Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 25 [QS. 2:25]

وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
Wabasy-syiril-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihaal anhaaru kullamaa ruziquu minhaa min tsamaratin rizqan qaaluuu hadzaal-ladzii ruziqnaa min qablu wautuu bihi mutasyaabihan walahum fiihaa azwaajun muthahharatun wahum fiihaa khaaliduun(a);
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata,
“Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.”
Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa.
Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci.
Mereka kekal di dalamnya.
―QS. Al Baqarah [2]: 25

And give good tidings to those who believe and do righteous deeds that they will have gardens (in Paradise) beneath which rivers flow.
Whenever they are provided with a provision of fruit therefrom, they will say,
"This is what we were provided with before."
And it is given to them in likeness.
And they will have therein purified spouses, and they will abide therein eternally.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 25]

وَبَشِّرِ dan sampaikan kabar gembira

And give good news
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

(to) those who
ءَامَنُوا۟ beriman

believe,
وَعَمِلُوا۟ dan mereka berbuat

and do
ٱلصَّٰلِحَٰتِ kebaikan

[the] righteous deeds,
أَنَّ sesungguhnya

that
لَهُمْ bagi mereka

for them
جَنَّٰتٍ surga-surga

(will be) Gardens,
تَجْرِى mengalir

flow
مِن dari

[from]
تَحْتِهَا bawahnya

under them
ٱلْأَنْهَٰرُ sungai-sungai

the rivers.
كُلَّمَا setiap kali

Every time
رُزِقُوا۟ mereka diberi rezki

they are provided
مِنْهَا dari padanya

therefrom
مِن dari

of
ثَمَرَةٍ buah-buahan

fruit
رِّزْقًا (sebagai) rezki

(as) provision,
قَالُوا۟ mereka berkata

they (will) say,
هَٰذَا ini

"This (is)
ٱلَّذِى yang

the one which
رُزِقْنَا direzkikan kepada kami

we were provided
مِن dari

from
قَبْلُ dahulu

before."
وَأُتُوا۟ dan mereka diberi

And they will be given
بِهِۦ dengannya

therefrom
مُتَشَٰبِهًا yang serupa

(things) in resemblance;
وَلَهُمْ dan bagi mereka

And for them
فِيهَآ didalamnya

therein
أَزْوَٰجٌ isteri-isteri

spouses

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:25

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 25. Oleh Kementrian Agama RI


Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ agar menyampaikan
"berita gembira"
kepada orang-orang yang beriman.
Sifat-sifat berita gembira itu ialah berita yang dapat menimbulkan kegembiraan dalam arti yang sebenarnya bagi orang-orang yang menerima atau mendengar berita itu.

"Berita gembira"
hanya ditujukan kepada mereka yang bekerja dan berusaha dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan yang digariskan oleh agama.
Karena itulah Allah menyuruh Nabi Muhammad menyampaikan berita gembira itu kepada mereka yang beriman dan berbuat baik.


Iman yang dihargai Allah adalah iman yang hidup, yakni iman yang dibuktikan dengan amal kebajikan.
Sebaliknya, Allah tidak menghargai amal apabila tidak berdasarkan iman yang benar.


"Amal"
(perbuatan) ialah mewujudkan suatu perbuatan atau pekerjaan, baik berupa perkataan, perbuatan atau pun ikrar hati, tetapi yang biasa dipahami dari perkataan
"amal"
ialah perbuatan anggota badan.
Amal baik mewujudkan perbuatan yang baik seperti yang telah ditentukan oleh agama.


Pada ayat di atas Allah ﷻ menyebut perkataan
"beriman"
dan
"berbuat baik",
karena
"berbuat baik"
itu adalah hasil daripada
"iman".
Pada ayat di atas ini juga disebut balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang beriman, yaitu surga dengan segala kenikmatan yang terdapat di dalamnya.


"Surga"
menurut bahasa berarti
"taman"
yang indah dengan tanam-tanaman yang beraneka warna, menarik hati orang yang memandangnya.
Yang dimaksud dengan
"surga"
di sini tempat yang disediakan bagi orang yang beriman di akhirat nanti.


Surga termasuk alam gaib, tidak diketahui hakikatnya oleh manusia, hanya Allah saja yang mengetahuinya.
Yang perlu dipercaya adalah bahwa surga merupakan tempat yang penuh kenikmatan jasmani dan rohani yang disediakan bagi orang yang beriman.
Bentuk kenikmatan itu tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan duniawi.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 25. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Jika neraka merupakan ganjaran bagi orang-orang kafir, maka surga adalah balasan bagi orang-orang Mukmin.
Kabarkanlah kepada orang-orang yang percaya kepada Allah, Rasul dan Kitab-Nya, tunduk kepada kebenaran tanpa ada keraguan, dan mengerjakan amal saleh, bahwa bagi mereka telah disediakan surga yang penuh dengan buah-buahan, pepohonan dan istana-istana, dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya.


Setiap kali Allah memberikan rezeki kepada mereka di dalam surga dengan sebagian buah- buahannya, mereka berkata,
"Ini seperti apa yang telah diberikan kepada kita sebelumnya."
Karena, jenis dan bentuk buah-buahan yang mereka terima ini memang menyerupai apa yang mereka kenal, tetapi memiliki keistimewaan rasa dan kelezatan.


Mereka juga diberikan pasangan yang benar-benar suci dan tidak tercela sedikit pun.
Mereka akan kekal di dalam surga ini dan tidak akan keluar darinya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Rasul, sampaikanlah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, sebuah berita yang akan mengusik hati mereka dengan kebahagiaan, bahwa di akhirat nanti mereka akan mendapatkan kebun-kebun yang menakjubkan, sungai-sungainya mengalir di bawah istana-istananya yang tinggi dan pohon-pohonnya yang rindang.
Setiap kali mereka mendapatkan rizki dari Allah berupa buah-buahan yang lezat, mereka berkata,
"Kami telah di beri rizki seperti ini sebelumnya".


Namun bila mereka merasakannya, maka mereka akan merasakan sesuatu yang baru dalam rasa dan kelezatannya, sekalipun ia mirip dengan yang sebelumnya dalam warna, penampilan dan warna.
Di surga mereka mendapatkan pasangan-pasangan yang di sucikan dari berbagai macam kotoran hakiki seperti kencing dan haid, juga dari kotoran maknawi seperti dusta dan akhlak yang buruk.


Mereka berada di dalam surga dengan kenikmatan tiada henti.
Mereka tidak akan pernah mati dan juga tidak akan pernah keluar darinya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan sampaikanlah berita gembira) kabarkanlah


(kepada orang-orang yang beriman) yang membenarkan Allah


(dan mengerjakan kebaikan), baik yang fardu atau yang sunah


(bahwa bagi mereka disediakan surga-surga), yaitu taman-taman yang ada pepohonan dan tempat-tempat kediaman


(yang mengalir di bawahnya) maksudnya di bawah kayu-kayuan dan mahligai-mahligainya


(sungai-sungai) maksudnya air yang berada di sungai-sungai itu, karena sungai artinya ialah galian tempat mengalirnya air, sebab airlah yang telah menggali atau menjadikannya ‘nahr’ dan menisbatkan ‘mengalir’ pada selokan disebut ‘majaz’ atau simbolisme.


(Setiap mereka diberi rezeki di dalam surga itu) maksudnya diberi makanan


(berupa buah-buahan, mereka mengatakan,
"Inilah yang pernah) maksudnya seperti inilah yang pernah


(diberikan kepada kami dulu"), yakni sebelum masuk surga, karena buah-buahan itu seperti itu pula ciri masing-masingnya, hampir serupa.


(Mereka disuguhi) atau dipetikkan buah itu


(dalam keadaan serupa), yakni warnanya tetapi berbeda rasanya,


(dan diberi istri-istri) berupa wanita-wanita cantik dan selainnya,


(yang suci) suci dari haid dan dari kotoran lainnya,


(dan mereka kekal di dalamnya) untuk selama-lamanya, hingga mereka tak pernah fana dan tidak pula dikeluarkan dari dalamnya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Setelah menuturkan apa yang disediakan-Nya buat musuh-musuh-Nya dari kalangan orang-orang yang celaka —yakni orang-orang yang kafir kepada-Nya dan kepada rasulrasul-Nya— berupa siksaan dan pembalasan, maka Allah mengiringinya dengan kisah keadaan kekasih-kekasih-Nya dari kalangan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasulrasul-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang keimanan mereka dibuktikan dengan amalamal salehnya.

Berdasarkan pengertian inilah maka Alquran dinamakan ma-sani menurut pendapat yang paling sahih di kalangan para ulama, yang keterangannya akan dibahas dengan panjang lebar pada tempatnya.
Yang dimaksud dengan masani ialah hendaknya disebutkan masalah iman, kemudian diikuti dengan sebutan kekufuran atau sebaliknya, atau perihal orang-orang yang berbahagia, lalu diiringi dengan perihal orang-orang yang celaka atau sebaliknya.
Kesimpulannya ialah menyebutkan sesuatu hal, kemudian diiringi dengan lawan katanya.
Adapun mengenai penyebutan sesuatu yang dikemukakan sesudah penyebutan hal yang semisal dengannya, hal ini dinamakan penyerupaan (tasyabuh), seperti yang akan dijelaskan nanti, insya Allah.
Untuk itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.

Surga-surga tersebut digambarkan oleh ayat ini, mengalir di bawahnya sungai-sungai, yakni di bawah pohon-pohon dan gedung-gedungnya.
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa sungai-sungai surga mengalir bukan pada parit-parit.
Sehubungan dengan Sungai Al-Kausar, telah disebutkan bahwa kedua tepinya terdapat kubah-kubah yang terbuat dari batu permata yang berlubang.
Kedua pengertian ini tidak bertentangan.
Tanah liat surga terdiri atas bibit minyak kesturi, sedangkan batu-batu kerikilnya terdiri atas batu-batu mutiara dan batu-batu permata.
Kami memohon kepada Allah dari karunia-Nya, sesungguhnya Dia Mahabaik lagi Maha Penyayang.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah membacakan kepadaku Ar-Rabi’ ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Asad ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Sauban, dari Ata ibnu Qur-rah, dari Abdullah ibnu Damrah, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sungai-sungai surga mengalir di bagian bawah lereng-lereng atau di bagian bawah bukit-bukit kesturi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-A’masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq yang menceritakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud r.a. pernah mengatakan,
"Sungai-sungai surga mengalir dari bukit kesturi."

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan,
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu."


As-Saddi di dalam kitab tafsirnya mengatakan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu."
Disebutkan bahwa mereka di dalam surga diberi buah-buahan.
Ketika melihat buah-buahan itu mereka mengatakan,
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu di dunia."
Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam dan didukung oleh Ibnu Jarir.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Mereka mengatakan."Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu
"
Makna yang dimaksud ialah ‘seperti yang pernah diberikan kemarin".
Hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas.
Mujahid mengatakan bahwa mereka mengatakan buah-buahan itu serupa dengan apa yang pernah diberikan kepada mereka.

Ibnu Jarir mengatakan —begitu pula yang lainnya— bahwa takwil makna ayat ini ialah,
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu, buah-buahan surga sebelumnya."
Dikatakan demikian karena satu sama lainnya sangat mirip, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat selanjutnya:

…Mereka diberi buah-buahan yang serupa.

Sanid ibnu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami seorang syekh dari kalangan penduduk Al-Masisah, dari Al-Auza’i, dari Yahya ibnu Abu Kasir yang mengatakan bahwa diberikan kepada seseorang di antara penduduk surga piring besar berisikan sesuatu (buah-buahan), lalu ia memakannya.
Kemudian disuguhkan lagi piring besar lainnya, maka ia mengatakan,
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu."
Maka para malaikat berkata,
"Makanlah, bentuknya memang sama, tetapi rasanya berbeda."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Amir ibnu Yusaf, dari Yahya ibnu Abu Kasir yang pernah mengatakan bahwa rerumputan surga terdiri atas minyak za’faran, sedangkan bukit-bukitnya terdiri atas minyak kesturi.
Para ahli surga dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang menyuguhkan beraneka buah-buahan, lalu mereka memakannya.
Kemudian disuguhkan pula kepada mereka hal yang semisal, maka berkatalah penduduk surga kepada para pelayan,
"Inilah yang pernah kalian suguhkan kepada kami sebelumnya."
Lalu para pelayan menjawabnya,
"Makanlah, bentuknya memang sama, tetapi rasanya berbeda."
Hal inilah yang dimaksud dengan firman-Nya,
"Mereka diberi buah-buahan yang serupa."

Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu:
"Wautu bihi mutasyabihan,"
yakni satu sama lainnya mirip, tetapi rasanya berbeda.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan As-Saddi.

Ibnu Jarir meriwayatkan berikut sanadnya, dari As-Saddi di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Mereka diberi buah-buahan yang serupa."
Makna yang dimaksud ialah serupa dalam hal warna dan bentuk, tetapi tidak sama dalam hal rasa.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Mereka diberi buah-buahan yang serupa,"
bahwa buah-buahan surga mirip dengan buah-buahan di dunia, hanya buah-buahan surga lebih wangi dan lebih enak.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Abu Zabyan, dari Ibnu Abbas, bahwa tiada sesuatu pun di dalam surga yang menyerupai sesuatu yang di dunia, hanya namanya saja yang serupa.
Menurut riwayat yang lain, tiada sesuatu pun di dunia sama dengan yang ada di surga kecuali hanya dalam masalah nama saja yang serupa.
Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui riwayat As-Sauri dan Ibnu Abu Hatim melalui hadis Abu Mu’awiyah, keduanya menerima riwayat ini dari Al-A’masy dengan lafaz seperti ini.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Mereka diberi buah-buahan yang serupa,"
bahwa mereka mengenal nama-namanya sebagaimana ketika mereka di dunia, misalnya buah apel dan buah delima bentuknya sama dengan buah apel dan buah delima ketika mereka di dunia.
Lalu mereka mengatakan,
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami sebelumnya ketika di dunia."
Mereka diberi buah-buahan yang serupa, yakni mereka mengenalnya karena bentuknya sama dengan yang ada di dunia, tetapi rasanya tidak sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…Dan untuk mereka di dalamnya (surga) ada istri-istri yang suci.

Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa mutahharah artinya suci dari najis dan kotoran.

Mujahid mengatakan, yang dimaksud ialah suci dari haid, buang air besar, buang air kecil, dahak, ingus, ludah, air mani, dan beranak.

Qatadah mengatakan bahwa mutahharah artinya suci dari kotoran dan dosa (najis).
Menurut suatu riwayat darinya disebutkan tidak ada haid dan tidak ada tugas.
Telah diriwayatkan dari Ata, Al-Hasan, Ad-Dahhak, Abu Saleh, Atiyyah, dan As-Saddi hal yang semisal dengan riwayat tadi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadanya Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa al-mutahharah artinya wanita yang tidak pernah haid.
Dia mengatakan, demikian pula halnya Siti Hawa pada waktu pertama kali diciptakan.
Tetapi ketika ia durhaka, maka Allah berfirman,
"Sesungguhnya Aku menciptakanmu dalam keadaan suci, sekarang Aku akan membuatmu mengalami pendarahan sebagaimana kamu telah melukai pohon ini."
Akan tetapi, riwayat ini dinilai garib.

Akan tetapi, Imam Hakim meriwayatkan-nya di dalam kitab Mustadrak-nya, dari Muhammad ibnu Ya’qub, dari Al-Hasan ibnu Ali ibnu Affan, dari Muhammad ibnu Ubaid dengan lafaz yang sama.

Imam Hakim mengatakan bahwa predikat hadis ini sahih bila dengan syarat Syaikhain.
Apa yang didakwakan oleh Imam Hakim ini masih perlu dipertimbangkan, karena sesungguhnya hadis Abdur Razzaq ibnu Umar Al-Buzai’i dinilai oleh Abu Hatim ibnu Hibban Al-Basti tidak dapat dijadikan sebagai hujah.
Menurut kami, yang jelas pendapat ini merupakan pendapat Qatadah, seperti yang telah kami kemukakan di atas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…Dan mereka kekal di dalamnya.

Hal ini merupakan kebahagiaan yang sempurna, karena sesungguhnya di samping mereka mendapat nikmat tersebut, mereka terbebas dan aman dari kematian dan terputusnya nikmat.
Dengan kata lain, nikmat yang mereka peroleh tiada akhir dan tiada habisnya, bahkan mereka berada dalam kenikmatan yang abadi selama-lamanya.
Hanya kepada Allah-lah kami memohon agar diri kami dihimpun bersama golongan ahli surga ini, sesungguhnya Allah Mahadermawan, Mahamulia, Mahabaik lagi Maha Penyayang.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 25

AZWAAJ
أَزْوَٰج

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari az zawj.

Ibn Faris berkata,
"Kata ini pada mulanya untuk membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, antaranya adalah suami dan isteri.
la juga mengandung makna setiap satu ada bersamanya yang lain dari jenisnya, bentuk yang memiliki lawan baginya seperti, basah dan kering, lelaki dan perempuan, malam dan siang, pahit dan manis, isteri, sahabat.

Ar Razi berkata,
"Ia bermakna lawan dari seorang dan setiap dari keduanya dinamakan az zawj juga.
Oleh karena itu, dikatakan bagi dua adalah zawjan dan kedua-duanya adalah zawj

Al Qur’an tidak menyebut "ta marbutoh" untuk lafaz az zawjah (isteri).

Ar Raghib berkata,
"Tidak ada dalam Al Qur’an perkataan yang menyebut " wazawwajtuhaa huuzan sebagaimana yang dikatakan zawwajtuhu mra atan Hal ini adalah perkara yang perlu diperhatikan.
Hal ini tidak berlaku seperti biasanya antara kita dengan jalan pernikahan."

Kata azwaaj disebut 52 kali di dalam Al Qur’an yaitu pada surah:
Al Baqarah (2), ayat 25, 234, 240, 232, 240;
Ali Imran (3), ayat 15;
An Nisaa (4), ayat 12, 57;
-Al An’aam (6), ayat 139, 143;
At Taubah (9), ayat 24;
-Ar Ra’d (13), ayat 23, 38;.
Al Hijr (15), ayat 88;
An Nahl (16), ayat 72, 72;
-Tha Ha (20), ayat 53, 131;
-Al Mu’minuun (23), ayat 6;
An Nuur (24), ayat 6;
Al Furqaan (25), ayat 74;
-Asy Syu’araa (26), ayat 166;
Ar Rum (30), ayat 21;
Al Ahzab (33), ayat 6, 14, 28, 37, 50, 50, 52, 53, 59;
Faathir (35), ayat 11;
Yaa Siin (36), ayat 36, 56;
-Ash Shaffaat (37), ayat 22;
Az Zumar (39), ayat 6;
-Al Mu’min (40), ayat 8;
Asy Syuura (42), ayat 11, 11;
-Az Zuhkruf (43), ayat 12, 70;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 7;
Al Mumtahanah (60), ayat 11, 11;
-At Taghaabun (64), ayat 14;
At Tahrim (66), ayat 1, 3, 5;
-Al Ma’aarij (70), ayat 30;
An Naba‘ (78), ayat 8.

Lafaz azwaaj di dalam Al Qur’an mencakup makna yang berbeda-beda, bersesuaian dengan kaitan dan hubungan perkara yang dibincangkan, antaranya adalah:

Pertama, ia bermakna bidadari-bidadari seperti dalam surah Al Baqarah, ayat 15.
Dalam tafsir Safwah At Tafasir, lafaz azwaaj bermakna wanita-wanita dari bidadari-bidadari yang suci dari kotoran dan najis yang hissi (nampak) dan manawi (dari segi kejiwaan), haid, nifas dan sebagainya.

Kedua, ia bermakna jenis atau macam sebagaimana makna dari surah Tha Ha, ayat 53; Al An’aam, ayat 143 dan Az Zumar, ayat 6.
Al Fayruz Abadi berkata,
"Makna azwaaj dalam surah Tha Ha ialah bermacam-macam tumbuhan yang sama, berbagai warna, di mana setiap warna terdapat yang sama.
Begitu juga dengan tafsirannya dalam surah Al An’aam, yang bermakna delapan jenis hewan.

Ketiga, ia bermakna sahabat atau teman seperti penafsirannya dalam surah As Saffat, ayat 22 dan Tha Ha, ayat 131.
Pada surah Ash Shaffaat, Ibn Katsir berkata,
"Ia bermakna sahabat-sahabat mereka sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sufyan Ats Tsawri dari Samma’, dari Nu’man, dari Umar bin Khattab.

An Nu’man bin Basyir berkata,
"Makna azwaaj di sini ialah yang serupa dan sama seperti mereka."

Syarik meriwayatkan dari Samma’ dari Nu’man, beliau berkata,
"Aku mendengar Umar bin Khattab berkata,
makna azwaaj ialah asybahahum (yang serupa dengan mereka), yaitu datang orang yang berbuat zina bersama orang yang berbuat zina, dan orang yang melakukan riba bersama dengan orang yang melakukan riba, dan orang yang meminum arak dengan orang yang meminum arak pula."

Begitu juga dengan makna azwaaj dalam surah Tha Ha.
Allah mengabarkan kepada rasul Nya supaya jangan melihat orang yang berada dalam kemewahan dan yang sama dengan mereka yang diberikan kepada mereka kemewahan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 94-95

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 25 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 25 - Gambar 2
Statistik QS. 2:25
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.9 (11 votes)
Tags:

2:25, 2 25, 2-25, Surah Al Baqarah 25, Tafsir surat AlBaqarah 25, Quran Al-Baqarah 25, Surah Al Baqarah ayat 25

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 147 [QS. 37:147]

147-148. Dan setelah pulih, Kami utus dia kembali kepada kaumnya yang saat itu berjumlah seratus ribu orang atau lebih. Kedatangannya disambut gembira karena mereka menunggu seorang rasul yang membim- … 37:147, 37 147, 37-147, Surah Ash Shaffaat 147, Tafsir surat AshShaffaat 147, Quran Al-Shaffat 147, AshShaffat 147, Ash Shafat 147, Ash Shaffat 147, Surah Ash Shaffat ayat 147

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 56 [QS. 2:56]

Peristiwa disambar halilintar itu adalah peristiwa dahsyat sehingga layak sekali bila dikatakan itu adalah peristiwa kematian yang dapat menghancurkan kehidupan generasi mereka secara keseluruhan. Nam … 2:56, 2 56, 2-56, Surah Al Baqarah 56, Tafsir surat AlBaqarah 56, Quran Al-Baqarah 56, Surah Al Baqarah ayat 56

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
البصير

Allah itu Al-Bashir, artinya adalah Allah itu Maha Melihat segala sesuatu. Kita sebagai manusia hanya memiliki penglihatan yang terbatas. Namun Allah bisa melihat segala sesuatu baik dimasa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Allah selalu mengawasi kita semua, sehingga jangan pernah kita berfikir jika kita melakukan kejahatan yang tidak orang lain lihat maka tidak ada yang bisa mengetahui kejahatan itu. Karena Allah itu Maha Melihat.

Tata cara membaca Alquran dimulai dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Isti'adzah atau juga biasa dikenal dengan istilah ta'awwudz secara bahasa adalah memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaaan.

Basmalah berarti mengucapkan kalimat 'Bismillahirrahmanirrahim', terjemahannya yaitu 'Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'.

+

Array

Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
العدل

Allah itu Al-Adl, artinya adalah Allah itu Maha Adil kepada seluruh makhluk-makhluk-Nya. Keadilan Allah bersifat sempurna dan berlaku untuk semua ciptaan-Nya.

Jangan pernah sedikit pun terbesit dalam hati kita untuk berfikir bahwa 'hidup ini tidak adil.' Karena semua telah ditentukan Allah dengan keadilan-Nya. Siapa pun manusia yang murka dengan ketentuan Allah maka Allah pun akan murka kepadanya, dan siapa pun manusia yang ridho maka Allah pun akan ridho kepadanya. Dan siapa pun manusia yang telah diridhoi Allah, maka senantiasa dibukakan jalan keluar yang tidak pernah terduga dalam pikiran manusia.

Dalam surah Alquran, At-Tin artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #24
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #24 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #24 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #13

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Cuka dan labu Roti dan kacang Ayam bakar Daging Unta Kurma

Pendidikan Agama Islam #17

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙDalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah … dan demi malam apabila telah sunyi demi waktu

Pendidikan Agama Islam #26

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … 150 154 100 114 155 Benar! Kurang tepat! Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut …

Instagram