Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 231


وَ اِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَآءَ فَبَلَغۡنَ اَجَلَہُنَّ فَاَمۡسِکُوۡہُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ اَوۡ سَرِّحُوۡہُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ ۪ وَ لَا تُمۡسِکُوۡہُنَّ ضِرَارًا لِّتَعۡتَدُوۡا ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَا تَتَّخِذُوۡۤا اٰیٰتِ اللّٰہِ ہُزُوًا ۫ وَّ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ وَ الۡحِکۡمَۃِ یَعِظُکُمۡ بِہٖ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ
Wa-idzaa thallaqtumunnisaa-a fabalaghna ajalahunna faamsikuuhunna bima’ruufin au sarrihuuhunna bima’ruufin walaa tumsikuuhunna dhiraaran lita’taduu waman yaf’al dzalika faqad zhalama nafsahu walaa tattakhidzuu aayaatillahi huzuwan waadzkuruu ni’matallahi ‘alaikum wamaa anzala ‘alaikum minal kitaabi wal hikmati ya’izhukum bihi waattaquullaha waa’lamuu annallaha bikulli syai-in ‘aliimun;

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula).
Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka.
Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah).
Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu.
Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
―QS. 2:231
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Ilmu manusia sedikit
2:231, 2 231, 2-231, Al Baqarah 231, AlBaqarah 231, Al-Baqarah 231
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 231. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini mengutarakan cara yang mesti dilakukan oleh suami yang telah menjatuhkan talak kepada istrinya sebagai penjelasan bagi ayat-ayat sebelumnya.
Adapun sebab turunnya ayat ini ada dua riwayat masing-masing dari Ibnu Jarir dan Ibnu Abbas dan As-Sudi.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada masa Rasulullah ﷺ ada seorang laki-laki yang mentalak istrinya.
Kemudian sebelum masa idah istrinya itu habis dia merujuknya kembali.
Setelah itu dijatuhkannya talak lagi kemudian merujuknya kembali.
Hal ini dilaksanakan untuk menyakiti dan menganiaya istrinya tersebut, maka turunlah ayat di atas.

As-Sudi menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan tindakan seorang sahabat dari golongan Ansar, yaitu Sabit bin Yasar yang telah mentalak istrinya.
Setelah masa idah istrinya tinggal dua atau tiga hari lagi ia rujuk kepada istrinya tersebut, kemudian dijatuhkannya talak kembali dengan tujuan untuk menyusahkan istrinya itu.
Maka turunlah ayat ini melarang perbuatan itu.

Apabila seorang suami telah menjatuhkan talak kepada istrinya, maka ketika masa idah dari istrinya itu telah hampir berakhir hendaklah ia memilih salah satu dari dua pilihan yaitu melakukan rujuk atau tetap bercerai dengan cara yang baik.
Karena dengan habisnya idah maka putuslah perkawinan suami istri.
Hal mana berarti bekas istrinya itu bebas memilih jodoh yang lain.

Selanjutnya ayat ini melarang seorang suami melakukan rujuk kepada istrinya dengan tujuan untuk menyakiti dan menganiaya.
Larangan Allah ini selain menggambarkan tingkah laku masyarakat pada masa jahiliah di mana suami menjatuhkan talak kepada istrinya, tanpa batas tertentu dan setiap akan mendekati akhir dari masa idah suami melakukan rujuk kembali dan demikianlah seterusnya.
Juga menjadi penjelasan dari tindakan sahabat Sabit bin Yasar yang telah diuraikan dalam hal sebab turunnya ayat ini.
Suami yang berbuat demikian adalah menganiaya dirinya sendiri, suatu perbuatan yang dapat menimbulkan permusuhan dengan kaum kerabat keluarga istrinya dan juga dibenci oleh masyarakat, dan akhirnya nanti ia tidak luput dari kemurkaan Allah.

Dalam ayat ini Allah melarang manusia mempermainkan hukum-hukum-Nya termasuk hukum-hukum yang mengatur hubungan suami istri untuk membawa manusia kepada hidup bahagia di dunia dan di akhirat.
Ketentuan-ketentuan itu merupakan suatu nikmat dari Allah yang wajib diingat dan diamalkan sebagai tanda bersyukur kepada-Nya.

Tak ada perselisihan ulama dalam lingkungan mazhab empat tentang sahnya talak yang dijatuhkan oleh suami dengan jalan main-main (tidak sungguh-sungguh).

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:

Ada tiga masalah jika dilakukan dengan sungguh-sungguh jadinya sungguh-sungguh dan jika dilakukan dengan cara bermain-main maka jadinya sungguh-sungguh juga, yaitu nikah, talak dan rujuk.
(HR Arba’ah kecuali An Nisa’i dari Abu Hurairah)

Bersetubuh dengan istri yang masih dalam idah raj`i haram hukumnya menurut mazhab Syafii karena sahnya raj`i adalah dengan ucapan (lafal).
Sedang menurut mazhab Hanafi dan Hambali, persetubuhan dianggap rujuk meskipun tanpa lafal dan ucapan.

Al Baqarah (2) ayat 231 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 231 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 231 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apabila kalian menjatuhkan talak kepada istri, dan mereka hampir menghabiskan masa idahnya, maka kalian diperbolehkan merujuknya dengan niat menegakkan keadilan, memperbaiki hubungan dan tidak bermaksud jahat.
Kalian diperbolehkan juga membiarkan wanita-wanita itu menghabiskan masa idah dengan tetap memberikan perlakuan baik di masa pisah itu dan tidak dibenarkan berlaku kasar.
Kalian tidak dibenarkan sama sekali merujuk istri yang telah dijatuhi talak dengan maksud mengulur-ulur masa idah atau berbuat sesuatu yang membahayakan wanita.
Barangsiapa melakukan perbuatan yang demikian itu maka ia telah mengharamkan diri sendiri dari kebahagiaan hidup berkeluarga, menghilangkan kepercayaan manusia dari dirinya dan akan mendapat murka Allah.
Janganlah kalian menjadikan tatanan hukum Allah dalam kehidupan berkeluarga yang telah diterangkan oleh ayat-ayat yang berkaitan dengan itu, sebagai bahan ejekan dan permainan, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia, dengan menjatuhkan talak kepada istri tanpa alasan jelas dan merujuknya kembali dengan niat jahat yang tersembunyi.
Renungkanlah nikmat Allah yang telah menjelaskan norma-norma hukum kehidupan berkeluarga dalam satu tatanan yang tinggi, menurunkan kitab berisi penjelasan kerasulan Muhammad, ilmu pengetahuan yang bermanfaat, perumpamaan, dan kisah-kisah yang dapat memberikan pelajaran.
Buatlah penghalang antara diri kalian dan murka Allah.
Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kalian rahasiakan, apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian niatkan dalam berbuat.
Allah Maha Memberi pahala atas apa yang kalian kerjakan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Apabila kamu menceraikan istri-istri, lalu sampai idahnya), maksudnya dekat pada berakhir idahnya (maka peganglah mereka), artinya rujuklah kepada mereka (secara baik-baik) tanpa menimbulkan kesusahan bagi mereka (atau lepaskanlah secara baik-baik pula), artinya biarkanlah mereka itu sampai habis idah mereka.
(Janganlah kamu tahan mereka itu) dengan rujuk (untuk menimbulkan kesusahan) berfungsi sebagai maf`ul liajlih (sehingga menganiaya mereka) sampai mereka terpaksa menebus diri, minta cerai dan menunggu lama.
(Barang siapa melakukan demikian, berarti ia menganiaya dirinya) dengan menghadapkannya pada siksaan Allah (dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai permainan), artinya berolok-olok dengan melanggarnya (dan ingatlah nikmat Allah kepadamu), yakni agama Islam (dan apa-apa yang telah diturunkan-Nya padamu berupa Kitab) Alquran (dan hikmah) artinya hukum-hukum yang terdapat padanya (Allah memberimu pengajaran dengannya) agar kamu bersyukur dengan mengamalkannya (Dan bertakwalah kamu kepada Allah serta ketahuilah bahwa Allah mengetahui segala sesuatunya) hingga tidak satu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila kalian mentalak para istri, lalu mereka sudah mendekati masa habisnya iddah, maka silakan merujuk mereka sementara niat kalian adalah menunaikan hak-hak mereka secara baik sejalan dengan kaidah syar I dan kebiasaan, atau biarkan mereka sehingga mereka menyelesaikan iddah mereka.
Hendaknya maksud merujuk mereka adalah bukan untuk memudharatkan mereka dan melanggar hak-hak mereka.
Barangsiapa melakukan hal itu, maka dia telah menzhalimi dirinya sendiri, karena dia berhak mendapatkan hukuman.
Jangan menjdaikan ayat-ayat Allah dan hukum-hukum-Nya sebagai bahan mainan dan ejekan.
Ingatlah nikmat Allah kepadamu berupa Islam dan penjelasan tentang hukum-hukum-Nya secara terperinci.
Ingatlah juga apa yang diturunkan kepadamu berupa al-Qur an dan sunnah.
Bersukurlah hanya kepada Allah atas nikmat-nikmat yang agung ini.
Allah mengingatkanmu dengan hal ini dan memperingatkanmu agat tidak menyimpang.
Takutlah kepada Allah dan hendaknya kamu selalu merasa diawasi oleh-Nya.
Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tiada sesuatu pun yang samar bagi Allah, masing-masing orang akan dibalas sesuatu dengan haknya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum lelaki apabila seseorang dari mereka menceraikan istrinya, sedangkan ia berhak merujukinya, hendaklah ia memperlakukannya dengan baik.
Apabila idahnya hampir habis dan yang tinggal hanya sisa waktu yang memungkinkan bagi dia untuk merujukinya, maka adakalanya memegangnya (yakni merujukinya kembali ke dalam ikatan nikah) dengan cara yang makruf.
Hendaklah ia memakai saksi dalam rujuknya itu serta berniat mempergaulinya dengan cara yang makruf.
Atau adakalanya ia melepaskannya, yakni membiarkannya hingga habis masa idahnya serta mengeluarkannya dari rumah dengan cara yang lebih baik, tanpa percekeokan dan tanpa pertengkaran, tanpa saling mencaci.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Janganlah kalian rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kalian menganiaya mereka.

Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi’, dan Muqatil ibnu Hayyan serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan, “Dahulu ada seorang lelaki yang menceraikan istrinya, apabila masa idahnya hampir habis, maka si lelaki itu merujukinya untuk menimpakan kemudaratan agar si istri tidak terlepas dari tangannya.
Setelah itu ia menceraikannya lagi dan si istri melakukan masa idahnya.
Maka apabila masa idahnya hampir habis, si suami merujukinya kembali, lalu menceraikannya lagi agar masa idahnya bertambah panjang.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala melarang mereka berbuat demikian, dan mengancam pelakunya melalui firman-Nya:

Barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri’

karena telah melanggar perintah Allah subhanahu wa ta’ala”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Janganlah kalian jadikan hukum-hukum Allah permainan.

Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Jarir mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, dari Abdus Salam ibnu Harb, dari Yazid ibnu Abdur Rahman, dari Abul Ala Al-Audi, dari Humaid ibnu Abdur Rahman, dari Abu Musa, bahwa Rasulullah ﷺ marah terhadap orang-orang Asy-‘ariyyin.
Lalu Abu Musa datang kepadanya dan berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau marah kepada orang-orang Asy-‘ariyyin?”
Maka Nabi ﷺ menjawab: Seseorang di antara kalian mengatakan, “Aku telah menceraikan dan aku telah merujuknya kembali” hal ini bukanlah talak orang-orang muslim.
Mereka menalak istrinya sebelum masa idahnya.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur yang lain dari Abu Khalid Ad-Dallal (yaitu Yazid ibnu Abdur Rahman), tetapi keadaan dirinya masih perlu dipertimbangkan.

Masruq mengatakan, yang dimaksud oleh hadis ini ialah lelaki yang menceraikan istrinya bukan dalam keadaan yang sewajarnya, tujuannya ialah menimpakan mudarat kepada istrinya melalui talak dan rujuk, dengan maksud agar masa idahnya panjang.

Al-Hasan, Qatadah, Ata Al-Khurrasani, Ar-Rabi’, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa yang dimaksud ialah seorang lelaki yang menalak istrinya seraya mengatakan, “Aku hanya bermain-main.” Atau dia memerdekakan atau nikah, lalu mengatakan, “Aku hanya main-main.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Janganlah kalian jadikan hukum-hukum Allah permainan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala memastikan hal tersebut (yakni talak, merdeka, dan nikahnya dihukumi sah).

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad As-Sairafi, telah menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Muhammad As-Simsar, dari Ismail ibnu Yahya, dari Sufyan, dari Lais, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki menalak istrinya dengan maksud bermain-main yang pada kenyataannya dia tidak bermaksud menalak istrinya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Janganlah kalian jadikan hukum-hukum Allah permainan.
Maka Rasulullah ﷺ memastikan talaknya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isam ibnu Rawwad, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Al-Mubarak ibnu Fudalah, dari Al-Hasan (yaitu Al-Basri) yang menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki menalak istrinya, lalu mengatakan, “Aku hanya bermain-main.” Ia memerdekakan, lalu mengatakan, “Aku hanya bermain-main.” Dan ia nikah, lalu mengatakan, “Aku hanya bermain-main.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:Janganlah kalian jadikan hukum-hukum Allah permainan.
Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang menjatuhkan talak atau memerdekakan atau nikah atau menikahkan dengan sungguhan dan main-main, maka apa yang dikatakannya adalah sah atas dirinya.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari jalur Az-Zuhri, dari Sulaiman ibnu Arqam, dari Al-Hasan dengan lafaz yang semisal.
Hadis ini berpredikat mursal.
Akan tetapi, Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui jalur Amr ibnu Ubaid, dari Al-Hasan, dari Abu Darda secara mauquf sampai kepada Abu Darda.

Ibnu Jarir meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Hasan ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Abu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Ismail ibnu Salamah, dari Al-Hasan, dari Ubadah ibnus Samit sehubungan dengan firman-Nya: Janganlah kalian jadikan hukum-hukum Allah permainan.
Bahwa dahulu di masa Nabi ﷺ ada seorang lelaki mengatakan, “Aku kawinkan kamu dengan anak perempuanku,” lalu ia berkata, “Aku hanya bermain-main.” Ia mengatakan (kepada budaknya), “Aku merdekakan kamu,” lalu ia berkata, “Aku hanya bermain-main.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Janganlah kalian jadikan hukum-hukum Allah permainan.
, Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Ada tiga perkara, barang siapa yang mengatakannya baik secara main-main atau sungguhan, maka semuanya jadi sungguhan atas dirinya, yaitu talak, memerdekakan, (dan) nikah.

Hal yang terkenal mengenai hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah melalui jalur Abdur Rahman ibnu Habib ibnu Adrak, dari Ata, dari Ibnu Mahik, dari Abu Hurairah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada tiga perkara yang sungguhan dan main-mainnya dianggap sungguhan, yakni nikah, talak, dan rujuk.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian.

Yakni karena Dia telah mengutus seorang rasul yang membawa hidayah dan keterangan-keterangan kepada kalian.

…dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian, yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah.

Yang dimaksud dengan Al-Kitab ialah Al-Qur’an, dan yang dimaksud dengan Al-Hikmah ialah sunnah.

Allah memberi pengajaran kepada kalian dengan apa yang diturunkan-Nya itu.

Yakni Dia memerintahkan kepada kalian, melarang kalian, serta memperingatkan kalian agar jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan.

Dan bertakwalah kepada Allah.

Yaitu dalam semua amal perbuatan yang kalian kerjakan dan hal-hal yang kalian tinggalkan.

…serta ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Artinya, tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya dari semua urusan kalian, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, dan kelak Dia akan memberikan balasannya kepada kalian atas perbuatan tersebut.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 231

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa ada seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, kemudian merujuknya sebelum habis idahnya, terus menceraikannya lagi dengan maksud menyusahkan dan mengikat istrinya agar tidak bisa kawin dengan yang lain.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 231)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi.
Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 231) berkenaan dengan Tsabit bin Yasar al-Anshari yang menalak istrinya.
Tetapi setelah hampir habis idahnya, ia merujuknya kembali, lalu menceraikannya lagi, dengan maksud menyakiti istrinya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar di dalam Musnad-nya dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abud Darda’.
Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang besumber dari ‘Ubadah bin ash-Shamit.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan, yang haditsnya mursal.
Bahwa seorang laki-laki menalak istrinya, kemudian berkata: “Sebenarnya aku hanya main-main saja.” Kemudian ia memerdekakan hambanya, tetapi tidak lama kemudian ia berkata: “Aku hanya main-main saja.” Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 231) sebagai teguran atas perbuatan seperti itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 231

HUZUWAA
هُزُوًا

Asal lafaz huzuwaa adalah huz’an, yaitu berdasarkan qira’at ulama Kufah. Sedangkan Hafsah membacanya dengan huzuwan dengan menjadikan al zay berbaris depan dan menukar al hamzah kepada al waw, seperti lafaz kuf’an menjadi kufuwan. Kata ini bisa dalam bentuk mudhaf ilayh (sandaran kepadanya) dengan menghilangkan mudhaf (sandarannya) yaitu mawdhu’ atau makaan huz’in (tempat untuk diperolok, dipersenda atau diejek), dan bisa dalam bentuk mashdar (kata dasar/terbitan) yang bermakna ism maf”ul yaitu mahzu’an ( orang yang dipermainkan dan direndahkan)

Lafaz ini disebut 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 67, 231;
-Al Maa’idah (5), ayat 57, 58;
-Al Kahfi (18), ayat 56, 106;
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 36;
-Al Furqaan (25), ayat 41;
-Luqman (31), ayat 6;
-Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35.

Pada surah Al Baqarah (2), ayat 67 lafaz huzuwaa dikaitkan dengan perkataan adanya tuduhan Bani Isra’il kepada Musa, “Adakah engkau wahai Nabi Musa menjadikan kami tempat untuk diperolok-olok dan engkau mau jadikan kami orang yang dipersendakan dan dipermainkan.”

Pada ayat ini, suruhan Musa kepada mereka supaya menyembelih sapi (baqarah) sebagaimana yang diwahyukan kepadanya untuk mengetahui pembunuh seseorang yang berlaku di antara mereka dianggap sebagai huzuwa atau bahan olok-olok. Awalnya mereka berkeinginan supaya Musa berdoa kepada Allah untuk mengetahui si pembunuh itu. Namun, apa yang mereka minta lain yang disampaikan oleh Musa. Oleh karena itu mereka berkata demikian. Padahal mereka enggan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Musa.

Al Qurtubi rnenerangkan, “Kata- kata ini memberikan isyarat tentang larangan mempermainkan dan mempersenda agama Allah dan orang Islam karena perbuatan itu adalah tanda kejahilan dan yang melakukannya akan mendapat azab dan balasan, sebagaimana yang di jelaskan dalam surah Al Jaatsiyah (45), ayat 9

Pada ayat-ayat yang lain, lafaz huzuwaa mencakup beberapa keadaan, yaitu:

Pertama, larangan menjadikan bahan huzuwaa atau mainan dan olok-olokkan pada apa yang datang dari Allah berupa kitab, ayat-ayat Nya, rasul-rasul Nya, agama Nya dan sebagainya. Sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 231.

Kedua, larangan bagi orang yang beriman mengikuti orang yang menjadikan agama Allah sebagai bahan persendaan dan gurauan dari Ahli Kitab dan orang kafir (Al Maa ‘idah (5), ayat 57). Seperti ketika kumandang azan untuk mendirikan shalat, maka mereka mempersendanya dan memperolok-oloknya (Al Maa’ idah (5), ayat 58).

Diriwayatkan dari As Suddi, seseorang lelaki dari orang Nasrani di Madinah, tatkala ia mendengar kumandang azan maka ia berkata,
“Bakarlah pendusta ini” Pada suatu malam pembantunya masuk dengan membawa api, sedang ia dan keluarganya dalam keadaan tidur, lalu api itu jatuh dan rumah pun terbakar, maka ia dan keluarganya turut terbakar.

Seperti mempersenda dan mendustakan hujah, dalil dan mukjizat yang didatangkan Allah kepada rasul-rasul Nya (Al Kahfi (18), ayat 56).

Seperti mendustakan dan mempersenda kerasulan Muhammad dari kalangan kafir Quraisy seperti Abu Jahl (Al Anbiya’ (21), ayat 36), (Al Furqan (25), ayat 41).

Seperti menjadikan jalan Allah atau ayat-ayat Allah bahan permainan dan olok-olokkan (Luqman (31), ayat 6), (Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35).

Ketiga, perkhabaran tentang siksaan yang menimpa ke atas orang yang menjadikan ayat-ayat Allah dan apa saja yang datang darinya sebagai bahan ejekan, sendaan dan olok-olokkan. Seperti bagi mereka ‘adzaab muhiin yaitu siksaan yang berterusan, selamanya dan menghinakan di hari kiamat. (Luqman (31), ayat 6) dan (Al Jaatsiyah (45), ayat 9)

Seperti menggugurkan amalan-amalan mereka yang mereka sangka baik dan betul dan tidak memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, maka mereka menjadi penghuni neraka jahanam di hari akhirat. (Al Kahfi (18), ayat 104-106).
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah dimana Rasulullah bersabda, pada hari kiamat, didatangkan seorang lelaki yang tegap, gemuk, tinggi dan besar. Namun, Allah tidak menimbang sebarang amalnya walau sebelah sayap seekor nyamuk.

Kesimpulannya, kata huzuwan atau huzuwa mencakup makna sesuatu dijadikan bahan persendaan, ejekan, permainan, sendaan dan yang sinonim dengannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:644-646

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 231 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 231



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (21 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku