Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 14 [QS. 2:14]

وَ اِذَا لَقُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚۖ وَ اِذَا خَلَوۡا اِلٰی شَیٰطِیۡنِہِمۡ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ ۙ اِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُوۡنَ
Wa-idzaa laquul-ladziina aamanuu qaaluuu aamannaa wa-idzaa khalau ila syayaathiinihim qaaluuu innaa ma’akum innamaa nahnu mustahzi-uun(a);
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata,
“Kami telah beriman.”
Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata,
“Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”
―QS. Al Baqarah [2]: 14

And when they meet those who believe, they say,
"We believe";
but when they are alone with their evil ones, they say,
"Indeed, we are with you;
we were only mockers."
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 14]

وَإِذَا dan apabila

And when
لَقُوا۟ mereka berjumpa

they meet
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
ءَامَنُوا۟ beriman

believe[d],
قَالُوٓا۟ mereka berkata

they say,
ءَامَنَّا kami telah beriman

"We believe[d]."
وَإِذَا dan apabila

But when
خَلَوْا۟ mereka kembali

they are alone
إِلَىٰ kepada

with
شَيَٰطِينِهِمْ syaitan-syaitan mereka

their evil ones,
قَالُوٓا۟ mereka berkata

they say,
إِنَّا sesungguhnya kami

"Indeed, we
مَعَكُمْ bersama kalian

(are) with you,
إِنَّمَا sesungguhnya hanyalah

only
نَحْنُ kami

we
مُسْتَهْزِءُونَ orang-orang yang berolok-olok

(are) mockers."

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:14

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 14. Oleh Kementrian Agama RI


Di antara sifat-sifat orang-orang munafik ialah bermuka dua.
Jika mereka bertemu dengan orang-orang Islam mereka menyatakan keislamannya, dengan demikian mereka memperoleh segala apa yang diperoleh kaum Muslimin pada umumnya.

Tapi bila berada di tengah teman-teman (setan-setan) mereka, mereka pun menjelaskan apa yang telah mereka lakukan itu sebenarnya hanyalah untuk memperdaya dan memperolok-olokkan kaum Muslimin.
Itikad mereka tidak berubah, mereka tetap dalam agama mereka.


Kata
"setan"
berasal dari kata syatana artinya
"jauh",
setan berarti
"yang amat jauh".
Orang-orang munafik itu dikatakan setan karena mereka amat jauh dari petunjuk Allah, jauh dari kebajikan dan kebaikan.

Setan itu mungkin berupa manusia atau jin, seperti tersebut dalam firman Allah ﷻ:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.
(al-An’am [6]: 112)

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 14. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Orang-orang munafik itu, jika bertemu dengan orang-orang Mukmin yang ikhlas akan berkata,
"Kami pun beriman seperti kalian.
Kami percaya akan kebenaran Rasul dan seruannya, dan kami satu akidah dengan kalian. "
Namun jika mereka berpisah dan kembali kepada golongan mereka yang mempunyai watak menyerupai setan dalam upaya memfitnah dan membuat kerusakan, mereka berkata,
"Kami bersama kalian di satu jalan dan dalam satu perbuatan.
Sungguh, apa yang kami katakan kepada orang-orang yang beriman hanyalah kami maksudkan untuk merendahkan dan mengejek mereka. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Apabila orang-orang munafik itu berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka akan berkata,
"Kami membenarkan Islam seperti kalian".
Namun bila mereka meninggalkan orang-orang mukmin dan berkumpul bersama para pembesar mereka dari kalangan orang-orang kafir yang sombong kepada Allah, mereka menyakinkan para pemimpin itu bahwa mereka di atas agama kekufuran dan tidak meninggalkannya.


Mereka mengucapkan hal itu kepada orang-orang mukmin hanya untuk merendahkan dan memperolok-olok orang-orang mukmin.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan jika mereka berjumpa) asalnya ‘laqiyuu’ lalu damah pada ya dibuang karena beratnya pada lidah berikut ya itu sendiri karena bertemunya dalam keadaan sukun dengan wau sehingga menjadi ‘laquu’


(dengan orang yang beriman, mereka berkata,
"Kami telah beriman."
Dan bila mereka telah berpisah) dengan orang-orang yang beriman dan kembali


(kepada setan-setan mereka) maksudnya pemimpin-pemimpin mereka.


(Kata mereka,
"Sesungguhnya kami ini bersama kamu) maksudnya sependirian dengan kamu dalam keagamaan,


(kami ini hanya berolok-olok.") dengan berpura-pura beriman.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Apabila orang-orang munafik bersua dengan orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami beriman’."
Mereka menampakkan kepada kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin.
Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabui kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat bagian ganimah dan kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.

Bilamana mereka kembali bersama setan-setannya.
Makna yang dimaksud ialah bilamana mereka kembali dan pergi dengan setan-setan mereka tanpa ada orang lain.
Lafaz khalau mengandung makna insarafu, yakni kembali, karena ia muta’addi dengan huruf ila untuk menunjukkan fi’il yang tidak disebutkan dan yang disebutkan.
Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa ila di sini bermakna ma’a, yakni apabila mereka berkumpul bersama setan mereka tanpa ada orang lain.
Akan tetapi, makna yang pertama lebih baik, yaitu yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir.

As-Saddi mengatakan dari Abu Malik, khalau artinya pergi menuju setan-setan mereka.
Syayatin artinya pemimpin dan pembesar atau kepala mereka yang terdiri atas kalangan pendeta Yahudi, pemimpin-pemimpin kaum musyrik dan kaum munafik.
As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud serta dari sejumlah sahabat Rasulullah ﷺ, bahwa yang dimaksud dengan setan-setan mereka dalam firman-Nya,
"Wa iza khalau ila syayatinihim,"
ialah para pemimpin kekufuran mereka.

Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah apabila mereka kembali kepada teman-temannya.
Teman-teman mereka disebut setan-setan mereka.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya,
"Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka,"
yakni yang terdiri atas kalangan orang-orang Yahudi, yaitu mereka yang menganjurkannya untuk berdusta dan menentang apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ

Mujahid mengatakan bahwa makna syayatinihim ialah teman-teman mereka dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang musyrik.

Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan syayatinihim ialah para pemimpin dan para panglima mereka dalam kemusyrikan dan kejahatan.
Hal yang semisal dikatakan pula oleh Abu Malik, Abul Aliyah, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa syayatin artinya segala sesuatu yang membangkang.
Adakalanya setan itu terdiri atas kalangan manusia dan jin, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
(QS. Al-An’am [6]: 112)

Di dalam kitab Musnad disebutkan sebuah hadis dari Abu Zar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:


"Kami berlindung kepada Allah dari setan-setan manusia dan setan-setan jin."
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah manusia itu ada yang menjadi setan?"
Nabi ﷺ menjawab, ‘Ya."

Qalu inna ma’akum, mereka mengatakan,
"Sesungguhnya kami bersama kalian."
Menurut Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa maknanya ialah
"sesungguhnya kami sependirian dengan kalian".
Innama nahnu mustahziun, sesungguhnya kami hanya mengajak mereka dan mempermainkan mereka.

Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas.
Mereka mengatakan,
"Sesungguhnya kami hanya mengolok-olok dan mengejek teman-teman Muhammad."
Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Qatadah.

Sebagai bantahan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap perbuatan orang-orang munafik itu, maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Ibnu Jarir mengatakan, Allah subhanahu wa ta’ala memberhahukan bahwa Dialah yang akan melakukan pembalasan terhadap orang-orang munafik itu kelak di hari kiamat, seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman,
"Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian."
Dikatakan (kepada mereka),
"Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk kalian)."
Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu.
Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
(QS. Al-Hadid [57]: 13)

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka.
Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 178)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal ini dan yang serupa dengannya merupakan ejekan, penghinaan, makar, dan tipu muslihat Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang-orang munafik dan orang-orang musyrik, menurut orang yang menakwilkan ayat ini dengan pengertian tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan pula, bahwa ulama lainnya mengatakan bahwa ejekan Allah terhadap mereka berupa celaan dan penghinaan Allah terhadap mereka karena mereka telah berbuat durhaka dan kafir kepada-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan pula,
"Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa ungkapan seperti ini dan yang semisal merupakan ungkapan pembalikan."
Perihalnya sama dengan ucapan seseorang terhadap orang yang menipunya bila ternyata ia dapat membalikkan tipuan lawannya,
"Justru akulah yang telah menipumu (bukan kamu yang menipuku)."
Akan tetapi, dalam hakikatnya Allah tidak melakukan tipuan, melainkan Dia mengatakan hal tersebut hanya semata-mata menggambarkan tentang akibat dari apa yang diperbuat mereka.
Para ulama yang berpendapat seperti ini mengatakan bahwa hal yang sama terdapat pula di dalam firman-Nya:

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu.
Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 54)

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka.

Hal tersebut merupakan jawaban semata, karena sesungguhnya Allah tidak melakukan makar dan tidak pula ejekan.
Dengan kata lain, makna yang dimaksud ialah bahwa makar dan tipu daya mereka itu justru menimpa diri mereka sendiri (barang siapa menggali lubang, dia sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya).

Ulama lainnya mengatakan bahwa firman-Nya:

Sesungguhnya kami hanyalah berolok-olok.
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka.


Mereka (orang-orang munafik) menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
(QS. An-Nisa’ [4]: 142)

Maka orang-orang munafik itu menghina mereka.
Allah akan membalas penghinaan mereka.
(QS. At-Taubah [9]: 79)

Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.
(QS. At-Taubah [9]: 67)

Demikian pula ayat-ayat lainnya yang semakna, semuanya merupakan berita dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Dia pasti akan memberikan balasan terhadap mereka dengan balas memperolok-olokkan dan menyiksa mereka dengan siksaan tipuan, sebagaimana tipuan yang telah mereka lakukan.
Kemudian berita mengenai balasan Allah dan siksaan-Nya kepada mereka diungkapkan dengan gaya bahasa yang sama dengan perbuatan mereka yang menyebabkan mereka berhak mendapat siksaan-Nya, hanya dari segi lafaznya saja, tetapi maknanya berbeda.
Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya:

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.
(QS. Asy Shyuura [42]: 40)

Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian.
(QS. Al-Baqarah [2]: 194)

Makna pertama mengandung pengertian perbuatan aniaya, sedangkan makna yang kedua mengandung pengertian keadilan.
Lafaz yang dipakai pada keduanya sama, tetapi makna yang dimaksud berbeda, berdasarkan pengertian inilah semua makna yang sejenis di dalam Alquran diartikan dengan pengertian seperti ini.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya makna yang dimaksud ialah bahwa Allah memberitakan perihal orang-orang munafik, apabila mereka berkumpul dengan pemimpin-pemimpinnya, mereka mengatakan,
"Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian dalam mendustakan Muhammad dan apa yang didatangkannya.
Sesungguhnya kata-kata yang kami ucapkan dan sikap yang kami perlihatkan kepada mereka hanyalah mengolok-olokkan mereka."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa Dia membalas mengolok-olok mereka.
Untuk itu, Allah menampakkan kepada mereka sebagian dari hukumhukum-Nya di dunia, yaitu darah mereka terpelihara, begitu pula harta benda mereka, padahal hal itu kebalikan dari apa yang akan terjadi pada diri mereka kelak di hari kemudian di sisi-Nya, yaitu azab dan siksaan.

Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan alasan dukungannya terhadap pendapat ini, mengingat tipu daya, makar, dan olok-olokan secara main-main dan tidak ada gunanya merupakan hal yang mustahil akan dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala menurut kesepakatan semua.
Bila hal tersebut diartikan sebagai pembalasan dan ganjaran-ganjaran yang setimpal secara adil, dapatlah dimengerti.

Ibnu Jarir mengatakan, ada sebuah riwayat yang sependapat dengan apa yang telah kami katakan, diketengahkan dari sahabat Ibnu Abbas.
Di dalam riwayat ini disebutkan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Usman, telah menceritakan kepada kami Bisyr, dari Abu Rauq, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya,
"Allahu yastahzi-u bihim,"
artinya Allah memperolok-olok mereka sebagai pembalasan-Nya terhadap tindakan mereka.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 14

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan ats-Tsa’labi, dari Muhammad bin Marwan dan as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Sanad hadits ini sangat daif, karena as-Suddish Saghir itu seorang pendusta, serta al-Kalbi dan Abu Shalih itu daif.
Bahwa firman Allah, wa idzaa laqul ladziina aamanuu…(dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman…) (Al-Baqarah: 14) diturunkan berkenaan dengan ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, dalam peristiwa sebagai berikut:

Pada suatu hari saat mereka bertemu dengan beberapa shahabat Nabi ﷺ, ‘Abdullah bin Ubay berkata kepada teman-temannya: “Lihatlah, bagaimana caraku mempermainkan mereka yang bodoh-bodoh ditu.” Ia pun mendekat dan menjabat tangan Abu Bakr sambil berkata: “Selamat Penghulu Islam, orang kedua beserta Rasulullah di Gua (Tsaur), dan yang mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah.”

Kemudia ia menjabat tangan ‘Umar sambil berkata: “Selamat Penghulu Rasulullah.”

Kemudian ia menjabat tangan ‘Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Selamat Penghulu Rasulullah.” Setelah itu merekapun berpisah.
Berkatalah ‘Abdullah bin Ubay kepada kawan-kawannya: “Sebagaimana kamu lihat perbuatanku tadi, jika kamu bertemu dengan mereka, berbuatlah seperti apa yang aku lakukan.” Kawan-kawannyapun memuji-muji ‘Abdullah bin Ubay.
Setibanya kaum Muslimin (Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Ali) di hadapan Rasulullah ﷺ, mereka memberitahukan peristiwa tadi.
Maka turunlah ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 14).
Ayat ini membeberkan kepalsuan golongan munafik dalam menghadapi kaum Muslimin.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 14

SYAYAATHIIN
شَيَٰطِين

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya syaithan. Diambil dari kata akar syathana yasythanu.

Syathanatad daar berarti rumah itu jauh.

Syatanar rajul berarti lelaki itu jauh dari kebenaran.

Syatanahu artinya menyimpang dari niatnya.

Syatana fil ardh berarti masuk.

Lafaz ini diambil dari kata akar syathaa yang bermakna melakukan kerusakan atau terbakar.

Lafaz syaithaan mengandung makna Ubaidah berkata,
syaithaan adalah nama bagi setiap yang kuat dan melampaui batas terdiri dari jin, manusia dan hewan.

Lafaz syayaathiin disebut 18 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 14, 102, 102;
-Al An’aam (6), ayat 71, 112, 121;
-Al A’raaf (7), ayat 27, 30;
Al Israa (17), ayat 27;
Maryam (19), ayat 68, 83;
-Al Anbiyaa (21), ayat 82;
-Al Mu’minuun (23), ayat 97;
-Asy Syuaraa (26), ayat 210, 221;-
-Ash Shaffaat (37), ayat 65;
Al Mulk (67), ayat 5.
Sedangkan lafaz syaithaan yaitu dalam bentuk mufrad disebut 70 kali.

Al Fayruz dan Al Damaghani berpendapat, lafaz syayaathiin dan juga syaithaan di dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna yaitu:

– Asy syayaathiin bermakna kiasan bagi orang yang durhaka atau pemimpin-pemimpin kaum munafik.
Dalam surah Al Baqarah (2) ayat 14 yang artinya, "Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka,"

– Ia bermakna ular sebagaimana dalam surah Ash Shaffaat yang bermakna, "Bawahnya seolah-olah kepala-kepala syaitan atau separti kepala ular.

– Asy syayaathiin adalah penzalim dan pendakyah kepada kesesatan terdiri dari jin dan manusia separti makna dalam surah Al An’aam (6), ayat 112 yang bermakna, "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari syaitan-syaitan manusia dan jin"

– Asy syayaathiinbermakna iblis dan anakanaknya.
Contohnya dalam surah Al Mu’minuun (23), ayat 97, yang berarti, "Dan katakanlah, "Wahai Tuhanku! Aku berlindung kepadamu dari hasutan syaitan-syaitan"

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 314-315

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 14 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 14 - Gambar 2
Statistik QS. 2:14
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.6 (14 votes)
Tags:

2:14, 2 14, 2-14, Surah Al Baqarah 14, Tafsir surat AlBaqarah 14, Quran Al-Baqarah 14, Surah Al Baqarah ayat 14

▪ al baqarah 14
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 21 [QS. 17:21]

Kemudian Allah menyatakan kepada kedua golongan itu, “Perhatikanlah dan ambillah pelajaran bagimu bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, dari kesenangan duniawi maupun k … 17:21, 17 21, 17-21, Surah Al Israa 21, Tafsir surat AlIsraa 21, Quran Al Isra 21, Al-Isra’ 21, Surah Al Isra ayat 21

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 196 [QS. 7:196]

Sangat buruk perumpamaan keadaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami karena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuannya, bahkan berbuat zalim. Dengan mengingkari kebenaran, mereka sebenarnya ti … 7:196, 7 196, 7-196, Surah Al A’raaf 196, Tafsir surat AlAraaf 196, Quran Al Araf 196, Al-A’raf 196, Surah Al Araf ayat 196

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ہٰذَا بَصَآئِرُ لِلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃٌ لِّقَوۡمٍ یُّوۡقِنُوۡنَ

(Alquran) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
--QS. 45:20

+

Array

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang muttaqin (bertakwa),
--QS. 2:2

Pendidikan Agama Islam #6
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #6 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #6 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #22

Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah … bersikap santai bersikap ikhlas menyadari dan menerima keadaan

Pendidikan Agama Islam #9

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … senantiasa belajar dan menuntut ilmu untuk kepentingan akhirat membela kebenaran meskipun itu dirasa pahit

Pendidikan Agama Islam #4

Aurat dari tubuh pria adalah mulai … leher sampai perut dari siku ke lutut dari pusar ke lutut seluruh tubuh

Instagram