Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Tampilkan Lainnya ...

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 117 [QS. 2:117]

بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ
Badii’us-samaawaati wal ardhi wa-idzaa qadha amran fa-innamaa yaquulu lahu kun fayakuun(u);
(Allah) pencipta langit dan bumi.
Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya,
“Jadilah!”
Maka jadilah sesuatu itu.
―QS. 2:117
Topik ▪ Sikap bangsa Yahudi terhadap Islam
English Translation - Sahih International
Originator of the heavens and the earth.
When He decrees a matter, He only says to it,
“Be,”
and it is.
―QS. 2:117

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
بَدِيعُ (Allah) pencipta

(The) Originator
ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)

(of) the heavens
وَٱلْأَرْضِ dan bumi

and the earth!
وَإِذَا dan bila

And when
قَضَىٰٓ Dia memutuskan

He decrees
أَمْرًا suatu perkara

a matter,
فَإِنَّمَا maka sesungguhnya hanyalah

[so] only
يَقُولُ Dia berkata

He says
لَهُۥ kepadanya

to it
كُن jadilah

“Be,”
فَيَكُونُ maka jadilah ia

and it becomes.

 

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 117

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bagaimana mungkin Allah membutuhkan keturunan dan mengambil anak padahal Dia yang mula-mula menciptakan bumi, langit dan menundukkan apa yang ada di antara keduanya pada kehendak-Nya.
Tidak ada perbuatan yang sukar bagi Allah.
Apabila menghendaki sesuatu, cukup Allah mengatakan,
“Jadilah”
(kun), maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Penemu langit dan bumi) maksudnya penciptanya tanpa meniru pada contoh-contoh yang lain

(dan bila Dia berkehendak)

(akan sesuatu perkara) artinya menciptakannya

(maka Dia hanya mengucapkan kepadanya,
“Jadilah kamu!”
Lalu jadilah ia) artinya sesuatu itu pun terjadilah.
Menurut satu qiraat ‘fayakuuna’ dengan baris di atas sebagai ‘jawaabul amr’.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah adalah pencipta langit dan bumi tanpa misal sebelumnya.
Bila Dia mentakdirkan sesuatu dan menghendaki kejadiannya, maka cukup bagi-Nya untuk berkata,
“Jadilah”,
maka ia pun jadi.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah Pencipta langit dan bumi.

Yakni Allah yang menciptakan keduanya tanpa contoh terlebih dahulu.
Menurut Mujahid dan As-Saddi, lafaz badi’un dalam ayat ini sesuai dengan makna lugah (bahasa)nya.
Termasuk ke dalam pengertian ini dikatakan terhadap sesuatu yang merupakan kreasi baru dengan sebutan bid’ah.
Seperti yang terdapat di dalam hadis sahih Muslim, yaitu:

Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah.

Bid’ah ada dua macam, yaitu adakalanya bid’ah menurut istilah syara’ (yakni bid’ah sayyi’ah), seperti pengertian yang terkandung di dalam sabda Nabi ﷺ:

Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid ‘ah, dan setiap bid’ah itu sesat.

Yang kedua ialah bid’ah menurut istilah bahasa (yakni bid’ah hasanah) seperti perkataan Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a. ketika melihat hasil jerih payahnya yang telah berhasil menghimpun kaum muslim melakukan salat tarawih hingga mereka menjadikannya sebagai tradisi, yaitu:

Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yakni berjamaah salat tarawih).

Ibnu Jarir mengatakan, makna firman-Nya:
Allah Pencipta langit dan bumi.
(QS. Al-Baqarah [2]: 117)
Makna yang dimaksud ialah mubdi’uhuma (Pencipta keduanya), karena sesungguhnya bentuk asalnya hanyalah mubdi’aun, kemudian di-tasrif menjadi badi’un, sebagaimana di-tasrif lafaz mu’limun menjadi ‘alimun, dan lafaz musmi’un menjadi sami’un.
Makna yang dimaksud ialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, dan Yang Menjadikan tanpa ada seorang pun yang lebih dahulu menciptakan hal yang semisal dengan ciptaan-Nya itu.
Ibnu Jarir mengatakan,
“Oleh sebab itu, seorang yang membuat bid’ah dalam agama dinamakan mubtadi’, karena dia menciptakan hal baru yang belum pernah dilakukan oleh orang lain dalam agama.
Hal yang sama dikatakan pula terhadap orang yang membuat ucapan atau kreasi yang baru yang belum pernah dilakukan oleh pendahulunya.”
Orang-orang Arab menyebut orang yang berbuat demikian dengan nama mubtadi’, antara lain ialah seperti dalam perkataan A’sya ibnu Sa’labah yang memuji Hauzah ibnu Ali Al-Hanafi, yaitu:

Ia dikenal dengan sebutan pemimpin kaum laki-laki apabila timbul tekadnya yang bulat atau membuat kreasi yang dikehendakinya.

Yakni bila dia hendak membuat kreasi baru dari dirinya sendiri.

Makna ayat menurut Ibnu Jarir ialah seperti berikut:
“Mahasuci Allah dari mempunyai anak, Dia adalah Raja semua apa yang ada di langit dan di bumi, semuanya telah menyaksikan keesaan-Nya melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan semuanya mengaku taat kepada-Nya.
Dialah yang menciptakan, yang mengadakan, dan yang menjadikan mereka tanpa asal-usul, juga tanpa contoh yang diikuti-Nya dalam penciptaan-Nya itu.”
Hal ini merupakan pemberitahuan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, bahwa di antara orang-orang yang mengakui hal tersebut adalah Al-Masih yang mereka nisbatkan sebagai anak Allah, dan merupakan pemberitahuan dari Allah kepada mereka bahwa Dia Yang menciptakan langit dan bumi tanpa asal-usul dan tanpa contoh yang mendahuluinya, Dia adalah Tuhan Yang menciptakan Is a tanpa melalui seorang ayah, tetapi hanya dengan kekuasaan-Nya.
Pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini merupakan pendapat yang baik dan merupakan ungkapan yang benar.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya,
“Jadilah”
Lalu jadilah ia.

Melalui ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan kesempurnaan kekuasaan-Nya dan kebesaran pengaruh-Nya.
Dan bahwa apabila Dia menetapkan sesuatu, lalu Dia berkehendak akan mengadakannya, maka se-sungguhnya Dia hanya mengatakan kepadanya,
“Jadilah kamu!”
Yakni hanya sekali ucap.
Maka terjadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya itu sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya yang lain, yaitu:

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya,
“Jadilah”
Maka terjadilah ia.
(QS. Yasin [36]: 82)

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya,
“Jadilah”
Maka jadilah ia.
(QS. Al-Hijr [15]: 40)

Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kedipan mata.
(QS. Al-Qamar [54]: 50)

Melalui ayat ini Allah mengingatkan bahwa penciptaan Isa hanya dengan kalimat Kun (Jadilah!), maka jadilah Isa sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya,
“Jadilah!”
(seorang manusia), maka jadilah dia.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 59)

Qari Internasional

QS. Al-Baqarah (2) : 117 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. Al-Baqarah (2) : 117 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. Al-Baqarah (2) : 117 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan