Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 229


اَلطَّلَاقُ مَرَّتٰنِ۪ فَاِمۡسَاکٌۢ بِمَعۡرُوۡفٍ اَوۡ تَسۡرِیۡحٌۢ بِاِحۡسَانٍ ؕ وَ لَا یَحِلُّ لَکُمۡ اَنۡ تَاۡخُذُوۡا مِمَّاۤ اٰتَیۡتُمُوۡہُنَّ شَیۡئًا اِلَّاۤ اَنۡ یَّخَافَاۤ اَلَّا یُقِیۡمَا حُدُوۡدَ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ خِفۡتُمۡ اَلَّا یُقِیۡمَا حُدُوۡدَ اللّٰہِ ۙ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡہِمَا فِیۡمَا افۡتَدَتۡ بِہٖ ؕ تِلۡکَ حُدُوۡدُ اللّٰہِ فَلَا تَعۡتَدُوۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّتَعَدَّ حُدُوۡدَ اللّٰہِ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ
Ath-thalaaqu marrataani faimsaakun bima’ruufin au tasriihun biihsaanin walaa yahillu lakum an ta’khudzuu mimmaa aataitumuuhunna syai-an ilaa an yakhaafaa alaa yuqiimaa huduudallahi fa-in khiftum alaa yuqiimaa huduudallahi falaa junaaha ‘alaihimaa fiimaaaftadat bihi tilka huduudullahi falaa ta’taduuhaa waman yata’adda huduudallahi fa-uula-ika humuzh-zhaalimuun(a);

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.
Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.
Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.
Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.
Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.
Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.
―QS. 2:229
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Mut’ah (biaya) untuk isteri yang dicerai
2:229, 2 229, 2-229, Al Baqarah 229, AlBaqarah 229, Al-Baqarah 229
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 229. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa talak raj’i itu hanya berlaku dua kali.
Kalau talak sudah tiga kali, tidak boleh rujuk lagi dan dinamakan talak ba’in.
Para ulama berpendapat bahwa seseorang yang menjatuhkan talak tiga kali sekaligus, maka talaknya dihitung jatuh tiga.

Pada masa jahiliah, orang Arab menjatuhkan talak itu menurut kehendak hatinya, tidak terbatas.
Kemudian mereka rujuk sekehendak hatinya pula.
Pekerjaan seperti itu mempermainkan perempuan dan menghina mereka padahal mereka adalah hamba Allah yang harus dihormati dan dimuliakan, seperti halnya laki-laki.
Maka turunnya ayat ini adalah untuk merubah dan memperbaiki keadaan yang buruk itu, untuk mengatur urusan pernikahan, urusan talak dan rujuk dengan sebaik-baiknya.

Selama masih dalam talak satu atau talak dua, suami boleh rujuk dengan baik-baik, atau tetap bercerai dengan cara yang baik pula.
Yang dimaksud dengan yang baik ialah selama dalam idah perempuan masih dapat belanja, masih boleh tinggal menumpang di rumah suaminya, kemudian diadakan pembagian harta perceraian dengan cara yang baik pula, sehingga perempuan itu sudah diberikan haknya menurut semestinya.

Kalau sudah cerai benar-benar, suami tidak boleh mengambil kembali apa yang sudah diberikan kepada istrinya seperti mahar dan lain-lain, bahkan sebaliknya ditambah lagi dengan pemberian itu, supaya terjamin hidupnya sesudah diceraikan.

Apabila suami istri itu dikhawatirkan tidak akan dapat menjalankan ketentuan-ketentuan Allah, jika hal ini disebabkan oleh pihak suami, maka ia tidak dibenarkan mengambil kembali apa yang telah diberikannya kepada istrinya.
Tetapi kalau hal itu disebabkan oleh istri karena kebencian kepada suaminya atau takut ia tidak akan berlaku adil terhadapnya, maka istri boleh memberikan kembali harta yang telah diberikan suaminya kepadanya untuk melepaskan dirinya dari ikatan perkawinan, agar suaminya mau menceraikannya.
Dan suaminya tidaklah berdosa mengambil pemberiannya itu kembali.
Perbuatan seorang istri yang seperti ini yaitu rela memberikan sebahagian hartanya kepada suaminya asal dapat diceraikan, dinamakan khuluk.

Diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Majah dan Nasai dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa seorang wanita bernama Jamilah saudara Abdullah bin Ubay bin Salul, istri Sabit bin Qais datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ya Rasulullah, suamiku Sabit bin Qais tidak akan kupatuhi perintahnya lagi karena aku marah melihat tingkah lakunya yang tidak baik, aku takut kalau aku jadi orang kafir kembali karena berkhianat dan durhaka kepada suamiku itu.” Lalu Rasulullah ﷺ bertanya: “Apakah engkau bersedia memberikan kembali kebun yang sudah diberikan suamimu sebagai maskawin dulu dan dengan demikian engkau akan dicerainya?”
Jamilah menjawab: “Saya bersedia mengembalikannya asal aku diceraikannya ya Rasulullah.” Maka Rasulullah ﷺ berkata: “Hai Sabit terimalah kembali kebunmu itu dan ceraikanlah dia kembali.”

Memberikan kembali dengan rela hati kebun yang sudah menjadi miliknya, asal dia diceraikan, itu namanya menebus diri.
Perceraian itu dinamakan khuluk, tidak boleh rujuk lagi kecuali dengan akad dan mahar yang baru.
Dan tebusan itu disebut iwad.

Ketentuan tersebut ketetapan Allah yang mengatur kehidupan rumah tangga yang tidak boleh dilanggar, supaya terwujud rumah tangga yang bahagia.
Maka siapa-siapa yang tidak mau mematuhinya, mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Al Baqarah (2) ayat 229 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 229 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 229 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali.[1] Suami dapat merujuk kembali istrinya setelah talak pertama dan kedua selama masa idah atau mengembalikannya sebagai istri dengan akad baru.
Dalam kondisi demikian suami wajib meniatkan usaha mengembalikan istri itu sebagai tindakan yang adil demi perbaikan.
Meskipun jika suami bermaksud mengakhiri perkawinan, tetap diharuskan menempuh jalan terbaik dengan tetap menghormati wanita bekas istrinya itu tanpa memperlakukannya dengan kasar.
Tidak diperbolehkan bagi kalian, wahai para suami, untuk meminta kembali harta yang telah kalian serahkan kepada istri itu, kecuali apabila kalian merasa khawatir tidak mampu melaksanakan hak dan kewajiban hidup bersuami istri sebagaimana dijelaskan dan diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala Apabila kalian, wahai orang-orang Muslim, merasa khawatir istri-istri kalian tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban mereka sebagai istri secara sempurna, maka mereka juga telah diberi ketetapan hukum untuk menyerahkan sejumlah harta kepada suami sebagai imbalan perceraian istri-istri itu dari suami mereka.
Inilah adanya ketentuan hukum Allah itu, maka barang siapa melanggar atau menyalahi ketentuan itu, ia benar-benar telah berbuat zalim terhadap diri sendiri dan pada masyarakatnya.

[1] Allah mensyariatkan talak dan menjadikannya sebagai hak prerogatif di tangan suami.
Sebagian kalangan mengklaim bahwa kedudukan hak semacam ini akan menjadi faktor yang bisa membahayakan tata kehidupan sosial dan menghancurkan institusi keluarga.
Statemen ganjil itu, menurut mereka, telah dikuatkan oleh kenyataan bahwa persentase kasus talak di Mesir (sebagai sampel) dinyatakan termasuk cukup tinggi jumlahnya hingga mencapai angka 30 %, bahkan lebih.
Hal itu akan berujung pada meningkatnya jumlah anak-anak terlantar.
Di sini kita mencoba mengklarifikasikan persoalan, dengan mengulas maksud hak prerogatif suami dalam talak dan menjelaskan benar tidaknya statemen di atas.

Pertama, hak talak yang diberikan kepada suami tidak bebas begitu saja, tapi ada ketentuannya–baik yang bersifat psikologis atau kwantitatif–berkaitan dengan istri yang sudah digauli.
Ketentuan- ketentuan tersebut di antaranya:

(1) Suami tidak menjatuhkan talak kepada istri lebih dari satu kali talak raj’iy, yang mengandung pengetian bahwa suami berhak merujuk kembali istrinya selama masa idah atau membiarkannya tanpa rujuk.
Alternatif kedua ini menandakan bahwa suami tidak lagi menyukai istrinya.
Dan sebagaimana dimaklumi, tidak akan ada perkawinan tanpa didasari oleh rasa suka sama suka.

(2) Suami tidak boleh mencerai istrinya jika sedang dalam masa haid, karena dalam kondisi seperti ini istri mudah marah.
Di samping itu, selama masa haid wanita tidak bisa melaksanakan tugas (menuruti kehendak suami untuk melakukan hubungan seksual) seperti pada masa suci.
Barangkali persoalan sepele ini justru sebagai hal yang melatarbelakangi perceraian.

(3) Suami tidak boleh menjatuhkan talak kepada istrinya dalam keadaan suci tapi telah terjadi hubungan seksual pada masa itu.
Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa kasus perceraian di Mesir tergolong tinggi, kalau saja benar itu masih berada di bawah jumlah kasus yang terjadi di beberapa negara maju seperi Inggris, Amerika Serikat dan Perancis.
Di sisi lain bahwa kasus-kasus semacam itu tidak seluruhnya berakibat pada perceraian yang mengakhiri perkawinan atau bubarnya sebuah rumah tangga.
Dapat dijelaskan, bahwa talak yang terjadi sebelum suami berhubungan dengan istri tidak tergolong sebagai bencana, tapi justru sebagai upaya menghindari bencana itu sendiri.
Sementara kita juga menemukan bukti bahwa kasus rujuk, kasus talak sebelum suami istri berhubungan, talak yang sama-sama dikehendaki oleh kedua belah pihak secara sukarela dan termasuk perkawinan yang diperbarui lagi sesudah talak, cukup besar jumlahnya.
Kalau saja jumlah itu kita bandingkan dengan kasus talak yang 30% dan bersifat umum itu, maka persentase itu akan turun drastis sehingga kasus talak yang benar-benar berakhir dengan perpisahan suami istri hanya akan berkisar antara 1 sampai dengan 2% saja.
Ketiga, menyangkut persoalan anak terlantar akibat perceraian orang tua bisa dipastikan tidak benar.
Penelitian yang pernah dilakukan membuktikan bahwa kasus talak jarang sekali terjadi setelah kelahiran anak.
Secara rinci dibuktikan bahwa 75% kasus talak terjadi pada pasangan muda yang belum mempunyai keturunan, dan 17% terjadi pada pasangan suami istri yang mempunyai tidak lebih dari seorang anak.
Persentase itu semakin menurun sebanding dengan bertambahnya anak hingga mencapai 0,25% pada pasangan suami istri yang mempunyai lima orang anak atau lebih.
Dari hasil penelitian ini sepertinya tidak ada lagi bukti yang menguatkan bahwa keterlantaran anak itu sebagai akibat dari talak.
Justru yang benar adalah bahwa problem anak terlantar itu diakibatkan oleh lemahnya pengawasan orangtua dalam pendidikan anak.
Hal itu diperkuat oleh hasil penelitian lain bahwa kasus kriminalitas lebih banyak disebabkan oleh kurangnya perhatian edukatif orangtua dan bukan faktor perceraian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Talak) atau perceraian yang dapat kembali rujuk itu (dua kali) (setelah itu boleh memegang mereka) dengan jalan rujuk (secara baik-baik) tanpa menyusahkan mereka (atau melepas), artinya menceraikan mereka (dengan cara baik pula.
Tidak halal bagi kamu) hai para suami (untuk mengambil kembali sesuatu yang telah kami berikan kepada mereka) berupa mahar atau maskawin, jika kamu menceraikan mereka itu, (kecuali kalau keduanya khawatir), maksudnya suami istri itu (tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah), artinya tidak dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah digariskan-Nya.
Menurut satu qiraat dibaca ‘yukhaafaa’ secara pasif, Sedangkan ‘an laa yuqiimaa’ menjadi badal isytimal bagi dhamir yang terdapat di sana.
Terdapat juga bacaan dengan baris di atas pada kedua fi`il tersebut.
(Jika kamu merasa khawatir bahwa mereka berdua tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidaklah mereka itu berdosa mengenai uang tebusan) yang dibayarkan oleh pihak istri untuk menebus dirinya, artinya tak ada salahnya jika pihak suami mengambil uang tersebut begitu pula pihak istri jika membayarkannya.
(Itulah), yakni hukum-hukum yang disebutkan di atas (peraturan-peraturan Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.
Barang siapa yang melanggar peraturan-peraturan Allah, maka merekalah orang-orang yang aniaya).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Talak yang masih membuka peluang rujuk adalah dua kali, satu kali setelah satu kali.
Hukum Allah setelah talak satu adalah menahan istri dengan cara yang ma’ruf, mempergaulinya dengan baik setelah merujuknya atau membiarkan jalannya dengan tetap berbuat baik kepadanya dengan menunaikan hak-haknya dan tidak menyinggung keburukannya.
Tidak halal bagi kalian wahai para suami untuk mengambil sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan kepada para istri baik berupa mahar dan lainnya, kecuali bila suami istri khawatir tidak bisa menunaikan hak-hak rumah tangga, saat itu keduanya menyampaikan perkara mereka kepada para wali.
Bila para wali khawatir suami istri tidak mampu menegakkan batasan-batasan Allah, maka tidak ada dosa bagi suami untuk menerima apa yang diberikan oleh istri sebagai tebusan tebusan atas permintaan talaknya.
Hukum-hukum diatas adalah batasan-batasan Allah yang memisahkan antara yang halal dengan yang haram, maka janganlah kalian melanggarnya.
Barangsiapa yang melanggar batasan-batasan Allah, maka mereka termasuk orang-orang yang zhalim dengan menganiaya diri mereka dengan beresiko memikul siksa Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat yang mulia ini mengangkat nasib kaum wanita dari apa yang berlaku pada masa permulaan Islam.
Yaitu seorang lelaki lebih berhak merujuk istrinya, sekalipun ia menceraikannya sebanyak seratus kali talak, selagi si istri masih dalam masa idahnya.

Mengingat hal tersebut merugikan pihak wanita, maka Allah membatasinya hanya sampai tiga kali talak, dan memperbolehkan rujuk pada talak pertama dan kedua, memisahkannya secara keseluruhan pada talak yang ketiga kalinya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.
Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.
(Al Baqarah:229)

Imam Abu Daud di dalam kitab Sunnan-nya mengatakan, yaitu dalam Bab “Nasakh Rujuk Sesudah Talak Tiga Kali”,
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad Al-Marwazi, telah menceritakan kepadaku Ali ibnul Husain ibnu Waqid, dari ayahnya, dari Yazid ibnun Nahwi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.
Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya.
(Al Baqarah:228), hingga akhir ayat.
Demikian itu bila ada seorang lelaki menalak istrinya, maka dialah yang lebih berhak merujukinya, sekalipun dia telah menceraikannya sebanyak tiga kali.
Maka ketentuan tersebut di-mansukh oleh firman-Nya:Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.
(Al Baqarah:229), hingga akhir ayat.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Fadl, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah yang menceritakan hadis berikut: Pada mulanya talak tidak mempunyai batas, seorang lelaki dapat menceraikan istrinya, lalu merujukinya kembali selagi si istri belum habis masa idahnya.
Dan tersebutlah terjadi antara seorang lelaki Ansar dengan istrinya suatu hal yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang (yakni menceraikan istrinya dengan seenaknya).
Si lelaki berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan membuat dirimu bukan sebagai janda, bukan pula sebagai wanita yang bersuami.” Lalu si lelaki menalaknya, dan bila masa idah istrinya hampir habis, maka ia merujukinya kembali, dia melakukan hal tersebut berkali-kali.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya, “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.
Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (Al Baqarah:229).
Maka talak dihentikan sampai batas tiga kali, tiada rujuk lagi sesudah talak tiga, sebelum si istri kawin dengan suami yang baru.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.

Yakni apabila engkau menceraikan istrimu sebanyak sekali talak atau dua kali talak, maka engkau boleh memilih selagi istrimu masih dalam idahnya antara mengembalikan dia kepadamu dengan niat memperbaiki dia dan berbuat baik kepadanya, atau kamu biarkan dia menghabiskan masa idahnya, lalu berpisah darimu dan kamu lepaskan ikatannya darimu dengan cara yang baik, tetapi janganlah kamu berbuat aniaya terhadap haknya barang sedikit pun, jangan pula kamu membuat dia mudarat.

Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Apabila seorang lelaki menceraikan istrinya dua kali talak, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam hal tersebut, yakni dalam talak yang ketiga.
Adakalanya dia merujukinya dengan cara yang makruf dan mempergaulinya dengan cara yang baik, atau menceraikannya dengan cara yang baik.
Dan janganlah ia menganiaya haknya barang sedikit pun.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la secara qiraah (bacaan), telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Sufyan As-Sauri, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Sami’ yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Razin menceritakan hadis berikut: Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu tentang makna firman-Nya, ‘Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (Al Baqarah:229).
Maka manakah talak yang ketiganya?
Nabi ﷺ menjawab, “Melepaskan (menceraikan) dengan cara yang baik.”

Ibnu Murdawaih mengatakan,

telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Jarir ibnu Jabalah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aisyah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik yang telah menceritakan: Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, Allah menuturkan masalah talak dua kali, maka manakah talak yang ketiganya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Rujuk lagi dengan cara yang makruf atau melepaskan (menceraikan) dengan cara yang baik.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka.

Artinya, tidak dihalalkan bagi kalian mengganggu dan mempersulit mereka dengan maksud agar mereka membayar tebusannya kepada kalian sebagai ganti maskawin yang telah kalian berikan kepada mereka, baik secara keseluruhan atau sebagiannya.
Hal ini diungkapkan pula oleh Allah dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

Dan janganlah kalian menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.
(An Nisaa:19)

Jika pihak istri memberikan sesuatu kepada pihak suami dengan suka hati, maka diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.
(An Nisaa:4)

Jika suami dan istri bertengkar karena pihak istri tidak dapat menunaikan hak-hak suaminya dan membuat pihak suami marah kepadanya —begitu pula sebaliknya, pihak suami tidak dapat mempergaulinya—, maka pihak istri boleh menebus dirinya dari pihak suami dengan mengembalikan kepada pihak suami apa yang pernah ia terima darinya.
Tidak ada dosa atas diri istri dalam pengembalian itu, tidak ada dosa pula bagi pihak suami menerimanya dari pihak istri.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.
Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.
(Al Baqarah:229), hingga akhir ayat.

Jika pihak wanita tidak mempunyai halangan (uzur), kemudian ia meminta agar dirinya dilepaskan dengan imbalan tebusan darinya, menurut Ibnu Jarir dalam salah satu riwayatnya disebutkan:

telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab.
Telah menceritakan pula kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah.
Keduanya (Abdul Wahhab dan Ibnu Ulayyah) mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari orang yang menceritakannya, dari Sauban, dari Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Wanita mana pun yang meminta kepada suaminya untuk diceraikan tanpa ada alasan yang membenarkan, maka haram baginya bau surga.

Demikian pula menurut riwayat Imam Turmuzi, dari Bandar, dari Abdul Wahhab ibnu Abdul Majid As-Saqafi, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan.
Imam Turmuzi mengatakan, telah diriwayatkan pula dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban.
Sebagian ahli hadis ada yang meriwayatkannya dari Ayyub dengan sanad ini, tetapi tidak marfu’.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub, dari Abu Qilabah yang mengatakan bahwa ia pernah menceritakan, Abu Asma dan juga Sauban pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Wanita mana pun yang meminta untuk diceraikan oleh suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka haram baginya bau surga.

Jalur periwayatan yang lain diketengahkan oleh Ibnu Jarir:

telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari Lais ibnu Abu Idris, juga Sauban (pelayan Rasul ﷺ), bahwa Nabi ﷺ Pernah bersabda: Wanita mana pun yang meminta kepada suaminya agar diceraikan tanpa alasan yang dibenarkan, maka Allah mengharamkan atasnya bau surga.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Wanita-wanita yang minta dicerai oleh suaminya lagi suka bertengkar dengan suaminya adalah wanita-wanita munafik.

Hadis lain diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Khalaf Abu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, dari Ja’far ibnu Yahya ibnu Sauban, dari pamannya Imarah ibnu Sauban, dari Ata, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Janganlah seorang wanita meminta talak kepada suaminya yang bukan karena alasan semestinya, niscaya ia akan dapat mencium baunya surga, dan sesungguhnya bau surga itu benar-benar dapat dirasakan sejauh perjalanan empat puluh tahun.

Kemudian sejumlah banyak ulama dari kalangan ulama Salaf dan para Imam ulama Khalaf mengatakan bahwa tidak boleh khulu’ kecuali jika pertengkaran dan perpecahan terjadi dari pihak istri.
Maka dalam keadaan seperti itu barulah pihak suami diperbolehkan menerima tebusan dari pihak istri untuk membebaskan dia dari ikatan perkawinan.
Mereka mengatakan demikian berdalilkan kepada firman-Nya:

Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.
(Al Baqarah:229)

Mereka mengatakan bahwa masalah khulu’ hanya disyariatkan bila kondisinya seperti yang disebutkan ayat ini.
Karena itu, masalah khulu’ tidak berlaku pada kondisi lainnya, kecuali jika ada dalilnya.
Sedangkan pada asalnya selain kasus ini tidak ada.

Di antara orang yang berpendapat seperti ini ialah Ibnu Abbas, Tawus, Ibrahim, Ata, Al-Hasan, dan jumhur ulama.
Hingga Imam Malik dan Al-A’uzai mengatakan, “Seandainya seorang suami mengambil sesuatu dari istrinya, sedangkan hal itu memudaratkan pihak istri, maka penebusan itu harus dikembalikan kepadanya dan jatuhlah talaknya sebagai talak raj’i.” Imam Malik mengatakan, “Demikianlah yang aku jumpai di kalangan ulama, mereka berpendapat demikian.”

Imam Syafii mengatakan bahwa pihak istri diperbolehkan melakukan khulu’ dalam kondisi percekcokan, sedangkan dalam keadaan tidak ada percekcokan lebih diperbolehkan lagi, berdasarkan analogi yang lebih utama.
Pendapat ini pula yang dikatakan oleh semua muridnya.

Syekh Abu Umar ibnu Abdul Barr mengatakan di dalam kitab Istizkar-nya dari Bakr ibnu Abdullah Al-Muzani yang mengatakan bahwa khulu’ itu di-mansukh oleh firman-Nya:

sedangkan kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali darinya barang sedikit pun.
(An Nisaa:20)

Ibnu Jarir meriwayatkannya pula dari Bakr ibnu Abdullah Al-Muzani, tetapi pendapat ini lemah dan tidak dapat dipakai.
Karena sesungguhnya Ibnu Jarir sendiri menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Sabit ibnu Qais ibnu Syammas dan istrinya, yaitu Habibah binti Abdullah ibnu Abu Salul.
Sekarang marilah kita tuturkan jalur-jalur hadisnya dan aneka ragam lafaznya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Azar ibnu Jamil, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan hadis berikut: Bahwa istri Sabit ibnu Qais ibnu Syammas datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencelanya dalam masalah akhlak, tidak pula dalam masalah agama, melainkan aku tidak suka kemunafikan sesudah masuk Islam.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah engkau mengembalikan kepadanya kebun (kurma)nya?”
Ia menjawab, “Ya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Terimalah kebun itu, dan ceraikanlah dia sekali talak.”

Demikian pula Imam Bukhari meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Ayyub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, sedangkan pada sebagiannya disebutkan bahwa istri Sabit ibnu Qais mengatakan:

Aku tidak tahan dengannya – yakni benci.

Hadis ini bila ditinjau dari segi ini hanya Imam Bukhari sendiri yang memilikinya.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub, dari Ikrimah, bahwa Jamilah r.a.
—demikianlah menurutnya—, tetapi yang masyhur nama pelaku wanitanya adalah Habibah, seperti yang disebut sebelumnya.

Hadis lainnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Hajjaj, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan: Habibah binti Sahl pada mulanya menjadi istri Sabit ibnu Qais ibnu Syammas, sedangkan Sabit adalah orang yang buruk rupanya.
Lalu Habibah berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sekiranya aku tidak takut kepada Allah, bila ia masuk ke kamarku, niscaya aku ludahi wajahnya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah engkau mengembalikan kebunnya kepada dia?”
Habibah menjawab, “Ya.” Lalu Habibah mengembalikan kepada Sabit kebun (yang pernah ia berikan kepada)nya.
Kemudian Rasulullah ﷺ memisahkan keduanya.

Menurut jumhur ulama, hal tersebut diperbolehkan karena mengingat keumuman makna firman-Nya: maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.
(Al Baqarah:229)

Murid-murid Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa jika mudarat yang ditimbulkan bersumber dari pihak istri, maka pihak suami diperbolehkan menarik dari pihak istri apa yang pernah diberikan kepadanya, dan tidak boleh lebih dari itu.
Jika pihak suami menuntut tambahannya, maka hanya diperbolehkan lewat pengadilan.

Jika mudarat yang ditimbulkan bersumber dari pihak suami, maka tidak boleh pihak suami mengambil sesuatu pun dari pihak istrinya.
Jika pihak suami ingin mengambilnya kembali, maka hanya diperbolehkan lewat pengadilan.

Imam Ahmad, Abu Ubaid, dan Ishaq ibnu Rahawaih mengatakan bahwa pihak suami tidak boleh mengambil lebih banyak daripada apa yang pernah ia berikan kepada istrinya yang meminta khulu’.
Hal ini dikatakan oleh Sa’id ibnu Musayyab, Ata, Amr ibnu Syu’aib, Az-Zuhri, Tawus, Al-Hasan, Asy-Sya’bi, Hammad ibnu Abu Sulaiman, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Ma’mar dan Al-Hakam mengatakan bahwa sahabat Ali pernah mengatakan, “Seorang suami tidak boleh mengambil dari wanita yang meminta khulu’ lebih banyak daripada apa yang pernah ia berikan ke-padanya.”

Al-Auza’i mengatakan bahwa para kadi tidak membolehkan seorang lelaki mengambil dari istrinya yang minta khulu’ lebih banyak daripada apa yang pernah ia berikan kepadanya.

Menurut kami, dalil dari pendapat ini adalah hadis yang telah kami sebutkan di atas yang diriwayatkan oleh Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dalam kisah Sabit ibnu Qais.
Yaitu Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada Sabit agar mengambil dari istrinya kebun itu (yang pernah ia berikan kepadanya) dan tidak boleh lebih dari itu.

Dalil lainnya ialah apa yang diriwayatkan oleh Abdu ibnu Humaid yang menceritakan, telah menceritakan kepada kami Qubaisah, dari Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari Ata, bahwa Nabi ﷺ tidak suka bila seorang lelaki mengambil dari istrinya yang minta khulu’ hal yang lebih banyak daripada apa yang pernah ia berikan kepadanya.

Mereka menakwilkan makna ayat berikut: Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.
(Al Baqarah:229) Yakni berupa apa yang pernah diberikan pihak suami kepadanya, mengingat dalam ayat sebelumnya disebutkan: Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.
Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.
(Al Baqarah:229) Yaitu mengembalikan kembali pemberian tersebut.

Takwil yang sama dikemukakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas melalui qiraahnya yang mengatakan, “Tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya dengan mengembalikan pemberian tersebut.” Demikianlah menurut riwayat Ibnu jarir.
Karena itulah maka sesudahnya disebutkan: Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kalian melanggarnya.
Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.
(Al Baqarah:229)

Imam Syafii mengatakan bahwa teman-teman kami berselisih pendapat dalam masalah khulu’.
Telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Amr ibnu Dinar, dari Tawus, dari Ibnu Abbas mengenai masalah seorang lelaki yang menceraikan istrinya dua kali talak, sesudah itu pihak istri meminta khulu’ darinya.
Maka pihak suami boleh mengawininya jika suka, mengingat Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.
(Al Baqarah:229) sampai dengan firman-Nya: bila keduanya (bekas suami pertama dan istri) kawin kembali.
(Al Baqarah:230)

Imam Syafii mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperbolehkan melalui imbalan harta bukan talak namanya.

Sedangkan selain Imam Syafii meriwayatkan dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari Tawus, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibrahim ibnu Sa’d ibnu Abu Waqqas pernah bertanya kepadanya mengenai masalah seorang lelaki yang menceraikan istrinya dua kali talak, kemudian pihak istri minta khulu’ darinya.
Pertanyaannya, “Bolehkah suami tersebut mengawininya kembali?”
Ibnu Abbas menjawab, “Ya, boleh.
Khulu’ bukanlah talak.
Allah menyebutkan masalah talak pada permulaan ayat dan akhirnya, sedangkan masalah khulu’ disebutkan-Nya di antara keduanya.
Maka khulu’ bukan merupakan sesuatu yang dianggap (sebagai talak).” Kemudian Ibnu Abbas r.a.
membacakan firman-Nya: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.
Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.
(Al Baqarah:229), Firman-Nya: Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.
(Al Baqarah:230)

Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas r.a.
yang kesimpulannya menyatakan bahwa khulu’ bukanlah talak, melainkan fasakh nikah.

Hal yang sama dikatakan pula oleh suatu riwayat dari Usman ibnu Affan r.a.
dan Ibnu Umar.
Juga merupakan pendapat yang dikatakan oleh Tawus dan Ikrimah.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Imam Ahmad ibnu Hambal, Ishaq ibnu Rahawaih, Abu Saur, dan Daud ibnu Ali Az-Zahiri.
Pendapat ini merupakan mazhab Imam Syafii dalam qaul qadimnya, dan sesuai dengan makna lahiriah ayat yang bersangkutan.

Pendapat yang kedua mengenai masalah khulu’ mengatakan bahwa khulu’ adalah talak bain, kecuali jika lelaki yang bersangkutan berniat lebih dari itu.

Hanya mazhab Hanafi mengatakan, “Manakala Mukhali’ berniat dengan khulu’-nya itu menjatuhkan sekali talak atau dua kali atau memutlakkannya, maka yang terjadi adalah talak satu bainah.
Jika pihak suami berniat menjatuhkan tiga talak, maka yang jatuh adalah tiga talak.”

Imam Syafii mempunyai pendapat lain dalam masalah khulu’, yaitu manakala khulu’ terjadi bukan dengan lafaz talak dan lagi tidak ada bayyinah (bukti/saksi), maka hal tersebut bukan dinamakan sebagai suatu masalah sama sekali.

Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam Ahmad, Ishaq ibnu Rahawaih dalam salah satu riwayat darinya yang terkenal mengatakan, wanita yang meminta khulu’ mempunyai idah sama dengan idah wanita yang ditalak, yaitu tiga quru’ jika ia termasuk wanita yang berhaid.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa pendapat inilah yang dikatakan oleh kebanyakan ulama dari kalangan sahabat dan lain-lainnya.
Kesimpulan pendapat mereka dalam masalah ini menyatakan bahwa khulu’ adalah talak.
Karena itu, wanita yang meminta khulu’ dikategorikan sebagaimana wanita-wanita lainnya yang diceraikan.

Pendapat kedua mengatakan bahwa wanita yang meminta khulu’ dari suaminya melakukan idahnya hanya dengan sekali haid untuk membersihkan rahimnya.

Ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Ar-Rabi’ meminta khulu’ kepada suaminya, lalu paman Ar-Rabi’ datang kepada Khalifah Usman r.a.
(mengadukan hal tersebut).
Lalu Usman r.a.
berkata, “Hendaklah ia melakukan idah selama sekali haid.”

Ibnu Abu Syaibah mengatakan bahwa Ibnu Umar mengatakan, “Hendaklah wanita yang khulu’ melakukan idahnya selama tiga kali haid.” Hingga Khalifah Usman sendiri mengatakan hal yang sama, dan Ibnu Umar selalu memfatwakan demikian dan mengatakan, “Usman adalah orang yang paling terpilih dan paling alim di antara kami.”

Telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa idah wanita yang meminta khulu’ kepada suaminya adalah sekali haid.

Telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Muhammad Al-Muharibi, dari Lais, dari Tawus, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mukhtali’ah (wanita yang meminta khulu’) idahnya adalah sekali haid.

Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah dan Aban ibnu Usman beserta semua orang yang telah disebutkan di atas dari kalangan mereka yang mengatakan bahwa khulu’ adalah fasakh.
Mereka mengatakan demikian berdalilkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi, masing-masing dari keduanya mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Bahr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, dari Ma’mar, dari Amr ibnu Muslim, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas: Bahwa istri Sabit ibnu Qais meminta khulu’ dari suaminya di masa Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepadanya agar melakukan idah sekali haid.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan lagi garib.
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Amr ibnu Muslim, dari Ikrimah secara mursal.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Turmuzi:

telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Musa, dari Sufyan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman (yaitu maula keluarga Talhah), dari Sulaiman ibnu Yasar, dari Ar-Rabi’ binti Mu’awwaz ibnu Afra, bahwa ia pernah meminta khulu’ di masa Rasulullah ﷺ Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepadanya —atau dia diperintahkan— untuk melakukan idah sekali haid.

Imam Turmuzi mengatakan, yang sahih adalah disebutkan bahwa ia diperintahkan untuk melakukan idah sekali haid.

Jalur lain diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Salamah An-Naisaburi, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim ibnu Sa’d, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Ubadah ibnu Walid ibnu Ubadah ibnus Samit, dari Ar-Rabi’ binti Mu’awwaz ibnu Afra, bahwa Ubadah pernah berkata kepada Ar-Rabi’, “Ceritakanlah kepadaku kisah tentang dirimu.” Ar-Rabi’ menjawab, “Aku pernah meminta khulu’ dari suamiku.
Kemudian aku datang kepada Khalifah Us’man dan menanyakan kepadanya berapa lama idah yang harus aku jalani.
Maka Khalifah Usman menjawab, ‘Tiada idah atas dirimu, kecuali jika suamimu baru saja menggaulimu, maka kamu tinggal padanya selama sekali haid’.” selanjutnya Ar-Rabi’ mengatakan bahwa sesungguhnya dia dalam masalah ini hanyalah mengikut kepada peradilan yang telah diputuskan oleh Rasulullah ﷺ terhadap Maryam Al-Mugaliyah.
Maryam pada mulanya menjadi istri Sabit ibnu Qais, lalu ia meminta khulu’ darinya.

Ibnu Luhai’ah menceritakan dari Abul Aswad, dari Abu Salamah dan Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Sauban, dari Ar-Rabi’ binti Mu’awwaz yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada istri Sabit ibnu Qais ketika meminta khulu’ dari suaminya agar melakukan idah sekali haid.

Lelaki yang meng-khulu’ istrinya tidak boleh merujuki istrinya yang meminta khulu’ dalam idahnya tanpa seizin dari pihak si istri.
Demikianlah menurut para imam yang empat dan jumhur ulama, karena si istri telah memiliki dirinya sendiri berkat tebusan yang telah ia berikan kepada pihak suami.

Telah diriwayatkan dari Abdullah ibnu Abu Aufa, Mahan Al-Hanafi, dan Sa’id ibnul Musayyab serta Az-Zuhri, bahwa mereka mengatakan, “Jika pihak suami mengembalikan lagi tebusan tersebut kepada pihak istri, maka pihak suami diperbolehkan merujuki istrinya selagi dalam idahnya tanpa perlu ada kerelaan dari pihak si istri.” Pendapat inilah yang dipilih oleh Abu Saur rahimahullah.

Sufyan As-Sauri mengatakan, “Jika khulu’ terjadi bukan dengan memakai lafaz talak, maka hal ini namanya perpisahan, dan tidak ada jalan lagi bagi pihak suami untuk merujukinya.
Jika pihak suami menyebutnya dengan memakai kalimat talak, maka dialah yang lebih berhak merujuki istrinya selagi masih berada dalam idahnya.” Pendapat inilah yang dikatakan oleh Daud ibnu Ali Az-Zahiri.

Semua ulama sepakat bahwa lelaki yang meng-khulu’ istrinya berhak mengawini istrinya selagi masih dalam idah.

Syekh Abu Umar ibnu Abdul Barra telah meriwayatkan dari sejumlah ulama, bahwa suami tidak boleh merujuki istrinya yang telah di-khulu’, sebagaimana tidak boleh pula bagi lelaki lain yang ingin mengawininya.
Pendapat ini syaz (menyendiri) lagi tidak dapat diterima.

Apakah si suami boleh menjatuhkan talak lainnya kepada mukhtali’ah di masa idahnya?
Sehubungan dengan masalah ini ada tiga pendapat di kalangan ulama.

Pendapat pertama: mengatakan bahwa pihak suami tidak boleh melakukan demikian, karena pihak istri telah memiliki dirinya sendiri dan terpisah dari dia.
Hal inilah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Ikrimah, Jabir ibnu Zaid, Al-Hasan Al-Basri, Imam Syafii, Imam Ahmad ibnu Hambal, Ishaq ibnu Rahawaih, dan Abu Saur.

Pendapat kedua.
Imam Malik mengatakan, “Jika talak diikutkan dengan khulu’ tanpa ada tenggang waktu di antara keduanya, maka talaknya sah.
Tetapi jika si suami diam sebentar di antara keduanya (lafaz khulu’ dan lafaz talak), maka talaknya tidak jatuh.” Ibnu Abdul Bar mengatakan bahwa pendapat ini mirip dengan apa yang diriwayatkan dari sahabat Usman r.a.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa talak jatuh atas diri si istri yang meminta khulu’ dalam keadaan apa pun selagi si istri masih berada dalam idahnya.
Pendapat ini merupakan pegangan Abu Hanifah dan semua teman-temannya serta As-Sauri dan Al-Auza’i.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Sa’id ibnul Musayyab, Syuraih, Tawus, Ibrahim, Az-Zuhri, Al-Hakim, Al-Hakam, dan Hammad ibnu Abu Sulaiman.
Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda.
Ibnu Abdul Bar mengatakan, hal tersebut masih belum terbukti bersumberkan dari keduanya (Ibnu Mas’ud dan Abu Darda).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kalian melanggarnya.
Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Yakni syariat-syariat yang telah ditetapkan-Nya bagi kalian merupakan hukum-hukum-Nya, maka janganlah kalian melanggarnya.
Seperti yang dijelaskan di dalam hadis sahih yang mengatakan:

Sesungguhnya Allah telah menggariskan hukum-hukum-Nya, maka janganlah kalian melanggarnya, dan Dia telah menetapkan fardu-fardu-Nya, maka janganlah kalian melalaikannya, dan Dia telah mengharamkan hal-hal yang haram, maka janganlah kalian melanggarnya, dan Dia membiarkan banyak hal karena kasihan kepada kalian tanpa melupakannya, maka janganlah kalian menanyakan tentangnya.

Ayat ini dijadikan dalil oleh orang yang mengatakan bahwa menggabungkan tiga kali talak dalam satu kalimat hukumnya haram.
Seperti yang dikatakan oleh mazhab Maliki dan orang-orang yang sependapat dengan mereka.
Karena sesungguhnya hal yang diberlakukan di kalangan mereka, talak itu dijatuhkan hanya sekali talak, karena berdasarkan kepada firman-Nya: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.
(Al Baqarah:229) Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kalian melanggar-nya.
Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.
(Al Baqarah:229)

Hal ini diperkuat oleh mereka dengan sebuah hadis dari Mahmud ibnu Labid yang diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab sunan-nya.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Makhramah ibnu Bukair, dari ayahnya, dari Mahmud ibnu Labid yang menceritakan: Diceritakan kepada Rasulullah ﷺ tentang seorang lelaki yang menceraikan istrinya tiga kali talak sekaligus.
Maka beliau berdiri dalam keadaan emosi dan bersabda, “Apakah Kitabullah dipermainkan, sedangkan aku masih ada di antara kalian?
Hingga ada seorang lelaki yang bangkit dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku membunuhnya!”

Akan tetapi, di dalam sanad hadis ini terdapat inqita’.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 229

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Aisyah.
Bahwa seorang laki-laki menalak istrinya sekehendak hati.
Menurut anggapannya, selama rujuk itu dilakukan dalam masa idah, wanita itu tetap istrinya, walaupun sudah seratus kali ditalak ataupun lebih.
Laki-laki itu berkata kepada istrinya: “Demi Allah, aku tidak akan menalakmu, dan kamu tetap berdiri di sampingku sebagai istriku, dan aku tidak akan menggaulimu sama sekali.” Istrinya berkata: “Apa yang akan kamu lakukan?” Suaminya menjawab:
“Aku menceraikanmu, kemudian apabila akan habis idahmu, aku akan rujuk lagi.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah ﷺ untuk menceritakan hal itu.
Rasulullah terdiam, sehingga turunlah ayat ini (al-Baqarah: 229) sampai kata…bi ihsaan…(…dengan cara yang baik..).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab an-Naasikh wal Mansuukh, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa seorang laki-laki memakan harta benda istrinya dan maskawin yang ia berikan sewaktu kawin, dan juga harta lainnya.
Ia menganggap bahwa perbuatannya itu tidak berdosa.
Maka turunlah ayat,….wa laa yahillu lakum ang ta’khudzuu…(… tidak halal bagi kamu mengambil kembali..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 229), yang melarang merampas hak istri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij.
Bahwa turunnya ayat..
wa laa yahillu lakum..(…tidak halal bagi kamu..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 229), berkenaan dengan Habibah yang mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang suaminya yang bernama Tsabit bin Qais.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah engkau sanggup memberikan kembali kebunnya (maskawinnya)?” Ia menjawab:
“Ya.” Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil Tsabit bin Qais seraya menerangkan pengaduan istrinya yang akan mengembalikan kebunnya.
Maka berkatalah Tsabit bin Qais: “Apakah kebun itu halal bagiku?” Nabi menjawab:
“Ya.” Ia berkta: “Saya terima.”
Kejadian ini membenarkan seorang suami menerima kembali maskawin yang dikembalikan istrinya sebagai tanda sahnya si istri memutus hubungan perkawinan.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 229

HUDUUD
حُدُود

Lafaz huduud adalah bentuk jamak dari lafaz tunggal hadd. Lafaz ini bermakna sesuatu yang menghalangi dua benda sehingga kedua-duanya tidak dapat berkumpul antara yang satu sama lain.

Lafaz ini dalam bentuk mufrad tidak di­ sebut di dalam Al Qur’an tetapi dalam bentuk jamak sebanyak 12 kali lafaz hudud disebut dengan diikuti lafz al-jalalah menjadikannya huduudullah yaitu didalam surah:
-Al Baqaarah (2), ayat 187, 229 (empat kali), 230 (dua kali);
-An Nisaa (4), ayat 13;
-At Taubah (9), ayat 112;
-Al Mujaadalah (58), ayat 4;
-Ath Thalaaq (65), ayat 1 (dua kali).

Hanya sekali saja disebut dengan diikuti lafaz ganti (damir) huduudahuu yaitu dalam surah An Nisaa (4), ayat 14. Sedangkan dalam bentuk hudduda maa anzalallah disebut sekali saja yaitu dalam surah At Taubah (9), ayat 97 sehingga jumlah keseluruhan ulangan lafaz hudud di dalam Al Qur’an adalah 14 kali.

Yang dimaksudkan dengan huduudullah atau hudduda maa anzalallah adalah atural-aturan Allah yang berbentuk perintah dan larangan. Hukum-hukum Allah dan syari’atnya di­namakan huddud karena ia adalah pembatas yang ditetapkan oleh Allah dan tidak boleh dilanggar. Dalam dua ayat, huddud digunakan unttuk menunjukkan hukum-hukum Allah se­cara umum, bukan hukum dalam kasus tertentu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Ia menjadi aturan bagi manusia sebagaimana dalam surah At Taubah (9), ayat 97, di mana Allah menerangkan orang Arab yang tinggal di pedalaman adalah orang yang pengetahuannya begitu rendah tentang aturan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Begitu juga dalam surah surah At Taubah (9), ayat 112, di mana Allah men­jelaskan antara sifat orang beriman yang di­janjikan syurga adalah orang yang selalu me­matuhi aturan Allah secara konsisten.

وَٱلْحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ

Selain dua ayat diatas, lafaz huduud se­lalu digunakan untuk menegaskan aturan Allah secara khusus yaitu:

1. Hukum dan aturan tentang puasa dan i’tikaf yang terdapat dalam surah Al­ Baqarah (2), ayat 187.

2. Hukum dan aturan talak, rujuk, khulu’ dan ‘iddah yaitu yang terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 229, 230 dan surah Ath Thalaaq (65), ayat 1.

3. Hukum dan aturan zihar dan kafarat­nya yaitu yang terdapat dalam surah Al­ Mujaadalah (58), ayat 4.

4. Hukum dan aturan pembagian waris yaitu yang terdapat dalam surah An Nisaa (4), ayat 13 dan 14.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:200-201

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 229 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 229



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (29 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku