Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 104


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَقُوۡلُوۡا رَاعِنَا وَ قُوۡلُوا انۡظُرۡنَا وَ اسۡمَعُوۡا ؕ وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa taquuluu raa’inaa waquuluuunzhurnaa waasma’uu walilkaafiriina ‘adzaabun aliimun;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad):
“Raa’ina”,
tetapi katakanlah:
“Unzhurna”,
dan “dengarlah”.
Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.
―QS. 2:104
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Segala sesuatu milik Allah
2:104, 2 104, 2-104, Al Baqarah 104, AlBaqarah 104, Al-Baqarah 104
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 104. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala melarang para sahabat Nabi mengucapkan kata-kata Raa'inaa yang biasa mereka ucapkan kepada Nabi yang kemudian ditiru oleh orang Yahudi dengan merobah bunyinya sehingga menimbulkan pengertian yang buruk guna mengejek Nabi.

Akan tetapi Allah subhanahu wa ta'ala mengajarkan kepada orang mukmin untuk mengatakan Unzurnaa yang mengandung maksud harapan kepada Rasulullah ﷺ agar dapat memperhatikan keadaan para sahabat.

Allah subhanahu wa ta'ala juga memperhatikan orang-orang mukmin untuk mendengarkan sebaiknya pelajaran-pelajaran agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
yang mengandung pula perintah untuk tunduk dan melaksanakan apa saja yang diperintahkan Nabi, serta menjauhi larangannya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat ini memberikan ancaman bahwa orang-orang kafir yang tidak mau memperhatikan ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad ﷺ.
akan mendapatkan siksaan yang pedih.

Al Baqarah (2) ayat 104 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 104 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 104 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, berhati-hatilah terhadap orang-orang Yahudi itu.
Janganlah kalian katakan kepada Rasul, ketika ia menyampaikan wahyu kepada kalian, "Ra'ina" (peliharalah kami), dengan maksud agar rasul memelihara kalian dan membaca wahyu itu dengan perlahan sehingga kalian dapat mengucapkan dan menghafalnya.
Hal ini disebabkan karena orang-orang Yahudi yang jahat itu selalu berpura-pura mengikuti kalian untuk mengucapkannya dan menghiasi perkataan mereka dengan kalimat ini.
Hingga, lama kelamaan, menjadi sesuai dengan kata-kata celaan yang ditujukan kepada Rasulullah untuk mengejeknya di antara kelompok mereka.
Tetapi pakailah, wahai orang-orang yang beriman, kata lain yang tidak dapat digunakan mereka untuk mengejek.
Katakan, "Unzhurna" (lihatlah kami).
Dengarkan dengan baik apa yang dibacakan Rasul kepada kalian.
Sesungguhnya Allah telah menyimpan siksa yang pedih pada hari kiamat bagi orang-orang yang mengejek Rasul itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan) kepada Nabi (raa`inaa) artinya perhatikanlah kami, 'raa'inaa' diambil dari kata 'muraa`ah', tetapi orang-orang Yahudi biasa mengatakan 'raa`unah' yang dalam bahasa mereka berarti 'teramat bodoh' sebagai ejekan kepada Nabi, maka orang-orang mukmin dilarang mengucapkan kata-kata itu, (dan katakanlah) yakni sebagai gantinya, (unzhurnaa) artinya lihatlah kami, (dan dengarlah olehmu) apa-apa yang dititahkan dengan kesediaan untuk mematuhinya (dan bagi orang-orang kafir disediakan siksaan pedih) yang menyakitkan sekali, yaitu neraka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang beriman, jangan mengucapkan kepada Rasul Muhammad Raina, yakni, berikanlah pendengaranmu, pahamilah kami dan jadikanlah kami paham..
Orang-orang Yahudi mengucapkannya kepada Nabi dengan memutar lidah mereka dengan maksud menghina beliau dan menisbatkannya kepada Ruunah (kebodohan).
Sebagai gantinya, Ucapakanlah wahai orang-orang mukmin, Unzhurna .
Yakni lihat dan perhatikanlah kami.
Kata ini menunaikan makna yang sama dengan kata sebelumnya.
Dan dengarkanlah apa yang dibacakan kepadamu dari kitab Rabb-mu serta pahamila.
Bagi orang-orang yang ingkar disediakan adzab yang pedih.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Melalui ayat ini Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman menyerupakan diri dengan orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan.
Demikian itu karena orang-orang Yahudi selalu menggunakan ucapan-ucapan yang di dalamnya terkandung makna sindiran untuk menyembunyikan maksud sebenarnya, yaitu menghina Nabi ﷺ, semoga Allah melaknat mereka.
Untuk itu apabila mereka hendak mengatakan, "Sudilah kiranya Anda mendengar (memperhatikan) kami," maka mereka mengatakannya menjadi ra'ina, mereka menyindirnya dengan kata-kata yang berarti kebodohan (ketololan), diambil dari akar kata ar-ra'inah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.
Mereka berkata, "Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.'"' Dan (mereka mengatakan pula), "Dengarlah," semoga kamu tidak mendengar apa-apa.
Dan (mereka mengatakan), "Ra’ina," dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.
Sekiranya mereka mengatakan, "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikan kami," tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka.
Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.
(An Nisaa:46)

Demikian pula disebutkan oleh hadis-hadis yang menceritakan bahwa mereka itu (orang-orang Yahudi) apabila mengucapkan salam, sesungguhnya yang mereka ucapkan hanya berarti As-samu 'alaikum, sedangkan makna as-samu ialah kebinasaan atau kematian.

Karena itulah bila menjawab salam mereka kita diperintahkan menggunakan kata-kata wa 'alaikum.
Karena sesungguhnya yang diperkenankan oleh Allah hanyalah buat kita untuk kebinasaan mereka, sedangkan dari mereka yang ditujukan kepada kita tidak diperkenankan.

Tujuan ayat ini ialah Allah melarang kaum mukmin menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatannya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad), "ra’ina" tetapi katakanlah, "Unzurna," dan "Dengarlah." Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sabit, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Atiyyah, dari Abu Munib Al-Jarasyi, dari Ibnu Umar r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Aku diutus sebelum hari kiamat dengan membawa pedang hingga hanya Allah semata yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya, dan rezekiku dijadikan di bawah naungan tombakku, serta kenistaan dan kehinaan dijadikan bagi orang yang menentang perintahku.
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka.

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Usman ibnu Abu Syaibah, dari Abun Nadr Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ibnul Qasim dengan lafaz yang sama, yaitu:

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.

Di dalam hadis ini terkandung larangan, peringatan, dan ancaman yang keras meniru-niru orang kafir dalam ucapan, perbuatan, pakaian, hari-hari raya, ibadah mereka, serta perkara-perkara lainnya yang tidak disyariatkan kepada kita dan yang kita tidak mengakuinya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Na'im ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Mis'ar, dari Ibnu Ma'an dan Aun atau salah seorang dari keduanya, bahwa seorang lelaki datang kepada Abdullah ibnu Mas'ud, lalu lelaki itu berkata, "Berilah aku pelajaran." Ibnu Mas'ud menjawab, "Apabila kamu mendengar Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, 'Hai orang-orang yang beriman,' maka bukalah lebar-lebar telingamu (perhatikanlah) karena sesungguhnya hal itu merupakan kebaikan yang diperintahkan, atau kejahatan yang dilarang."

Al-A'masy meriwayatkan dari Khaisamah yang pernah berkata, "Apa yang kalian baca di dalam Al-Qur'an yang bunyinya mengatakan, 'Hai orang-orang yang beriman,' maka sesungguhnya hal itu di dalam kitab Taurat disebutkan, 'Hai orang-orang miskin'."

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Sa'id ibnu Jubair atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna kalimat ra'ina.
Ia mengatakan, artinya ialah 'perhatikanlah kami dengan pendengaranmu'.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad), "Ra'ina."

Pada mulanya mereka mengatakan kepada Nabi ﷺ, "Bukalah pendengaranmu lebar-lebar untuk kami." Sesungguhnya ucapan ra'ina ini sama dengan ucapanmu, "'Alinna."

Mujahid mengatakan, makna la taqulu ra'ina ialah janganlah kalian mengatakan hal yang bertentangan.
Menurut riwayat lain disebutkan, "Janganlah kamu katakan, 'Perhatikanlah kami, maka kami akan memperhatikanmu'."

Ata mengatakan bahwa ra'ina adalah suatu dialek di kalangan orang-orang Ansar, maka Allah melarang hal tersebut.

Al-Hasan mengatakan bahwa ucapan ra'ina artinya kata-kata ejekan, mengingat ar-ra'inu minal qauli artinya kata-kata yang digunakan untuk tujuan tersebut.
Allah subhanahu wa ta'ala melarang memperolok-olok ucapan Nabi ﷺ dan seruan beliau yang mengajak mereka masuk Islam.
Hal yang sama diriwayatkan pula dari Ibnu Juraij, bahwa dia mengatakan hal yang semisal.

Abu Sakhr mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya:

janganlah kalian katakan (kepada Muhammad), "Ra'ina," tetapi katakanlah, "Unzurna."

Pada mulanya apabila ada seseorang dari kalangan kaum mukmin mempunyai suatu hajat (keperluan) kepada Nabi ﷺ, sedangkan Nabi ﷺ telah beranjak dari mereka, maka mereka memanggilnya dengan ucapan, "'Sudilah kiranya engkau memperhatikan kami." Hal ini terasa kurang enak oleh Rasulullah ﷺ bila ditujukan kepada diri beliau.

As-Saddi mengatakan, seorang lelaki dari kalangan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' yang dikenal dengan nama Rifa'ah ibnu Zaid sering datang kepada Nabi ﷺ Apabila Rifa'ah bersua dengannya, lalu mereka berbincang-bincang.
Rifa'ah mengatakan, "Dengarkanlah aku, semoga engkau tidak mendengar apa-apa" (dengan memakai dialeknya), sedangkan kaum muslim menduga bahwa para nabi terdahulu dihormati dengan ucapan tersebut.
Maka salah seorang kaum muslim ikut-ikutan mengatakan, "Dengarkanlah, semoga engkau tidak mendengar, semoga engkau tidak berkecil hati." Kalimat inilah yang disebutkan di dalam surat An-Nisa.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada kaum mukmin, janganlah mereka mengucapkan kata-kata ra'ina kepada Nabi ﷺ Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam meriwayatkan pula hal yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang benar menurut kami sehubungan dengan masalah ini ialah Allah melarang kaum mukmin mengatakan kepada Nabi-Nya ucapan ra’ina.
Karena kalimat ini tidak disukai oleh Allah subhanahu wa ta'ala bila mereka tujukan kepada Nabi-Nya.
Pengertian ayat ini sama dengan makna yang terkandung di dalam sabda Nabi ﷺ, yaitu:

Janganlah kalian sebutkan buah anggur dengan nama Al-Karam, melainkan sebutlah Al-Habalah, dan janganlah kalian sebulkan, "Hambaku" melainkan sebutlah, "Pelayanku."

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 104

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari as-Suddi.
Bahwa dua orang Yahudi, bernama Malik bin ash-Shaif dan Rifa’ah bin Zaid, apabila bertemu dengan Nabi ﷺ mereka mengucapkan: “Raa’inaa sam’aka wasma’ ghaira musma’iin..
Kaum Muslimin mengira kata-kata itu adalah ucapan ahli kitab untuk menghormati nabi-nabinya.
Merekapun mengucapkan kata-kata itu kepada Nabi ﷺ.
Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Baqarah: 104) sebagai larangan untuk meniru perbuatan kaum Yahudi.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kata raa’inaa dalam bahasa Yahudi berarti caci maki yang jelek.
Sehubungan dengan itu ada peristiwa sebagai berikut: Ketika kaum Yahudi mendengar shahabat-shahabat Nabi ﷺ memakai kata (raa’inaa), mereka sengaja mengumumkan agar kata itu biasa digunakan dan ditujukan kepada Nabi ﷺ.
Apabila para shahabat Nabi ﷺ menggunakan kata-kata itu, mereka menertawakannya.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 104).
Ketika salah seorang shahabat, yaitu Sa’d bin Mu’adz mendengar ayat ini, berkatalah ia kepada Yahudi: “Hai musuh-musuh Allah! Jika aku mendengar perkataan itu diucapkan oleh salah seorang di antaramu sesudah pertemuan ini, akan kupenggal batang lehernya!”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ad-Dahhak bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104) ketika seorang laki-laki berkata: “Ariinii sam’aka.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Athiyyah,bahwa pada waktu itu ada beberapa orang Yahudi mengatakan: “Raa’inaa sam’aka”, yang ditiru oleh beberapa orang Islam.
Akan tetapi Allah membencinya dengan menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 104).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika kaum Muslimin mengucapkan: “Raa’inaa sam’aka”, datanglah kaum Yahudi dan mengatakan ucapan seperti itu pula.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 104)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha’ bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104) sehubungan dengan ucapan “raa’inaa”, yaitu bahasa yang dipakai kaum Anshar di zaman jahiliyah, dan karenanya dilarang oleh ayat ini (al-Baqarah: 104)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa sesungguhnya orang Arab apabila bercakap-cakap dengan salah seorang temannya suka mengatakan: “Ari’nii sam’aka”.
Kemudian mereka dilarang menggunakan kata-kata itu dengan turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 104 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 104



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (20 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku