Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 195


وَ اَنۡفِقُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا تُلۡقُوۡا بِاَیۡدِیۡکُمۡ اِلَی التَّہۡلُکَۃِ ۚۖۛ وَ اَحۡسِنُوۡا ۚۛ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ
Wa-anfiquu fii sabiilillahi walaa tulquu biaidiikum ilattahlukati waahsinuu innallaha yuhibbul muhsiniin(a);

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
―QS. 2:195
Topik ▪ Pahala Iman
2:195, 2 195, 2-195, Al Baqarah 195, AlBaqarah 195, Al-Baqarah 195
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 195. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang mukmin diperintahkan membelanjakan harta kekayaannya untuk berjihad fisabilillah dan dilarang menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan karena kebakhilannya.
Jika suatu kaum menghadapi peperangan sedangkan mereka kikir, tidak mau membiayai peperangan itu, maka perbuatannya itu berarti membinasakan diri mereka saja.

Menghadapi jihad dengan tidak ada persiapan dan persediaan yang lengkap dan berjihad bersama-sama orang-orang yang lemah iman dan kemauannya, niscaya akan membawa kepada kebinasaan.
Dalam hal infak fisabilillah orang harus mempunyai niat yang baik, agar dengan demikian ia akan selalu memperoleh pertolongan Allah.

Al Baqarah (2) ayat 195 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 195 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 195 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebagaimana berjihad bisa dilakukan dengan pengorbanan jiwa, ia juga dapat disalurkan lewat pengorbanan harta.
Maka infakkanlah harta kalian untuk menyiapkan peperangan.
Ketahuilah, memerangi mereka itu merupakan perang di jalan Allah.
Janganlah kalian berpangku tangan dan dermakanlah harta kalian untuk peperangan itu.
Sebab, dengan berpangku tangan dan kikir mendermakan harta, berarti kalian rela dikuasai dan dihina musuh.
Itu sama artinya kalian menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.
Maka lakukanlah kewajiban kalian seserius dan sebaik mungkin.
Sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang melakukan suatu pekerjaan secara optimal.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan belanjakanlah di jalan Allah), artinya menaatinya, seperti dalam berjihad dan lain-lainnya (dan janganlah kamu jatuhkan tanganmu), maksudnya dirimu.
Sedangkan ba sebagai tambahan (ke dalam kebinasaan) atau kecelakaan disebabkan meninggalkan atau mengeluarkan sana untuk berjihad yang akan menyebabkan menjadi lebih kuatnya pihak musuh daripada kamu.
(Dan berbuat baiklah kamu), misalnya dengan mengeluarkan nafkah dan lain-lainnya (Sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berbuat baik), artinya akan memberi pahala mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Teruslah kalian wahai orang-orang yang beriman dalam menginfakkan harta demi membantu agama Allah, dan berjihad di jalan-Nya.
Dan jangan menjerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan dengan meninggalkan jihad di jalan Allah dan berinfak di jalan-Nya.
Berbuat baiklah dalam berinfak dan taat, jadikanlah amal kalian seluruhnya ikhlas karena wajah Allah.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang ikhlas dan berbuat baik.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami An-Nadr, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar Abu Wail mengatakan dari Huzaifah sehubungan dengan firman-Nya:

Dan belanjakanlah (harta kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan. Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah memberi nafkah.

Lais ibnu Sa'd meriwayatkan dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Aslam Abu Imran yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan Muhajirin ketika di Qustantiniyah (Konstantinopel) maju sendirian melabrak barisan musuh hingga dapat menerobosnya (lalu kembali lagi), sedangkan bersama kami ada Abu Ayyub Al-Ansari.
Maka orang-orang mengatakan, "Dia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan." Maka Abu Ayyub menjawab, "Kami lebih mengetahui tentang ayat ini, sesungguhnya ia diturunkan berkenaan dengan kami.
Kami selalu menemani Rasulullah ﷺ dan kami ikut bersamanya dalam semua peperangan, dan kami bantu beliau dengan segala kemampuan kami.
Setelah Islam menyebar dan menang, maka kami orang-orang Ansar berkumpul mengadakan reuni.
Lalu kami mengatakan, 'Allah telah memuliakan kita karena kita menjadi sahabat Nabi ﷺ dan menolongnya hingga Islam tersebar dan para pemeluknya menjadi golongan mayoritas.
Kita lebih mementingkan Nabi ﷺ daripada keluarga, harta benda, dan anak-anak kita.' Setelah perang tiada lagi, lalu kami kembali kepada keluarga dan anak-anak kami serta kami tinggal bersama mereka.
Lalu turunlah firman-Nya:

'Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan '
Maka kebinasaan itu terjadi bila kami bermukim mengurusi keluarga dan harta benda.
Sedangkan jihad kami tinggalkan."

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmuzi, Nasai, dan Abdu ibnu Humaid di dalam kitab tafsirnya, dan Ibnu Abu Hatim, Ibnu Jarir, Ibnu Murdawaih serta Al-Hafiz Abu Ya'la di dalam kitab musnadnya, Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya, dan Imam Hakim di dalam kitab mustadraknya.
Semuanya meriwayatkan hadis ini melalui Yazid ibnu Abu Habib dengan lafaz seperti yang disebutkan di atas.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, sahih, garib.
Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain, sedangkan keduanya tidak mengetengahkannya.

Menurut lafaz yang ada pada Imam Abu Daud, dari Aslam Abu Imran, ketika kami berada di Konstantinopel, pemimpin pasukan kaum muslim dari Mesir dipegang oleh Uqbah ibnu Amir, dan dari negeri Syam dipegang oleh seorang lelaki kepercayaan Yazid ibnu Fudalah ibnu Ubaid.

Maka keluarlah dari kota Konstantinopel sepasukan yang berjumlah sangat besar dari pasukan Romawi, kami pun menyusun barisan pertahanan untuk menghadapi mereka.
Kemudian ada seorang lelaki dari pasukan kaum muslim maju menerjang barisan pasukan Romawi, hingga sempat memorak-porandakannya, dan masuk ke tengah barisan musuh, setelah itu ia kembali lagi ke barisan kami.
Melihat peristiwa tersebut pasukan kaum muslim berteriak seraya mengucapkan, "Subhanallah, dia menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan!" Maka Abu Ayyub menjawab: Hai manusia, sesungguhnya kalian benar-benar menakwilkan ayat ini bukan dengan takwil yang semestinya.
Sesungguhnya ayat ini hanya diturunkan berkenaan dengan kami, orang-orang Ansar.
Sesungguhnya kami setelah Allah memenangkan agama-Nya dan banyak yang mendukungnya, maka kami berkata di antara sesama kami, "Sekiranya kita kembali kepada harta benda kita untuk memperbaikinya," maka turunlah ayat ini (Al Baqarah:195).

Abu Bakar ibnu Iyasy meriwayatkan dari Abu Ishaq As-Subai'i yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Al-Barra ibnu Azib, "Jika aku maju sendirian menerjang musuh, lalu mereka membunuhku, apakah berarti aku menjerumuskan diriku ke dalam kebinasaan?"
Al-Barra menjawab, "Tidak, Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman kepada Rasul-Nya:

'Maka berperanglah kalian pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri' (An Nisaa:84).

Sesungguhnya ayat ini (yakni Al-Baqarah ayat 195) hanyalah berkenaan dengan masalah nafkah."

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya pula, dan Imam Hakim telah mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak melalui hadis Israil, dari Abu Ishaq, dan Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.
Imam Turmuzi meriwayatkannya, begitu pula Qais ibnur Rabi', dari Abu Ishaq, dari Al-Barra.
Kemudian Al-Barra menuturkan hadis ini,dan sesudah firman-Nya: Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri.
(An Nisaa:84) Ia mengatakan, "Kebinasaan yang sesungguhnya ialah bila seorang lelaki melakukan suatu dosa, sedangkan ia tidak bertobat darinya.
Maka dialah orang yang menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh (juru tulis Al-Lais), telah menceritakan kepadaku Al-Lais, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Khalid ibnu Musaflr, dari Ibnu Syihab, dari Abu Bakar ibnu Numair ibnu Abdur Rahman ibnul Haris ibnu Hisyam, bahwa Abdur Rahman Al-Aswad ibnu Abdu Yagus telah menceritakan kepadanya bahwa mereka mengepung kota Dimasyq (Damaskus).
Maka berangkatlah seorang lelaki dari Azdsyanuah, ia maju dengan cepat menerjang musuh sendirian.
Kaum muslim mencela perbuatannya itu, lalu perkaranya dilaporkan kepada Amr ibnul As (panglima pasukan kaum muslim).
Kemudian Amr mengirimkan pesuruh untuk menyuruhnya kembali (ke barisan kaum muslim).
Ketika lelaki itu datang ke hadapannya, maka Amr membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.

Ata ibnus Saib meriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini bukan berkenaan dengan masalah perang, melainkan berkenaan dengan masalah membelanjakan harta, yaitu bila kamu genggamkan tanganmu, tidak mau membelanjakan harta di jalan Allah, maka dikatakan, "Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan."

Hammad ibnu Salamah meriwayatkan dari Daud, dari Asy-Sya'bi, dari Ad-Dahhak ibnu Abu Jubair yang menceritakan bahwa orang-orang Ansar biasa menyedekahkan dan menginfakkan sebagian dari harta mereka.
Pada suatu ketika paceklik menimpa mereka, karena itu mereka tidak lagi membelanjakan hartanya di jalan Allah.
Lalu turunlah ayat ini:

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan. Yang dimaksud ialah sifat kikir.

Sammak ibnu Harb meriwayatkan dari An-Nu'man ibnu Basyir sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.

Maksudnya ialah ada seorang lelaki melakukan suatu dosa, lalu ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan diampuni.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya:

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Murdawaih.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaidah As-Salmani, Al-Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin, dan Abu Qilabah hal yang semisal, yakni yang semisal dengan apa yang telah diceritakan oleh An-Nu'man ibnu Basyir.
Yaitu bahwa ayat ini berkenaan dengan seorang lelaki yang melakukan suatu dosa, lalu ia berkeyakinan bahwa dirinya tidak akan diampuni.
Karena itulah dia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan.
Dengan kata lain, karena dia merasa tidak akan diampuni, maka ia memperbanyak berbuat dosa, dan akhirnya dia binasa.
Karena itulah Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang pernah mengatakan bahwa kebinasaan adalah azab Allah.

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Sakr, dari Al-Qurazi (yaitu Muhammad ibnu Ka'b), bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan takwil ayat ini:

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.
Ada suatu kaum yang sedang berjuang di jalan Allah, dan seseorang dari mereka membawa bekal yang paling banyak di antara teman-temannya.
Lalu ia menginfakkan perbekalannya itu kepada orang yang kekurangan, hingga tiada sesuatu pun yang tersisa dari bekalnya untuk menyantuni teman-temannya yang memerlukan pertolongan.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya:

Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Ayyasy, dari Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan firman-Nya:

Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.

Demikian kisahnya, bermula dengan sejumlah kaum laki-laki yang berangkat mengemban misi yang ditugaskan oleh Rasulullah ﷺ ke pundak mereka tanpa bekal.
Ketiadaan bekal mereka adakalanya karena mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai mata pencaharian, atau adakalanya karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai banyak tanggungan.
Maka Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta perbelanjaan dari apa yang telah direzekikan Allah kepada mereka (kaum muslim), dan janganlah mereka menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan.

Pengertian binasa ialah bila mereka yang bertugas mengemban misi ini binasa karena lapar dan dahaga atau karena jalan kaki.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman kepada orang-orang yang mempunyai harta berlebih:

Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Kesimpulan dari makna ayat ini ialah perintah membelanjakan harta di jalan Allah dan semua jalan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan taat kepada-Nya, khususnya membelanjakan harta untuk memerangi musuh, kemudian mengalokasikannya buat sarana dan bekal yang memperkuat kaum muslim dalam menghadapi musuh-musuh mereka.
Melalui ayat ini Allah memberitakan kepada mereka bahwa jika hal ini ditinggalkan, maka akan berakibat kepada kehancuran dan kebinasaan bagi orang yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk tujuan tersebut.
Kemudian di-'ataf-kan kepada perintah berbuat baik, yang mana hal ini merupakan amal ketaatan yang paling tinggi.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 195

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Abu Ayyub al-Anshari.
Menurut at-Tirmidzi, hadits ini shahih.
Bahwa ketika Islam telah jaya dan berlimpah pengikutnya, kaum Anshar berbisik kepada sesamanya: “Harta kita telah habis, dan Allah telah menjayakan Islam.
Bagaimana sekiranya kita membangun dan memperbaiki ekonomi kembali?” maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 195) sebagai teguran kepada mereka agar jangan menjerumuskan diri ke dalam tahlukah.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Abu Jubairah bin adl-Dlahhak.
Bahwa kaum Anshar terkenal gemar bersedekah dengan mengeluarkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya.
Di saat paceklik (musim kelaparan), mereka tidak lagi memberi sedekah.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 195).

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih dan kuat, yang bersumber dari an-Nu’man bin Basyir.
Hadits ini diperkuat oleh al-Hakim yang bersumber dari al-Barra’.
Bahwa tersebutlah seseorang yang menganggap bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa yang pernah dilakukannya.
Maka turunlah ayat,…wa laa tulquu bi aidiikum ilat tahlukah…(..dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan…) (al-Baqarah: 195).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 195

TAHLUKAH
تَّهْلُكَة

Ism mashdar dari kata ini bermaksud setiap sesuatu yang akibatnya kemusnahan.

Disebut sekali (di dalam Al Qur'an) yaitu dalam surah Al­ Baqarah, (2) ayat 195. Ayat ini dikaitkan dengan al ilqa' yaitu menghulurkan dan al yad yaitu tangan.

Al Yazidi berkata,
tahlukah bermakna al halak artinya kemusnahan dan kebinasaan.

Abu Ayyub Al Anhsari berkata,
menjerumuskan tangan ke dalam kebinasa­an adalah meninggalkan jihad di jalan Allah.

(Menurutu riwayat) dari Hudzaifah, ayat ini bermakna meninggalkan untuk membelanjakan harta di jalan Allah.

(Menurutu riwayat) dari Sa'id bin Jubair dari Ibn Abbas katanya, at tahlukah bukanlah seorang lelaki dibunuh di jalan Allah tetapi menahan untuk membelanjakan harta di jalan Allah.

Ikrimah berkata,
ayat ini diturunkan berkenaan dengan membelanjakan harta di jalan Allah.

Mujahid berkata,
ayat ini ber­kenaan dengan halangan menginfakkan ke jalan yang hak karena kuatir menjadi fakir.

Al Barra' bin Azib berkata,
ayat ini bermakna seorang lelaki yang melakukan dosa lalu berkata,
Allah tidak akan mengampunkanku dan tiada taubat bagiku.

Abu Ishaq meriwayatkan, katanya, beliau mendengar Al Barra' ditanya oleh seorang lelaki, "Wahai Abu Ammarah, apa pendapatmu mengenai ayat

وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِۛ

adakah dia seorang lelaki yang maju ke hadapan untuk berperang dan terbunuh?" Beliau menjawab, "Tidak, tetapi dia seorang lelaki yang melakukan maksiat kemudian melemparkan tangannya kepada­nya dan berkata,
taubat aku tidak akan diterima."

Ubaidah berkata,
at tahlukah ber­makna al qanut yaitu putus asa. Ia bermaksud jangan berputus asa.

ASy Sya'rawi berkata,
maksud infak ialah mengeluarkan harta yang dapat dimanfaat­kan di jalan Allah untuk membuat senjata, baju perang dan sebagainya. Oleh karena itu, tangan yang terikat dari membelanjakan harta di jalan Allah adalah perkara yang melempar­kan pemiliknya ke dalam kebinasaan.

Beliau berpendapat, terdapat dua makna dalam ayat ini yaitu kamu membelanjakan harta di jalan Allah dan jangan melempar­kan tanganmu dalam kebinasaan dengan meninggalkan perang. Makna kedua ialah jangan engkau melemparkan tanganmu ke dalam kebinasaan dengan maju ke hadapan untuk berperang tanpa ada persediaan yang lengkap.

Kesimpulannya, tahlukah bermaksud ke­binasaan dengan tidak membelanjakan harta di jalan Allah dan meninggalkan medan perang.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:107-108

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (195) - Indonesian - Dwi Sasono
QS 2 Al-Baqarah (195) - Arabic - Dwi Sasono


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 195 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 195



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.7
Rating Pembaca: 4.3 (13 votes)
Sending







✔ ayat 195 suratul baqarah by omar sulayman, download albaqoroh ayat 195, maksud ayat al baqarah 195, tafsir al baqarah 195, tafsir albaqarah 195