Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 253


تِلۡکَ الرُّسُلُ فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ۘ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ بَعۡضَہُمۡ دَرَجٰتٍ ؕ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ وَ لٰکِنِ اخۡتَلَفُوۡا فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اٰمَنَ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَفَرَ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلُوۡا ۟ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَفۡعَلُ مَا یُرِیۡدُ
Tilkarrusulu fadh-dhalnaa ba’dhahum ‘ala ba’dhin minhum man kallamallahu warafa’a ba’dhahum darajaatin waaatainaa ‘iisaabna maryamal bai-yinaati wa-ai-yadnaahu biruuhil qudusi walau syaa-allahu maaaqtatalal-ladziina min ba’dihim min ba’di maa jaa-athumul bai-yinaatu walakiniikhtalafuu faminhum man aamana waminhum man kafara walau syaa-allahu maaaqtataluu walakinnallaha yaf’alu maa yuriid(u);

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain.
Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.
Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.
Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan.
Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
―QS. 2:253
Topik ▪ Takdir ▪ Segala sesuatu ada takdirnya ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
2:253, 2 253, 2-253, Al Baqarah 253, AlBaqarah 253, Al-Baqarah 253
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 253. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa di antara rasul-rasul-Nya ada yang mendapat kesempatan berbicara langsung dengan-Nya tanpa perantaraan malaikat Jibril a.s.
Rasul yang dimaksud di sini ialah Nabi Musa a.s.
berbicara langsung dengan Allah subhanahu wa ta'ala tidak pernah dialami oleh rasul-rasul yang lain.
Oleh sebab itulah maka Nabi Musa a.s.
disebut "Kalimullah",
yang berarti "nabi yang diajak berbicara langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala".

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa Nabi Isa a.s.
telah diberi-Nya bermacam-macam mukjizat yang tidak diberikan-Nya kepada yang lain, misalnya ia telah dapat berbicara ketika ia masih berada dalam buaian, dan ia dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati, serta menyembuhkan orang-orang buta dan orang-orang yang ditimpa penyakit sopak dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala Dan Allah menyokongnya pula dengan Ruhul Qudus, yaitu malaikat Jibril a.s.
di samping ia sendiri mempunyai jiwa yang murni.

Akhirnya, Nabi Muhammad ﷺ.
diberi-Nya derajat yang lebih tinggi daripada rasul-rasul sebelumnya, yaitu ia telah dinyatakan sebagai nabi dan rasul Allah yang terakhir untuk seluruh umat manusia, sedang rasul-rasul yang lain yang diutus untuk kaumnya saja.
Dan agama Islam yang dibawa Nabi ﷺ.
adalah berlaku untuk seluruh umat, tempat dan zaman sampai hari kiamat kelak, dan Alquran diterimanya selain menjadi petunjuk umat manusia, juga merupakah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad ﷺ.
yang tak tertandingi sepanjang masa.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menerangkan keadaan umat manusia sepeninggal rasul-rasul yang telah diutus kepada mereka.
Pada umumnya, ketika rasul-rasul itu masih hidup umatnya sudah dapat bersatu-padu akan tetapi sepeninggal rasul itu mereka lalu berselisih dan bertengkar bahkan ada yang saling membunuh.
Perbedaan-perbedaan paham dalam masalah agama mendorong mereka untuk saling mencaci, bahkan saling mengkafirkan.
Dan kefanatikan mereka terhadap sesuatu mazhab atau seorang imam menyebabkan mereka tidak mau menerima kebenaran yang dikemukakan oleh golongan lain.

Perselisihan-perselisihan itu terjadi, padahal mereka sudah mendapatkan keterangan-keterangan yang nyata, dan mereka telah berselisih, sehingga sebagiannya beriman dan yang lainnya kafir.
Andaikata Allah subhanahu wa ta'ala menghendaki agar manusia tidak berselisih dan tidak bermusuhan atau berbunuhan, niscaya Allah kuasa berbuat demikian.
Dan jika Allah berbuat semacam itu tentulah manusia akan menjadi baik semuanya dan dunia ini akan terteram dari perselisihan-perselisihan antara manusia.

Akan tetapi Allah subhanahu wa ta'ala berbuat menurut kehendak-Nya berdasarkan kepada hikmah dan pengetahuan yang maha tinggi.
Allah subhanahu wa ta'ala memberi manusia tabiat, pikiran, perasaan dan kemauan agar manusia itu dapat berpikir dan berbuat lebih baik dari makhluk-makhluk yang lainnya di bumi ini dan agar mereka berpikir tentang kekuasaan Allah.
Apabila manusia menggunakan pikiran dan perasaannya itu sebaik-baiknya niscaya mereka akan melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala di mana-mana sebab alam yang terbentang luas ini adalah tanda-tanda kekuasaan kebesaran-Nya sebab semuanya itu adalah ciptaan-Nya.

Di samping itu Allah mengkaruniakan agama kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya untuk menuntun akal manusia ke jalan yang benar.
Sebab kemampuan akal manusia itu adalah terbatas apalagi mengenai masalah-masalah yang gaib atau abstrak, seperti sifat-sifat Allah subhanahu wa ta'ala, hal-ihwal hari kemudian dan sebagainya.
Sehingga apabila terjadi perselisihan pendapat antara mereka, maka mereka dapat menyelesaikannya dengan petunjuk dari agama tersebut.

Perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di antara manusia adalah wajar.
Akan tetapi perbedaan-perbedaan pendapat ini tidak boleh menimbulkan permusuhan yang menyebabkan mereka saling membunuh.

Sejarah telah menunjukkan bahwa kaum Yahudi sepeninggal Nabi Musa a.s.
telah berselisih dan berpecah belah.
Demikian pula umat Nasrani sepeninggal Nabi Isa a.s.
sampai sekarang ini.
Antara golongan-golongan Nasrani sendiri terjadi pertengkaran yang berlarut-larut, saling menyerang dan saling membunuh.
Golongan yang satu tidak mau beribadah di tempat peribadatan golongan lain, walaupun mereka seagama.

Umat Islam pun tak luput dari perpecahan itu.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ.
masih hidup, mereka telah menjadi umat yang bersatu padu, dan mempunyai potensi yang besar fisik dan mental, hidup rukun dan saling menolong.
Akan tetapi kemudian mereka telah jadi berpuak-puak karena adanya perbedaan paham ditambah dengan fanatisme mazhab dan golongan.
Sehingga kekuatan mereka menjadi lemah, mereka menjadi umat yang terbelakang, dengan perekonomian yang lemah serta menjadi bulan-bulanan bagi umat yang bukan Islam.
Padahal Allah telah memberikan petunjuk dalam Alquran:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnah Nabi) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih ulama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

(Q.S An Nisa':59)

Al Baqarah (2) ayat 253 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 253 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 253 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Rasul-rasul yang telah Kami sebutkan, masing-masing Kami lebihkan satu dari yang lain.
Di antara mereka ada yang Kami ajak bicara tanpa perantara, seperti Musa.
Ada yang derajatnya Kami angkat melebihi yang lain, yaitu Muhammad, yang risalahnya berlaku untuk umum.
Syariatnya sempurna dan sekaligus menjadi penutup semua risalah.
Di antara mereka terdapat 'Isa putra Maryam yang Kami berikan mukjizat seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan dan orang yang berpenyakit lepra.
Ia Kami perkuat dengan Jibril, Ruh al-Quddus.
Para rasul tersebut datang dengan membawa petunjuk, agama kebenaran dan beberapa penjelasan.
Maka, sudah semestinya semua manusia beriman, tidak berselisih dan tidak saling memerangi.
Jika Allah menghendaki manusia untuk tidak saling memerangi setelah kedatangan para rasul dengan membawa bukti yang jelas kepada kebenaran, niscaya tidak akan ada peperangan dan perselisihan.
Tetapi Allah tidak menghendaki demikian, maka mereka tetap berselisih.
Di antara mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir.
Kalau Allah menghendaki, mereka tidak akan saling membunuh dan berselisih bahkan mereka akan berada dalam kebenaran.
Akan tetapi Allah melaksanakan kehendak-Nya sesuai dengan hikmah yang Dia tentukan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Para rasul itu) menjadi mubtada, sedangkan khabarnya adalah (Kami lebihkan sebagian atas lainnya), yaitu dengan memberi mereka keistimewaan yang tidak diberikan kepada lainnya.
(Di antara mereka ada yang diajak berbicara oleh Allah), misalnya Musa (dan sebagian ditinggikan-Nya - kedudukannya -), yakni nabi Muhammad ﷺ (beberapa tingkat) dari yang lainnya, misalnya dengan dakwahnya yang umum, mukjizat yang berlimpah dan keistimewaan yang tidak terhitung banyaknya.
(Dan Kami berikan kepada Isa bin Maryam beberapa mukjizat dan Kami kuatkan ia dengan Roh Kudus), yakni Jibril yang mengiringkannya ke mana pergi.
(Sekiranya Allah menghendaki) tentulah akan ditunjuki-Nya semua manusia dan (tidaklah mereka akan berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah mereka), yakni sesudah para rasul itu, maksudnya ialah umat-umat mereka (sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan) disebabkan pertikaian dan saling menyesatkan di antara mereka.
(Tetapi mereka bertikai) disebabkan kehendak Allah tadi, (maka di antara mereka ada yang beriman) artinya kuat dan tetap keimanannya (dan di antara mereka ada pula yang kafir) seperti orang-orang Kristen setelah Almasih.
(Sekiranya Allah menghendaki tidaklah mereka akan berbunuh-bunuhan) sebagai pengukuhan (tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) yaitu menunjuki siapa yang disukai-Nya dan menjatuhkan orang yang dikehendaki-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Para Rasul yang mulia itu, sebagian dari mereka diunggulkan oleh Allah atas sebagian yang lainnya, menurut apa yang Allah anugerahkan kepada mereka.
Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung kepadanya, yaitu Musa dan Muhammad.
Ini menetapkan sifat kalam bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya.
Di antara mereka ada yang Allah angkat ke derajat-derajat yang tinggi seperti Muhammad dengan keumuman risalah penutup nubuwwah, keunggulan umatnya atas umat-umat yang lain dan sebagainya.
Dan Allah telah memberikan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan dan mencengangkan kepada Isa putra Maryam seperti menyembuhkan orang buta bawaan sejak lahir dengan izin Allah, menyembuhkan penderita penyakii sopak dengan izin Allah dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan Allah mendukungnya dengan Jibril.
Seandainya Allah berkehendak supaya orang-orang yang datang setelah para Rasul tersebut tidak bertikai setelah datang kepada mereka keterangan dari Allah, niscaya mereka tidak akan bertikai.
Akan tetapi khilaf tetap terjadi di antara mereka; di antara mereka ada yang tetap teguh diatas imannya, dan diantara mereka ada yang tetap bersikukuh di atas kekufurannya.
Kalau Allah berkehendak, setelah terjadi perselisihan diantara mereka yang membawa kepada pertikaian, niscaya mereka tidak bertikai.
Akan tetapi Allah memberikan taufik-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki untuk menaati-Nya dan beriman kepada-Nya, dan membiarkan siapa yang Dia kehendaki sehingga dia mendurhakai-Nya dan kafir kepada-Nya.
Dia melakukan dan memilih sebagaimana yang Dia kehendaki.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan bahwa Dia mengutamakan sebagian rasul-rasul atas sebagian yang lain.
Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain) dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
(Al Israa':55)

Sedangkan di dalam surat ini disebutkan:

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain.
Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia).

Yang dimaksud ialah Nabi Musa dan Nabi Muhammad ﷺ, demikian pula Nabi Adam.
Seperti yang disebutkan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya melalui Abu Zar r.a.

...dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.

Sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis Isra, yaitu ketika Nabi ﷺ bersua dengan para nabi lainnya di langit sesuai dengan perbedaan kedudukan mereka di sisi Allah subhanahu wa ta'ala

Apabila dikatakan, apakah kaitan antara ayat di atas dengan hadis yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah, yaitu sebagai berikut:

Seorang lelaki dari kalangan kaum muslim bertengkar dengan seorang lelaki Yahudi.
Lelaki Yahudi itu berkata dalam sumpah yang diucapkannya, "Tidak, demi Tuhan yang telah memilih Musa atas semua manusia." Maka lelaki muslim mengangkat tangannya dan menampar wajah orang Yahudi tersebut seraya berkata, "Hai orang yang buruk, juga atas Muhammad ﷺ?"
Lelaki Yahudi datang menghadap Nabi ﷺ, lalu mengadukan perihal lelaki muslim tadi.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mengutamakan diriku atas para nabi, karena sesungguhnya manusia itu semuanya mati di hari kiamat nanti, dan aku adalah orang yang mula-mula dibangunkan.
Ternyata kujumpai Musa sedang memeluk tiang Arasy.
Aku tidak mengetahui apakah dia terbangun sebelumku ataukah dia telah memperoleh balasannya dengan kematian (sa'iqah) ketika di Bukit Tur?
Karena itu, janganlah kalian mengutamakan diriku atas para nabi."

Menurut riwayat yang lain disebutkan:

Janganlah kalian saling mengutamakan di antara para nabi.

Maka sebagai jawabannya dapat dikatakan seperti berikut:

Pertama, hal ini terjadi sebelum Nabi ﷺ mengetahui keutamaan dirinya atas para nabi lainnya.
Akan tetapi, alasan ini masih perlu dipertimbangkan.

Kedua, sesungguhnya hal ini sengaja dikatakan oleh Nabi ﷺ sebagai ungkapan rasa rendah dirinya.

Ketiga, larangan dalam hadis ini mengandung makna tidak boleh saling mengutamakan dalam keadaan seperti itu, yakni dalam situasi pertengkaran dan persengketaan.

Keempat, larangan ini mengandung pengertian tidak boleh saling mengutamakan hanya berdasarkan pendapat dan fanatisme.

Kelima, manusia tidak berhak saling mengutamakan di antara para nabi, melainkan hal tersebut hanyalah hak Allah subhanahu wa ta'ala semata.
Manusia hanya diharuskan tunduk, berserah diri, dan beriman kepada-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat.

Yang dimaksud dengan al-bayyinat ialah hujah-hujah dan dalil-dalil yang akurat yang membenarkan apa yang ia sampaikan kepada kaum Bani Israil, bahwa dia adalah hamba dan utusan Allah kepada mereka.

...dan Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.

Yakni Allah memperkuatnya dengan Malaikat Jibril 'alaihis salam

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.
Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan.

Dengan kata lain, hal tersebut terjadi karena keputusan dan takdir Allah.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Akan tetapi, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (253-254) - Indonesian - Rizky Pepew
QS 2 Al-Baqarah (253-254) - Arabic - Rizky Pepew


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 253 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 253



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (15 votes)
Sending







✔ surah al baqarah ayat 253-254 dan terjemahan