Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 240


وَ الَّذِیۡنَ یُتَوَفَّوۡنَ مِنۡکُمۡ وَ یَذَرُوۡنَ اَزۡوَاجًا ۚۖ وَّصِیَّۃً لِّاَزۡوَاجِہِمۡ مَّتَاعًا اِلَی الۡحَوۡلِ غَیۡرَ اِخۡرَاجٍ ۚ فَاِنۡ خَرَجۡنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡکُمۡ فِیۡ مَا فَعَلۡنَ فِیۡۤ اَنۡفُسِہِنَّ مِنۡ مَّعۡرُوۡفٍ ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ
Waal-ladziina yutawaffauna minkum wayadzaruuna azwaajan washii-yatan azwaajihim mataa’an ilal hauli ghaira ikhraajin fa-in kharajna falaa junaaha ‘alaikum fii maa fa’alna fii anfusihinna min ma’ruufin wallahu ‘aziizun hakiimun;

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).
Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka.
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
―QS. 2:240
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Ayat yang dinaskh ▪ Tugas-tugas malaikat
2:240, 2 240, 2-240, Al Baqarah 240, AlBaqarah 240, Al-Baqarah 240
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 240. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menganjurkan kepada para suami apabila ia merasa telah dekat ajalnya agar berwasiat untuk istrinya yaitu dengan memberikan sebagian hartanya untuk belanja selama satu tahun, dengan tetap tinggal di rumahnya.
Jika istrinya meninggalkan rumah setelah setahun, maka keluarga suami tidak boleh menghalangi tindakan istri tersebut karena tidak melanggar ajaran agama.
Umpamanya, untuk aktif di tengah masyarakat dan menunjukkan kesediaannya untuk bersuami lagi.
Sebab, statusnya telah bebas, tidak sebagaimana adat jahilliah, perempuan merupakan harta warisan.
Allah Mahabijaksana dalam menetapkan hukum-hukum untuk kemaslahatan hamba-Nya.

Perlu dijelaskan di sini, pandangan para ulama tafsir mengenai ayat 240 ini, yaitu sebagaimana ahli ushul berbeda pendapat tentang nasikh dan mansukh di dalam Al-Qur’an, terdapat perbedaan pula di kalangan ahli tafsir.
Ada mufasir yang mengakui adanya nasikh dan mansukh di dalam Al-Qur’an dan ada pula yang tidak mengakui.
Ahli tafsir yang mengakui nasikh dalam Al-Qur’an menafsirkan bahwa ayat ini memerintahkan agar suami berwasiat, yaitu menyisihkan sebagian hartanya untuk istrinya yang ditinggalkan untuk masa satu tahun dan ia tetap tinggal di kediaman suaminya.
Hal ini menunjukkan bahwa idah wafat itu satu tahun lamanya.

Maka antara kedua ayat ini (240 dan 234) terdapat hukum yang bertentangan.
Golongan ini memandang bahwa:

(a) Ayat yang menunjukkan idah wafat satu tahun itu lebih belakangan letaknya daripada ayat yang menetapkan idah wafat 4 bulan sepuluh hari, tetapi di dalam sejarah turunnya ia lebih dahulu.
Atas dasar ini, ayat 234 yang menetapkan idah wafat 4 bulan 10 hari menasakh hukum ayat 240 ini.

(b) Kalau tidak diakui adanya nasakh dalam Al-Qur’an, maka zahir ayat ini mewajibkan suami berwasiat untuk istrinya.
Dengan demikian, istri mendapat dua macam bagian, pertama bagian sebagai istri (ahli waris) yang ditetapkan oleh ayat waris, dan kedua, bagian sebagai wasiat menurut ayat ini.
Tetapi ayat ini ditakhsis dengan hadis sahih yang berbunyi: (“Tidak ada wasiat untuk ahli waris,” [Riwayat Ahmad dan Imam Empat kecuali an-Nasa’i]), sehingga istri tidak mendapatkan dua macam bagian.

Al Baqarah (2) ayat 240 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 240 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 240 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah berpesan kepada wanita-wanita yang ditinggal mati suaminya untuk menetap di rumah (dengan tidak disuruh pindah) selama satu tahun penuh, agar diri mereka terhibur dan terkendali.
Tidak seorang pun boleh memaksa mereka keluar.
Jika mereka sendiri pindah di tengah-tengah waktu yang ditentukan tadi secara suka rela, maka tidak ada dosa bagi kalian, sebagai ahli waris, untuk membiarkan mereka bertindak sesuka hati selama tidak melanggar syariat.
Taatilah hukum-hukum Allah dan laksanakanlah segala ketentuan-Nya.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa untuk membalas setiap orang yang melanggar perintah-Nya.
Dan Dia Mahabijaksana, tidak menetapkan hukum kecuali ada maslahat meskipun kalian tidak mengetahuinya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan istri) hendaklah (berwasiat) menurut satu qiraat dengan baris di depan dan berarti wajib berwasiat (untuk istri-istri mereka) agar mereka diberi (nafkah) yang dapat mereka nikmati (hingga) sempurna (satu tahun) lamanya menunggu bagi istri-istri yang ditinggal mati suami (tanpa mengeluarkan mereka), artinya tanpa menyuruh mereka pindah dari rumah yang mereka diami sewaktu suami mereka masih hidup.
(Tetapi jika mereka pindah) atas kemauan sendiri, (maka tidak ada dosa bagimu) hai para wali orang yang mati (mengenai apa yang mereka perbuat terhadap diri mereka secara patut), yakni menurut syariat, misalnya bersolek, menghentikan masa berkabung dan tidak hendak menerima nafkah lagi.
(Dan Allah Maha Tangguh) dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) dalam perbuatan-Nya.
Wasiat yang disebut di atas dinasakh oleh ayat waris dan menunggu selama setahun oleh ayat empat bulan sepuluh hari yang lalu, tetapi turunnya terkemudian.
Mengenai tempat kediaman, menurut Syafii tetap dipertahankan bagi istri-istri itu, artinya tidak dinasakh.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Suami-suami yang wafat dan meninggalkan para istri, mereka patut memberikan wasiat kepada para istri agar para istri tersebut diberi kebebasan penuh selama satu tahun sejak hari wafat, untuk tinggal dirumah peninggalan suaminya, dan selama itu ahli waris suami tidak boleh mengusir mereka.
Hal ini sebagai hiburan bagi para istri dan bukti bakti mereka kepada para suami yang telah meninggal.
Bila para istri memilih untuk keluar dari rumah tersebut secara sukarela sebelum masa satu tahun habis, maka tidak ada dosa atas kalian wahai para ahli waris dalam hal ini, dan tidak ada dosa bagi para istri untuk melakukan hal-hal mubah terkait dengan dirinya.
Allah Mahaperkasa dalam kekuasaan-Nya dan Bijaksana dalam perintah dan larangan-Nya.
Ayat ini telah di mansukh dengan ayat sebelumnya (ayat 234).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa ayat ini di-mansukh oleh ayat sebelumnya, yaitu firman-Nya:

…menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umayyah, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zura’i, dari Habib, dari Ibnu Abu Mulaikah yang menceritakan bahwa Ibnuz Zubair pernah mengatakan bahwa ia pernah mengatakan kepada Usman ibnu Affan mengenai firman-Nya:
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dan meninggalkan istri.
Bahwa ayat ini di-mansukh oleh ayat lainnya, maka mengapa engkau tetap menulisnya atau mengapa tidak engkau tinggalkan?
Khalifah Usman ibnu Affan menjawab, “Hai anak saudaraku, aku tidak akan mengubah barang sedikit pun bagian dari Al-Qur’an ini dari tempatnya.”

Kemusykilan yang diutarakan oleh Ibnuz Zubair kepada Usman ibnu Aftan ialah bilamana hukum ayat telah di-mansukh dengan ayat yang menyatakan beridah empat bulan sepuluh hari, maka hikmah apakah yang terkandung dalam penetapan rasamnya, padahal hukum-nya telah dihapuskan.
Sedangkan keberadaan rasamnya sesudah hukumnya telah di-mansukh memberikan pengertian bahwa hukum ayat yang bersangkutan masih tetap ada?
Maka Amirul Muminin menjawabnya, bahwa hal ini merupakan perkara yang bersifat tauqifi.
Aku menjumpainya ditetapkan dalam mushaf sesudah itu (penasikhan), maka aku pun menetapkannya pula seperti apa yang aku jumpai.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Muhammad, dari Ibnu Juraij dan Usman ibnu Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).
Pada mulanya istri yang ditinggal mati suaminya berhak memperoleh nafkah dan tempat tinggal selama satu tahun penuh, kemudian ayat ini di-mansukh oleh ayat mawaris (waris-mewaris) yang di dalamnya dicantumkan bahwa si istri beroleh seperempat atau seperdelapan dari harta peninggalan suaminya.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, Ibnuz Zubair, Mujahid, Ibrahim, Ata, Al-Hasan, Ikrimah, Qatadah, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, As-Saddi, Mu-qatil ibnu Hayyan, Ata Al-Khurrasani, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas, bahwa ayat ini (Al Baqarah:240) telah di-mansukh.

Telah diriwayatkan melalui jalur Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu apabila seorang lelaki meninggal dunia dan meninggalkan istrinya, maka si istri melakukan idahnya selama satu tahun di rumah si suami dan menerima nafkah dari harta suaminya.
Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Demikianlah idah seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya, kecuali jika ia dalam keadaan hamil, maka idahnya sampai batas ia melahirkan kandungannya.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman pula:

Para istri memperoleh seperempat harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak.
Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kalian tinggalkan.
(An Nisaa:12) Maka melalui ayat ini dijelaskan hak waris istri dan ditinggalkanlah wasiat dan nafkah yang telah disebutkan oleh ayat di atas (Al Baqarah:240).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, Ikrimah, Qatadah, Ad-Dahhsk, Ar-Rabi’, dan Muqatil ibnu Hayyan, bahwa ayat ini (Al Baqarah:240) telah di-mansukh oleh firman-Nya: selama empat bulan sepuluh hari.
(Al Baqarah:234)

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah diriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyab bahwa ayat ini telah di-mansukh oleh ayat yang ada di dalam surat Al-Ahzab, yaitu firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian menikahi perempuan-perempuan yang beriman.
(Al Ahzab:49), hingga akhir ayat.

Menurut kami, telah diriwayatkan pula dari Muqatil dan Qatadah bahwa ayat ini (Al Baqarah:240) telah di-mansukh oleh ayat miras (pembagian waris –ed).

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syibl, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dan meninggalkan istri.
(Al Baqarah:240) Mujahid mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan wanita yang menunggu masa idahnya di rumah keluarga suaminya, sebagai suatu kewajiban.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).
Akan tetapi, jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagi kalian (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang makruf terhadap diri mereka.

Allah menjadikan kelengkapan satu tahun —yaitu tujuh bulan dua puluh hari— sebagai wasiat (dari pihak suami).
Untuk itu jika pihak istri setuju dengan wasiat tersebut, ia boleh tinggal selama satu tahun (di rumah mendiang suaminya), jika ia suka keluar, maka ia boleh keluar.
Pengertian inilah yang tersitirkan dari firman-Nya:

…dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).
Akan tetapi, jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagi kalian (wali atau waris dari yang meninggal).

Pada garis besarnya idah tetap diwajibkan seperti apa adanya.

Imam Bukhari menduga bahwa hal ini diriwayatkan dari Mujahid.

Ata mengatakan, Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat di atas me-mansukh pengertian harus beridah di rumah keluarganya.
Untuk itu si istri boleh beridah di mana pun menurut apa yang dikehendakinya.
Pengertian inilah yang tersitir dari firman-Nya: dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).

Ata mengatakan, jika si istri suka, ia boleh beridah di rumah suaminya dan tinggal sesuai dengan hak wasiat yang diperolehnya, jika ia suka, boleh keluar (untuk melakukan idahnya di rumahnya sendiri), karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:
maka tidak ada dosa bagi kalian (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang makruf terhadap diri mereka.

Ata mengatakan lagi bahwa sesudah itu turunlah ayat miras (waris-mewaris), maka di-mansukh-lah ayat memberi tempat tinggal.
Untuk itu si istri boleh beridah di mana pun yang disukainya, tetapi tidak berhak mendapat tempat tinggal lagi.

Kemudian Imam Bukhari menyandarkan kepada Ibnu Abbas suatu riwayat yang sama dengan pendapat yang disandarkan kepada Mujahid dan Ata yang mengatakan bahwa ayat ini tidak menunjukkan wajib beridah selama satu tahun.
Pendapat ini sama dengan apa yang dikatakan oleh jumhur ulama, dan sama sekali tidak di-mansukh oleh ayat yang menyatakan beridah selama empat bulan sepuluh hari.
Melainkan ayat ini menunjukkan bahwa hal tersebut menyangkut masalah anjuran berwasiat buat para istri yang akan ditinggal mati oleh suami-suaminya, yaitu memberikan kesempatan kepada mereka untuk tinggal di rumah suami-suami mereka sesudah suami-suami mereka meninggal dunia selama satu tahun, jika mereka mau menerimanya.
Karena itulah maka disebutkan di dalam firman-Nya:

…hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya.
Yakni Allah mensyariatkan kepada kalian untuk membuat wasiat buat mereka.

Perihalnya sama dengan makna yang ada di dalam firman lainnya, yaitu:

Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anak kalian.
(An Nisaa:11), hingga akhir ayat.

Dan Firman-Nya:

(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah.
(An Nisaa:12)

Menurut pendapat yang lain, lafaz wasiyyatan di-nasab-kan karena mengandung pengertian, “Maka hendaklah kalian berwasiat buat mereka dengan sebenar-benarnya.” Sedangkan yang lainnya membacanya rafa’ (wasiyyatun) dengan pengertian, “Telah ditetapkan atas kalian berwasiat,” pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Tiada yang melarang mereka (para istri) untuk melakukan hal tersebut, karena ada firman-Nya yang mengatakan:

…dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).

Jika ia telah menyelesaikan masa idahnya yang empat bulan sepuluh hari, atau telah melahirkan kandungannya, lalu ia memilih keluar dari rumah mendiang suaminya serta pindah darinya, maka ia tidak dilarang untuk melakukannya, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Akan tetapi, jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagi kalian (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang makruf terhadap diri mereka.

Pendapat ini cukup terarah dan sesuai dengan makna ayat secara lahiriahnya.
Pendapat ini ternyata dipilih oleh sejumlah ulama, antara lain Imam Abul Abbas ibnu Taimiyah.
Tetapi ulama lainnya membantah pendapat tersebut, di antaranya adalah Abu Umar ibnu Abdul Barr.

Pendapat Ata dan para pengikutnya yang menyatakan bahwa hal tersebut di-mansukh oleh ayat miras, jika mereka bermaksud tidak lebih dari empat bulan sepuluh hari, maka hal ini bukan merupakan suatu masalah.
Akan tetapi, jika mereka bermaksud bahwa memberi tempat tinggal selama empat bulan sepuluh hari bukan merupakan suatu kewajiban yang dibebankan kepada peninggalan mayat, maka hal inilah yang menjadi topik perbedaan pendapat di kalangan para imam.
Imam Syafii sehubungan dengan masalah ini mempunyai dua pendapat.

Mereka yang berpendapat wajib memberi tempat tinggal di rumah suami berdalilkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta’-nya dari Sa’d ibnu Ishaq ibnu Ka’b ibnu Ujrah, dari bibinya (yaitu Zainab binti Ka’b ibnu Ujrah).
Disebutkan bahwa Fari’ah binti Malik ibnu Sinan (yaitu saudara perempuan Abu Sa’id Al-Khudri r.a.) pernah menceritakan kepadanya (Zainab binti Ka’b ibnu Ujrah) bahwa ia pernah datang menghadap Rasulullah ﷺ untuk meminta izin agar diperkenankan kembali ke rumah keluarganya di kalangan orang-orang Bani Khudrah.
Karena sesungguhnya suaminya telah berangkat untuk mencari budak-budaknya yang minggat (melarikan diri).
Tetapi ketika ia sampai di Tarful Qadum, ia dapat menyusul mereka, hanya saja mereka membunuhnya.
Fari’ah melanjutkan kisahnya, “Aku meminta kepada Rasulullah ﷺ untuk kembali ke rumah keluargaku, karena sesungguhnya suamiku tidak meninggalkan diriku di dalam rumahnya sendiri, tiada pula nafkah buatku.
Maka Rasulullah ﷺ hanya menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku pergi.
Tetapi ketika aku sampai di Hujrah, Rasulullah ﷺ memanggilku, atau memerintahkan seseorang untuk memanggilku.
Setelah aku datang, beliau Saw.
bertanya, ‘Apa yang tadi kamu katakan?’ Maka aku mengulangi lagi kepadanya kisah mengenai nasib yang menimpa suamiku, lalu beliau Saw.
bersabda:

‘Diamlah di dalam rumahmu hingga masa idahmu habis.’ Maka aku melakukan idah di dalam rumah suamiku selama empat bulan sepuluh hari.
Ketika Khalifah Usman ibnu Affan mengutus seseorang untuk menanyakan kasus yang sama, maka aku ceritakan hal itu kepadanya, dan ia mengikutinya serta memutuskan perkara dengan keputusan yang sama.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai melalui hadis Malik dengan lafaz yang sama.

Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya pula melalui jalur Sa’d ibnu Ishaq dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 240
Telah menceritakan kepada kami Ishaq Telah menceritakan kepada kami Rauh, Telah menceritakan kepada kami Syibl dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid mengenai firman Allah: Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri ( QS. Al Baqarah: 234). Ayat ini menerangkan wajibnya iddah di rumah keluarganya. Lalu Allah menurunkan ayat, Dan orang-orang yang akan mati di antara kami dan meninggalkan istri-istri, hendaklah membuat wasiat untuk istri-istrinya yaitu nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya dari rumah. Tetapi jika mereka keluar sendiri, maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri dalam hal-hal yang baik. Mujahid berkata,
Allah telah menjadikannya sebagai penyempurna dalam hitungan setahun yaitu tujuh bulan dan dua puluh malam sebagai wasiat. Apabila dia ingin, maka dia menempati sesuai wasiat tersebut. Namun jika ia ingin keluar, maka itu sudah menjadi kehendaknya. Itulah yang dimaksud firman Allah Ta’ala: Tetapi jika mereka keluar sendiri, maka tidak ada dosa bagimu. Maka Iddah adalah perkara yang wajib. Perawi mengaku itu dari Mujahid. Atha berkata,
Ibnu Abbas berkata,
Ayat ini telah menghapus ‘iddah di rumah keluarganya sehingga ia ber’iddah di tempat yang ia kehendaki, yaitu firman Allah Azza wa Jalla: Tanpa keluar rumah. Atha berkata,
“Jika dia berkehendak, maka dia beriddah di rumah keluarganya dan tinggal sesuai wasiatnya. Namun jika dia berkehendak, ia keluar darinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: Maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka senidiri.( QS. Al Baqarah: 240), Atha berkata,
kemudian turun ayat mirats (mengenai warisan) yang menghapus mengenai tempat tinggal, maka dia boleh beriddah sesuai kehendaknya tanpa harus tinggal dirumahnya. Dan dari Muhammad bin Yusuf Telah menceritakan kepada kami Warqa dariIbnu Abu Najih dari Mujahid dengan redaksi yang serupa. Dan dari Ibnu Abu Najih dari Atha dari Ibnu Abbas dia berkata,
“Ayat ini telah menghapus iddahnya di rumah keluarganya sehingga ia ber iddah di tempat yang ia kehendaki, yaitu firman Allah Azza wa Jalla: Tanpa keluar rumah.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4167

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 240

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam Tafsir-nya yang bersumber dari Muqatil bin Hibban.
Bahwa seorang laki-laki dari Thaif datang ke Madinah bersama anak-istri dan kedua orang tuanya, yang kemudian meninggal dunia di sana.
Hal ini disampaikan kepada Nabi ﷺ.
Beliau membagikan harta peninggalannya kepada anak-anak dan ibu-bapaknya, sedang istrinya tidak diberi bagian.
Hanya saja mereka yang diberi bagian diperintahkan untuk memberi belanja kepadanya dari tirkah (peninggalan) suaminya itu selam satu tahun.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 240) yang membenarkan tindakan Rasulullah ﷺ untuk memberikan nafkah selama setahun kepada istri yang ditinggal mati oleh suaminya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 240 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 240



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku