dialog antara Nabi Ibrahim dan Tuhannya.
Dengan penuh rasa kerendahan dan kehambaan kepada Allah, Ibrahim a.s.
mengajukan permohonan kepada-Nya agar Dia bermurah hati untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana cara Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan makhluk yang telah mati.

Jika diperhatikan hanya sepintas lalu, maka permohonan Nabi Ibrahim ini memberikan kesan, bahwa ia sendiri seolah-olah masih mempunyai keragu-raguan tentang kekuasaan Allah menghidupkan kembali orang yang telah mati.
Sebab itu Allah berfirman kepadanya: “Apakah engkau masih belum percaya bahwa Aku dapat menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati?”
Akan tetapi yang dimaksudkan dalam ayat ini bukanlah demikian, sebab Nabi Ibrahim sama sekali tidak mempunyai keraguan tentang kekuasaan Allah.
Beliau mengajukan permohonan itu kepada Allah subhanahu wa ta’ala bukan karena keragu-raguan melainkan karena ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati.
Maka Ibrahim menjawab: “Aku sedikit pun tidak meragukan kekuasaan Allah, akan tetapi aku mengajukan permohonan itu adalah untuk sampai kepada derajat ainulyaqin, yaitu keyakinan yang diperoleh setelah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, sehingga hatiku menjadi lebih tenteram, dan keyakinanku menjadi lebih kuat dan kokoh.”

Allah mengabulkan permohonan itu, lalu diperintahkan-Nya agar Ibrahim a.s.
mengambil empat ekor burung kemudian menjinakkannya sehingga mereka akan datang kepadanya bila dipanggil.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh Ibrahim a.s.
untuk meletakkan masing-masing burung itu di atas bukit tertentu yang berjauhan letaknya satu dengan yang lain.

Sesudah itu Ibrahim as.
diperintankan-Nya untuk memanggil burung-burung tersebut.
Dengan suatu panggilan saja, burung burung akan datang kepadanya patuh dan taat.
Demikian pulalah halnya umat manusia di hari akhirat nanti.
Apabila Allah subhanahu wa ta’ala memanggil mereka dengan suatu panggilan saja, maka bangkitlah makhluk itu dan datang kepadanya serentak, dengan taat dan patuh kepada-Nya.

Pendapat lain mengatakan bahwa Ibrahim diperintahkan Allah untuk memotong-motong tubuh burung-burung itu, kemudian meletakkan bagian-bagian tubuh burung tersebut pada bukit yang saling berjauhan letaknya.
Akhirnya Ibrahim diperintahkan untuk memanggil burung-burung yang telah dipotong-potong sedemikian rupa, namun ternyata burung-burung itu datang kepadanya dalam keadaan utuh seperti semula.
Tentu saja Allah mengembalikan burung-burung itu lebih dahulu kepada keadaan semula, sehingga dapat datang memenuhi panggilan Ibrahim a.s.
Dengan ini dapatlah dipenuhi permohonan Ibrahim a.s.
kepada Allah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana Allah menghidupkan kembali makhluk yang telah mati, sehingga hatinya merasa tenteram dan keyakinannya semakin kokoh.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kepada Ibrahim dan kepada manusia semuanya, agar mereka meyakini benar-benar, bahwa Allah sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.
Artinya kuasa dalam segala hal, termasuk menghidupkan kembali makhluk yang telah mati dan Ia Maha Bijaksana terutama dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada hamba-Nya, menuju jalan yang lurus dan benar.

Al Baqarah (2) ayat 260 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 260 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 260 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah pula kisah Ibrahim ketika ia berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku proses menghidupkan kembali orang yang telah mati.” Lalu Allah mananyakan keimanannya terhadap proses kebangkitan agar keraguannya hilang dengan mengatakan, “Apakah kamu tidak percaya?”
Ibrahim menjawab, “Aku percaya, tetapi aku minta itu sekadar untuk menambah kemantapan hatiku.” Allah berfirman, “Ambillah empat ekor burung dan dekatkanlah kepadamu agar kamu kenali betul.
Lalu potong- potonglah setelah disembelih dan letakkan potongan-potongan tersebut di atas gunung-gunung yang berdampingan.
Kemudian panggillah burung-burung itu, niscaya mereka akan datang menghampirimu dalam keadaan hidup seperti sediakala.
Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa atas segala sesuatu, Mahabijaksana dalam segala hal.[1]

[1] Imam Fakhr al-Din al-Razi dan ahli tafsir lainnya menyebutkan adanya pendapat lain dalam menafsirkan ayat ini.
Dikatakan, Ibrahim tidak menyembelih burung-burung tersebut dan tidak diperintahkan untuk itu.
Ia disuruh memeliharanya agar menjadi jinak.
Empat ekor burung tersebut dipisah, di tiap gunung masing-masing diletakkan satu ekor.
Kemudian keempatnya dipanggil dan datang.
Ini adalah gambaran bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu yaitu dengan perintahnya “kun” (jadilah), fa yakun (maka sesuatu itu pun terjadi).
Sama halnya dengan keempat burung tersebut, dipanggil lalu datang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Firman Allah) kepadanya (Apakah kamu tidak percaya?”) akan kekuasaan-Ku dalam menghidupkan itu?
Ditanyakan Ibrahim padahal Dia mengetahui bahwa Ibrahim mempercayainya, agar Ibrahim memberikan jawaban terhadap pertanyaan-Nya, hingga para pendengar pun mengerti akan maksud-Nya.
(“Saya percaya”,
katanya) (tetapi) saya tanyakan (agar tenang) dan tenteram (hatiku) disebabkan kesaksian yang digabungkan pada pengambilan dalil (Firman-Nya, “Ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah kepadamu) dengan ‘shad’ yang baris di bawah dan baris di depan yang berarti jinakkanlah olehmu, lalu potong-potonglah hingga daging dan bulunya bercampur baur.
(Kemudian letakkanlah di setiap bukit) yang terletak di negerimu (sebagian darinya, setelah itu panggillah ia) kepadamu (niscaya mereka akan mendatangimu dengan cepat) atau segera.
(Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Tangguh.”) dalam perbuatan-Nya.
Maka diambilnya burung merak, burung elang, gagak dan ayam jantan, masing-masing satu ekor, lalu ia melakukan apa yang diperintahkan sambil memegang kepala masing-masing, kemudian dipanggilnya hingga beterbangan potongan-potongan burung itu menemui kelompoknya hingga lengkap, lalu menuju kepalanya yang berada di tangannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan ingatlah wahai Rasul permintaan Ibrahim kepada Rabbnya agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan.
Maka Allah bertanya kepadanya :
Apakah kamu belum beriman?
Ibrahim menjawab :
Sudah.
Akan tetapi aku memohon hal itu untuk menambah keyakinan di atas keyakinanku.
Allah berfirman :
Ambillah empat ekor burung, kumpulkanlah dan sembelihlah lalu potong-potonglah ia, kemudian letakkan sebagian darinya di setiap gunung, lalu panggillah mereka niscaya mereka akan dating saat itu juga.
Lalu Ibrahim melakukan dan memanggil, burung-burung itu hadir seperti sedia kala.
Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya, Maha Bijaksana dalam perkataan, perbuatan, syariat dan takdir-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mereka menyebutkan beberapa penyebab yang mendorong Ibrahim ‘alaihis salam bertanya seperti itu, antara lain ialah ketika ia berkata kepada Namrud, yang perkataannya itu disitir oleh firman-Nya:

Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan.

Maka Nabi Ibrahim ingin agar pengetahuannya yang berdasarkan keyakinan itu menjadi meningkat kepada pengetahuan yang bersifat ‘ainul yaqin dan ingin menyaksikan hal tersebut dengan mata kepalanya sendiri.
Untuk itulah ia berkata dalam ayat ini:

Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.
Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?”
Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, tetapi agar bertambah tetap hati saya.”

Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sehubungan dengan ayat ini, yaitu:

telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah dan Sa’id dari Abu Hurairah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kami lebih berhak untuk ragu ketimbang Nabi Ibrahim, ketika ia berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?”
Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, tetapi agar bertambah tetap hati saya.”

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Harmalah ibnu Yahya, dari Wahb dengan lafaz yang sama.

Yang dimaksud dengan istilah syak (ragu) dalam hadis ini bukanlah seperti apa yang dipahami oleh orang-orang yang tidak berilmu mengenainya, tanpa ada yang memperselisihkannya.
Sesungguhnya pemahaman tersebut telah dijawab oleh banyak sanggahan yang mematahkan alasannya.

Sehubungan dengan pembahasan ini, pada salinan yang ada di tangan kami terdapat komentar.
Dan sehubungan dengan masalah ini kami akan mengemukakan apa yang dikatakan oleh Al-Bagawi demi melengkapi pembahasan ini.
Al-Bagawi mengatakan bahwa Muhammad ibnu Ishaq ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Ibrahim (yaitu Ismail ibnu Yahya Al-Muzani) bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan makna hadis ini, sebenarnya Nabi ﷺ tidak ragu —begitu pula Nabi Ibrahim ‘alaihis salam— mengenai masalah bahwa Allah Mahakuasa untuk menghidupkan orang-orang mati.
Melainkan keduanya merasa ragu apakah permohonan keduanya diperkenankan untuk hal tersebut.

Abu Sulaiman Al-Khattabi mengatakan sehubungan dengan sabda Nabi ﷺ yang mengatakan: Kami lebih berhak untuk ragu ketimbang Ibrahim.
Di dalam ungkapan ini tidak terkandung pengakuan keraguan atas dirinya dan tidak pula atas diri Nabi Ibrahim, melainkan justru mengandung pengertian yang menghapuskan keraguan tersebut dari keduanya.
Seakan-akan Nabi ﷺ berkata, “Jika aku tidak ragu tentang kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam menghidupkan kembali orang-orang mati, maka Ibrahim lebih berhak untuk tidak ragu.” Nabi ﷺ mengungkapkan demikian sebagai rasa rendah diri dan sopan santunnya kepada Nabi Ibrahim.

Demikian pula sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Seandainya aku tinggal di dalam penjara selama Nabi Yusuf tinggal di penjara, niscaya aku mau memenuhinya.

Di dalam pembahasan ini terkandung pemberitahuan bahwa masalah yang dialami oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak diungkapkannya dari segi perasaan ragu, melainkan dari segi ingin menambah ilmu dengan melalui kesaksian mata.
Karena sesungguhnya kesaksian mata itu dapat memberikan pengetahuan dan ketenangan hati lebih daripada pengetahuan yang didasari hanya oleh teori.

Menurut suatu pendapat, ketika ayat ini (Al Baqarah:260) diturunkan, ada segolongan kaum yang mengatakan, “Nabi Ibrahim ragu, sedangkan Nabi kita tidak ragu.” Maka Rasulullah ﷺ mengucapkan sabdanya yang telah disebutkan di atas sebagai ungkapan rasa rendah diri dan bersopan santun kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau mendahulukan Nabi Ibrahim atas dirinya sendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah berfirman, “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu potong-potonglah burung-burungt itu olehmu.”

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai jenis keempat burung itu, sekalipun tiada faedahnya menentukan jenis-jenisnya, karena seandainya hal ini penting, niscaya Al-Qur’an akan menycbutkannya dengan keterangan yang jelas.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia pernah mengatakan, “Keempat burung tersebut terdiri atas burung Garnuq, burung merak, ayam jago, dan burung merpati.”

Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Ibrahim mengambil angsa, anak burung unta, ayam jago, dan burung merak.

Mujahid dan Ikrimah mengatakan bahwa keempat burung tersebut adalah merpati, ayam jago, burung merak, dan burung gagak.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan potong-potonglah burung-burung itu olehmu.

Yakni memotong-motongnya (sesudah menyembelihnya).
Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Malik, Abul Aswad Ad-Duali, Wahb ibnu Munabbih, Al-Hasan, As-Saddi, serta lain-lainnya.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

…dan ikatlah burung-burung itu olehmu.
Setelah burung-burung itu diikat, maka Nabi Ibrahim menyembelihnya, kemudian menjadikan tiap bagian dari burung-burung itu pada tiap bukit.

Mereka menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim menangkap empat ekor burung, lalu menyembelihnya, kemudian memotong-motongnya, mencabuti bulu-bulunya, dan mencabik-cabiknya.
Setelah itu sebagian dari burung-burung itu dicampuradukkan dengan sebagian yang lain.
Kemudian dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan menaruh sebagian darinya pada tiap bukit.
Menurut suatu pendapat adalah empat buah bukit, dan menurut pendapat yang lain tujuh buah bukit.
Ibnu Abbas mengatakan, Nabi Ibrahim memegang kepala keempat burung itu pada tangannya.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Ibrahim agar memanggil burung-burung itu.
Maka Ibrahim memanggil burung-burung itu seperti apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala Nabi Ibrahim melihat bulu-bulu burung-burung tersebut beterbangan ke arah bulu-bulunya, darah beterbangan ke arah darah-nya, dan daging beterbangan ke arah dagingnya, masing-masing bagian dari masing-masing burung bersatu dengan bagian lainnya, hingga masing-masing burung bangkit seperti semula, lalu datang kepada Ibrahim dengan berlari, dimaksudkan agar lebih jelas dilihat oleh orang yang meminta kejadian tersebut.
Lalu masing-masing burung datang mengambil kepalanya yang ada di tangan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Apabila Nabi Ibrahim mengulurkan kepala yang bukan milik burung yang bersangkutan, burung itu menolak, dan jika Ibrahim mengulurkan kepala yang menjadi milik burung bersangkutan, maka menyatulah kepala itu dengan tubuhnya berkat kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Yakni Mahaperkasa, tiada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, dan tiada sesuatu pun yang menghalang-halangi-Nya, semua yang dikehendaki-Nya pasti terjadi tanpa ada yang mencegah-Nya, karena Dia Mahamenang atas segala sesuatu, lagi Mahabijaksana dalam semua firman, perbuatan, syariat serta kekuasaan-Nya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyub sehubungan dengan firman-Nya:

…tetapi agar bertambah tetap hati saya., Bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Tiada suatu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang lebih aku harapkan selain darinya (Al Baqarah:260).”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia pernah mendengar Zaid ibnu Ali menceritakan asar berikut dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Abbas dan Abdullah ibnu Amr ibnul As sepakat mengadakan pertemuan, saat itu kami berusia muda.
Salah seorang dari keduanya berkata yang lainnya, “Ayat apakah di dalam Kitabullah yang paling diharapkan olehmu untuk umat ini?”
Maka Abdullah ibnu Amr membacakan firman-Nya:

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Az-Zumar 53)

Ibnu Abbas berkata, “Jika kamu mengatakan itu, maka aku katakan bahwa ayat yang paling kuharapkan dari Kitabullah untuk umat ini ialah ucapan Nabi Ibrahim,” yaitu:
“Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati?”
Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?”
Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, tetapi agar bertambah tetap hati saya.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh Katib Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Salamah, dari Amr, telah menceritakan kepadaku Ibnul Munkadir, bahwa ia pernah bersua dengan Abdullah ibnu Abbas dan Abdullah ibnu Amr ibnul As.
Lalu Abdullah ibnu Abbas berkata kepada Ibnu Amr ibnul As, “Ayat Al-Qur’an apakah yang paling kamu harapkan menurutmu?”
Abdullah ibnu Amr membacakan firman-Nya: Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (Az Zumar:53), hingga akhir ayat Maka Ibnu Abbas berkata, “Tetapi menurutku adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati?’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab, ‘Saya telah percaya.’ (Al Baqarah:260), hingga akhir ayat.” Allah rida kepada Ibrahim setelah dia mengatakan bala (saya telah percaya).
Hal ini terjadi setelah timbul keinginan itu di dalam hatinya dan setan mengembuskan godaan kepadanya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui Abu Abdullah, yaitu Muhammad ibnu Ya’qub ibnul Ahzam, dari Ibrahim ibnu Abdullah As-Sa’di, dari Bisyr ibnu Umar Az-Zahrani, dari Abdul Aziz ibnu Abu Salamah berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal.
Selanjutnya Imam Hakim mengatakan bahwa sanad asar ini sahih, padahal keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 260
Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Shalih telah bercerita kepada kami Ibnu Wahb berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman dari Sa’id bin Al Musayyabdari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Kami lebih patut untuk ragu dibanding Ibrahim ketika dia berkata,
Ya Rabbku, tunjukkan kepadaku bagaimana caranya Engkau menghidupkan makhluq yang sudah mati. Allah berfirman, Apakah kamu tidak beriman (belum yakin)? Ibrahim berkata,
Aku telah meyakininya akan tetapi untuk memantapkan hatiku.

Dan semoga Allah merahmati Nabi Luth as. yang telah berlindung kepada keluarga yang kuat. Dan seandainya aku dipenjara dan mendekam didalamnya dalam masa tertentu sebagaimana Nabi Yusuf as. mengalaminya tentu aku sudah bersegera memenuhi permintaan (orang yang akan membebaskan aku) . (QS. Al Baqarah: 260).

Shahih Bukhari, Kitab Hadits-hadits yang Meriwayatkan Tentang Para Nabi – Nomor Hadits: 3121

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 260

JUZ
جُزْء

Arti kata juz ialah bahagian dari sesuatu. Bentuk jamaknya adalah ajzaa’ diulang tiga kali di dalam Al­ Quran yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 260;
-Al Hijr (15), ayat 44;
-Az Zukhruf (43), ayat 15.

Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 260 menceritakan bagaimana Allah memberitahu cara menghidupkan kembali orang yang sudah mati kepada Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim disuruh mengambil empat ekor burung, kemudian diperintahkan menyembelihnya, mencabut bulunya, memotong- motong bahagiannya, menghancurkannya dan mencampurkan bahagian-bahagian yang terpotong itu menjadi satu, kemudian memisahkannya lagi menjadi beberapa bahagian. Ada yang mengatakan menjadi empat bahagian, ada yang mengatakan menjadi tujuh bahagian, kemudian meletakkan setiap bahagian itu (juz an) ke empat atau tujuh gunung yang berjauhan. Setelah itu Allah memerintahkan Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terpisah itu. Akhirnya burung­ burung itu datang dengan bentuk sempurna seperti semula.

Sedangkan surah Az Zukhruf (43), ayat 15 menceritakan salah satu keyakinan kaum musyrikin yang mengatakan sebahagian hamba-hamba Allah adalah bahagian (juz an) dari Allah. Maksudnya, orang musyrikin mengatakan malaikat itu adalah anak perempuan Allah sedangkan malaikat itu bagian dari makhluk ciptaanNya. Sehingga kata “juz an” diartikan dengan “al banaat” “anak pereppuan” Ini adalah pendapat Imam Az Zajjaj dan Al Mubarrad.

Sementara Imam Qatadah berpendapat makna juz an di sini ialah ‘adla (pengganti), sehingga maksudnya ialah orang musyrik menjadikan makhluk­ makhluk Allah sebagai sembahan pengganti Allah.

Dalam surah Al Hijr (15), ayat 44 di­ sebutkan neraka Jahannam mempunyai tujuh pintu atau tujuh tingkatan, dan setiap tingkatan itu ditetapkan untuk golongan tertentu dari orang kafir.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:171-172

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 260 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 260



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku