Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 239 [QS. 2:239]

فَاِنۡ خِفۡتُمۡ فَرِجَالًا اَوۡ رُکۡبَانًا ۚ فَاِذَاۤ اَمِنۡتُمۡ فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ کَمَا عَلَّمَکُمۡ مَّا لَمۡ تَکُوۡنُوۡا تَعۡلَمُوۡنَ
Fa-in khiftum farijaaalan au rukbaanan fa-idzaa amintum faadzkuruullaha kamaa ‘allamakum maa lam takuunuu ta’lamuun(a);
Jika kamu takut (ada bahaya), salatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan.
Kemudian apabila telah aman, maka ingatlah Allah (salatlah), sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui.
―QS. Al Baqarah [2]: 239

And if you fear (an enemy, then pray) on foot or riding.
But when you are secure, then remember Allah (in prayer), as He has taught you that which you did not (previously) know.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 239]

فَإِنْ maka jika

And if
خِفْتُمْ kamu takut

you fear
فَرِجَالًا maka sambil berjalan

then (pray) on foot
أَوْ atau

or
رُكْبَانًا berkendaraan

riding.
فَإِذَآ maka apabila

Then when
أَمِنتُمْ kamu telah aman

you are secure
فَٱذْكُرُوا۟ maka ingatlah/sebutlah

then remember
ٱللَّهَ Allah

Allah
كَمَا sebagaimana

as
عَلَّمَكُم Dia telah mengajar kamu

He (has) taught you
مَّا apa

what
لَمْ belum

not
تَكُونُوا۟ kalian menjadi

you were
تَعْلَمُونَ (kalian) mengetahui

knowing.

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:239

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 239. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini diterangkan keutamaan melakukan salat, dan selalu memeliharanya.
Keluarga merupakan bagian dari masyarakat dan dalam memenuhi segala kebutuhan dan persoalan hidupnya banyak sekali menemui kesulitan yang kadang-kadang dapat menjerumuskannya kepada hal-hal yang dilarang agama.

Karena itu telah diberi suatu cara yang baik untuk dilakukan manusia agar selalu terjamin hubungan keduniaannya dengan ketakwaan kepada Allah dengan selalu memelihara salat.
Mulai dari bangun tidur sebelum melakukan kontak dengan manusia lainnya ia ingat dan bermunajah lebih dahulu dengan Allah (waktu subuh).

Kemudian setelah ia berhubungan dengan masyarakat, dan mungkin sekali terjadi perbuatan yang tidak diridai Allah maka untuk mengingatkan dan menyelamatkannya, ia dipanggil untuk berhubungan lagi dengan Allah pada waktu tengah hari (salat zuhur).
Begitulah seterusnya selama 24 jam.

Dengan demikian selalu terjalin antara kesibukan manusia (untuk memenuhi hajat hidupnya) dengan ingat kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Hal ini mempunyai pengaruh dan membekas dalam jiwa dan kehidupan manusia sebagaimana ditegaskan bahwa dengan salat manusia dapat terhindar dari perbuatan jahat dan mungkar.

Selain itu, memelihara salat adalah bukti iman kepada Allah, dan menjadi syarat mutlak bagi kehidupan seorang Muslim, menguatkan tali persaudaraan, dan dapat menjamin hak-hak manusia.
Menurut riwayat Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda:


Perjanjian antara kami dengan kaum kafir adalah salat, siapa yang meninggalkannya (dengan sengaja) maka ia telah menjadi kafir.

(Riwayat Ahmad)


Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-thabrani, Rasulullah ﷺ bersabda:


Barang siapa selalu memelihara salat maka ia akan dapat cahaya dan petunjuk serta akan dapat keselamatan pada hari Kiamat.
Sebaliknya orang yang tidak memelihara salat maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan.

Di akhirat nanti ia akan bersama Fir’aun, Haman, dan Ubai bin Khalaf di dalam neraka.
(Riwayat Ahmad dan ath-Thabrani)


Ayat-ayat di atas menjelaskan bagaimana pentingnya menjaga dan memelihara salat.
Manusia yang melaksanakan perintah ini benar-benar menjadi makhluk Allah yang bertakwa dan hidupnya akan selalu aman, berada di dalam magfirah dan rida Allah.


Adapun sebab turun ayat ini menurut riwayat dari Zaid bin sabit, Rasulullah ﷺ selalu melakukan salat zuhur, meskipun pada siang hari yang panas terik yang bagi para sahabat dirasakan berat, maka turunlah ayat ini.
Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk selalu menjaga salat lima waktu.
Jika salat itu dilaksanakan, ia dapat memelihara diri dari berbuat hal-hal yang jahat dan mungkar.
Salat dapat menjadi penenang jiwa dari segala kegelisahan yang menimpa diri.
Karena itu salat merupakan tiang agama.


Allah menekankan salat wustha.
Salat wusta menurut jumhur Ulama ialah salat Asar.
Allah mengajarkan pula, agar dalam melakukan salat kita berlaku khusyuk dan tawaduk.
Sebab pemusatan pikiran kepada Allah semata-mata adalah tingkat salat yang paling baik dan salat inilah yang dapat membekas pada jiwa manusia.


Karena pentingnya melaksanakan dan memelihara salat ini seorang Muslim tidak boleh meninggalkannya walau dalam keadaan bagaimanapun.
Salat tetap tidak boleh ditinggalkan, meskipun dalam suasana kekhawatiran terhadap jiwa, harta, atau kedudukan.
Dalam keadaan uzur, salat dapat dikerjakan menurut cara yang mungkin dilakukan, baik dalam keadaan berjalan kaki, berkendaraan, ataupun sakit.
Maka setelah hilang uzur itu, terutama yang berupa kekhawatiran, hendaklah bersyukur kepada Allah, karena Allah mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak diketahuinya termasuk mengenai kaifiat (cara) melakukan salat dalam masa tidak aman/dalam keadaan perang.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 239. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Bila datang waktu salat dan kalian sedang dalam keadaan takut bahaya, maka janganlah kalian tinggalkan.
Tetapi lakukanlah semampu kalian, dengan cara sambil berjalan atau berkendaraan.


Dan jika rasa takut itu telah hilang, salatlah sesuai ketentuaan yang ditetapkan dengan mengingat Allah, mensyukuri tuntunan dan rasa aman yang telah diberikan-Nya kepada kalian.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Bila kalian takut kepada musuh kalian, maka lakukanlah shalat khauf dengan berjalan kaki, atau berkendara dalam posisi yang kalian mampu melakukannya sekalipun hanya dengan berisyarat, atau tidak menghadap ke arah kiblat.
Namun bila rasa takut kalian telah hilang, maka lakukanlah shalat sebagaimana mestinya.


Ingatlah Allah di dalamnya, jangan menguranginya dari bentuk aslinya, bersyukurlah kepada Allah atas apa yang telah Dia ajarkan kepadamu berupa perkara-perkara agama dan hukumhukum yang mana sebelumnya kalian tidak mengetahuinya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Jika kamu dalam keadaan takut) baik terhadap musuh, maupun banjir atau binatang buas


(maka sambil berjalan kaki) jamak dari raajil, artinya salatlah sambil jalan kaki


(atau berkendaraan), ‘rukbaanan’ jamak dari ‘raakib’, maksudnya bagaimana sedapatnya, baik menghadap kiblat atau tidak mau memberi isyarat saat rukuk dan sujud.


(Kemudian apabila kamu telah aman), yakni dari ketakutan,


(maka sebutlah Allah), artinya salatlah


(sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa-apa yang tidak kamu ketahui), yakni sebelum diajarkan-Nya itu berupa fardu dan syarat-syaratnya.
‘Kaf’ berarti ‘umpama’ dan ‘maa’ mashdariyah atau maushuulah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Sesudah Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar memelihara semua salat dan menegakkan batasan-batasannya serta mempertegas perintah ini dengan ungkapan yang mengukuhkan, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan suatu keadaan yang biasanya menyibukkan seseorang dari mengerjakan salat dengan cara yang sempurna, yaitu keadaan perang dan kedua belah pihak terlibat dalam pertempuran.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Jika kalian dalam keadaan takut (bahaya), maka salatlah sambil berjalan atau berkendaraan.

Yakni salatlah kalian dalam keadaan bagaimanapun, baik kalian sedang berjalan ataupun berkendaraan.
Dengan kata lain, baik menghadap ke arah kiblat ataupun tidak.
Demikianlah seperti yang diriwaya-kan oleh Imam Malik dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar apabila ditanya mengenai salat khauf, maka ia menggambarkannya, lalu berkata,
"Dan jika keadaan takut lebih mencekam dari keadaan lainnya, maka mereka salat sambil berjalan kaki atau berkendaraan, baik menghadap ke arah kiblat ataupun tidak menghadap kepadanya."

Selanjutnya Nafi’ mengatakan, ia merasa yakin bahwa tidak sekali-kali Ibnu Umar menyebutkan demikian melainkan hanya dari Nabi ﷺ semata-mata.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari pula, sedangkan apa yang disebutkan menurut lafaz Imam Muslim.

Imam Bukhari meriwayatkan pula dari jalur yang lain, yaitu dari Ibnu Juraij, dari Musa ibnii Uqbah, dari Nafi, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ hal yang semisal atau mirip dengannya.

Imam Muslim meriwayatkan pula dari Ibnu Umar yang telah mengatakan:
Apabila rasa takut (bahaya) lebih mencekam dari itu, maka salatlah kamu —baik sedang berkendaraan ataupun berdiri— dengan memakai isyarat yang sesungguhnya.

Di dalam hadis Abdullah ibnu Unais Al-Juhani disebutkan bahwa tatkala Nabi ﷺ mengutusnya untuk membunuh Khalid ibnu Sufyan Al-Huzali, ketika itu Khalid berada di arah Arafah atau Arafat.
Setelah Abdullah ibnu Unais berhadapan dengannya, maka tibalah waktu salat Asar.
Abdullah ibnu Unais melanjutkan kisahnya,
"Maka aku merasa khawatir bila kesempatan ini digunakan oleh musuh, lalu aku salat dengan memakai isyarat,"
hingga akhir hadis yang cukup panjang.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud dengan sanad yang jayyid (baik).

Salat dengan cara demikian merupakan salah satu rukhsah (keringanan) dari Allah buat hamba-hamba-Nya.
Dengan demikian, maka terlepaslah dari mereka belenggu dan beban yang memberatkan mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan hal yang semisal dari Al-Hasan, Mujahid, Makhul, As-Saddi, Al-Hakam, Malik, Al-Auza’i, As-Sauri, dan Al-Hasan ibnu Saleh.
Di dalam riwayat ini ditambahkan, hendaklah ia salat dengan cara memakai isyarat dengan kepalanya ke arah mana pun kendaraannya menghadap.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Gassan, telah menceritakan kepada kami Daud (yakni Ibnu Ulayyah), dari Mutarrif, dari Atiyyah, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan,
"Apabila pedang saling beradu, hendaklah seseorang salat dengan isyarat kepalanya menghadap ke arah mana pun menurut mukanya menghadap."
Yang demikian itu adalah makna firman-Nya:

…sambil berjalan kaki atau berkendaraan.

Imam Ahmad berpendapat menurut nas yang telah ditetapkannya, bahwa salat khauf dalam kondisi tertentu adakalanya dikerjakan hanya dengan satu rakaat, yaitu di saat kedua belah pihak terlibat dalam pertempuran yang sengit.
Berdasarkan pengertian inilah diinterpretasikan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Nasai, Imam Ibnu Majah, dan Ibnu Jarir melalui hadis Abu Uwanah Al-Waddah, dari Abdullah Al-Yasykuri —Imam Muslim, Imam Nasai, dan Ayyub ibnu Aiz menambahkan— bahwa keduanya meriwayatkan hadis ini dari Bukair ibnul Akhnas Al-Kufi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan:
Allah telah memfardukan salat atas kalian melalui lisan Nabi kalian sebanyak empat rakaat bila kalian berada di tempat tinggal dan dua rakaat bila kalian sedang bepergian, dan dalam keadaan khauf satu rakaat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi,dari Syu’bah yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hakam, Hammad, dan Qatadah tentang salat di .saat pedang sedang beradu.
Maka mereka menjawab,
"Satu rakaat saja."

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnu Amr As-Sukuni, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, telah menceritakan kepada kami Yazid Al-Faqir, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa salat khauf adalah satu rakaat.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Ibnu Jarir.

Imam Bukhari di dalam Bab
"Salat di Saat Mengepung Benteng Musuh dan Bersua dengan Musuh"
dan Al-Auza’i mengatakan,
"Apabila kemenangan telah di ambang pintu, sedangkan mereka tidak mampu mengerjakan salat, hendaklah mereka salat dengan isyarat, yakni masing-masing dari pasukan salat untuk dirinya sendiri.
Jika mereka tidak juga mampu mengerjakan salat dengan isyarat, hendaklah mereka mengakhirkan salat hingga perang berhenti dan aman dari serangan musuh, barulah mereka mengerjakan salat sebanyak dua rakaat saja.
Apabila situasi tidak mengizinkan mereka salat dua rakaat, maka salat cukup dilakukan hanya dengan satu rakaat dan dua kali sujud.
Jika mereka tidak mampu mengerjakannya, karena takbir saja tidak cukup untuk mereka, maka hendaklah mereka akhirkan salatnya hingga situasi aman."

Anas ibnu Malik mengatakan bahwa ia ikut dalam serangan menjebolkan Benteng Tustur.
Serangan ini dilakukan di saat fajar mulai terang, lalu berkobarlah pertempuran sengit, hingga mereka tidak mampu mengerjakan salat (Subuhnya).
Kami tidak salat kecuali setelah matahari meninggi, lalu kami salat bersama Abu Musa dan kami peroleh kemenangan.
Anas mengatakan,
"Salat tersebut bagiku lebih baik daripada dunia dan seisinya."
Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Bukhari.

Kemudian Ibnu Jarir memperkuat pendapatnya itu dengan dalil hadis yang menceritakan Nabi ﷺ mengakhirkan salat Asar pada hari Perang Khandaq karena uzur sedang menjalani perang, dan beliau baru melaksanakan salatnya itu setelah matahari tenggelam.
Ketika Nabi ﷺ mempersiapkan mereka untuk menyerang Bani Quraizah, maka beliau berpesan kepada sahabat-sahabatnya:

Jangan sekali-kali seseorang dari kalian salat Asar melainkan nanti di tempat Bani Quraizah.

Akan tetapi, sebagian orang ada yang menjumpai waktu salat di tengah jalan, lalu mereka mengerjakannya, dan mereka mengatakan,
"Tidak sekali-kali Rasulullah ﷺ memerintahkan demikian kepada kami melainkan beliau menghendaki agar kami tiba dengan cepat."
Di antara mereka ada yang menjumpai waktu salat, tetapi mereka tidak mengerjakannya hingga matahari tenggelam di tempat Bani Quraizah (karena patuh kepada makna lahiriah perintah Rasul ﷺ).
Tetapi Nabi ﷺ tidak mencela salah satu pihak pun di antara dua kelompok sahabatnya itu.
Hal inilah yang menjadi dasar pegangan pilihan Imam Bukhari terhadap pendapat ini, sedangkan jumhur ulama berpendapat sebaliknya.
Mereka mengemukakan alasannya bahwa salat khauf menurut gambaran yang disebutkan di dalam surat An-Nisa dan diterangkan oleh banyak hadis masih belum disyariatkan di waktu Perang Khandaq.
Sesungguhnya salat khauf itu hanyalah disyariatkan setelah masa itu, hal ini secara jelas disebutkan di dalam hadis Abu Sa’id dan lain-lainnya.

Adapun Makhul, Al-Auza’i, dan Imam Bukhari menjawab bantahan itu, bila salat khauf memang disyariatkan sesudah Perang Khandaq, kenyataan ini tidaklah bertentangan dengan hal tersebut, mengingat hal ini merupakan keadaan yang jarang terjadi lagi bersifat khusus.
Oleh karena itu, sehubungan dengan masalah ini diperbolehkan hal seperti apa yang kami katakan.
Sebagai dalilnya ialah perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat di masa pemerintahan Khalifah Umar, yaitu dalam penaklukan kota Tustur yang terkenal itu, dan tiada seorang ulama pun yang membantahnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian apabila kalian telah aman, maka sebutlah Allah.

Artinya, dirikanlah salat kalian seperti yang diperintahkan kepada kalian.
Untuk itu sempurnakanlah rukuk, sujud, qiyam, duduk, khusyuk, dan bangunnya.

…sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui.

Yakni sebagaimana Dia telah melimpahkan nikmat dan memberi petunjuk iman serta mengajarkan kepada kalian hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat.
Maka kalian harus membalas-Nya dengan bersyukur dan berzikir menyebut-Nya.
Makna ayat ini sama dengan ayat lain yang juga setelah menyebut masalah salat khauf, yaitu firman-Nya:

Kemudian apabila kalian telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa).
Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
(QS. An Nisaa [4]: 103)

Hadishadis yang menerangkan perihal salat khauf dan cara-caranya akan diketengahkan nanti dalam tafsir surat An-Nisa yaitu pada firman-Nya:

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka.
(QS. An Nisaa [4]: 102)

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 239 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 239 - Gambar 2
Statistik QS. 2:239
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.7 (15 votes)
Tags:

2:239, 2 239, 2-239, Surah Al Baqarah 239, Tafsir surat AlBaqarah 239, Quran Al-Baqarah 239, Surah Al Baqarah ayat 239

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. At Tin (Buah Tin) – surah 95 ayat 4 [QS. 95:4]

4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya, jauh lebih sempurna daripada hewan. Kami juga bekali mereka dengan akal dan sifat-sifat yang unggul. Dengan kelebihan … 95:4, 95 4, 95-4, Surah At Tin 4, Tafsir surat AtTin 4, Quran At-Tin 4, Surah At Tin ayat 4

QS. Saba (Kaum Saba’) – surah 34 ayat 12 [QS. 34:12]

12. Tidak hanya kepada Nabi Daud, kami juga melimpahkan anugerah kepada putranya, Nabi Sulaiman. Dan Kami tundukkan angin bagi Nabi Sulaiman, yang kecepatan perjalanannya pada waktu pagi sama dengan k … 34:12, 34 12, 34-12, Surah Saba 12, Tafsir surat Saba 12, Quran Saba’ 12, Surah Saba ayat 12

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah..... Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Benar! Kurang tepat!

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan.....kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Benar! Kurang tepat!

Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
--QS. Adh Dhuhaaa [93] : 6

+

Array

Arti al-Kaafirun adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Arti dari lafal

لَكُمْ دِينُكُمْ

yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Kafirun [109] ayat 6.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

'Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.'

Pendidikan Agama Islam #18
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #18 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #18 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #12

Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Sofia Zainab Aisyah Saudah Hafsah Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #6

Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Al Falaq An-nas Al Ikhlas Al ‘Alaq Ali

Instagram