Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 193


وَ قٰتِلُوۡہُمۡ حَتّٰی لَا تَکُوۡنَ فِتۡنَۃٌ وَّ یَکُوۡنَ الدِّیۡنُ لِلّٰہِ ؕ فَاِنِ انۡتَہَوۡا فَلَا عُدۡوَانَ اِلَّا عَلَی الظّٰلِمِیۡنَ
Waqaatiluuhum hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu lillahi fa-iniintahau falaa ‘udwaana ilaa ‘alazh-zhaalimiin(a);

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.
Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.
―QS. 2:193
Topik ▪ Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat
2:193, 2 193, 2-193, Al Baqarah 193, AlBaqarah 193, Al-Baqarah 193
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 193. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang mukmin diperintah supaya tetap memerangi kaum musyrikin yang memerangi mereka sehingga meraka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menganiaya kaum muslimin dan merintangi mereka dalam melaksanakan perintah agamanya, sehingga agama Islam dapat dijalankan sepenuhnya oleh setiap muslim dengan tulus ikhlas, bebas dari ketakutan, gangguan dan tekanan perasaan.

Jika kaum musyrikin telah menghentikan segala tindakan-tindakan jahat dan mereka telah masuk agama Islam, maka kaum muslimin tidak diperbolehkan mengadakan pembalasan atau tindakan yang melampaui batas, kecuali terhadap mereka yang zalim, yaitu orang-orang yang memulai lagi atau kembali kepada kekafiran dan memfitnah orang-orang Islam.

Al Baqarah (2) ayat 193 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 193 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 193 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Perangilah mereka yang berupaya membunuh dan menghalangi kalian dari agama dengan menyiksa dan menindas.
Perangi mereka agar fitnah mereka itu hilang hingga akar-akarnya dan agar agama itu hanya untuk Allah semata.
Tetapi, jika mereka berhenti dari kekafiran, berarti mereka telah menyelamatkan diri dari siksaan.
Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak boleh dimusuhi.
Karena yang berhak dimusuhi adalah mereka yang melakukan kezaliman, kemaksiatan dan tidak menegakkan keadilan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan perangilah mereka itu hingga tidak ada lagi) atau tidak dijumpai lagi (fitnah) yakni kesyirikan (dan (sehingga) agama itu) pengabdian atau perhambaan diri itu (hanya untuk Allah) semata dan tak ada yang disembah selain Dia.
(Maka jika mereka berhenti) dari kesyirikan, janganlah kamu melakukan pelanggaran terhadap mereka, makna ini dapat disimpulkan dari (maka tak ada permusuhan lagi) seperti membunuh atau lainnya, (kecuali terhadap orang-orang yang aniaya).
Orang yang telah menghentikan kekeliruannya, maka tidak termasuk orang yang aniaya, sehingga tidak perlu mendapat tindakan permusuhan lagi.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Teruslah wahai orang-orang mukmin untuk memerangi orang-orang musyrikin yang melampaui batas sehingga tiada lagi fitnah bagi kaum muslimin dari agama mereka dan tiada lagi kesyirikan kepada Allah, dan seluruh agama menjadi milik Allah semata secara murni, tiada apa pun yang disembah bersama-Nya.
Bila mereka menghentikan kekufuran mereka dan peperangan mereka terhadapmu maka tahanlah dirimu.
Hukuman hanya tetap berlaku atas orang-orang yang tetap bersikukuh di atas kekufuran dan pelanggaran mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka.

Yakni hanya agama Allah-lah menang lagi tinggi berada di atas agama lainnya, seperti pengertian yang terkandung di dalam hadis Sahihain:

melalui Abu Musa Al-Asy’ari yang menceritakan: Nabi ﷺ pernah ditanya mengenai seorang lelaki yang berperang karena keberaniannya, seorang lelaki yang berperang karena fanatiknya, dan seorang lelaki yang berperang karena riya (pamer), manakah di antaranya yang termasuk ke dalam perang di jalan Allah?
Nabi ﷺ menjawab, “Barang siapa yang berperang demi meninggikan kalimah Allah, maka dia adalah orang yang berperang di jalan Allah.”

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula hadis berikut:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah, apabila mereka mau mengucapkannya, berarti mereka memelihara darah dan harta bendanya dariku, kecuali karena alasan yang hak, sedangkan perhitungan mereka (yang ada di dalam hati mereka) diserahkan kepada Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jika mereka berhenti (dari memusuhi kalian), maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Yakni jika mereka tidak melakukan lagi kebiasaan syiriknya dan tidak lagi memerangi orang-orang mukmin, maka cegahlah diri kalian dari mereka, karena sesungguhnya orang-orang yang memerangi mereka sesudah itu adalah orang yang zalim, dan tidak ada lagi permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zalim.
Demikianlah menurut takwil yang dikemukakan oleh Mujahid, yakni tidak ada perang lagi kecuali terhadap orang yang memulainya.
Atau makna yang dimaksud ialah, apabila mereka berhenti memusuhi kalian, berarti kalian telah bebas dari gangguan perbuatan aniaya mereka, yaitu kemusyrikan mereka, maka tidak ada permusuhan lagi terhadap mereka sesudah itu.
Yang dimaksud dengan istilah ‘udwan dalam ayat ini ialah membalas dan memerangi, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Oleh karena itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian.
(Al Baqarah:194)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.
(Asy Syuura:40)

Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian.
(An Nahl:126)

Karena itulah maka Ikrimah dan Qatadah mengatakan bahwa orang yang zalim ialah orang yang menolak, tidak mau mengucapkan kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi.
(Al Baqarah:193), hingga akhir ayat.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa ia pernah kedatangan dua orang lelaki pada zaman fitnah Ibnuz Zubair (kemelut yang terjadi di masa Abdullah ibnuz Zubair), lalu kedua lelaki itu berkata, “Sesungguhnya orang-orang telah melibatkan dirinya dalam kemelut ini, sedangkan engkau —hai Ibnu Umar— sebagai sahabat Nabi ﷺ mengapa tidak ikut berangkat berperang?”
Ibnu Umar menjawab, “Diriku tercegah oleh hukum Allah yang melarang darah saudaraku.” Keduanya mengatakan lagi, “Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: ‘Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi’ (Al Baqarah:193)?”
Ibnu Umar menjawab, “Kami telah berperang sehingga tiada ada fitnah lagi, dan agama hanyalah untuk Allah.
Sedangkan kalian menghendaki agar perang kalian lakukan sehingga fitnah timbul lagi dan agar agama untuk selain Allah.”

Usman ibnu Saleh meriwayatkan dari Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Fulan dan Haiwah ibnu Syuraih, dari Bakr ibnu Umar Al-Magafiri, bahwa Bukair ibnu Abdullah pernah menceritakan kepadanya dari Nafi’, bahwa ada seorang lelaki datang kepada sahabat Ibnu Umar dan mengatakan, “Hai Abu Abdur Rahman, apakah yang mendorongmu melakukan ibadah haji satu tahun dan bermukim satu tahun, sedangkan engkau meninggalkan jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, padahal engkau mengetahui anjuran Allah mengenai berjihad itu?”
Ibnu Umar menjawab, “Hai anak saudaraku, Islam dibangun di atas lima pilar, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya, salat lima waktu, puasa Ramadan, menunaikan zakat, dan haji ke Baitullah.” Mereka mengatakan, “Bukankah engkau telah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firman-Nya, hai Abu Abdur Rahman, (yaitu): ‘Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.
Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah’ (Al Hujuraat:9).
Juga firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan: ‘Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi’ (Al Baqarah:193).” Ibnu Umar berkata, “Kami telah melakukannya di zaman Rasulullah ﷺ yang pada saat itu Islam masih minoritas, dan seorang lelaki muslim diuji dalam agamanya, adakalanya dibunuh oleh mereka atau disiksa.
Ketika Islam menjadi mayoritas, maka tidak ada fitnah lagi.” Lelaki itu berkata, “Bagaimanakah menurutmu tentang Ali dan Us’man?”
Ibnu Umar menjawab, “Adapun mengenai Usman, maka Allah telah memaafkannya, dan kalian ternyata tidak suka memaafkannya.
Sedangkan Ali, dia adalah anak paman Rasulullah ﷺ dan juga sebagai menantunya,” lalu Ibnu Umar mengisyaratkan dengan tangannya dan berkata, “Itulah rumah Ali seperti yang kalian lihat sendiri (yakni tinggal di rumah Rasulullah ﷺ).”

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 193
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Syahin Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Khalid dari Bayan dari Wabarah bin Abdurrahman dari Sa’id bin Jubair mengatakan, Abdullah bin Umar menemui kami, kami sangat berharap agar ia menceritakan kepada kami sebuah pembicaraan yang baik. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendahului kami menemuinya dan berujar, “Ya Abu Abdur Rahman, ceritakanlah kepada kami sebuah cerita tentang peperangan dalam fitnah yang telah Allah firmankan: Dan perangilah mereka hingga tak ada lagi fitnah di muka bumi (QS. Al Baqarah :193). Maka Abdullah bin Umar bertanya,
“Apakah kamu tahu apa fitnah itu, duhai malangnya ibumu kehilangan dirimu? Dahulu Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam memerangi orang-orang musyrik dan siapa saja yang memasuki agama mereka (pindah agama) itulah yang dimaksud fitnah, dan fitnah maksudnya bukanlah peperangan kalian terhadap para raja (penguasa).”

Shahih Bukhari, Kitab Fitnah – Nomor Hadits: 6566

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 193

DIIN
لدِّين

Lafaz diin adalah ism mufrad dan jamaknya adalah adyan.

Ibnu Faris berkata,
“Ia adalah jenis dan bentuk dari ketaatan dan kehinaan, dipinjam untuk menunjuk­kan makna syari’at. Oleh karena itu, Al Kafawi memberikannya makna al qadaa’ (hukum dan syariat), balasan dan keadaan.”

Ad diin juga mengandung makna agama, nama semua perantara untuk me­nyembah Allah, mazhab, perjalanan, adat, situasi, paksaan, mengalahkan, Islam, ber­iktikad dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh dan sebagainya.

Lafaz diin disebut 62 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Faatihah (1), ayat 4;
-Al Baqarah (2), ayat 132, 193, 256;
-Ali Imran (3), ayat 19, 83;
-An Nisaa (4), ayat 46;
-Al A’raaf (7), ayat 29;
-Al Anfaal (8), ayat 39, 72;
-At Taubah (9), ayat 11, 29, 33 (dua kali), 36, 122;
-Yunus (10), ayat 22, 105;
-Yusuf (12), ayat 40, 76;
-Al Hijr (15), ayat 35;
-Al Nahl (16), ayat 52;
-Al Hajj (22), ayat 78;
-An Nuur (24), ayat 2;
-Asy Syu’araa (26), ayat 82;
-Al Ankabut (29), ayat 65;
-Ar Rum (30), ayat 30 (dua kali), 43;
-Luqman (31), ayat 32;
-Al­ Ahzab (33), ayat 5;
-Ash Shaffaat (37), ayat 20;
-Shad (38), ayat 78;
-Az Zumar (39), ayat 2, 3, 11;
-Al Mu’min (40), ayat 14;
-Asy Syuura (42), ayat 13 (dua kali), 21;
-Al Fath (48), ayat 28 (dua kali);
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 6, 12;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 56;
-Al Mumtahanah (60), ayat 8, 9;
-Ash Shaff (61), ayat 9 (dua kali);
-Al Ma’aarij (70), ayat 26;
-Al Muddatstsir (74), ayat 46;
-Al Infihtaar (82), ayat 9, 15, 17, 18;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 11;
-At Tiin (95), ayat 7;
-Al Bayyinah (98), ayat 5 (dua kali);
-Al Ma’un (107), ayat 1;
-An Nashr (110), ayat 2.

Lafaz diin secara bersendirian disebut se­banyak lima kali yaitu dalam surah:
-Al Kaafiruun (109), ayat 6;
-Ali Imran (3), ayat 85;
-An Nisaa (4), ayat 125;
-Al Maa’idah (5), ayat 3;
-Al An’aam (6), ayat 161.

Lafaz diinukum disebut sebanyak 11 kali yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 217;
-Ali Imran (3), ayat 73;
-An Nisaa (4), ayat 171;
-Al Maa’idah (5), ayat 3 (dua kali), 57, 77;
-At Taubah (9), ayat 12;
-Al Mu’min (40), ayat 26;
-Al Hujurat (49), ayat 16;
-Al Kaafiruun (109), ayat 6.

Lafaz diinihi disebut dua kali, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 217;
-Al­ Maa’idah (5), ayat 54.

Lafaz diinihim disebut sepuluh kali yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 24;
-An­ Nisaa (4), ayat 146;
-Al An’aam (6), ayat 70, 137, 159;
-Al A’raaf (7), ayat 51;
-Al Anfaal (8), ayat 49;
-An Nuur (24), ayat 25, 55, 32

Lafaz diini disebut satu kali yaitu dalam surah Yunus (10), ayat 104.

Lafaz ad diin di dalam Al Qur’an me­ngandung beberapa makna:

1. Ad diin bermakna hari penghisaban dan pembalasan (Al jaza’) seperti yang terdapat dalam surah:
-Al Fatihah (1), ayat 4;
-Al Hijr (15), ayat 35;
-Asy Syu’araa (26), ayat 82;
-Ash Shaffaat (37), ayat 20;
-Shad (38), ayat 78;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 6, 12;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 56;
-Al Ma’aarij (70), ayat 26;
-Al Muddatstsir (74), ayat 46;
-Al Infithaar (82), ayat 9, 15, 17, 18;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 11.

Ibnu Qutaibah berkata,
Yaumad diin adalah yaumal­ qiyaamah (hari kiamat). Ia dinamakan demikian karena hari itu adalah hari pembalasan dan penghisaban seperti ungkapan perumpamaan “kamaa tadiinu tudaanu” maksudnya sebagaimana engkau berbuat engkau akan dibalas dengannya”.

Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Juraij, Qatadah dan diriwayatkan dari Nabi, ad diin bermakna pembalasan terhadap amalan-amalan dan penghisabannya.
Allah berfirman,

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ

Maksudnya, diinahum dalam ayat ini adalah hisaabahum (penghisaban mereka).

2. Ad din bermakna hukum dan syar’iat seperti yang terdapat dalam surah An Nuur (24), ayat 2. Lafaz ini dihubungkan dengan lafaz Allah atau diinullah.

Al Fairuz ber­kata, “Ia bermaksud hukum dan syari’at Allah.”

Mujahid berkata,
“Ia bermaksud melaksanakan hudud.”

Ibnu Katsir berkata,
“Ia bermaksud hukum dan syari’at Allah.”

3. Ad diin dalam surah Yusuf me­ngandung beberapa makna karena ia dihubungkan dengan lafaz al­ malik atau diin al malik yaitu:

– Ibnu Abbas dan Ad Dahhak memberi­kannya maksud “Sultan Al Malik” (ke­kuasaan raja).

– Qatadah, Muhammad bin Ka’ab Al­ Qurazi, Mannar, As Suddi memberikan­nya maksud keputusan dan hukum raja.

– At Tabari berkata,
“Keseluruhan makna diatas saling berdekatan karena barang siapa yang mengambil sebahagian dari kekuasaan raja, maka ia me­laksanakan apa yang diperintah dan ia ridha terhadap pelaksanaannya itu selagi tidak melaksanakan diluar dari apa yang diperintahkan. Hal itu menjadi hukum keatasnya dan hukum atasnya adalah pelaksanaan dan keputusannya.

– Al Fairuz berkata,
Diin al malik ber­makna politik dan kebijaksanaan raja.”

Ad diin bermakna agama-agama selain agama Islam seperti yang di­ sebutkan dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 193;
-Al Anfaal (8), ayat 39;
-At Taubah (9), ayat 33;
-Al­ Fath (48), ayat 28;
-Ash Shaff (61), ayat 9.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat wa yakunad diinu lillaah atau wa yakunad diinu kullahuu lillaah bermakna, “Sehingga agama Allah menang dan tinggi dari semua agama.”

Ibnu Abbas berkata,
“Sehingga semuanya mentauhidkan Allah dengan ikhlas.”

Al Hasan, Qatadah dan Ibn Juraij ber­kata: “Sehingga semuanya mengata­kan Laa Ilaha Illalllah”.

Muhammad bin Ishaq berkata,
“Sehingga men­tauhidkan Allah dengan ikhlas, tiada di dalamnya kesyirikan dan men­cabut segala macam tuhan-tuhan.” Seperti dalam hadits shahih dari Rasulullah dimana beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menghimpun­kan bagiku bumi dari timur dan barat dan raja dari umatku akan menyampaikan (menghimpun­kan) apa yang diberikan kepadaku dari Nya.

4. Ad diin bermakna ketauhidan, syahadah, mazhab, jalan yang lurus dan semuanya terhimpun dalam agama Islam. Sebagaimana yang ter­dapat dalam kebanyakan makna bagi lafaz ad din dan ia diungkapkan dengan lafaz:

a) Ad dinul qayyim, terdapat dalam surah Al Rum (30), ayat 30.

Dalam Tafsir Al Jalalain, ia bermakna agama yang lurus yaitu mentauhidkan Allah.

Asy Syawkani berpendapat, ia ber­makna agama yang menyuruh men­dirikan segala perintah karena Allah atau berpegang dengan fitrah.

b) Diinul haq, terdapat dalam surah At­ Taubah (9), ayat 33, Al Fath (48), ayat 28 dan sebagainya.

Dalam Tafsir Al­ Maraghi ia bermaksud cahaya Allah yaitu agama Islam.

c) Diinul qayyimah, terdapat dalam surah Al Bayyinah (98), ayat 4.

Dalam Tafsir Al Azhar bermaksud menyembah Allah, ikhlas beribadah, cenderung berbuat baik, shalat dan zakat. Itulah inti agama yang di­bawa oleh para nabi.

Al Fairuz ber­kata, “Ia bermakna agama yang lurus yaitu agama Islam.

d) Ad diinul khaalish, terdapat dalam surah Az Zumar (39), ayat 3.

Qatadah berkata,
“Ia bermaksud syahadah yaitu tidak diterima sesuatu amalan sehingga yang beramal itu ikhlas dalam amalannya bagi Allah dan tidak menyekutukan Nya.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:226-229

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 193 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 193



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (11 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku