Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 231 [QS. 2:231]

وَ اِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَآءَ فَبَلَغۡنَ اَجَلَہُنَّ فَاَمۡسِکُوۡہُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ اَوۡ سَرِّحُوۡہُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ ۪ وَ لَا تُمۡسِکُوۡہُنَّ ضِرَارًا لِّتَعۡتَدُوۡا ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَا تَتَّخِذُوۡۤا اٰیٰتِ اللّٰہِ ہُزُوًا ۫ وَّ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ وَ الۡحِکۡمَۃِ یَعِظُکُمۡ بِہٖ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ
Wa-idzaa thallaqtumunnisaa-a fabalaghna ajalahunna faamsikuuhunna bima’ruufin au sarrihuuhunna bima’ruufin walaa tumsikuuhunna dhiraaran lita’taduu waman yaf’al dzalika faqad zhalama nafsahu walaa tattakhidzuu aayaatillahi huzuwan waadzkuruu ni’matallahi ‘alaikum wamaa anzala ‘alaikum minal kitaabi wal hikmati ya’izhukum bihi waattaquullaha waa’lamuu annallaha bikulli syai-in ‘aliimun;
Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai (akhir) idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula).
Dan janganlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzalimi mereka.
Barangsiapa melakukan demikian, maka dia telah menzalimi dirinya sendiri.
Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.
Ingatlah nikmat Allah kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu yaitu Kitab (Alquran) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu.
Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
―QS. Al Baqarah [2]: 231

And when you divorce women and they have (nearly) fulfilled their term, either retain them according to acceptable terms or release them according to acceptable terms, and do not keep them, intending harm, to transgress (against them).
And whoever does that has certainly wronged himself.
And do not take the verses of Allah in jest.
And remember the favor of Allah upon you and what has been revealed to you of the Book and wisdom by which He instructs you.
And fear Allah and know that Allah is Knowing of all things.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 231]

وَإِذَا dan apabila

And when
طَلَّقْتُمُ kamu mentalak

you divorce
ٱلنِّسَآءَ isteri-isteri

the women
فَبَلَغْنَ maka/lalu dia sampai

and they reach
أَجَلَهُنَّ masanya

their (waiting) term,
فَأَمْسِكُوهُنَّ maka tahanlah/rujuklah mereka

then retain them
بِمَعْرُوفٍ dengan cara yang baik

in a fair manner
أَوْ atau

or
سَرِّحُوهُنَّ ceraikan mereka

release them
بِمَعْرُوفٍ dengan cara yang baik

in a fair manner.
وَلَا dan jangan

And (do) not
تُمْسِكُوهُنَّ kamu tahan mereka

retain them
ضِرَارًا (untuk memberi) kemudharatan

(to) hurt
لِّتَعْتَدُوا۟ karena kamu melewati batas/menganiaya

so that you transgress.
وَمَن dan barang siapa

And whoever
يَفْعَلْ ia berbuat

does
ذَٰلِكَ demikian

that,
فَقَدْ maka sungguh

then indeed,
ظَلَمَ ia menganiaya

he wronged
نَفْسَهُۥ dirinya

himself.
وَلَا dan jangan

And (do) not
تَتَّخِذُوٓا۟ kamu jadikan

take
ءَايَٰتِ ayat-ayat

(the) Verses
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
هُزُوًا permainan

(in) jest,
وَٱذْكُرُوا۟ dan ingatlah

and remember
نِعْمَتَ nikmat

(the) Favors
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
عَلَيْكُمْ atas kalian

upon you
وَمَآ dan apa yang

and what

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:231

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 231. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini mengutarakan cara yang mesti dilakukan oleh suami yang telah menjatuhkan talak kepada istrinya sebagai penjelasan ayat-ayat sebelumnya.
Adapun sebab turunnya ayat ini ada dua riwayat.

Pertama, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada masa Rasulullah ﷺ ada seorang laki-laki yang menalak istrinya, kemudian sebelum masa idah istrinya itu habis, dia merujuknya kembali.
Setelah itu dijatuhkannya talak lagi kemudian rujuk kembali.

Hal ini dilaksanakan untuk menyakiti dan menganiaya istrinya tersebut, maka turunlah ayat di atas.


Riwayat kedua diceritakan oleh as-Suddi bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan tindakan seorang sahabat dari golongan Ansar yaitu sabit bin Yasar yang telah menalak istrinya.

Setelah masa idah istrinya tinggal dua atau tiga hari lagi ia rujuk kepada istrinya tersebut, kemudian dijatuhkannya talak kembali dengan tujuan untuk menyusahkan istrinya, maka turunlah ayat ini, melarang perbuatan tersebut.


Apabila seorang suami telah menjatuhkan talak kepada istrinya, maka ketika masa idah dari istrinya itu telah hampir berakhir hendaklah ia memilih salah satu dari dua pilihan, yaitu melakukan rujuk atau tetap bercerai dengan cara yang baik.

Dengan habisnya idah maka putuslah perkawinan suami istri, dan bekas istrinya itu bebas memilih jodoh yang lain.


Selanjutnya ayat ini melarang seorang suami melakukan rujuk kepada istrinya dengan tujuan untuk menyakiti dan menganiaya.

Larangan Allah ini selain menggambarkan tingkah laku masyarakat pada masa jahiliah di mana suami menjatuhkan talak kepada istrinya tanpa batas tertentu dan setiap akan mendekati akhir dari masa idah, suami melakukan rujuk kembali dan demikianlah seterusnya.
Juga menjadi penjelasan dari tindakan sahabat Sabit bin Yasar yang telah diuraikan dalam hal sebab turunnya ayat ini.

Suami yang berbuat demikian adalah menganiaya dirinya sendiri, suatu perbuatan yang dapat menimbulkan permusuhan dengan kaum kerabat keluarga istrinya dan juga dibenci oleh masyarakat, dan akhirnya nanti ia tidak luput dari kemurkaan Allah.


Dalam ayat ini Allah melarang manusia mempermainkan hukumhukum-Nya termasuk hukumhukum yang mengatur hubungan suami istri untuk membawa manusia kepada hidup bahagia di dunia dan di akhirat.
Ketentuan-ketentuan itu merupakan suatu nikmat dari Allah yang wajib diingat dan diamalkan sebagai tanda bersyukur kepada-Nya.


Tak ada perselisihan ulama dalam lingkungan mazhab empat tentang sahnya talak yang dijatuhkan oleh suami dengan jalan main-main (tidak sungguh-sungguh).
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:


Ada tiga masalah, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka hal itu akan terjadi sungguh-sungguh, dan jika dilakukan dengan cara main-main, maka hal itu akan terjadi sungguh-sungguh, yaitu:
nikah, talak dan rujuk.
(Riwayat al-Arba’ah kecuali an-Nasa’i dari Abu Hurairah)


Bersetubuh dengan istri yang masih dalam idah raj’i haram hukumnya menurut mazhab Syafi’i, karena sahnya rujuk adalah dengan ucapan (lafal).
Sedang menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, persetubuhan dianggap rujuk meskipun tanpa lafal (ucapan).

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 231. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apabila kalian menjatuhkan talak kepada istri, dan mereka hampir menghabiskan masa idahnya, maka kalian diperbolehkan merujuknya dengan niat menegakkan keadilan, memperbaiki hubungan dan tidak bermaksud jahat.
Kalian diperbolehkan juga membiarkan wanita-wanita itu menghabiskan masa idah dengan tetap memberikan perlakuan baik di masa pisah itu dan tidak dibenarkan berlaku kasar.


Kalian tidak dibenarkan sama sekali merujuk istri yang telah dijatuhi talak dengan maksud mengulur-ulur masa idah atau berbuat sesuatu yang membahayakan wanita.
Barangsiapa melakukan perbuatan yang demikian itu maka ia telah mengharamkan diri sendiri dari kebahagiaan hidup berkeluarga, menghilangkan kepercayaan manusia dari dirinya dan akan mendapat murka Allah.


Janganlah kalian menjadikan tatanan hukum Allah dalam kehidupan berkeluarga yang telah diterangkan oleh ayat-ayat yang berkaitan dengan itu, sebagai bahan ejekan dan permainan, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia, dengan menjatuhkan talak kepada istri tanpa alasan jelas dan merujuknya kembali dengan niat jahat yang tersembunyi.
Renungkanlah nikmat Allah yang telah menjelaskan normanorma hukum kehidupan berkeluarga dalam satu tatanan yang tinggi, menurunkan kitab berisi penjelasan kerasulan Muhammad, ilmu pengetahuan yang bermanfaat, perumpamaan, dan kisah-kisah yang dapat memberikan pelajaran.


Buatlah penghalang antara diri kalian dan murka Allah.
Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kalian rahasiakan, apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian niatkan dalam berbuat.


Allah Maha Memberi pahala atas apa yang kalian kerjakan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Bila kalian mentalak para istri, lalu mereka sudah mendekati masa habisnya iddah, maka silakan merujuk mereka sementara niat kalian adalah menunaikan hak-hak mereka secara baik sejalan dengan kaidah syar’i dan kebiasaan, atau biarkan mereka sehingga mereka menyelesaikan iddah mereka.
Hendaknya maksud merujuk mereka adalah bukan untuk memudharatkan mereka dan melanggar hak-hak mereka.


Barangsiapa melakukan hal itu, maka dia telah menzalimi dirinya sendiri, karena dia berhak mendapatkan hukuman.
Jangan menjadikan ayat-ayat Allah dan hukumhukum-Nya sebagai bahan mainan dan ejekan.


Ingatlah nikmat Allah kepadamu berupa Islam dan penjelasan tentang hukumhukum-Nya secara terperinci.
Ingatlah juga apa yang diturunkan kepadamu berupa Alquran dan sunnah.


Bersukurlah hanya kepada Allah atas nikmat-nikmat yang agung ini.
Allah mengingatkanmu dengan hal ini dan memperingatkanmu agar tidak menyimpang.


Takutlah kepada Allah dan hendaknya kamu selalu merasa diawasi oleh-Nya.
Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tiada sesuatu pun yang samar bagi Allah, masing-masing orang akan dibalas sesuatu dengan haknya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Apabila kamu menceraikan istri-istri, lalu sampai idahnya), maksudnya dekat pada berakhir idahnya


(maka peganglah mereka), artinya rujuklah kepada mereka


(secara baik-baik) tanpa menimbulkan kesusahan bagi mereka


(atau lepaskanlah secara baik-baik pula), artinya biarkanlah mereka itu sampai habis idah mereka.


(Janganlah kamu tahan mereka itu) dengan rujuk


(untuk menimbulkan kesusahan) berfungsi sebagai maf`ul liajlih


(sehingga menganiaya mereka) sampai mereka terpaksa menebus diri, minta cerai dan menunggu lama.


(Barang siapa melakukan demikian, berarti ia menganiaya dirinya) dengan menghadapkannya pada siksaan Allah


(dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai permainan), artinya berolok-olok dengan melanggarnya


(dan ingatlah nikmat Allah kepadamu), yakni agama Islam


(dan apa-apa yang telah diturunkan-Nya padamu berupa Kitab) Alquran


(dan hikmah) artinya hukumhukum yang terdapat padanya


(Allah memberimu pengajaran dengannya) agar kamu bersyukur dengan mengamalkannya


(Dan bertakwalah kamu kepada Allah serta ketahuilah bahwa Allah mengetahui segala sesuatunya) hingga tidak satu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum lelaki apabila seseorang dari mereka menceraikan istrinya, sedangkan ia berhak merujukinya, hendaklah ia memperlakukannya dengan baik.
Apabila idahnya hampir habis dan yang tinggal hanya sisa waktu yang memungkinkan bagi dia untuk merujukinya, maka adakalanya memegangnya (yakni merujukinya kembali ke dalam ikatan nikah) dengan cara yang makruf.
Hendaklah ia memakai saksi dalam rujuknya itu serta berniat mempergaulinya dengan cara yang makruf.
Atau adakalanya ia melepaskannya, yakni membiarkannya hingga habis masa idahnya serta mengeluarkannya dari rumah dengan cara yang lebih baik, tanpa percekeokan dan tanpa pertengkaran, tanpa saling mencaci.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Janganlah kalian rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kalian menganiaya mereka.

Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi’, dan Muqatil ibnu Hayyan serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan,
"Dahulu ada seorang lelaki yang menceraikan istrinya, apabila masa idahnya hampir habis, maka si lelaki itu merujukinya untuk menimpakan kemudaratan agar si istri tidak terlepas dari tangannya.
Setelah itu ia menceraikannya lagi dan si istri melakukan masa idahnya.
Maka apabila masa idahnya hampir habis, si suami merujukinya kembali, lalu menceraikannya lagi agar masa idahnya bertambah panjang.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala melarang mereka berbuat demikian, dan mengancam pelakunya melalui firman-Nya:

Barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri’

karena telah melanggar perintah Allah subhanahu wa ta’ala"

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Janganlah kalian jadikan hukumhukum Allah permainan.

Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Jarir mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, dari Abdus Salam ibnu Harb, dari Yazid ibnu Abdur Rahman, dari Abul Ala Al-Audi, dari Humaid ibnu Abdur Rahman, dari Abu Musa, bahwa Rasulullah ﷺ marah terhadap orang-orang Asy-‘ariyyin.
Lalu Abu Musa datang kepadanya dan berkata,
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau marah kepada orang-orang Asy-‘ariyyin?"
Maka Nabi ﷺ menjawab:
Seseorang di antara kalian mengatakan,
"Aku telah menceraikan dan aku telah merujuknya kembali"
hal ini bukanlah talak orang-orang muslim.
Mereka menalak istrinya sebelum masa idahnya.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur yang lain dari Abu Khalid Ad-Dallal (yaitu Yazid ibnu Abdur Rahman), tetapi keadaan dirinya masih perlu dipertimbangkan.

Masruq mengatakan, yang dimaksud oleh hadis ini ialah lelaki yang menceraikan istrinya bukan dalam keadaan yang sewajarnya, tujuannya ialah menimpakan mudarat kepada istrinya melalui talak dan rujuk, dengan maksud agar masa idahnya panjang.

Al-Hasan, Qatadah, Ata Al-Khurrasani, Ar-Rabi’, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa yang dimaksud ialah seorang lelaki yang menalak istrinya seraya mengatakan,
"Aku hanya bermain-main."
Atau dia memerdekakan atau nikah, lalu mengatakan,
"Aku hanya main-main."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Janganlah kalian jadikan hukumhukum Allah permainan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala memastikan hal tersebut (yakni talak, merdeka, dan nikahnya dihukumi sah).

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad As-Sairafi, telah menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Muhammad As-Simsar, dari Ismail ibnu Yahya, dari Sufyan, dari Lais, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki menalak istrinya dengan maksud bermain-main yang pada kenyataannya dia tidak bermaksud menalak istrinya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Janganlah kalian jadikan hukumhukum Allah permainan.
Maka Rasulullah ﷺ memastikan talaknya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isam ibnu Rawwad, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Al-Mubarak ibnu Fudalah, dari Al-Hasan (yaitu Al-Basri) yang menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki menalak istrinya, lalu mengatakan,
"Aku hanya bermain-main."
Ia memerdekakan, lalu mengatakan,
"Aku hanya bermain-main."
Dan ia nikah, lalu mengatakan,
"Aku hanya bermain-main."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:Janganlah kalian jadikan hukumhukum Allah permainan.
Rasulullah ﷺ bersabda:


Barang siapa yang menjatuhkan talak atau memerdekakan atau nikah atau menikahkan dengan sungguhan dan main-main, maka apa yang dikatakannya adalah sah atas dirinya.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari jalur Az-Zuhri, dari Sulaiman ibnu Arqam, dari Al-Hasan dengan lafaz yang semisal.
Hadis ini berpredikat mursal.
Akan tetapi, Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui jalur Amr ibnu Ubaid, dari Al-Hasan, dari Abu Darda secara mauquf sampai kepada Abu Darda.

Ibnu Jarir meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Hasan ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Abu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Ismail ibnu Salamah, dari Al-Hasan, dari Ubadah ibnus Samit sehubungan dengan firman-Nya:
Janganlah kalian jadikan hukumhukum Allah permainan.
Bahwa dahulu di masa Nabi ﷺ ada seorang lelaki mengatakan,
"Aku kawinkan kamu dengan anak perempuanku,"
lalu ia berkata,
"Aku hanya bermain-main."
Ia mengatakan (kepada budaknya),
"Aku merdekakan kamu,"
lalu ia berkata,
"Aku hanya bermain-main."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Janganlah kalian jadikan hukumhukum Allah permainan.
, Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Ada tiga perkara, barang siapa yang mengatakannya baik secara main-main atau sungguhan, maka semuanya jadi sungguhan atas dirinya, yaitu talak, memerdekakan, (dan) nikah.

Hal yang terkenal mengenai hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah melalui jalur Abdur Rahman ibnu Habib ibnu Adrak, dari Ata, dari Ibnu Mahik, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada tiga perkara yang sungguhan dan main-mainnya dianggap sungguhan, yakni nikah, talak, dan rujuk.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian.

Yakni karena Dia telah mengutus seorang rasul yang membawa hidayah dan keterangan-keterangan kepada kalian.

…dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian, yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah.

Yang dimaksud dengan Al-Kitab ialah Alquran, dan yang dimaksud dengan Al-Hikmah ialah sunnah.

Allah memberi pengajaran kepada kalian dengan apa yang diturunkan-Nya itu.

Yakni Dia memerintahkan kepada kalian, melarang kalian, serta memperingatkan kalian agar jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan.

Dan bertakwalah kepada Allah.

Yaitu dalam semua amal perbuatan yang kalian kerjakan dan hal-hal yang kalian tinggalkan.

…serta ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Artinya, tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya dari semua urusan kalian, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, dan kelak Dia akan memberikan balasannya kepada kalian atas perbuatan tersebut.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 231

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa ada seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, kemudian merujuknya sebelum habis idahnya, terus menceraikannya lagi dengan maksud menyusahkan dan mengikat istrinya agar tidak bisa kawin dengan yang lain.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 231)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi.
Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 231) berkenaan dengan Tsabit bin Yasar al-Anshari yang menalak istrinya.
Tetapi setelah hampir habis idahnya, ia merujuknya kembali, lalu menceraikannya lagi, dengan maksud menyakiti istrinya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar di dalam Musnad-nya dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abud Darda’.
Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang besumber dari ‘Ubadah bin ash-Shamit.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan, yang haditsnya mursal.
Bahwa seorang laki-laki menalak istrinya, kemudian berkata: “Sebenarnya aku hanya main-main saja.” Kemudian ia memerdekakan hambanya, tetapi tidak lama kemudian ia berkata: “Aku hanya main-main saja.” Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 231) sebagai teguran atas perbuatan seperti itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 231

HUZUWAA
هُزُوًا

Asal lafaz huzuwaa adalah huz’an, yaitu berdasarkan qira’at ulama Kufah.
Sedangkan Hafsah membacanya dengan huzuwan dengan menjadikan al zay berbaris depan dan menukar al hamzah kepada al waw, seperti lafaz kuf’an menjadi kufuwan.
Kata ini bisa dalam bentuk mudhaf ilayh (sandaran kepadanya) dengan menghilangkan mudhaf (sandarannya) yaitu mawdhu’ atau makaan huz’in (tempat untuk diperolok, dipersenda atau diejek), dan bisa dalam bentuk mashdar (kata dasar/terbitan) yang bermakna ism maf”ul yaitu mahzu’an ( orang yang dipermainkan dan direndahkan)

Lafaz ini disebut 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 67, 231;
-Al Maa’idah (5), ayat 57, 58;
Al Kahfi (18), ayat 56, 106;
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 36;
Al Furqaan (25), ayat 41;
Luqman (31), ayat 6;
-Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35.
Pada surah Al Baqarah (2), ayat 67 lafaz huzuwaa dikaitkan dengan perkataan adanya tuduhan Musa, "Adakah engkau wahai Nabi Musa menjadikan kami tempat untuk diperolok-olok dan engkau mau jadikan kami orang yang dipersendakan dan dipermainkan."

Pada ayat ini, suruhan Musa kepada mereka supaya menyembelih sapi (baqarah) sebagaimana yang diwahyukan kepadanya untuk mengetahui pembunuh seseorang yang berlaku di antara mereka dianggap sebagai huzuwa atau bahan olok-olok.
Awalnya mereka berkeinginan supaya Musa berdoa kepada Allah untuk mengetahui si pembunuh itu.
Namun, apa yang mereka minta lain yang disampaikan oleh Musa.
Oleh karena itu mereka berkata demikian.
Padahal mereka enggan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Musa.

Al Qurtubi rnenerangkan, "Kata- kata ini memberikan isyarat tentang larangan mempermainkan dan mempersenda agama Allah dan orang Islam karena perbuatan itu adalah tanda kejahilan dan yang melakukannya akan mendapat azab dan balasan, sebagaimana yang di jelaskan dalam surah Al Jaatsiyah (45), ayat 9

Pada ayat-ayat yang lain, lafaz huzuwaa mencakup beberapa keadaan, yaitu:

Pertama, larangan menjadikan bahan huzuwaa atau mainan dan olok-olokkan pada apa yang datang dari Allah berupa kitab, ayat-ayat Nya, rasulrasul Nya, agama Nya dan sebagainya.
Sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 231.
Kedua, larangan bagi orang yang beriman mengikuti orang yang menjadikan agama Allah sebagai bahan persendaan dan gurauan dari Ahli Kitab dan orang kafir (Al Maa ‘idah (5), ayat 57).
Seperti ketika kumandang azan untuk mendirikan shalat, maka mereka mempersendanya dan memperolok-oloknya (Al Maa’ idah (5), ayat 58).

Diriwayatkan dari As Suddi, seseorang lelaki dari orang Nasrani di Madinah, tatkala ia mendengar kumandang azan maka ia berkata,
"Bakarlah pendusta ini" Pada suatu malam pembantunya masuk dengan membawa api, sedang ia dan keluarganya dalam keadaan tidur, lalu api itu jatuh dan rumah pun terbakar, maka ia dan keluarganya turut terbakar.

Seperti mempersenda dan mendustakan hujah, dalil dan mukjizat yang didatangkan Allah kepada rasulrasul Nya (Al Kahfi (18), ayat 56).

Seperti mendustakan dan mempersenda kerasulan Muhammad dari kalangan kafir Quraisy seperti Abu Jahl (Al Anbiya‘ (21), ayat 36), (Al Furqan (25), ayat 41).

Seperti menjadikan jalan Allah atau ayat-ayat Allah bahan permainan dan olok-olokkan (Luqman (31), ayat 6), (Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35).

Ketiga, perkhabaran tentang siksaan yang menimpa ke atas orang yang menjadikan ayat-ayat Allah dan apa saja yang datang darinya sebagai bahan ejekan, sendaan dan olok-olokkan.
Seperti bagi mereka ‘adzaab muhiin yaitu siksaan yang berterusan, selamanya dan menghinakan di hari kiamat.
(Luqman (31), ayat 6) dan (Al Jaatsiyah (45), ayat 9)

Seperti menggugurkan amalan-amalan mereka yang mereka sangka baik dan betul dan tidak memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, maka mereka menjadi penghuni neraka jahanam di hari akhirat.
(Al Kahfi (18), ayat 104-106).

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah dimana Rasulullah bersabda, pada hari kiamat, didatangkan seorang lelaki yang tegap, gemuk, tinggi dan besar.
Namun, Allah tidak menimbang sebarang amalnya walau sebelah sayap seekor nyamuk.

Kesimpulannya, kata huzuwan atau huzuwa mencakup makna sesuatu dijadikan bahan persendaan, ejekan, permainan, sendaan dan yang sinonim dengannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 644-646

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 231 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 231 - Gambar 2
Statistik QS. 2:231
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.7 (21 votes)
Tags:

2:231, 2 231, 2-231, Surah Al Baqarah 231, Tafsir surat AlBaqarah 231, Quran Al-Baqarah 231, Surah Al Baqarah ayat 231

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Faathir (Pencipta) – surah 35 ayat 12 [QS. 35:12]

12. Allah Mahakuasa, Maha Pencipta. Di antara bukti kekuasaan Allah adalah penciptaan manusia. Untuk memenuhi keperluan hidup manusia, Allah menciptakan lautan dengan beragam sumber dayanya. Dan tidak … 35:12, 35 12, 35-12, Surah Faathir 12, Tafsir surat Faathir 12, Quran AlFathir 12, Al-Fathir 12, Fatir 12, Surah Al Fathir ayat 12

QS. Al Qashash (Kisah) – surah 28 ayat 29 [QS. 28:29]

29.Setelah Nabi Musa menyetujui untuk menikahi salah seorang perempuan yang ditemuinya di tempat sumber air dengan syarat-syarat yang diajukan ayah perempuan itu, hiduplah ia bersama keluarganya di Ma … 28:29, 28 29, 28-29, Surah Al Qashash 29, Tafsir surat AlQashash 29, Quran AlQasas 29, Al Qasas 29, AlQasas 29, Al-Qasas 29, Surah Al Qasas ayat 29

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh ...

Benar! Kurang tepat!

Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir ...

Benar! Kurang tepat!

Takdir yang bisa diubah dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #22
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #22 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #22 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #20

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut … al Faruq Khulafaur Rasyidin

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya … Amal perbuatan yang dicintai

Pendidikan Agama Islam #27

Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah … ar-Rahman Yusuf at-Taubah an-Naml Hud Benar! Kurang tepat! Surah yang

Instagram