Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 26


اِنَّ اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ
Innallaha laa yastahyii an yadhriba matsalaa maa ba’uudhatan famaa fauqahaa faammaal-ladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim waammaal-ladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahu bihadzaa matsalaa yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihi katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin(a);

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan:
“Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”.
Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.
Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
―QS. 2:26
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Azab orang kafir
2:26, 2 26, 2-26, Al Baqarah 26, AlBaqarah 26, Al-Baqarah 26
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 26. Oleh Kementrian Agama RI

Sesungguhnya Allah tidak segan untuk membuat contoh dan perumpamaan dalam penjelasan informasinya dengan seekor nyamuk atau bahkan lebih kecil dari itu.
Orang-orang yang beriman yakin akan kebenaran dan kebijaksanaan Allah, mereka pasti dapat menerima keterangan ini.
tetapi orang kafir dan orang munafik tidak mau memahami tujuan Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan di dalam Al-Qur’an.

Perumpamaan itu tujuannya memperjelas arti suatu perkataan atau kalimat dengan membandingkan isi atau pengertian perkataan atau kalimat itu dengan sesuatu yang sudah dikenal dan dimengerti.

Dalam ilmu biologi, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bahkan organ tubuh manusia banyak dibahas dan semuanya itu perlu diketahui oleh manusia, ada yang bermanfaat dan ada yang berbahaya bagi manusia.
Bukan hanya binatang-binatang besar seperti gajah, harimau dan singa yang perlu diketahui, tetapi binatang kecil seperti lalat, nyamuk, dan ulat juga perlu diketahui manfaat dan bahayanya.
Nyamuk misalnya ada yang berbahaya anapheks yang menyebarkan penyakit malaria dan aedes aegypti yang menyebarkan penyakit demam berdarah, tetapi ada nyamuk yang memang tidak berbahaya seperti culex.
Nyamuk anapheks hidupnya di air kotor tetapi nyamuk aedes aegypti hidup di air bersih.

Allah sungguh Mahakuasa dan Mahabijaksana.
Pada setiap makhluk yang berbahaya telah diciptakan predator yaitu jenis binatang lain yang suka memangsa dan membunuhnya.
Terhadap nyamuk misalnya ada beberapa predator seperti katak, cecak, tokek dan lain-lain.
Kita tidak boleh membunuh predatornya dan kita sebaiknya mengetahui di mana nyamuk berkembang biak, kita perlu memahami kebijaksanaan dan kekuasaan Allah.
Saat manusia diundang untuk memperhatikan penciptaan atas dirinya, Al-Qur’an dalam banyak ayatnya mendorong manusia untuk meneliti alam dan melihat tanda-tanda Tuhan di dalamnya.
Alam semesta, dengan elemen benda-benda hidup dan tidak hidupnya, merupakan tanda-tanda adanya penciptaan.
Semua ciptaan itu ada hanya untuk memperlihatkan kekuasaan, pengetahuan dan seni yang dimiliki oleh “pencipta” tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala Semua ciptaan memperlihatkan tanda-tanda yang demikian.
Termasuk di dalamnya binatang kecil seperti nyamuk, sebagaimana dapat dilihat pada ayat di atas.

Ketika kita mencoba memahami perikehidupan nyamuk, kita akan mengetahui betapa rumit dan kompleksnya sistem yang berjalan.
Secara umum kita mengetahui bahwa mahluk ini adalah penghisap darah manusia dan binatang lainnya.
Akan tetapi, pengetahuan demikian ini tidak sepenuhnya benar.
Karena tidak semua individu nyamuk hidup dari mengisap darah.
Hanya nyamuk betina saja yang memerlukan darah dalam dietnya.
Keperluan tentang darah tidak berkaitan dengan kebiasaan makan jenis ini.
Kaitan pokoknya adalah dengan perkembangbiakannya.
Nyamuk betina memerlukan protein dari darah dalam proses akhir pembentukan telur.
Dengan kata lain, nyamuk betina mengisap darah untuk meyakinkan akan berlanjutnya kehidupan jenisnya.
Proses perkembangan nyamuk merupakan salah satu aspek yang mengagumkan.
Binatang ini berubah dari larva menjadi nyamuk setelah melalui beberapa fase yang berbeda-beda.
Nyamuk betina akan meletakkan telurnya pada daun yang lembab atau dikawasan lembab sekitar genangan air.
Sebelum melakukan itu, nyamuk betina akan memeriksa kawasan itu dengan menggunakan organ yang terletak di bagian perutnya.
Organ ini mampu mendeteksi kelembaban dan suhu.
Setelah menemukan daerah yang cocok, barulah nyamuk betina itu meletakkan telurnya.
Telur dengan panjang kurang dari 1 milimeter, diletakkan dalam kelompok atau satuan.
Beberapa jenis nyamuk ada yang merangkaikan sampai dengan 300 telur dalam bentuk rakit, dan diletakkan di atas air tergenang.
Telur yang diletakkan dengan sangat hati-hati itu akan berubah warna.
Perubahan warna terjadi hanya beberapa jam setelah diletakkan.
Warnanya menjadi hitam.
Dengan warna ini, nilai kamuflase telur cukup tinggi dan lepas dari pengamatan pemangsa, seperti burung atau serangga pemangsa lainnya Setelah menetas, anak nyamuk langsung berenang di dalam air.
Masa kehidupan di dalam air dimulai untuk larva nyamuk.
Anakan ini akan semakin besar.
Kulit yang ada tidak lagi dapat menutupi tubuhnya.
Mereka melepaskan kulit atau cangkang ini, dan membetuk cangkang baru.
Pergantian kulit atau cangkang ini berjalan dua atau tiga kali pada masa ini.
Dalam kehidupan di air, larva nyamuk memilki organ-organ yang sama sekali berbeda saat sudah menjadi nyamuk.
Pada kehidupan di air, mereka memiliki semacam rambut yang tumbuh di sekitar bagian mulut.
Dengan gerakan rambut ini, larva dapat mengarahkan jasad renik yang ada di perairan ke bagian mulutnya.
Untuk bernapas, mereka menggunakan alat pernafasan yang berbentuk tabung yang terletak di bagian punggungnya.
Mereka mengambil oksigen saat mereka pada posisi jungkir balik di permukaan air.
Untuk mencegah air masuk ke dalam tabung, larva nyamuk mengeluarkan cairan lengket yang dapat mencegah masuknya air.
Tanpa keberadaan alat-alat ini, larva tidak akan dapat bertahan hidup di dalam air.
Pada pergantian kulit terakhir, bentuk larva berubah drastis, menjadi suatu bentuk yang lain sama sekali.
Masa ini disebut sebagai masa “pupa”.
Mereka sudah siap menjadi nyamuk yang “sebenarnya”.
Perubahannya sedemikian rupa sehingga sulit untuk dipercaya bahwa hal ini dilakukan oleh individu dan jenis yang satu.
Perubahannya begitu kompleks, sehingga rasanya tidak dapat dilakukan dengan sempurna oleh mahluk itu sendiri.
Pada masa ini, akan tumbuh dua tabung atau pipa pernafasan baru di bagian kepala untuk menggantikan tabung yang ada di bagian punggung.
Apabila tidak ada tabung baru di kepala, dengan berubahnya bentuk dan posisi mahluk di air, maka apabila hanya ada tabung di punggung, jelas “pupa” nyamuk akan mati.
Hal ini disebabkan karena posisinya yang demikian ini maka air akan masuk ke dalam tabung di punggungnya.
Selama berlangsungnya masa “pupa”,
sekitar tiga sampai empat hari, larva nyamuk yang hidup dalam kepompong akan berpuasa.
Dalam kepompong ini, bentuk larva berubah menjadi nyamuk dewasa seutuhnya, lengkap dengan sayap, dada, perut, kaki, antena, mata, dan seterusnya.
Kemudian kepompong akan terpecah di bagian atas.
Masa ini adalah masa yang sangat rentan bagi nyamuk.
Syarat agar nyamuk dapat terbang adalah tidak boleh terkena air.
Hanya bagian bawah kaki saja yang akan menyentuh air.
Itulah sebabnya, kepompong yang terbuka di bagian atasnya akan dilapisi oleh cairan yang lengket, yang mencegah air masuk ke dalam kepompong.
Setengah jam setelah keluar dari kepompong, nyamuk akan melakukan terbang perdananya.
Saat jentik-jentik bermetamorfose menjadi nyamuk, mereka dilengkapi dengan seperangkat sistem yang canggih guna dapat hidup dan meneruskan keturunannya.
Nyamuk dilengkapi dengan organ yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan suhu, udara, kelembaban dan juga bau.
Bahkan, nyamuk mempunyai kemampuan untuk “melihat melalui perubahan suhu” yang menolongnya saat mencari mangsanya, walaupun keadaan sangat gelap.
Teknik nyamuk dalam “mengisap darah” ternyata merupakan seperangkat sistem yang sangat kompleks dan rumit.
Untuk mengiris kulit mangsanya, digunakan enam “pisau” pengiris yang bekerja seperti gergaji.
Pada saat proses pengirisan berlangsung, nyamuk menyiramkan suatu cairan ke luka yang dibuatnya.
Cairan ini membuat bagian tubuh mangsa yang luka tersebut menjadi mati rasa, sekaligus mencegah darah membeku.
Dengan demikian, mangsa tidak akan merasa terganggu, di samping proses pengisapan darah berjalan lancar.
Apabila salah satu saja organ tidak bekerja baik, maka nyamuk akan memperoleh kesulitan dalam memperoleh pakannya serta meneruskan dan mempertahankan jenisnya.
Dengan rancangan tubuh yang demikian, walaupun “hanya” ada pada nyamuk yang kecil, ini merupakan bukti akan kerja penciptaan.

Di dalam Al-Qur’an, nyamuk yang kecil ini dijadikan contoh untuk memperlihatkan kekuasaan Allah.
Mereka yang beriman mengerti, sedangkan mereka yang kafir menyangkalnya.
Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat ini diturunkan berhubungan dengan tuduhan orang Yahudi bahwa perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an itu tidak mempunyai nilai yang berarti, karena dalam perumpamaan itu disebut sesuatu yang tidak berarti bahkan termasuk binatang kecil lagi hina, seperti dzubab yang berarti lalat (Al-Hajj:73) dan ankabut yang berarti laba-laba (Al-‘Ankabut:41).
Tetapi seandainya orang Yahudi itu mengetahui maksud perumpamaan itu, tentu mereka akan menyatakan bahwa perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an merupakan perumpamaan yang tepat dan benar seperti pada Al-‘Ankabut:41: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah.
Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui.

Pada ayat ini orang musyrik disamakan dengan laba-laba, iman mereka terhadap apa yang mereka sembah disamakan dengan sarang laba-laba yang rapuh yang mereka jadikan sebagai tempat berlindung dari segala bahaya.
Padahal sedikit saja kena angin sarang itu akan rusak dan hancur.

Dalam membuat perumpamaan bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang kecil dan besar, hina dan murka, semua adalah makhluk ciptaan Allah.
Yang penting ialah perumpamaan itu mencapai tujuannya.
Dengan turunnya ayat ini, ternyata tuduhan orang Yahudi itu tidak mempunyai alasan yang kuat.
Adapun orang-orang mukmin hati mereka telah dipenuhi taufik dan hidayah Allah dan mereka mengetahui bahwa perumpamaan-perumpamaan itu adalah dari Allah, tetapi orang-orang kafir mengingkarinya bahkan mereka tercengang mendengar perumpamaan-perumpamaan itu, orang-orang kafir dan munafik itu bertambah sombong dan ingkar karenanya.
Allah menyesatkan orang-orang kafir dan munafik dengan membiarkan mereka memilih jalan kesesatan sesudah diterangkan kepada mereka jalan kebenaran.
Oleh karena mereka ingkar dan tidak mau memahami dan memikirkan petunjuk-petunjuk Allah, mereka mengikuti jalan-jalan yang tidak diridai-Nya.
Akibatnya mereka ditimpa azab yang pedih, karena kefasikan mereka.
Orang-orang yang tidak menggunakan pikiran dan ilmu pengetahuan terhadap perumpamaan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala, mereka menghadapinya dengan angkuh yang menyebabkan mereka bertambah sesat.
Mereka tidak mendapat petunjuk dan menjadi sesat karena kefasikannya.
Sebaliknya, orang-orang yang iman di dalam hatinya, mempergunakan akal dan pikirannya, akan mendapat petunjuk dari perumpamaan-perumpamaan itu.

Al Baqarah (2) ayat 26 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 26 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 26 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah memberikan perumpamaan kepada manusia untuk menjelaskan segala hakikat dengan bermacam makhluk hidup dan benda, baik kecil maupun besar.
Orang-orang yang tidak beriman menganggap remeh perumpamaan dengan makhluk-makhluk kecil seperti lalat dan laba-laba ini.
Allah menjelaskan bahwa Dia tidak merasa enggan seperti yang dirasakan manusia, maka Dia pun tidak segan-segan untuk menggambarkan bagi hamba-hamba-Nya segala sesuatu yang dikehendaki-Nya meskipun dengan hal-hal yang sangat kecil.
Allah dapat menjadikan nyamuk atau yang lebih rendah dari itu sebagai perumpamaan.
Orang-orang yang beriman mengetahui maksud perumpamaan itu dan mengetahui pula bahwa hal itu adalah kebenaran dari Allah.
Sedangkan orang-orang yang kafir menerimanya dengan sikap ingkar dengan mengatakan, “Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?”
Perumpamaan ini menjadi sebab kesesatan orang-orang yang tidak mencari dan menginginkan kebenaran, dan sebaliknya, merupakan sebab datanganya petunjuk bagi orang-orang Mukmin yang mencari kebenaran.
Maka, tidak akan tersesat kecuali orang-orang yang membangkang dan keluar dari jalan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Untuk menolak perkataan orang-orang Yahudi, “Apa maksud Allah menyebutkan barang-barang hina ini”,
yakni ketika Allah mengambil perbandingan pada lalat dalam firman-Nya, “…
dan sekiranya lalat mengambil sesuatu dari mereka” dan pada laba-laba dalam firman-Nya, “Tak ubahnya seperti laba-laba,” Allah menurunkan:
(Sesungguhnya Allah tidak segan membuat) atau mengambil (perbandingan) berfungsi sebagai maf`ul awal atau obyek pertama, sedangkan (apa juga) kata penyerta yang diberi keterangan dengan kata-kata yang di belakangnya menjadi maf`ul tsani atau obyek kedua hingga berarti tamsil perbandingan apa pun jua.
Atau dapat juga sebagai tambahan untuk memperkuat kehinaan, sedangkan kata-kata di belakangnya menjadi maf`ul tsani (seekor nyamuk) yakni serangga kecil, (atau yang lebih atas dari itu) artinya yang lebih besar dari itu, maksudnya Allah tak hendak mengabaikan hal-hal tersebut, karena mengandung hukum yang perlu diterangkan-Nya.
(Ada pun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa ia), maksudnya perumpamaan itu (benar), tepat dan cocok dengan situasinya (dari Tuhan mereka, tetapi orang-orang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?”) Matsalan atau perumpamaan itu berfungsi sebagai tamyiz hingga berarti dengan perumpamaan ini.
‘Ma’ yang berarti ‘apakah’ merupakan kata-kata pertanyaan disertai kecaman dan berfungsi sebagai mubtada atau subyek.
Sedangkan ‘dza’ berarti yang berikut shilahnya atau kata-kata pelengkapnya menjadi khabar atau predikat, hingga maksudnya ialah ‘apa gunanya?’ Sebagai jawaban terhadap mereka Allah berfirman:
(Allah menyesatkan dengannya), maksudnya dengan tamsil perbandingan ini, (banyak manusia) berpaling dari kebenaran disebabkan kekafiran mereka terhadapnya, (dan dengan perumpamaan itu, banyak pula orang yang diberi-Nya petunjuk), yaitu dari golongan orang-orang beriman disebabkan mereka membenarkan dan mempercayainya (Tetapi yang disesatkan-Nya itu hanyalah orang-orang yang fasik), yakni yang menyimpang dan tak mau menaati-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Allah Taala tidak malu dari kebenaran untuk menyinggung sesuatu tertentu, kecil maupun besar, sekalipun hanya membuat perumpamaan dengan sesuatu yang sangat kecil, seperti nyamuk, lalat dan yang sejenisnya yang Allah Taalaa membuat permisalan dengannya sebagai bukti kelemahan segala yang disembah selain Allah.Orang-orang mukmin mengetahui hikmah Allah di balik perumpamaannya dengan sesuatu yang kecil dan besar dari makhlukNya.
Lain halnya dengan orang-orang kafir, mereka memperolok-olok dan berkata, Apa yang diinginkan oleh Allah dari perumpamaan dengan serangga yang hina ini?
Allah menjelaskan bahwa yang Dia inginkan adalah ujian, membedakan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir.
Oleh karena itu dengan perumpamaan ini Allah Taalaa memalingkan banyak orang dari kebenaran, karena mereka telah memperolok-oloknya.
Sebaliknya Dia membimbing selain mereka kepada hidayah dan iman.
Allah Taalaa tidak menzhalimi siapa pun, karena Dia

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

As-Saddi di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari sejumlah sahabat, bahwa ketika Allah membuat kedua perumpamaan ini bagi orang-orang munafik, yakni firman-Nya:

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. (Al Baqarah:17)

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit. (Al Baqarah:19)

Yakni semuanya terdiri atas tiga ayat.
Maka orang-orang munafik berkata bahwa Allah Maha Tinggi lagi Mahaagung untuk membuat perumpamaan-perumpamaan ini.
Maka Allah menurunkan ayat ini (yakni Al-Baqarah ayat 26-27) sampai dengan firman-Nya:

Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al Baqarah:27)

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, ketika Allah menyebutkan laba-laba dan lalat dalam perumpamaan yang dibuat-Nya, maka orang-orang musyrik berkata, “Apa hubungannya laba-laba dan lalat disebutkan?”
Lalu Allah menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.

Sa’id meriwayatkan dari Qatadah, bahwa sesungguhnya Allah tiada segan —demi perkara yang hak— untuk menyebutkan sesuatu hal, baik yang kecil maupun yang besar.
Sesungguhnya ketika Allah menyebutkan di dalam Kitab-Nya mengenai lalat dan laba-laba, lalu orang-orang yang sesat mengatakan, “Apakah yang dimaksud oleh Allah menyebut hal ini?”
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.

Menurut kami, dalam riwayat pertama —dari Qatadah— mengandung isyarat bahwa ayat ini termasuk ayat Makkiyyah, tetapi sebenarnya tidaklah demikian (yakni Madaniyyah).
Bahkan riwayat Sa’id yang dari Qatadah lebih mendekati kepada kebenaran.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid semisal dengan riwayat kedua yang dari Qatadah.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Al-Hasan dan Ismail ibnu Abu Khalid hal yang semisal dengan perkataan As-Saddi dan Qatadah.

Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan ayat ini, bahwa hal ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan dunia, yaitu nyamuk tetap hidup selagi dalam keadaan lapar, tetapi bila telah gemuk (kekenyangan), maka ia mati.
Demikian pula perumpamaan kaum yang dibuatkan perumpamaannya oleh Allah di dalam Al-Qur’an dengan perumpamaan ini.
Dengan kata lain, bila mereka kekenyangan karena berlimpah ruah dengan harta duniawi, maka pada saat itulah Allah mengazab mereka.
Kemudian Ar-Rabi’ ibnu Anas membacakan firman-Nya:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, hingga akhir ayat.
(Al An’am:44)

Demikian riwayat Ibnu Jarir.
Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Abu Ja’far, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah.

Demikian perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenai Asbabun Nuzul ayat ini, sedangkan Ibnu Jarir sendiri memilih riwayat yang dikemukakan oleh As-Saddi, mengingat riwayatnya lebih menyentuh surat, maka lebih cocok.

Makna ayat, Allah memberitakan bahwa Dia tidak merasa malu —yakni tidak segan atau tidak takut— untuk membuat perumpamaan apa pun, baik perumpamaan yang kecil ataupun yang besar.

Huruf ma pada lafaz masalan ma menunjukkan makna taqlil (sedikit atau terkecil), dan lafaz ba’udah di-nasab-kan sebagai badal.
Perihal makna ma di sini sama dengan ucapan seseorang la-adriban-na darban ma, artinya aku benar-benar akan memukul dengan suatu pukulan.
Pengertiannya dapat diartikan dengan pukulan yang paling ringan.
Atau huruf ma di sini dianggap sebagai ma nakirah mausufah, yakni huruf ma diartikan dengan penjelasan lafaz ba’udah (nyamuk).

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa huruf ma di sini adalah ma mausulah (kata penghubung), sedangkan lafaz ba’udah di-i’rab-kan sesuai dengan kedudukannya.
Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal seperti ini terjadi dalam percakapan orang-orang Arab, yakni mereka biasa meng-i’rab-kan silah dari huruf ma dan man sesuai dengan kedudukan i’rab keduanya.
Mengingat keduanya adakalanya berupa ma’rifat, adakalanya pula berupa nakirah.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa lafaz ba’udah dapat di-nasab-kan karena membuang harakat jar-nya.
Bentuk kalimat secara utuh menjadi seperti berikut: Innallaha la yastahyi ay-yadriba masalam ma baina ba’udatin ila mafauqaha, yakni sesungguhnya Allah tiada segan untuk membuat perumpamaan apa pun mulai dari seekor nyamuk hingga yang lebih dari itu kecilnya.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Al-Kisai dan Al-Farra.

Ad-Dahhak dan Ibrahim ibnu Ablah membaca lafaz ba’udah dengan bacaan rafa’ (ba’udatun).
Ibnu Jinni memberikan komentarnya bahwa dengan demikian berarti lafaz ba’udatun berkedudukan sebagai silah-nya ma, sedangkan damir yang kembali kepada ma dibuang.
Perihalnya sama dengan i’rab yang terdapat di dalam firman-Nya:

Untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan.
(Al An’am:154)

Bentuk Lengkapnya ialah ‘alal lazi huwa ahsanu.

Imam Sibawaih telah meriwayatkan kalimat yang mengatakan ma anal lazi qailun laka syai-an (Aku bukanlah orang yang pernah mengatakan sesuatu mengenai dirimu).
bentuk Lengkapnya ialah bil lazi huwa qailun laka syaian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…atau yang lebih rendah dari itu.

Sehubungan dengan makna ayat ini ada dua pendapat.

Pendapat pertama mengatakan, yang dimaksud ialah lebih kecil dan lebih rendah darinya.
Perihalnya sama dengan seorang lelaki jika disifati dengan karakter yang tercela, yakni kikir.
Lalu ada pendengar yang menjawabnya, “Memang benar, dia lebih rendah dari apa yang digambarkannya.” Demikian pendapat Al-Kisai dan Abu Ubaid.
Ar-Razi dan kebanyakan ulama ahli tahqiq mengatakan bahwa di dalam hadis disebutkan:

Seandainya dunia ini berbobot di sisi Allah sama dengan sayap nyamuk, niscaya dia tidak akan memberi minum seteguk air pun darinya kepada orang kafir.

Pendapat kedua mengatakan bahwa makna fama fauqaha ialah yang lebih besar dari (nyamuk) itu, atas dasar kriteria bahwa tiada sesuatu pun yang lebih rendah dan lebih kecil daripada nyamuk.
Ini adalah pendapat Qatadah ibnu Di’amah dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Pendapat ini diperkuat oleh sebuah hadis riwayat Imam Muslim melalui Siti Aisyah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tiada seorang muslim pun yang tertusuk oleh sebuah duri hingga yang lebih darinya melainkan dicatatkan baginya karena musibah tersebut suatu derajat (pahala), dan dihapuskan darinya karena musibah itu suatu dosa.

Melalui ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia tidak pernah menganggap remeh sesuatu pun untuk dijadikan sebagai misal (perumpamaan), sekalipun sesuatu itu hina lagi kecil seperti nyamuk, sebagaimana Dia tidak segan-segan menciptakan makhluk yang kecil itu, Dia tidak segan-segan pula membuat perumpamaan dengan makhluk kecil itu, sebagaimana membuat perumpamaan memakai lalat dan laba-laba, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah oleh kalian perumpamaan itu.
Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.
Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.
Amal lemahlah yang menyembah dan amal lemah (pulalah) yang disembah.
(Al-Hajj’: 73)

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah.
Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.
(Al ‘Ankabut:41)

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
(Ibrahim:24-27)

Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun.
(An Nahl:75)

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 26

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan beberapa sanad, yang bersumber dari as-Suddi, bahwa ketika Allah membuat dua perumpamaan kaum munafikin dalam firman-Nya (Al-Baqarah: 17 dan 19), berkatalah kaum munafikin: “Mungkinkah Allah yang Maha Tinggi dan Maha Luhur membuat perumpamaan seperti itu?” Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Baqarah: 26).

Ayat ini menegaskan bahwa dengan perumpamaan-perumpamaan yang Allah kemukakan, orang yang beriman akan menjadi lebih tebal imannya dan yang hanya orang pasik yang akan semakin sesat karena menolak petunjuk Allah.

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari ‘Abdulghani bin Sa’id ats-Tsaqafi, dari Musa bin ‘Abdirrahman, dari Ibnu Juraij dari ‘Atha’, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
‘Abdulghani itu sangat daif.
Bahwa surat Al-Baqarah ayat 26 tersebut diturunkan sehubungan denngan surah al-Hajj atau 73 dan surat al-Ankabuut ayat 41, dengan reaksi kaum munafikin yang berkata: “Bagaimana pandanganmu tentang Allah yang menerangkan lalat dan laba-laba di dalam al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad.
Apakah ini bukan bikinan Muhammad?”

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Tafsir-nya, dari Ma’mar, yang bersumber dari Qatadah.
Bahwa ketika Allah menerangkan laba-laba dan lalat dalam surah al-Hajj ayat 73 dan surah 29 al-Ankabuut ayat 41, kaum musyrikin berkata: “Apa gunanya laba-laba dan lalat diterangkan di dalam al-Qur’an?” Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Baqarah: 26).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan.
Bahwa ayat ini (Al-Baqarah: 26) diturunkan sehubungan dengan dengan surah al-Hajj ayat 73 dan surah al-Ankabuut ayat 41, dengan reaksi kaum musyrikin yang berkata: “Contoh macam apakah ini yang tidak patut dibuat perumpamaan?”

Keterangan: menurut as-Suyuti, pendapat yang pertama (Ibnu Jarir) lebih shahih isnadnya dan lebih munasabah dengan permulaan surah.
Sedangkan yang menerangkan kaum musyrikin, tidak sesuai dengan keadaan ayat Madaniyah (yang diturunkan di Madinah).
Adapun yang diriwayatkan oleh al-Wahidi (sebagaimana telah dikemukakan di atas) yang bersumber dari Qatadah dan al-Hasan, dengan tidak pakai isnad, munasabah apabila menggunakan kata, “Berkatalah kaum Yahudi”.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 26 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 26



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (12 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku