Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 196


وَ اَتِمُّوا الۡحَجَّ وَ الۡعُمۡرَۃَ لِلّٰہِ ؕ فَاِنۡ اُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا اسۡتَیۡسَرَ مِنَ الۡہَدۡیِ ۚ وَ لَا تَحۡلِقُوۡا رُءُوۡسَکُمۡ حَتّٰی یَبۡلُغَ الۡہَدۡیُ مَحِلَّہٗ ؕ فَمَنۡ کَانَ مِنۡکُمۡ مَّرِیۡضًا اَوۡ بِہٖۤ اَذًی مِّنۡ رَّاۡسِہٖ فَفِدۡیَۃٌ مِّنۡ صِیَامٍ اَوۡ صَدَقَۃٍ اَوۡ نُسُکٍ ۚ فَاِذَاۤ اَمِنۡتُمۡ ٝ فَمَنۡ تَمَتَّعَ بِالۡعُمۡرَۃِ اِلَی الۡحَجِّ فَمَا اسۡتَیۡسَرَ مِنَ الۡہَدۡیِ ۚ فَمَنۡ لَّمۡ یَجِدۡ فَصِیَامُ ثَلٰثَۃِ اَیَّامٍ فِی الۡحَجِّ وَ سَبۡعَۃٍ اِذَا رَجَعۡتُمۡ ؕ تِلۡکَ عَشَرَۃٌ کَامِلَۃٌ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ اَہۡلُہٗ حَاضِرِی الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ
Waatimmuul hajja wal ‘umrata lillahi fa-in uhshirtum famaaastaisara minal hadyi walaa tahliquu ruuusakum hatta yablughal hadyu mahillahu faman kaana minkum mariidhan au bihi adzan min ra’sihi fafidyatun min shiyaamin au shadaqatin au nusukin fa-idzaa amintum faman tamatta’a bil ‘umrati ilal hajji famaaastaisara minal hadyi faman lam yajid fashiyaamu tsalaatsati ai-yaamin fiil hajji wasab’atin idzaa raja’tum tilka ‘asyaratun kaamilatun dzalika liman lam yakun ahluhu haadhiriil masjidil haraami waattaquullaha waa’lamuu annallaha syadiidul ‘iqaab(i);

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.
Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya.
Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu:
berpuasa atau bersedekah atau berkorban.
Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat.
Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali.
Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.
Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah).
Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
―QS. 2:196
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat
2:196, 2 196, 2-196, Al Baqarah 196, AlBaqarah 196, Al-Baqarah 196
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 196. Oleh Kementrian Agama RI

Ibadah haji salah satu rukun Islam yang kelima.
Haji mulai diwajibkan bagi umat Islam pada tahun keenam Hijriyah.
Sebelum itu Rasulullah ﷺ pernah beribadah haji sebagai ibadah sunah.
Di samping ibadah haji ada pula ibadah umrah.
Kedua-duanya wajib dikerjakan umat Islam, sekali seumur hidup.
Ibadah haji dan umrah lebih dari sekali, hukumnya sunat.
Ibadah haji dan umrah tidak harus segera dikerjakan, boleh dikerjakan bila keadaan telah mengizinkan.
Barang siapa yang mampu mengerjakan ibadah haji dan umrah sebaiknya ia segera menunaikannya.

Tempat mengerjakan ibadah haji dan umrah itu hanya tanah suci Mekah.
Mereka yang diwajibkan pergi mengerjakan ibadah haji dan umrah ialah mereka yang dalam keadaan sanggup dan mampu, yaitu biaya cukup tersedia, keadaan jasmaniyah mengizinkan dan keamanan tidak terganggu.
Perbedaan ibadah haji dengan umrah ialah, haji rukunnya lima, yaitu niat, wukuf, tawaf, sai dan tahalul, sedangkan umrah rukunnya hanya empat niat, tawaf, sai dan tahalul.

Amal-amal dalam ibadah haji ada yang berfungsi rukun dan yang berfungsi wajib dan ada yang berfungsi sunah.
Amal-amal yang berfungsi rukun jika ada yang ditinggalkan maka ibadah haji dan umrah tidak sah.
Amal-amal yang berfungsi wajib jika ada yang ditinggalkan, maka dikenakan denda (dam) akan tetapi haji dan umrah sah.
Amal-amal yang berfungsi sunah jika ada yang ditinggalkan, maka haji dan umrah sah dan tidak dikenakan dam.
Di samping itu ada larangan-larangan bagi orang yang sedang beribadah haji dan umrah.
Larangan-larangan itu lazimnya disebut muharramat.
Barang siapa melanggar muharramat, dikenakan dam.
Besar kecilnya sepadan dengan besar kecilnya muharramat yang dilanggar itu.
Bersetubuh sebelum selesai mengerjakan tawaf membatalkan haji dan umrah.

Ibadah haji dan umrah mempunyai beberapa segi hukum.
Oleh karena itu barang siapa yang akan mengamalkan ibadah itu seharusnya lebih dahulu mempelajarinya.
Hukum-hukum ini biasa disebut manasik.
Ayat 196 ini diturunkan di waktu diadakan perdamaian Hudaibiyah pada tahun ke 6 Hijriyah sama dengan turunnya ayat 190 tentang izin berperang bagi kaum muslimin.

Ayat ini diturunkan berhubungan dengan ibadah haji dan umrah.
Kaum muslimin diwajibkan mengerjakan haji dan umrah.
Yang dimaksud dengan perintah Allah untuk “menyempurnakan” haji dan umrah ialah mengerjakannya secara sempurna, ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala Ada kemungkinan seseorang yang sudah berniat haji dan umrah terhalang oleh bermacam halangan untuk menyempurnakannya.
Dalam hal ini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ketentuan sebagai berikut: Orang yang telah terlanjur berihram haji dan umrah lalu dihalangi oleh musuh sehingga haji dan umrahnya tidak dapat diselesaikan, maka orang itu harus menyediakan sembelihan seekor unta, sapi atau kambing.

Hewan-hewan itu boleh disembelih, setelah sampai di Mekah dan mengakhiri ihramnya dengan tahallul (mencukur atau mengguntimg rambut).
Mengenai tempat penyembelihan itu ada perbedaan pendapat, ada yang mewajibkan di tanah haram, ada pula yang membolehkan di tanah halal.
Jika tidak menemukan hewan yang akan disembelih, maka hewan itu dapat diganti dengan makanan seharga hewan itu dan dihadiahkan kepada fakir-miskin.

Jika tidak sanggup menyedekahkan makanan, maka diganti dengan puasa tiap-tiap mud makanan itu sama dengan satu hari puasa.
Orang-orang yang telah berihram haji atau umrah, kemudian dia sakit atau pada kepalanya terdapat penyakit seperti bisul, dan ia menganggap lebih ringan penderitaannya bila dicukur kepalanya, dibolehkan bercukur tetapi harus membayar fidyah dengan berpuasa 3 hari atau bersedekah makanan sebanyak 3 sha’ (10,5 liter) kepada orang miskin, atau berfidyah dengan seekor kambing.

Al Baqarah (2) ayat 196 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 196 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 196 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lakukanlah ibadah haji dan umrah secara sempurna dengan mengharap perkenan Allah semata.
Janganlah kalian melakukannya untuk kepentingan dunia, semisal prestise dan sebagainya.
Jika di perjalanan kalian dikepung musuh, sedangkan kalian telah berniat haji dan telah mengenakan pakaian ihram, maka kalian boleh melepas ihram itu setelah mencukur rambut.
Sebelumnya, kalian harus menyembelih kurban yang mudah didapat, seperti kambing, unta atau sapi.
Lalu sedekahkanlah kurban itu pada orang-orang miskin.
Dan janganlah kalian mencukur rambut kecuali setelah menyembelih kurban.
Barangsiapa telah berihram kemudian ada gangguan di kepalanya karena sakit atau luka di kepala, maka ia boleh mencukur rambut.
Tetapi ia diwajibkan berfidyah yaitu dengan berpuasa selama tiga hari, atau bersedekah dalam bentuk makanan pokok kepada enam orang miskin, atau menyembelih seekor kambing yang disedekahkan kepada fakir miskin.
Dan bila berada di negeri yang aman dan damai yang tidak dihalangi oleh musuh, kalian boleh melakukan umrah lebih dulu (tamattu’) hingga tiba waktu haji.
Lalu berihramlah untuk niat haji.
Di sini, kalian diwajibkan menyembelih seekor kambing yang dagingnya disedekahkan kepada fakir miskin di tanah haram.
Jika kambing sulit didapatkan atau kalian tidak mampu mengeluarkan dana seharga kambing, maka berpuasalah selama tiga hari di Mekah dan tujuh hari sekembalinya kalian ke tengah-tengah keluarga.
Kewajiban seperti ini hanya dikhususkan bagi mereka yang bukan penduduk kota Mekah.
Bagi penduduk Mekah, tidak diwajibkan apa-apa ketika melakukan haji tamattu’.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah), artinya lakukanlah dengan memenuhi semua haknya (dan jika kamu terkepung), artinya terhalang untuk menyelesaikannya disebabkan ada musuh, (maka hendaklah menyembelih hewan yang mudah didapat), yaitu seekor kambing (dan janganlah kamu cukur kepalamu), maksudnya jangan tahalul (sebelum sampai sembelihan) tersebut (ke tempat penyembelihannya), artinya tempat penyembelihannya.
Menurut Syafii adalah tempat terkepung itu.
Maka hendaklah disembelih di sana dengan niat tahalul, lalu dibagi-bagikan kepada fakir miskin, kemudian bercukur rambut, sehingga dengan demikian tercapailah tahalul.
(Dan barang siapa di antara kamu sakit atau ada gangguan pada kepalanya) berkutu dan pusing, lalu ia bercukur di waktu ihram (maka hendaklah ia membayar fidyah), (yaitu berpuasa) selama tiga hari (atau bersedekah) sebanyak tiga sukat makanan pokok penduduk itu kepada enam orang fakir miskin (atau berkurban), artinya menyembelih kambing.
‘Au’ yang berarti ‘atau’ memberi kesempatan untuk memilih.
Termasuk pula dalam hal ini orang yang bercukur tanpa halangan apa-apa, karena ia lebih pantas lagi untuk membelinya, membayar denda atau tebusan.
Demikian pula orang yang menikmati apa-apa yang dilarang tanpa bercukur, seperti memakai minyak wangi, pakaian yang berjahit atau minyak rambut yang disebabkan sesuatu halangan atau lainnya (Maka apabila kamu telah merasa aman) dari bahaya musuh-musuhmu, misalnya mereka telah pergi atau sudah tidak ada lagi (maka bagi siapa yang hendak bertamatu) yaitu (mendahulukan umrah) disebabkan telah kosongnya ia dari larangan-larangan ihram (daripada haji), maksudnya sampai saat ihram dengannya asal saja masih pada bulan-bulannya, (maka hendaklah wajib ia menyembelih kurban yang mudah didapat), yaitu seekor kambing yang harus disembelihnya sesudah ihram haji, dan lebih utama pada hari kurban.
(Tetapi apabila ia tidak menemukan) kurban, misalnya karena hewan itu tidak ada, atau tidak punya uang untuk membelinya, (maka hendaklah ia berpuasa), artinya wajib atasnya berpuasa (tiga hari dalam masa haji) artinya sewaktu sedang ihram, dengan demikian ia wajib melakukan ihram sebelum tanggal tujuh Zulhijah, dan lebih utama sebelum tanggal enam, karena makruhnya berpuasa pada hari Arafah, sedangkan menurut salah satu di antara dua pendapat Syafii yang lebih sah, tidak boleh mempuasakannya pada hari-hari tasyrik (dan tujuh hari lagi bila kamu telah pulang) ke kampung halamanmu, baik Mekah atau lainnya.
Ada pula yang mengatakan jika telah selesai dari pekerjaan-pekerjaan haji tanpa mempedulikan soal di rantau atau tidaknya.
(Itulah sepuluh hari yang sempurna) suatu jumlah untuk menguatkan yang sebelumnya.
(Demikian itu) maksudnya hukum yang telah disebutkan tadi berupa kewajiban menyembelih kurban atau berpuasa bagi orang yang mengerjakan haji secara tamatu (adalah bagi orang yang keluarganya tidak berada di sekitar Masjidilharam).
Menurut Syafii, tidak berada kurang dari dua marhalah dari tanah suci.
Jika sebaliknya, maka tak ada kurban dan tidak pula berpuasa sekalipun ia melakukan tamatu.
Disebutkannya ahli atau penduduk, memperingatkan kita disyaratkannya status sebagai penduduk.
Sekiranya ia bermukim sebelum bulan-bulan haji tetapi tidak menjadi penduduk tetap, lalu ia bertamatu, maka wajiblah baginya demikian itu.
Ini merupakan salah satu dari dua pendapat Syafii, sedangkan pendapatnya yang kedua adalah tidak wajib.
‘Ahli’ itu merupakan sindiran terhadap diri orang yang bersangkutan.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis, termasuk pula dalam tamatuk ini ialah qiran artinya orang yang ihram dengan haji dan umrah sekaligus atau memasukkan haji ke dalam umrah sebelum memulai tawaf (Dan bertakwalah kamu kepada Allah), yakni mengenai perintah dan larangan-Nya (serta ketahuilah bahwa Allah amat berat siksaan-Nya), yakni bagi orang yang melanggar peraturan-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Laksanakanlah haji dan umrah dengan sempurna, ikhlas karena wajah Allah.
Bila kalian terhalangi oleh sesuatu seperti musuh atau sakit sehingga kalian tidak mampu untuk menyempurnakannya padahal kalian telah berihram dengan keduanya, maka wajib atas kalian menyembelih apa yang mudah bagi kalian, berupa unta atau sapi atau domba dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, agar kalian keluar dari ihram kalian dengan mencukur kepala kalian atau memotongnya.
Jangan mencukur kepala kalian saat kalian terhalang sehingga orang yang terhalangi menyembelih hadyunya di tempat di mana dia terhalangi, kemudian dia bertahallul dari ihramnya, sebagaimana Nabi menyembelih di Hudaibiyah kemudian mencukur kepalanya.
Sedangkan orang yang tidak terhalangi maka dia tidak menyembelih hadyunya kecuali di Haram.
Yaitu tempatnya bertahallul di hari Raya, yakni hari kesepuluh dan tiga hari sesudahnya, dan hari-hari tasyriq.
Siapa yang sakit di antara kalian atau di kepalanya ada sesuatu yang mengganggunya sehingga dia harus mencukur kepalanya, padahal dia dalam keadaan berihram, maka dia boleh mencukur namun dia harus membayar fidyah; yaitu berpuasa selama tiga hari atau bersedekah kepada enam orang miskin, masing-masing miskin mendapatkan setengah sha makanan atau menyembelih kambing untuk orang-orang fakir di Haram.
Bila kalian dalam keadaan aman dan sehat, maka siapa di antara kalian yang melakukan haji tamathu dan hal itu membolehkannya melakukan apa yang sebelumnya dilarang disebabkan ihram setelah menyelesaikan umrahnya, maka dia harus menyembelih hadyu yang mudah baginya.
Siapa yang tidak mendapatkan hadyu untuk disembelih maka dia berpuasa selama tiga hari di bulan-bulan haji dan tujuh hari bila kalian telah menyelesaikan manasik haji dan pulang ke negeri kalian.
Semuanya berjumlah sepuluh hari sempurna, dan puasa harus dilakukan sebanyak itu.
Kewajiban hadyu dan puasa bagi siapa yang tidak mampu menyembelih hadyu berlaku bagi siapa yang keluarganya bukan termasuk penduduk bumi Haram.
Takutlah kalian kepada Allah, konsistenlah dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Ketahuilah bahwa Allah memiliki siksa yang keras bagi siapa yang menyelisihi perintah-Nya dan melakukan apa yang Dia larang.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah Allah menyebutkan hukum-hukum puasa, lalu meng-‘ataf kannya dengan sebutan masalah jihad, maka mulailah Allah menjelaskan masalah manasik.
Untuk itu, Allah memerintahkan agar ibadah haji dan umrah disempurnakan.
Menurut pengertian lahiriah konteks menunjukkan harus menyempurnakan semua pekerjaan haji dan umrah bilamana seseorang telah memulainya.
Karena itulah sesudahnya disebutkan:

Jika kalian terkepung.

Yakni jika kalian terhalang sampai ke Baitullah dan kalian terhambat hingga tidak dapat menyempurnakan keduanya (karena terhalang oleh musuh atau karena sakit).
Karena itulah para ulama sepakat bahwa memasuki ibadah haji dan umrah merupakan suatu keharusan, baik menurut pendapat yang mengatakan bahwa umrah itu wajib ataupun sunat, seperti pendapat-pendapat yang ada di kalangan ulama.
Kami telah menyebutkan kedua masalah ini beserta dalil-dalilnya di dalam Kitabul Ahkam secara rinci.

Disebutkan dari Sufyan As-Sauri, ia pernah mengatakan sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa pengertian menyempurnakan haji dan umrah itu ialah bila kamu telah berihram dari rumah keluargamu dengan tujuan hanya untuk haji dan umrah.
Kamu ber-ihlal (berihram) dari miqat, sedangkan tujuan kamu bukan untuk berniaga, bukan pula untuk keperluan lainnya.
Ketika kamu sudah berada di dekat Mekah, maka kamu berkata, “Sekiranya aku melakukan haji atau umrah,” yang demikian itu sudah dianggap cukup, tetapi yang sempurna ialah bila kamu berangkat ihram dan tiada niat lain kecuali hanya untuk itu.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri yang menceritakan, telah sampai kepada kami bahwa sahabat Umar pernah mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.
Bahwa termasuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah ialah bila kamu meng-ifrad-kan masing-masing dari yang lainnya secara terpisah, dan kamu lakukan ibadah umrah di luar bulan-bulan haji, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.
(Al Baqarah:197)

Hisyam meriwayatkan dari Ibnu Aun bahwa ia pernah mendengar Al-Qasim ibnu Muhammad berkata, “Sesungguhnya melakukan ibadah umrah di dalam bulan-bulan haji kurang sempurna.” Ketika dikatakan kepadanya, “Bagaimana dengan umrah dalam bulan Muharram?”
Ia menjawab, “Menurut mereka, melakukan ibadah umrah dalam bulan tersebut dianggap sempurna.”

Hal yang sama diriwayatkan pula dari Qatadah ibnu Di’amah.
Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan karena disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah ﷺ melakukan umrahnya sebanyak empat kali, semuanya beliau lakukan dalam bulan Zul-Qa’dah.
Umrah hudaibiyyah dalam bulan Zul-Qa’dah tahun enam Hijriah, umrah qada dalam bulan Zul-Qa’dah tahun ketujuh Hijriah, umrah ji’arah dalam bulan Zul-Qa’dah tahun delapan Hijriah, dan umrah yang beliau lakukan dalam ibadah haji —beliau berihram untuk keduanya secara bersamaan (qiran)— dalam bulan Zul-Qa’dah tahun sepuluh Hijriah.
Beliau ﷺ tidak melakukan umrah lagi selain dari umrah-umrah tersebut setelah beliau hijrah.
Akan tetapi, Nabi ﷺ bersabda kepada Ummu Hani’:

Umrah dalam bulan Ramadan seimbang dengan melakukan ibadah haji bersamaku.

Dikatakan demikian karena Ummu Hani’ bertekad untuk melakukan ibadah haji bersama Nabi ﷺ, tetapi ia terhambat melakukannya karena masa sucinya terlambat, seperti yang dijelaskan dengan panjang lebar di dalam hadis Imam Bukhari.
Tetapi dalam nas Sa’id ibnu Jubair disebutkan bahwa hal tersebut hanya merupakan kekhususan bagi Ummu Hani’.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.
Yakni tegakkanlah (kerjakanlah) ibadah haji dan umrah.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan sempurnakan ibadah haji dan umrah karena Allah.

Artinya, barang siapa yang telah berihram untuk ibadah haji atau umrah, maka dia tidak boleh ber-tahallul sebelum menyempurnakan keduanya, yaitu sempurnanya ibadah haji pada hari kurban.
Bila ia telah melempar jumrah aqabah, tawaf di Baitullah, dan sa’i antara Safa dan Marwah, setelah semuanya dikerjakan, berarti sudah tiba masa tahallul-nya.

Qatadah meriwayatkan dari Zararah, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Haji itu adalah Arafah, dan umrah itu adalah tawaf.”

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah sehubungan dengan firman-Nya:

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.
Disebutkan bahwa menurut qiraat Abdullah ibnu Mas’ud bunyinya demikian, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah sampai ke Baitullah,” yakni melakukan ibadah umrah hanya di sekitar Baitullah, tidak melebihinya.
Selanjutnya Ibrahim mengatakan bahwa lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Sa’id ibnu Jubair.
Maka Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa hal yang sama dikatakan pula oleh Ibnu Abbas.

Sufyan meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, bahwa ia pernah mengatakan, “Dan dirikanlah ibadah haji dan umrah sampai ke Baitullah.” Hal yang sama diriwayatkan pula oleh As-Sauri, dari Ibrahim, dari Mansur, dari Ibrahim, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan berikut yang artinya, “Dan dirikanlah ibadah haji dan umrah sampai ke Baitullah.”

Telah disebutkan di dalam banyak hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur yang berbeda, dari Anas dan sejumlah sahabat, bahwa Rasulullah ﷺ dalam ihramnya menggabungkan ibadah haji dan ibadah umrah.
Ditetapkan di dalam hadis sahih yang bersumber dari Nabi ﷺ bahwa beliau ﷺ pernah bersabda kepada para sahabat:

Barang siapa yang membawa hadyu (hewan kurban), maka hendaklah ia ber-ihlal (berihram) untuk ibadah haji dan umrahnya.

Di dalam hadis sahih lain disebutkan pula bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Umrah dimasukkan ke dalam ibadah haji sampai hari kiamat.

Hadis yang disebutkan di dalam kitab Sahihain dari Ya’la ibnu Umayyah dalam kisah seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi ﷺ ketika di Ji’ranah, disebutkan bahwa lelaki itu bertanya, “Bagaimanakah menurutmu tentang seorang lelaki yang berihram untuk umrah, sedangkan dia memakai kain jubah yang dilumuri dengan minyak za’faran?”
Nabi ﷺ diam, lalu turunlah wahyu kepadanya, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bertanya, “Manakah orang yang bertanya tadi?”
Lelaki itu menjawab, “Inilah aku.” Maka beliau ﷺ bersabda:

Adapun mengenai baju jubahmu, lepaskanlah ia, dan adapun mengenai wewangian yang ada pada tubuhmu, cucilah.
Kemudian apa yang biasa kamu lakukan dalam ibadah hajimu, maka lakukanlah pula dalam ibadah umrahmu.

Di dalam riwayat ini tidak disebutkan masalah istinsyaq (mengisap air dengan hidung untuk mencucinya), juga tidak disebutkan mandi, tidak pula sebutan asbabun nuzul ayat ini.
Hadis ini dari Ya’la ibnu Umayyah, bukan Safwan ibnu Umayyah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jika kalian terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat.

Mereka mengatakan bahwa ayat ini diturunkan pada tahun enam Hijriah, yakni pada tahun perjanjian Hudaibiyah, yaitu ketika kaum musyrik menghalang-halangi antara Rasulullah ﷺ dan Baitullah, hingga beliau tidak dapat sampai kepadanya, dan Allah menurunkan sehubungan dengan peristiwa ini di dalam surat Al-Fath secara lengkap.
Allah menurunkan bagi mereka keringanan, yaitu mereka diperbolehkan menyembelih hewan hadyu yang mereka bawa.
Jumlah hewan hadyu yang mereka bawa saat itu kurang lebih tujuh puluh ekor unta, lalu mereka mencukur rambut mereka masing-masing dan diperintahkan untuk ber-tahallul dari ihram mereka.

Maka pada saat itu juga Nabi ﷺ memerintahkan kepada mereka untuk mencukur rambut dan ber-tahallul dari ihramnya.
Akan tetapi, pada mulanya mereka tidak mau melakukannya karena menunggu adanya perintah nasakh.
Maka terpaksa Rasulullah ﷺ keluar dan mencukur rambutnya, lalu orang-orang mengikuti jejaknya, dan di antara mereka ada orang-orang yang hanya memotong rambutnya saja, tidak mencukurnya.
Karena itulah Nabi ﷺ bersabda:

“Semoga Allah merahmati orang-orang yang bercukur.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah pula buat orang-orang yang memotong rambutnya.” Pada yang ketiga kalinya baru Rasulullah ﷺ berdoa, “Dan juga orang-orang yang mencukur rambutnya.”

Mereka bersekutu dalam penyembelihan hadyu mereka, setiap tujuh orang satu ekor unta, sedangkan jumlah mereka seluruhnya ada seribu empat ratus orang.
Tempat mereka di Hudaibiyyah berada di luar Tanah Suci.
Menurut pendapat yang lain, bahkan mereka berada di pinggir kawasan Kota Suci.

Para ulama berselisih pendapat, apakah masalah boleh ber-tahallul di luar Kota Suci ini khusus hanya menyangkut keadaan bila dikepung oleh musuh, karenanya tidak boleh ber-tahallul kecuali hanya orang yang dikepung oleh musuh, bukan karena faktor sakit atau faktor lainnya?
Ada dua pendapat mengenai masalah ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Ibnu Abbas dan Ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, juga dari Ibnu Abu Nujaih, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tiada kepungan kecuali karena kepungan musuh.
Orang yang terkena sakit atau penyakitnya kambuh atau tersesat, maka tiada dispensasi apa pun atas dirinya, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Apabila kalian telah (merasa) aman.
(Al Baqarah:196) Maksud keadaan aman itu ialah bila tidak dikepung.

Pendapat yang kedua mengatakan, pengertian hasr (terkepung) lebih umum daripada hanya sekadar dikepung musuh atau karena sakit atau karena tersesat jalannya atau faktor lainnya yang sejenis.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnus Sawwaf, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Ikrimah, dari Al-Hajjaj ibnu Amr Al-Ansari yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang patah tulang atau sakit atau pincang, maka sesungguhnya dia telah ber-tahallul, dan wajib atas dirinya melakukan haji lagi.

Menurut riwayat Abu Daud dan ibnu Majah disebutkan:

Barang siapa yang pincang (terkilir) atau patah tulang atau sakit.

Di dalam hadis Sahihain disebutkan:

dari hadis Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ memasuki rumah Duba’ah binti Zubair ibnu Abdul Muttalib, lalu Duba’ah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku bermaksud menunaikan haji, sedangkan aku dalam keadaan sakit (sedang haid).” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Berhajilah kamu dan syaratkanlah dalam niatmu bahwa tempat tahallul-ku sekiranya penyakit (haid) menahanku.

Imam Muslim meriwayatkannya pula melalui Ibnu Abbas dengan lafaz yang semisal.
Maka berpendapatlah sebagian ulama bahwa sah mengadakan persyaratan dalam niat haji karena berdasarkan hadis ini.

Imam Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii memberikan komentarnya, bahwa kebenaran pendapat ini bergantung kepada kesahihan hadis yang dijadikan landasannya.
Imam Baihaqi dan lain-lainnya dari kalangan huffaz (orang-orang yang hafal hadis) mengatakan bahwa hadis ini sahih.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…maka (wajiblah baginya menyembelih) kurban yang mudah didapat.

Imam Malik meriwayatkan dari Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Ali ibnu Abu Talib, bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Maka (wajiblah baginya menyembelih) kurban yang mudah didapat.
Yang dimaksud dengan hewan kurban ialah seekor kambing.

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan hadyu ialah hewan jantan dan hewan betina dari keempat jenis ternak, yaitu unta, sapi, kambing, dan domba.

As-Sauri meriwayatkan dari Habib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Maka (wajiblah baginya menyembelih) kurban yang mudah didapat.

Yang dimaksud ialah ternak kambing.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Ata, Mujahid, Tawus, Abul Aliyah, Muhammad ibnu Ali ibnul Husain, Abdur Rahman ibnul Qasim, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya.
Pendapat inilah yang dipegang oleh mazhab empat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Al-Qasim, dari Siti Aisyah dan Ibnu Umar, keduanya berpendapat sehubungan dengan hewan kurban yang mudah didapat, bahwa yang dimaksud tiada lain adalah dua jenis ternak, yaitu berupa unta dan sapi.

Menurut kami, sandaran yang dijadikan pegangan mereka untuk memperkuat pendapatnya ialah hadis yang mengisahkan peristiwa di Hudaibiyyah.
Karena sesungguhnya belum pernah dinukil oleh seorang pun di antara mereka bahwa Nabi ﷺ dalam tahallul-nya itu menyembelih kambing, melainkan yang disembelih oleh mereka sebagai kurban ialah ternak unta dan sapi.

Di dalam kitab Sahihain, dari Jabir, disebutkan:

Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk bersekutu dalam kurban unta dan sapi, tiap-tiap tujuh orang di antara kami satu ekor sapi.

Hal ini terbukti di dalam kitab Sahihain melalui Siti Aisyah Ummul Muminin r.a.
yang menceritakan:

Nabi ﷺ pernah sekali berkurban dengan menyembelih seekor domba.

Dan jangan kalian mencukur kepala kalian sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya.

Jumlah ini di-‘ataf-kan kepada firman-Nya:

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.

Bukan di-‘ataf-kan (dikaitkan) dengan firman-Nya:

Jika kalian terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat.

Seperti apa yang diduga oleh Ibnu Jarir rahimahullah.
Karena Nabi ﷺ bersama para sahabatnya pada tahun Hudaibiyah —yaitu ketika orang-orang kafir Quraisy melarang mereka memasuki Tanah Suci— beliau ﷺ bersama para sahabatnya bercukur dan menyembelih hewan kurban mereka di luar Tanah Suci.
Adapun dalam keadaan aman dan telah sampai di Tanah Suci, tidak boleh baginya mencukur rambutnya (yakni tidak boleh ber-tahallul) sebelum hewan kurban sampai di tempat penyembelihannya.
Orang yang berhaji telah selesai dari semua pekerjaan haji dan umrahnya jika ia sebagai orang yang ber-qiran, atau setelah ia mengerjakan salah satunya jika dia melakukan haji ifrad atau tamattu.
Seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Siti Hafsah r.a.
yang menceritakan:

“Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang ber-tahallul dari umrahnya, sedangkan engkau sendiri tidak ber-tahallul dari umrah-mu?”
Maka Nabi ﷺ menjawab, “Sesungguhnya aku telah meminyaki rambut kepalaku dan telah kukalungi hewan kurbanku, maka aku tidak akan ber-tahallul sebelum menyembelih hewan kurbanku.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jika di antara kalian ada yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abdur Rahman ibnul Asbahani, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Ma’qal bercerita, “Aku pernah duduk di dekat Ka’b ibnu Ujrah di dalam masjid ini (yakni Masjid Kufah).
Lalu aku bertanya kepadanya tentang fidyah yang berupa melakukan puasa.
Maka Ka’b ibnu Ujrah menjawab bahwa ia berangkat untuk bergabung dengan Nabi ﷺ, sedangkan ketombe bertebaran di wajahnya.
Maka Nabi ﷺ bersabda, ‘Sebelumnya aku tidak menduga bahwa kepayahan yang menimpamu sampai separah ini.
Tidakkah kamu mempunyai kambing?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Nabi ﷺ bersabda, ‘Puasalah tiga hari atau berilah makan enam orang miskin, masing-masing orang sebanyak setengah sa’ makanan, dan cukurlah rambutmu itu.’ (Selanjutnya ia berkata), Maka turunlah ayat ini, berkenaan denganku secara khusus, tetapi maknanya umum mencakup kalian semua’.”

Nusuk artinya menyembelih kambing, dan puasa adalah selama tiga hari, sedangkan memberi makan ialah dibagikan di antara enam orang (miskin).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, bahwa Malik ibnu Anas pernah menceritakan hadis kepa-danya, dari Abdul Karim ibnu Malik Al-Jazari, dari Mujahid, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Ka’b ibnu Ujrah yang menceritakan bahwa ia pernah bersama Rasulullah ﷺ, lalu terganggu oleh banyaknya ketombe di kepalanya.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar ia mencukur rambutnya dan bersabda: Berpuasalah tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin dua mud-dua mud perorangnya, atau sembelihlah seekor kambing.
Mana saja di antaranya yang kamu kerjakan, maka hal itu sudah cukup sebagai fidyahmu.

Menurut kami, pendapat mazhab Imam yang empat serta mayoritas ulama merupakan pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran.
Mereka mengatakan bahwa dalam hal ini orang yang bersangkutan diperbolehkan memilih salah satu di antara puasa, atau menyedekahkan satu farq makanan, yaitu tiga sa’ untuk setiap orang miskin —setengah sa’ yakni dua mud— atau menyembelih seekor kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin.
Mana saja yang ia pilih sudah cukup baginya, mengingat ungkapan Al-Qur’an dalam menjelaskan suatu keringanan, yang didahulukannya adalah yang paling mudah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban.
(Al Baqarah:196)

Akan tetapi, ketika Nabi ﷺ memerintahkan hal tersebut kepada Ka’b ibnu Ujrah, beliau memberinya petunjuk kepada yang paling utama lebih dahulu, kemudian baru yang utama.
Untuk itu beliau ﷺ bersabda: Sembelihlah seekor kambing, atau berilah makan enam orang miskin, atau berpuasalah tiga hari.
Maka masing-masing dinilai baik bila disesuaikan dengan kondisi orang yang bersangkutan.

Qatadah meriwayatkan dari Al-Hasan dan Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya: Maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban.
(Al Baqarah:196) Yang dimaksud dengan sedekah ialah memberi makan sepuluh orang miskin.

Kedua pendapat ini —yaitu yang bersumber dari Sa’id ibnu Jubair dan Alqamah serta Al-Hasan dan Ikrimah— merupakan dua pendapat yang aneh, keduanya masih perlu dipertimbangkan.
Karena telah disebutkan oleh sunnah melalui hadis Ka’b ibnu Ujrah bahwa puasa itu adalah tiga hari, bukan enam hari, dan memberi makan adalah kepada enam orang miskin, nusuk artinya menyembelih seekor kambing.
Hal tersebut atas dasar takhyir (boleh memilih salah satu di antaranya), seperti yang ditunjukkan oleh konteks ayat Al-Qur’an.
Adapun mengenai tartib (urutan), hal ini hanyalah dikenal dalam masalah membunuh binatang buruan, seperti yang disebutkan di dalam nas Al-Qur’an dan telah disepakati oleh semua ahli fiqih, lain halnya dengan masalah ini.

Hisyam mengatakan, telah menceritakan kepada kami Lais, dari Tawus, bahwa ia selalu mengatakan sehubungan dengan masalah dam atau memberi makan, hal itu dilaksanakan di Mekah.
Sedangkan yang menyangkut puasa boleh dilakukan di mana saja menurut apa yang disukai oleh orang yang bersangkutan.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ata, dan Al-Hasan.

Hasyim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Ya’qub ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Abu Asma maula Ibnu Ja’far yang menceritakan bahwa Usman ibnu Affan pernah berhaji ditemani oleh Ali dan Al-Husain ibnu Ali.
Usman berangkat lebih dulu.
Abu Asma’ melanjutkan kisahnya, bahwa ia bersama Ibnu Ja’far, “Tiba-tiba kami bersua dengan seorang lelaki yang sedang tidur, sedangkan unta kendaraannya berada di dekat kepalanya, lalu aku (Abu Asma) berkata, ‘Hai orang yang sedang tidur.’ Lelaki itu bangun, dan ternyata dia adalah Al-Husain ibnu Ali.
Lalu Ibnu Ja’far membawanya sampai datang ke tempat air.
Kemudian dikirimkan seorang utusan untuk menemui Ali yang saat itu sedang bersama Asma binti Umais.
Maka kami merawat Al-Husain ibnu Ali selama kurang lebih dua puluh malam.
Lalu Ali bertanya kepada Al-Husain, ‘Apakah sakit yang kamu rasakan?’ Al-Husain mengisyaratkan dengan tangannya ke kepalanya.
Maka Ali memerintahkan agar rambut Al-Husain dicukur, kemudian Ali meminta didatangkan seekor unta, lalu ia menyembelihnya.”

Jika unta kurban ini sebagai fidyah dari bercukur, berarti Ali menyembelihnya di luar kota Mekah.
Tetapi jika sebagai fidyah dari tahallul, maka masalahnya sudah jelas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apabila kalian telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat.

Dengan kata lain, apabila kalian mampu untuk menunaikan manasik, tanpa hambatan apa pun, sedangkan di antara kalian ada yang ingin melakukan tamattu’ dengan mengerjakan umrah dahulu sebelum ibadah haji tiba waktunya.

Pengertian tamattu’ di sini mencakup orang yang berihram untuk keduanya atau berihram untuk umrah lebih dahulu, setelah selesai dari umrah baru berihram lagi untuk haji.
Demikianlah pengertian tamattu’ secara khusus yang telah terkenal di kalangan para ahli fiqih.
Sedangkan pengertian tamattu secara umum mencakup keduanya, seperti yang ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih.
Karena sesungguhnya di antara perawi ada yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ ber-tamattu’, sedangkan yang lainnya mengatakan ber-qiran, tetapi di antara keduanya tidak ada perbedaan dalam masalah bahwa Nabi ﷺ membawa hewan hadyunya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat.

Dengan kata lain, hendaklah ia menyembelih kurban yang mudah didapat baginya, minimal seekor kambing.
Tetapi diperbolehkan baginya menyembelih seekor sapi, karena Rasulullah ﷺ sendiri menyembelih sapi untuk dam istri-istrinya.

Al-Auza’i meriwayatkan dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari sahabat Abu Hurairah r.a.:

Bahwa Rasulullah ﷺ menyembelih seekor sapi untuk (dam) istri-istrinya, karena mereka semuanya melakukan tamattu’.

Hadis riwayat Abu Bakar ibnu Murdawaih.

Di dalam hadis ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa tamattu’ itu disyariatkan, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, dari Imran ibnu Husain yang mengatakan, “Ayat tamattu’ telah diturunkan di dalam Kitabullah dan kami mengerjakannya bersama-sama Rasulullah ﷺ Kemudian tidak ada wahyu lagi yang turun mengharamkannya serta Nabi ﷺ tidak melarangnya pula hingga beliau wafat.”

Akan tetapi, ada seorang lelaki yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.
Imam Bukhari mengatakan bahwa lelaki itu adalah sahabat Umar.
Apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari ini telah disebutkan dengan jelas, bahwa Umar pernah melarang orang-orang melakukan tamattu’.
Ia mengatakan bahwa kita harus memegang Kitabullah, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita untuk melakukannya dengan sempurna.
Yang dimaksud adalah firman-Nya: Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.
(Al Baqarah:196) Tetapi pada kenyataannya Umar r.a.
tidak melarang orang yang berihram dengan tamattu’.
Sesungguhnya dia melarangnya hanya untuk tujuan agar orang-orang yang ziarah ke Baitullah bertambah banyak, ada yang melakukan haji dan ada yang berumrah, seperti yang telah dijelaskannya sendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah pulang kembali.
Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Barang siapa yang tidak dapat menemukan binatang kurban, hendaklah ia puasa tiga hari dalam hari-hari haji, yakni di hari-hari manasik.”

Menurut ulama, hal yang paling utama hendaknya puasa dilakukan sebelum hari Arafah, yaitu pada tanggal sepuluh.
Demikianlah menurut Ata.
Atau sejak dia melakukan ihram (untuk hajinya), menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya, karena berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam ibadah hajinya.
Di antara mereka ada yang memperbolehkan melakukan puasa sejak dari permulaan bulan Syawwal.
Demikianlah menurut Tawus, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Asy-Sya’bi memperbolehkan berpuasa pada hari Arafah dan dua hari sebelumnya.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, As-Saddi, Ata, Tawus, Al-Hakam, Al-Hasan, Hammad, Ibrahim, Abu Ja’far Al-Baqir, Ar-Rabi’, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Al-Aufi mengatakan dari Ibnu Abbas, “Apabila seseorang tidak dapat menemukan hadyu, hendaklah ia puasa tiga hari dalam hari-hari haji sebelum hari Arafah.
Untuk itu apabila jatuh hari yang ketiga dari Arafah, maka puasanya harus sudah selesai.
Ia juga harus puasa tujuh hari setelah pulang ke tanah airnya.”

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abu Ishaq, dari Wabrah, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa orang yang bersangkutan hendaknya memulai puasanya sehari sebelum hari Tarwih, kemudian hari Tarwih, dan yang terakhir pada hari Arafahnya.

Sekiranya orang yang bersangkutan tidak melakukan puasanya pada hari-hari haji atau tidak melakukan sebagiannya sebelum hari Raya Adha, bolehkah ia melakukan puasanya itu pada hari-hari Tasyriq?

Sehubungan dengan masalah ini ada dua pendapat di kalangan para ulama, kedua-duanya diketengahkan pula oleh Imam Syafii.
Menurut qaul qadim-nya, orang yang bersangkutan boleh melakukan puasanya pada hari-hari Tasyriq.
Karena berdasarkan kepada ucapan Siti Aisyah dan Ibnu Umar yang terdapat di dalam kitab Sahih Bukhari, yaitu bahwa Nabi ﷺ tidak memperbolehkan melakukan puasa di hari-hari Tasyriq kecuali bagi orang yang tidak menemukan hadyu (hewan kurban).

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Malik, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, juga dari Salim, dari Ibnu Umar.
Memang telah diriwayatkan dari keduanya (Siti Aisyah dan Ibnu Umar) melalui banyak jalur.

Sufyan meriwayatkannya dari Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Ali r.a.
yang mengatakan, “Barang siapa yang kelewat waktunya hingga tidak melakukan puasa tiga hari pada hari-hari haji, maka ia harus melakukannya pada hari-hari Tasyriq.”

Sesungguhnya mereka mengatakan demikian karena keumuman makna yang terkandung di dalam firman-Nya: maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji.

Sedangkan menurut qaul jadid, ia tidak boleh melakukan puasa pada hari-hari Tasyriq, karena berdasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui Qutaibah Al-Huzali r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah pulang kembali.

Pendapat kedua mengatakan, yang dimaksud dengan iza raja’tum ialah apabila kalian kembali ke tanah air kalian, yakni kalian telah berada di negeri tempat tinggal kalian sendiri.

Hal yang sama telah diriwayatkan pula dari Sa’id ibnu Jubair, Abul Aliyah, Mujahid, Ata, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.
Abu Ja’far ibnu Jarir meriwayatkan bahwa pendapat ini merupakan pendapat yang telah disepakati.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Salim ibnu Abdullah, bahwa Ibnu Umar pernah menceritakan: Rasulullah ﷺ melakukan tamattu’ dalam haji wada’-nya dengan melakukan umrah sebelum ibadah haji, lalu beliau menyembelih hewan kurbannya.
Untuk itu beliau membawa hewan hadyu (kurban) dari Zul Hulaifah, kemudian beliau berihram untuk ibadah umrahnya.
Sesudah ilu baru beliau berihram untuk ibadah hajinya.
Maka orang-orang pun ikut ber-tamattu’ bersama-sama Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ memulai pekerjaannya dengan ibadah umrah sebelum haji.
Sedangkan di kalangan orang-orang ada yang berkurban, ia membawa hewan kurbannya, dan di antara mereka ada yang tidak berkurban.
Ketika Nabi ﷺ tiba di Mekah, maka beliau bersabda kepada orang-orang, “Barang siapa di antara kalian mempunyai hewan kurban, maka tidak halal baginya melakukan sesuatu pun yang diharamkan atas dirinya sebelum menyelesaikan hajinya.
Barang siapa di antara kalian tidak membawa hadyunya (hewan kurban-nya), hendaklah ia melakukan tawaf di Baitullah, dan sa’i di antara Safa dan Marwah serta memotong rambut dan ber-tahallul.
Setelah itu hendaklah ia berihram lagi untuk ibadah hajinya.
Barang siapa yang tidak menemukan hewan kurban, hendaklah ia berpuasa selama tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila ia telah kembali kepada keluarganya.
Hingga akhir hadis.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.

Menurut suatu pendapat, kalimat ayat ini merupakan taukid (yang menguatkan makna kalimat sebelumnya).
Perihalnya sama dengan kata-kata orang Arab, “Aku melihat dengan kedua mataku sendiri, dan aku mendengar dengan kedua telingaku sendiri, aku tulis dengan tanganku ini.” Dan sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

dan tiada burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya.
(Al An’am:38)

dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu.
(Al-‘Ankabut: 48)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnakanlah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh (malam lagi).
(Al A’raf:142)

Menurut pendapat yang lain, makna ‘Kamilah’ yang terkandung di dalam ayat ini ialah perintah untuk menyelesaikannya dengan sempurna.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah cukup sebagai ganti menyembelih hewan kurban.
Hisyam meriwayatkan dari Abbad ibnu Rasyid, dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna firman-Nya: Itulah sepuluh hari yang sempurna.
(Al Baqarah:196) Yakni sudah cukup sebagai ganti menyembelih hewan kurban.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 196
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Qais bin Muslim dari Thoriq bin Syihab dari Abu Musa ra. berkata,
“Nabi ﷺ mengutusku kepada suatu kaum di negeri Yaman. Ketika aku sudah kembali aku menemui Beliau ketika Beliau berada di Batha. Beliau berkata,
kepadaku: Bagaimana cara kamu berihram (memulai haji)?. Aku menjawab:
Aku berihram sebagaimana Nabi ﷺ berihram. Beliau bertanya lagi: Apakah kamu ada membawa hewan qurban?. Aku menjawab:
Tidak. Maka Beliau memerintahkan aku agar aku melakukan thawaf di Baitullah dan sa’iy antara bukit Ash Shafa dan Al Marwah lalu memerintahkan aku pula agar aku bertahallul. Lalu aku temui seorang wanita dari keluargaku lalu dia menyisir rambutku atau membasuh kepalaku. Lalu Umar ra. datang dan berkata:
“Jika kita mengambil pedoman dari Kitab Allah, sesungguhnya Dia memerintahkan kita agar kita menyempurnakannya (haji dan umrah). Allah subhanahu wata’ala berfirman (QS. Al Baqarah: 196) yang artinya: Dan semprurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian karena Allah dan seandainya kita mengambil pedoman dari sunnah Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam, sesungguhnya Beliau tidak bertahallul kecuali setelah menyembelih hewan qurban”.

Shahih Bukhari, Kitab Haji – Nomor Hadits: 1457

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 196

Mengenai turunnya ayat ini (al-Baqarah: 196), terdapat beberapa peristiwa sebagai berikut:

1.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Shafwan bin Umayyah.
Bahwa seorang laki-laki berjubah yang semerbak dengan wewangian za’faran menghadap Nabi ﷺ dan berkata: “Ya Rasulallah.
Apa yang harus saya lakukan dalam menunaikan umrah?” Maka turunlah ayat…wa atimmul hajja wal’umrata lillaah..(…dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah..) (al-Baqarah: 196).
Rasulullah bersabda: “Mana tadi yang bertanya tentang umrah itu?” Orang itu menjawab:
“Saya, ya Rasulallah.” Selanjutnya Rasulullah bersabda: “Tanggalkan bajumu, bersihkan hidung, dan mandilah dengan sempurna, kemudian kerjakan apa yang biasa kamu kerjakan pada waktu haji.”

2.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ka’b bin ‘Ujrah.
Bahwa Ka’b bin ‘Ujrah ditanya tentang firman Allah..
fa fidyatum ming shiyaamin au shadaqatin au nusuk..(..maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: Shaum atau bersedekah atau berkurban..) (al-Baqarah: 196).
Ia bercerita sebagai berikut: “Ketika sedang melakukan umrah, saya merasa kepayahan, karena di rambut dan muka saya bertebaran kutu.
Ketika itu Rasulullah ﷺ melihat aku kepayahan karena penyakit pada rambutku itu.
Maka turunlah…fa fidyatum ming shiyaamin au shadaqatin au nusuk…(..maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu : shaum atau bersedekah atau berkurban..) (al-Baqarah: 196) khusus tentang aku, tetapi berlaku bagi semua.
Rasulullah bersabda: “Apakah kamu punya biri-biri untuk berfidyah?” Aku menjawab bahwa aku tidak memilikinya.
Rasulullah bersabda: “Bershaumlah kamu tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin, tiap orang setengah sha’ (1,5 liter) makanan, dan bercukurlah.”

3.
Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Ka’b.
Bahwa ketika Rasulullah ﷺ beserta para shahabat berada di Hudaibiyah sedang berihram, kaum musyrikin melarang mereka meneruskan umrah.
Salah seorang shahabat, yaitu Ka’b bin ‘Ujran, kepalanya penuh dengan kutu hingga bertebaran ke mukanya.
Ketika itu Rasulullah lewat di depannya, dan melihat Ka’b kepayahan.
Maka turunlah,….fa mang kaana mingkum mariidlan au bihii adzam mir ra’shihii fa fidyatum ming shiyaamin au shadaqatin au nusuk..(..jika ada di antaramu yang sakit atauada gangguan di kepalanya [lalu ia bercukur], maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: shaum atau bersedekah atau berkurban..) (al-Baqarah: 196), lalu Rasulullah bersabda: “Apakah kutu-kutu itu mengganggumu?” Rasulullah menyuruh agar ia bercukur dan membayar fidyah.

4.
Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari ‘Atha’ yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa ketika Rasulullah dan para shahabatnya berhenti di Hudaibiyah (dalam perjalanan umrah), datanglah Ka’b bin Ujrah yang di kepala dan mukanya bertebaran kutu karena terlalu banyaknya.
Ia berkata: “Ya Rasulallah.
Kutu-kutu ini sangat menyakitiku.” Maka turunlah ayat,…fa mang kaana mingkum mariidlan au bihii adzam mir ra’shihii fa fidyatum ming shiyaamin au shadaqatin au nusuk…(…jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya [lalu ia bercukur], maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: shaum atau bersedekah atau berkurban…) (al-Baqarah: 196).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 196 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 196



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.8
Rating Pembaca: 4.4 (14 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku