QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 116 [QS. 2:116]

وَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ لَّہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلٌّ لَّہٗ قٰنِتُوۡنَ
Waqaaluuuut-takhadzallahu waladan subhaanahu bal lahu maa fiis-samaawaati wal ardhi kullun lahu qaanituun(a);

Mereka (orang-orang kafir) berkata:
“Allah mempunyai anak”.
Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah, semua tunduk kepada-Nya.
―QS. 2:116
Topik ▪ Azab orang kafir
2:116, 2 116, 2-116, Al Baqarah 116, AlBaqarah 116, Al-Baqarah 116

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 116

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 116. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan pengakuan mulut dan hati orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa Allah mempunyai anak.
Orang Yahudi mengatakan Uzair putra Allah, sedang orang Nasrani mengatakan bahwa Al-Masih putra Allah.
Perbuatan mereka itu tersebut dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka.
(Q.S. At-Taubah [9]: 30)

Kedua kepercayaan itu pada ‘alaihis salamasnya adalah sama, yaitu menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan berarti mereka memperserikatkan Allah, menyatakan bahwa Allah memerlukan pembantu dalam mengurus alam ini, menyatakan bahwa Allah mempunyai suatu cita-cita dan cita-cita itu akan dilanjutkan oleh putra-Nya seandainya Dia tidak ada lagi.

Kepercayaan dan ucapan yang diucapkan orang-orang kafir itu tidak benar, mengherankan dan terlalu berani, Maha suci Allah subhanahu wa ta’ala dari perkataan-perkataan yang demikian itu.
Allah subhanahu wa ta’ala tidak memerlukan sesuatupun, tidak memerlukan penolong dan pembantu dalam melaksanakan semua urusan-urusan-Nya, tidak memerlukan sesuatupun untuk melanjutkan kehendak-Nya, karena Dia adalah kekal tidak berkesudahan.

Dari perkataan Maha Suci Allah dipahamkan bahwa pengakuan orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai anak adalah pengakuan yang dihukum sebagai dosa besar.
Karena itu hamba-hamba yang terlanjur menyatakan pengakuan itu hendaklah bertaubat kepada Allah.
Hanya dengan bertaubat, dosa besar seseorang hamba dapat diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Akhir ayat ini memberi pengertian bahwa Allah hendak membersihkan diri-Nya dari perkataan orang-orang kafir itu.
Allah menyatakan yang demikian semata-mata untuk menjaga hak hamba-hamba-Nya, membersihkan kepercayaan hamba-hamba-Nya yang dapat merugikan mereka di dunia dan di akhirat nanti.
Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa seluruh alam ini adalah milik-Nya, berada di bawah kekuasaan-Nya.
Tidak sesuatupun yang dapat mengurangi kehendak-Nya dan yang dapat merugikan-Nya.
Semua patuh dan tunduk kepada-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Selama apa yang ada di jagat ini tunduk pada perintah dan kehendak-Nya, maka Allah lebih tinggi dan lebih besar dari sekadar butuh pada keturunan atau anak, seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka berkata) dengan wau atau tanpa wau, maksudnya orang-orang Yahudi dan Kristen serta orang-orang yang mengakui bahwa malaikat-malaikat itu anak-anak perempuan Allah, (‘Allah mempunyai anak.’) Allah berfirman, (“Maha Suci Dia) menyucikan-Nya dari pernyataan tersebut, (bahkan apa-apa yang ada di langit dan di bumi kepunyaan-Nya belaka) baik sebagai hak milik, sebagai makhluk, maupun sebagai hamba.

Pemilikan itu bertentangan dengan pengambilan atau mempunyai anak.

Di sini dipakai ‘maa’ artinya ‘apa-apa untuk yang tidak berakal’ karena ‘taghlib’, artinya untuk mengambil yang lebih banyak.

(semua tunduk kepada-Nya.”) Artinya menaatinya, masing-masing sesuai dengan tujuan diciptakan-Nya.

Di sini lebih ditekankan kepada makhluk yang berakal.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikinberkata, Allah mengangkat anak untuk diri-Nya.
Allah Subhanahu menyucikan diri-Nya dari perkataan batil ini.
Karena semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya dan hamba-Nya.
Mereka semuanya tunduk kepada-Nya dan patuh di bawah kekuasaan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat ini dan ayat yang berikutnya mengandung bantahan terhadap orang-orang Nasrani —semoga laknat Allah menimpa mereka— dan juga orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik Arab, yaitu mereka yang menjadikan para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah.
Allah mendustakan dakwaan semuanya, demikian juga dakwaan mereka yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah beranak.
Untuk itu Dia berfirman, “Subhanahu,” Mahasuci dan Mahabersih serta Maha Tinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah.

Yakni perkara yang sebenarnya tidaklah seperti apa yang mereka buat-buat, sesungguhnya hanya milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi dan semua yang ada padanya.
Dialah yang mengatur mereka, yang menciptakan mereka, yang memberi mereka rezeki, yang menguasai mereka, yang menundukkan mereka, yang menjalankan mereka, dan yang menggerakkan mereka menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Semuanya merupakan hamba-hamba-Nya dan milik-Nya, maka mana mungkin Dia mempunyai anak dari kalangan mereka?
Karena sesungguhnya seorang anak itu hanya dilahirkan dari dua spesies yang sama, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala tiada yang menyamai-Nya dan tiada yang menyekutui-Nya dalam kebesaran dan keagungan-Nya, dan tiada istri bagi-Nya, maka mana mungkin Dia beranak?
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dia Pencipta langit dan bumi.
Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri.
Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu.
(Q.S. Al-An’am [6]: 101)

Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.”” Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.
Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah (mempunyai) anak.
Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.
Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.
Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.
(Q.S. Maryam [19]: 88-95)

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Q.S. Al-Ikhlas [112]: 1-4)

Melalui ayat-ayat tersebut di atas Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Mahaagung Yang tiada tandingan dan tiada persamaan bagi-Nya.
Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk-Nya yang menjadi hamba-hamba-Nya, maka mana mungkin Dia beranak dari mereka?
Karena itu, dalam tafsir ayat ini Imam Bukhari mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, dari Abdullah ibnu Abul Husain, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Jubair (yaitu Ibnu Mut’im), dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Anak Adam telah mendustakan Aku, padahal tidak layak baginya mendustakan Aku.
Dan dia telah mencaci-Ku, padahal tidak patut baginya mencaci-Ku.
Adapun kedustaan yang dilakukannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan bahwa Aku tidak dapat menghidupkannya kembali seperti semula.
Adapun caciannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan bahwa Aku mempunyai anak.
Mahasuci Aku dari mempunyai istri atau anak.”

Hadis ini hanya diketengahkan oleh Imam Bukhari sendiri dari satu jalur.

Ibnu Murdawaih berkata, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Kamil, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Ath-Thurmuzi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq ibnu Muhammad Al-Qarwi, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Anak Adam telah mendustakan Aku, padahal tidak layak baginya mendustakan Aku.
Dan dia telah mencaci-Ku, padahal tidak patut baginya mencaci-Ku.
Adapun kedustaan yang dilakukannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan, “Allah tidak akan membangkitkan aku seperti Dia menciptakan aku pada awal mulanya,” padahal permulaan penciptaan tidaklah lebih mudah daripada mengembalikannya.
Adapun caciannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan bahwa Allah telah mengambil anak (beranak), padahal Aku adalah Allah Yang Maha Esa yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Di dalam kitab Sahihain (Bukhari dan Muslim) disebutkan sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau pernah bersabda:

Tiada seorang pun yang lebih sabar daripada Allah atas gangguan yang telah didengarnya, sesungguhnya mereka menganggap-Nya beranak.
Akan tetapi, Dia tetap memberi mereka rezeki dan membiarkan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Semua tunduk kepada-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Asbat, dari Mutarrif, dari Atiyyah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna qanitun, yakni musallun (berdoa).

Menurut Ikrimah dan Abu Malik, artinya semua mengakui bahwa Dia wajib disembah.
Menurut Sa’id ibnu Jubair makna qanitun ialah ikhlas.
Menurut Ar-Rabi’ ibnu Anas, qanitun artinya berdiri di hari kiamat.
Menurut As-Saddi artinya semua taat kepada-Nya di hari kiamat.

Khasif meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna qanitun, yaitu semua taat kepada-Nya.
Bila dikatakan, “Jadilah kamu manusia,” maka jadilah manusia.
Dan bila dikatakan, “Jadilah kamu keledai,” maka jadilah keledai.

Ibnu Abu Nujaih mengatakan dari Mujahid bahwa qanitun artinya mereka semuanya taat kepada Allah.
Selanjutnya Mujahid mengatakan bahwa taat orang kafir ialah melalui bayangannya yang sujud kepada Allah, sedangkan diri orang kafir itu sendiri tidak suka.
Pendapat dari Mujahid ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Dari semua pendapat di atas Ibnu Jarir menyimpulkan bahwa tunduk, patuh, dan taat hanya kepada Allah merupakan hal yang (diperintahkan) oleh syariat.
Hal ini telah diriwayatkan dalam hadis, sebagaimana disebutkan pula di dalam firman-Nya:

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.
(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 15)

Telah diriwayatkan di dalam sebuah hadis yang mengandung penjelasan tentang lafaz qunut dalam Al-Qur’an, bahwa yang dimaksud adalah taat, tunduk, dan patuh, seperti yang telah dikatakan oleh Ibnu Abu Hatim:

telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, bahwa Darraj yang dijuluki Abus Samah telah menceritakan hadis berikut dari Abul Haisam, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Setiap lafaz Al-Qur’an yang menyebutkan al-qunut artinya taat.

Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, dari Hasan ibnu Musa, dari Ibnu Abu Luhai’ah, dari Darraj dengan sanad yang semisal, tetapi di dalam sanadnya terdapat kelemahan dan tidak dapat dijadikan sebagai pegangan.

Predikat rafa’ hadis ini merupakan hal yang tidak dapat diterima, mengingat adakalanya hal ini merupakan perkataan seorang sahabat atau orang yang lebih rendah daripada dia.
Banyak sekali tafsir yang mengetengahkan sanad ini, padahal di dalamnya terkandung hal yang diingkari.
Maka janganlah Anda teperdaya olehnya, karena sesungguhnya sanad ini predikatnya daif.


Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 116 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 116 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 116 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Baqarah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 286 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 2:116
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.6
Ratingmu: 4.4 (28 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim