Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 247


وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
Waqaala lahum nabii-yuhum innallaha qad ba’atsa lakum thaaluuta malikan qaaluuu anna yakuunu lahul mulku ‘alainaa wanahnu ahaqqu bil mulki minhu walam yu’ta sa’atan minal maali qaala innallaha-ashthafaahu ‘alaikum wazaadahu basthatan fiil ‘ilmi wal jismi wallahu yu’tii mulkahu man yasyaa-u wallahu waasi’un ‘aliimun;

Nabi mereka mengatakan kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”.
Mereka menjawab:
“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Nabi (mereka) berkata:
“Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.
Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
―QS. 2:247
Topik ▪ Tauhid Uluhiyyah
2:247, 2 247, 2-247, Al Baqarah 247, AlBaqarah 247, Al-Baqarah 247
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 247. Oleh Kementrian Agama RI

Syamuil mengatakan kepada Bani Israil, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengangkat Talut sebagai raja.
Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima Talut sebagai raja dengan alasan, bahwa menurut tradisi, yang boleh dijadikan raja itu hanyalah dari kabilah Yahudi, sedangkan Talut sendiri adalah dari kabilah Bunyamin.
Lagi pula disyaratkan yang boleh menjadi raja itu harus seorang hartawan, sedang Talut sendiri bukan seorang hartawan.
Oleh karena itu secara spontan mereka membantah, “Bagaimana Talut akan memerintah kami, padahal kami lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja?”

Syamuil menjawab bahwa Talut diangkat menjadi raja atas pilihan Allah subhanahu wa ta’ala karena itu Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa sehingga ia mampu untuk memimpin Bani Israil.
Dari ayat ini diambil pengertian bahwa seorang yang akan dijadikan raja itu hendaklah memilih sifat-sifat sebagai berikut:

1.Kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara.
2.Ilmu pengetahuan yang luas, mengetahui di mana letaknya kekuatan umat dan kelemahannya, sehingga dapat memimpinnya dengan penuh kebijaksanaan.
3.Kesehatan jasmani dan kecerdasan pikiran.
4.Bertakwa kepada Allah supaya mendapat taufik daripada-Nya untuk mengatasi segala kesulitan yang tidak mungkin diatasinya sendiri kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya.

Adapun harta kekayaan tidak dimasukkan menjadi syarat untuk menjadi raja karena bila syarat-syarat yang empat tersebut telah dipenuhi, maka mudahlah baginya untuk mendapatkan harta yang diperlukan sebab Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Al Baqarah (2) ayat 247 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 247 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 247 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Nabi mereka berkata, “Allah telah mengabulkan permintaan kalian dengan memilih Thalut sebagai penguasa.” Pemuka-pemuka mereka menolak pilihan Allah itu dengan mengatakan, “Bagaimana ia akan memerintah kami, sedangkan kami lebih berhak?
Thalut bukan keturunan orang berada dan tidak punya kekayaan.” Nabi mereka menjawab, “Allah telah memilih Thalut sebagai penguasa kalian karena ia memiliki kriteria kepemimpinan, seperti pengalaman luas dalam soal perang, kemampuan politik pemerintahan dan fisik yang kuat.
Kekuasaan berada di tangan Allah, diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki tanpa memandang keturunan dan kekayaan.
Ilmu dan karunia Allah sangatlah luas.
Tentu Dia memilih sesuatu yang ada maslahatnya untuk kalian.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kata nabi mereka kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut bagi kamu sebagai raja.” Jawab mereka, “Bagaimana), artinya betapa (ia akan menjadi raja, padahal kami lebih berhak terhadap kerajaan ini daripadanya).
Ia bukanlah dari keturunan raja-raja atau bangsawan dan tidak pula dari keturunan nabi-nabi.
Bahkan ia hanyalah seorang tukang samak atau gembala, (sedangkan ia pun tidak diberi kekayaan yang mencukupi”) yakni yang amat diperlukan untuk membina atau mendirikan sebuah kerajaan.
(Kata nabi) kepada mereka, (“Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai rajamu (dan menambahnya pula keluasan) dan keperkasaan (dalam ilmu dan tubuh”).
Memang ketika itu dialah orang Israel yang paling berilmu, paling gagah dan paling berakhlak.
(Dan Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya) suatu pemberian yang tidak seorang pun mampu untuk menghalanginya.
(Dan Allah Maha Luas) karunia-Nya, (lagi Maha Mengetahui) orang yang lebih patut menerima karunia-Nya itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Nabi mereka berkata kepada mereka :
Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja kalian sebagai jawaban atas permohonan kalian.
Dia yang akan memimpin kalian untuk berperang melawan musuh kalian seperti yang kalian minta.
Maka para pembesar Bani Israil menjawab :
Bagaimana Thalut bisa menjadi raja kami, dia tidak berhak atasnya, dia bukan keturunan raja, bukan dari keturunan nabi dan tidak memiliki harta yang melimpah sebagai modal dia menjadi raja?
Kamilah yang lebih berhak atas kerajaan ini daripadanya, karena kami adalah keturunan raja dan dari keluarga nabi.
Maka Nabi mereka menjawab :
Sesungguhnya Allah yang memilihnya atas kalian, Dia lebih mengetahui urusan hamba-hamba-Nya, di samping itu Allah memberikan kelebihan berupa keluasan ilmu dan kekuatan jasmani untuk memerangi musuh.
Allah adalah pemilik kerajaan, Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Allah Mahaluas pemberian dan karunia-Nya, Maha Mengetahui hakikat segala perkara dan tidak ada sesuatu yang samar bagi Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ketika mereka meminta kepada nabi mereka agar diangkat seorang raja buat mereka, maka Allah menentukan Talut untuk menjadi raja mereka.
Talut adalah seorang lelaki dari kalangan prajurit mereka, bukan berasal dari keluarga raja mereka, karena raja mereka berasal dari keturunan Yahuza, sedang Talut bukan dari keturunannya.
Karena itulah disebut oleh firman-Nya, bahwa mereka mengatakan:

Bagaimana Talut memerintah kami.

Dengan kata lain, mana mungkin Talut menjadi raja kami.

…padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?

Yakni selain dari itu Talut adalah orang yang miskin lagi tidak berharta yang dapat membantunya untuk menjadi seorang raja.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Talut adalah seorang pengangkut air.
Menurut pendapat yang lain, Talut adalah penyamak kulit.

Ungkapan ini merupakan sanggahan mereka terhadap nabi mereka dan sekaligus sebagai suatu protes, padahal yang lebih utama bagi mereka hendaknya mereka taat dan mengucapkan kata-kata yang baik.
Selanjutnya nabi mereka memberikan jawabannya yang disitir oleh firman-Nya:

Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian.

Yaitu Allah-lah yang memilihnya menjadi raja kalian melalui nabi kalian.
Allah lebih mengetahui tentang Talut daripada kalian.
Dengan kata lain, bukan aku yang menentukan Talut menjadi raja atas kemauanku sendiri, melainkan Allah-lah yang memerintahkan kepadaku agar memilihnya di saat kalian meminta hal tersebut kepadaku.

…dan (Allah) menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.

Selain dari itu Talut lebih berilmu daripada kalian, lebih cerdik, lebih banyak akalnya daripada kalian, dan lebih kuat, lebih teguh dalam peperangan serta lebih berpengalaman mengenainya.
Singkatnya, Talut lebih sempurna ilmunya dan lebih kuat tubuhnya daripada kalian.
Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang raja hendaknya memiliki ilmu, bentuk, cakap, kuat, serta perkasa tubuh dan jiwanya.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Artinya, Dialah yang berkuasa yang melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya dan Dia tidak diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah diperbuat-Nya, sedangkan mereka diharuskan mempertanggungjawabkannya.
Hal ini berkat ilmu dan kebijaksanaan-Nya serta belas kasihan-Nya kepada makhluk-Nya.
Untuk itu dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Yakni Dia Mahaluas karunia-Nya, Dia mengkhususkan rahmat-Nya buat siapa yang dikehendaki-Nya, lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak menjadi raja dan siapa yang tidak berhak.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 247

THAALUUT
طَالُوت

Ada yang berpendapat thaaluut berasal dari kata ath thiwaal karena dia mempunyai badan yang besar namun wazannya bila berasal dari al thul adalah fa’alut sehingga menjadi thulut.

Az Zamaksyari berkata ia merupakan nama ‘ajam, sama seperti Jalut dan Daud. Lafaz ini tergolong lafaz yang tidak berubah (mumtani’ minas sarf) disebabkan ke’ajamannya dan tergolong ism ma’rifah, boleh jadi ia juga nama ‘Ibrani yang disesuaikan dengan bahasa Arab.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 247 dan 249.

Dalam Dictionary of Islam, nama thaalut disebut juga dengan saul, atau shaool yaitu raja Israel. Termaktub di dalam Al Qur’an sebagai raja yang dipilih oleh Allah bagi memimpin Israel, seseorang yang diberi ilmu pengetahuan yang luas dan mempunyai perwatakan atau tubuh yang bagus dan perkasa.

Di dalam Al Qur’an, Saul adalah utusan Allah sebagai raja Israel namun mereka mengingkarinya karena mereka beranggapan mereka lebih berhak mengendalikan pemerintahan karena dia tidak diberi kekayaan yang banyak.

Para mufassir berkata berkenaan sebab pengingkaran mereka adalah karena dia berasal dari keturunan Bunyamin bukan berasal dari rumah Yahuza yaitu rumah raja dan bukan juga dari rumah Lawi yang berasal dari rumah kenabian dengan kata lain, dia dipilih dari salah seorang pasukan mereka, tidak berasal dari rumah raja di antara mereka, karena raja berasal dari keturunan Yahuza dan dia juga bukan berasal dari keturunan tersebut.

3 Ibn Jarir berkata,
nabi mereka yaitu Syamuel berkata,
“Sesungguhnya Allah memberikan apa yang kamu pinta dengan mengirimkan thaalut sebagai rajamu, ketika nabi mereka Syamuel berkata begitu, mereka menjawab, “Kenapa dia menjadi raja kami sedangkan dia berasal dari keturunan Bunyamin bin Ya’qub, dan keturunan Bunyamin adalah keturunan yang tidak ada di antara mereka raja maupun nabi. Kami lebih berhak darinya karena kami berasal dari keturunan Yahuza bin Ya’qub.”

Kesimpulannya, thaalut bernama Shaool bin Qays bin Abyfil bin Sarar bin Yahrb bin Afiyyah bin Ayis bin Bunyamin bin Ya’qiib bin Ishaq bin Ibrahim. Seorang raja Israel yang dipilih oleh Allah dalam kalangan mereka bagi memerangi Jalut, keturunan Bunyamin yang tidak ada dari keturunannya raja.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:341-342

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 247 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 247



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (9 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku