Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 186 [QS. 2:186]

وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ
Wa-idzaa saalaka ‘ibaadii ‘annii fa-innii qariibun ujiibu da’wataddaa’i idzaa da’aani falyastajiibuu lii walyu’minuu bii la’allahum yarsyuduun(a);
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.
Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.
Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
―QS. Al Baqarah [2]: 186

And when My servants ask you, (O Muhammad), concerning Me – indeed I am near.
I respond to the invocation of the supplicant when he calls upon Me.
So let them respond to Me (by obedience) and believe in Me that they may be (rightly) guided.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 186]

وَإِذَا dan apabila

And when
سَأَلَكَ bertanya kepadamu

ask you
عِبَادِى hamba-hambaKu

My servants
عَنِّى tentang Aku

about Me,
فَإِنِّى maka sesungguhnya Aku

then indeed I am
قَرِيبٌ dekat

near.
أُجِيبُ Aku mengabulkan

I respond
دَعْوَةَ permohonan

(to the) invocation
ٱلدَّاعِ orang yang mendoa

(of) the supplicant
إِذَا apabila

when
دَعَانِ ia berdoa kepadaKu

he calls Me.
فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ maka hendaklah mereka memenuhi

So let them respond
لِى bagiKu/kepadaKu

to Me
وَلْيُؤْمِنُوا۟ dan hendaklah mereka beriman

and let them believe
بِى kepadaKu

in Me,
لَعَلَّهُمْ agar mereka

so that they may
يَرْشُدُونَ mereka mendapat petunjuk/kebenaran

(be) led aright.

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:186

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 186. Oleh Kementrian Agama RI


Di dalam ayat ini, Allah menyuruh hamba-Nya agar berdoa kepada-Nya, serta Dia berjanji akan memperkenankannya, tetapi pada akhir ayat ini Allah menekankan agar hamba-Nya memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya agar mereka selalu mendapat petunjuk.


Di dalam hadis banyak diterangkan hal-hal yang bertalian dengan doa antara lain:
1. Sabda Rasulullah ﷺ:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ اَلْاِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتّٰى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga macam orang tidak ditolak doanya, yaitu Imam yang adil, orang yang sedang berpuasa hingga ia berbuka dan doa seorang yang teraniaya.
(Riwayat Muslim)
***


2. Sabda Rasulullah ﷺ:

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِاِثْمٍ اَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ اَرَ يَسْتَجِيْبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذٰلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

"Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa."
Seorang sahabat bertanya;
‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
‘Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan;
‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan’.

Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi..

(Riwayat Muslim)


Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa Allah ﷻ Mahakuasa, Maha Mengetahui dan mengatur segalanya, diminta atau tidak diminta Dia berbuat sekehendak-Nya, sehingga manusia tidak perlu berdoa, tetapi pendapat itu bertentangan dengan ayat ini dan hadishadis Nabi Muhammad.
Apabila di antara doa yang dipanjatkan kepada Allah ada yang belum dikabulkan, maka ada beberapa sebab:


a.

Tidak memenuhi syaratsyarat yang semestinya.
b.

Tidak mutlak Allah memberikan sesuai dengan yang dimohonkan oleh hamba-Nya, tetapi diganti atau disesuaikan dengan yang lebih baik bagi pemohon, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam ayat ini Allah menghubungkan antara doa yang dijanjikan akan dikabulkan-Nya itu dengan ketentuan bahwa hamba-hamba-Nya harus mematuhi segala perintah-Nya dan beriman kepada-Nya.


Selain itu doa hendaklah dilakukan dengan khusyuk, sungguh-sungguh dan dengan sepenuh hati, dan bukan doa untuk menganiaya orang, memutuskan hubungan silaturrahim dan lain-lain perbuatan maksiat.
Memang segala sesuatu harus menurut syaratsyarat atau tata cara yang baik dan dapat menyampaikan kepada yang dimaksud.
Kalau seorang berkata,
"Ya Tuhanku berikanlah kepadaku seribu rupiah,"
tanpa melakukan usaha, maka dia bukanlah berdoa tetapi sesungguhnya dia seorang jahil.
Artinya permohonan serupa itu tidak ada artinya, karena tidak disertai usaha yang wajar.


_______
***ini adalah lafazh At Tirmidzi (Hadits No.2449) dan Ibnu Majah (Hadits No.
1742), secara lengkap lafazh Ibnu Majah adalah sebagai berikut :


Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sa’dan Al Juhani dari Sa’d Abu Mujahid Ath Tha’i -ia seorang yang dapat dipercaya- dari Abu Mudillah – ia juga seorang yang dapat dipercaya- dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Ada tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya;
imam yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka dan do’a orang yang teraniaya.
Allah akan mengangkatnya di bawah naungan awan pada hari kiamat, pintu-pintu langit akan dibukakan untuknya seraya berfirman:
"Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski setelah beberapa saat.
"

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 186. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kami benar-benar mengamati segala yang dilakukan dan ditinggalkan manusia.
Apabila hamba-Ku bertanya kepadamu, Muhammad,
"Apakah Allah itu dekat dengan kami, dan tahu apa yang kami rahasiakan, kami tampakkan dan yang kami tinggalkan?"
jawablah,
"Sesungguhnya Kami dekat dengan hamba-hamba Kami, lebih dekat dari yang mereka sangka. "
Buktinya bahwa doa seseorang akan sampai pada Allah dan dikabulkan pada saat ia berdoa.
Maka jika Allah telah memperkenankan dan mengabulkan doa mereka, hendaknya mereka itu membalasnya dengan iman dan ketaatan karena hal itu akan menjadi jalan kebenaran dan kebaikan mereka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu wahai Nabi tentang Aku, maka jawablah kepada mereka,
"Sesungguhnya Aku dekat dengan mereka.
Aku menjawab doa orang yang berdoa bila dia berdoa kepada-Ku.


Hendaknya mereka menaati-Ku dalam apa yang Aku perintahkan kepada mereka dan apa yang Aku larang dari mereka, serta agar mereka beriman kepada-Ku, semoga mereka terbimbing kepada kemashlatan dunia dan akhirat."
Ayat ini merupakan berita dari Allah tentang kedekatan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, kedekatan yang patut dengan keagungan-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Segolongan orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ,
"Apakah Tuhan kami dekat, maka kami akan berbisik kepada-Nya, atau apakah Dia jauh, maka kami akan berseru kepada-Nya."
Maka turunlah ayat ini.


("Dan apabila hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat) kepada mereka dengan ilmu-Ku, beritahukanlah hal ini kepada mereka


(Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa, jika ia berdoa kepada-Ku) sehingga ia dapat memperoleh apa yang dimohonkan.


(Maka hendaklah mereka itu memenuhi pula perintah-Ku) dengan taat dan patuh


(serta hendaklah mereka beriman) senantiasa iman


(kepada-Ku supaya mereka berada dalam kebenaran.") atau petunjuk Allah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ibnu Abu Hatim mengatakan, ayahku telah menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Abdah ibnu Abu Barzah As-Sukhtiyani, dari As-Silt ibnu Hakim ibnu Mu’awiyah (yakni Ibnu Haidah Al-Qusyairi), dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ada seorang penduduk Badui bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita dekat, maka kita akan bermunajat (berbisik) kepada-Nya, ataukah Dia jauh, maka kita akan menyeru-Nya?"
Nabi ﷺ diam, tidak menjawab.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Aku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku.


Dengan kata lain, apabila kamu perintahkan mereka untuk berdoa kepada-Ku, hendaklah mereka berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan mereka.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Muhammad ibnu Humaid Ar-Razi, dari Jarir dengan lafaz yang sama.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih serta Abusy Syekh Al-Asbahani, melalui hadis Muhammad ibnu Abu Humaid, dari Jarir dengan lafaz yang sama.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, dari Auf, dari Al-Hasan yang menceritakan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Di manakah Tuhan kita?"
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.
, hingga akhir ayat.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata, telah sampai kepada Ata bahwa ketika firman-Nya ini diturunkan:
Dan Tuhan kalian berfirman,
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian."
(QS. Al-Mumin:
60)
Maka orang-orang bertanya,
"Sekiranya kami mengetahui, saat manakah yang lebih tepat untuk melakukan doa bagi kami?"
Maka turunlah firman-Nya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu Abdul Majid As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Khalid Al-Hazza, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Abu Musa Al-Asy’ari yang menceritakan,
"Ketika kami (para sahabat) bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan, tidak sekali-kali kami menaiki suatu tanjakan dan berada di tempat yang tinggi serta tidak pula kami menuruni suatu lembah melainkan kami mengeraskan suara kami seraya mengucapkan takbir."
Abu Musa melanjutkan kisahnya,
"Lalu Nabi ﷺ mendekat ke arah kami dan bersabda:
‘Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukan berseru kepada orang yang tuli, bukan pula kepada orang yang gaib, sesungguhnya kalian hanya berseru kepada Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru lebih dekat kepada seseorang di antara kalian daripada leher unta kendaraannya.
Hai Abdullah ibnu Qais, maukah kamu kuajarkan suatu kalimat (doa) yang termasuk perbendaharaan surga?
(Yaitu) la haula wala quwwata ilia billah (tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’."

Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain dan jamaah lainnya melalui hadis Abu Usman An-Nahdi yang nama aslinya ialah Abdur Rahman ibnu Ali, dari Abu Musa Al-Asy’ari dengan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Aku menurut dugaan hamba-Ku mengenai diri-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika dia berdoa kepada-Ku."

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ubaidillah, dari Karimah binti Ibnu Khasykhasy Al-Muzaniyyah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah yang pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Aku selalu bersama hamba-Ku selagi ia ingat kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku."

Menurut kami, hadis ini sama pengertiannya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.
(QS. Al-Hijr [15]: 128)

Sama pula dengan firman-Nya kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, yaitu:

Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.
(QS. Thaa haa [20]: 46)

Makna yang dimaksud dari kesemuanya itu adalah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengecewakan doa orang yang berdoa kepada-Nya dan tidak sesuatu pun yang menyibukkan (melalaikan) Dia, bahkan Dia Maha Mendengar doa.
Di dalam pengertian ini terkandung anjuran untuk berdoa, dan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan doa yang dipanjatkan kepada-Nya.
Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami seorang lelaki yang pernah mendengar dari Abu Usman (yakni An-Nahdi) ketika ia menceritakan hadis berikut dari Salman (yakni Al-Farisi r.a.), bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar malu bila ada seorang hamba mengangkat kedua tangannya memohon suatu kebaikan kepada-Nya, lalu Allah menolak permohonannya dengan kedua tangan yang hampa.
Yazid berkata,
"Sebutkanlah kepadaku nama lelaki itu."
Mereka menjawab bahwa dia adalah Ja’far ibnu Maimun.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Ibnu Majah melalui hadis Ja’far ibnu Maimun (pemilik kitab Al-Anbat) dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan garib.
Hadis ini diriwayatkan pula oleh sebagian dari mereka, tetapi dia tidak me-rafa’-kannya.
Syekh Al-Hafiz Abul Hajjah Al-Mazi di dalam kitab Atraf-nya mengatakan bahwa periwayatan hadis ini diikuti pula oleh Abu Hammam Muhammad ibnu Abuz Zabarqan, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Usman An-Nahdi dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan pula:


telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abul Mutawakkil An-Naji, dari Abu Sa’id, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Tiada seorang muslim pun yang memanjatkan suatu doa kepada Allah yang di dalamnya tidak mengandung permintaan yang berdosa dan tidak pula memutuskan silaturahmi, melainkan Allah pasti memberinya berkat doa itu salah satu dari tiga perkara berikut, yaitu:
Adakalanya permohonannya itu segera dikabulkan, adakalanya permohonannya itu disimpan oleh Allah untuknya kelak di hari kemudian, dan adakalanya dipalingkan darinya suatu keburukan yang semisal dengan permohonannya itu.
Mereka (para sahabat) berkata,
"Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa."
Nabi ﷺ menjawab,
"Allah Maha Banyak (Mengabulkan Doa)."

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur Al-Kausaj, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Ibnu Sauban, dari ayahnya, dari Makhul, dari Jubair ibnu Nafir, bahwa Ubadah ibnus Samit pernah menceritakan hadis berikut kepada mereka, yaitu Nabi ﷺ pernah bersabda:
tiada seorang lelaki muslim pun di muka bumi ini berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala memohon sesuatu melainkan Allah pasti mengabulkan permintaannya itu atau mencegah darinya keburukan yang seimbang dengan permintaannya, selagi dia tidak meminta hal yang berdosa atau memutuskan hubungan silaturahmi.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman Ad-Darami,dari Muhammad ibnu Yusuf Al-Faryabi, dari Ibnu Sauban (yaitu Abdur Rahman ibnu Sabit ibnu Sauban) dengan lafaz yang sama.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan sahih bila ditinjau dari jalur yang terakhir ini.

Imam Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Abu Ubaid maula Ibnu Azhar, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Dikabulkan bagi seseorang di antara kalian selagi dia tidak tergesa-gesa mengatakan,
"Aku telah berdoa, tetapi masih belum diperkenankan juga bagiku."

Hadis ini diketengahkan pula oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Malik dengan lafaz yang sama.
Hadis ini menurut apa yang ada pada Imam Bukhari rahimahullah.

Imam Muslim mengatakan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepadaku Abut Tahir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah ibnu Saleh, dari Rabi’ah, dari Yazid, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Doa .seorang hamba masih tetap dikabulkan selagi dia tidak mendoakan hal yang berdosa atau yang memutuskan silaturahmi, bilamana dia tidak tergesa-gesa.
Lalu ditanyakan,
"Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa itu?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Seorang hamba mengatakan, ‘Aku telah berdoa, aku telah berdoa, tetapi masih belum diperkenankan juga bagiku,’ lalu saat itu dia merasa kecewa dan menghentikan doanya."


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Seorang hamba masih tetap berada dalam kebaikan selagi dia tidak tergesa-gesa.
Mereka (sahabat) bertanya,
"Bagaimanakah pengertian tergesa-gesa itu?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Dia mengatakan, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tetapi masih belum diperkenankan juga bagiku’."

Imam Abu Ja’far At-Tabari di dalam kitab tafsirnya mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, bahwa Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit telah menceritakan kepadanya, dari Urwah ibnuz Zubair, dari Siti Aisyah r.a. yang pernah mengatakan bahwa tidak sekali-kali seorang hamba yang mukmin berdoa kepada Allah memohon sesuatu, lalu doanya itu disia-siakan, sebelum disegerakan baginya di dunia atau ditangguhkan baginya untuk di akhirat, selagi dia tidak tergesa-gesa atau putus asa.
Urwah bertanya,
"Wahai bibi, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa dan putus asa itu?"
Siti Aisyah menjawab,
"Dia mengatakan, ‘Aku telah meminta, tetapi tidak diberi, dan aku telah berdoa, tetapi tidak dikabulkan’."

Ibnu Qasit mengatakan pula bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab mengatakan hal yang serupa dengan apa yang dikatakan oleh Siti Aisyah r.a.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Amr, dari Ibnu Abdur Rahman Al-Jaili, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Hati manusia itu bagaikan wadah, sebagian di antaranya lebih memuat daripada sebagian yang lain.
Karena itu, apabila kalian meminta kepada Allah, hai manusia, mintalah kepada-Nya, sedangkan hati kalian merasa yakin diperkenankan, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa kepada-Nya dengan hati yang lalai.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Abu Nafi’ ibnu Ma’di Kariba di Bagdad, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Nafi’ ibnu Ma’di Kariba yang mengatakan bahwa ia dan Siti Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai makna firman-Nya:

Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Wahai Tuhanku, ini adalah pertanyaan Aisyah?"
Maka turunlah Malaikat Jibril dan berkata:
Allah menyampaikan salam-Nya kepadamu, ada seorang hamba-Ku yang saleh, dengan niat yang benar dan hatinya bersih mengatakan,
"Wahai Tuhanku."
Maka Aku berfirman,
"Labbaika,"
lalu Aku penuhi permintaannya.

Akan tetapi, hadis ini garib bila ditinjau dari sanad ini.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari hadis Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, bahwa Nabi ﷺ pernah membacakan firman-Nya:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.
(Al Baqarah:
186), hingga akhir ayat.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
ya Allah, Engkau memerintahkan untuk berdoa dan aku bertawakal dalam masalah pengabulannya.
Kupenuhi seruan-Mu, ya Allah, kupenuhi seruan-Mu, kupenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagimu, kupenuhi seruan-Mu.
Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu dan begitu pula semua kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.
Aku bersaksi bahwa Engkau tiada tandingan lagi Maha Esa, bergantung kepada-Mu segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tiada seorang pun yang setara dengan-Mu.
Aku bersaksi bahwa janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, dan hari kiamat pasti akan datang tanpa diragukan lagi, dan Engkaulah yang akan membangkitkan manusia dari kuburnya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan pada kami Al-Hasan ibnu Yahya Al-Azdi dan Muhammad ibnu Yahya Al-Qat’i, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Mari, dari Al-Hasan, dari Anas, dari Nabi ﷺ yang bersabda:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Hai anak Adam, satu hal untukmu, dan satu hal untuk-Ku, serta satu hal lagi antara Aku dan kamu.
Adapun hal yang untuk-Ku ialah kamu harus menyembah-Ku, janganlah kamu persekutukan Aku dengan sesuatu pun.
Dan adapun yang bagimu ialah semua hal yang kamu lakukan atau amal apa pun, maka Aku pasti menunaikan (pahala)nya kepadamu.
Dan adapun yang antara Aku dan kamu ialah kamu berdoa dan Aku yang memperkenankan (mengabulkan).

Penyisipan anjuran untuk berdoa di antara hukumhukum puasa ini mengandung petunjuk yang menganjurkan agar berdoa dengan sekuat tenaga di saat menyempurnakan bilangan Ramadan, dan bahkan di setiap berbuka.
Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud At-Tayalisi di dalam kitab Musnad-nya:


telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al-Mulaiki, dari Amr (yakni Ibnu Syu’aib ibnu Muhammad ibnu Abdullah ibnu Amr), dari ayahnya, dari kakeknya (yakni Abdullah Ibnu Amr) yang telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:
Bagi orang puasa di saat berbukanya ada doa yang dikabulkan.
Tersebutlah bahwa Abdullah ibnu Amr selalu berdoa untuk keluarga dan anaknya, begitu pula anak dan keluarganya, sama-sama berdoa ketika berbuka puasa.

Abu Abdullah Muhammad ibnu Yazid ibnu Majah di dalam kitab sunannya,

telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Ishaq ibnu Abdullah Al-Madani, dari Ubaidillah ibnu Abu Mulaikah, dari Abdullah ibnu Amr yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya bagi orang puasa di saat berbukanya terdapat doa yang tidak ditolak (untuknya).
Ubaidillah ibnu Abu Mulaikah mengatakan, ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr selalu mengucapkan doa berikut bila berbuka:
Ya Allah, sesungguhnya Aku memohon demi rahmat-Mu yang memuat segala sesuatu, sudilah kiranya Engkau mengampuniku.

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, Sunan Turmuzi, Nasai, dan Ibnu Majah disebutkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada tiga macam orang yang doanya tidak ditolak, yaitu imam yang adil, orang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang teraniaya diangkat oleh Allah sampai di bawah gamam (awan) di hari kiamat nanti, dan dibukakan baginya semua pintu langit, dan Allah berfirman,
"Demi kemuliaan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu, sekalipun sesudahnya.”

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 186

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abusy Syaikh, dan lain-lain dari beberapa jalan, dari Jarir bin ‘Abdilhamid, dari ‘Abdah as-Sajastani, dari ash-Shalt bin Hakim bin Mu’awiyah bin Jayyidah, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya.
Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi ﷺ yang bertanya: “Apakah Tuhan itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?” Nabi ﷺ terdiam, sehingga turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186) sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari al-Hasan.
Hadits ini mursal, tetapi ada beberapa sumber yang memperkuatnya.
Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 186) turun sebagai jawaban terhaap beberapa sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ: “Dimanakah Rabb kita?”

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang bersumber dari ‘Ali.
Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah ﷺ: “Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah telah berfirman…ud’uunii astajib lakum..(…berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…) (al-Mu’min: 60).” Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Wahai Rasulallah.
Apakah Tuhan mendengar doa kita, atau bagaimana?” sebagai jawabannya turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha’ bin Abi Rabah.
Bahwa setelah turun ayat, wa qaala rabbukum ud’uunii astajib lakum…(dan Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…) (al-Mu’min: 60), para sahabat tidak mengetahui bilamana waktu yang tepat untuk berdoa.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186).

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 186

DAA’I
لدَّاع

Lafaz ini adalah ism faa’il dari kata kerja da’ii artinya pendakwah atau da’i yang mengajak manusia kepada agamanya atau pegangannya dan sebagainya.

Ia disebut sebanyak tiga kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 186;
Al Qamar (54), ayat 6 dan 8.
Dalam surah Al Baqarah, ia bermaksud orang yang berdoa seperti penjelasannya dalam pembahasan lafaz "da’wah"

Dalam surah Al Qamar ayat 6 dan 8, Az Zamakhsyari berkata,
"Ia bermaksud malaikat Israfil atau Jibril seperti firman Allah:

يَوْمَ يُنَادِ ٱلْمُنَادِ مِن مَّكَانٍ قَرِيبٍ

Artinya:
"…pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.."

An Nasafi berkata,
"Ia bermaksud malaikat Israfil," begitu juga dengan pendapat Asy Syaukani dalam tafsirnya.

Tafsirannya, "penyeru menyeru kepada sesuatu yang mengerikan yaitu hari pembalasan yang di dalamnya berupa siksaan, goncangan yang dahsyat, mata mereka tunduk ke bawah, keluar dari kubur dan segera berjalan menyahut panggilan penyeru seperti belalang yang berterbangan, tidak menolak dan tidak terlambat."

Kesimpulannya, lafaz daa’i di dalam Al Quran memiliki dua maksud.
Pertama, bermaksud orang yang berdoa;
Kedua, ber maksud malaikat Israfil.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 214

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 186 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 186 - Gambar 2 Surah Al Baqarah ayat 186 - Gambar 3
Statistik QS. 2:186
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.2 (28 votes)
Tags:

2:186, 2 186, 2-186, Surah Al Baqarah 186, Tafsir surat AlBaqarah 186, Quran Al-Baqarah 186, Surah Al Baqarah ayat 186

▪ al baqarah 1-186
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 127 [QS. 20:127]

127. Dan demikianlah, sebagai hukuman atas keengganan itu, Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak menghiraukan petunjuk yang datang kepadanya dan tidak pula mau percaya kepada ayat-ayat Tu … 20:127, 20 127, 20-127, Surah Thaa Haa 127, Tafsir surat ThaaHaa 127, Quran Thoha 127, Thaha 127, Ta Ha 127, Surah Toha ayat 127

QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 122 [QS. 37:122]

121-122. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, rela berkorban, dan sabar dalam memperjuangkan ajaran tauhid. Karena keteguhan dan kesabaran mereka, sungguh keduanya te … 37:122, 37 122, 37-122, Surah Ash Shaffaat 122, Tafsir surat AshShaffaat 122, Quran Al-Shaffat 122, AshShaffat 122, Ash Shafat 122, Ash Shaffat 122, Surah Ash Shaffat ayat 122

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Benar! Kurang tepat!

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Benar! Kurang tepat!

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

+

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Benar! Kurang tepat!

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #20

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan. meja lebih dahulu dari tukang kayu Allah lebih dahulu dari

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Al-Fatihah Al-‘Asr Al-Kautsar An-Nash Al-Ikhlas Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah Al-Kausar adalah surah ke-108

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Tidak ada dari siku ke lutut dari leher ke pergelangan kaki seluruh tubuh kecuali wajah

Instagram