Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 189 [QS. 2:189]

یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡاَہِلَّۃِ ؕ قُلۡ ہِیَ مَوَاقِیۡتُ لِلنَّاسِ وَ الۡحَجِّ ؕ وَ لَیۡسَ الۡبِرُّ بِاَنۡ تَاۡتُوا الۡبُیُوۡتَ مِنۡ ظُہُوۡرِہَا وَ لٰکِنَّ الۡبِرَّ مَنِ اتَّقٰیۚ وَ اۡتُوا الۡبُیُوۡتَ مِنۡ اَبۡوَابِہَا ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Yasaluunaka ‘anil ahillati qul hiya mawaaqiitu li-nnaasi wal hajji walaisal birru bian ta’tuul buyuuta min zhuhuurihaa walakinnal birra maniittaqa wa’tuul buyuuta min abwaabihaa waattaquullaha la’allakum tuflihuun(a);
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit.
Katakanlah,
“Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.”
Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari atasnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa.
Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
―QS. Al Baqarah [2]: 189

They ask you, (O Muhammad), about the new moons.
Say,
"They are measurements of time for the people and for Hajj."
And it is not righteousness to enter houses from the back, but righteousness is (in) one who fears Allah.
And enter houses from their doors.
And fear Allah that you may succeed.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 189]

يَسْـَٔلُونَكَ mereka bertanya kepadamu

They ask you
عَنِ tentang

about
ٱلْأَهِلَّةِ bulan baru/sabit

the new moons.
قُلْ katakan

Say,
هِىَ ia (bulan sabit)

"They
مَوَٰقِيتُ tanda-tanda waktu tertentu

(are) indicators of periods
لِلنَّاسِ bagi manusia

for the people,
وَٱلْحَجِّ dan (ibadah) bertakwa

fears (Allah).
وَأْتُوا۟ dan masukilah

And come
ٱلْبُيُوتَ rumah-rumah

(to) the houses
مِنْ dari

from
أَبْوَٰبِهَا pintu-pintunya

their doors.
وَٱتَّقُوا۟ dan bertakwalah

And fear
ٱللَّهَ Allah

Allah
لَعَلَّكُمْ agar kalian

so that you may
تُفْلِحُونَ kamu beruntung

(be) successful.

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:189

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 189. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini Allah mengajar Nabi Muhammad ﷺ menjawab pertanyaan sahabat tentang guna dan hikmah
"bulan"
bagi umat manusia, yaitu untuk keperluan perhitungan waktu dalam melaksanakan urusan ibadah mereka seperti salat, puasa, bangsa Arab pada zaman itu.


Para ulama tafsir menjelaskan bahwa banyak dari kaum Ansar, apabila mereka telah mengerjakan ihram atau khurafat, seperti memasuki rumah dari belakang atau dari atas, ) tetapi kebajikan itu ialah bertakwa kepada Allah, dan ditetapkan kepada mereka agar memasuki rumah dari pintunya.


Menurut saintis, bulan adalah satelit bumi yang berukuran sekitar seperempat dari ukuran bumi.
Ia beredar mengelilingi bumi pada jarak rata-rata 384,400 kilometer di bawah tarikan gaya gravitasi bumi.

Akibat peredarannya inilah bulan mengalami fase-fase dan di antaranya terjadi fenomena bulan sabit, bulan purnama, bulan baru dan bulan mati.
Semuanya terjadi karena posisi bulan dan bumi yang bergeser secara teratur terhadap posisi matahari.

Ketika bulan berada diantara bumi dan matahari, sisinya yang gelap menghadap ke bumi sehingga bulan tidak terlihat oleh kita yang berada di bumi.
Fase ini dinamakan fase bulan baru.

Kemudian bergeser dari fase bulan baru ke fase bulan purnama dan dan dari fase bulan purnama menuju ke fase bulan mati.
Pada fase bulan mati bulan kembali tidak nampak sama sekali.

Sementara bulan sabit terjadi antara fase bulan baru ke fase bulan separuh pertama (minggu pertama, sebelum bulan purnama) dan antara fase bulan separuh yang kedua (minggu ke empat, setelah purnama) menuju fase bulan mati.


Dari fase bulan baru menuju fase bulan purnama maka yang terjadi fase bulan sabit yang nampak seperti benang yang bisa kita lihat di langit barat sesudah matahari tenggelam.
Lama kelamaan bulan sabit tersebut menjadi lebar hingga menjadi separuh.
Fase bulan ini kita sebut dengan fase bulan separuh.
Kemudian tujuh hari setelah fase bulan separuh, kita bisa melihat gambaran penuh dari bulan.
Fase bulan ini kita sebut dengan bulan purnama.
Tujuh hari kemudian penampakan bulan kembali menyusut sehingga kembali lagi kepada fase bulan separuh.
Begitulah seterusnya hingga bulan kembali mengalami fase bulan sabit yang kemudian pada akhirnya dia menghilang.
Fase ini kita sebut dengan fase bulan mati.
Jadi fase bulan sabit terjadi 2 kali dalam sebulan, yakni di minggu pertama dan minggu ke empat.


Jarak antara fase bulan baru ke bulan baru berikutnya atau dari bulan purnama ke bulan purnama berikutnya adalah 29,5306 hari yang kita sebut dengan periode sinodik.
Inilah menjadi dasar penanggalan yang dibuat dengan menggunakan sistem kalender peredaran bulan yang kita kenal dengan kalender kamariah.
Maha Bijaksana Allah yang telah menciptakan bulan dengan hikmah yang luar biasa terkandung di dalamnya.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 189. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Suatu kaum bertanya kepadamu, Muhammad, tentang bulan sabit, yang mulanya tampak tipis seperti benang kemudian lambat laun makin membesar hingga sempurna.
Setelah itu ia pun perlahan-lahan mengecil kembali hingga tampak seperti semula.


Hal ini berbeda dengan matahari yang tidak berubah-ubah.
Apa gerangan hikmah di balik itu sehingga setiap bulan muncul sabit baru?
Katakan kepada mereka, wahai Muhammad,
"Berulang-ulangnya kemunculan bulan sabit dan perubahan yang terjadi itu, selain mengandung hikmah, juga untuk kemaslahatan agama dan kehidupan keseharianmu.


Di samping untuk menentukan waktu-waktu keseharianmu, ia juga menentukan waktu pelaksanaan hikmah perubahan bulan sabit itu tidak semestinya membuat kamu ragu akan adanya Sang Maha Pencipta.
Dan bukanlah termasuk kebaktian memasuki rumah dari arah belakang, suatu tindakan yang menyalahi kebiasaan.


Tetapi kebaktian adalah ketakwaan dan keikhlasan, memasuki rumah melalui pintu-pintunya sebagaimana dilakukan setiap orang, dan mencari kebenaran dengan mengikuti dalil yang argumentatif.
Maka mohonlah perkenan Allah, takutlah akan siksa-Nya dan mintalah keselamatan dari siksa api neraka. "


[1] Bulan memantulkan sinar matahari ke arah bumi dari permukaannya yang tampak dan terang, hingga terlihatlah bulan sabit.
Apabila, pada paruh pertama, bulan berada pada posisi di antara matahari dan bumi, bulan itu menyusut, yang berarti bulan sabit baru muncul untuk seluruh penduduk bumi.


Dan apabila berada di arah berhadapan dengan matahari, ketika bumi berada di tengah, akan tampak bulan purnama.
Kemudian, purnama itu kembali mengecil sedikit demi sedikit sampai kepada paruh kedua.
Dengan begitu, sempurnalah satu bulan komariah selama 29,5309 hari.
Atas dasar itu, dapat ditentukan penanggalan Arab, sejak munculnya bulan sabit hingga tampak sempurna.
Bila bulan sabit itu tampak seperti garis tipis di ufuk barat, kemudian tenggelam beberapa detik setelah tenggelamnya matahari, dapat dilakukan ru’yah terhadap bulan baru.
Dengan cara demikian dapat ditentukan dengan mudah penanggalan bulan komariah.
Perputaran bulan itulah yang mengajarkan manusia cara penghitungan bulan, termasuk di antaranya bulan Tafsir Muyassar

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu wahai Nabi, tentang rembulan yang berubah-ubah.
Jawablah mereka dengan mengatakan:
Allah menjadikan rembulan sebagai alamat yang dengannya orang-orang bisa mengetahui waktu-waktu ibadah mereka yang tertentu, seperti puasa, jahiliyah dan di awal Islam, berupa mendatangi rumah-rumah kalian dari arah belakang saat kalian berihram dengan umrah, dengan dugaan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah.
Akan tetapi kebaikan itu terletak pada pelaksanaan terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.


Masuklah kalian ke rumah-rumah kalian dari pintu-pintunya saat kalian berihram dengan umrah, takutlah kalian kepada Allah dalam segala urusan kalian, agar kalian beruntung dengan meraih apa yang kalian harapkan berupa kebaikan dunia dan akhirat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad,


(tentang bulan sabit).
‘Ahillah’ jamak dari ‘hilal‘.
Pada permulaannya tampak kecil tipis kemudian terus bertambah hingga penuh dengan cahaya.
Lalu kembali sebagaimana semula, maka keadaannya tidak seperti matahari yang tetap


(katakanlah) kepada mereka,


("Ia adalah tanda-tanda waktu), mawaaqiit jamak dari miiqaat


(bagi manusia) untuk mengetahui waktu bercocok tanam, berdagang, idah wanita, berpuasa, dan berbuka mereka


(dan bagi ihram, dengan membuat lubang di belakang rumah untuk tempat keluar masuk kamu dengan meninggalkan pintu.
Hal itu biasa mereka lakukan dulu dan mereka anggap sebagai kebaktian,


(tetapi kebaktian itu), maksudnya orang yang berbakti


(ialah orang yang bertakwa) kepada Allah dengan tidak melanggar perintah-perintah-Nya,


(dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya) baik sewaktu ihram maupun pada waktu-waktu lainnya,


(dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh keberuntungan").

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang bulan sabit.
Maka turunlah ayat berikut, yakni firman-Nya:

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.
Katakanlah,
"Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia."

Yakni dengan melaluinya mereka mengetahui waktu masuknya ibadah mereka, bilangan idah istri-istri, dan waktu hadis kepada kami bahwa mereka pernah bertanya,
"Wahai Rasulullah, mengapa Allah menciptakan hilal (bulan sabit)?"
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.
Katakanlah
"Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia."
(QS. Al-Baqarah [2]: 189)
Maksudnya, Allah menjadikan bulan sabit sebagai tanda-tanda waktu puasa kaum muslim dan waktu berbuka mereka, bilangan idah istri-istri, dan tanda waktu agama (ibadah haji) mereka.
Hal yang sama diriwayatkan pula dari Ata, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Abdur Razzaq meriwayatkan, dari Abdul Aziz ibnu Abu Rawwad, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Allah menjadikan bulan sabit sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia, maka berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian karena melihatnya.
Maka apabila awan menutupi kalian, sempurnakanlah bilangan menjadi tiga puluh hari.

Hadis riwayat Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Ibnu Abu Rawwad dengan lafaz yang sama.

Imam Hakim mengatakan bahwa Ibnu Abu Rawwad adalah orang yang siqah, ahli ibadah, seorang mujtahid lagi bernasab terhormat.
Maka hadis ini sahih sanadnya, tetapi Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak mengetengahkannya.

Muhammad ibnu Jabir meriwayatkan dari Qais ibnu Talq, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Allah telah menciptakan bulan sabit.
Maka apabila kalian melihat bulan sabit, berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya lagi, berbukalah.
Tetapi jika awan menutupi kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan kalian menjadi tiga puluh hari.

Hal yang sama diriwayatkan melalui hadis Abu Hurairah, juga dari ucapan Ali ibnu Abu Talib r.a.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.
Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.


Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa pada mulanya di zaman Jahiliah apabila mereka telah melakukan ihram, mereka memasuki rumahnya dari arah belakangnya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.
Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.


Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Syu’bah, dari Abi Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa orang-orang Ansar pada mulanya bila mereka tiba dari perjalanannya, maka seseorang dari mereka tidak memasuki rumahnya dari arah pintunya, lalu turunlah ayat ini.

Al-A’masy menceritakan dari Abu Sufyan, dari Jabir, bahwa dahulu orang-orang Quraisy dikenal dengan nama Humus, mereka selalu masuk dari pintu-pintunya dalam ihram mereka, sedangkan orang-orang Ansar dan semua orang Arab dalam ihram mereka tidak memasukinya dari pintu.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang berada di sebuah kebun, selanjutnya beliau keluar dari pintunya, tetapi keluar pula bersamanya Qutbah ibnu Amir dari kalangan Ansar.
Mereka berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qutbah ibnu Amir adalah seorang pedagang, sesungguhnya dia telah keluar bersamamu dari pintu itu."
Maka Rasul ﷺ bertanya kepada Qutbah,
"Apakah yang mendorongmu melakukan demikian?"
Qutbah menjawab,
"Aku melihat engkau melakukannya, maka aku ikut melakukan seperti apa yang telah engkau lakukan."
Rasul ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya aku adalah seorang Ahmas."
Qutbah menjawab,
"Sesungguhnya agamaku juga adalah agamamu."
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.
Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.


Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula, juga Al-Aufi, dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang semisal.
Hal yang sama diriwayatkan pula dari Mujahid, Az-Zuhri, Qatadah, Ibrahim An-Nakha’i, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, dahulu beberapa kaum dari kalangan ahli Jahiliah apabila seseorang dari mereka hendak melakukan suatu perjalanan, lalu ia keluar dari rumahnya memulai perjalanan yang ditujunya.
Kemudian sesudah ia keluar, timbul keinginan tetap tinggal dan mengurungkan niat bepergiannya, maka dia tidak memasuki rumahnya dari pintunya, melainkan menaiki tembok bagian belakang.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya., hingga akhir ayat.

Muhammad ibnu Ka’b mengatakan,
"Seorang lelaki apabila hendak melakukan i’tikaf, ia tidak memasuki rumahnya dari arah pintunya, maka Allah menurunkan ayat ini."

Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa penduduk Yasrib apabila kembali dari hari raya mereka, mereka memasuki rumahnya masing-masing dari arah belakangnya, dan mereka berpendapat bahwa hal tersebut lebih mendekati kepada kebajikan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya.
Akhirnya mereka tidak lagi berpendapat bahwa hal tersebut lebih dekat kepada kebajikan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan bertakwalah kalian kepada Allah, agar kalian beruntung.

Yakni kerjakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada kalian dan tinggalkanlah oleh kalian apa yang telah diharamkan Allah bagi kalian.

…agar kalian beruntung.
Yaitu kelak di hari kemudian.
Bila kalian dihadirkan di hadapan Allah, maka kelak Dia akan memberi kalian pahala dan balasannya dengan lengkap dan sempurna.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 189

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa yas-aluunaka ‘anil ahillah..(mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit..) sampai…lin naasi wal hajj…(…bagi manusia dan [bagi ibadat] Al-Baqarah: 189) diturunkan sebagai jawaban terhadap banyaknya pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ tentang peredaran bulan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah.
Bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Untuk apa diciptakan bulan sabit?” maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 189) sebagai penjelasan.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir di dalam Kitab Tarikh Dimasyqa, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa…yas-aluunaka ‘anil ahillah…(mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit…) sampai..lin naasi wal hajj..(..bagi manusia dan [bagi ibadat] al-Baqarah: 189) ini berkenaan dengan pertanyaan Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghunamah kepada Rasulullah ﷺ: “Ya Rasulallah.
Mengapa bulan sabit itu mulai timbul kecil sehalus benang, kemudian bertambah besar hingga bundar dan kembali seperti semula, tiada tetap bentuknya?” sebagai jawabannya turunlah ayat tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari al-Barra’.
Bahwa… wa laisa birru bi angta’tul buyuuta ming zhuhuurihaa…(…dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189) diturunkan berkenaan dengan kebiasaan orang jahiliyah yang suka memasuki rumah dari pintu belakang sepulangnya menunaikan ihram di Baitullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Hakim yang bersumber dari Jabir.
Menurut al-Hakim hadits ini shahih.
Ibnu Jabir meriwayatkan pula dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa orang-orang Quraisy yang diberi julukan al-hams (kesatria) menganggap baik apabila melakukan ihram, masuk dan keluar melalui pintunya.
Akan tetapi kaum Anshar dan orang-orang Arab lainnya masuk dan keluar tidak melalui pintunya.
Pada suatu hari orang-orang melihat Quthbah bin ‘Amir (dari kaum Anshar) keluar melalui pintu mengikuti Rasulullah ﷺ.
Serempaklah mereka mengadu atas pelanggaran tersebut, sehingga Rasulullah segera menegurnya.
Quthbah menjawab:
“Saya hanya mengikuti apa yang tuan lakukan.” Rasulullah bersabda: “Aku ini seorang kesatria.” Quthbah menjawab:
“Saya pun menganut agama tuan.” Maka turunlah,…wa laisal birru bi ang ta’tul buyuut… (dan bukan kebajikan memasuki rumah-rumah..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189)

Diriwayatkan oleh ath-Thalayisi di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari al-Barra’.
Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 189) turun berkenaan dengan kaum Anshar, yang apabila pulang dari perjalanan, tidak masuk rumah melalui pintunya.

Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid yang bersumber dari Qais bin Habtar an-Nahsyali.
Bahwa peristiwanya sebagai berikut: pada waktu itu apabila orang-orang hendak berihram di Baitullah tidak masuk melalui pintunya, kecuali golongan kesatria (al-hams).
Pada suatu hari Rasulullah ﷺ masuk dan keluar halaman baitullah melalui pintunya, diikuti oleh Rifa’ah bin Tabut, padahal ia bukan kesatria.
Maka mengadulah orang-orang yang melihatnya: “Wahai Rasulallah.
Rifa’ah melanggar.” Rasulullah bersabda kepada Rifa’ah: “Mengapa engkau berbuat demikian?” Ia berkata: “Saya mengikuti tuan.” Nabi bersabda: “Aku ini kesatria.” Ia menjawab:
“Agama kita satu.” Maka turunlah,… wa laisal birru bi angta’tul buyuut..(…dan bukanlah kebajikan memasukki rumah-rumah…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189).

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 189

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq berkata,
Aku mendengar Al Bara’ radliallahu anhu berkata:
Ayat ini turun kepada kami, yaitu Kaum Anshar jika mereka menunaikan Kaum Anshar yang ia masuk dari pintu depan seakan-akan ia merubah kebiasaan tadi. Maka kemudian turunlah firman Allah QS. Al Baqarah: 189 yang artinya: Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.

Shahih Bukhari, Kitab Hadits: 1676

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 189

AHILLAH
أَهِلَّة

Ahillah adalah bentuk jamak dari kata hilaal artinya, bulan sabit, atau dua malam dari awal bulan, atau malam ketiga atau hingga malam ketujuh dan juga dua malam dari akhir bulan atau 26 dan 27. Selain itu disebut (bulan).

Ar Razi berpendapat, hilaal ialah permulaan malam, dua dan tiga malam, kemudian ia menjadi bulan.
la juga bermaksud curah hujan, permulaan hujan, warna putih pada pangkal kuku, selar pada unta, air yang sedikit, ular jantan, pemuda yang gagah.

Menurut ilmu Astronomi, hilaal ialah bulan sabit yang terlihat pada awal bulan atau malam pertama.

Lafaz ahillah disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu pada surah Al Baqarah (2), ayat 189.
Menurut Ibn Atiyyah, hilaal adalah dua malam pertama tanpa ada perselisihan pendapat dikalangan ulama.
Kemudian ia menjadi bulan sepenuhnya.
la juga dikatakan hilaal pada tiga malam pertama.

Al Asma’i berpendapat hilaal adalah bulan sabit sehingga ia menjadi lebar dan berbentuk bundar.
Ia seperti benang yang tipis.
Ia juga dikatakan hilaal sehingga cahayanya menerangi langit pada malam ketujuh.

Dinamakan juga hilal pada malam kedua atau malam ketiga.

Ada yang mengatakan sehingga ia berbentuk bundar dengan garis tipis.
Ada pula yang mengatakan hingga malam ketujuh.

At Tabari meriwayatkan dari Qatadah, beliau berkata,
"Para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad, untuk apa ahillah itu diciptakan? Maka Allah menurunkan ayatnya yang bermaksud, hiya mawaaqitu linnaasi wal hajj (ia menjadi penunjuk waktu bagi manusia).
Ia dijadikan untuk menentukan waktu berpuasa bagi muslim, menetapkan waktu berbuka, menentukan waktu ibadah haji, menghitung ‘iddah bagi wanita-wanita muslimah juga bagi menentukan masa membayar hutang mereka.
Allah lebih mengetahui apa yang membawa kemaslahatan bagi para hamba Nya’"

Kesimpulannya, maksud kata ahillah adalah awal bulan, malam kedua, malam ketiga, atau malam ketujuh dan akhir bulan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 26-27

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 189 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 189 - Gambar 2
Statistik QS. 2:189
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.5 (21 votes)
Tags:

2:189, 2 189, 2-189, Surah Al Baqarah 189, Tafsir surat AlBaqarah 189, Quran Al-Baqarah 189, Surah Al Baqarah ayat 189

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 68 [QS. 8:68]

Namun begitu, Allah tetap menunjukkan belas kasih-Nya terhadap orang-orang yang beriman, dan ayat ini menjadi bukti kasih sayangNya. Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, yaitu bahwa Dia … 8:68, 8 68, 8-68, Surah Al Anfaal 68, Tafsir surat AlAnfaal 68, Quran Al Anfal 68, AlAnfal 68, Al-Anfal 68, Surah Al Anfal ayat 68

QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 25 [QS. 13:25]

Dan sebagai kebalikan dari mereka yang menerima kebenaran adalah orang-orang yang menolak kebenaran dengan melanggar dan membatalkan janji dengan sesama manusia yang dikukuhkan dengan nama Allah setel … 13:25, 13 25, 13-25, Surah Ar Ra’d 25, Tafsir surat ArRad 25, Quran Ar Rad 25, Ar-Ra’d 25, Surah Ar Rad ayat 25

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Tata cara membaca Alquran dimulai dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Isti'adzah atau juga biasa dikenal dengan istilah ta'awwudz secara bahasa adalah memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaaan.

Basmalah berarti mengucapkan kalimat 'Bismillahirrahmanirrahim', terjemahannya yaitu 'Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'.

Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
العدل

Allah itu Al-Adl, artinya adalah Allah itu Maha Adil kepada seluruh makhluk-makhluk-Nya. Keadilan Allah bersifat sempurna dan berlaku untuk semua ciptaan-Nya.

Jangan pernah sedikit pun terbesit dalam hati kita untuk berfikir bahwa 'hidup ini tidak adil.' Karena semua telah ditentukan Allah dengan keadilan-Nya. Siapa pun manusia yang murka dengan ketentuan Allah maka Allah pun akan murka kepadanya, dan siapa pun manusia yang ridho maka Allah pun akan ridho kepadanya. Dan siapa pun manusia yang telah diridhoi Allah, maka senantiasa dibukakan jalan keluar yang tidak pernah terduga dalam pikiran manusia.

Dalam surah Alquran, At-Tin artinya ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
البصير

Allah itu Al-Bashir, artinya adalah Allah itu Maha Melihat segala sesuatu. Kita sebagai manusia hanya memiliki penglihatan yang terbatas. Namun Allah bisa melihat segala sesuatu baik dimasa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Allah selalu mengawasi kita semua, sehingga jangan pernah kita berfikir jika kita melakukan kejahatan yang tidak orang lain lihat maka tidak ada yang bisa mengetahui kejahatan itu. Karena Allah itu Maha Melihat.

Pendidikan Agama Islam #24
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #24 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #24 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #8

Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali … Hadits Syaz Hadits Daif wa Mursal Hadits Mu’allaq Hadits Daif Hadits Mursal Benar!

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah … Ad Duha An Nasr Al lahab Al Asr Ali Imron Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah

Pendidikan Agama Islam #29

Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta? Nabi Isa Nabi Nuh Nabi Ibrahim Nabi Musa Nabi Sulaiman Benar! Kurang

Instagram