Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 189


یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡاَہِلَّۃِ ؕ قُلۡ ہِیَ مَوَاقِیۡتُ لِلنَّاسِ وَ الۡحَجِّ ؕ وَ لَیۡسَ الۡبِرُّ بِاَنۡ تَاۡتُوا الۡبُیُوۡتَ مِنۡ ظُہُوۡرِہَا وَ لٰکِنَّ الۡبِرَّ مَنِ اتَّقٰیۚ وَ اۡتُوا الۡبُیُوۡتَ مِنۡ اَبۡوَابِہَا ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Yasaluunaka ‘anil ahillati qul hiya mawaaqiitu li-nnaasi wal hajji walaisal birru bian ta’tuul buyuuta min zhuhuurihaa walakinnal birra maniittaqa wa’tuul buyuuta min abwaabihaa waattaquullaha la’allakum tuflihuun(a);

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.
Katakanlah:
“Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji, Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.
Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
―QS. 2:189
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Siksaan Allah sangat pedih
2:189, 2 189, 2-189, Al Baqarah 189, AlBaqarah 189, Al-Baqarah 189
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 189. Oleh Kementrian Agama RI

Tentang sebab turun ayat ini banyak riwayat-riwayat yang dikemukakan, antara lain:

(a).Menurut riwayat Ibnu Abu Hatim, para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang bulan sabit, maka turunlah ayat ini.
Dan menurut riwayat dari Ibnu Abu Hatim juga, bentuk pertanyaan itu ialah: Untuk apa bulan itu diciptakan dengan bentuk yang demikian?
Maka turunlah ayat ini.

(b).Menurut riwayat Abu Nuaim dan Ibnu Asakir, bahwa Muaz bin Jabal, dan Tsa`labah bin Ganimah bertanya, “Ya Rasulullah, apa sebab bulan itu kelihatan mula-mula halus seperti benang kemudian bertambah besar lagi, sampai rata dan bundar, kemudian terus berkurang dan mengecil kembali seperti semula, dan tidak dalam satu bentuk yang tetap?”
Maka turunlah ayat ini.

Menurut riwayat pertama, maka yang ditanya ialah hubungan atau hikmahnya, Allah menjawab bahwa hikmahnya ialah untuk perhitungan waktu umat manusia.
Dengan demikian jawaban itu sesuai dengan pertanyaan.
Menurut riwayat yang kedua, bahwa yang ditanya sebab hakiki yaitu mengapa bulan itu mula-mula kecil, kemudian membesar sampai bundar, kemudian mengecil kembali sampai kepada keadaan semula?
Dengan demikian jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan karena yang dijawab ialah tentang gunanya atau hikmahnya, sedang yang ditanyakan ialah hakekatnya.

Menurut riwayat kedua itu para ulama berpendapat, bahwa Allah memberikan jawaban yang lebih pantas bagi mereka untuk mengetahuinya pada waktu itu, yaitu tentang guna atau hikmahnya, bukan sebab hakikinya tentang keadaan bulan secara ilmiah.
Lagi pula fungsi seorang nabi atau rasul bukanlah menjelaskan ilmu-ilmu bintang, matematika dan sebagainya.
Tetapi untuk membentuk manusia-manusia mukmin yang berakhlak tinggi menempuh hidup sebagai hamba Allah untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ini bukan berarti bahwa ajaran Alquran yang dibawa oleh Muhammad ﷺ.
mengabaikan kepentingan dan perkembangan ilmu, malah bukan sedikit ayat Alquran dan Hadis yang menyuruh untuk memperkembangkan ilmu pengetahuan duniawi sebanyak mungkin, tetapi tidak memberikan perincian, hanya memberikan petunjuk mencari dan membahas sesuai dengan kemampuan, keadaan dan perkembangan zaman, sebagai umat yang diamanatkan Allah menjadi khalifah di bumi ini.

Pada ayat ini Allah mengajar Nabi Muhammad ﷺ.
menjawab pertanyaan sahabatnya tentang guna dan hikmah “bulan” bagi umat manusia, yaitu untuk keperluan perhitungan waktu dalam melaksanakan urusan ibadah mereka seperti salat, puasa, haji dan sebagainya dan juga urusan dunia yang diperlukan.
Allah menerangkan perhitungan waktu itu dengan perhitungan bulan Qamariah, karena lebih mudah dari perhitungan menurut peredaran matahari (Syamsiah) dan lebih sesuai dengan tingkat pengetahuan bangsa Arab pada zaman itu.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa banyak dari golongan kaum Ansar apabila mereka telah mengerjakan ihram haji, maka mereka tidak mau lagi memasuki rumah dari pintunya yang biasa tetapi memasukinya dari belakang.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa kebaktian atau kebajikan itu bukanlah menuruti perasaan dan tradisi yang berbau khurafat, seperti memasuki rumah dari belakang tetapi kebaktian atau kebajikan itu ialah bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala Dan ditetapkan kepada mereka agar memasuki rumah dari pintunya.

Al Baqarah (2) ayat 189 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 189 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 189 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Suatu kaum bertanya kepadamu, Muhammad, tentang bulan sabit, yang mulanya tampak tipis seperti benang kemudian lambat laun makin membesar hingga sempurna.
Setelah itu ia pun perlahan-lahan mengecil kembali hingga tampak seperti semula.
Hal ini berbeda dengan matahari yang tidak berubah-ubah.
Apa gerangan hikmah di balik itu sehingga setiap bulan muncul sabit baru?
Katakan kepada mereka, wahai Muhammad, “Berulang-ulangnya kemunculan bulan sabit dan perubahan yang terjadi itu, selain mengandung hikmah, juga untuk kemaslahatan agama dan kehidupan keseharianmu.
Di samping untuk menentukan waktu-waktu keseharianmu, ia juga menentukan waktu pelaksanaan haji yang merupakan salah satu sokoguru agamamu.
[1] Kalaulah bulan sabit itu tidak berubah-ubah sebagaimana halnya matahari, tentu kamu tidak dapat menentukan waktu-waktu tersebut.
Tetapi ketidaktahuanmu tentang hikmah perubahan bulan sabit itu tidak semestinya membuat kamu ragu akan adanya Sang Maha Pencipta.
Dan bukanlah termasuk kebaktian memasuki rumah dari arah belakang, suatu tindakan yang menyalahi kebiasaan.
Tetapi kebaktian adalah ketakwaan dan keikhlasan, memasuki rumah melalui pintu-pintunya sebagaimana dilakukan setiap orang, dan mencari kebenaran dengan mengikuti dalil yang argumentatif.
Maka mohonlah perkenan Allah, takutlah akan siksa-Nya dan mintalah keselamatan dari siksa api neraka.”

[1] Bulan memantulkan sinar matahari ke arah bumi dari permukaannya yang tampak dan terang, hingga terlihatlah bulan sabit.
Apabila, pada paruh pertama, bulan berada pada posisi di antara matahari dan bumi, bulan itu menyusut, yang berarti bulan sabit baru muncul untuk seluruh penduduk bumi.
Dan apabila berada di arah berhadapan dengan matahari, ketika bumi berada di tengah, akan tampak bulan purnama.
Kemudian, purnama itu kembali mengecil sedikit demi sedikit sampai kepada paruh kedua.
Dengan begitu, sempurnalah satu bulan komariah selama 29,5309 hari.
Atas dasar itu, dapat ditentukan penanggalan Arab, sejak munculnya bulan sabit hingga tampak sempurna.
Bila bulan sabit itu tampak seperti garis tipis di ufuk barat, kemudian tenggelam beberapa detik setelah tenggelamnya matahari, dapat dilakukan ru’yah terhadap bulan baru.
Dengan cara demikian dapat ditentukan dengan mudah penanggalan bulan komariah.
Perputaran bulan itulah yang mengajarkan manusia cara penghitungan bulan, termasuk di antaranya bulan haji.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad, (tentang bulan sabit).
‘Ahillah’ jamak dari ‘hilal’.
Pada permulaannya tampak kecil tipis kemudian terus bertambah hingga penuh dengan cahaya.
Lalu kembali sebagaimana semula, maka keadaannya tidak seperti matahari yang tetap (katakanlah) kepada mereka, (“Ia adalah tanda-tanda waktu), mawaaqiit jamak dari miiqaat (bagi manusia) untuk mengetahui waktu bercocok tanam, berdagang, idah wanita, berpuasa, dan berbuka mereka (dan bagi haji) diathafkan atau dihubungkan kepada manusia, artinya untuk diketahui waktunya.
Karena seandainya bulan tetap dalam keadaan yang sama, tentulah hal itu tidak dapat diketahui (Dan bukanlah kebaktian, jika kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya) yakni di waktu ihram, dengan membuat lubang di belakang rumah untuk tempat keluar masuk kamu dengan meninggalkan pintu.
Hal itu biasa mereka lakukan dulu dan mereka anggap sebagai kebaktian, (tetapi kebaktian itu), maksudnya orang yang berbakti (ialah orang yang bertakwa) kepada Allah dengan tidak melanggar perintah-perintah-Nya, (dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya) baik sewaktu ihram maupun pada waktu-waktu lainnya, (dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh keberuntungan”).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu wahai Nabi, tentang rembulan yang berubah-ubah.
Jawablah mereka dengan mengatakan :
Allah menjadikan rembulan sebagai alamat yang dengannya orang-orang bisa mengetahui waktu-waktu ibadah mereka yang tertentu, seperti puasa, haji dan muamalat-muamalat mereka.
Bukanlah kebaikan apa yang kalian terbiasa melkukannya di zaman jahiliyah dan di awal Islam, berupa mendatangi rumah-rumah kalian dari arah belakang saat kalian berihram dengan haji atau umrah, dengan dugaan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah.
Akan tetapi kebaikan itu terletak pada pelaksanaan terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Masuklah kalian ke rumah-rumah kalian dari pintu-pintunya saat kalian berihram dengan haji atau umrah, takutlah kalian kepada Allah dalam segala urusan kalian, agar kalian beruntung dengan meraih apa yang kalian harapkan berupa kebaikan dunia dan akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang bulan sabit.
Maka turunlah ayat berikut, yakni firman-Nya:

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.
Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia.”

Yakni dengan melaluinya mereka mengetahui waktu masuknya ibadah mereka, bilangan idah istri-istri, dan waktu haji mereka.

Abu Ja’far meriwayatkan dari Ar-Rabi’, dari Abul Aliyah, telah sampai sebuah hadis kepada kami bahwa mereka pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Allah menciptakan hilal (bulan sabit)?”
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.
Katakanlah “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia.” (Al Baqarah:189) Maksudnya, Allah menjadikan bulan sabit sebagai tanda-tanda waktu puasa kaum muslim dan waktu berbuka mereka, bilangan idah istri-istri, dan tanda waktu agama (ibadah haji) mereka.
Hal yang sama diriwayatkan pula dari Ata, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Abdur Razzaq meriwayatkan, dari Abdul Aziz ibnu Abu Rawwad, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Allah menjadikan bulan sabit sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia, maka berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian karena melihatnya.
Maka apabila awan menutupi kalian, sempurnakanlah bilangan menjadi tiga puluh hari.

Hadis riwayat Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Ibnu Abu Rawwad dengan lafaz yang sama.

Imam Hakim mengatakan bahwa Ibnu Abu Rawwad adalah orang yang siqah, ahli ibadah, seorang mujtahid lagi bernasab terhormat.
Maka hadis ini sahih sanadnya, tetapi Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak mengetengahkannya.

Muhammad ibnu Jabir meriwayatkan dari Qais ibnu Talq, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Allah telah menciptakan bulan sabit.
Maka apabila kalian melihat bulan sabit, berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya lagi, berbukalah.
Tetapi jika awan menutupi kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan kalian menjadi tiga puluh hari.

Hal yang sama diriwayatkan melalui hadis Abu Hurairah, juga dari ucapan Ali ibnu Abu Talib r.a.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.
Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa pada mulanya di zaman Jahiliah apabila mereka telah melakukan ihram, mereka memasuki rumahnya dari arah belakangnya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.
Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Syu’bah, dari Abi Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa orang-orang Ansar pada mulanya bila mereka tiba dari perjalanannya, maka seseorang dari mereka tidak memasuki rumahnya dari arah pintunya, lalu turunlah ayat ini.

Al-A’masy menceritakan dari Abu Sufyan, dari Jabir, bahwa dahulu orang-orang Quraisy dikenal dengan nama Humus, mereka selalu masuk dari pintu-pintunya dalam ihram mereka, sedangkan orang-orang Ansar dan semua orang Arab dalam ihram mereka tidak memasukinya dari pintu.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang berada di sebuah kebun, selanjutnya beliau keluar dari pintunya, tetapi keluar pula bersamanya Qutbah ibnu Amir dari kalangan Ansar.
Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qutbah ibnu Amir adalah seorang pedagang, sesungguhnya dia telah keluar bersamamu dari pintu itu.” Maka Rasul ﷺ bertanya kepada Qutbah, “Apakah yang mendorongmu melakukan demikian?”
Qutbah menjawab, “Aku melihat engkau melakukannya, maka aku ikut melakukan seperti apa yang telah engkau lakukan.” Rasul ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku adalah seorang Ahmas.” Qutbah menjawab, “Sesungguhnya agamaku juga adalah agamamu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.
Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula, juga Al-Aufi, dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang semisal.
Hal yang sama diriwayatkan pula dari Mujahid, Az-Zuhri, Qatadah, Ibrahim An-Nakha’i, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, dahulu beberapa kaum dari kalangan ahli Jahiliah apabila seseorang dari mereka hendak melakukan suatu perjalanan, lalu ia keluar dari rumahnya memulai perjalanan yang ditujunya.
Kemudian sesudah ia keluar, timbul keinginan tetap tinggal dan mengurungkan niat bepergiannya, maka dia tidak memasuki rumahnya dari pintunya, melainkan menaiki tembok bagian belakang.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya., hingga akhir ayat.

Muhammad ibnu Ka’b mengatakan, “Seorang lelaki apabila hendak melakukan i’tikaf, ia tidak memasuki rumahnya dari arah pintunya, maka Allah menurunkan ayat ini.”

Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa penduduk Yasrib apabila kembali dari hari raya mereka, mereka memasuki rumahnya masing-masing dari arah belakangnya, dan mereka berpendapat bahwa hal tersebut lebih mendekati kepada kebajikan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya.
Akhirnya mereka tidak lagi berpendapat bahwa hal tersebut lebih dekat kepada kebajikan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan bertakwalah kalian kepada Allah, agar kalian beruntung.

Yakni kerjakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada kalian dan tinggalkanlah oleh kalian apa yang telah diharamkan Allah bagi kalian.

…agar kalian beruntung.
Yaitu kelak di hari kemudian.
Bila kalian dihadirkan di hadapan Allah, maka kelak Dia akan memberi kalian pahala dan balasannya dengan lengkap dan sempurna.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 189
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq berkata,
Aku mendengar Al Bara’ radliallahu anhu berkata:
Ayat ini turun kepada kami, yaitu Kaum Anshar jika mereka menunaikan haji lalu kembali pulang, mereka tidak memasuki rumah-rumah mereka dari pintu depannya namun mereka masuk dari belakang. Kemudian datanglah seseorang dari Kaum Anshar yang ia masuk dari pintu depan seakan-akan ia merubah kebiasaan tadi. Maka kemudian turunlah firman Allah QS. Al Baqarah: 189 yang artinya: Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.

Shahih Bukhari, Kitab Haji – Nomor Hadits: 1676

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 189

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa yas-aluunaka ‘anil ahillah..(mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit..) sampai…lin naasi wal hajj…(…bagi manusia dan [bagi ibadat] haji…) (Al-Baqarah: 189) diturunkan sebagai jawaban terhadap banyaknya pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ tentang peredaran bulan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah.
Bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Untuk apa diciptakan bulan sabit?” maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 189) sebagai penjelasan.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir di dalam Kitab Tarikh Dimasyqa, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa…yas-aluunaka ‘anil ahillah…(mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit…) sampai..lin naasi wal hajj..(..bagi manusia dan [bagi ibadat] haji..) (al-Baqarah: 189) ini berkenaan dengan pertanyaan Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghunamah kepada Rasulullah ﷺ: “Ya Rasulallah.
Mengapa bulan sabit itu mulai timbul kecil sehalus benang, kemudian bertambah besar hingga bundar dan kembali seperti semula, tiada tetap bentuknya?” sebagai jawabannya turunlah ayat tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari al-Barra’.
Bahwa… wa laisa birru bi angta’tul buyuuta ming zhuhuurihaa…(…dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189) diturunkan berkenaan dengan kebiasaan orang jahiliyah yang suka memasuki rumah dari pintu belakang sepulangnya menunaikan ihram di Baitullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Hakim yang bersumber dari Jabir.
Menurut al-Hakim hadits ini shahih.
Ibnu Jabir meriwayatkan pula dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa orang-orang Quraisy yang diberi julukan al-hams (kesatria) menganggap baik apabila melakukan ihram, masuk dan keluar melalui pintunya.
Akan tetapi kaum Anshar dan orang-orang Arab lainnya masuk dan keluar tidak melalui pintunya.
Pada suatu hari orang-orang melihat Quthbah bin ‘Amir (dari kaum Anshar) keluar melalui pintu mengikuti Rasulullah ﷺ.
Serempaklah mereka mengadu atas pelanggaran tersebut, sehingga Rasulullah segera menegurnya.
Quthbah menjawab:
“Saya hanya mengikuti apa yang tuan lakukan.” Rasulullah bersabda: “Aku ini seorang kesatria.” Quthbah menjawab:
“Saya pun menganut agama tuan.” Maka turunlah,…wa laisal birru bi ang ta’tul buyuut… (dan bukan kebajikan memasuki rumah-rumah..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189)

Diriwayatkan oleh ath-Thalayisi di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari al-Barra’.
Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 189) turun berkenaan dengan kaum Anshar, yang apabila pulang dari perjalanan, tidak masuk rumah melalui pintunya.

Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid yang bersumber dari Qais bin Habtar an-Nahsyali.
Bahwa peristiwanya sebagai berikut: pada waktu itu apabila orang-orang hendak berihram di Baitullah tidak masuk melalui pintunya, kecuali golongan kesatria (al-hams).
Pada suatu hari Rasulullah ﷺ masuk dan keluar halaman baitullah melalui pintunya, diikuti oleh Rifa’ah bin Tabut, padahal ia bukan kesatria.
Maka mengadulah orang-orang yang melihatnya: “Wahai Rasulallah.
Rifa’ah melanggar.” Rasulullah bersabda kepada Rifa’ah: “Mengapa engkau berbuat demikian?” Ia berkata: “Saya mengikuti tuan.” Nabi bersabda: “Aku ini kesatria.” Ia menjawab:
“Agama kita satu.” Maka turunlah,… wa laisal birru bi angta’tul buyuut..(…dan bukanlah kebajikan memasukki rumah-rumah…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 189

AHILLAH
أَهِلَّة

Ahillah adalah bentuk jamak dari kata hilaal artinya, bulan sabit, atau dua malam dari awal bulan, atau malam ketiga atau hingga malam ketujuh dan juga dua malam dari akhir bulan atau 26 dan 27. Selain itu disebut (bulan).

Ar Razi berpendapat, hilaal ialah permulaan malam, dua dan tiga malam, kemudian ia menjadi bulan. la juga bermaksud curah hujan, permulaan hujan, warna putih pada pangkal kuku, selar pada unta, air yang sedikit, ular jantan, pemuda yang gagah.

Menurut ilmu Astronomi, hilaal ialah bulan sabit yang terlihat pada awal bulan atau malam pertama.

Lafaz ahillah disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu pada surah Al Baqarah (2), ayat 189.

Menurut Ibn Atiyyah, hilaal adalah dua malam pertama tanpa ada perselisihan pendapat dikalangan ulama. Kemudian ia menjadi bulan sepenuhnya. la juga dikatakan hilaal pada tiga malam pertama.

Al Asma’i berpendapat hilaal adalah bulan sabit sehingga ia menjadi lebar dan berbentuk bundar. Ia seperti benang yang tipis. Ia juga dikatakan hilaal sehingga cahayanya menerangi langit pada malam ketujuh.

Dinamakan juga hilal pada malam kedua atau malam ketiga.

Ada yang mengatakan sehingga ia berbentuk bundar dengan garis tipis. Ada pula yang mengatakan hingga malam ketujuh.

At Tabari meriwayatkan dari Qatadah, beliau berkata,
“Para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad, untuk apa ahillah itu diciptakan? Maka Allah menurunkan ayatnya yang bermaksud, hiya mawaaqitu linnaasi wal hajj (ia menjadi penunjuk waktu bagi manusia). Ia dijadikan untuk menentukan waktu berpuasa bagi muslim, menetapkan waktu berbuka, menentukan waktu ibadah haji, menghitung ‘iddah bagi wanita-wanita muslimah juga bagi menentukan masa membayar hutang mereka. Allah lebih mengetahui apa yang membawa kemaslahatan bagi para hamba Nya'”

Kesimpulannya, maksud kata ahillah adalah awal bulan, malam kedua, malam ketiga, atau malam ketujuh dan akhir bulan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:26-27

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 189 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 189



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (21 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku