Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 259


اَوۡ کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ اللّٰہُ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰی طَعَامِکَ وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
Au kaal-ladzii marra ‘ala qaryatin wahiya khaawiyatun ‘ala ‘uruusyihaa qaala anna yuhyii hadzihillahu ba’da mautihaa faamaatahullahu mii-ata ‘aamin tsumma ba’atsahu qaala kam labitsta qaala labitstu yauman au ba’dha yaumin qaala bal labitsta mii-ata ‘aamin faanzhur ila tha’aamika wasyaraabika lam yatasannah waanzhur ila himaarika walinaj’alaka aayatan li-nnaasi waanzhur ilal ‘izhaami kaifa nunsyizuhaa tsumma naksuuhaa lahman falammaa tabai-yana lahu qaala a’lamu annallaha ‘ala kulli syai-in qadiirun;

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya.
Dia berkata:
“Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”
Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.
Allah bertanya:
“Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?”
Ia menjawab:
“Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”.
Allah berfirman:
“Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah, dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang), Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia, dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”.
Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata:
“Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
―QS. 2:259
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan hewan ▪ Ampunan Allah yang luas
2:259, 2 259, 2-259, Al Baqarah 259, AlBaqarah 259, Al-Baqarah 259
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 259. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah memberikan perumpamaan lain, yang juga bertujuan untuk membuktikan kekuasaan-Nya.
Akan tetapi tokoh yang dikemukakannya dalam perumpamaan ini bukanlah seorang yang ingkar dan tidak percaya kepada kekuasaan-Nya, melainkan seorang yang pada mulanya masih ragu tentang kekuasaan Allah.
Akan tetapi setelah melihat bukti-bukti yang nyata, maka ia beriman dengan sepenuh hatinya dan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Disebutkan bahwa orang itu pada suatu kali berjalan melalui suatu desa yang sudah merupakan puing-puing belaka.
Bangunan-bangunannya sudah roboh, sehingga atap-atap yang jatuh ke tanah sudah tertimbun oleh reruntuhan dindingnya.
Karena masih meragukan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala, maka ketika ia menyaksikan puing-puing tersebut ia lalu berkata: "Apa mungkinkah Allah menghidupkan kembali desa yang telah roboh ini, dan mengembalikannya kepada keadaan semula?"

Keraguannya tentang kekuasaan Allah untuk dapat mengembalikan desa itu kepada keadaannya semula, dapat pula kita terapkan kepada sesuatu yang lebih besar dari masalah itu, yakni "kuasakah Allah untuk menghidupkan makhluk-Nya kembali di hari berbangkit setelah mereka semua musnah di hari kiamat?"

Oleh karena orang tersebut bukan orang kafir, melainkan seseorang yang masih berada dalam tingkat keragu-raguan tentang kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala, dan ia memerlukan bukti-bukti dan keterangan-keterangan, maka Allah telah berbuat sesuatu yang akan memberikan keterangan-keterangan dan bukti-bukti tersebut kepadanya.
Kejadian tersebut adalah sebagai berikut: Setelah ia menemukan desa itu sunyi-sepi dan bangunan-bangunannya sudah menjadi puing, ia masih menemukan di sana pohon-pohon yang sedang berbuah.
Lalu ia berhenti di suatu tempat, dan setelah menambatkan keledainya, maka ia mengambil buah-buahan itu dan dimakannya.
Sesudah makan ia pun tertidur.
Pada saat itu Allah subhanahu wa ta'ala mematikannya, yaitu dengan mengeluarkan ruhnya dari jasadnya seratus tahun kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menghidupkan-Nya kembali dengan mengembalikannya seperti keadaan semula dan mengembalikan ruhnya kepadanya.
Proses "menghidupkan kembali" ini berlangsung dengan cepat dan mudah, tanpa melalui masa kanak-kanak dan sebagainya.
Sementara itu sisa makanan yang ditinggalkannya sebelum ia dimatikan, ternyata masih utuh dan tidak menjadi rusak, sedang keledainya sudah mati, tinggal tulang-belulang belaka.
Setelah ia dihidupkan seperti semula, maka Allah mengajukan suatu pertanyaan kepadanya: "Sudah berapa lamakah kamu berada di tempat itu?"
Allah subhanahu wa ta'ala mengajukan pertanyaan itu adalah untuk menunjukkan kepadanya bahwa ia tidak dapat mengetahui segala sesuatu, termasuk hal-ihwal dirinva sendiri.
Hal ini telah ternyata benar.
Orang itu menyangka bahwa ia berada di tempat itu barulah sebentar saja, yaitu sehari atau setengah hari saja.
Sebab itu ia menjawab: "Aku berada di tempat ini baru sehari atau setengah hari saja." Lalu Allah menerangkan kepadanya bahwa ia telah berada di tempat itu seratus tahun lamanya.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menyuruhnya untuk memperhatikan sisa-sisa makanan dan minuman yang ditinggalkannya seratus tahun yang lalu yang masih utuh dan tidak rusak.
Ini membuktikan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala sebab biasanya makanan menjadi rusak setelah dua atau tiga hari saja.
Allah subhanahu wa ta'ala juga menyuruhnya untuk memperhatikan keledainya yang telah menjadi tulang-belulang itu pada tempat itu.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menyusun tulang-tulang itu pada tempat dan susunannya semula.
Sesudah itu diberi-Nya daging dan kulit serta alat tubuh lainnya serta dimasukan-Nya roh ke tubuh keledai itu sehingga ia hidup kembali.
Setelah melihat kenyataan-kenyataan itu semua, maka orang tersebut menyatakan imannya dengan ucapan, "Sekarang aku yakin benar-benar bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu termasuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati." Dan berdasarkan keyakinan itu hilanglah keragu-raguan tentang hari berbangkit.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala tidak menjelaskan nama orang tersebut serta nama negeri yang dilalui itu yang dipentingkan dalam ayat ini adalah pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa itu.

Bukti-bukti kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala yang diperlihatkan dalam ayat ini adalah sebagai berikut:

1.Orang yang dihidupkan kembali setelah mati seratus tahun lamanya.
Tulang-tulang keledainya menjadi bukti untuk memastikan bahwa keledainya itu benar-benar telah mati sejak waktu yang lama.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala kuasa menghidupkannya kembali.

2.Sisa-sia makanan dan minumannya seratus tahun yang lalu ternyata masih utuh tentu saja atas kehendak dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala Ini membuktikan kekuasaan-Nya sebab dalam keadaan biasa, makanan dan minuman akan rusak setelah beberapa hari.
Atau makanan itu memang telah rusak tetapi Allah subhanahu wa ta'ala dapat mengembalikannya seperti semula.
Inipun menjunjukkan kekuasaan-Nya.

3.Keledainya yang telah lama mati dan tinggal tulang-belulang belaka oleh Tuhan dihidupkan kembali seperti semula.
Dan hal ini dilakukan dihadapan mata orang tersebut agar dapat disaksikannya dengan nyata.

Semua hal itu merupakan bukti-bukti yang nyata tentang kekuasaan Allah dan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala kuasa menciptakan sesuatu dan kuasa pula untuk mengulangi kejadian makhluk-Nya itu.
Maka sirnalah segala macam syubhat dan keragu-raguan dan timbullah keyakinan yang kokoh tentang keesaan dan kekuasaan Allah.
Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk membangkitkan dan menghidupkan kembali makhluk-Nya di akhirat sesudah kiamat.

Al Baqarah (2) ayat 259 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 259 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 259 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Renungkanlah kisah aneh berikut ini:
kisah seseorang yang melewati suatu negeri yang hancur, atap dan temboknya roboh dan penghuninya binasa.
Ia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali penduduk negeri yang telah mati?"
Kemudian Allah mematikan orang tersebut selama seratus tahun.
Setelah itu ia dibangkitkan kembali agar tahu betapa mudahnya proses kebangkitan, untuk menghilangkan keraguannya.
Ia lalu ditanya, "Berapa lama kamu mati?"
Ia menjawab, "Aku tidak bisa merasakan berapa lamanya, mungkin sehari atau beberapa hari." Dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya kamu telah mati selama seratus tahun." Kemudian Allah mengalihkan pandangannya kepada bukti kekuasaan-Nya yang lain dengan mengatakan, "Lihatlah! Makanan dan minumanmu tidak rusak dan keledaimu tidak berubah.
Kami lakukan itu semua agar proses kebangkitan setelah mati yang kamu nafikan menjadi jelas dan kamu menjadi saksi hidup kebenaran hal tersebut." Selanjutnya Allah memerintahkan orang itu untuk melihat ciptaan-Nya yang lain.
Bagaimana makhluk-makhluk hidup disusun tulangnya, dibalut dengan daging, ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga dapat bergerak.
Ketika kekuasaan Allah dan mudahnya proses kebangkitan menjadi jelas baginya, ia berkata, "Aku yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Atau) tidakkah kamu perhatikan (orang) 'kaf' hanya tambahan belaka (yang lewat di suatu negeri).
Orang itu bernama Uzair dan lewat di Baitulmakdis dengan mengendarai keledai sambil membawa sekeranjang buah tin dan satu mangkuk perasan anggur (yang temboknya telah roboh menutupi atap-atapnya), yakni setelah dihancurkan oleh raja Bukhtanashar.
(Katanya, "Bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah robohnya?") disebabkan kagumnya akan kekuasaan-Nya (Maka Allah pun mematikan orang itu) dan membiarkannya dalam kematian (selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya).
Untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana caranya demikian itu.
(Allah berfirman) kepadanya, (Berapa lamanya kamu tinggal di sini?) (Jawabnya, "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari) karena ia mulai tidur dari waktu pagi, lalu dimatikan dan dihidupkan lagi di waktu Magrib, hingga menurut sangkanya tentulah ia tidur sepanjang hari itu.
(Firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Sebenarnya sudah seratus tahun lamanya kamu tinggal, lihatlah makanan dan minumanmu itu) buah tin dan perasan anggur (yang belum berubah) artinya belum lagi basi walaupun waktunya sudah sekian lama.
'Ha' pada 'yatasannah' ada yang mengatakan huruf asli pada 'sanaha', ada pula yang mengatakannya sebagai huruf saktah, sedangkan menurut satu qiraat, tidak pakai 'ha' sama sekali (dan lihatlah keledaimu) bagaimana keadaannya.
Maka dilihatnya telah menjadi bangkai sementara tulang belulangnya telah putih dan berkeping-keping.
Kami lakukan itu agar kamu tahu, (dan akan Kami jadikan kamu sebagai tanda) menghidupkan kembali (bagi manusia.
Dan lihatlah tulang-belulang) keledaimu itu (bagaimana Kami menghidupkannya) dibaca dengan nun baris di depan.
Ada pula yang membacanya dengan baris di atas kata 'nasyara', sedang menurut qiraat dengan baris di depan berikut zai 'nunsyizuha' yang berarti Kami gerakkan dan Kami susun, (kemudian Kami tutup dengan daging) dan ketika dilihatnya tulang-belulang itu sudah tertutup dengan daging, bahkan telah ditiupkan kepadanya roh hingga meringkik.
(Maka setelah nyata kepadanya) demikian itu dengan kesaksian mata (ia pun berkata, "Saya yakin") berdasar penglihatan saya (bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu").
Menurut satu qiraat 'i`lam' atau 'ketahuilah' yang berarti perintah dari Allah kepadanya supaya menyadari.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Atau apakah kamu wahai Rasul melihat seperti seorang laki-laki yang melewati sebuah perkampungan yang telah hancur perumahannya dan temboknya menumpangi atapnya, lalu laki-laki itu berkata :
Bagaimana Allah menghidupkan perkampungan yang telah mati ini?
Lalu Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.
Allah bertanya kepadanya :
Berapa lama kamu mati?
Dia menjawab :
Satu atau sebagian hari saja.
Lalu Allah mengabarkan kepadanya bahwa dia telah mati selama seratus tahun, Allah memerintahkannya untuk melihat makanan dan minumannya, bagaimana Allah menjaga keduanya sehingga keduanya tidak basi selama masa yang panjang tersebut.
Allah memintanya untuk melihat keledainya, bagaimana Allah menghidupkannya lagi setelah sebelumnya ia hanyalah tulang-belulang yang tercecer.
Allah berfirman kepadanya :
Kami akan menjadikanmu sebagai bukti bagi umat manusia.
Yakni bukti nyata keuasaan Allah dalam membangkitkan sesudah kematian.
Allah memerintahkannya agar melihat kepada tulang-belulang, bagaimana Allah mengangkat sebagian diatas sebagiannya yang lainnya, menyambung sebagian dengan sebagian lainnya, kemudian membungkusnya dengan daging setelah ia tersusun dengan sempurna, kemudian mengembalikan kehidupan kepadanya.
Manakala dia melihat semua itu dengan mata kepalanya, dia pun mengakui keagungan Allah dan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan dia sendiri menjadi bukti bagi manusia.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya.

Makna firman ini dalam hal kekuatannya sama dengan pengertian "Apakah engkau memperhatikan perumpamaan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya." Karena itu, dalam ayat berikutnya di-’ataf-kan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa orang yang lewat tersebut.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Isam ibnu Daud, dari Adam ibnu Iyas, dari Israil, dari Abi Ishaq, dari Najiyah ibnu Ka'b, dari Ali ibnu Abu Talib yang mengatakan bahwa orang yang disebut dalam ayat ini adalah Uzair.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Najiyah pula.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya juga dari Ibnu Abbas, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan Sulaiman ibnu Buraidah.
Pendapat inilah yang terkenal.

Wahb ibnu Munabbih dan Abdullah ibnu Ubaid (yaitu Armia ibnu Halqiya) mengatakan bahwa Muhammad ibnu Ishaq pernah meriwayatkan dari seseorang yang tidak diragukan lagi periwayatannya dari Wahb ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa orang tersebut adalah Khaidir 'alaihis salam

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia pernah mendengar dari Sulaiman ibnu Muhammad Al-Yasari Al-Jari, seseorang dari ahli Al-Jari (yaitu anak paman Mutarrif).
Ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Salman mengatakan, "Sesungguhnya ada seseorang dari ulama negeri Syam mengatakan bahwa orang yang dimatikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala selama seratus tahun, lalu sesudah itu dihidupkan lagi oleh-Nya bernama Hizqil ibnu Bawar."

Mujahid ibnu Jabr mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil.

Adapun negeri yang disebutkan dalam ayat, menurut pendapat yang terkenal mengatakan Baitul Maqdis.
Orang tersebut melaluinya setelah negeri itu dihancurkan oleh Bukhtanasar dan semua penduduknya dibunuh.

...yang (temboknya) roboh menutupi atapnya.

Khawiyah artinya kosong, tidak ada seorang pun, diambil dari perkataan mereka, "Khawatid daru",
yang artinya rumah itu kosong tak berpenghuni.

'Ala 'Urusyiha, yakni tembok dan atapnya runtuh menimpa halaman negeri tersebut dan lapangannya.
Maka lelaki itu berdiri seraya berpikir tentang kejadian yang menimpa negeri itu dan penduduknya, padahal sebelumnya negeri tersebut sangat ramai dan dipenuhi oleh bangunan-bangunan.
Lalu ia berkata:

Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh?

Dia mengatakan demikian setelah melihat kehancuran dan kerusakan negeri tersebut yang sangat parah, dan sesudah itu bagaimana cara mengembalikannya seperti semula.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.

Menurut suatu pendapat, negeri tersebut diramaikan kembali setelah tujuh puluh tahun kematian lelaki itu, penduduknya lengkap seperti semula, dan kaum Bani Israil kembali lagi ke negeri itu.
Ketika Allah membangkitkannya sesudah ia mati, maka anggota tubuhnya yang mula-mula dihidupkan oleh Allah adalah kedua matanya.
Dengan demikian, maka ia dapat menyaksikan perbuatan Allah, bagaimana Allah menghidupkan kembali dirinya.
Setelah seluruh tubuh lelaki itu hidup seperti sediakala, maka Allah berfirman kepadanya melalui malaikat:

Berapakah lamanya kamu tinggal?
Ia menjawab, "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari."

Dia merasakan bahwa dirinya mati pada permulaan siang hari, kemudian dihidupkan kembali pada petang harinya.
Akan tetapi, ketika ia melihat matahari masih tetap ada, ia menduga bahwa ia dibangkitkan dalam hari yang sama.
Karena itulah ia berkata, "Atau setengah hari." Maka Allah subhanahu wa ta'ala menjawab dengan melalui firman-Nya:

Allah berfirman, "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah."

Demikian itu karena menurut kisahnya disebutkan bahwa lelaki itu membawa buah anggur, buah tin, dan minuman jus.
Maka ia melihatnya masih utuh seperti semula, tiada sesuatu pun yang berubah, minuman jusnya tidak berubah, buah tinnya tidak masam dan tidak busuk, serta buah anggurnya tidak berkurang barang sedikit pun.

dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang).

Yakni bagaimana Allah subhanahu wa ta'ala menghidupkannya kembali dengan disaksikan oleh kedua matamu.

Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia.

Yaitu sebagai dalil yang membuktikan adanya hari berbangkit.

Dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali.

Maksudnya, bagaimana Kami mengangkatnya dan menyusun sebagian darinya atas sebagian yang lain hingga seperti bentuk semula.

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Nafi' ibnu Abu Na'im, dari Ismail ibnu Hakim, dari Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ membaca kaifa nunsyizuha dengan memakai huruf za.
Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Menurut pendapat yang lain dibaca nunsyiruha (dengan memakai huruf ra), artinya 'Kami menghidupkannya kembali'.
Demikianlah menurut Mujahid.

...kemudian Kami menutupinya dengan daging.

As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa tulang-belulang keledainya telah bercerai-berai di sebelah kanan dan kirinya.
Lalu ia memandang ke tulang-belulang itu yang berkilauan karena putihnya.
Kemudian Allah mengirimkan angin, lalu angin itu menghimpun kembali tulang-belulang itu ke tempat semula.
Kemudian masing-masing tulang tersusun pada tempatnya masing-masing, hingga jadilah seekor keledai yang berdiri berbentuk rangka tulang tanpa daging.
Selanjutnya Allah memakaikan kepadanya daging, otot, urat, dan kulit, lalu Allah mengirim malaikat yang ditugaskan untuk meniupkan roh ke dalam tubuh keledai itu melalui kedua lubang hidungnya.
Maka dengan serta merta keledai itu meringkik dan hidup kembali dengan seizin Allah subhanahu wa ta'ala Semuanya itu terjadi di hadapan pandangan mata Uzair.
Setelah ia menyaksikan hal itu dengan jelas dan kini ia mengerti, maka ia berkata yang perkataannya disitir oleh firman-Nya:

Dia berkata, "Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Yakni saya yakin akan hal ini karena saya telah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, dan saya adalah orang yang paling mengetahui hal ini di antara semua manusia yang hidup di zaman saya.

Menurut ulama yang lain, ayat ini dibaca i'lam yang artinya 'ketahuilah', sebagai perintah buat dia untuk mengetahuinya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 259

THA'AAM
طَعَام

Tha'aam adalah kata benda dalam bentuk mufrad, jamaknya ialah ath'imah. Tha'aam ialah nama keseluruhan bagi setiap yang dimakan dan ada yang mengatakan ia dikhususkan bagi gandum.

Al Kafawi berkata,
"Tha'aam kadangkala digunakan untuk menyebut minuman, sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Al Baqarah (2) ayat 249:

وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ

"Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku"."

Dikatakan begitu karena asal lafaz ini mengisyaratkan, merasakan sesuatu atau setiap apa yang dirasai seperti yang disebutkan dalam hadis Rasulullah mengenai air zamzam, yang artinya:

"Sesungguhnya ia adalah makanan bagi kelaparan dan obat bagi penyakit."

Lafaz tha'aam disebut 24 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 61, 184, 259;
-Ali Imran (3), ayat 93;
-Al Maa'idah (5), ayat 5 (dua kali), 75, 95, 96;
-Yusuf (12), ayat 37;
-Al Kahfi (18), ayat 19;
-Al Anbiyaa (21), ayat 8;
-Al Furqaan (25), ayat 7, 20;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-Ad Dukhaan (44), ayat 44;
-Al Haaqqah (69), ayat 34, 35, 36;
-Al Muzzammil (73), ayat 13;
-Al nsaan (76), ayat 8;
-'Abasa (80), ayat 24;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 6;
-Al Fajr (89), ayat 18;
-Al Ma'un (107), ayat 3.

Tha'aam di dalam Al Qur'an mengandung beberapa makna:

1. Sejenis makanan, yaitu Al manna (roti) dan As salwa (madu). Mmakna ini ada dalam surah Al Baqarah ayat 61, di mana tha'aam di sini dikaitkan dengan wahid yang artinya satu. Ini adalah pendapat Ibn Katsir dan As Sabuni.' Ibn Katsir berkata,
"Bani Israil mengatakan tha'aam waahid yaitu al mann was salwa karena mereka memakan keduanya setiap hari dan tidak pernah berubah.

2. Tha'am juga bermakna mencakupi semua jenis makanan separti dalam surah Ali Imran ayat 93. Tha'aam yang diuraikan oleh Al Qur'an dapat dibahagi dalam tiga kategori utama yaitu nabati, hewani dan olahan.

- Yang termasuk dalam nabati terdapat dalam surah 'Abasa (80), ayat 24 hingga 32 di mana surah ini me­merintahkan manusia memperhatikan makanannya, disebutkan sekian banyak jenis tumbuhan yang dikaruniakan Allah bagi kepentingan manusia dan binatang, Allah firman yang berarti,

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian kami belah bumi dengan sebaik-sebaiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputnya, untuk kesenangan kamu dan untuk binatang ternak."

- Sedangkan tha'aam yang temasuk dalam kategori hewani Al Qur'an mengklasifikasikan dua kelompok besar yaitu yang berasal dari laut dan darat. Ayat yang menyinggung makanan yang berasal dari laut terdapat dalam surah Al Maa' idah (5), ayat 96, makna firman Allah

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan,

Yang termasuk dalam kategori hewan terakam dalam firman Allah dalam surah Al Maa'idah (5), ayat 5 yang berarti,

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.

Al Qurtubi berkata,
"Tha'aam ialah nama bagi perkara yang dimakan dan di sini dikhususkan dengan sembelihan (dari hewan) menurut jumhur ulama"

- Makanan olahan. Berdasarkan penjelasan terdahulu, minuman adalah salah satu jenis makanan. Oleh karena itu, khamar juga salah satu jenis makanan. Al Qur'an menegaskan hal itu dalam surah An Nahl (16), ayat 67,

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.

Lafaz tha'aam juga dapat dibagi kepada dua keadaan yaitu makanan yang termasuk makanan di dunia dan makanan pada hari akhirat. Untuk makanan di dunia sudah disebutkan sebelum ini dan untuk makanan di akhirat, lafaz ini lebih cenderung digunakan bagi makanan yang diperuntukkan di dalam neraka.

Kategori ini terdapat dalam surah:
-Ad Dukhan (44), ayat 44;
-Al Haaqqah (69), ayat 34;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 6;
-Al Muzzammil (73 ), ayat 13.

Contohnya dalam surah As Dukhan, Allah berfirman yang artinya:

Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa.

Kesimpulannya, lafaz tha'aam di dalam Al Qur'an mengandung makna makanan, baik di dunia yang terdiri dari hewan, tumbuhan atau olahan dan makanan pada hari akhirat bagi orang yang berdosa.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:331-333

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 259 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 259



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (21 votes)
Sending