Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 158


اِنَّ الصَّفَا وَ الۡمَرۡوَۃَ مِنۡ شَعَآئِرِ اللّٰہِ ۚ فَمَنۡ حَجَّ الۡبَیۡتَ اَوِ اعۡتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡہِ اَنۡ یَّطَّوَّفَ بِہِمَا ؕ وَ مَنۡ تَطَوَّعَ خَیۡرًا ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ شَاکِرٌ عَلِیۡمٌ
Innash-shafaa wal marwata min sya’aa-irillahi faman hajjal baita awii’tamara falaa junaaha ‘alaihi an yath-thau-wafa bihimaa waman tathau-wa’a khairan fa-innallaha syaakirun ‘aliimun;

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah.
Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.
―QS. 2:158
Topik ▪ Azab orang kafir
2:158, 2 158, 2-158, Al Baqarah 158, AlBaqarah 158, Al-Baqarah 158
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 158. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini dikuatkan lagi kabar gembira itu dengan menjelaskan bahwa Safa dan Marwah adalah salah satu syiar agama dan barang siapa ingin mengerjakan ibadat haji, haruslah ia melakukan sai antara Safa dan Marwah itu.

Dengan demikian nyatalah bahwa kaum muslimin pasti akan berhasil menaklukkan kota Mekah karena ia adalah tempat melakukan ibadah haji yang menjadi rukun kelima dalam Islam yang harus dikerjakan oleh setiap muslim yang mampu menunaikannya.
Karena itu Masjidil Haram dan sekelilingnya harus dibersihkan dari berhala dan kemusyrikan.
Menurut riwayat Bukhari, Asim bin Sulaiman bertanya kepada Anas tentang Safa dan Marwah.
Anas bercerita: “Kami mengetahui bahwa Safa dan Marwah itu adalah tempat beribadat di masa Jahiliah karena di sana terdapat dua berhala yang bernama Usaf dan Nailah.
Orang-orang pada masa jahiliah mengusap kedua berhala itu dengan tangannya.
Setelah datang Islam, kami tidak mau lagi mengerjakan itu di sana karena kami menganggapnya sebagai perbuatan jahiliah.
Maka turunlah ayat ini.”

Safa dan Marwah adalah dua tempat yang telah ditetapkan Allah menjadi syiar agama Islam dan barang siapa yang hendak mengerjakan ibadah haji atau umrah haruslah ia melakukan sai antara kedua tempat itu.

Meskipun ada perbedaan pendapat antara imam-imam mazhab mengenai hukum sai ini, ada yang menganggapnya sebagai rukun haji seperti Imam Malik dan Imam Syafii dan ada pula yang menganggapnya sebagai wajib haji seperti Imam Abu Hanifah namun sudah terang bahwa sai itu harus dikerjakan dalam menunaikan ibadah haji.
Secara umum, tidak ada perbedaan antara rukun dan wajib.

Tetapi khusus dalam masalah haji dibedakan antara keduanya.
Rukun ialah yang harus dikerjakan atau tidak dapat diganti atau ditebus.
Wajib ialah yang musti dikerjakan tapi jika ditinggalkan harus diganti dengan membayar denda (dam).
Yang menjadi pertanyaan di sini ialah mengapa dalam ayat ini disebutkan “tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya” padahal sai itu adalah suatu rukun atau wajib, dan tidak mungkin seseorang yang menunaikan rukun atau wajib akan berdosa.

Hal ini untuk menghilangkan keragu-raguan kaum muslimin tentang mengerjakan Sai ini karena kaum musyrikin juga mengerjakan sai dalam ibadah mereka, seakan-akan apa yang dikerjakan kaum musyrikin itu tidak boleh dilakukan oleh kaum muslimin dan mereka akan berdosa bila mengerjakannya.
Jadi harus dipahami betul bahwa maksud mengerjakan sai kaum musyrikin amat jauh berbeda dari maksudnya pada kaum muslimin.
Mengerjakan sai itu adalah keimanan dan mempercayai Rasulullah serta mematuhi perintahnya.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa barang siapa yang berbuat kebajikan atau amal ibadah lebih daripada yang diwajibkan kepadanya (mengerjakan yang sunah-sunah), Allah akan mensyukuri amal kebaikan itu dan Allah Maha Mengetahui semua amalan hamba-Nya.
Maka janganlah ragu-ragu berbuat kebaikan, karena semua amal itu akan dibalas dengan berlipat ganda oleh Allah.

Al Baqarah (2) ayat 158 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 158 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 158 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah telah mengangkat martabat dua buah bukit, Safa dan Marwa, dan menjadikannya bagian dari manasik haji, sebagaimana Dia telah menjadikan Ka’bah sebagai kiblat salat.
Maka barangsiapa yang menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban bagi dirinya untuk melakukan sai (sa’y:
berlari-lari kecil) di antara dua bukit itu tujuh kali.
Sebelumnya, sebagian kalangan Muslim sendiri menyangka bahwa sai itu merupakan bagian dari tradisi jahiliah.
Padahal tidak demikian sesungguhnya.
Sai adalah syiar keislaman.
Maka tidak berdosa jika seseorang melakukan sai di kawasan kedua bukit itu ketika sedang berhaji atau berumrah.
Dan hendaknya orang-orang yang beriman berbuat kebajikan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui perbuatan seseorang dan memberi pahala atas kebaikannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Safa dan Marwah) nama dua bukit di Mekah (adalah sebagian dari syiar-syiar Allah) tanda-tanda kebesaran agama-Nya, jamak dari ‘syaa`irah.’ (Barang siapa yang melakukan ibadah haji atau umrah) artinya memakai pakaian haji atau umrah.
Asal makna keduanya adalah menyengaja dan berkunjung, (maka tiada salah baginya) artinya ia tidak berdosa (mengerjakan sai) asalkan sebanyak tujuh kali.
Ayat ini turun tatkala kaum muslimin tidak bersedia melakukannya, disebabkan orang-orang jahiliah dulu biasa tawaf di sana sambil menyapu dua berhala yang terdapat pada keduanya.
Menurut Ibnu Abbas bahwa sai itu hukumnya tidak wajib, hanya takhyir, artinya dibolehkan memilih sebagai akibat tidak berdosa.
Tetapi Syafii dan ulama lainnya berpendapat bahwa sai adalah rukun dan hukum fardunya dinyatakan oleh Nabi ﷺ dengan sabdanya, “Sesungguhnya Allah mewajibkan sai atas kamu.” (H.R.
Baihaqi) Sabdanya pula, “Mulailah dengan apa yang dimulai Allah, yakni Shafa.” (H.R.
Muslim) (Dan barang siapa yang dengan kemauan sendiri berbuat) ada yang membaca ‘Taththawwa`a’, yaitu dengan ditasydidkan ta pada tha, lalu diidgamkan (suatu kebaikan) maksudnya amalan yang tidak wajib seperti tawaf dan lain-lainnya (maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri) perbuatannya itu dengan memberinya pahala (lagi Maha Mengetahui).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Shafa dan Marwah, dua bukit kecil di dekat Kabah dari arah timur, termasuk syiar-syiar agama Allah yang nampak di mana hamba-hamba Allah beribadah kepada-Nya melalui sai di antara keduanya.
Siapa yang mendatangi Kabah untuk menunaikan haji atau umrah, maka tiada dosa atasnya dan tidak masalah baginya untuk melakukan sai di antara keduanya, bahkan lebih dari itu ia wajib atasnya.
Barangsiapa melakukan ketaatan –ketaatan dengan suka rela dari dalam jiwanya, ikhlas karena Allah semata, maka sesungguhnya Allah akan berterima kasiih kepadanya dengan membalasnya atas yang sedikit atau pun yang banyak.
Dia Maha Mengetahui amal-amal perbuatan para hamba-Nya, sehingga Dia tidak menyia-nyiakan dan tidak menzhalimi siapa pun walau hanya seberat semut hitam.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Sa’d, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah.
Urwah menceritakan bahwa Siti Aisyah pernah berkata kepadanya, bagaimanakah pendapatmu mengenai makna firman-Nya:

Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.
Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.

Aku menjawab, “Demi Allah, tidak ada dosa bagi seseorang bila dia tidak melakukan tawaf di antara keduanya.” Siti Aisyah berkata, “Alangkah buruknya apa yang kamu katakan itu, hai anak saudara perempuanku.
Sesungguhnya bila makna ayat ini seperti apa yang engkau takwilkan, maka maknanya menjadi ‘Tidak ada dosa bagi seseorang bila tidak tawaf di antara keduanya’.
Akan tetapi, ayat ini diturunkan hanyalah karena orang-orang Ansar di masa lalu sebelum mereka masuk Islam, mereka selalu ber-ihlal untuk berhala Manat sesembahan mereka yang ada di Musyallal (tempat yang terletak di antara Safa dan Marwah), dan orang-orang yang pernah melakukan ihlal untuk berhala Manat merasa berdosa bila melakukan tawaf di antara Safa dan Marwah.
Lalu mereka menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami merasa berdosa bila melakukan tawaf di antara Safa dan Marwah karena masa Jahiliah kami.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.
Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya ‘

Siti Aisyah r.a.
berkata, “Kemudian Rasulullah ﷺ menetapkan (mewajibkan) sa’i antara keduanya, maka tiada alasan bagi seseorang untuk tidak melakukan sa’i di antara keduanya.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab Sahihain.

Di dalam sebuah riwayat dari Az-Zuhri disebutkan, ia mengatakan bahwa ia menceritakan hadis ini kepada Abu Bakar ibnu Abdur Rahman ibnul Haris ibnu Hisyam.
Maka Abu Bakar ibnu Abdur Rahman menjawab, “Sesungguhnya pengetahuan mengenai ini belum pernah kudengar, dan sesungguhnya aku pernah mendengar dari banyak lelaki dari kalangan ahlul ‘ilmi.
Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orang —kecuali yang disebutkan oleh Siti Aisyah— mengatakan bahwa tawaf di antara kedua batu ini (Safa dan Marwah) termasuk perbuatan Jahiliah.’ Orang-orang lain dari kalangan Ansar mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya diperintahkan melakukan tawaf di Baitullah dan tidak diperintahkan untuk tawaf antara Safa dan Marwah.’ Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

‘Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah ‘
Abu Bakar ibnu Abdur Rahman mengatakan, “Barangkali ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka (sebagian ahlul ilmi) dan mereka (kalangan orang-orang Ansar) yang lainnya.”

Imam Bukhari meriwayatkannya melalui hadis Malik, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah yang lafaznya semisal dengan hadis di atas.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Asim ibnu Sulaiman yang mengatakan bahwa ia pernah, bertanya kepada Anas r.a.
tentang masalah Safa dan Marwah.
Maka Anas r.a.
menjawab, “Pada mulanya kami menganggap termasuk perkara Jahiliah.
Ketika Islam datang, maka kami berhenti melakukan tawaf di antara keduanya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

‘Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah bagian dari syiar Allah.’

Imam Qurtubi menyebutkan di dalam kitab tafsirnya, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa setan-setan menyebar di antara Safa dan Marwah di sepanjang malam, di antara keduanya banyak terdapat berhala-berhala.
Ketika Islam datang, mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang melakukan sa’i di antara keduanya, maka turunlah ayat ini (Al Baqarah:158).

Asy-Sya’bi mengatakan, “Dahulu berhala Isaf berada di atas Safa, dan berhala Nailah berada di atas Marwah, mereka selalu mengusap keduanya.
Akhirnya mereka merasa berdosa sesudah masuk Islam untuk melakukan tawaf di antara keduanya.
Maka turunlah ayat ini (Al Baqarah:158).

Menurut kami, Muhammad ibnu Ishaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa berhala Isaf dan Nailah pada mulanya adalah dua orang manusia (laki-laki dan perempuan), lalu keduanya berzina di dalam Ka’bah, maka keduanya dikutuk menjadi batu.
Kemudian orang-orang Quraisy memancangkan keduanya di dekat Ka’bah untuk dijadikan sebagai pelajaran bagi orang lain.
Ketika masa berlalu cukup lama, keduanya disembah, kemudian letaknya dipindahkan ke Safa dan Marwah, lalu keduanya dipancangkan di tempat tersebut.
Setiap orang yang melakukan tawaf (sa’i) di antara Safa dan Marwah selalu mengusap keduanya.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Jabir yang cukup panjang, bahwa ketika Rasulullah ﷺ selesai dari tawafnya di Baitullah, maka beliau kembali ke rukun, lalu mengusapnya, kemudian keluar dari pintu Safa seraya membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.
Kemudian beliau ﷺ bersabda:

Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah (yakni dari Safa ke Marwah).

Di dalam riwayat Imam Nasai disebutkan:

Mulailah oleh kalian dengan apa yang dimulai oleh Allah!

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Abdullah Muammal, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Safiyyah binti Syaibah, dari Habibah binti Abu Tajrah yang menceritakan: Aku melihat Rasulullah ﷺ sa’i antara Safa dan Marwah, sedangkan orang-orang berada di bagian depannya dan beliau di belakang mereka seraya bersa’i, hingga aku melihat kedua lutut-nya, karena sa’inya yang kencang hingga kain sarungnya berputar seraya mengatakan, “Bersa’ilah kalian, karena sesungguhnya Allah telah memfardukan sa’i atas kalian.”

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan pula dari Abdur Razzaq yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Wasil maula Abu Uyaynah, dari Musa ibnu Ubaidah, dari Safiyyah binti Syaibah, bahwa ada seorang wanita menceritakan kepadanya, dia pernah mendengar Nabi ﷺ di antara Safa dan Marwah menyerukan: Telah difardukan atas kalian sa’i.
Karena ilu, bersa’ilah kalian!

Hadis ini dijadikan dalil oleh orang yang mengatakan bahwa sa’i antara Safa dan Marwah merupakan salah satu dari rukun ibadah haji, seperti yang dikatakan oleh mazhab Syafii dan para pengikutnya, dan menurut salah satu riwayat dari Imam Ahmad yang merupakan pendapat yang terkenal dari Imam Malik.

Menurut suatu pendapat, sa’i bukan rukun haji, tetapi hukumnya wajib.
Karena itu, barang siapa yang meninggalkannya —baik dengan sengaja atau lupa— ia dapat menggantinya dengan menyembelih kurban.
Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan dijadikan pegangan oleh segolongan ulama.

Menurut pendapat yang lain, sa’i hukumnya sunat.
Hal ini dikatakan oleh Imam Abu Hanifah, As’-Sauri, Asy-Sya’bi, dan Ibnu Sirin yang bersumberkan dari riwayat Anas, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas, juga diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitab Al-Utabiyyah.
Menurut Imam Qurtubi, alasan mereka mengatakannya sunat berdasarkan firman-Nya: Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati.
(Al Baqarah:158)

Akan tetapi, pendapat yang pertama lebih kuat karena Rasulullah ﷺ melakukan sa’i antara keduanya seraya mengucapkan:

Hendaklah kalian mengambil dariku manasik-manasik kalian.

Semua yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dalam hajinya itu hukumnya wajib dan harus dikerjakan dalam ibadah haji, kecuali hal-hal yang dikecualikan berdasarkan dalil.

Dalam keterangan terdahulu telah disebutkan sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Bersa’ilah kalian! Karena sesungguhnya Allah telah memfardukan sa’i atas kalian.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa sa’i antara Safa dan Marwah termasuk salah satu syiar Allah, yakni salah satu syiar yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dalam manasik haji.
Telah dijelaskan pula dalam hadis Ibnu Abbas bahwa asal mula hal tersebut diambil dari tawaf Siti Hajar, ia pulang pergi antara Safa dan Marwah dalam rangka mencari air untuk putranya ketika persediaan air dan bekal mereka habis setelah mereka ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam di tempat tersebut.
Sedangkan di tempat itu tidak ada seorang manusia pun selain mereka berdua.

Ketika Siti Hajar merasa khawatir terhadap kelangsungan hidup putranya di tempat itu karena perbekalannya telah habis, maka Siti Hajar meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala Ia mondar-mandir antara Safa dan Marwah seraya merendahkan diri, penuh dengan rasa takut kepada Allah dan sangat mengharapkan pertolongan-Nya, hingga Allah membebaskannya dari kesusahannya itu, dan mengusir rasa keterasingannya, melenyapkan kesengsaraannya, serta menganugerahkan kepadanya zamzam yang airnya merupakan makanan yang mengenyangkan dan obat penawar bagi segala penyakit.

Karena itu, orang yang melakukan sa’i di antara Safa dan Marwah hendaknya melakukannya dengan hati yang penuh harap kepada Allah, rendah diri dan memohon petunjuk serta perbaikan keadaannya, dan mengharapkan ampunan-Nya.
Hendaknya dia berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dibebaskan dari semua kekurangan dan aib yang ada pada dirinya, dan memohon hidayah-Nya akan jalan yang lurus.
Hendaknya dia memohon kepada Allah agar hatinya ditetapkan pada hidayah itu (Islam) hingga akhir hayatnya.
Hendaknya ia memohon kepada Allah agar Dia mengalihkan keadaan dirinya yang penuh dengan dosa dan kedurhakaan kepada keadaan yang sempurna, ampunan, keteguhan hati dalam menempuh jalan yang lurus, seperti apa yang dialami oleh Siti Hajar ‘alaihis salam

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati.

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah melakukan sa’i lebih dari yang telah diwajibkan, misalnya delapan kali putaran atau sembilan kali putaran.

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah melakukan sa’i di antara Safa dan Marwah dalam haji tatawwu’ (sunat) dan ‘umrah tatawwu’.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, makna yang dimaksud ialah melakukan tambahan kebaikan dalam semua jenis ibadah.
Semuanya diriwayatkan oleh Ar-Razi, dan pendapat yang ketiga dikaitkan dengan Al-Hasan Al-Basri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui

Yakni Allah memberi pahala kepada amal yang sedikit dan amal yang banyak tanpa pandang bulu, lagi Maha Mengetahui kadar pahala yang diberikan-Nya, maka tiada seorang pun dirugikan dalam menerima pahala dari-Nya.
Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang, walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.
(An Nisaa:40)

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 158
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri, berkata,
Urwah berkata:
Aku bertanya kepada Aisyah radliallahu anha, kataku kepadanya: Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta’ala (QS. Al Baqarah: 158) yang artinya: Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’iy antara keduanya, dan demi Allah tidak ada dosa bagi seseorang untuk tidak ber thawaf (sa’iy) antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah. Aisyah radliallahu anha berkata:
Buruk sekali apa yang kamu katakan itu wahai putra saudariku. Sesungguhnya ayat ini bila tafsirannya menurut pendapatmu tadi berarti tidak berdosa bila ada orang yang tidak melaksanakan sa’iy antara keduanya. Akan tetapi ayat ini turun berkenaan dengan Kaum Anshar, yang ketika mereka belum masuk Islam, mereka berniat haji untuk patung Manat Sang Thoghut yang mereka sembah di daerah Al Musyallal. Waktu itu, barangsiapa yang berniat haji, dia merasa berdosa bila harus sa’iy antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah (karena demi menghormatii patung mereka itu). Setelah mereka masuk Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang masalah itu, mereka berkata:
Wahai Rasulullah, kami merasa berdosa bila melaksanakan sa’iy antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah. Maka kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat Sesungguhnya Ash Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syi’ar-syi’ar Allah. Aisyah radliallahu anha berkata:
Sungguh Rasulullah ﷺ telah mencontohkan sa’iy antara kedua bukit tersebut dan tidak boleh seorang pun untuk meninggalkannya. Kemudian aku kabarkan hal ini kepada Abu Bakar bin Abdurrahman, maka katanya: Sungguh ini suatu ilmu yang aku belum pernah mendengar sebelumnya, padahal aku sudah mendengar dari orang-orang ahli ilmu yang menyebutkan bahwa diantara manusia, selain orang-orang yang diterangkan oleh Aisyah radliallahu anha itu, ada yang dahulu melaksanakan ihram untuk Manat, mereka juga melaksanakan sa’iy antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah. Ketika Allah menyebutkan thawaf di Ka’bah Baitullah tapi tidak menyebut sa’iy antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah dalam Al Qur’an, mereka bertanya kepada: Wahai Rasulullah, dahulu kami melaksanakan thawaf (sa’iy) antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah dan Allah telah menurunkan ayat tentang thawaf di Ka’bah Baitullah tanpa menyebut Ash Shafaa, apakah berdosa bagi kami bila kami sa’iy antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah?. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Abu Bakar bin Abdurrahman berkata:
Maka aku mendengar bahwa ayat ini turun untuk dua golongan orang yaitu golongan orang-orang yang merasa berdosa karena pernah melaksanakan sa’i antara bukit Ash Shafaa dan Al Marwah saat mereka masih jahiliyyah (karena pernah melaksanakan untuk patung Manat), dan golongan orang-orang yang pernah melaksanakannya namun merasa berdosa bila melaksanakannya kembali setelah masuk Islam karena Allah pada mulanya hanya menyebutkan thawaf di Ka’bah Baitullah dan tidak menyebut Ash-Shafaa hingga kemudian Dia menyebutkannya setelah memerintahkan thawaf di Ka’bah Baitullah.

Shahih Bukhari, Kitab Haji – Nomor Hadits: 1534

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 158

Imam Bukhari, imam muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari urwah, dia berkata,
” saya katakan kepada Aisyah istri Nabi ﷺ, perhatikanlah firman Allah ayat 158.
Saya kira tidak ada dosa bagi orang yang tidak melakukan sa’i di antara keduanya.
Maka Aisyah berkata,
’ buruk sekali yang kamu katakan itu wahai anak saudariku.
Seandainya makna ayat itu seperti yang engkau pahami, maka artinya, tidak ada dosa baginya untuk tidak melakukan sa’i daiantara keduanya.’ Akan tetapi ayat itu turun karena orang Anshar belum masuk Islam, melakukan sai diantara keduanya sambil menyebut-nyebut nama patung Manat sebagai sebuah prosesi ritual.
Setlah masuk Islam, mereka merasa keberatan untuk melakukan sai antara shafa dan marwah.
Maka mereka bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulallah, sesungguhnya kami tidak suka untuk melakukan sai antara shafa dan marwah pada masa jahiliah.
Maka allah menurunkan ayat ini.

Imam Bukhari meriwayatkan dari ashim bin sulaiman, dia berkata,
” saya bertanya kepada anas tentang shafa dan marwah.
Maka dia menjawab, ‘dulu keduanya bagian dari ritual jahiliah, ketika Islam datang, kami pun tidak melakukanya lagi.
Lalu Allah menurunkan ayat ini.
Al-Hakim meriwayatkan dari ibnu abbas, dia berkata,
” pada masa jahiliah, setan-setan bernyanyi sepanjang malam di antara shafa dan marwah .
dan dulu diantara keduanya terdapat sejumlah berhala yang disembah oleh orang Musyrik.
Ketikla Islam datang, orang-orang muslim berkata kepada Rasulullah,’ Ya Rasulullah, kami tidak akan melakukan sa’i antata shafa dan marwah karena kami melakukan hal itu pada masa jahiliah.
Maka turunlah ayat ini.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 158

SHAFAA
لصَّفَا

Arti asal lafaz shafaa ialah bersih dari kotoran. Batu yang licin dan halus juga disebut sebagai shafaa. Ia juga menjadi nama se­buah bukit yang berhampiran dengan Masjid Al Haram yaitu Bukit Shafa.

Lafaz shafaa hanya disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 158. Dalam ayat itu ditegaskan, melakukan sa’i antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali adalah se­ bahagian syariat yang ditetapkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim dalam perlaksanaan ibadah haji. Bukit Shafa terletak satu arah dengan sudut Hajarul Aswad pada Ka’bah.

Imam Ibn Katsir menerangkan, asal ibadah sa’i di antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah adalah perbuatan Sayyidah Hajar yang berlari-lari di antara kedua bukit itu bagi mencari air untuk anaknya, Isma’il yang masih bayi. Pada saat itu, beliau merasa rendah diri di hadapan Allah, takut, kuatir dan penuh harapan kepadanya sehingga Allah memberinya jalan keluar atas kesusahan dan kesedihannya dengan memberi sumber air zamzam yang airnya adalah makanan dan juga sebagai obat.

Atas dasar ini, bagi umat Islam yang melakukan sa’i di antara dua bukit itu hendaklah menghadirkan rasa rendah diri di hadapan Allah dan mengharap supaya hatinya mendapat petunjuk, perilakunya menjadi baik dan dosanya diampuni. Dia perlu menyandarkan harapan kepada Allah supaya dikeluarkan dari kekurangan dan kesalahan­ kesalahan serta diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan konsisten kepada kebenaran hingga akhir hayat. Dia juga berharap semoga keadaannya yang penuh dengan dosa dan maksiat berubah menuju keadaan yang sempurna, penuh keampunan, kebenaran dan istiqamah sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyidah Hajar.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:320-321

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 158 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 158



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku