Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 118


وَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ لَوۡ لَا یُکَلِّمُنَا اللّٰہُ اَوۡ تَاۡتِیۡنَاۤ اٰیَۃٌ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ؕ تَشَابَہَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ قَدۡ بَیَّنَّا الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یُّوۡقِنُوۡنَ
Waqaalal-ladziina laa ya’lamuuna laulaa yukallimunaallahu au ta’tiinaa aayatun kadzalika qaalal-ladziina min qablihim mitsla qaulihim tasyaabahat quluubuhum qad bai-yannaaaayaati liqaumin yuuqinuun(a);

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata:
“Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?”
Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu, hati mereka serupa.
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.
―QS. 2:118
Topik ▪ Keutamaan berpegang teguh pada Al Qur’an
2:118, 2 118, 2-118, Al Baqarah 118, AlBaqarah 118, Al-Baqarah 118
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 118. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang yang tidak mengetahui dalam ayat ini ialah orang-orang Mekah.
Mereka dikatakan tidak mengetahui karena kepercayaan mereka tidak berdasarkan kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya dan tidak mengikuti nabi-nabi yang telah diutus-Nya.
Hal ini ditegaskan ayat selanjutnya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala langsung mengarahkan pembicaraan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
tentang sikap orang-orang musyrik itu dan persamaan perkataan mereka dengan perkataan orang sebelum Nabi Muhammad diutus.

Orang-orang musyrik itu mengatakan, “Kenapa Allah tidak langsung berbicara dengan mereka yang menerangkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan Alquran diturunkan dari Allah atau datang kepada mereka Malaikat untuk menjelaskannya, atau datang dalil-dalil yang menerangkan dan membuktikan kenabian Muhammad?”

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa perkataan mereka itu sama dengan perkataan orang-orang sebelum mereka yang mereka ucapkan kepada nabi-nabi yang diutus kepada mereka.
Juga Allah menerangkan bahwa apa yang mereka katakan itu sebabnya sama, yaitu karena keingkaran dan kedengkian mereka kepada Muhammad, bukan karena tidak adanya dalil-dalil atau bukti-bukti yang telah didatangkan Allah.
Telah banyak dalil-dalil yang didatangkan Allah, tetapi hati mereka tertutup menerima dalil-dalil itu, karena kesombongan dan keangkuhan mereka.
Apapun dalil dan bukti yang didatangkan, mereka tetap tidak akan beriman.

Perkataan-perkataan orang-orang yang terdahulu yang sama dengan perkataan-perkataan orang-orang musyrik itu tersebut di dalam Alquran, seperti perkataan orang-oang Yahudi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika kamu (Yahudi) berkata, “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang….
(Q.S Al Baqarah: 55) lihat juga (Q.S An Nisa’: 153)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja, sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-sayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya….
(Q.S Al Baqarah: 61)

Orang-orang Nasrani berkata kepada Isa a.s.
sebagaimana tersebut dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Ingatlah) ketika pengikut-pengikut Isa berkata, “Hai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”
(Q.S Al Ma’idah: 112)

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan beriman walau keterangan atau bukti apa pun yang diturunkan kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentu orang-orang yang kafir itu berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir belaka.”
(Q.S Al An’am: 7 baca pula ayat 8, 9 dan 10)

Pada akhir ayat Allah menerangkan bahwa Dia selalu menurunkan bukti-bukti dan dalil-dalil bagi segala sesuatu, Dia menerangkannya dengan sejelas-jelasnya.
Orang-orang yang bersih jiwa dan hatinya akan segera monerima dalil-dalil dan bukti itu dan mereka segera meyakininya.
Orang-orang yang tidak menerimanya ialah orang-orang yang dalam hatinya ada rasa dengki dan penyakit, hatinya kasar dan tertutup.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu, sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.
(Q.S Az Zariyat: 53)

Ayat di atas merupakan penawar duka bagi Nabi Muhammad ﷺ.
yang sedang menghadapi keingkaran kaum musyrik Mekah terhadap seruan beliau.
Seolah-olah ayat di atas menerangkan bahwa sikap kaum musyrikin itu adalah sikap yang sama dengan sikap orang-orang dahulu terhadap nabi-nabi yang diutus kepada mereka.
Karena itu janganlah dihiraukan sikap mereka itu dan janganlah bersedih hati.

Al Baqarah (2) ayat 118 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 118 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 118 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sementara orang-orang musyrik dari kalangan bangsa Arab, masih terus memperlihatkan sikap membangkang pada Muhammad.
Mereka mengajukan permintaan-permintaan padanya seperti apa yang diminta oleh umat-umat terdahulu pada nabi-nabi mereka.
Mereka mengatakan bahwa tidak sekali-kali beriman kecuali jika Allah sendiri berbicara kepada mereka dan mendatangkan tanda-tanda (mukjizat) inderawi sebagai bukti kebenaran Muhammad.
Itu seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dan Dia berbicara langsung kepada kami.” Sebagaimana pengikut ‘Isa meminta kepadanya agar Allah menurunkan hidangan dari langit.
Semuanya itu menjadi bukti bahwa hati para pembangkang itu tidak ada bedanya.
Sungguh tidak ada yang bisa membaca kebenaran kecuali orang yang berhati bersih, berpikiran lurus dan mempunyai semangat mencari kebenaran.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan berkatalah orang-orang yang tidak mengetahui) yakni kaum kafir Mekah kepada Nabi ﷺ, (“Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami) bahwa kamu adalah Rasul-Nya (atau datang kepada kami suatu tanda) atau bukti yang kami usulkan untuk menunjukkan kebenaranmu?”
(Demikian pulalah) artinya seperti yang mereka ucapkan itu (dikatakan kepada orang-orang yang sebelum mereka) yakni umat-umat yang kafir terhadap nabi mereka masing-masing (seperti ucapan mereka) berupa pembangkangan dan permintaan mukjizat-mukjizat, (hati mereka serupa) yakni dalam kekafiran dan pembangkangan.
Ini menjadi hiburan dan bujukan bagi Nabi ﷺ (Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin) yang mengetahui bahwa ia adalah ayat atau tanda, sehingga mereka beriman.
Maka mengusulkan ayat atau tanda-tanda lain merupakan dosa atau kesalahan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang ahli kitab yang bodoh dan selain mereka berkata kepada Nabiyullah dan utusan-Nya Muhammad sebagai ungkapan pengingkaran, Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami secara langsung sehingga Dia mengatakan kepada kami bahwa kamu adalah utusan-Nya, atau kamu mendatangkan mukjizat dari Allah yang menunjukkan kebenaranmu.
Perkataan seperti ini telah dikatakan oleh umat-umat sebelumnya kepada pararasul mereka sebagai kesombongan dan pengingkaran.
Hal itu karena adanya kemiripan hati orang-orang terdahulu dengan hati orang-orang yang datang setelahya dalam kekufuran dan kesesatan.
Kami telah menjelaskan ayat-ayat bagi orang –orang yang membenarkan dengan kuat, karena mereka adalah orang-orang yang berimankepada Allah, mengikuti syariat-Nya untuk mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadanya Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Raff ibnu Harimalah pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Hai Muhammad, jika engkau adalah seorang rasul dari Allah, seperti apa yang kamu katakan, maka katakanlah kepada Allah agar Dia berbicara langsung kepada kami hingga kami dapat mendengar kalam-Nya.” Maka sehubungan dengan hal ini Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya.”

Mujahid mengatakan bahwa orang-orang yang mengatakan demikian adalah orang-orang Nasrani.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, mengingat konteks ayat sedang membicarakan perihal mereka.
Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan.

Imam Qurtubi telah meriwayatkan sehubungan dengan takwil firman-Nya: Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami.” (Al Baqarah:118) Yakni berbicara kepada kami mengenai kenabianmu, hai Muhammad?
Menurut kami (penulis), memang demikianlah makna lahiriah konteksnya.

Abul Aliyah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Qatadah, dan As-Saddi sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan bahwa bagian pertama dari ayat ini merupakan perkataan orang-orang kafir Arab.
Sedangkan firman-Nya:

Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang sebelum mereka adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.
Pendapat yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengatakan hal tersebut adalah kaum musyrik Arab diperkuat oleh firman-Nya:

Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah” (Al An’am:124), hingga akhir ayat.

Dan mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami —sampai dengan firman-Nya— “Katakanlah, ‘Mahasuci Tuhan-ku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?
(Al Israa’:90-93)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami, “Mengapakah tidak diturunkan pada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?”
(Al-Furqin: 21), hingga akhir ayat.

Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.
(Al Muddastir:52)

Masih banyak ayat lain yang menunjukkan kekufuran kaum musyrik Arab, keingkaran, dan kekerasan mereka.
Permintaan yang mereka ajukan tanpa ada keperluan dengan permintaan itu hanyalah karena terdorong oleh kekufuran dan keingkaran.
Perihal mereka sama dengan apa yang telah dilakukan oleh kaum-kaum terdahulu dari kalangan Ahli Kitab dan lain-lainnya, seperti yang dijelaskan oleh firman-Nya:

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit.
Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu.
Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” (An Nisaa:153)

Dan (ingatlah) ketika kalian berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (Al Baqarah:55)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

hati mereka serupa.

Maksudnya, hati orang-orang musyrik Arab serupa dengan hati para pendahulu mereka dalam hal kekufuran, keingkaran, dan melampaui batas.
Seperti yang diungkapkan oleh ayat lain, yaitu firman-Nya:

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu?
(Adz Dzaariyaat:52-53), hingga akhir ayat.

Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

Yakni sesungguhnya Kami telah menerangkan tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul itu yang dengan adanya bukti-bukti tersebut tidak diperlukan lagi adanya pertanyaan dan tambahan lainnya bagi orang yang yakin, percaya, dan mau mengikuti rasul-rasul serta mengerti bahwa apa yang didatangkan oleh mereka adalah dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala Mengenai orang yang hati serta pendengarannya telah dikunci mati, dijadikan gisyawah (penutup) pada pandangannya, maka mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
(Yunus:96-97)

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 118

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 118) sehubungan dengan Rafi’ bin Khuzaimah.
Ketika itu ia berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Jika tuan seorang Raulullah sebagaimana tuan katakan, mintalah kepada Allah agar Ia berbicara (langsung) kepada kami sehingga kami dapat mendengar Perkataan-Nya.” Ayat ini (al-Baqarah: 118) turun sebagai penjelasan bahwa kalaupun Allah mengabulkan permintaan mereka, mereka tetap akan kufur.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 118 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 118



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (20 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku