Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 surah 2 ayat 255 juga bisa langsung diakses di URL risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 14


وَ اِذَا لَقُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚۖ وَ اِذَا خَلَوۡا اِلٰی شَیٰطِیۡنِہِمۡ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ ۙ اِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُوۡنَ
Wa-idzaa laquul-ladziina aamanuu qaaluuu aamannaa wa-idzaa khalau ila syayaathiinihim qaaluuu innaa ma’akum innamaa nahnu mustahzi-uun(a);

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:
“Kami telah beriman”.
Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:
“Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
―QS. 2:14
Topik ▪ Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia
2:14, 2 14, 2-14, Al Baqarah 14, AlBaqarah 14, Al-Baqarah 14
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 14. Oleh Kementrian Agama RI

Di antara sifat-sifat orang-orang munafik yang buruk ialah bermuka dua.
Jika mereka bertemu dengan orang-orang Islam mereka menyatakan keislamannya, dengan demikian mereka memperoleh segala apa yang diperoleh kaum muslimin pada umumnya, tapi bila berada di tengah teman-teman (setan setan) mereka, mereka pun menjelaskan apa yang telah mereka lakukan itu sebenarnya hanyalah untuk memperdaya dari memperolok-olokkan kaum muslimin.
Iktikad mereka tidak berubah, mereka tetap dalam agama mereka.

Kata setan berasal dari kata syaitana.
artinya jauh.
Setan berarti yang amat jauh.
Orang-orang munafik itu dikatakan setan karena mereka amat jauh dari petunjuk Allah, jauh dan kebaikan.
Setan itu mungkin berupa manusia atau jin, seperti tersebut dalam Firman Allah subhanahu wa ta’ala

Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh-musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
(Q.S Al An’am: 112)

Al Baqarah (2) ayat 14 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 14 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 14 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang munafik itu, jika bertemu dengan orang-orang Mukmin yang ikhlas akan berkata, “Kami pun beriman seperti kalian.
Kami percaya akan kebenaran Rasul dan seruannya, dan kami satu akidah dengan kalian.” Namun jika mereka berpisah dan kembali kepada golongan mereka yang mempunyai watak menyerupai setan dalam upaya memfitnah dan membuat kerusakan, mereka berkata, “Kami bersama kalian di satu jalan dan dalam satu perbuatan.
Sungguh, apa yang kami katakan kepada orang-orang yang beriman hanyalah kami maksudkan untuk merendahkan dan mengejek mereka.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan jika mereka berjumpa) asalnya ‘laqiyuu’ lalu damah pada ya dibuang karena beratnya pada lidah berikut ya itu sendiri karena bertemunya dalam keadaan sukun dengan wau sehingga menjadi ‘laquu’ (dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka telah berpisah) dengan orang-orang yang beriman dan kembali (kepada setan-setan mereka) maksudnya pemimpin-pemimpin mereka.
(Kata mereka, “Sesungguhnya kami ini bersama kamu) maksudnya sependirian dengan kamu dalam keagamaan, (kami ini hanya berolok-olok.”) dengan berpura-pura beriman.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila orang-orang munafik itu berjumpa dengan orang-orang mukmin,mereka akan berkata,Kami mempercayai Islam seperti kalian.
Namun bila mereka meninggalkan orang-orang mukmin dan berkumpul bersama para tokoh mereka dari kalangan orang-orang kafir yang bengal di hadapan Allah, mereka bersumpah bahwa mereka di atas agama kekufuran dan tidak meninggalkannya.
Mereka mengucapkan hal itu kepada orang-orang mukmin hanya untuk merendahkan dan memperolok-olok orang-orang mukmin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Apabila orang-orang munafik bersua dengan orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami beriman’.” Mereka menampakkan kepada kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin.
Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabui kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat bagian ganimah dan kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.

Bilamana mereka kembali bersama setan-setannya.
Makna yang dimaksud ialah bilamana mereka kembali dan pergi dengan setan-setan mereka tanpa ada orang lain.
Lafaz khalau mengandung makna insarafu, yakni kembali, karena ia muta’addi dengan huruf ila untuk menunjukkan fi’il yang tidak disebutkan dan yang disebutkan.
Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa ila di sini bermakna ma’a, yakni apabila mereka berkumpul bersama setan mereka tanpa ada orang lain.
Akan tetapi, makna yang pertama lebih baik, yaitu yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir.

As-Saddi mengatakan dari Abu Malik, khalau artinya pergi menuju setan-setan mereka.
Syayatin artinya pemimpin dan pembesar atau kepala mereka yang terdiri atas kalangan pendeta Yahudi, pemimpin-pemimpin kaum musyrik dan kaum munafik.
As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud serta dari sejumlah sahabat Rasulullah ﷺ, bahwa yang dimaksud dengan setan-setan mereka dalam firman-Nya, “Wa iza khalau ila syayatinihim,” ialah para pemimpin kekufuran mereka.

Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah apabila mereka kembali kepada teman-temannya.
Teman-teman mereka disebut setan-setan mereka.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, “Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka,” yakni yang terdiri atas kalangan orang-orang Yahudi, yaitu mereka yang menganjurkannya untuk berdusta dan menentang apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ

Mujahid mengatakan bahwa makna syayatinihim ialah teman-teman mereka dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang musyrik.

Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan syayatinihim ialah para pemimpin dan para panglima mereka dalam kemusyrikan dan kejahatan.
Hal yang semisal dikatakan pula oleh Abu Malik, Abul Aliyah, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa syayatin artinya segala sesuatu yang membangkang.
Adakalanya setan itu terdiri atas kalangan manusia dan jin, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
(Al An’am:112)

Di dalam kitab Musnad disebutkan sebuah hadis dari Abu Zar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Kami berlindung kepada Allah dari setan-setan manusia dan setan-setan jin.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah manusia itu ada yang menjadi setan?”
Nabi ﷺ menjawab, ‘Ya.”

Qalu inna ma’akum, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami bersama kalian.” Menurut Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa maknanya ialah “sesungguhnya kami sependirian dengan kalian”.
Innama nahnu mustahziun, sesungguhnya kami hanya mengajak mereka dan mempermainkan mereka.

Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas.
Mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya mengolok-olok dan mengejek teman-teman Muhammad.” Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Qatadah.

Sebagai bantahan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap perbuatan orang-orang munafik itu, maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Ibnu Jarir mengatakan, Allah subhanahu wa ta’ala memberhahukan bahwa Dialah yang akan melakukan pembalasan terhadap orang-orang munafik itu kelak di hari kiamat, seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Dikatakan (kepada mereka), “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk kalian).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu.
Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
(Al Hadiid:13)

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka.
Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka.
(Ali Imran:178)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal ini dan yang serupa dengannya merupakan ejekan, penghinaan, makar, dan tipu muslihat Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang-orang munafik dan orang-orang musyrik, menurut orang yang menakwilkan ayat ini dengan pengertian tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan pula, bahwa ulama lainnya mengatakan bahwa ejekan Allah terhadap mereka berupa celaan dan penghinaan Allah terhadap mereka karena mereka telah berbuat durhaka dan kafir kepada-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan pula, “Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa ungkapan seperti ini dan yang semisal merupakan ungkapan pembalikan.” Perihalnya sama dengan ucapan seseorang terhadap orang yang menipunya bila ternyata ia dapat membalikkan tipuan lawannya, “Justru akulah yang telah menipumu (bukan kamu yang menipuku).” Akan tetapi, dalam hakikatnya Allah tidak melakukan tipuan, melainkan Dia mengatakan hal tersebut hanya semata-mata menggambarkan tentang akibat dari apa yang diperbuat mereka.
Para ulama yang berpendapat seperti ini mengatakan bahwa hal yang sama terdapat pula di dalam firman-Nya:

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu.
Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
(Ali Imran:54)

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka.

Hal tersebut merupakan jawaban semata, karena sesungguhnya Allah tidak melakukan makar dan tidak pula ejekan.
Dengan kata lain, makna yang dimaksud ialah bahwa makar dan tipu daya mereka itu justru menimpa diri mereka sendiri (barang siapa menggali lubang, dia sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya).

Ulama lainnya mengatakan bahwa firman-Nya:

Sesungguhnya kami hanyalah berolok-olok.
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka.

Mereka (orang-orang munafik) menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
(An Nisaa:142)

Maka orang-orang munafik itu menghina mereka.
Allah akan membalas penghinaan mereka.
(At Taubah:79)

Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.
(At Taubah:67)

Demikian pula ayat-ayat lainnya yang semakna, semuanya merupakan berita dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Dia pasti akan memberikan balasan terhadap mereka dengan balas memperolok-olokkan dan menyiksa mereka dengan siksaan tipuan, sebagaimana tipuan yang telah mereka lakukan.
Kemudian berita mengenai balasan Allah dan siksaan-Nya kepada mereka diungkapkan dengan gaya bahasa yang sama dengan perbuatan mereka yang menyebabkan mereka berhak mendapat siksaan-Nya, hanya dari segi lafaznya saja, tetapi maknanya berbeda.
Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya:

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.
(Asy Syuura:40)

Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian.
(Al Baqarah:194)

Makna pertama mengandung pengertian perbuatan aniaya, sedangkan makna yang kedua mengandung pengertian keadilan.
Lafaz yang dipakai pada keduanya sama, tetapi makna yang dimaksud berbeda, berdasarkan pengertian inilah semua makna yang sejenis di dalam Al-Qur’an diartikan dengan pengertian seperti ini.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya makna yang dimaksud ialah bahwa Allah memberitakan perihal orang-orang munafik, apabila mereka berkumpul dengan pemimpin-pemimpinnya, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian dalam mendustakan Muhammad dan apa yang didatangkannya.
Sesungguhnya kata-kata yang kami ucapkan dan sikap yang kami perlihatkan kepada mereka hanyalah mengolok-olokkan mereka.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa Dia membalas mengolok-olok mereka.
Untuk itu, Allah menampakkan kepada mereka sebagian dari hukum-hukum-Nya di dunia, yaitu darah mereka terpelihara, begitu pula harta benda mereka, padahal hal itu kebalikan dari apa yang akan terjadi pada diri mereka kelak di hari kemudian di sisi-Nya, yaitu azab dan siksaan.

Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan alasan dukungannya terhadap pendapat ini, mengingat tipu daya, makar, dan olok-olokan secara main-main dan tidak ada gunanya merupakan hal yang mustahil akan dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala menurut kesepakatan semua.
Bila hal tersebut diartikan sebagai pembalasan dan ganjaran-ganjaran yang setimpal secara adil, dapatlah dimengerti.

Ibnu Jarir mengatakan, ada sebuah riwayat yang sependapat dengan apa yang telah kami katakan, diketengahkan dari sahabat Ibnu Abbas.
Di dalam riwayat ini disebutkan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Usman, telah menceritakan kepada kami Bisyr, dari Abu Rauq, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, “Allahu yastahzi-u bihim,” artinya Allah memperolok-olok mereka sebagai pembalasan-Nya terhadap tindakan mereka.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 14

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan ats-Tsa’labi, dari Muhammad bin Marwan dan as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Sanad hadits ini sangat daif, karena as-Suddish Saghir itu seorang pendusta, serta al-Kalbi dan Abu Shalih itu daif.
Bahwa firman Allah, wa idzaa laqul ladziina aamanuu…(dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman…) (Al-Baqarah: 14) diturunkan berkenaan dengan ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, dalam peristiwa sebagai berikut: Pada suatu hari saat mereka bertemu dengan beberapa shahabat Nabi ﷺ, ‘Abdullah bin Ubay berkata kepada teman-temannya: “Lihatlah, bagaimana caraku mempermainkan mereka yang bodoh-bodoh ditu.” Ia pun mendekat dan menjabat tangan Abu Bakr sambil berkata: “Selamat Penghulu Bani Taim dan Syaikhul Islam, orang kedua beserta Rasulullah di Gua (Tsaur), dan yang mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah.” Kemudia ia menjabat tangan ‘Umar sambil berkata: “Selamat Penghulu Bani ‘Adi bin Ka’b, yang mendapat gelaran al-Faruuq, yang kuat memegang agama Allah, yang mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah.” Kemudian ia menjabat tangan ‘Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Selamat Penghulu Bani Hasyim sesudah Rasulullah.” Setelah itu merekapun berpisah.
Berkatalah ‘Abdullah bin Ubay kepada kawan-kawannya: “Sebagaimana kamu lihat perbuatanku tadi, jika kamu bertemu dengan mereka, berbuatlah seperti apa yang aku lakukan.” Kawan-kawannyapun memuji-muji ‘Abdullah bin Ubay.
Setibanya kaum Muslimin (Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Ali) di hadapan Rasulullah ﷺ, mereka memberitahukan peristiwa tadi.
Maka turunlah ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 14).
Ayat ini membeberkan kepalsuan golongan munafik dalam menghadapi kaum Muslimin.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 14

SYAYAATHIIN
شَيَٰطِين

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya syaithan. Diambil dari kata akar syathana­ yasythanu.

Syathanatad daar berarti rumah itu jauh.

Syatanar rajul berarti lelaki itu jauh dari kebenaran.

Syatanahu artinya menyimpang dari niatnya.

Syatana fil ardh berarti masuk.

Lafaz ini diambil dari kata akar syathaa yang bermakna melakukan kerusakan atau terbakar.

Lafaz syaithaan mengandung makna roh yang jahat. Dinamakan demikian karena ia jauh dari kebenaran dan kebaikan.”

Abu Ubaidah berkata,
syaithaan adalah nama bagi setiap yang kuat dan melampaui batas terdiri dari jin, manusia dan hewan.

Lafaz syayaathiin disebut 18 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 14, 102, 102;
-Al An’aam (6), ayat 71, 112, 121;
-Al A’raaf (7), ayat 27, 30;
-Al Israa (17), ayat 27;
-Maryam (19), ayat 68, 83;
-Al Anbiyaa (21), ayat 82;
-Al Mu’minuun (23), ayat 97;
-Asy Syuaraa (26), ayat 210, 221;-
-Ash Shaffaat (37), ayat 65;
-Shad (38), ayat 37;
-Al Mulk (67), ayat 5.

Sedangkan lafaz syaithaan yaitu dalam bentuk mufrad disebut 70 kali.

Al Fayruz dan Al Damaghani berpendapat, lafaz syayaathiin dan juga syaithaan di dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna yaitu:

– Asy syayaathiin bermakna kiasan bagi orang yang durhaka atau pemimpin-­pemimpin kaum munafik. Dalam surah Al Baqarah (2) ayat 14 yang artinya, “Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka,”

– Ia bermakna ular sebagaimana dalam surah Ash Shaffaat yang bermakna, “Bawahnya seolah-olah kepala-kepala syaitan atau separti kepala ular.

– Asy syayaathiin adalah penzalim dan pendakyah kepada kesesatan terdiri dari jin dan manusia separti makna dalam surah Al An’aam (6), ayat 112 yang bermakna, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari syaitan-syaitan manusia dan jin”

– Asy syayaathiinbermakna iblis dan anak­anaknya. Contohnya dalam surah Al Mu’minuun (23), ayat 97, yang berarti, “Dan katakanlah, “Wahai Tuhanku! Aku berlindung kepadamu dari hasutan syaitan-syaitan”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:314-315

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (8-20) - Indonesian - Dian Sastrowardoyo
QS 2 Al-Baqarah (8-20) - Arabic - Dian Sastrowardoyo


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 14 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 14



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (14 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku