Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 surah 2 ayat 255 juga bisa langsung diakses di URL risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 102


وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ
Waattaba’uu maa tatluusy-syayaathiinu ‘ala mulki sulaimaana wamaa kafara sulaimaanu walakinnasy-syayaathiina kafaruu yu’allimuunan-naasassihra wamaa unzila ‘alal malakaini bibaabila haaruuta wamaaruuta wamaa yu’allimaani min ahadin hatta yaquulaa innamaa nahnu fitnatun falaa takfur fayata’allamuuna minhumaa maa yufarriquuna bihi bainal mar-i wazaujihi wamaa hum bidhaarriina bihi min ahadin ilaa biidznillahi wayata’allamuuna maa yadhurruhum walaa yanfa’uhum walaqad ‘alimuu lamaniisytaraahu maa lahu fii-aakhirati min khalaaqin walabi-asa maa syarau bihi anfusahum lau kaanuu ya’lamuun(a);

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:
“Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.
Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.
Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah.
Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.
Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.
―QS. 2:102
Topik ▪ Takdir ▪ Kebenaran dan hakikat takdir ▪ Sikap bangsa Yahudi terhadap Islam
2:102, 2 102, 2-102, Al Baqarah 102, AlBaqarah 102, Al-Baqarah 102
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 102. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang Yahudi mengikuti sihir yang dibacakan oleh setan di masa Sulaiman putra Daud meskipun mereka tahu, bahwa yang demikian itu sebenarnya salah.
Mereka menuduh bahwa Nabi Sulaiman yang menghimpun kitab yang mengandung sihir dan menyimpan di bawah tahtanya, kemudian dikeluarkan dan disiarkan.

Dugaan serupa itu adalah suatu pemalsuan dan perbuatan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu.
Sebenarnya mereka hanya menghubung-hubungkan sihir itu pada Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman tidak mengajarkan atau mempraktekkan sihir karena beliau mengetahui bahwa perbuatan yang demikian itu termasuk mengingkari Tuhan, apalagi kalau ditinjau dari kedudukannya sebagai nabi mustahillah kalau beliau itu mempraktekkan sihir.

Sihir itu sebenarnya adalah tipuan dan sulapan yang hanya dilakukan oleh setan, baik yang berbentuk manusia ataupun yang berbentuk jin.

Kisah tentang sihir banyak dituturkan dalam Alquran terutama dalam kisah Musa dan Fir’aun.
Dalam kisab itu diterangkan sifat-sifat sihir, bahwa sihir itu adalah sulapan yang menipu pandangan mata, sehingga orang yang melihat mengira, bahwa yang terlihat seolah-olah keadaan yang sebenarnya.
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala

Terbayang kepada Musa seakan-akan tongkat itu merayap cepat lantaran sihir mereka.
(Q.S Taha: 66)

Dan sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut.
(Q.S Al A’raf: 116)

Sihir itu termasuk sesuatu yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh sebahagian manusia saja.

Akan tetapi apa yang telah terjadi menunjukkan bahwa kedua malaikat itu, tidak mampu memberikan pengaruh gaib yang melebihi kemampuan manusia bahkan yang disebut kekuatan gaib oleh mereka itu hanyalah kemahiran dalam menguasai sebab-sebab yang mempunyai perpautan dengan akibat yang dilakukan.
Hal ini hanyalah terjadi karena izin Allah semata-mata sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan Allah.

Dalam praktek, tukang-tukang sihir itu membaca mantera dengan menyebut nama-nama setan dan raja-raja jin agar timbul kesan seolah-olah manteranya itu dikabulkan oleh raja jin.
Atas dasar praktek mereka inilah timbul anggapan yang merata dalam lapisan masyarakat, bahwa sihir itu dibantu oleh setan.
Kemudian orang-orang Yahudi yang sezaman dengan Nabi Muhammad ﷺ.
menyebarluaskan sihir itu di kalangan orang-orang Islam dengan tujuan untuk menyesatkan.
Mereka dapati sihir itu dari nenek moyang mereka yang mengatakan sihir itu dari Sulaiman a.s.
Padahal kedua malaikat tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun, sebelum memberikan nasihat agar orang jangan mengamalkan sihir itu, sebab orang-orang yang mempraktekkah sihir itu adalah kafir.

Ayat ini sebenarnya tidak menunjukkan hakikat sihir.
Apakah sihir itu berpengaruh secara tabi’i ataukah pengaruh itu disebabkan oleh sesuatu yang sangat misteri, juga tidak diterangkan apakah sihir itu dapat memberi pengaruh kepada manusia dengan cara yang tidak biasa, ataukah sihir itu sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa.

Ringkasnya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan keterangan-keterangan secara terperinci.
Andaikan Allah memandang baik menerangkan hakikat sihir itu dan bermanfaat bagi manusia, tentulah Allah akan menerangkannya secara terperinci.

Seterusnya Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa sihir itu tidak memberikan manfaat sedikit pun kepada manusia, bahkan memberikan mudarat.
Oleh sebab itulah Allah mengancam orang-orang yang mempraktekkannya dengan siksaan.
Sebetulnya orang-orang Yahudi pun telah mengetahui bahwa sihir itu memudaratkan manusia yang seharusnya mereka membencinya.
Akan tetapi karena adanya maksud jahat yang terkandung dalam hati mereka untuk menyesatkan orang Islam, mereka pun mau mengerjakannya juga.
Oleh sebab itulah Allah mencela perbuatan sihir dan memasukkan orang yang mengerjakan perbuatan sihir itu ke dalam golongan yang memilih perbuatan sesat.
Selanjutnya Allah menegaskan bahwa di akhirat mereka tidak akan mendapat kebahagiaan sedikit pun.
Karena mereka yang telah memilih perbuatan sihir, berarti mereka telah menyalahi hukum yang termuat dalam Kitab Taurat, padahal dalam kitab mereka sendiri terdapat juga ketentuan bahwa orang yang mengikuti bisikan jin, setan dan dukun itu sama hukumnya dengan orang yang menyembah berhala dan patung.

Lebih jauh Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa sihir yang mereka kerjakan itu sangat jelek.
Allah menggambarkan orang yang memilih perbuatan sihir sebagai kesenangannya itu seperti orang yang menjual iman dengan kesesatan.
Gambaran serupa ini gunanya untuk menyingkap selubung mereka, agar supaya kesadarannya dapat terbuka dan mengetahui bahwa manusia itu diciptakan Allah untuk berbakti kepada Allah.
Dengan kata lain, andaikata mereka mengetahui kesesatan orang yang mempelajari dan mempraktekkan sihir, tentulah mereka tidak akan melakukannya.
Akan tetapi mereka telah jauh tertipu, sehingga mereka beranggapan bahwa sihir itu termasuk ilmu pengetahuan, dan mereka merasa puas dengan ilmu yang tak terbukti kebenarannya dan tidak memberikan pengaruh apa pun kepada jiwa seseorang kecuali dengan izin Allah.

Al Baqarah (2) ayat 102 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 102 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 102 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka mempercayai apa yang dibuat-buat oleh setan mereka dan orang-orang yang keji dari mereka tentang kekuasaan Sulayman.
Mereka mengira bahwa Sulayman bukanlah nabi atau rasul yang menerima wahyu dari sisi Allah, melainkan hanya seorang penyihir yang selalu meminta bantuan kepada ilmu sihirnya.
Mereka juga mengira bahwa sihir inilah yang memperkuat kerajaan Sulayman dan membuatnya menguasai jin, burung dan angin.
Mereka menisbatkan kekufuran itu kepada Sulayman, padahal Sulayman tidak kafir.
Setan-setan yang berbuat keji itulah yang sebenarnya kafir.
Mereka telah membuat-buat dongeng dan mengajarkan sihir kepada manusia, baik dari diri mereka sendiri maupun dari sisa-sisa peninggalan yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia:
Harut dan Marut.
Padahal, dua malaikat ini tidak mengajarkan sesuatu kepada siapa pun, sebelum mengingatkan orang itu dengan mengatakan, “Sesungguhnya kami mengajarkan sesuatu yang menyebabkan fitnah dan kekufuran, maka dari itu ketahuilah dan hati-hatilah dalam mengerjakannya.” Tetapi manusia tidak mendengar nasihat itu.
Mereka menggunakan apa yang mereka pelajari dari kedua malaikat itu untuk memisahkan suami dari istrinya.
Setan-setan yang keji itu memang kufur, karena mereka telah membuat-buat dongeng itu sebagai perantara untuk mengajar sihir kepada orang-orang Yahudi.
Dengan sihir ini, mereka tidak akan bisa memberi mudarat kepada orang lain.
Hanya Allahlah yang memberi izin atas suatu kemudaratan, jika Dia menghendaki.
Sebenarnya sihir yang diambil dari mereka itu membahayakan orang yang mempelajarinya, baik dunia maupun agamanya.
Sihir itu tidak akan dapat memberikan manfaat.
Sebenarnya mereka benar- benar mengetahui bahwa barangsiapa yang berjalan di jalan ini, tidak akan mendapatkan bagian dari kenikmatan akhirat.
Alangkah buruknya apa yang mereka pilih untuk diri mereka ini apabila mereka masih memiliki ilmu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka mengikuti) diathafkan pada ‘nabadza’ (apa yang dibaca) dulu (oleh setan-setan pada) masa (kerajaan Sulaiman) berupa buku-buku sihir yang mereka pendam di bawah singgasananya ketika kerajaannya runtuh.
Atau mungkin juga setan-setan itu mencari dengar lalu mencampurkan ke buku-buku itu kebohongan-kebohongan dan memberikannya kepada tukang-tukang tenung yang membukukannya sehingga tersebar berita bahwa jin mengajarkan hal-hal gaib.
Sulaiman pun mengumpulkan buku-buku itu lalu menguburkannya.
Tatkala ia mangkat, setan-setan pun menunjukkannya kepada manusia dan ketika mereka bongkar ternyata di dalamnya ada ilmu sihir.
Kata mereka, “Kerajaan kamu berdirinya adalah dengan ini!” Lalu mereka pelajari ilmu sihir itu dan mereka tolak buku-buku nabi-nabi mereka.
Ketika orang-orang Yahudi mengatakan, “Lihat itu Muhammad, disebutkannya Sulaiman itu seorang nabi, padahal ia tidak lebih dari seorang tukang sihir”,
maka Allah pun berfirman untuk membuktikan kebenaran Sulaiman dan menyangkal orang-orang Yahudi itu, (padahal Sulaiman tidaklah kafir) maksudnya ia tidak melakukan sihir, sebab sihir adalah perbuatan kafir (hanya) ada yang membaca ‘lakinna’ dan ada yang membaca ‘lakin’ (setan-setanlah yang kafir.
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia).
Kalimat ini menjadi hal bagi kata ganti yang terdapat pada ‘kafaruu’ (dan) mengajarkan pula kepada mereka (apa yang diturunkan kepada dua malaikat) artinya ilmu sihir yang diilhamkan kepada mereka.
Ada pula yang membaca ‘al-malikain’ dengan lam berbaris bawah sehingga berarti dua orang raja, yaitu yang berada (di Babilon) suatu negeri di tanah subur Irak.
(Harut dan Marut) merupakan ‘badal’ atau nama dan kata ganti dari kedua malaikat itu, atau athaf bayan, artinya hubungan yang memberi penjelasan.
Menurut Ibnu Abbas, kedua mereka itu adalah tukang sihir yang mengajarkan ilmu sihir dan ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah dua orang malaikat yang sengaja diturunkan Allah untuk menyebarkannya sebagai ujian dari Allah terhadap umat manusia.
(Sedangkan keduanya tidaklah mengajarkan kepada) ‘min’ merupakan tambahan (seorang pun sebelum mengatakan) atau menyampaikan nasihat lebih dahulu (“Sesungguhnya kami ini hanya cobaan) ujian dari Allah terhadap manusia dengan mengajarkannya, siapa yang mempelajarinya, ia jatuh kafir dan siapa yang meninggalkannya ia mukmin, (sebab itu janganlah kamu kafir!”) Jika ia masih mendesak untuk mempelajarinya barulah mereka mengajarkannya.
(Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seorang laki-laki dengan istrinya) misalnya dengan membangkitkan marah dan kebencian satu pihak terhadap lainnya.
(Dan tidaklah mereka) yakni ahli-ahli sihir itu (dapat memberi mudarat dengannya) maksudnya dengan ilmu sihir itu (dari) ‘min’ di sini hanya sebagai tambahan (kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah) atau kehendak-Nya (Dan mereka pelajari apa yang memberi mudarat kepada mereka), yakni di akhirat (dan yang tidak memberi manfaat) yakni sihir.
(Dan sesungguhnya) ‘lam’ menunjukkan sumpah (mereka sebenarnya tahu) yakni orang-orang Yahudi itu sebenarnya yakin (bahwa barang siapa) ‘lam’ merupakan lam ibtida yang menghubungkan dengan kalimat sebelumnya, sedangkan ‘man’ isim maushul (yang menukarnya) atau menggantinya (sihir) dengan Kitabullah, (tiadalah baginya bagian di akhirat) atau keberuntungan dalam surga, (dan amat buruklah sesuatu) maksudnya perbuatan mereka (menjual) menukarkan (diri mereka dengannya) yakni menjual kebahagiaannya di akhirat dengan mempelajari sihir karena telah pasti akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka, (seandainya mereka menyadarinya) jika mereka benar-benar tahu atau menyadari hakikat siksaan yang akan mereka jalani di akhirat kelak, niscaya mereka tidak mau mempelajarinya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang Yahudi mengikuti apa yang dibisikkan oleh para setan kepada tukang sihir di zaman Sulaiman bin Dawud.
Sulaiman tidak kufur dan tidak mempelajari sihir, sebaliknya para setanlah yang kafir kepada Allah manakala mereka mengajarkan sihir kepada manusia untuk merusak agama mereka.
Orang-orang yahudi juga mengikuti sihir yang diturunkan kepada dua malaikat Harut dan Marut di bumi Babil di Irak sebagai cobaan dan ujian dari allah kepada hamba-hamba-Nya.
Dua malaikat tersebut tidak mengajar siapapun kecuali keduanya menasihatinya dan memperingatkannya agar tidak mempelajari sihir.
Keduanya berkata kepadanya, Janganlah kamu menjadi kafir dengan mempelajari sihir dan menaati setan.
Lalu orang-orang belajar dari dua malaikat tersebut sihir yang memicu kebencian di antara suami istri sehingga keduanya berpisah.
Para tukang sihir itu tidak mampu menimpakan mudharat kepada seseorang kecuali dengan izin dan ketetapan dari Allah.
Para tukang sihir itu tidak mempelajari kecuali sesuatu yang buruk yang merugikan mereka dan tidak memberi manfaat bagi mereka.
Sihir ini dinukil oleh setan-setan kepada orang-orang Yahudi, sampai ia menyebar dikalangan mereka sehingga mereka mengedepankannya di atas kitab Allah.
Orang-orang Yahudi menggetahui bahwa siap yang memilih sihir dan meninggalkan kebenaran, maka dia tidak meraih bagian kebaikan di akhirat.
Benar-benar buruk sihir dan kekufuran yang mereka dapatkan dengan menggadaikan iman dan mengikuti Rasulullah, seandainya mereka mempunyai ilmu dan membuahkan amal dengan apa yang mereka dinasihati dengannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, dahulu Nabi Sulaiman merampas semua ilmu sihir yang ada di tangan setan, kemudian ia kubur ilmu tersebut di bawah kursi singgasananya, yakni di dalam gudangnya, hingga setan-setan tidak dapat mencapainya.

Kemudian setan mendekati manusia dan berkata kepada mereka, “Tahukah kalian ilmu apakah yang dipakai oleh Sulaiman untuk menundukkan setan-setan dan angin serta lain-lainnya?”
Mereka menyetujui pendapat setan, lalu setan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya kitab itu ada di dalam gudang rumahnya, tepatnya di bawah kursi singgasananya.” Setan membujuk manusia untuk mengeluarkannya, lalu mengamalkannya.

Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ dan beliau ﷺ menceritakan perihal Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, maka orang-orang Yahudi mengatakan, “Lihatlah oleh kalian Muhammad ini, dia mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil.
Dia menyebut Sulaiman bersama para nabi, padahal sesungguhnya Sulaiman hanyalah tukang sihir yang dapat menaiki angin.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir)…, hingga akhir ayat, (Al Baqarah:102).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.

Yang dimaksud dengan mereka ialah orang-orang Yahudi yang telah diberi Al-kitab (Taurat).
Hal ini terjadi setelah mereka berpaling dari ajaran Kitabullah (Taurat) yang ada di tangan mereka dan setelah mereka menentang Rasulullah ﷺ Sesudah kesemuanya itu mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan.
Yang dimaksud dengan bacaan setan ialah riwayat, berita, dan kisah yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.

Dalam ungkapan ini fi’il tatlu ber-muta’addi dengan huruf ‘ala karena di dalamnya terkandung pengertian membaca secara dusta.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa huruf ‘ala dalam ayat ini mengandung makna sama dengan huruf fi, yakni tatlu fi mulki Sulaiman, artinya: Yang dibacakan oleh setan-setan dalam kerajaan Sulaiman.
Ibnu Jarir menukil pendapat ini dari Ibnu Juraij dan Ibnu Ishaq.

Menurut kami, makna tadammun (yang mengandung pengertian membaca dan berdusta) adalah lebih baik dan lebih utama.

Mengenai pendapat Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa dahulu sebelum masa Nabi Sulaiman ibnu Nabi Daud sihir itu telah ada, pendapat ini memang benar dan tidak diragukan lagi.
Mengingat tukang-tukang sihir banyak didapat di masa Nabi Musa ‘alaihis salam, sedangkan zaman Sulaiman ibnu Daud sesudah itu, seperti yang dijelaskan oleh firman-Nya:

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa…, hingga akhir ayat, (Al Baqarah:246).

Kemudian dalam kisah selanjutnya disebutkan melalui firman-Nya:

Dan (dalam peperangan ini) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah.
(Al Baqarah:251)

Kaum Nabi Saleh —yang ada sebelum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam— berkata kepada Nabi mereka (yaitu Nabi Saleh), seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir.
(Asy Syu’ara:153)

Menurut pendapat yang masyhur, lafaz mas-hur artinya orang yang terkena sihir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu).
Sebab itu, janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya

Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan takwil ayat ini.
Sebagian dari mereka mengatakan bahwa huruf ma adalah nafiyah, yakni huruf ma yang terdapat di dalam firman-Nya, “Wa ma unzila ‘alal malakaini.”

Al-Qurtubi mengatakan bahwa ma adalah nafiyah, ia di-‘ataf-kan kepada firman-Nya, “Wa ma kafara Sulaimanu.” Selanjutnya dalam ayat berikut disebutkan:

hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat.

Karena dahulu orang-orang Yahudi menduga bahwa ilmu sihir tersebut diturunkan oleh Malaikat Jibril dan Mikail.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala membantah kedustaan mereka itu melalui firman-Nya:

yaitu Harut dan Marut.
(Al Baqarah:102)

Kedudukan kedua lafaz ini menjadi badal dari lafaz syayatin.
Selanjutnya Al-Qurtubi mengatakan, hal seperti ini dinilai sah, mengingat adakalanya jamak itu disebut dengan lafaz yang menunjukkan pengertian dua, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

jika yang meninggal itu mempunyai beberapa orang saudara.
(An Nisaa:11)

Atau karena keduanya mempunyai banyak pengikut, atau keduanya diprioritaskan dalam sebutan di antara mereka karena keduanya sangat jahat.
Bentuk kalimat secara lengkap menurut Al-Qurtubi ialah seperti berikut: “Mereka mengajarkan sihir kepada manusia di Babil, yakni Harut dan Marut.” Kemudian Al-Qurtubi mengatakan, “Takwil inilah yang menurut pendapatku merupakan takwil yang paling utama dan paling sahih pada ayat ini, sedangkan yang lainnya tidak perlu diperhatikan lagi.”

Ibnu Jarir meriwayatkan berikut sanadnya melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan tafsir firman-Nya: dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil.
(Al Baqarah:102), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak menurunkan sihir.

Menurut riwayat lain berikut sanadnya Ibnu Jarir mengemukakan pula melalui Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ilmu sihir kepada keduanya.

Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa takwil ayat ini seperti berikut: “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, yaitu berupa ilmu sihir, padahal Sulaiman tidak mengerjakan sihir dan Allah pun tidak pernah menurunkan ilmu sihir kepada dua malaikat, hanya setan-setanlah yang kafir.
Mereka mengajarkan ilmu sihir pada manusia di Babil, yakni Harut dan Marut.”

Dengan demikian, berarti lafaz bibabila haruta wa maruta termasuk lafaz yang diakhirkan, tetapi maknanya didahulukan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa seandainya ada seseorang bertanya, “Apakah alasan yang membolehkan taqdim (pendahuluan) tersebut?”
Sebagai jawabannya ialah dikemukakan bahwa takwil ayat seperti berikut: “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, yakni berupa ilmu sihir, padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), tidak pula Allah menurunkan ilmu sihir kepada dua malaikat, hanya setan-setanlah yang kafir.
Mereka mengajarkan ilmu sihir kepada manusia di Babil, yaitu Harut dan Marut.” Lafaz malakaini dimaksudkan adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail, karena para ahli sihir orang-orang Yahudi menurut berita yang tersiar di kalangan mereka menduga bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan ilmu sihir melalui lisan Jibril dan Mikail yang disampaikan kepada Sulaiman ibnu Daud.
Maka Allah mendustakan tuduhan yang mereka lancarkan itu, dan memberitahukan kepada Nabi-Nya (Nabi Muhammad ﷺ) bahwa Jibril dan Mikail sama sekali tidak pernah menurunkan ilmu sihir.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala membersihkan diri Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dari tuduhan mempraktikkan sihir yang mereka lancarkan itu.
Sekaligus Allah memberitahukan kepada mereka (orang-orang Yahudi) bahwa sihir itu merupakan perbuatan setan-setan.
Setan-setanlah yang mengajarkannya kepada manusia di Babil.
Orang-orang yang mengajarkan sihir kepada mereka adalah dua orang lelaki, salah seorangnya bernama Harut, sedangkan yang lain adalah Marut.

Berdasarkan takwil ini berarti Harut dan Marut adalah nama manusia, sekaligus sebagai bantahan terhadap apa yang mereka tuduhkan terhadap kedua malaikat (Jibril dan Mikail).
Demikianlah nukilan dari Ibnu Jarir secara harfiah.

Sesungguhnya Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa ia pernah menceritakan riwayat berikut dari Ubaidillah ibnu Musa yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah sehubungan dengan tafsir firman-Nya, “Wa ma unzila ‘alal malakaini,” bahwa Allah sama sekali tidak menurunkan ilmu sihir kepada Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Al-Fadl ibnu Syazan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Ya’la (yakni Ibnu Asad), telah menceritakan kepada kami Bakr (yakni Ibnu Mus’ab), telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Abu Ja’far, bahwa Abdur Rahman ibnu Abza selalu membaca ayat berikut dengan bacaan: Wa ma unzila ‘alal malakaini Dawuda wa Sulaimana.

Abul Aliyah mengatakan bahwa Allah tidak menurunkan ilmu sihir kepada keduanya (Daud dan Sulaiman).
Keduanya mengajarkan kepada iman dan memperingatkan terhadap kekufuran, sedangkan sihir termasuk perbuatan kafir.
Keduanya selalu melarang perbuatan kufur dengan larangan yang sangat keras.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Kemudian Ibnu Jarir melanjutkan kata-katanya sehubungan dengan bantahannya terhadap pendapat Al-Qurtubi tadi, bahwa huruf ma dalam ayat ini bermakna al-lazi, lalu ia membahasnya dengan pembahasan yang panjang lebar.
Ia menduga bahwa Harut dan Marut adalah dua malaikat yang diturunkan ke bumi oleh Allah subhanahu wa ta’ala Allah mengizinkan keduanya untuk mengajarkan ilmu sihir sebagai cobaan buat hamba-hamba-Nya, sekaligus sebagai ujian, sesudah Allah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan rasul-rasul-Nya bahwa melakukan sihir itu merupakan perbuatan terlarang.

Ibnu Jarir menduga pula bahwa Harut dan Marut dalam mengajarkan ilmu sihir tersebut dianggap sebagai malaikat yang taat, mengingat keduanya dalam rangka melaksanakan perintah Allah.
Pendapat yang ditempuh oleh Ibnu Jarir ini sangat garib.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan berikut sanadnya melalui Ad-Dahhak ibnu Muzahim, bahwa ia pernah membacakan wama unzila ‘alal malakaini, lalu ia mengatakan bahwa keduanya adalah dua orang kafir dari kalangan penduduk negeri Babil.
Alasan yang dipegang oleh orang-orang yang berpendapat demikian ialah bahwa al-inzal di sini bermakna menciptakan, bukan menurunkan, seperti pengertian yang terkandung di dalarn firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya, yaitu:

Dia ciptakan bagi kalian delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.
(Az Zumar:6)

Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat (Al Hadiid:25)

Dan Dia menciptakan untuk kalian rezeki dari langit.
(Al-Mu’min: 13)

Di dalam sebuah hadis disebutkan seperti berikut:

Tidak sekali-kali Allah menciptakan penyakit melainkan Dia menciptakan pula obat penawarnya.

Sebagaimana dikatakan dalam suatu pepatah, “Allah menciptakan kebaikan dan keburukan.”

Al-Qurtubi meriwayatkan melalui Ibnu Abbas, Ibnu Abza, dan Al-Hasan Al-Basri, bahwa mereka membaca ayat ini seperti berikut: Wama unzila ‘alal malikaini, dengan huruf lam yang di-kasrah-kan.
Ibnu Abza mengatakan, yang dimaksud dengan al-malikaini adalah Daud dan Sulaiman.
Imam Qurtubi mengatakan bahwa dengan bacaan ini berarti huruf ma adalah nafiyah.

Ulama lainnya berpendapat mewaqafkan pada firman-Nya, “Yu’allimunan nasas sihra,” sedangkan huruf ma adalah nafiyah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadanya Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Al-Qasim ibnu Muhammad ketika ditanya mengenai takwil firman-Nya oleh seorang lelaki, yaitu: Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut.
(Al Baqarah:102) Bahwa keduanya adalah dua orang lelaki, mereka mengajarkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada keduanya.
Menurut yang lainnya, keduanya mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diturunkan kepada keduanya.
Al-Qasim ibnu Muhammad mengatakan, “Aku tidak pedulikan lagi mana yang dimaksud di antara keduanya.”

Kebanyakan ulama Salaf berpendapat bahwa Harut dan Marut adalah dua malaikat dari langit, dan bahwa keduanya diturunkan ke bumi, kemudian terjadilah apa yang dialami oleh keduanya.
Kisah keduanya itu disebutkan di dalam hadis marfu” yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya, seperti yang akan kami kemukakan nanti, insya Allah.

Berdasarkan pengertian ini, berarti dari penggabungan antara pendapat ini dengan dalil-dalil yang menyatakan bahwa para malaikat itu terpelihara dari kesalahan dapat disimpulkan bahwa peristiwa yang dialami oleh kedua malaikat ini sejak zaman azali telah diketahui oleh ilmu Allah.
Dengan demikian, berarti peristiwa ini merupakan kekhususan bagi keduanya, maka tidak ada pertentangan pada kedua dalilnya, seperti juga yang telah diketahui oleh ilmu Allah mengenai perkara iblis dalam keterangan terdahulu.
Tidak bertentangan pula dengan pendapat yang mengatakan bahwa pada awalnya iblis merupakan segolongan dari malaikat, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam.
Maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan.
(Al Baqarah:34)

dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan makna tersebut.
Tetapi perlu diingat bahwa apa yang dilakukan oleh Harut dan Marut —bila ditinjau dari kisah keduanya— jauh lebih ringan daripada apa yang dialami oleh iblis yang dilaknat Allah.
Hal ini diriwayatkan oleh Al-Qurtubi, dari Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ka’b Al-Ahbar, As-Saddi, dan Al-Kalbi.

Sehubungan dengan kisah Harut dan Marut ini sejumlah tabi’in telah mengetengahkan riwayatnya, misalnya Mujahid, As-Saddi, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, -Abul Aliyah, Az-Zuhri, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya.
Ulama ahli tafsir dari kalangan Mufassirin terdahulu dan yang kemudian mengetengahkannya pula, tetapi pada kesimpulannya semuanya itu merujuk kepada kisah-kisah dari Bani Israil dalam semua rinciannya, mengingat tiada suatu hadis yang marfu’ lagi sahih mengenainya yang muttasil (berhubungan) kepada Nabi ﷺ yang tidak pernah berbicara dari dirinya sendiri melainkan dari wahyu yang diturunkan kepadanya.

Sedangkan pengertian lahiriah dari konteks yang disajikan oleh Al-Qur’an adalah garis besar dari kisah tersebut tanpa rincian dan tanpa pembahasan panjang lebar.
Maka kewajiban kita hanya beriman dengan semua yang disebut oleh Al-Qur’an menurut apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala, karena hanya Dialah Yang Maha Mengetahui hal yang sebenarnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu).
Sebab itu, janganlah kamu kafir.”

Dari Al-Hasan Al-Basri, disebutkan bahwa ia mengatakan dalam tafsir ayat ini, “Memang benar, kedua malaikat itu menurunkan ilmu sihir untuk mengajarkannya kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah mendapat cobaan ini.
Maka Allah mengambil janji dari keduanya, bahwa janganlah keduanya mengajarkannya kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan, ‘Sesungguhnya kami adalah cobaan bagimu.
Karena itu, janganlah kamu kafir’.” Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Demikian pula pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala ketika menceritakan kisah Nabi Musa ‘alaihis salam Allah berfirman:

Itu hanyalah cobaan dari Engkau.
(Al A’raf:155)

Maksudnya, ujian dan cobaan dari Engkau.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.
(Al A’raf:155)

Sebagian ulama menyimpulkan dalil ayat ini (yakni (Al Baqarah:102), bahwa kafirlah orang yang belajar ilmu sihir.
Ia memperkuat dalilnya ini dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar:

bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Hammam, dari Abdullah yang mengatakan: Barang siapa yang mendatangi tukang tenung (dukun) atau tukang sihir, lalu ia percaya kepada apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ Sanad riwayat ini sahih dan mempunyai syawahid lain yang memperkuatnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan istrinya.

Yakni orang-orang belajar sejenis ilmu sihir dari Harut dan Marut, yang kegunaannya dapat menimbulkan berbagai macam perbuatan tereela, hingga sesungguhnya ilmu sihir ini benar-benar dapat memisahkan sepasang suami istri, sekalipun pada awalnya keduanya sangat harmonis dan rukun.
Hal seperti ini merupakan perbuatan setan, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya:

melalui hadis Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Talhah ibnu Nafi’, dari Jabir ibnu Abdullah r.a., dari Nabi ﷺ Nabi ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya iblis itu meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengirimkan bala tentaranya kepada umat manusia, maka setan yang paling besar fitnahnya terhadap umat manusia akan memperoleh kedudukan yang terdekat di sisi iblis.
Salah satu dari mereka datang, lalu mengatakan, “Aku terus-menerus menggoda si Fulan, hingga ketika aku tinggalkan dia telah mengerjakan anu dan anu.” Iblis menjawab, “Tidak, demi Allah, kamu masih belum melakukan sesuatu (yakni belum berhasil).” Lalu datang lagi yang lainnya dan mengatakan, “Aku tidak beranjak darinya sebelum aku dapat memisahkan antara dia dan istrinya.” Maka iblis memberinya kedudukan yang tinggi dan dekat dengannya serta selalu bersamanya seraya berkata, “Kamu benar.”

Penyebab yang memisahkan sepasang suami istri ialah imajinasi yang disusupkan oleh setan kepada salah seorang dari suami atau istri hingga ia memandang teman hidupnya itu seakan-akan buruk penampilan atau buruk pekertinya atau lain sebagainya, atau seakan-akan ruwet, atau marah bila memandangnya, atau lain sebagainya yang menyebabkan terjadinya perpisahan.

Lafaz al-mar-u dalam ayat ini berarti suami, sedangkan bentuk ta-nis-nya adalah imra-atun (istri).
Kedua lafaz ini dapat diungkapkan dalam bentuk tasniyah, tetapi tidak dapat diungkapkan dalam bentuk jamak.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.

Menurut Sufyan As-Sauri, makna bi-iznillah ialah dengan keputusan Allah.
Sedangkan menurut Muhammad ibnu Ishaq artinya “kecuali bila Allah membiarkan antara si tukang sihir dengan apa yang dikehendakinya.”

Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan takwil ayat ini mengatakan, “Memang benar.
Siapa yang dikehendaki oleh Allah dapat dipengaruhi oleh sihir itu, niscaya ilmu sihir dapat mencelakakannya.
Barang siapa yang tidak dikehendaki oleh Allah, maka ilmu sihir tidak akan dapat mencelakakannya.” Para ahli sihir tidak dapat menimpakan mudarat (kecelakaan) kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah, seperti yang telah dijelaskan di dalam ayat ini.
Akan tetapi, menurut suatu riwayat yang juga dari Al-Hasan Al-Basri, sihir tidak dapat meniupkan mudarat kecuali terhadap orang yang mengerjakan ilmu sihir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat.

Yakni memberikan mudarat pada agama mereka dan tidak memberi manfaat yang sebanding dengan mudaratnya.

Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.

Yaitu sesungguhnya orang-orang Yahudi yang berpaling dari mengikuti Rasul ﷺ dan menggantikannya dengan mengikuti ilmu sihir, mereka telah mengetahui bahwa di akhirat kelak dia tidak memperoleh keuntungan.
Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan As-Saddi, makna khalaq ialah bagian.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa takwil ayat ini ialah: “Tiadalah baginya di akhirat nanti suatu perhatian pun dari Allah subhanahu wa ta’ala” Menurut Al-Hasan, kata Abdur Razzaq artinya tiadalah baginya agama.

Sa’d meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sesungguhnya ahli kitab itu telah mengetahui (meyakini) janji Allah yang telah ditetapkan atas diri mereka, bahwa seorang penyihir itu tiadalah baginya keuntungan di akhirat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.
Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa seburuk-buruk pertukaran adalah sihir yang mereka beli sebagai ganti dari iman dan mengikuti Rasul ﷺ, kalau saja mereka mempunyai ilmu dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
Seandainya mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya pahala di sisi Allah lebih baik bagi mereka.
Dengan kata lain, sesungguhnya kalau mereka beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, niscaya pahala Allah atas hal tersebut lebih baik bagi mereka daripada apa yang mereka pi-ihkan buat diri mereka dan apa yang mereka sukai itu.
Makna ayat ini sama dengan apa yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (Al Qashash:80)

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 102

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syar bin Hausyab.
Bahwa kaum Yahudi berkata: “Lihatlah Muhammad yang mencampur baurkan antara yang hak dan batil, yaitu menerangkan (Nabi) Sulaiman digolongkan pada kelompok nabi-nabi, padahal ia seorang ahli sihir yang mengendarai angin.” Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Baqarah: 102) yang menegaskan bahwa kaum Yahudi lebih mempercayai setan daripada iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah.
Bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ beberapa kali tentang beberapa hal yang ada di dalam Taurat.
Semua isi Taurat dijawab oleh Allah dengan menurunkan ayat.
Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka.
Mereka berkata kepada sesamanya: “Orang ini lebih mengetahui tentang apa yang diturunkan kepada kita daripada kita.”

Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi ﷺ ialah tentang sihir.
Dan mereka berbantah-bantahan dengan Rasulullah tentang hal itu.
Maka Allah menurunkan ayat di atas (Al-Baqarah: 102) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 102

HARUUT
هَٰرُوت

Lafaz ini disebut sekali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 102, Allah menyatakan yang artinya,

“Mereka (syaitan-syaitan) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat, Haarut dan Marut di negeri Babil (Babilion), sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cubaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”

Terdapat dua tafsiran berkenaan Haruut yaitu;

Pertama, Haarut adalah salah seorang hamba shaleh selain marut yang berada di Babilion. Diberikan kepadanya ilmu sihir pada zaman yang berleluasa pengamalan ilmu sihir. Dia mengajarkannya kepada manusia ilmu sihir yang memiliki berbagai perkara yang menakjubkan supaya mereka dapat membedakan di antara sihir dan mukjizat, serta memberitahu orang yang mendakwa diri mereka nabi adalah ahli sihir dan bukan para nabi. Dia mengajarkannya kepada manusia disertai dengan peringatan sehingga dia tidak mengajarkannya kecuali dia akan berkata,
sesungguhnya kami adalah ujian dan cobaan dari Allah. Oleh karena itu, janganlah kamu mengamalkan sihir dan jangan pula terpengaruh dengannya. Apabila kamu tidak mengendahkannya maka kamu akan menjadi kafir. Namun, jika kamu belajar hanya sekadar untuk mengetahuinya sahaja tanpa yakin pada hakikatnya dan tanpa terpengaruh dengannya serta mengamalkannya maka ia tidak berbahaya bagi kamu. Lalu, manusia belajar darinya dan mengamalkannya sehingga dapat memisahkan antara suami isteri dan sebagainya. Dia dikatakan malak (malaikat) lantaran terkenal dengan kebaikannya sehingga dia diumpamakan sebagai malaikat.

Kedua, Haarut adalah seorang malaikat yang diturunkan oleh Allah kepada manusia sebagai fitnah bagi mereka dalam pengajarannya terhadap ilmu sihir. Ia tergolong dari malaikat yang paling baik dari segala malaikat yang bernama ‘Aza.’ Namun, sebelum mengajarkannya dia mengingatkan mereka yang mau belajar tentang buruknya sihir itu dan jangan mengamalkannya

Az Zujaj berkata,
dua malaikat itu mengajarkan tentang larangan mempelajari ilmu sihir, seakan mereka berdua berkata,
jangan berbuat begini dan begitu yang dapat memisahkan antara seseorang dari isterinya.

Adapun kisah-kisah yang berkaitan dengannya adalah dari kisah Israiliyyat, seperti dongeng Haarut dan Maarut dengan bintang Zuhrah yang begitu cantik pada zamannya yang mau berbuat jahat dengan kedua malaikat itu atau keduanya menaruh cinta kepadanya ketika melihat kecantikannya sehingga menjerumuskan mereka berdua kepada berbuat tiga perkara yaitu minum arak, berzina dan membunuh.

Kisah ini terdapat dalam Talmud, dalam kitab Madrasa Yadkul Fasal.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:630-631

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 102 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 102



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku