QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 214 [QS. 2:214]

اَمۡ حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا یَاۡتِکُمۡ مَّثَلُ الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِکُمۡ ؕ مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی نَصۡرُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ
Am hasibtum an tadkhuluul jannata walammaa ya’tikum matsalul-ladziina khalau min qablikum massathumul ba’saa-u wadh-dharraa-u wazulziluu hatta yaquularrasuulu waal-ladziina aamanuu ma’ahu mata nashrullahi alaa inna nashrallahi qariibun;

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:
“Bilakah datangnya pertolongan Allah?”
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
―QS. 2:214
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia penjara orang mukmin dan surga orang kafir ▪ Ayat yang berhubungan dengan Abdullah bin Rawahah
2:214, 2 214, 2-214, Al Baqarah 214, AlBaqarah 214, Al-Baqarah 214

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 214

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 214. Oleh Kementrian Agama RI

Ada beberapa pendapat mengenai sebab turunnya ayat ini:

Pertama, pendapat dari Qatadah, As-Suddy dan kebanyakan ahli tafsir yang mengatakan bahwa ayat ini turun di peperangan Khandak ketika kaum muslimin mengalami bermacam-macam kesulitan dan tekanan perasaan.
Mereka merasa gentar dan ketakutan sehingga nafas mereka naik menyesak sampai ke tenggorokan.

Kedua, pendapat lain yang mengatakan bahwa ayat ini turun di waktu peperangan Uhud, dikala kaum muslimin dipukul mundur oleh pasukan musuh dalam peperangan itu.
Sayyidina Hamzah tewas dianiaya, dan Nabi pun menderita luka.

Ketiga, pendapat golongan lain, bahwa ayat ini turun untuk menghibur hati kaum Muhajirin ketika mereka meninggalkan tumpah darahnya dan harta kekayaannya dikuasai oleh kaum musyrikln dan kaum Yahudi memperlihatkan permusuhan kepada Rasulullah ﷺ.
secara terang-terangan dan lain-lain kesulitan yang dialaminya di Madinah.
Ayat ini secara tidak langsung memperkuat ayat-ayat sebelumnya, yaitu agar kaum muslimin selalu tabah dan sabar dalam perjuangan, karena mereka senantiasa mematangkan iman dan akidahnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 155)

Dan firman-Nya:

Apakah manusia mengira, bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: “Kami telah beriman,” dan tidak akan diuji?”
(Q.S. Al ‘Ankabut: 2)

Makin berat dan makin tinggi cita-cita yang akan dicapai, makin besar pula rintangan dan cobaan yang akan dialami.
Untuk mencapai keridaan Allah dan memperoleh surga, bukan suatu hal yang mudah dan gampang, tetapi harus melalui perjuangan yang gigih yang penuh rintangan dan cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu.
Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, nabinya dibunuh, pengikutnya disiksa sampai ada di antara mereka digergaji kepalanya dalam keadaan hidup atau dibakar hidup-hidup.
Oleh karena cobaan dan penderitaan yang dialaminya dirasakan lama, sekalipun mereka yakin bahwa bagaimanapun juga pertolongan Allah akan datang, maka rasul mereka dan pengikut-pengikutnya merasa gelisah lalu berkata, “Bilakah datang pertolongan Allah,” pertanyaan itu dijawab oleh Allah, “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” Pada saatnya nanti mereka akan menang dan mengalahkan musuh, penganiaya dan orang-orang zalim.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apakah kalian mengira akan masuk surga dengan hanya menyatakan keislaman tanpa diuji seperti halnya orang-orang sebelum kalian?
Mereka diuji dan dingoncangkan dengan berbagai cobaan.
Sampai- sampai Rasulullah sendiri dan orang-orang yang bersamanya, berkata, “Bilakah pertolongan Allah akan tiba?”
Saat itu Allah menepati janji-Nya dan mengatakan kepada mereka bahwa pertolongan itu sudah dekat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat berikut diturunkan mengenai susah payah yang menimpa kaum muslimin:

(Ataukah), maksudnya apakah (kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga.

Padahal belum) maksudnya belum (datang kepadamu seperti) yang datang (kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kamu) di antara orang-orang beriman berupa bermacam-macam cobaan, lalu kamu bersabar sebagaimana mereka bersabar?
(Mereka ditimpa oleh), kalimat ini menjelaskan perkataan yang sebelumnya (malapetaka), maksudnya kemiskinan yang memuncak, (kesengsaraan) maksudnya penyakit, (dan mereka diguncang) atau dikejutkan oleh bermacam-macam bala, (hingga berkatalah) baris di atas atau di depan artinya telah bersabda (Rasul dan orang-orang yang beriman yang bersamanya) yang menganggap terlambatnya datang bantuan disebabkan memuncaknya kesengsaraan yang menimpa mereka, (“Bilakah) datangnya (pertolongan Allah) yang telah dijanjikan kepada kami?”
Lalu mereka mendapat jawaban dari Allah, (“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”) kedatangannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah kalian wahai orang-orang mukmin mengira akan masuk surga padahal kalian belum ditimpa ujian seperti yang telah menimpa orang-orang mukmin sebelum kalian; berupa kemiskinan, penyakit, rasa takut dan kecemasan.
Mereka digoncang dengan berbagai bentuk ketakutan, sehingga Rasul mereka dan orang-orang beriman yang bersamanya, -karena mereka menginginkan kemenangan cepat dari Allah-berkata :
Kapan akan datang pertolongan Allah?
Ingatlah bahwa kemenangan dari Allah itu dekat kepada orang-orang mukmin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga.

Yakni sebelum kalian mendapat cobaan, ujian, dan kesengsaraan seperti apa yang pernah dialami oleh orang-orang sebelum kalian dari kalangan umat terdahulu?
Karena itulah dalam ayat selanjutnya disebutkan:

padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan.

Yaitu berupa berbagai macam penyakit, kesengsaraan, musibah, dan malapetaka.

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Murrah Al-Hamdani, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi’, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa al-ba-sa-u artinya kemiskinan, sedangkan ad-darra-u artinya penyakit.
Wa-zul zilu artinya takut oleh musuh dengan takut yang sangat.
Mereka mendapat cobaan yang sangat besar, seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih dari Khabbab ibnul Art yang telah menceritakan hadis berikut:

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak meminta pertolongan buat kami, mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kami?”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada seseorang dari mereka yang diletakkan pada ubun-ubunnya sebuah gergaji, lalu ia, dibelah dengan gergaji itu sampai kepada kedua telapak kakinya, tetapi hal itu tidak: memalingkannya dari agamanya.
Ada pula yang antara daging dan tulangnya disisir dengan sisir besi, tetapi hal tersebut tidak menggoyahkan imannya dari agamanya.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Allah, sesungguhnya Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari San’a ke Hadramaut tanpa merasa takut kecuali kepada Allah dan serigala yang mengancam ternak kambingnya, tetapi kalian ini adalah kaum yang tergesa-gesa.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Alif Lam Mim.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 1-3)

Sesungguhnya hal seperti itu pernah dialami oleh para sahabat, yaitu cobaan yang sangat besar pada hari menjelang Perang Ahzab.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

(Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (kalian) dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.
Dan di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang sangat.
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 10-12), dan ayat-ayat selanjutnya.

Ketika Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan, “Apakah kalian mememeranginya?”
Abu Sufyan menjawab, “Ya.” Heraklius bertanya kembali, “Bagaimanakah keadaan perang di antara kalian?”
Abu Sufyan menjawab, “Silih berganti, terkadang dia mengalami kemenangan atas kami, dan adakalanya kami mengalami kemenangan atas dia.” Heraklius menjawab, “Demikianlah para rasul mendapat cobaan, tetapi pada akhirnya akibat yang terpuji berada di pihak para rasul.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…sebagaimana orang-orang yang terdahulu sebelum kalian.

Yakni sebagaimana hukum yang telah berlaku atas mereka.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya daripada mereka itu (musyrikin Mekah) dan telah terdahulu (tersebut dalam Al-Qur’an) perumpamaan umat-umat masa dahulu.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 8)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…mereka diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”

Artinya, bilakah mereka mendapat kemenangan atas musuh-musuh mereka dan mereka berdoa di saat keadaan sempit dan susah agar pertolongan dan kemenangan disegerakan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(Q.S. Alam Nasyrah [94]: 5-6)

Yakni sebagaimana ada kesusahan, maka akan diturunkan pula pertolongan yang semisal dengannya.
Karena itulah maka disebutkan:

Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Di dalam sebuah hadis dari Abu Ruzain disebutkan:

Tuhanmu merasa heran dengan keputusasaan hamba-hamba-Nya, padahal saat pertolongan-Nya sudah dekat.
Maka Tuhan memandang mereka yang dalam keadaan putus asa itu seraya tertawa karena Dia mengetahui bahwa jalan keluar mereka sudah dekat.


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 214
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ibnu Juraij dia berkata,
Aku mendengar Ibnu Abu Mulaikah berkata,
Ibnu Abbas ra. berkata mengenai firman Allah: Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan… (QS. Yusuf: 110). Perlahan-lahan Ibnu Abbas pergi sembil memikirkan ayat itu seraya membaca ayat, Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ( QS. Al Baqarah: 214). Lalu aku bertemu dengan Urwah, maka aku sebutkan tentang ayat tersebut kepadanya, dia pun menjawab,
Aisyah berkata,
demi Allah, tidaklah Allah berjanji kepada Rasul-Nya sedikitpun kecuali hal itu akan diketahui olehnya sebelum dia meninggal. Namun ujian demi ujian bagi para Rasul akan senantiasa ada hingga mereka merasa khawatir orang-orang yang bersama mereka akan ada yang mendustakannya. Aisyah seraya membaca, Mereka (para rasul) itu menyangka mereka akan didustakan.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4162

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 214

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah.
Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 214) bersangkutan dengan peristiwa perang Ahzab.
Ketika itu Nabi ﷺ mendapat berbagai kesulitan yang sangat hebat dan kepungan musuh yang sangat ketat.
Ayat ini menunjukkan bahwa perjuangan itu meminta pengorbanan.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 214 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 214 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 214 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Baqarah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 286 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 2:214
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.8
Ratingmu: 4.6 (28 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al baqarah 214 ▪ tafsir QS:2:214 ▪ am hasibtum

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim