QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 208 [QS. 2:208]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ کَآفَّۃً ۪ وَ لَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّیۡطٰنِ ؕ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuuudkhuluu fiissilmi kaaffatan walaa tattabi’uu khuthuwaatisy-syaithaani innahu lakum ‘aduu-wun mubiinun;

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
―QS. 2:208
Topik ▪ Keluasan ilmu Allah
2:208, 2 208, 2-208, Al Baqarah 208, AlBaqarah 208, Al-Baqarah 208

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 208

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 208. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menekankan supaya orang-orang mukmin, baik yang baru saja masuk Islam seperti halnya seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Salam, maupun ia seorang munafik yang masih melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam supaya mereka itu taat melaksanakan ajaran Islam sepenuhnya, jangan setengah-setengah, jangan seperti mengerjakan ibadah puasa pada bulan Ramadan tetapi salat lima waktu ditinggalkan, dan jangan bersifat sebagaimana yang digambarkan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Alquran tentang sifat-sifat orang Yahudi :

Apakah kamu hanya beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 85)

Dan janganlah mengikuti langkah-langkah dan ajaran setan, karena setan itu, sifatnya selalu mengajak kepada kejahatan yang menyebabkan banyak orang meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang cenderung berdamai.
Janganlah kalian menumbuhkan sikap fanatisme jahiliah atau sejenisnya yang sering menimbulkan permusuhan dan perpecahan.
Dan janganlah kalian berjalan di jalan setan yang selalu mendorong kepada perpecahan.
Sesungguhnya setan adalah musuh yang amat jelas bagi kalian.[1]

[1] Ayat ini merupakan perintah kepada kaum Muslimin untuk mencintai perdamaian.
Peperangan dan permusuhan digambarkan sebagai mengikuti jalan setan.
Hidup damai antar sesama Muslim atau dengan kelompok lain menjadi ajaran terpenting Islam.
Karenanya peperangan inter dan antar umat sedapat mungkin dihindari.
Ayat ini juga meletakkan perdamaian sebagai suatu sikap dasar dalam hubungan internasional sebagaimana yang dianut semua agama samawi.
Sebelumnya prinsip yang dipraktekkan oleh bangsa-bangsa di dunia adalah hukum rimba:
yang kuat akan menindas dan mengeksploitasi yang lemah.
Islam datang menghapus prinsip ini dan menggantikannya dengan prinsip yang luhur, yaitu prinsip hidup berdampingan secara damai (koeksistensi).
Dari itu, dalam Islam perang hanya dibolehkan sebagai tindakan defensif sehingga dapat mengajak musuh untuk berdamai.
Maka perang yang diperintahkan Islam dan agama-agama samawai lainnya adalah untuk menopang perdamaian dan menegakkan keadilan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat berikut diturunkan mengenai Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya tatkala mereka membesarkan hari Sabtu dan membenci unta sesudah masuk Islam.

(Hai orang-orang beriman! Masuklah kamu ke dalam agama Islam), ada yang membaca ‘salmi’ dan ada pula ‘silmi’ (secara keseluruhan) ‘hal’ dari Islam artinya ke dalam seluruh syariatnya tanpa kecuali, (dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah) atau jalan-jalan (setan), artinya godaan dan perdayaannya untuk membeda-bedakan, (sesungguhnya ia musuhmu yang nyata), artinya jelas permusuhannya terhadapmu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah sebagai Illah, Muhammad sebagai nabi dan rasul dan Islam sebagai agama, masuklah kalian ke dalam seluruh syariat Islam, mengamalkan seluruh hukum-hukumnya, jangan meninggalkan sebagian darinya, jangan mengikuti jalan-jalan setan dengan menuruti ajakannya untuk berbuat kemaksiatan.
Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, waspadailah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, hendaklah mereka berpegang kepada tali Islam dan semua syariatnya serta mengamalkan semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya dengan segala kemampuan yang ada pada mereka.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Tawus, Ad-Dahhak, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, dan Ibnu Zaid sehubungan dengan firman-Nya: masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 208) Yang dimaksud dengan as-silmi ialah agama Islam.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan firman-Nya: masuklah kalian ke dalam Islam.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 208) Yang dimaksud dengan as-silmi ialah taat.
Qatadah mengatakan pula bahwa yang dimaksud dengan as-silmi ialah berserah diri.

Lafaz kaffah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Abul Aliyah, Ikrimah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan, Qatadah dan Ad-Dahhak artinya seluruhnya.

Mujahid mengatakan makna ayat ialah berkaryalah kalian dengan semua amal dan semua segi kebajikan.

Ikrimah menduga bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang dari kalangan orang-orang Yahudi dan lain-lainnya yang masuk Islam, seperti Abdullah ibnu Salam, Asad ibnu Ubaid, dan Sa’labah serta segolongan orang-orang yang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk melakukan kebaktian pada hari Sabtu dan membaca kitab Taurat di malam hari.

Maka Allah memerintahkan mereka agar mendirikan syiar-syiar Islam dan menyibukkan diri dengannya serta melupakan hal lainnya.

Mengenai keterlibatan Abdullah ibnu Salam bersama mereka, masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, karena mustahil dia meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan kebaktian di hari Sabtu, sedangkan dia selain memiliki iman yang sempurna, juga telah membuktikan bahwa hari Sabtu itu telah di-mansukh, dihapuskan, dan dibatalkan, kemudian diganti dengan hari-hari raya Islam.

Dari kalangan mufassirin ada orang yang menjadikan firman-Nya, “Kaffah,” sebagai hal (keterangan keadaan) dari lafaz ad-dakhilin, yakni masuklah kalian semua ke dalam Islam.

Tetapi pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu yang mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk mengamalkan semua cabang iman dan syariat Islam yang banyak sekali dengan segenap kemampuan yang mereka miliki.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepadaku Al-Haisam ibnu Yaman, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Zakaria, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Aun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 208) Dengan lafaz kaffah yang dibaca nasab menurut qiraah-nya, yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang mukmin dari kalangan Ahli Kitab.
Karena sesungguhnya sekalipun telah beriman kepada Allah, mereka masih tetap berpegang kepada sebagian perkara kitab Taurat dan syariat-syariat yang diturunkan di kalangan mereka.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 208) Yakni masuklah kalian ke dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ dan janganlah kalian meninggalkan sesuatu pun yang ada padanya, dan tinggalkanlah apa yang ada di dalam kitab Taurat.
Kalian hanya dituntut untuk beriman kepadanya saja, dan itu sudah cukup bagi kalian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan janganlah kalian turuti langkah-langkah setan.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 208)

Maksudnya, kerjakanlah semua ketaatan, dan jauhilah apa yang diperintahkan oleh setan kepada kalian.
Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 169)

Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
(Q.S. Faathir [35]: 6).
Karena itulah maka dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.

Mutarrif mengatakan bahwa di antara hamba-hamba Allah yang paling banyak menipu sesama hamba-Nya adalah setan.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 208

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah.
Bahwa sekelompok kaum Yahudi menghadap Rasulullah ﷺ hendak beriman, namun meminta agar dibiarkan merayakan hari Sabtu dan mengamalkan kitab Taurat pada malam hari.
Mereka menganggap bahwa hari Sabtu merupakan hari yang harus dimuliakan, dan kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allah juga.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 208), agar tidak mencampur baurkan agama.
Orang-orang Yahudi yang menghadap itu ialah: ‘Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad bin Ka’b, Usaid bin Ka’b, Sa’id bin ‘Amr, dan Qais bin Zaid.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 208

KAAFFAH
كَآفَّة

Ism manshub (berbaris atas) karena dalam kedudukan haal yaitu menggambarkan keadaan. Maknanya jamii’a yaitu keseluruhan.

Berasal dari kata al kaff dan asal maknanya ialah al man’ yaitu penolakan, menghalang atau melindungi. Dikatakan untuk ujung tangan, kaff yaitu telapak tangan karena ia melindungi seluruh anggota badan dengannya, rajul makfuuf bermakna matanya menghalangnya dari melihat. Ibn Qutaibah dan Al Yazidi memberikan makna lafaz ini dengan makna di atas.

Ia disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 208;
-At Taubah (9); ayat 36 (dua kali), 122;
-Saba’ (34), ayat 28.

Allah berfirman,

ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً

Al Qurtubi berkata,
lafaz kaffah dalam ayat ini adalah haal atau keadaan bagi lafaz as silm (Islam) yang bermakna jamii’a yaitu keseluruhan. Dipetik dari kata kafafta, maknanya engkau menghalang yaitu “Janganlah engkau menghalang seseorang masuk Islam”

Pakar tafsir menyatakan, ia dinamakan kaffah karena ia melarang mereka dari perpecahan

Lafaz kaffah dalam kesemua ayat-ayat ini bermakna keseluruhan, namun berbeda perkara dan keadaan.

Dalam surah At Taubah (9), ayat 36, adalah perintah Allah kepada orang mukmin untuk memerangi orang musyrik secara menyeluruh seperti mereka memerangi mereka.
Allah berfirman,

وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً

Ibn Katsir menyatakan, terdapat dua pentafsiran dalam ayat ini.

Pertama, ayat ini terputus dari kalimat sebelumnya dan membentuk hukum baru sehingga ia menjadi suruhan dan galakan. Tafsirannya, “Sebagaimana mereka berhimpun bagi memerangi kamu, apabila mereka memerangi kamu berhimpunlah kamu juga bagi memerangi mereka sebagaimana mereka memerangi kamu”

Kedua, ayat ini adalah izin bagi orang mukmin memerangi orang musyrik pada bulan Muharam, sekiranya mereka memulainya seperti dalam firman Allah yang berarti,

Dan janganlah kamu memerangi mereka di dalam Masjidil Haram, sehingga mereka memerangi kamu di dalamnya, sekiranya mereka memerangi kamu maka bunuhlah mereka

Dan juga Allah berfirman yang artinya,

Bulan Muharam (dibalas) dengan bulan Muharam dan kehormatan itu berbalasan juga.

Dalam surah At Taubah, ayat 122 menceritakan tentang larangan keseluruhan orang mukmin dari keluar berperang.
Allah berfirman,

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۚ

Asy Syaukani berkata,
para pakar berbeda pendapat mengenai makna dalam ayat ini.

Pertama, sebahagian pakar menyatakan ayat ini adalah sisa-sisa hukum berjihad. Ini karena apabila Allah menurunkan perintah berjihad dan berperang, orang muslim apabila diseru oleh Rasulullah untuk memerangi orang kafir, kesemua mereka keluar berjihad sehingga Madinah menjadi kosong dan sunyi. Lalu Allah mengabarkan kepada mereka, tindakan mereka kurang tepat sekiranya mereka semua keluar berjihad. Sebaliknya, hendaklah segolongan dari mereka menetap dan belajar serta mendalami ilmu pengetahuan, seterusnya mengajarkan kepada orang yang berperang apabila mereka pulang dari berperang.

Kedua, sebahagian lagi menyatakan ayat ini bukanlah sisa-sisa dari hukum berjihad, namun mempunyai hukum tersendiri berkenaan dengan suruhan keluar mencari dan mendalami ilmu agama sepertimana kewajiban keluar berjihad di jalan Allah.

Dari sini, terdapat dua safar (keluar mengembara) yaitu, keluar bagi berjihad dan keluar bagi menuntut ilmu. Tentunya kewajiban keluar menuntut ilmu berlaku apabila tidak ada penuntut yang belajar di tempatnya melainkan dengan keluar mengembara untuk belajar.

Sedangkan dalam surah Saba’, lafaz kaffah berkaitan dengan perutusan Rasulullah bagi semua manusia. Allah berfirman,

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Muhammad Ali As Sabuni menafsirkan ayat ini, “Kami tidak mengutusmu wahai Muhammad, untuk orang Arab saja, namun kami mengutusmu untuk keseluruhan makhluk, membawa berita gembira bagi orang yang beriman dengan nikmat syurga dan membawa peringatan bagi orang kafir tentang siksaan api neraka.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:507-509

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 208 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 208 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 208 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Baqarah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 286 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 2:208
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.8
Ratingmu: 4.8 (12 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim