Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 190


وَ قَاتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ وَ لَا تَعۡتَدُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُعۡتَدِیۡنَ
Waqaatiluu fii sabiilillahil-ladziina yuqaatiluunakum walaa ta’taduu innallaha laa yuhibbul mu’tadiin(a);

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
―QS. 2:190
Topik ▪ Keluasan ilmu Allah
2:190, 2 190, 2-190, Al Baqarah 190, AlBaqarah 190, Al-Baqarah 190
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 190. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini adalah ayat madaniyah yang pertama kali mengizinkan kaum muslimin membalas serangan orang-orang musyrikin, apabila kaum muslimin mendapat serangan yang mendadak, meskipun serangan itu terjadi pada bulan-bulan haram, yaitu pada bulan Rajab, Zulkaidah, Zulhijjah dan Muharam, seperti dijelaskan pada ayat yang lalu.

Di zaman jahiliah, bulan-bulan tersebut dianggap bulan larangan berperang.
Larangan itu oleh Islam diakui, akan tetapi, karena orang-orang musyrikin melanggarnya terlebih dahulu, maka Allah subhanahu wa ta'ala mengizinkan kaum muslimin membalas serangan mereka.
Sebelum hijrah, tidak ada ayat yang membolehkan kaum muslimin melakukan serangan pembalasan.
Di kalangan mufassirin pun tidak ada perselisihan pendapat, bahwa peperangan itu dilarang dalam agama Islam di masa itu.
Hal itu dapat pula dipahami dari ayat-ayat berikut:
1.

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
(Al Mu'minum) 2.

إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ
(Al Maidah) 3.

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ
(Az Zukhruf) 4.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا (10)
(Al Muzammil) 5.

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ (22)
(Al Ghasiah)

Artinya:
1.
Tolaklah perbuatan jahat mereka itu dengan yang lebih baik.
2.
Maka maafkanlah mereka, dan biarkanlah mereka.
3.
Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan, "Katakanlah "selamat berpisah.""
4.
Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
5.
Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.

Ayat ini sampai dengan ayat 194, diturunkan pada waktu diadakan perdamaian Hudaibiyah, yaitu perjanjian damai antara kaum musyrikin Mekah dan umat Islam dari Madinah.
Perjanjian itu diadakan di salah satu tempat di jalan antara Jeddah dan Mekah.
Dahulunya yang dinamakan Hudaibiyah ialah sumur/mata air yang terdapat di tempat itu.
Peristiwa itu terjadi pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyah.
Rasulullah ﷺ dengan para sahabatnya meninggalkan Madinah menuju Mekah untuk mengerjakan umrah.
Setelah rombongan itu sampai di Hudaibiyah, mereka dihalangi oleh orang-orang musyrik, dan tidak boleh masuk ke Mekah, sehingga rombungan Rasulullah ﷺ terpaksa berada di Hudaibiyah sampai satu bulan lamanya.
Akhirnya diadakan perjanjian damai yang isinya antara lain sebagai berikut:

a.
Rombongan Rasulullah ﷺ supaya pulang kembali ke Madinah pada tahun itu.

b.
Pada tahun berikutnya, yaitu tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya diperkenankan memasuki kota Mekah untuk mengerjakan umrah.

c.
Di antara kaum musyrikin dan muslimin tidak akan ada peperangan selama sepuluh tahun.

Maka pada tahun berikutnya Rasulullah ﷺ bernagkat lagi ke Mekah dengan rombongannya untuk mengerjakan umrah yang lazim disebut umrah kada karena pada tahun sebelumnya mereka tidak berhasil melakukannya.
Pada waktu itu kaum Muslimin khawatir kalua-kalau kaum Musyrikin melanggar janji perdamaian tesebut sedang kaum Muslimin tidak senang berperang di tanah haram (Mekah) apalagi di bulan Syawal, Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam yang biasa disebut "bulan-bulan haram." Karena keadaan dan peristiwa yang demikian itulah maka ayat-ayat tersebut diturunkan.
Dalam ayat 190 ini Allah memerintahkan supaya kaum Muslimin memerangi kaum musyrikin yang memerangi mereka.
Peperangan itu hendaklah bertujuan fisabilillah (untuk meninggikan kalimat Allah dan menegakkan agam-Nya).

Perang yang disebut "fisabilillah" adalah sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

Dari Abu Musa Al-Asyari bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberaniannya dan yang berperang karena sakit hati, atau yang berperang karena ingin mendapat pujian saja, manakah di antara mereka itu yang berpearng di jalan Allah?
Rasulullah ﷺ, "Orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka berperangnya itu fisabilillah."

Dalam perang suci ini orang-orang mukmin dilarang melanggar ketentuan-ketentuan seperti membunuh anak-anak kecil, orang-orang lemah yang tidak berdaya, orang-orang yang telah sangat tua, wanita-wantia yang tidak ikut berperang, orang-orang yang telah menyerah kalah dan para pendeta karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Al Baqarah (2) ayat 190 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 190 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 190 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara ketakwaan kepada Allah adalah menanggung beban dalam menaati-Nya.
Dan beban terberat bagi manusia adalah berperang melawan musuh-musuh Allah[1] yang menyerang lebih dulu.
Dari itu, janganlah kalian lebih dulu menyerang atau membunuh mereka yang ikut berperang dan mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan peperangan itu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang melampaui batas.

[1] Ayat ini merupakan salah satu ayat yang menolak tuduhan bahwa Islam adalah "agama pedang",
agama yang tersebar melalui perang, seperti yang dikatakan sebagian orang.
Dalam ayat ini ditegaskan bahwa kaum Muslimin tidak dibolehkan memulai serangan (agresi).
Ayat ini merupakan ayat kedua yang diturunkan seputar masalah perang, setelah lebih dulu turun surat al-Hajj:
"Telah diizinkan (beperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya.
Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka." Bukti bahwa Islam bukanlah agama yang disebarkan dengan pedang, adalah karakter dakwah Islam--seperti yang diperintahkan Allah kepada Rasul-Nya--yang dilakukan dengan hikmah, nasihat dan berdebat dengan cara yang terbaik.
Di samping itu, Islam mengajak umat manusia untuk beriman melalui pemberdayaan rasio guna merenungi ciptaan-ciptaan Allah.
Dengan cara itulah Rasul menyebarkan dakwahnya selama 13 tahun di Mekah.
Tak ada pedang yang terhunus, dan tak setetes darah pun yang mengalir.
Bahkan ketika kaum Quraisy menyiksa para pengikut-Nya, beliau tidak menyuruh mereka membalas.
Rasul malah menyuruh para pengikutnya yang setia untuk berhijrah ke Habasyah (Etiopia) untuk menyelamatkan keyakinan mereka.
Suatu saat, kaum Quraisy mengisolasikan Banu Hasyim dan Banu 'Abd al-Muththalib, dua klan yang merupakan kerabat dekat Nabi.
Mereka dipaksa menyerahkan Nabi untuk dibunuh atau, jika tidak, mereka akan diusir dari kota Mekah.
Ketika mereka menolak menyerahkan Rasul, kaum Quraisy pun mulai melakukan tindakan perang yang nyata, yaitu memboikot mereka di Syi'b Banu Hasyim, Mekah.
Dibuatlah perjanjian untuk tidak melakukan jual beli dan tidak melakukan perkawinan dengan Banu Hasyim.
Perjanjian ini kemudian digantung di dalam Ka'bah.
Pemboikotan yang berlangsung selama tiga tahun ini membuat kaum Muslim hidup sangat sengsara, hingga ada yang mengganjal perut dengan rerumputan menahan rasa lapar.
Melihat itu, Rasul memerintahkan mereka--secara sembunyi-sembunyi--untuk berhijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya.
Ketika kaum Quraisy mendengar berita bahwa Rasul akan berhijrah ke Madinah, mereka pun bersekongkol untuk segera membunuh Nabi.
Tetapi, dengan pertolongan Allah, Rasul selamat dari makar mereka ini.
Kegagalan ini membuat kebencian Quraisy terhadap kaum Muslim semakin bertambah.
Siksaan terhadap kaum Muslim semakin sering dilakukan, sehingga mereka memutuskan untuk menyusul Nabi berhijrah ke Madinah dengan meninggalkan harta, rumah dan sanak saudara.
Kendatipun kaum Muslim sudah menetap di Madinah, genderang perang yang telah dibunyikan kaum Quraisy sejak peristiwa pemboikotan masih terus berkumandang.
Kedua belah pihak pun saling mengintai.
Dan ketika kaum Muslim membuntuti kafilah Abu Sufyan, kaum Quraisy semakin beralasan untuk menyerang kaum Muslim di Madinah, meskipun kafilah Abu Sufyan itu tidak diserang oleh kaum Muslim.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh kaum Muslim kecuali bertahan.
Di sinilah lalu turun ayat yang mengizinkan Rasul dan pengikutnya berperang, ayat pertama yang berbicara tentang perang (al-Hajj:
39-41).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa perang ini dibolehkan, adalah karena adanya serangan kaum Quraisy yang zalim.
Setelah kekalahan kaum Quraisy dalam perang Badar ini, sebelum meninggalkan medan pertempuran, salah seorang pembesar Quraisy berkata, "Perang telah tercatat, pertemuan kita tahun depan di Uhud." Ini jelas merupakan ultimatum bahwa kaum Quraisy masih ingin melanjutkan peperangan.
Dan begitulah, peperangan kemudian berkecamuk di Uhud, 6 mil dari Madinah.
Kaum Muslim harus bertahan dari serangan Quraisy.
Serangan Quraisy seperti ini juga terjadi di perang Khandak ketika kaum Muslim dikepung di Madinah.
Lalu Rasul pun memerintahkan membuat parit-parit (khandaq) untuk bertahan dari serangan musuh.
Alhasil, umat Islam di Madinah kemudian menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan.
Rasul pun mengutus delegasi ke beberapa kerajaan untuk mengajak mereka kepada Islam.
Tetapi di Persia, Raja Kisra menyobek surat Rasul dan mengutus orang yang sanggup memenggal kepala Muhammad.
Dengan demikian, Rraja Kisra telah menyatakan perang terhadap kaum Muslim.
Kaum Muslim harus bertahan dan akhirnya dapat menaklukkan imperium Persia dan kerajaan-kerajaan Arab yang berada di bawah koloninya.
Penaklukan Islam atas imperium Romawi Timur juga tidak keluar dari konteks di atas.
Adalah Syarhabil ibn 'Amr, raja Ghassasinah di Syam, kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Romawi, membunuh kurir Rasul yang bermaksud menemui Heraclius.
Dia pun membunuh setiap warganya yang memeluk Islam.
Puncaknya, ia mempersiapkan satu balatentara untuk menyerang negara Islam di Jazirah Arab.
Kaum Muslim harus bertahan hingga akhirnya dapat menaklukkan imperium Romawi di Timur.
Demikianlah, Islam tidak pernah memerintahkan menghunus pedang kecuali untuk bertahan dan menjamin keamanan dakwah Islam.
Mahabenar Allah ketika berfirman, "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah" (Q., s.
al-Baqarah:
256).

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Tatkala Nabi ﷺ dihalangi kaum Quraisy untuk mengunjungi Baitullah pada perjanjian Hudaibiah dan berdamai dengan orang-orang kafir itu untuk kembali di tahun depan, di mana ia diberi kesempatan untuk memasuki Mekah selama tiga hari, kemudian tatkala ia telah bersiap-siap untuk umrah kada, sedangkan kaum muslimin merasa khawatir kalau-kalau Quraisy tidak menepati janjinya lalu memerangi mereka, padahal kaum muslimin tak mau melayani mereka jika di saat ihram, di tanah haram dan di bulan haram, maka turunlah ayat, (Dan perangilah di jalan Allah), maksudnya untuk menjunjung tinggi agama-Nya (orang-orang yang memerangi kamu) di antara orang-orang kafir (tetapi janganlah kamu melampaui batas) misalnya dengan memulai peperangan terhadap mereka (karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas), artinya yang melanggar apa-apa yang telah digariskan bagi mereka.
Dan ini dinasakh dengan ayat Bara-ah atau dengan firman-Nya:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Berperanglah wahai orang-orang mukmin demi menolong agama Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian.
Jangan melakukan hal-hal yang dilarang berupa memutilasi, ghulul dan membunuh orang-orang yang dilarang untuk dibunuh seperti kaum wanita, anak-anak dan orang-orang lanjut usia serta orang-orang yang dihukumi sama dengan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batasan-batasan-Nya, lalu mereka menghalalkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.
Ayat ini merupakan ayat perang pertama yang diturunkan di Madinah.
Setelah ayat ini diturunkan, maka Rasulullah ﷺ memerangi orang-orang yang memerangi dirinya dan membiarkan orang-orang yang tidak memeranginya, hingga turunlah surat Bara’ah (surat At-Taubah).

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan hal yang sama, hingga dia mengatakan bahwa ayat ini di-mansukh oleh firman-Nya:

Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.
(At Taubah:5)

Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, mengingat firman-Nya:

...orang-orang yang memerangi kalian.
Sesungguhnya makna ayat ini merupakan penggerak dan pengobar semangat untuk memerangi musuh-musuh yang berniat memerangi Islam dan para pemeluknya.
Dengan kata lain, sebagaimana mereka memerangi kalian, maka perangilah mereka oleh kalian.
Seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

Dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya.
(At Taubah:36)

Karena itulah maka dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Dan bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (Mekah).
(Al Baqarah:191)

Dengan kata lain, agar semangat kalian berkobar untuk memerangi orang-orang musyrik itu, sebagaimana semangat mereka menggebu-gebu untuk memerangi kalian, dan agar kalian terdorong untuk mengusir mereka dari negeri yang mereka telah mengusir kalian darinya sebagai pembalasan yang setimpal.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...(tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Yakni perangilah mereka di jalan Allah, tetapi janganlah kalian bersikap melampaui batas dalam hal ini.
Termasuk ke dalam pengertian bertindak melampaui batas ialah melakukan hal-hal yang dilarang (dalam perang).

Menurut Al-Hasan Al-Basri antara lain ialah mencincang musuh, curang, membunuh wanita-wanita, anak-anak serta orang-orang lanjut usia yang tidak ikut berperang serta tidak mempunyai kemampuan berperang, para rahib dan pendeta-pendeta yang ada di dalam gereja-gerejanya, membakar pohon, dan membunuh hewan bukan karena maslahat.

Hal ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Umar ibnu Abdul Aziz, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis:

dari Buraidah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Pergilah di jalan Allah dan perangilah orang yang kafir kepada Allah.
Berperanglah kalian, tetapi janganlah kalian curang, jangan khianat, jangan mencincang, dan jangan membunuh anak-anak serta jangan membunuh orang-orang yang ada di dalam gereja-gerejanya.
(Riwayat Imam Ahmad)

Disebutkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ bila memberangkatkan pasukannya, terlebih dahulu berpesan kepada mereka:

Berangkatlah kalian dengan menyebut asma Allah, perangilah di jalan Allah orang-orang yang kafir kepada Allah, janganlah kalian melampaui batas, janganlah kalian curang, jangan mencincang (menyiksa), jangan membunuh anak-anak, dan jangan pula orang-orang yang berada dalam gereja-gerejanya.

Imam Ahmad dan Imam Abu Daud meriwayatkan pula hadis yang semisal secara marfu' dari sahabat Anas ibnu Malik r.a.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan:

dari sahabat Ibnu Umar yang menceritakan: Pernah dijumpai seorang wanita yang terbunuh dalam suatu peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ Maka sejak itu beliau membenci membunuh wanita-wanita dan anak-anak.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Al-Ajlah, dari Qais ibnu Abu Muslim, dari Rub'i ibnu Hirasy yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Huzaifah bercerita, "Rasulullah ﷺ pernah membuat banyak perumpamaan kepada kami, satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas (perumpamaan).
Maka Rasulullah ﷺ membuat suatu perumpamaan dari semuanya itu kepada kami dan meninggalkan perumpamaan yang lainnya.
Beliau ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya ada suatu kaum yang lemah lagi miskin, mereka diperangi oleh orang-orang yang kuat lagi memendam permusuhan, tetapi Allah memenangkan orang-orang yang lemah atas mereka, lalu orang-orang yang lemah itu menghukum mereka dengan cara mempekerjakan dan menguasai mereka, maka Allah murka terhadap orang-orang yang berbuat demikian hingga hari kiamat'."

Hadis ini ditinjau dari segi sanadnya berpredikat hasan.
Makna hadis, bahwa ketika kaum yang lemah itu dapat mengalahkan kaum yang kuat, maka kaum yang lemah berbuat kelewat batas terhadap mereka dan mempekerjakan mereka secara paksa dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak layak bagi mereka.
Maka Allah menjadi murka terhadap mereka yang menang itu disebabkan sikap mereka yang melebihi batas.

Hadis dan asar yang membahas hal ini cukup banyak.
Mengingat jihad itu mengandung risiko melayangnya banyak jiwa, terbunuhnya banyak kaum laki-laki, maka Allah mengingatkan bahwa perbuatan yang telah dilakukan oleh mereka —yaitu kafir kepada Allah, mempersekutukan-Nya, dan menghalang-halangi jalan Allah— adalah perbuatan yang lebih parah dan lebih fatal, lebih besar akibatnya daripada pembunuhan.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 190

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dengan perdamaian di Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah ﷺ dicegat oleh kaum Quraisy untuk memasuki Baitullah.
Adapun isi perdamaian tersebut antara lain, agar kaum Muslimin menunaikan umrah pada tahun berikutnya.
Ketika Rasulullah ﷺ beserta para shahabatnya mempersiapkan diri untuk melaksanakan umrah sesuai dengan perjanjian, para shahabat khawatir kalau-kalau orang Quraisy tidak menepati janjinya, bahkan memerangi dan menghalangi mereka masuk masjidil Haram, padahal kaum Muslimin enggan berperang pada bulan haram.
Turunnya ayat, wa qaatiluu fii sabiilillaahil ladziina…(dan berperanglah di jalan Allah orang-orang yang..) (al-Baqarah: 190) sampai (al-Baqarah: 193), membenarkan berperang untuk membalas serangan musuh.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 190 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 190



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (8 votes)
Sending







✔ tafsir suratalbaqarag ayat 190, tafsir surah 2ayat 190, Albaqarah ayat 190, Q s Al-Baqarah ayat 190, surat al baqoroh ayat 190-191