QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 139 [QS. 2:139]

قُلۡ اَتُحَآجُّوۡنَنَا فِی اللّٰہِ وَ ہُوَ رَبُّنَا وَ رَبُّکُمۡ ۚ وَ لَنَاۤ اَعۡمَالُنَا وَ لَکُمۡ اَعۡمَالُکُمۡ ۚ وَ نَحۡنُ لَہٗ مُخۡلِصُوۡنَ
Qul atuhaajjuunanaa fiillahi wahuwa rabbunaa warabbukum walanaa a’maalunaa walakum a’maalukum wanahnu lahu mukhlishuun(a);

Katakanlah:
“Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,
―QS. 2:139
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menanggung dosa orang lain ▪ Bangsa Yahudi menyembunyikan kebenaran
2:139, 2 139, 2-139, Al Baqarah 139, AlBaqarah 139, Al-Baqarah 139

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 139

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 139. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Wajiblah manusia mengikuti agama kami, karena nabi berasal dari kami, agama diturunkan atas kami, tidak pernah ada (dijanjikan) nabi-nabi dan agama kepada orang Arab.” Maka Allah menolak pendapat mereka dengan ayat ini.

Dengan ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjawab pengakuan orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan menegaskan bahwa tiada alasan bagi mereka mengatakan yang demikian.
Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan semesta alam, Pencipta dan Pemilik seluruh makhluk.
Derajat manusia bukan diukur dengan bangsa, keturunan dan pangkatnya, tetapi diukur dengan amal dan perbuatannya.
Bekas perbuatan itu nampak pada diri setiap manusia dan tingkah lakunya.
Perbuatan yang baik memberi bekas yang baik, sebaliknya perbuatan yang buruk memberi bekas yang buruk pula.
Hanya Allahlah yang dapat menilai dan menghisab perbuatan itu.

Bekas perbuatan buruk pada orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tergambar di dalam ucapan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka.
Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 111)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka berkata, “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi dan Nasrani niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus.
Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang musyrik.”

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 135)

Akhir ayat ini menegaskan bahwa agama yang benar itu ialah agama yang berasaskan tauhid, agama yang memurnikan ketaatan kepada Allah semata.
Agama itulah yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
untuk seluruh manusia hingga akhir zaman.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan memperdebatkan kami tentang Allah karena Dia tidak memilih seorang Nabi pun selain dari kaum kalian?
Padahal Dia adalah Tuhan kalian, Tuhan segala sesuatu, bukan hanya Tuhan sekelompok kaum.
Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki dan memberi balasan setiap manusia sesuai perbuatan masing-masing tanpa memandang keturunan ataupun derajat mereka.
Allah telah memberikan petunjuk bagi amal perbuatan kami dan mengaruniai kami jiwa yang ikhlas.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah) kepada mereka! (“Apakah kamu hendak memperbantahkan) dengan kami (tentang Allah) karena Dia memilih seorang nabi dari kalangan Arab?
(Padahal Dia adalah Tuhan kamu) dan berhak memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya (dan bagi kamu amalan kamu) dan kamu akan memperoleh balasannya pula dan tidak mustahil jika di antara amal-amalan kami itu ada yang patut menerima ganjaran istimewa (dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan) agama dan amalan kami, berbeda halnya dengan kamu, sehingga sepatutnyalah kami yang dipilih-Nya.

‘Hamzah’ atau ‘apakah’ di atas, maksudnya menolak, sedangkan ketiga kalimat di belakang berarti ‘hal’.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah wahai Rasul kepada ahli kitab, Apakah kalian mendebat kami tentang tauhid Allah dan keikhlasan kepada-Nya, padahal Dia adalah Rabb semesta alam seluruhnya, bikan monopoli suatu kaum dari kaum yang lain?
Bagi kami amal perbuatan kami dan bagi kalian amal perbuatan kalian.
Kami mengikhlaskan ibadah dan ketaatan kepada Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan kami tidak menyembah selain-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Melalui ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada Nabi-Nya bagaimana cara menangkis hujah orang-orang musyrik.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah, “Apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah!”

Maksudnya, apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang mengesakan Allah, ikhlas kepada-Nya, taat dan mengikuti semua perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya?

padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian.

Yakni Dialah yang mengatur kami dan juga kalian, Dia pula yang berhak di sembah secara ikhlas sebagai Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.

Bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian.

Dengan kata lain, kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah, dan kalian berlepas diri dari kami.
Makna ayat ini sama dengan apa yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku, dan bagi kalian pekerjaan kalian.
Kalian berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Yunus [10]: 41)

Kemudian jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah, “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 20), hingga akhir ayat.

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam melalui firman-Nya:

Dan dia dibantah oleh kaumnya.
Dia berkata, “Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah! (Q.S. Al-An’am [6]: 80), hingga akhir ayat.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman pula:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah).(Q.S. Al-Baqarah [2]: 258), hingga akhir ayat.

Di dalam ayat berikut ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Bagi kami amalan kami, dan bagi kalian amalan kalian, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.

Yakni ikhlas dalam ibadah dan menghadap kepada-Nya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 139

A’MAAL
أَعْمَٰل

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari ‘amal yang bermakna pekerjaan dan perbuatan.

Dalam Kamus Al Munjid dijelaskan, ‘amal adalah perbuatan yang disengaja atau dengan maksud.

A’maal mencakup perbuatan hati dan anggota badan, ia mengisyaratkan perbuatan yang berterusan, sebagaimana Allah menerangkan, ya’maluuna lahuu maa yasyaa.

Al Kafawi menyatakan, perbuatan itu dikatakan ‘amaal apabila ia terbit dari fikiran dan renungan. Oleh karena itu, ia dikaitkan dengan ‘ilm, sehingga sebagian sastrawan berkata,
lafaz ‘amaal adalah perkataan terbalik dari lafaz ‘ilm. Hal ini mengisyaratkan amal adalah sebahagian dari ilmu. ‘Ilm juga adalah sumber af’al atau perbuatan.

Al ‘amal (amalan) adalah natijah yang timbul dari al ‘amil (orang yang melaksanakan amal itu), sama kedudukannya seperti Al Hukm (hukum) yaitu hasil dari ‘illah (sebab timbulnya hukum itu).”

Lafaz a’maal disebut sebanyak 41 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah :
-Al Baqarah (2), ayat 139, 139, 167, 217;
-Ali Imran (3), ayat 22;
-Al Maa’idah (5), ayat 53;
-Al A’raaf (7), ayat 147;
-Al Anfaal (8), ayat 48;
-At Taubah (9), ayat 17, 37, 69;
-Hud (11), ayat 15, 111;
-Ibrahim (14), ayat 18;
-An Nahl (16), ayat 63,
-Al Kahfi (18), ayat 103, 105;
-Al Mu’minuun (23), ayat 63;
-An Nuur (24), ayat 39;
-An Naml (27), ayat 4, 24;
-Al Qashash (28), ayat 55;
-Al­ ‘Ankaabut (29) ayat 38,
-Al Ahzab (33) ayat 19, 71;
-Asy Syuura (42) ayat 15;
-Al Ahqaaf (46) ayat 19;
-Muhammad (47) ayat 1, 4, 8, 9, 28, 30, 32, 33, 35;
-Al Hujurat (49) ayat 2, 14;
-Al Zalzalah (99) ayat 6.

Al Qurtubi ketika menafsirkan ayat 217 surah Al Baqarah:

“Dan siapa yang murtad di antara kamu, maka mereka itu sia-sia amalan­ amalannya di dunia dan di akhirat.”

Beliau mengutip penjelasan Ar Rabi’ “Perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, neraka adalah wajib bagi mereka”

Ibn Mas’ud dan As Suddi pula berkata,
“Perbuatan-perbuatan baik yang mereka tinggalkan akan menjauhkan mereka dari syurga. Amalan-amalan baik disandarkan kepada mereka karena mereka disuruh melakukannya, sedangkan amalan­ amalan jahat disandarkan kepada mereka karena mereka melakukannya'”

At Tabari ketika menjelaskan tafsir surah Al Zalzalah, beliau berkata,
“Pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan berkelompok-kelompok dan terpisah di sebelah kiri dan di sebelah kanan bagi diperlihatkan amalan-amalan mereka. Bagi mereka yang berbuat baik di dunia dan taat kepada Allah, maka Allah menyediakan baginya pada hari itu karamah dan kemuliaan sebagai balasan bagi ketaatannya kepada Nya di dunia. Dan bagi yang berbuat jahat dan melakukan maksiat kepada Allah, maka Allah menyediakan bagi­nya kesengsaraan dan kehinaan di neraka, sebagai balasan bagi perbuatannya dan kekufurannya di dunia.”

Kesimpulannya, lafaz a’maal pada ayat­ ayat di atas lebih banyak dikaitkan dengan al­ ihbat (penghapusan) amalan orang musyrik, kafir, munafik dan sebagainya, dan juga bersifat lebih cenderung kepada perkara keduniaan yang dihiasi oleh syaitan. Tetapi penggunaan sebenarnya lafaz ini bersifat umum, yaitu bagi amalan kejahatan dan kebaikan, seperti yang terdapat dalam surah Al Qashash, Asy Syuura, Al Ahqaaf, Muhammad (ayat 30), Al Zalzalah, dan sedikit sekali disandarkan kepada orang beriman, yaitu pada surah Al­ Ahzab, Muhammad (ayat 35), dan Al Hujurat (ayat 14).

Walau bagaimanapun, a’maal adalah perbuatan yang berterusan dan bersifat umum yang didasari oleh fikiran dan renungan. Oleh karena itu, orang menjadi kafir karena ia tahu akan sebuah kebenaran, tetapi mengingkarinya. Sedangkan orang menjadi beriman karena ia tahu akan kebenaran dan berusaha mengikutinya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:5

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 139 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 139 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 139 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Baqarah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 286 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 2:139
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.5
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al baqarah 139 ▪ surat al baqarah 139

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim