Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 234


وَ الَّذِیۡنَ یُتَوَفَّوۡنَ مِنۡکُمۡ وَ یَذَرُوۡنَ اَزۡوَاجًا یَّتَرَبَّصۡنَ بِاَنۡفُسِہِنَّ اَرۡبَعَۃَ اَشۡہُرٍ وَّ عَشۡرًا ۚ فَاِذَا بَلَغۡنَ اَجَلَہُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡکُمۡ فِیۡمَا فَعَلۡنَ فِیۡۤ اَنۡفُسِہِنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ
Waal-ladziina yutawaffauna minkum wayadzaruuna azwaajan yatarabbashna bianfusihinna arba’ata asyhurin wa’asyran fa-idzaa balaghna ajalahunna falaa junaaha ‘alaikum fiimaa fa’alna fii anfusihinna bil ma’ruufi wallahu bimaa ta’maluuna khabiirun;

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.
Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut.
Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
―QS. 2:234
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Ayat yang menaskhkan ▪ Hikmah penurunan kitab-kitab samawi
2:234, 2 234, 2-234, Al Baqarah 234, AlBaqarah 234, Al-Baqarah 234
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 234. Oleh Kementrian Agama RI

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa wanita yang mati suaminya harus menahan diri (beridah) selama satu tahun.
Juga walaupun ayat ini kelihatannya umum (mencakup semua wanita yang ditinggal mati oleh suaminya) namun ia mempunyai pengertian khusus yaitu yang tidak dalam keadaan mengandung.
Sebab untuk wanita hamil, Allah telah memberikan hukum yang lain pada ayat yang lain.
Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam tafsir ayat 240.

Idah perempuan yang mati suaminya empat bulan sepuluh hari.
Selama masa itu ia tidak boleh berhias-hias mempersiapkan diri menerima pinangan atau memberi janji untuk menerima pinangan.
Demikian juga ia tidak boleh keluar rumah kecuali karena hal-hal yang dibolehkan oleh agama.
Karena selain masa itu untuk mengetahui kebersihan rahimnya (hamil atau tidak hamil), juga digunakan sebagai masa berkabung.
Manakala ia tidak hamil maka ia wajib berkabung menghormati tali hubungan suami istri baik terhadap mendiang suami maupun terhadap keluarga suaminya.
Ia harus berkabung selama ia dalam idah.
Setelah habis masa empat bulan sepuluh hari tersebut dibolehkan membuat segala sesuatu tentang dirinya menurut cara yang wajar, umpamanya menerima pinangan dan keluar rumah dan perbuatan lain yang tidak bertentangan dengan agama.

Allah mengetahui segala apa yang dikerjakan oleh manusia.
Ayat ini menegaskan bahwa mengenai masa berkabung ini Islam memberikan jalan sebaik-baiknya yang sesuai dengan kebutuhan manusia.
Wanita-wanita pada masa jahiliah melakukan masa berkabung selama satu tahun penuh dan tidak boleh memakai perhiasan, tidak boleh memakan makanan yang enak dan tidak boleh pula memperlihatkan diri di muka umum.
Bahkan pada sebahagian kelompok masyarakat kaum wanita yang menjalani masa berkabung ini harus melakukan hal-hal yang jauh lebih berat dari apa yang dilakukan oleh orang di masa jahiliah seperti terus-menerus menangis dan meratap.
Tidak boleh mengurus dirinya dan lain sebagainya.
Ada pula yang melakukan masa berkabung ini bukannya karena kematian suaminya saja karena kematian anak pun mereka berkabung secara demikian.
Maka tepatlah apa yang diatur oleh Islam bahwa masa berkabung untuk wanita yang kematian suami tidak boleh lebih dari empat bulan sepuluh hari dan untuk kematian famili lainnya tidak boleh lebih dari tiga hari.

Penyimpangan dari ketentuan ini harus dihindari karena Allah Maha Mengetahui segala apa yang dikerjakan oleh manusia.

Al Baqarah (2) ayat 234 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 234 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 234 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Istri yang ditinggal mati oleh suaminya dalam keadaan tidak hamil, maka harus menunggu masa idah selama empat bulan sepuluh hari tanpa kawin, untuk melihat kondisi rahim dan pernyataan bela sungkawa atas meninggalnya sang suami.
Apabila masa idah telah berakhir, maka kalian, para wali, boleh membiarkannya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik hingga sampai akhir masa idah.
Sebaliknya, ia tidak boleh melakukan pekerjaan yang dilarang oleh agama.
Sebab, Allah Mahaperiksa atas segala rahasia kalian dan mengetahui apa yang kalian lakukan untuk kemudian memperhitungkannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang yang wafat) atau meninggal dunia (di antara kamu dengan meninggalkan istri-istri, maka mereka menangguhkan), artinya hendaklah para istri itu menahan (diri mereka) untuk kawin setelah suami mereka yang meninggal itu (selama empat bulan dan sepuluh), maksudnya hari.
Ini adalah mengenai wanita-wanita yang tidak hamil.
Mengenai yang hamil, maka idah mereka sampai melahirkan kandungannya berdasarkan ayat At-Thalaq, sedangkan bagi wanita budak adalah setengah dari yang demikian itu, menurut hadis.
(Apabila waktu mereka telah sampai), artinya habis masa idahnya, (mereka tiada dosa bagi kamu) hai para wali (membiarkan mereka berbuat pada diri mereka), misalnya bersolek dan menyiapkan diri untuk menerima pinangan (secara baik-baik), yakni menurut agama.
(Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu lakukan), baik yang lahir maupun yang batin.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dan meninggalkan istri-istri mereka, para istri tersebut wajib menjalani masa tunggu (iddah) selama empat bulan sepuluh hari, selama itu ia tidak boleh keluar dari rumah yang dihuninya bersama suaminya, tidak boleh berhias dan tidak boleh menikah.
Bila masa tersebut telah berakhir, maka tidak ada dosa atas kalian wahai para wali terkait dengan apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka dalam bentuk keluar dari rumah, berhias dan menikah sesuai dengan cara yang ditetapkan oleh syariat.
Allah Maha Mengenal apa yang kalian lakukan, lahir maupun batin dan akan membalas kalian atasnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Hal ini merupakan perintah dari Allah yang ditujukan kepada wanita-wanita yang ditinggal mati oleh suami mereka, yaitu mereka harus melakukan idahnya selama empat bulan sepuluh hari.
Hukum ini mengenai pula pada istri-istri yang telah digauli oleh suaminya, juga istri-istri yang belum sempat digauli suaminya.
Demikianlah menurut kesepakatan para ulama.
Dalil yang dijadikan sandaran bagi wanita yang masih belum digauli ialah makna umum yang terkandung di dalam ayat ini.
Hadis berikut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para pemilik kitab sunnah dan dinilai sahih oleh Imam Turmuzi, yaitu: Bahwa Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai masalah seorang lelaki yang mengawini seorang wanita, lalu si lelaki itu meninggal dunia sebelum sempat menggaulinya dan belum pula memastikan jumlah maskawinnya kepada istrinya itu.
Lalu mereka (yang bertanya) itu bolak-balik kepada Ibnu Mas’ud berkali-kali menanyakan masalah ini.
Pada akhirnya Ibnu Mas’ud berkata, “Aku akan memutuskan masalah ini dengan rayu (pendapat)ku sendiri.
Jika jawaban ini benar, maka dari Allah, dan jika keliru, maka dariku dan dari setan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari jawaban ini.
Si wanita mendapat maskawinnya dengan penuh —menurut riwayat yang lain disebutkan mendapat mahar misilnya— tanpa ada pengurangan dan penggelapan, dan diwajibkan atas diri si wanita melakukan idahnya, serta ia dapat mewaris (dari peninggalan suaminya).” Lalu berdirilah Ma’qal ibnu Yasar Al-Asyja’i dan mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ memutuskan hal yang sama terhadap Buru’ binti Wasyiq.” Mendengar hal itu hati Abdullah ibnu Mas’ud sangat gembira.

Menurut riwayat yang lain disebutkan seperti berikut: Maka berdirilah orang-orang lelaki dari Bani Asyja’, lalu mereka mengatakan, “Kami menyaksikan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memutuskan hal yang sama terhadap Buru’ binti Wasyiq.”

Tiada yang dikecualikan dari masa idah tersebut kecuali wanita yang ditinggal mati suaminya, sedangkan ia dalam keadaan mengandung.
Maka sesungguhnya idah yang harus dilakukannya ialah sampai ia melahirkan bayinya, sekalipun sesudah kematian suaminya selang waktu yang sebentar ia melahirkan bayinya.
Dikatakan demikian karena mengingat keumuman makna firman-Nya yang mengatakan:

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(At-Talaq: 4)

Tersebutlah bahwa Ibnu Abbas berpendapat, “Wanita hamil yang ditinggal mati suaminya diharuskan melakukan masa idahnya selama masa yang paling panjang di antara kedua masa tersebut, yaitu antara masa melahirkan, atau empat bulan sepuluh hari.” Pendapatnya ini merupakan kesimpulan gabungan dari kedua ayat di atas.
Pendapat ini merupakan kesimpulan yang baik dan berdasarkan penalaran yang kuat seandainya tidak ada apa yang telah ditetapkan oleh sunnah dalam hadis yang menceritakan kasus Subai’ah Al-Aslamiyyah.
Hadis ini diketengahkah di dalam kitab Sahihain melalui berbagai jalur periwayatan.

Disebutkan bahwa suami Subai’ah (yaitu Sa’d ibnu Khaulah) meninggal dunia, sedangkan Subai’ah dalam keadaan hamil darinya.
Tidak lama kemudian setelah kematian suaminya, Subai’ah melahirkan bayinya.
Menurut riwayat yang lain, Subai’ah melahirkan bayinya selang beberapa malam sesudah kematian suaminya.
Setelah Subai’ah bersih dari nifasnya, ia menghias diri untuk para pelamar.
Maka masuklah Abus Sanabil ibnu Ba’kak menemuinya, dan langsung berkata kepadanya, “Mengapa engkau kulihat menghiasi dirimu, barangkali kamu mengharapkan kawin?
Demi Allah, kamu tidak boleh kawin sebelum kamu melewati masa empat bulan sepuluh hari.” Subai’ah mengatakan, “Setelah Abus Sanabil berkata demikian kepadaku, maka kupakai pakaianku pada petang harinya, lalu aku datang kepada Rasulullah ﷺ dan menanyakan kepadanya masalah tersebut.
Maka beliau ﷺ memberikan jawabannya kepadaku, bahwa diriku telah halal untuk kawin lagi setelah aku melahirkan bayiku, dan beliau ﷺ memerintahkan kepadaku untuk kawin jika aku suka.”

Abu Umar ibnu Abdul Bar mengatakan, sesungguhnya menurut suatu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Abbas meralat pendapatnya, lalu merujuk kepada hadis Subai’ah.
Dikatakan demikian karena Ibnu Abbas sendiri membantah pendapat tersebut dengan berdalilkan hadis Subai’ah.

Abu Umar ibnu Abdul Bar mengatakan bahwa hal ini dibenarkan dengan adanya suatu riwayat darinya yang mengatakan bahwa semua temannya menekuni hadis Subai’ah, sama halnya dengan pendapat semua ahlul ilmi.

Dikecualikan dari makna ayat ini bilamana si istri adalah seorang budak wanita, karena sesungguhnya idah seorang budak wanita adalah separo dari idah wanita merdeka, yaitu dua bulan lima hari, seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama.
Dikatakan demikian karena hukuman had yang di jalani oleh budak wanita adalah separo dari hukuman had yang di jalani oleh seorang wanita merdeka.
Maka demikian pula dalam masalah idah, yaitu separo dari idah wanita merdeka.

Tetapi di kalangan ulama —seperti Muhammad ibnu Sirin dan sebagian kalangan mazhab Zahiri— dikatakan bahwa dalam masalah idah ini sama saja antara wanita merdeka dan budak wanita, mengingat keumuman makna ayat ini.
Juga karena masalah idah merupakan masalah yang menyangkut pembawaan yang tidak mengenal adanya perbedaan antara seorang wanita dengan wanita lainnya.

Sa’id ibnul Musayyab dan Abul Aliyah serta selain keduanya mengatakan bahwa hikmah penentuan idah bagi wanita yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari, karena barangkali rahimnya telah terisi oleh kandungan.
Untuk itu apabila si wanita yang bersangkutan menunggu dalam idahnya selama masa itu, bila ternyata kandungannya telah terisikan, niscaya akan tampak.

Di dalam hadis Ibnu Mas’ud yang ada pada kitab sahihain dan kitab lainnya disebutkan seperti berikut:

Sesungguhnya penciptaan seseorang di antara kalian dihimpun di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, lalu menjadi ‘alaqah dalam masa yang sama (empat puluh hari), kemudian beralih menjadi segumpal daging dalam masa yang sama, kemudian diutus kepadanya malaikat, lalu malaikat itu meniupkan roh ke dalam tubuhnya.

Ketiga empat puluh hari ini sama bilangannya dengan empat bulan, adapun sepuluh hari yang sesudahnya merupakan masa cadangan karena adakalanya bilangan sebagian bulan itu ada yang kurang genap.
Sesudah peniupan roh ke dalam janin, maka janin mulai bergerak menunjukkan tanda kehidupan.

Sa’id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah yang pernah bertanya kepada Sa’id ibnul Musayyab, “Untuk apakah yang sepuluh hari itu?”
Sa’id ibnul Musayyab menjawab, “Di masa itu dilakukan tiupan roh ke dalam tubuh janin.”

Ar-Rabi’ ibnu Anas pernah mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada Abul Aliyah, ‘Mengapa sepuluh hari ini ditambahkan kepada empat bulan?’ Abul Aliyah menjawab, ‘Karena digunakan untuk peniupan roh ke dalam tubuh janin’.” Kedua asar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Berangkat dari asar ini Imam Ahmad berpendapat di dalam suatu riwayat yang bersumber darinya, bahwa idah seorang ummul walad (budak perempuan yang mempunyai anak dari hasil tuannya) sama dengan idah wanita merdeka dalam masalah ini, karena ia telah berubah status menjadi firasy (hamparan atau pendamping suaminya), sama halnya dengan wanita merdeka.
Juga karena berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: dari Yazid ibnu Harun, dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Raja ibnu Haywah, dari Qubaisah ibnu Zuaib, dari Amr ibnul As yang mengatakan: Janganlah kalian mengaburkan sunnah Nabi kita kepada kita, idah ummul walad apabila ditinggal mati oleh tuannya ialah empat bulan sepuluh hari.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Abu Daud, dari Qutaibah, dari Gundar, dari Ibnul Musanna ibnu Abdul A’la, sedangkan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dari Ali ibnu Muhammad, dari Ar-Rabi’, ketiga-tiganya menerima hadis ini dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Matar Al-Wariq, dari Raja ibnu Haywah, dari Qubaisah, dari Amr ibnul As yang menceritakan hadis ini.

Sesungguhnya menurut suatu riwayat yang bersumber dari Imam Ahmad, disebutkan bahwa ia mengingkari hadis ini.

Menurut suatu pendapat, Qubaisah belum pernah mendengar dari Amr.
Akan tetapi, ada segolongan ulama Salaf yang berpegang kepada hadis ini, di antaranya ialah Sa’id ibnul Musayyab, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Abu Iyad, Az-Zuhri, dan Umar ibnu Abdul Aziz.
Hal ini pula yang dianjurkan oleh Yazid ibnu Abdul Malik ibnu Marwan ketika ia menjabat sebagai Amirul Muminin.
Hal ini pula yang dikatakan oleh Al-Auza’i, Ishaq ibnu Rahawaih, dan Imam Ahmad ibnu Hambal dalam salah satu riwayat darinya.

Sedangkan Tawus dan Qatadah mengatakan bahwa idah ummul walad apabila ditinggal mati oleh tuannya adalah setengah dari idah wanita merdeka, yaitu dua bulan lima hari.

Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta As-Sauri dan Al-Hasan ibnu Saleh ibnu Huyay mengatakan bahwa ummul walad melakukan idahnya dengan tiga kali haid.
Pendapat ini berasal dari Ali r.a., Ibnu Mas’ud, Ata, dan Ibrahim An-Nakha’i.

Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad menurut riwayat yang terkenal darinya mengatakan bahwa idahnya adalah sekali haid.
Pendapat inilah yang dikatakan oleh Ibnu Umar, Asy-Sya’bi, Makhul, Al-Lais, Abu Ubaid, dan Abu Saur serta jumhur ulama.

Al-Lais mengatakan, “Seandainya suami ummul walad meninggal dunia, sedangkan dia dalam keadaan berhaid, maka haidnya itu sudah cukup untuk idahnya.”

Imam Malik mengatakan, “Seandainya ummul walad dari kalangan wanita yang tidak berhaid, maka idahnya adalah tiga bulan.”

Imam Syafii dan jumhur ulama mengatakan, “Hal yang paling aku sukai ialah bila ummul walad menjalani idahnya selama satu bulan tiga hari.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagi kalian (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut.
Allah mengetahui apa yang kalian perbuat.

Dari makna ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa wajib hukumnya ihdad (berbelasungkawa) bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya selama ia menjalani masa idahnya, karena ada sebuah hadis di dalam kitab Sahihain yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ummu Habibah dan Zainab binti Jahsy Ummul Muminin, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian melakukan ihdad (belasungkawa)nya atas mayat lebih dari tiga hari, kecuali bila yang meninggal adalah suaminya, maka selama empat bulan sepuluh hari.

Di dalam kitab Sahihain pula disebutkan sebuah hadis dari Ummu Salamah r.a.:

Bahwa ada seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak perempuanku ditinggal mati oleh suaminya, sedangkan matanya mengalami gangguan penyakit, bolehkah kami mencelakinya (mengobatinya dengan celak mata)?”
Nabi ﷺ menjawab, “Tidak,” semua pertanyaan beliau jawab dengan tidak sebanyak dua atau tiga kali.
Kemudian beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya idah yang harus di jalaninya adalah empat bulan sepuluh hari.
Sesungguhnya seseorang di antara kalian di masa Jahiliah menjalani idahnya selama satu tahun.”

Zainab binti Ummu Salamah mengatakan bahwa dahulu bila seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya (yakni di masa Jahiliah), maka wanita itu memasuki sebuah namah gubuk, lalu memakai pakaiannya yang paling buruk, tiada wewangian dan tiada lainnya yang ia pakai selama satu tahun.
Setelah lewat satu tahun ia keluar dari gubuk itu dan diberi kotoran unta, lalu ia melempar kotoran itu.
Kemudian diberikan kepadanya seekor hewan, yaitu keledai atau kambing atau burung, lalu ia mengusapkan tubuhnya ke hewan tersebut.
Maka jarang sekali hewan yang diusapnya dapat bertahan hidup melainkan kebanyakan mati (karena baunya yang sangat busuk).

Dari kesimpulan makna ayat ini banyak ulama berpendapat bahwa ayat ini me-nasakh ayat sesudahnya, yaitu firman-Nya:

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah.
(Al Baqarah:240), hingga akhir ayat.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan lain-lainnya.
Akan tetapi, hal ini masih perlu dipertimbangkan, sebagaimana yang akan diterangkan kemudian dalam pembahasannya.

Yang dimaksud dengan istilah ihdad ialah meninggalkan perhiasan berupa wewangian dan tidak memakai pakaian yang mendorongnya untuk bergairah kawin lagi, seperti pakaian dan perhiasan serta lain-lainnya.
Hal ini hukumnya wajib bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, tanpa ada yang memperselisihkannya.
Tetapi sebaliknya, hal ini tidak wajib bagi wanita yang berada dalam idah talak raji’.

Akan tetapi, apakah ber-ihdad hukumnya wajib bagi wanita yang ditalak ba-in?
Sehubungan dengan masalah ini ada dua pendapat.

Ber-ihdad hukumnya wajib bagi semua istri yang ditinggal oleh suami-suami mereka, baik yang masih kecil, wanita yang tidak ber-haid, wanita merdeka, maupun budak wanita yang muslimah dan yang kafir, mengingat keumuman makna ayat.

As-Sauri dan Imam Abu Hanifah beserta semua temannya mengatakan tidak ada ihdad atas wanita kafir.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Asyhab dan Ibnu Nafi’ dari kalangan teman-teman Imam Malik.
Hujah yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat demikian ialah sabda Nabi ﷺ yang mengatakan: Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian melakukan ihdad atas meninggalnya seseorang lebih dari tiga hari, kecuali bila ditinggal mati suaminya, maka empat bulan sepuluh hari.
Mereka mengatakan bahwa hal ini merupakan masalah ta’abbud.

Imam Abu Hanifah dan teman-temannya serta As-Sauri memasukkan ke dalam pengertian ini istri yang masih kecil yang belum terkena taklif.
Imam Abu Hanifah serta teman-temannya memasukkan ke dalam pengertian ini budak wanita muslimah yang tidak memiliki kemerdekaan (mengingat masalah idah adalah masalah ta’abbud).
Pembahasan mengenai masalah ini secara rinci terdapat di dalam kitab-kitab yang membahas masalah hukurn dan cabang-cabangnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kemudian apabila telah habis idahnya.

Yakni masa idahnya telah habis, menurut Ad-Dahhak dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

maka tidak ada dosa bagi kalian.

Yaitu bagi para walinya, menurut Az-Zuhri.

membiarkan mereka berbuat.

Maksudnya, membiarkan wanita-wanita yang telah menghabiskan masa idahnya.
Al-Wunni meriwayatkan dari Ibnu Abbas, apabila seorang istri diceraikan atau ditinggal mati oleh suaminya, bila ia telah menghabiskan masa idahnya, maka tidak dosa atas dirinya untuk menghias diri dan mempercantik diri serta menawarkan diri untuk dikawini.
Pengertian ini sudah dimaklumi.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Muqatil ibnu Hayyan.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

…maka tiada dosa bagi kalian (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut.
Makna yang dimaksud ialah untuk nikah yang halal lagi baik.

Telah diriwayatkan hal yang semisal dari Al-Hasan, Az-Zuhri, dan As-Saddi.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 234
Telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bustham Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’i dari Habib dari Ibnu Abu Mulaikah, Ibnu Zubair berkata,
“Aku bertanya kepada Utsman bin Affan mengenai ayat, Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri ( QS. Al Baqarah: 234). Dia menjawab,
Ayat itu telah dinasakh dengan ayat yang lain. Lalu aku bertanya,
kenapa kamu menulisnya atau membiarkannya. Dia menjawab,
Wahai anak saudaraku, aku tidak akan merubahnya sedikitpun dari tempatnya.”

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4166

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 234

ASYHUR
أَشْهُر

Lafaz asyhur adalah jamak dari asy syahr, artinya satu bahagian dari bahagian tahun yang terdiri dari 12 bulan.

Ibn Faris berkata,
Asy syahr menurut ungkapan Arab adalah al hilaal (anak bulan). Kemudian, setiap 30 hari dinamakan al hilaal. Hal ini disepakati baik orang Arab maupun ‘ajam. Orang ‘ajam menamakan 30 hari dengan nama al hilaal dalam bahasa mereka. la dinamakan al­ hilaal karena ia tampak jelas dan terang dan berlaku pada awal bulan.

Kata asyhur disebut enam kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
-Al Baqarah (2), ayat 197, 226, 234;
-At Taubah (9), ayat 2, 5;
-Ath Thalaaq (65), ayat 4.

Lafaz asyhur disandarkan dan dihubungkan dengan al-hajj, al hurum, tsalaatsah, dan arba’ah. Semuanya mengisyaratkan maksud bulan.

Ibn Qutaibah berkata,
“Maksud surah Al Baqarah, ayat 197 yaitu perkataan al-hajj asyhur ma’lumaat ialah bulan Syawal, Zulkaedah dan 10 Zulhijjah sebagaimana yang disebut dalam Tafsir Al Qurtubi berdasarkan riwayat Ibn Abbas, As Suddi, Asy Sya’bi dan An Nakh’i.”

Dalam sebuah hadis, Rasulullah berkata,
yang artinya

“Berpuasalah kamu pada awal bulan dan akhirnya.”

Sebagaimana juga dalam ayat Allah Surah Al Baqarah ayat 185):

“Barang siapa diantara kalian yang menyaksikan hilal bulan Ramadhan (atau mengetahuinya) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

Oleh karena itu, jelaslah maksud lafaz asyhur yang terdapat dalam Al Qur’an ialah bulan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:77-78

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 234 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 234



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (10 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku