Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 124 [QS. 2:124]

وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ اِنِّیۡ جَاعِلُکَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ
Wa-idziibtala ibraahiima rabbuhu bikalimaatin faatammahunna qaala innii jaa’iluka li-nnaasi imaaman qaala wamin dzurrii-yatii qaala laa yanaalu ‘ahdiizh-zhaalimiin(a);
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna.
Dia (Allah) berfirman,
“Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.”
Dia (Ibrahim) berkata,
“Dan (juga) dari anak cucuku?”
Allah berfirman,
“(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”

―QS. Al Baqarah [2]: 124

Daftar isi

And (mention, O Muhammad), when Abraham was tried by his Lord with commands and he fulfilled them.
(Allah) said,
"Indeed, I will make you a leader for the people."
(Abraham) said,
"And of my descendants?"
(Allah) said,
"My covenant does not include the wrongdoers."
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 124]

وَإِذِ dan apabila

And when
ٱبْتَلَىٰٓ menguji

tried
إِبْرَٰهِۦمَ Ibrahim

رَبُّهُۥ Tuhannya

his Lord
بِكَلِمَٰتٍ dengan beberapa kalimat

with words
فَأَتَمَّهُنَّ maka ia menunaikannya

and he fulfilled them,
قَالَ Dia berfirman

He said,
إِنِّى sesungguhnya Aku

"Indeed I
جَاعِلُكَ menjadikan kamu

(am) the One to make you
لِلنَّاسِ bagi manusia

for the mankind
إِمَامًا imam/pemimpin

a leader."
قَالَ ia berkata

He said,
وَمِن dan dia

"And from
ذُرِّيَّتِى keturunanku

my offspring?"
قَالَ Dia berfirman

He said,
لَا tidak

"(Does) not
يَنَالُ mengenai

reach
عَهْدِى janjiKu

My Covenant
ٱلظَّٰلِمِينَ orang-orang yang dzalim

(to) the wrongdoers."

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:124

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 124. Oleh Kementrian Agama RI


Ibrahim `alaihis salam diuji Tuhan dengan beberapa kalimat dengan menugaskan perintah dan larangan, seperti membangun Ka’bah, membersihkannya dari segala macam kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail `alaihis salam, menghadapi raja Namrud, dan sebagainya.


Menurut Mahmud Zahram, Ibrahim `alaihis salam telah diberi oleh Allah ber-macam-macam pengalaman ujian dan cobaan.

Dia diperintahkan Allah menyembelih anaknya, perjalanan pulang pergi antara Allah tidak menerangkan macam-macam kalimat yang telah ditugaskan kepada Nabi Ibrahim.

Hal ini memberi petunjuk bahwa tugas yang telah diberikan Allah itu adalah besar, berat dan banyak.
Sekalipun demikian Ibrahim `alaihis salam telah melaksanakan tugas dan beban itu dengan sebaik-baiknya yang membawanya ke tempat kedudukan yang sempurna.

وَاِبْرٰهِيْمَ الَّذِيْ وَفّٰىٓ

Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?
(an-Najm [53]: 37)


Perkataan,
"Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia,"
tidak ada hubungannya dengan kalimat yang sebelumnya, karena tidak ada kata penghubung (‘atf) pada permulaan kalimat tersebut.


Menurut Muhammad Abduh, kalimat tersebut adalah kalimat yang berdiri sendiri, tidak ada hubungannya dengan kalimat yang sebelumnya.

Maksudnya ialah bahwa pangkat imam (nabi dan rasul) adalah semata-mata pangkat yang dianugerahkan oleh Allah dan hanya Dia sendiri yang menetapkan kepada siapa pangkat itu akan diberikan-Nya.
Tidak semua manusia dapat mencapainya sekalipun dia telah melaksanakan segala perintah dan menghentikan segala larangan Allah.


Dengan perkataan lain, pangkat imam yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Ibrahim itu ditetapkan atas kehendak-Nya, bukan ditetapkan karena Nabi Ibrahim telah menyelesaikan dan menyempurnakan tugas yang diberikan kepadanya, agar dia menyadari bahwa pangkat yang diberikan Allah itu sesuai baginya, dan agar dia merasa dirinya mampu melaksanakan tugas dan memikul beban yang telah diberikan.


Setelah dianugerahi pangkat
"imam"
itu, Nabi Ibrahim `alaihis salam berdoa kepada Allah agar pangkat
"imam"
dianugerahkan pula kepada keturunannya di kemudian hari.

Doa Nabi Ibrahim ini doa yang sesuai dengan sunatullah.
Menurut sunatullah, anak dan keturunan sambungan hidup bagi seseorang.
Suatu cita-cita yang tidak sanggup dicapai semasa hidup di dunia diharapkan agar anak dan keturunan dapat menyampaikannya.


Tugas imam merupakan tugas yang suci dan mulia karena pemberian tugas itu bertujuan hendak mencapai cita-cita yang suci dan mulia pula.
Ibrahim `alaihis salam merasa dirinya tidak sanggup mencapai semua cita-citanya yang terkandung di dalam tugasnya selama hidup di dunia.
Karena itu dia berdoa kepada Allah agar anak cucunya dianugerahi pula pangkat imam itu, sehingga cita-cita yang belum dapat dicapai semasa hidupnya dapat dilanjutkan dan dicapai oleh anak cucu dan keturunannya.


Dari ayat di atas dapat dipahami pula bahwa cara Nabi Ibrahim berdoa sesuai dengan sunatullah sehingga merupakan cara berdoa yang benar dan termasuk doa yang dikabulkan Allah.
Terbukti, di kemudian hari bahwa semua rasul yang diutus Allah sesudahnya berasal dari keturunannya.


Dari firman Allah,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim"
dapat dipahami bahwa di antara keturunan Nabi Ibrahim itu ada orang-orang zalim.
Pada ayat lain Allah menerangkan bahwa keturunan Ibrahim itu ada yang zalim dan ada yang berbuat baik.
Allah ﷻ berfirman:

وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ

Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak.
Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
(ash-Shaffat [37]: 113)


Allah ﷻ berfirman:

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً ۢ بَاقِيَةً فِيْ عَقِبِهٖ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Dan (Ibrahim) menjadikan (kalimat tauhid) itu kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu).
(az-Zukhruf [43]: 28)


Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid sebagai pegangan bagi keturunannya.
Jika di antara mereka ada yang mempersekutukan Allah, mereka diminta kembali kepada kalimat tauhid.


"Zalim"
(aniaya) itu bermacam-macam.
Zalim terhadap diri sendiri ialah tidak melaksanakan perintah dan tidak meninggalkan larangan Allah sehingga mendapat kemurkaan dan azab Allah yang membawa bencana kepada diri sendiri.
Zalim terhadap makhluk-makhluk Allah, seperti berbuat kerusakan di bumi, memutuskan silaturahmi, zalim terhadap manusia dan sebagainya.


Dari perkataan
"zalim"
dapat dimengerti bahwa bagi seorang imam tidak boleh ada sifat zalim.
Mustahil pangkat itu diberikan kepada orang yang kotor jiwanya, orang-orang yang tidak melaksanakan perintah-perintah Allah dan tidak menghentikan larangan-larangan-Nya.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 124. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Simaklah kembali ketika Allah menguji leluhurmu, Ibrahim, dengan berbagai tugas berat, lalu ia mengerjakan dengan sempurna dan sepenuh hati.
Kemudian Tuhan berfirman kepadanya,
"Kami hendak menjadikanmu pemimpin (imam) sebagai contoh dan teladan bagi semua manusia. "
Ibrahim lantas memohon agar Tuhan menjadikan keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin juga.
Tuhan menjawab bahwa karunia yang agung itu tidak akan didapat oleh orang-orang yang zalim, dan anak cucu Ibrahim ada yang baik dan tidak kurang pula yang jahat.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Ingatlah, wahai nabi saat Allah menguji Ibrahim dengan beban-beban taklif yang Dia syariatkan, maka Ibrahim menunaikannya dan melaksanakannya dengan sangat baik.
Alllah berfirman kepadanya,
"Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai teladan bagi menusia."
Maka Ibrahim berkata,
"Rabb-ku, angkatlah sebagian anak keturunanku sebagai imam dengan karuniaMu."
Maka Allah menjawab bahwa orang-orang zalim tidak akan meraih derajat imamah dalam agama.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan) ingatlah


(ketika Ibrahim mendapat ujian) menurut satu qiraat Ibraham


(dari Tuhannya dengan beberapa kalimat) maksudnya dengan perintah dan larangan yang dibebankan kepadanya.
Ada yang mengatakan manasik atau pekerjaan haji, ada pula berkumur-kumur, menghirup air ke hidung, menggosok gigi, memotong kumis, membelah rambut, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, berkhitan dan istinja


(lalu disempurnakannya) maksudnya dikerjakannya secara sempurna.


(Firman-Nya) yakni Allah Taala,


("Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi manusia.") Artinya contoh dan ikutan dalam keagamaan.


(Kata Ibrahim,
"Aku mohon juga dari keturunanku!") maksudnya dari anak cucuku dijadikan imam-imam.


(Firman-Nya,
"Janji-Ku ini tidak mencapai) untuk dijadikan imam


(orang-orang yang aniaya") yakni orang-orang yang ingkar di antara mereka.
Sebaliknya bagi orang yang tidak aniaya, tidak tertutup kemungkinan untuk diangkat sebagai imam.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Melalui ayat ini Allah mengingatkan kemuliaan Nabi Ibrahimalaihis salam dan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikannya sebagai imam bagi umat manusia yang menjadi panutan mereka semua dalam ketauhidan.
Yaitu di kala Nabi Ibrahimalaihis salam menunaikan semua tugas perintah dan larangan Allah yang diperintahkan kepadanya.
Karena itu, disebutkan di dalam firman-Nya:
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat."
Dengan kata lain, hai Muhammad, ceritakanlah kepada orang-orang musyrik dan kedua ahli kitab (yaitu mereka yang meniru-niru agama Nabi Ibrahim), padahal apa yang mereka lakukan bukanlah agama Nabi Ibrahim.
Karena sesungguhnya orang-orang yang menegakkan agama Nabi Ibrahim itu hanyalah engkau dan orang-orang mukmin yang mengikutimu.
Ceritakanlah kepada mereka cobaan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim, yaitu berupa perintah-perintah dan larangan-larangan yang ditugaskan oleh Allah kepadanya.
Kemudian Nabi Ibrahimalaihis salam dapat menunaikannya dengan sempurna, seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:

dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji (QS. An-Najm [53]: 37)

Yakni Nabi Ibrahimalaihis salam telah mengerjakan semua syariat yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya dengan secara sempurna.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam ayat yang lain, yaitu:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.
Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah.
Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia.
Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
Kemu-dian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad),
"Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif"
Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
(QS. Al-Hijr [15]: 120-123)

Katakanlah,
"Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik."
(QS. Al-An’am [6]: 161)

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik.
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad) dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 67-68)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,
"Bikalimatin,"
artinya dengan syariatsyariat, perintah-perintah, dan larangan-larangan.
Karena sesungguhnya lafaz al-kalimat itu bila disebutkan adakalanya bermakna kekuasaan, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

dan dia (Maryam) membenarkan kalimat (kekuasaan) Tuhannya dan kitabkitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.
(At Tahriim:
12)

Adakalanya makna yang dimaksud ialah syariat atau peraturan, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Telah sempurnalah kalimat (syariat) Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil.
(QS. Al-An’am [6]: 115)

Maksudnya, syariatsyariat-Nya, adakalanya merupakan berita yang benar dan adakalanya perintah berbuat adil, jika kalimatnya berupa perintah atau larangan.
Termasuk ke dalam pengertian al-kalimah dalam arti syariat ialah firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya,

Yakni Nabi Ibrahim mengerjakannya dengan sempurna.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh umat manusia.

Yaitu sebagai balasan dari apa yang telah dikerjakannya, mengingat Nabi Ibrahim telah menunaikan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Untuk itu Allah menjadikannya buat seluruh umat manusia sebagai teladan dan panutan yang patut untuk ditiru dan diikuti.

Mengenai ketentuan kalimat-kalimat yang diujikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Ibrahimalaihis salam, masih diperselisihkan di kalangan Mufassirin.
Sehubungan dengan masalah ini telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas beberapa riwayat, antara lain oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan,
"Allah mengujinya dengan manasikmanasik (haji)."
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ishaq As-Subai’i, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas.

Abdur Razzaq mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil firman-Nya:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan).
(QS. Al-Baqarah [2]: 124):
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah mengujinya dengan bersuci, yaitu menyucikan lima anggota pada bagian kepala dan lima anggota pada bagian tubuh.
Menyucikan bagian kepala ialah dengan mencukur kumis, berkumur, istinsyaq (membersihkan lubang hidung dengan air), bersiwak, dan membersihkan belahan rambut kepala.
Sedangkan menyucikan bagian tubuh ialah memotong kuku, mencukur rambut kemaluan, berkhitan, mencabut bulu ketiak, serta membasuh bekas buang air besar dan buang air kecil dengan air.

Menurut kami, ada sebuah hadis di dalam kitab Sahih Muslim yang pengertiannya mendekati riwayat di atas, dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada sepuluh perkara yang termasuk fitrah, yaitu mencukur kumis, membiarkan janggut, siwak, menyedot air dengan hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh semua persendian tulang, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan hemat memakai air.
(Perawi mengatakan) aku lupa yang kesepuluhnya, tetapi aku yakin bahwa yang kesepuluh itu adalah berkumur.

Waki’ mengatakan bahwa intiqasul ma’ artinya ber-istinja (cebok).

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Fitrah itu ada lima perkara, yaitu khitan, istihdad (belasungkawa), mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.

Sedangkan lafaz hadis ini berdasarkan apa yang ada dalam kitab Sahih Muslim.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la secara qiraat, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Ibnu Luhai’ah, dari Ibnu Hubairah, dari Hanasy ibnu Abdullah As-San’ani, dari Ibnu Abbas.
Ia pernah mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya:


Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

Menurut Ibnu Abbas, kalimat-kalimat tersebut ada sepuluh, yang enam ada pada diri manusia, sedangkan yang empat pada masya’ir (manasikmanasik haji).
Yang ada pada diri manusia ialah mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, dan khitan, disebutkan bahwa Ibnu Hubairah sering mengatakan bahwa ketiga hal itu adalah satu.
Kemudian memotong kuku, mencukur kumis, bersiwak serta mandi pada hari Jumat.
Sedangkan yang empatnya ialah yang ada pada manasikmanasik, yaitu tawaf, sa’i antara Safa dan Marwah, melempar jumrah, dan tawaf ifadah.

Daud ibnu Abu Hindun meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan,
"Tiada seorang pun yang diuji dengan peraturan agama ini, lalu ia dapat menunaikan kesemuanya, selain Nabi Ibrahim."
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya.
(QS. Al-Baqarah [2]: 124), Aku (Ikrimah) bertanya kepadanya (Ibnu Abbas),
"Apakah kalimat-kalimat yang diujikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim, lalu Ibrahim menunaikannya?"
Ibnu Abbas menjawab,
"Islam itu ada tiga puluh bagian, sepuluh bagian di antaranya terdapat di dalam surat Al-Baraah (surat At-Taubah), yaitu di dalam firman-Nya, ‘Orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang beribadah’ (QS. At-Taubah [9]: 112), hingga akhir ayat.
Sepuluh lainnya berada pada permulaan surat Al-Mu’minun, dan dalam firman-Nya, ‘Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa’ (QS. Al-Ma’aarij:
1).
Sepuluh terakhir berada di dalam surat Al-Ahzab, yaitu firman-Nya, ‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim‘ (QS. Al-Ahzab:
35), hingga akhir ayat.
Ternyata Nabi Ibrahim dapat menunaikan semuanya dengan sempurna, lalu dicatatkan baginya bara-ah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji (QS. An-Najm [53]: 37)."

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Sa’id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa beberapa kalimat yang diujikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menunaikannya dengan sempurna ialah:
Berpisah dengan kaumnya karena Allah ketika Allah memerin-tahkan agar dia berpisah dari mereka, perdebatan yang dilakukannya terhadap Raja Namruz ketika ia membela agamanya yang bertentangan dengan agama Raja Namruz, kesabaran Nabi Ibrahim dan keteguhan hatinya ketika ia dilemparkan ke dalam api oleh mereka demi membela agamanya, setelah itu ia berhijrah dari tanah tumpah darah dan negeri tercintanya karena Allah, yaitu ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk hijrah meninggalkan kaumnya, juga ketika dia mengerjakan perintah Allah yang menyuruhnya untuk menghormati para tamu serta bersikap sabar menghadapi mereka dengan jiwa dan harta bendanya sendiri, dan ujian lainnya, yaitu ketika dia diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya.
Ketika Nabi Ibrahim mengerjakan semua ujian Allah itu dengan ikhlas, maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepadanya:
"Tunduk patuhlah!"
Ibrahim menjawab,
"Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam"
(QS. Al-Baqarah [2]: 131)
Yakni tunduk patuh mengerjakan perintah Allah, sekalipun berten-tangan dengan kaumnya dan rela berpisah dengan mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ulyah, dari Abu Raja, dari Al-Hasan (yakni Al-Basri) sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

Allah mengujinya dengan bintang-bintang, ia bersabar, mengujinya dengan bulan, ia bersabar, mengujinya dengan matahari, ia bersabar, mengujinya dengan hijrah, ia bersabar, mengujinya dengan khitan, ia bersabar, dan mengujinya dengan anaknya (menyembelihnya), ia bersabar.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Mu’az, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai’, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Al-Hasan pernah berkata,
"Ya, demi Allah, sesungguhnya Allah telah mengujinya dengan suatu perkara, maka ia bersabar dalam menunaikannya.
Allah subhanahu wa ta’ala mengujinya dengan bintang-bintang, matahari, dan bulan, maka ia menunaikan ujiannya itu dengan baik dan menyimpulkan dari ujian tersebut bahwa Tuhannya adalah Zat Yang Mahaabadi dan tidak akan lenyap.
Dia menghadapkan wajahnya kepada Tuhan Yang Menciptakan langit dan bumi seraya mencintai agama yang hak dan menjauhi kebatilan, dia bukan termasuk orang-orang yang musyrik.

Kemudian Allah mengujinya dengan hijrah, ia keluar meninggalkan negeri tercintanya dan kaumnya hingga sampai di Allah mengujinya pula dengan api sebelum hijrah, ternyata dia bersabar menghadapinya.
Allah mengujinya dengan perintah menyembelih anaknya serta berkhitan, maka dia menunaikan semuanya itu dengan penuh kesabaran.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari orang yang pernah mendengar Al-Hasan berkata sehubungan dengan tafsir firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan).

Allah mengujinya dengan perintah menyembelih anaknya, dengan api, bintang-bintang, matahari, dan bulan.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Salam ibnu Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Al-Hasan sehubungan dengan tafsir firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan).

Bahwa Allah mengujinya dengan bintang-bintang, matahari, dan bulan, maka Allah menjumpainya sebagai orang yang sabar.

Al-Aufi mengatakan di dalam kitab tafsirnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan tafsir firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya.

Di antara kalimat-kalimat yang diujikan kepadanya disebutkan di dalam firman-Nya:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

"Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”

Antara lain disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.

Di antaranya lagi disebutkan di dalam ayat-ayat yang menceritakan tentang maqam yang dijadikan buat Nabi Ibrahim dan rezeki yang diberikan kepada penduduk Baitullah, serta Nabi Muhammad diutus dengan membawa agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Syababah, dari Warqa, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi Ibrahim,
"Sesungguhnya Aku akan mengujimu dengan suatu perintah.
Perintah apakah itu?"
Ibrahim menjawab,
"Aku memohon semoga Engkau menjadikan diriku imam bagi umat manusia."
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Ya."
Lalu Ibrahim berkata:

(Dan aku mohon juga) dari keturunanku.
Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim."


Ibrahimalaihis salam berkata,
"Semoga Engkau jadikan rumah ini (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia."
Allah menjawab,
"Ya."
Ibrahim berkata,
"Dan juga sebagai tempat yang aman."
Allah menjawab,
"Ya."
Ibrahim berkata,
"Dan semoga Engkau menjadikan kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan jadikanlah pula di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau."
Allah menjawab,
"Ya."
Ibrahimalaihis salam berkata,
"Semoga Engkau memeri rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah."
Allah menjawab,
"Ya."

Ibnu Abu Nujaih berkata, ia mendengar riwayat ini dari Ikrimah, lalu menunjukkannya kepada Mujahid, ternyata Mujahid tidak memprotesnya.
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir bukan hanya dari satu jalur, melalui Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid.

Sufyan As-Sauri mengatakan dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya.

Nabi Ibrahimalaihis salam diuji dengan apa yang disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya, yaitu:

Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.
Ibrahim berkata,
"(Dan aku mohon juga) dari keturunanku."
Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.


Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat.

Nabi Ibrahimalaihis salam diuji dengan ayat-ayat yang sesudahnya, yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.

Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

Firman-Nya yang lain:

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail.

hingga akhir ayat.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.
(QS. Al-Baqarah 127), hingga akhir ayat.
Semua itu merupakan kalimat-kalimat yang diujikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Ibrahimalaihis salam

As-Saddi mengatakan, kalimat-kalimat yang diujikan kepada Nabi Ibrahim oleh Tuhannya ialah yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami).
Sesungguh-nya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk pa-tuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau —sampai dengan firman-Nya— Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka.
(QS. Al-Baqarah [2]: 127-129)

Al-Qurtubi meriwayatkan asar berikut —juga disebutkan di dalam kitab Muwatta’ dan kitabkitab lainnya— dari Yahya ibnu Sa’id, bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab mengatakan,
"Ibrahim adalah orang yang mula-mula berkhitan, yang mula-mula menghormati tamu, yang mula-mula memotong kuku, yang mula-mula mencukur kumis, dan yang mula-mula beruban.
Ketika ia melihat uban (di kepalanya), berkatalah ia, ‘Wahai Tuhanku, apakah ini?’ Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, ‘Keagungan.’ Ibrahim berkata, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah keagungan pada diriku’."

Ibnu Abu Syaibah meriwayatkan dari Sa’d ibnu Ibrahim, dari ayahnya yang mengatakan bahwa orang yang mula-mula berkhotbah di atas mimbar adalah Nabi Ibrahimalaihis salam Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa orang yang mula-mula mengadakan pos adalah Nabi Ibrahim.
Dia orang yang mula-mula memukul dengan pedang, yang mula-mula bersiwak, yang mula-mula bebersih memakai air, dan yang mula-mula memakai celana.

Kemudian Al-Qurtubi mulai membahas hukumhukum syara’ yang berkaitan dengan barang-barang tersebut.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, kesimpulannya dapat diringkas seperti berikut:
Boleh juga makna yang dimaksud dari kalimat-ka-imat ini adalah semua yang telah disebutkan di atas, boleh pula sebagian darinya, tetapi tidak dapat menetapkan sesuatu pun darinya, lalu dikatakan bahwa inilah yang dimaksud secara tertentu, kecuali jika ada dalil dari hadis atau ijma’.

Selanjutnya Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan,
"Sehubungan dengan masalah ini tidak ada hadis sahih yang dapat dijadikan sebagai sandarannya, baik yang dinukil oleh jamaah ataupun oleh seorang perawi."

Selain Ibnu Jarir mengatakan, hanya saja memang telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ dua buah hadis yang mempunyai makna semisal dengan hadis ini.
Salah satu di antaranya ialah apa yang diceritakan kepada kami oleh Abu Kuraib:


telah menceritakan kepada kami Rasyid ibnu Sa’d, telah menceritakan kepadaku Zaban ibnu Fa-id, dari Sahl ibnu Mu’az ibnu Anas yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Ingatlah, akan aku ceritakan kepada kalian mengapa Allah menamakan Ibrahim kekasih-Nya dengan sebutan orang yang selalu menunaikan janji! Hal ini tiada lain karena setiap pagi dan petang ia selalu mengucapkan,
"Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kalian berada di petang hari dan waktu kalian berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi, dan di waktu kalian berada pada petang hari dan di waktu kalian berada di waktu lohor."
(Ar Ruum:
17-18).

Sedangkan hadis lainnya diceritakan kepada kami oleh Abu Kuraib:


telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, dari Atiyyah, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Ja’far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji (QS. An-Najm [53]: 37).
Nabi ﷺ bersabda,
"Tahukah kalian, apa artinya orang yang selalu menyempurnakan janji?"
Mereka menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Nabi ﷺ bersabda,
"Dia selalu menyempurnakan (mengerjakan) amal hariannya, yaitu empat rakaat di siang hari."

Adam meriwayatkan pula hadis ini di dalam kitab tafsirnya, dari Hammad ibnu Salamah dan Abdu ibnu Humaid, dari Yunus ibnu Muhammad, dari Hammad ibnu Salamah, dari Ja’far ibnuz Zubair dengan lafaz yang sama.

Selanjutnya Ibnu Jarir menilai daif kedua hadis ini.
Menurutnya, tidak boleh mengetengahkan kedua hadis tersebut kecuali bila disebutkan dengan jelas predikat daif-nya dari berbagai segi, karena sesungguhnya kedua sanad ini mengandung bukan hanya seorang yang daif, selain itu di dalam matan (materi) hadisnya terdapat hal-hal yang menunjukkan kelemahannya.

Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan, seandainya ada seseorang berkata bahwa sesungguhnya pendapat yang dikatakan oleh Mujahid Abu Saleh dan Ar-Rabi’ ibnu Anas lebih mendekati kebenaran dibandingkan pendapat yang dikatakan oleh selain mereka, berarti pendapat tersebut merupakan mazhab tersendiri, mengingat firman-Nya:

Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.

dan firman-Nya:

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail,
"Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf."
, hingga akhir ayat.

demikian pula semua ayat yang semakna pembahasannya, berkedudukan sebagai keterangan dari makna kalimat-kalimat yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai mata ujian buat Nabi Ibrahimalaihis salam

Menurut kami, pendapat yang mula-mula dikatakan olehnya (Ibnu Jarir) —yaitu bahwa beberapa kalimat tersebut mencakup semua hal yang disebutkan— merupakan pendapat yang lebih kuat daripada pendapat ini yang dia katakan dari pendapat Mujahid dan orang-orang yang sependapat dengannya.
Dikatakan demikian karena konteks dari pembahasan masalah ini mempunyai pengertian yang berbeda dengan apa yang mereka katakan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Ibrahim berkata,
"(Dan aku mohon juga) dari keturunanku."
Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim"

(QS. Al-Baqarah [2]: 124)

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala hendak menjadikan Ibrahim sebagai imam untuk seluruh umat manusia, Ibrahim memohon kepada Allah, hendaknya para imam sesudahnya terdiri atas kalangan keturunannya.
Maka Allah memperkenankan apa yang dimintanya itu dan memberitahukan kepadanya bahwa kelak di antara keturunannya terdapat orang-orang yang zalim, dan janji Allah tidak akan mengenai mereka yang zalim itu, mereka tidak akan menjadi imam dan tidak dapat dijadikan sebagai panutan yang diteladani.

Dalil yang menunjukkan bahwa permintaan Nabi Ibrahimalaihis salam dikabulkan ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam surat Al-‘Ankabut, yaitu:

Dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya.
(QS. Al-‘Ankabut:
27)

Maka setiap nabi yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan setiap kitab yang diturunkan Allah sesudah Nabi Ibrahim, semuanya itu terjadi di kalangan anak cucu keturunannya.
Mengenai makna firman-Nya:

Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim."


Khasif mengatakan dari Mujahid sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim."


Kelak di antara anak cucu keturunanmu terdapat orang-orang yang zalim.

Ibnu Abu Nujaih mengatakan dari Mujahid sehubungan dengan takwil firman-Nya ini, bahwa Aku tidak akan mengangkat orang yang zalim menjadi imam-Ku.
Menurut riwayat yang lain, Aku tidak akan menjadikan imam yang zalim sebagai orang yang diikuti.

Sufyan meriwayatkan dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim."


Maksudnya, imam yang zalim tidak akan menjadi orang yang diikuti.


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan takwil firman-Nya:
(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.
(QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Orang yang saleh dari kalangan mereka akan Aku jadikan sebagai imam yang diikuti, orang yang zalim dari kalangan mereka tidak Aku jadikan demikian, dan tiada nikmat baginya.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,

"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim"

Makna yang dimaksud ialah orang yang musyrik bukanlah imam yang zalim, yakni tidak akan ada imam yang musyrik.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.

Lalu Ibrahim berkata,
"Dan aku memohon juga dari keturunanku menjadi imam."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menolak menjadikan imam yang zalim dari keturunannya.
Aku (Ibnu Juraij) bertanya kepada Ata,
"Apakah yang dimaksud dengan al-‘ahdu?"
Ata menjawab,
"Perintah Allah."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Saur Al-Qaisari dalam surat yang ditujukannya kepadaku, bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Faryabi, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Samak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi Ibrahim,
"Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia."
Ibrahimalaihis salam menjawab,
"Dan aku mohon juga dari keturunanku."
Pada mulanya Allah menolak, kemudian berfirman:
Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.
(QS. Al-Baqarah [2]: 124)

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Sa’id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Ibrahim berkata,
"(Dan aku mohon juga) dari keturunanku."” Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”


Ayat ini merupakan pemberitahuan kepadanya bahwa di antara keturunannya kelak akan ada orang yang zalim, dia tidak akan memperoleh janji ini, dan udaklah layak bagi Allah menguasakan sesuatu pun dari perintah-Nya kepada orang yang zalim itu, sekalipun orang yang zalim itu berasal dari keturunannya.
Hanya orang baik dari kalangan keturunannyalah yang akan memperoleh doa ini dan sampai kepadanya apa yang dimaksud dari doanya itu.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.

Tidak ada perintah bagimu untuk menaati (mendoakan) orang yang berbuat kezaliman dalam sepak terjangnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, te-ah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abdullah, dari Israil, dari Muslim Al-A’war, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.

Yaitu tidak ada janji bagi orang-orang yang zalim.
Jika engkau mengadakan perjanjian dengannya, maka batallah (rusaklah) perjanjian itu.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, tentang takwil firman-Nya:
Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.
(QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Janji Allah tidak akan mengenai orang-orang yang zalim kelak di akhirat.
Adapun di dunia, adakalanya orang yang zalim mendapatkannya hingga ia beroleh keamanan, dapat makan dan hidup berkat janji tersebut.

Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha’i, Ata, Al-Hasan, dan Ikrimah.
Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan, janji Allah yang ditetapkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya ialah agama-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa orang-orang yang zalim tidak berada pada jalan agama-Nya.
Hal ini ditegaskan di dalam firman-Nya:

Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq.
Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
(QS. As-Saffat [37]: 113)

Yakni tidak semua keturunanmu, hai Ibrahim, berada pada jalan kebenaran.

Hal yang sama diriwayatkan dari Abul Aliyah, Ata, Muqatil, dan Ibnu Hayyan.
Juwaibir meriwayatkan dari Dahhak, bahwa tidak memperoleh ketaatan kepada-Ku orang yang menjadi musuh-Ku, yaitu orang yang durhaka kepada-Ku, dan Aku tidak akan mengenakan-nya kecuali hanya kepada seorang kekasih yang taat kepada-Ku.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Hamid, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdullah ibnu Sa’id Ad-Damgani, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-A’masy, dari Sa’id ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali ibnu Abu Talib, dari Nabi ﷺ yang bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya:

Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.

Bahwa makna yang dimaksud ialah:
Tidak ada ketaatan kecuali dalam kemakrufan (kebajikan).


Demikianlah pendapat Mufassirin Salaf mengenai ayat ini menurut apa yang telah dinukil oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini sekalipun makna lahiriahnya menunjukkan tidak akan memperoleh janji Allah, yakni kedudukan imam, seorang yang zalim, tetapi di dalamnya ter-kandung pemberitahuan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Ibrahim kekasih-Nya, kelak akan dijumpai di kalangan keturunanmu orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri, seperti yang telah disebutkan ter-dahulu dari Mujahid dan lain-lainnya.

Ibnu Khuwaiz Mindad Al-Maliki mengatakan, orang yang zalim tidak layak menjadi khalifah, hakim, perawi.

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum haji dan umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 124 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 124 - Gambar 2
Statistik QS. 2:124
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’ 40 ruku’
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.4 (12 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

2:124, 2 124, 2-124, Surah Al Baqarah 124, Tafsir surat AlBaqarah 124, Quran Al-Baqarah 124, Surah Al Baqarah ayat 124

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Baqarah

۞ QS. 2:2 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:3 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:4 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:5 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:6 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 2:7 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:8 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:9 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:10 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:11 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:12 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:15 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:16 • Siksa orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:17 • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:18 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:19 Al Muhith (Maha Mengetahui) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:20 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:21 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:22 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak

۞ QS. 2:24 • Memasuki neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:25 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat wanita penghuni surga • Makanan dan minuman ahli surga

۞ QS. 2:26 • Kesabaran Allah terhadap kejahatan hamba • Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:27 • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:28 Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:29 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 2:31 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:32 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:33 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:36 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:37 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:38 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:39 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:40 • Allah menepati janji

۞ QS. 2:41 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:46 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 2:48 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:49 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:51 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:52 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:54 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:56 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:57 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:58 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:59 Syirik adalah kezaliman • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:61 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:62 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:63 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:64 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:65 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:66 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:68 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:69 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:70 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:72 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:73 • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:74 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:75 • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi

۞ QS. 2:76 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:77 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:79 • Mendustai Allah • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:80 • Mendustai Allah • Allah menepati janji

۞ QS. 2:81 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:82 • Pahala iman • Keabadian surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:83 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 2:85 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:86 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:87 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 2:89 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:90 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:91 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:92 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:93 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:94 • Mendustai Allah • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:95 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:96 Al Bashir (Maha Melihat) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 2:97 • Peranan dan tugas Jibril • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:98 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Kewajiban beriman pada para rasul • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:99 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:101 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:102 • Tugas-tugas malaikat • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Sifat iblis dan pembantunya • Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 2:103 • Pahala iman

۞ QS. 2:104 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:105 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 2:106 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:107 • Segala sesuatu milik Allah • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) •

۞ QS. 2:108 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:109 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:110 Al Bashir (Maha Melihat) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian

۞ QS. 2:111 • Mendustai Allah

۞ QS. 2:112 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:113 • Kepastian hari kiamat

۞ QS. 2:114 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 2:116 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 2:117 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Badi’ (Maha Pencipta)

۞ QS. 2:118 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:119 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:120 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:121 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:123 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir

۞ QS. 2:124 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:126 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 2:127 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:128 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:129 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:130 Islam agama para nabi

۞ QS. 2:131 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi •

۞ QS. 2:132 Tauhid UluhiyyahIslam agama yang diterima di sisi Allah • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:133 Tauhid UluhiyyahAl Wahid (Maha Esa) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi •

۞ QS. 2:134 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:135 Islam agama para nabi • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:136 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 2:137 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi

۞ QS. 2:138 Islam agama fitrah • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:139 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:140 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:141 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:142 • Segala sesuatu milik Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:143 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Orang Islam sebagai saksi Allah terhadap manusia • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:144 Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:145 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:146 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:147 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:148 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan

۞ QS. 2:149 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:152 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:154 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 2:157 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:158 Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:160 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:162 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:163 Tauhid UluhiyyahAl Rahman (Maha Pengasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Wahid (Maha Esa) •

۞ QS. 2:164 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:165 Al Qawiy (Maka Kuat) • Azab orang kafirSyirik adalah kezaliman • Siksa orang kafir • Dosa terbesar

۞ QS. 2:166 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka

۞ QS. 2:167 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 2:168 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 2:169 • Mendustai Allah • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:170 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:171 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:172 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:173 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:174 • Sifat Kalam (berfirman) • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kebangkitan • Balasan dan pahala dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:175 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:176 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:177 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:178 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:181 • Keluasan ilmu Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:182 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:183 Puasa rukun Islam

۞ QS. 2:184 • Toleransi Islam

۞ QS. 2:185 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Toleransi IslamHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:186 • Al Qarib (Maha Dekat) • Keutamaan iman

۞ QS. 2:187 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:191 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:192 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:193 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 2:194 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:196 • Siksaan Allah sangat pedih • Haji rukun Islam

۞ QS. 2:197 • Keluasan ilmu Allah • Haji rukun Islam • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:198 Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:199 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:200 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:201 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:202 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:203 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Toleransi Islam

۞ QS. 2:204 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:205 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:206 • Perlunya saling menasehati antara sesama • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:207 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:208 • Menjaga diri dari syetan • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:209 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:210 • Kedahsyatan hari kiamat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:211 • Siksaan Allah sangat pedih • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:212 • Pahala iman • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:213 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:214 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 2:215 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:216 • Keluasan ilmu Allah • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 2:217 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 2:218 • Pahala iman • Memohon hanya kepada Allah • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:219 • Larangan menghina perbuatan baik

۞ QS. 2:220 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:221 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Keutamaan iman

۞ QS. 2:223 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian • Kebenaran hari penghimpunan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:224 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:225 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:226 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:227 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:228 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:229 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:231 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:232 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:233 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Toleransi Islam • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 2:234 Al Khabir (Maha Waspada) • Perkabungan wanita dalam