Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 129


رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
Rabbanaa waab’ats fiihim rasuulaa minhum yatluu ‘alaihim aayaatika wayu’allimuhumul kitaaba wal hikmata wayuzakkiihim innaka antal ‘aziizul hakiim(u);

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
―QS. 2:129
Topik ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi
2:129, 2 129, 2-129, Al Baqarah 129, AlBaqarah 129, Al-Baqarah 129
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 129. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang Arab diingatkan bahwa yang membangun Baitullah itu adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim dan putranya Ismail, kedua beliau itu adalah cikal bakal orang-orang Arab dan Israil.
Seluruh orang-orang Arab mengikuti agamanya, yaitu millatu Ibrahim.

Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang membangun Raitullah itu ialah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail.
Tujuan mendirikan Baitullah itu adalah untuk beribadat kepada Allah subhanahu wa ta’ala bukan untuk yang lain, sebagai peringatan bagi dirinya yang akan diingat-ingat oleh anak cucunya di kemudian hari.
Bahan-bahan untuk membangun Kakbah itu adalah benda-benda biasa sama dengan benda-benda yang lain, dan benda yang sengaja diturunkan Allah dari langit.
Semua riwayat yang menerangkan Kakbah secara berlebih-lebihan adalah riwayat yang tidak benar, diduga berasal dan Israiliyat Mengenai Hajarul Aswad Umar bin Khattab r.a.
berkata di waktu beliau telah menciumnya:

Dari Umar semoga Allah meridainya, bahwa ia telah mencium Hajarul Aswad dan berkata, “Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau batu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat.
Kalau aku tidak melihat Rasulullah ﷺ mencium engkau, tentu aku tidak akan mencium engkau.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Menurut riwayat Ad-Daruqutni, Rasulullah ﷺ pernah menyatakan sebelum mencium Hajarul Aswad bahwa itu adalah batu biasa.
Demikian pula halnya Abu Bakar r.a., dan sahabat-sahabat yang lain.

Dari riwayat-riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Hajarul Aswad itu adalah batu biasa saja.
Perintah menciumnya itu berhubungan dengan ibadah, seperti perintah salat menghadap ke Kakbah, perintah melempar jumrah di waktu melaksanakan ibadah haji dan sebagainya.
Semuanya ini dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pencipta, Maha Penguasa lagi terus-menerus menjaga makhluk-Nya.

Setelah selesai Ibrahim dan Ismail meletakkan fondamen Kakbah, lalu berdoa:

“Terimalah daripada kami….”,
(maksudnya ialah) terimalah amal kami sebagai amal yang saleh, ridailah dan berilah pahala….”
“Allah Maha Mendengar” (ialah) Allah Maha Mendengar doa kami dan “Allah Maha Mengetahui” (ialah) Allah Maha Mengetahui niat-niat dan maksud kami membangun dan mendirikan Kakbah ini.

Dari ayat di atas dapat diambil hukum bahwa sunat hukumnya berdoa dan menyerahkan semua amal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala apabila telah selesai mengerjakannya.
Dengan penyerahan itu berarti bahwa tugas seseorang hamba ialah mengerjakan amal-amal yang saleh karena Allah, dan Allahlah yang berhak menilai amal itu dan memberinya pahala sesuai dengan penilaian itu.

Dari ayat di atas juga dapat dipahami bahwa Ibrahim a.s.
dan putranya Ismail a.s.
berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala setelah selesai mengerjakan amal yang saleh dengan niat dan maksud bahwa perbuatan itu semata-mata dilakukan dan dikerjakan karena Allah.
Karena sifat dan bentuk perbuatan yang dikerjakannya itu diyakini sesuai dengan perintah Allah, maka ayah dan anak itu yakin pula bahwa amalnya itu pasti diterima Allah subhanahu wa ta’ala Hal ini berarti bahwa segala macam doa yang dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang sifat, bentuk dan tujuannya sama dengan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s.
dengan putranya, pasti diterima Allah pula dan pasti diberinya pahala yang baik dari sisi-Nya.

Pada ayat berikutnya (128) Ibrahim a.s.
melanjutkan doanya agar menjadikan keturunannya umat yang tunduk dan patuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Di dalam perkataan “muslim” (tunduk patuh) terkandung pengertian bahwa umat yang dimaksud Ibrahim a.s.
itu mempunyai sifat-sifat:

1.
Memurnikan kepercayaan hanya kepada Allah saja.
Hati seorang muslim hanya mempercayai bahwa yang berhak disembah dan dimohonkan pertolongan hanya Allah Yang Maha Esa.
Kepercayaan ini adalah karena seorang muslim merasa dirinya berada di bawah pengawasan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala saja yang dapat memberi keputusan atas dirinya.

2.
Semua perbuatan, kepatuhan dan ketundukan dilakukan hanya karena dan kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja, bukan karena menurut hawa nafsu, bukan karena ingin dipuji dan dipandang baik oleh orang, bukan karena pangkat dan jabatan dan bukan pula karena sesuatu keuntungan duniawi.
Bila kepercayaan dan ketundukan itu tidak murni kepada Allah, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.
Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

(Q.S Al Furqan: 43)

Allah subhanahu wa ta’ala membiarkan sesat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan mengunci mati hatinya, karena Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui bahwa mereka tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menutup atas penglihatannya….
(Q.S Al Jasiyah: 23)

Pada ayat 124 yang lalu, Ibrahim a.s.
berdoa agar keturunannya dijadikan imam, Allah subhanahu wa ta’ala menjawab: “Keturunan Ibrahim yang zalim tidak termasuk di dalam doa itu.” Karena itu pada ayat 128 ini Ibrahim a.s.
mendoakan agar sebagian keluarganya dijadikan orang yang tunduk patuh kepada Allah.

Dalam hubungan ayat di atas terdapat petunjuk bahwa yang dimaksud dengan keturunannya itu ialah Ismail a.s.
dan keturunannya yang akan ditinggalkan di Mekah, sedang beliau sendiri kembali ke Syria.
Keturunan Ismail a.s.
inilah yang berkembang biak yang mendiami negeri Mekah dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad ﷺ.
Inilah yang dimaksud dengan Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini.

(Q.S Al Hajj: 78)

Ibrahim dan Ismail mohon kepada Allah agar ditunjukkan cara-cara mengerjakan segala macam ibadat dalam rangka menunaikan ibadah haji, tempat wuquf, tempat tawaf, tempat sai dan sebagainya, sehingga ia dan anak cucunya dapat melaksanakan ibadat sesuai dengan yang diperintahkan Allah.

Di dalam ayat ini Ibrahim a.s.
memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diterima taubatnya padahal Ibrahim adalah seseorang nabi dan rasul, demikian pula putranya.
Semua nabi dan rasul dipelihara Allah dari segala macam dosa (maksum).
Karena itu maksud dari doa Ibrahim dan putranya itu ialah:

1.
Ibrahim a.s.
dan putranya Ismail a.s.
memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diampuni dari segala kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, yang tidak diketahui dan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri.

2.
Sebagai petunjuk bagi keturunan dan pengikutnya di kemudian hari, agar selalu menyucikan diri dari segala macam dosa yaitu dengan bertaubat kepada Allah, dan menjaga kesucian tempat mengerjakan ibadah haji.

“Allah Maha Penerima taubat” ialah Allah sendirilah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya, tidak ada yang lain.
Dia selalu menerima taubat hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertaubat serta memberi taufik agar selalu mengerjakan amal-amal yang saleh.

“Allah Maha Penyayang” ialah Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan menghapus dosa dan azab dari mereka.

Selanjutnya Ibrahim a.s.
berdoa agar Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat seorang rasul dari keturunannya yang memurnikan ketaatan kepada Allah, untuk memberi berita gembira, memberi petunjuk dan memberi peringatan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s.
dengan mengangkat dari keturunannya nabi-nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad ﷺ., nabi yang terakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Aku adalah doa Ibrahim dan yang diberitakan sebagai berita gembira oleh Isa.
(HR Ahmad)

Sifat-sifat dari rasul-rasul yang didoakan Ibrahim a.s.
itu ialah:

1.
Membacakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan kepada mereka, agar ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat-umat mereka.
Ayat-ayat itu mengandung ajaran-ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari berbangkit dan hari pembalasan, adanya pahala bagi orang-orang yang beramal saleh dan siksa bagi orang-orang yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik dan bahagia dan sebagainya.

2.
Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.
Al-Kitab ialah Alquran, Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah, hukum-hukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul itu menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka menempuh jalan yang lurus.

3.
Menyucikan mereka ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan, kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak masyarakat dan sebagainya.

Ibrahim a.s.
menutup doanya dengan memuji Tuhannya, yaitu dengan menyebut sifat-sifat-Nya, Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Bijaksana.
Maha Perkasa ialah yang tidak seorang pun dapat membantah perkataan-Nya, dan tidak seorang pun dapat mencegah perbuatan-Nya.

Maha Bijaksana ialah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu dan penggunaannya sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya.

Dari doa Nabi Ibrahim ini terpaham pengertian bahwa beliau memohonkan agar keturunannya diberi taufik dan hidayat sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan agama Allah, membina peradaban umat manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan menurut yang diridai Allah subhanahu wa ta’ala

Al Baqarah (2) ayat 129 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 129 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 129 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Tuhan kami, utuslah seorang rasul dari keturunan dan kerabat kami yang mengajarkan kitab suci yang diwahyukan kepadanya, ilmu pengetahuan, hukum-keagamaan yang kokoh dan menyucikan mereka dari perilaku buruk.
Engkau Maha Menguasai, Maha Menundukkan dan Mahabijaksana atas perbuatan, perintah dan larangan-Mu.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ya Tuhan kami! Utuslah untuk mereka) yakni Ahlulbait (seorang rasul dari kalangan mereka) ini telah dikabulkan Allah dengan dibangkitkannya kepada mereka Nabi Muhammad ﷺ (yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu) Alquran (dan mengajari mereka Alkitab) yakni Alquran (dan hikmah) maksudnya hukum-hukum yang terdapat di dalamnya (serta menyucikan mereka) dari kemusyrikan (sesungguhnya Engkau Maha Kuasa) sehingga mengungguli siapa pun (lagi Maha Bijaksana”) dalam segala tindakan dan perbuatan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Rabb kami, utuslah dari umat ini seorang Rasul dari anak keturunan Ismail, yang membecakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Al-Quran dan hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka dari syirik dan akhlak-akhlak yang buruk.
Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa dimana tidak ada seorangpun yang mempu menolak di hadapan-Mu, Maha Bijaksana yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan doa Nabi Ibrahim buat penduduk Tanah Suci, yaitu dia memohon kepada Allah semoga Allah mengutus untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.
Dengan kata lain, dari keturunan Ibrahim sendiri.
Ternyata doa yang mustajabah ini bertepatan dengan takdir Allah yang terdahulu yang telah menentukan Nabi Muhammad ﷺ sebagai seorang rasul untuk bangsa yang ummi dari kalangan mereka sendiri, juga untuk semua bangsa Ajam lainnya dari kalangan manusia dan jin.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Mu’awiyah ibnu Saleh, dari Sa’id ibnu Suwaid Al-Kalbi, dari Abdul A’la ibnu Hilal As-Sulami, dari Al-Irbad ibnu Sariyah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya aku di sisi Allah benar-benar tercatat sebagai penutup para nabi, sedangkan Adam benar-benar masih berupa tanah liat.
Dan aku akan menceritakan kepada kalian awal mula dari hal tersebut, yaitu doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa mengenaiku, dan impian diriku yang pernah dilihat oleh ibuku, demikian pula ibu-ibu para nabi semua melihatnya.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Wahb dan Lais serta dicatat oleh Abdullah ibnu Saleh, dari Mu’awiyah ibnu Saleh, kemudian diikuti oleh Abu Bakar ibnu Abu Maryam, dari Sa’id ibnu Suwaid dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Luqman ibnu Amir yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Umamah menceritakan hadis berikut: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah permulaan dari kejadianmu?
Nabi ﷺ menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa mengenaiku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu nur yang cahayanya dapat menerangi gedung-gedung negeri Syam”

Makna yang dimaksud ialah, orang yang mula-mula sengaja menyebutnya dan memperkenalkannya kepada umat manusia adalah Ibrahim ‘alaihis salam Nama beliau ﷺ terus-menerus menjadi buah bibir manusia hingga namanya disebutkan dengan jelas oleh penutup nabi-nabi kalangan Bani Israil, yaitu Nabi Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam Ia berkhotbah di kalangan umat Bani Israil.
Ucapannya ini disitir oleh firman-Nya:

Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku —yaitu Taurat— dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).
(Ash Shaff:6)

Karena itulah Nabi ﷺ bersabda di dalam hadis ini bahwa dia adalah doa Nabi Ibrahim dan berita gembira yang disampaikan oleh Isa ibnu Maryam.

Sabda Nabi ﷺ yang mengatakan, “Dan ibuku telah melihat ada sebuah nur (cahaya) keluar dari tubuhnya yang cahayanya menyinari gedung-gedung negeri Syam.” Menurut suatu pendapat, hal itu terjadi di dalam mimpinya ketika ibu Nabi ﷺ sedang mengandungnya, lalu beliau menceritakannya kepada kaumnya, maka hal itu tersiar dan terkenal di kalangan mereka.
Hal tersebut merupakan pendahuluan dan pengkhususan bagi negeri Syam, bahwa nur Nabi ﷺ akan menyinarinya.
Hal ini merupakan isyarat yang menunjukkan bahwa agama dan kenabian beliau ﷺ kelak akan menetap di negeri Syam.
Karena itu, maka negeri Syam di akhir zaman kelak akan menjadi benteng bagi Islam dan para pemeluknya.
Di negeri Syam-lah kelak Nabi Isa ibnu Maryam diturunkan, yaitu di kota Damaskus, tepatnya di menara putih sebelah timur.
Di dalam sebuah hadis Sahihain (Imam Bukhari dan Imam Muslim) disebutkan:

Segolongan dari umatku masih terus-menerus berjuang membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghina mereka dan tidak pula orang yang menentang mereka hingga datang perintah Allah (hari kiamat), sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian (membela kebenaran).

Di dalam Sahih Bukhari disebutkan:

sedangkan mereka tinggal di negeri Syam.

Abu Ja’far Ar-Razi menceritakan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, sehubungan dengan takwil firman-Nya: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka.
(Al Baqarah:129) Yang dimaksud dengan mereka adalah umat Nabi Muhammad ﷺ Lalu dikatakan kepada Ibrahim bahwa permintaannya telah dikabulkan.
Apa yang dimintanya itu terbukti di akhir zaman (yakni zaman Nabi Muhammad ﷺ).
Hal yang sama dikatakan pula oleh As-Saddi dan Qatadah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah.

Yang dimaksud adalah kitab Al-Qur’an.
Sedangkan yang dimaksud dengan al-hikmah ialah sunnah.

Demikianlah menurut Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, Abu-Malik serta lain-lainnya.
Menurut pendapat lain, yang dimaksudkan ialah pengertian dalam agama.
Akan tetapi, kedua pendapat tersebut tidaklah bertentangan.

Wayuzakkihim, menurut Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah taat kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah.
(Al Baqarah:129) Bahwa yang dimaksud ialah mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an dan kebaikan agar mereka mengerjakannya, juga keburukan agar mereka menjauhinya, serta menyampaikan kepada mereka bahwa Allah akan rida kepada mereka jika taat kepada-Nya.
Demikian itu agar mereka banyak melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi semua hal yang membuat-Nya murka, juga menjauhi perbuatan durhaka terhadap-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Yakni Yang Mahaperkasa, tiada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya, dan Dia adalah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, lagi Mahabijaksana dalam semua firman dan perbuatan-Nya.
Dia selalu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya karena pengetahuan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (128-129) - Indonesian - Fahmi Hendrawan
QS 2 Al-Baqarah (128-129) - Arabic - Fahmi Hendrawan


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 129 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 129



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (27 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku