Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 102 [QS. 2:102]

وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ
Waattaba’uu maa tatluusy-syayaathiinu ‘ala mulki sulaimaana wamaa kafara sulaimaanu walakinnasy-syayaathiina kafaruu yu’allimuunan-naasassihra wamaa unzila ‘alal malakaini bibaabila haaruuta wamaaruuta wamaa yu’allimaani min ahadin hatta yaquulaa innamaa nahnu fitnatun falaa takfur fayata’allamuuna minhumaa maa yufarriquuna bihi bainal mar-i wazaujihi wamaa hum bidhaarriina bihi min ahadin ilaa biidznillahi wayata’allamuuna maa yadhurruhum walaa yanfa’uhum walaqad ‘alimuu lamaniisytaraahu maa lahu fii-aakhirati min khalaaqin walabi-asa maa syarau bihi anfusahum lau kaanuu ya’lamuun(a);
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.
Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut.
Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan,
“Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.”
Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya.
Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.
Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka.
Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat.
Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.
―QS. Al Baqarah [2]: 102

Daftar isi

And they followed (instead) what the devils had recited during the reign of Solomon.
It was not Solomon who disbelieved, but the devils disbelieved, teaching people magic and that which was revealed to the two angels at Babylon, Harut and Marut.
But the two angels do not teach anyone unless they say,
"We are a trial, so do not disbelieve (by practicing magic)."
And (yet) they learn from them that by which they cause separation between a man and his wife.
But they do not harm anyone through it except by permission of Allah.
And the people learn what harms them and does not benefit them.
But the Children of Israel certainly knew that whoever purchased the magic would not have in the Hereafter any share.
And wretched is that for which they sold themselves, if they only knew.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 102]

وَٱتَّبَعُوا۟ dan mereka mengikuti

And they followed
مَا apa

what
تَتْلُوا۟ membaca

recite(d)
ٱلشَّيَٰطِينُ syaitan

the devils
عَلَىٰ atas

over
مُلْكِ kerajaan

(the) kingdom
سُلَيْمَٰنَ Sulaiman

(of) Sulaiman.
وَمَا dan tidak

And not
كَفَرَ kafir

disbelieved
سُلَيْمَٰنُ Sulaiman

Sulaiman
وَلَٰكِنَّ akan tetapi

[and] but
ٱلشَّيَٰطِينَ syaitan

the devils
كَفَرُوا۟ kafir/ingkar

disbelieved,
يُعَلِّمُونَ mereka mengajarkan

they teach
ٱلنَّاسَ manusia

the people
ٱلسِّحْرَ sihir

[the] magic
وَمَآ dan apa

and what
أُنزِلَ diturunkan

was sent down
عَلَى atas

to
ٱلْمَلَكَيْنِ dua Malaikat

the two angels
بِبَابِلَ di negeri Babil

in Babylon,
هَٰرُوتَ Harut

Harut
وَمَٰرُوتَ dan Marut

and Marut.
وَمَا dan tidak

And not
يُعَلِّمَانِ keduanya mengajarkan

they both teach
مِنْ dari

any
أَحَدٍ seseorang

one
حَتَّىٰ sehingga

unless
يَقُولَآ berkata keduanya

they [both] say,
إِنَّمَا sesungguhnya hanyalah

"Only

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:102

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 102. Oleh Kementrian Agama RI


Orang-orang Yahudi mengikuti sihir yang dibacakan oleh setan pada masa Sulaiman putra Daud, meskipun mereka tahu, bahwa yang demikian itu sebenarnya salah.
Mereka menuduh bahwa Nabi Sulaiman yang menghimpun kitab sihir, dan menyimpan di bawah tahtanya, kemudian dikeluarkan dan disiarkan.


Dugaan seperti ini adalah suatu pemalsuan dan perbuatan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu.
Sebenarnya mereka hanya menghubung-hubungkan sihir itu pada Nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman tidak mengajarkan atau mempraktekkan sihir karena ia mengetahui bahwa perbuatan yang demikian itu termasuk mengingkari Tuhan, apalagi kalau ditinjau dari kedudukannya sebagai nabi, mustahillah ia mempraktekkan sihir.


Kisah tentang sihir banyak dituturkan dalam Alquran terutama dalam kisah Musa dan Fir’aun.

Dalam kisah itu diterangkan sifat-sifat sihir, bahwa sihir itu adalah sulapan yang menipu pandangan mata, sehingga orang yang melihat mengira, bahwa yang terlihat seolah-olah keadaan yang sebenarnya.
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah:

فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى

"Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka.

(Tha Ha [20]: 66)


Dan sesuai dengan firman Allah:

فَلَمَّآ اَلْقَوْا سَحَرُوْٓا اَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوْهُمْ وَجَاۤءُوْ بِسِحْرٍ عَظِيْمٍ

Maka, setelah mereka melemparkan, mereka menyihir mata orang banyak dan menjadikan orang banyak itu takut, karena mereka memperlihatkan sihir yang hebat (menakjubkan).
(al-A’raf [7]: 116)


Sihir termasuk sesuatu yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh sebagian manusia saja.

Tetapi apa yang telah terjadi menunjukkan bahwa kedua malaikat itu tidak mampu memberikan pengaruh gaib yang melebihi kemampuan manusia, bahkan yang disebut kekuatan gaib oleh mereka itu hanyalah kemahiran dalam menguasai sebab-sebab yang mempunyai perpautan dengan akibat yang dilakukan.
Hal ini hanyalah terjadi karena izin Allah semata-mata, sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan-Nya.


Dalam praktek, tukang-tukang sihir itu membaca mantera dengan menyebut nama-nama setan dan raja-raja jin agar timbul kesan seolah-olah manteranya itu dikabulkan oleh raja jin.
Atas dasar praktek mereka inilah timbul anggapan yang merata dalam lapisan masyarakat, bahwa sihir itu dibantu oleh setan.


Kemudian orang Yahudi yang sezaman dengan Nabi Muhammad ﷺ menyebarluaskan sihir itu di kalangan orang-orang Islam dengan tujuan untuk menyesatkan.
Mereka dapati sihir itu dari nenek moyang mereka yang mengatakan sihir itu dari Sulaiman `alaihis salam.
Padahal kedua malaikat tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun, sebelum memberikan nasihat agar orang jangan mengamalkan sihir itu, sebab orang yang mempraktekkan sihir itu adalah kafir.


Ayat 102 ini tidak lepas dari ayat 101 sebelumnya.
Sebagian Ahli Kitab itu meninggalkan Kitab mereka (Taurat) dan mengikuti bisikan manusia-manusia setan (syayatin) yang mengajarkan sihir pada masa Nabi Sulaiman.
Ayat ini membantah tuduhan kelompok Yahudi, bahwa ia mendapatkan kekuasaan dan kekayaannya melalui sihir (Zamakhsyari 1/230), juga menolak pernyataan Bibel, bahwa Sulaiman telah berdosa dengan melakukan praktek syirik.
Dia dituduh beristrikan 700 perempuan bangsawan asing dan 300 gundik.
Karena kebanyakan mereka penyembah berhala, maka Sulaiman juga pada masa tuanya terpengaruh oleh mereka, cenderung percaya kepada berhala-berhala dan dewa-dewa”tidak seperti bapanya Daud (Kitab Raja-Raja I, 11:1-10).


Harut dan Marut yang disebutkan dalam ayat ini adalah dua orang di Babilonia, sekitar Sungai Furat di Irak,
"yang berpura-pura seperti orang saleh dan bertakwa.
Mereka mengajarkan sihir kepada masyarakat, sehingga keduanya dikira dua malaikat yang turun dari langit, dan yang diajarkan dikira wahyu dari Allah.
Mereka pandai sekali menipu dan menjaga itikad baik masyarakat kepada mereka, maka mereka berkata kepada setiap orang yang ingin belajar dari mereka, bahwa
"Kami hanyalah cobaan, janganlah kamu menjadi kafir,"
yakni bahwa mereka para penguji
"yang akan menguji kamu, akan bersyukur atau akan kufur.
Maka kami menasihati kalian, janganlah menjadi kafir."
Mereka berkata begitu untuk memberi kesan bahwa ilmu yang mereka bawa dari Tuhan, dan praktek mereka untuk kepentingan rohani.
Tapi tujuannya hanya demi merusak keharmonisan.
Dalam hal ini orang-orang Yahudi punya banyak tahayul.
Mereka percaya bahwa sihir yang diturunkan kepada mereka sungguh dari Tuhan.
Kedatangan kedua malaikat itu hanya untuk mengajar manusia.
Maka Alquran datang membantah anggapan mereka, bahwa itu datang dari langit, dan mengecam keras mereka yang belajar dan mengajarkannya…"
(al-Qasimi 1/210).


Mengutip al-hasan al-Basri, al-Zamakhsyari (1/230) mengatakan bahwa kata malakaini (dua malaikat) ini dibaca malikaini (dua raja).
Muhammad Asad menambahkan, bahwa Ibn Abbas dan tabi’in berikutnya, seperti al-Hasan al-Basri, Abu al-Aswad adh-ahhak juga membacanya malikaini.
Adapun dua malaikat itu adalah Jibril dan Mikhail, mereka yang mengajarkan sihir kepada Sulaiman, seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Yahudi itu.
Sedang dua raja adalah Daud dan Sulaiman.


Tentang kata Wa ma unzila ‘ala al-malakaini, pendapat para mufasir tidak sama, ada yang mengatakan ma nafiyyah ("tidak diturunkan") ada pula yang berpendapat ma ismiyyah atau isim mausul ("apa yang diturunkan"), dan sebagainya.
Tetapi perbedaan gramatikal ini rasanya kurang perlu dibahas di sini.


Dengan mengacu kepada tafsir-tafsir Haqqani, Baidhawi dan ar-Razi, kita coba meringkaskan apa yang disebutkan dalam tafsir Abdullah Yusuf Ali, bahwa
"Kata ‘para malaikat yang diterapkan pada Harut dan Marut ialah kata kiasan, yang berarti ‘orang-orang baik, berpengetahuan, berilmu (atau arif bijaksana) dan punya kekuatan",
seperti kata malaikat dalam bahasa-bahasa modern juga dipakai untuk perempuan yang baik dan cantik, dan bagi mereka berlaku segala sifat keindahan, yang juga berarti kebaikan, pengetahuan, kearifan dan kekuatan.


"Harut dan Marut hidup di Babilonia, pusat ilmu paling tua, terutama dalam astronomi.
Diperkirakan masanya sekitar zaman Kerajaan Kuno di Timur, sangat kuat dan maju.
Malah mungkin lebih tua lagi, mengingat Marut atau Marduk merupakan pahlawan yang didewakan dan kemudian dipuja sebagai dewa sihir di Babilonia.
Agak berbeda dengan pendapat al-Qasimi di atas, ia menyebutkan bahwa Harut dan Marut sebagai manusia yang baik tidak mau menceburkan diri ke dalam kejahatan, mereka bersih dari segala penipuan.
Ilmu dan seni jika dipelajari oleh orang jahat dapat digunakan untuk kejahatan pula.
Di samping praktek sihirnya yang keji, setan juga belajar tentang ilmu yang benar itu sedikit-sedikit dan akan digunakannya untuk maksud-maksud jahat tadi.
Harut dan Marut bukan mau menyembunyikan ilmu, namun mereka belum pernah mengajarkan kepada siapa pun tanpa memberikan peringatan mengenai bahaya dan godaan ilmu semacam itu bila berada di tangan orang jahat.
Mereka melihat bukan tidak mungkin orang-orang jahat itu akan terjerumus ke dalam kekufuran dan akan jadi sombong karena ilmunya.
Ilmu ini memang merupakan cobaan dan godaan;
kalau sudah diberi peringatan, tahulah kita akan bahayanya.
(Abdullah Yusuf Ali:
C.
107).


Yusuf Ali menambahkan,
"Di antara sekian banyak cerita Israiliat dalam Midrash (Kitab Tafsir Yahudi) ada sebuah cerita tentang dua malaikat yang memohonkan izin kepada Allah hendak turun ke bumi ini, tetapi kemudian mereka menyerah kepada godaan, lalu sebagai hukuman mereka digantung di Babilonia dengan kaki di atas.
Cerita-cerita tentang para malaikat yang berdosa yang telah menerima hukuman demikian sudah menjadi kepercayaan kalangan kristiani dahulu juga.
(Lihat Surat Petrus yang Kedua, 2, 4, dan Surat Yudas, ayat 6).


Apa yang dipelajari oleh setan dari Harut dan Marut mereka ubah untuk maksud-maksud jahat.
Karena dicampur dengan kepalsuan dan penipuan, maka lahirlah segala jimat-jimat, mantera dan guna-guna.
Tetapi lepas dari mudarat yang dibuat oleh penipu-penipu yang hendak ditimpakannya kepada orang lain itu, mudarat atau bahaya yang mereka lakukan itu akan menimpa jiwa mereka sendiri.
Mereka menjual diri sendiri menjadi budak kejahatan (Idem).


Ayat ini sebenarnya tidak menunjukkan hakikat sihir.
Apakah sihir itu berpengaruh secara tabi’i atau disebabkan oleh sesuatu yang sangat misteri, juga tidak diterangkan apakah sihir itu dapat memberi pengaruh kepada manusia dengan cara yang tidak biasa, atau sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa.
Ringkasnya, Allah tidak memberikan keterangan secara terinci.
Andaikan Allah memandang baik menerangkan hakikat sihir itu dan bermanfaat bagi manusia, tentulah Allah akan menerangkannya secara terperinci.


Seterusnya Allah menjelaskan bahwa sihir tidak memberikan manfaat sedikit pun kepada manusia, bahkan memberikan mudarat.
Oleh sebab itu, Allah mengancam orang yang mempraktekkannya dengan siksaan.
Orang-orang Yahudi pun sebetulnya telah mengetahui bahwa sihir memudaratkan manusia, dan seharusnya mereka membencinya.
Tetapi, karena ada maksud jahat yang terkandung dalam hati mereka untuk menyesatkan orang Islam, mereka pun mau mengerjakannya.
Oleh karena itulah, Allah mencela perbuatan sihir dan memasukkan orang yang melakukannya ke dalam golongan orang yang memilih perbuatan sesat.
Selanjutnya Allah menegaskan bahwa di akhirat mereka tidak akan mendapat kebahagiaan sedikit pun.
Karena mereka yang telah memilih perbuatan sihir, berarti mereka telah menyalahi hukum yang termuat dalam Taurat, padahal dalam Kitab mereka sendiri terdapat juga ketentuan bahwa orang yang mengikuti bisikan jin, setan dan dukun itu, sama hukumnya dengan orang yang menyembah berhala dan patung.


Lebih jauh Allah menjelaskan bahwa sihir yang mereka kerjakan itu sangat jelek, Allah menggambarkan orang yang memilih perbuatan sihir sebagai kesenangannya seperti orang yang menjual iman dengan kesesatan.
Gambaran serupa ini gunanya untuk menyingkapkan selubung mereka, agar kesadarannya dapat terbuka dan mengetahui bahwa manusia diciptakan Allah untuk berbakti kepada-Nya.
Dengan kata lain, andaikata mereka mengetahui kesesatan orang yang mempelajari dan mempraktekkan sihir, tentulah mereka tidak akan melakukannya.
Tetapi mereka telah jauh tertipu, sehingga mereka beranggapan bahwa sihir itu termasuk ilmu pengetahuan, dan mereka merasa puas dengan ilmu yang tidak terbukti kebenarannya dan tidak memberikan pengaruh apa pun kepada jiwa seseorang kecuali dengan izin Allah.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 102. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Mereka mempercayai apa yang dibuat-buat oleh setan mereka dan orang-orang yang keji dari mereka tentang kekuasaan Sulayman.
Mereka mengira bahwa Sulayman bukanlah nabi atau rasul yang menerima wahyu dari sisi Allah, melainkan hanya seorang penyihir yang selalu meminta bantuan kepada ilmu sihirnya.


Mereka juga mengira bahwa sihir inilah yang memperkuat kerajaan Sulayman dan membuatnya menguasai jin, burung dan angin.
Mereka menisbatkan kekufuran itu kepada Sulayman, padahal Sulayman tidak kafir.


Setan-setan yang berbuat keji itulah yang sebenarnya kafir.
Mereka telah membuat-buat dongeng dan mengajarkan sihir kepada manusia, baik dari diri mereka sendiri maupun dari sisa-sisa peninggalan yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia:
Harut dan Marut.


Padahal, dua malaikat ini tidak mengajarkan sesuatu kepada siapa pun, sebelum mengingatkan orang itu dengan mengatakan,
"Sesungguhnya kami mengajarkan sesuatu yang menyebabkan fitnah dan kekufuran, maka dari itu ketahuilah dan hati-hatilah dalam mengerjakannya."
Tetapi manusia tidak mendengar nasihat itu.


Mereka menggunakan apa yang mereka pelajari dari kedua malaikat itu untuk memisahkan suami dari istrinya.
Setan-setan yang keji itu memang kufur, karena mereka telah membuat-buat dongeng itu sebagai perantara untuk mengajar sihir kepada orang-orang Yahudi.


Dengan sihir ini, mereka tidak akan bisa memberi mudarat kepada orang lain.
Hanya Allahlah yang memberi izin atas suatu kemudaratan, jika Dia menghendaki.


Sebenarnya sihir yang diambil dari mereka itu membahayakan orang yang mempelajarinya, baik dunia maupun agamanya.
Sihir itu tidak akan dapat memberikan manfaat.
Sebenarnya mereka benar- benar mengetahui bahwa barangsiapa yang berjalan di jalan ini, tidak akan mendapatkan bagian dari kenikmatan akhirat.
Alangkah buruknya apa yang mereka pilih untuk diri mereka ini apabila mereka masih memiliki ilmu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Orang-orang Yahudi mengikuti apa yang dibisikkan oleh para setan kepada tukang sihir di zaman Sulaiman bin Dawud.
Sulaiman tidak kufur dan tidak mempelajari sihir, sebaliknya para setanlah yang kafir kepada Allah manakala mereka mengajarkan sihir kepada manusia untuk merusak agama mereka.


Orang-orang Yahudi juga mengikuti sihir yang diturunkan kepada dua malaikat Harut dan Marut di bumi Babil di Irak sebagai cobaan dan ujian dari Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Dua malaikat tersebut tidak mengajar siapapun kecuali keduanya menasihatinya dan memperingatkannya agar tidak mempelajari sihir.


Keduanya berkata kepadanya,
"Janganlah kamu menjadi kafir dengan mempelajari sihir dan menaati setan."
Lalu orang-orang belajar dari dua malaikat tersebut sihir yang memicu kebencian di antara suami istri sehingga keduanya berpisah.


Para tukang sihir itu tidak mampu menimpakan mudharat kepada seseorang kecuali dengan izin dan ketetapan dari Allah.
Para tukang sihir itu tidak mempelajari kecuali sesuatu yang buruk yang merugikan mereka dan tidak memberi manfaat bagi mereka.


Sihir ini dinukil oleh setan-setan kepada orang-orang Yahudi, sampai ia menyebar dikalangan mereka sehingga mereka mengedepankannya di atas kitab Allah.
Orang-orang Yahudi menggetahui bahwa siap yang memilih sihir dan meninggalkan kebenaran, maka dia tidak meraih bagian kebaikan di akhirat.


Benar-benar buruk sihir dan kekufuran yang mereka dapatkan dengan menggadaikan iman dan mengikuti Rasulullah, seandainya mereka mempunyai ilmu dan membuahkan amal dengan apa yang mereka dinasihati dengannya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan mereka mengikuti) diathafkan pada ‘nabadza’


(apa yang dibaca) dulu


(oleh setan-setan pada) masa


(kerajaan Sulaiman) berupa buku-buku sihir yang mereka pendam di bawah singgasananya ketika kerajaannya runtuh.
Atau mungkin juga setan-setan itu mencari dengar lalu mencampurkan ke buku-buku itu kebohongan-kebohongan dan memberikannya kepada tukang-tukang tenung yang membukukannya sehingga tersebar berita bahwa jin mengajarkan hal-hal gaib.
Sulaiman pun mengumpulkan buku-buku itu lalu menguburkannya.
Tatkala ia mangkat, setan-setan pun menunjukkannya kepada manusia dan ketika mereka bongkar ternyata di dalamnya ada ilmu sihir.
Kata mereka,
"Kerajaan kamu berdirinya adalah dengan ini!"
Lalu mereka pelajari ilmu sihir itu dan mereka tolak buku-buku nabi-nabi mereka.
Ketika orang-orang Yahudi mengatakan,
"Lihat itu Muhammad, disebutkannya Sulaiman itu seorang nabi, padahal ia tidak lebih dari seorang tukang sihir",
maka Allah pun berfirman untuk membuktikan kebenaran Sulaiman dan menyangkal orang-orang Yahudi itu,


(padahal Sulaiman tidaklah kafir) maksudnya ia tidak melakukan sihir, sebab sihir adalah perbuatan kafir


(hanya) ada yang membaca ‘lakinna’ dan ada yang membaca ‘lakin’


(setan-setanlah yang kafir.
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia).
Kalimat ini menjadi hal bagi kata ganti yang terdapat pada ‘kafaruu’


(dan) mengajarkan pula kepada mereka


(apa yang diturunkan kepada dua malaikat) artinya ilmu sihir yang diilhamkan kepada mereka.
Ada pula yang membaca ‘al-malikain’ dengan lam berbaris bawah sehingga berarti dua orang raja, yaitu yang berada


(di Babilon) suatu negeri di tanah subur Irak.


(Harut dan Marut) merupakan ‘badal’ atau nama dan kata ganti dari kedua malaikat itu, atau athaf bayan, artinya hubungan yang memberi penjelasan.
Menurut Ibnu Abbas, kedua mereka itu adalah tukang sihir yang mengajarkan ilmu sihir dan ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah dua orang malaikat yang sengaja diturunkan Allah untuk menyebarkannya sebagai ujian dari Allah terhadap umat manusia.


(Sedangkan keduanya tidaklah mengajarkan kepada) ‘min’ merupakan tambahan


(seorang pun sebelum mengatakan) atau menyampaikan nasihat lebih dahulu


("Sesungguhnya kami ini hanya cobaan) ujian dari Allah terhadap manusia dengan mengajarkannya, siapa yang mempelajarinya, ia jatuh kafir dan siapa yang meninggalkannya ia mukmin,


(sebab itu janganlah kamu kafir!") Jika ia masih mendesak untuk mempelajarinya barulah mereka mengajarkannya.


(Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seorang laki-laki dengan istrinya) misalnya dengan membangkitkan marah dan kebencian satu pihak terhadap lainnya.


(Dan tidaklah mereka) yakni ahli-ahli sihir itu


(dapat memberi mudarat dengannya) maksudnya dengan ilmu sihir itu


(dari) ‘min’ di sini hanya sebagai tambahan


(kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah) atau kehendak-Nya


(Dan mereka pelajari apa yang memberi mudarat kepada mereka), yakni di akhirat


(dan yang tidak memberi manfaat) yakni sihir.


(Dan sesungguhnya) ‘lam’ menunjukkan sumpah


(mereka sebenarnya tahu) yakni orang-orang Yahudi itu sebenarnya yakin


(bahwa barang siapa) ‘lam’ merupakan lam ibtida yang menghubungkan dengan kalimat sebelumnya, sedangkan ‘man’ isim maushul


(yang menukarnya) atau menggantinya


(sihir) dengan Kitabullah,


(tiadalah baginya bagian di akhirat) atau keberuntungan dalam surga,


(dan amat buruklah sesuatu) maksudnya perbuatan mereka


(menjual) menukarkan


(diri mereka dengannya) yakni menjual kebahagiaannya di akhirat dengan mempelajari sihir karena telah pasti akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka,


(seandainya mereka menyadarinya) jika mereka benar-benar tahu atau menyadari hakikat siksaan yang akan mereka jalani di akhirat kelak, niscaya mereka tidak mau mempelajarinya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Sa’id ibnu Jubair mengatakan, dahulu Nabi Sulaiman merampas semua ilmu sihir yang ada di tangan setan, kemudian ia kubur ilmu tersebut di bawah kursi singgasananya, yakni di dalam gudangnya, hingga setan-setan tidak dapat mencapainya.

Kemudian setan mendekati manusia dan berkata kepada mereka,
"Tahukah kalian ilmu apakah yang dipakai oleh Sulaiman untuk menundukkan setan-setan dan angin serta lain-lainnya?"
Mereka menyetujui pendapat setan, lalu setan berkata kepada mereka,
"Sesungguhnya kitab itu ada di dalam gudang rumahnya, tepatnya di bawah kursi singgasananya."
Setan membujuk manusia untuk mengeluarkannya, lalu mengamalkannya.

Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ dan beliau ﷺ menceritakan perihal Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, maka orang-orang Yahudi mengatakan,
"Lihatlah oleh kalian Muhammad ini, dia mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil.
Dia menyebut Sulaiman bersama para nabi, padahal sesungguhnya Sulaiman hanyalah tukang sihir yang dapat menaiki angin."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir)…, hingga akhir ayat, (QS. Al-Baqarah [2]: 102).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.

Yang dimaksud dengan mereka ialah orang-orang Yahudi yang telah diberi Al-kitab (Taurat).
Hal ini terjadi setelah mereka berpaling dari ajaran Kitabullah (Taurat) yang ada di tangan mereka dan setelah mereka menentang Rasulullah ﷺ Sesudah kesemuanya itu mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan.
Yang dimaksud dengan bacaan setan ialah riwayat, berita, dan kisah yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.

Dalam ungkapan ini fi’il tatlu ber-muta’addi dengan huruf ‘ala karena di dalamnya terkandung pengertian membaca secara dusta.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa huruf ‘ala dalam ayat ini mengandung makna sama dengan huruf fi, yakni tatlu fi mulki Sulaiman, artinya:
Yang dibacakan oleh setan-setan dalam kerajaan Sulaiman.
Ibnu Jarir menukil pendapat ini dari Ibnu Juraij dan Ibnu Ishaq.

Menurut kami, makna tadammun (yang mengandung pengertian membaca dan berdusta) adalah lebih baik dan lebih utama.

Mengenai pendapat Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa dahulu sebelum masa Nabi Sulaiman ibnu Nabi Daud sihir itu telah ada, pendapat ini memang benar dan tidak diragukan lagi.
Mengingat tukang-tukang sihir banyak didapat di masa Nabi Musa ‘alaihis salam, sedangkan zaman Sulaiman ibnu Daud sesudah itu, seperti yang dijelaskan oleh firman-Nya:

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa…, hingga akhir ayat, (QS. Al-Baqarah [2]: 246).

Kemudian dalam kisah selanjutnya disebutkan melalui firman-Nya:

Dan (dalam peperangan ini) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah.
(QS. Al-Baqarah [2]: 251)

Kaum Nabi Saleh —yang ada sebelum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam— berkata kepada Nabi mereka (yaitu Nabi Saleh), seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir.
(QS. Asy-Syu’araa [26]: 153)

Menurut pendapat yang masyhur, lafaz mas-hur artinya orang yang terkena sihir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan,
"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu).
Sebab itu, janganlah kamu kafir."
Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya


Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan takwil ayat ini.
Sebagian dari mereka mengatakan bahwa huruf ma adalah nafiyah, yakni huruf ma yang terdapat di dalam firman-Nya,
"Wa ma unzila ‘alal malakaini."

Al-Qurtubi mengatakan bahwa ma adalah nafiyah, ia di-‘ataf-kan kepada firman-Nya,
"Wa ma kafara Sulaimanu."
Selanjutnya dalam ayat berikut disebutkan:

hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat.


Karena dahulu orang-orang Yahudi menduga bahwa ilmu sihir tersebut diturunkan oleh Malaikat Jibril dan Mikail.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala membantah kedustaan mereka itu melalui firman-Nya:

yaitu Harut dan Marut.
(QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Kedudukan kedua lafaz ini menjadi badal dari lafaz syayatin.
Selanjutnya Al-Qurtubi mengatakan, hal seperti ini dinilai sah, mengingat adakalanya jamak itu disebut dengan lafaz yang menunjukkan pengertian dua, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

jika yang meninggal itu mempunyai beberapa orang saudara.
(QS. An-Nisa’ [4]: 11)

Atau karena keduanya mempunyai banyak pengikut, atau keduanya diprioritaskan dalam sebutan di antara mereka karena keduanya sangat jahat.
Bentuk kalimat secara lengkap menurut Al-Qurtubi ialah seperti berikut:
"Mereka mengajarkan sihir kepada manusia di Babil, yakni Harut dan Marut."
Kemudian Al-Qurtubi mengatakan,
"Takwil inilah yang menurut pendapatku merupakan takwil yang paling utama dan paling sahih pada ayat ini, sedangkan yang lainnya tidak perlu diperhatikan lagi."

Ibnu Jarir meriwayatkan berikut sanadnya melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil.
(QS. Al-Baqarah [2]: 102), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak menurunkan sihir.

Menurut riwayat lain berikut sanadnya Ibnu Jarir mengemukakan pula melalui Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ilmu sihir kepada keduanya.

Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa takwil ayat ini seperti berikut:
"Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, yaitu berupa ilmu sihir, padahal Sulaiman tidak mengerjakan sihir dan Allah pun tidak pernah menurunkan ilmu sihir kepada dua malaikat, hanya setan-setanlah yang kafir.
Mereka mengajarkan ilmu sihir pada manusia di Babil, yakni Harut dan Marut."

Dengan demikian, berarti lafaz bibabila haruta wa maruta termasuk lafaz yang diakhirkan, tetapi maknanya didahulukan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa seandainya ada seseorang bertanya,
"Apakah alasan yang membolehkan taqdim (pendahuluan) tersebut?"
Sebagai jawabannya ialah dikemukakan bahwa takwil ayat seperti berikut:
"Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, yakni berupa ilmu sihir, padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), tidak pula Allah menurunkan ilmu sihir kepada dua malaikat, hanya setan-setanlah yang kafir.
Mereka mengajarkan ilmu sihir kepada manusia di Babil, yaitu Harut dan Marut."
Lafaz malakaini dimaksudkan adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail, karena para ahli sihir orang-orang Yahudi menurut berita yang tersiar di kalangan mereka menduga bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan ilmu sihir melalui lisan Jibril dan Mikail yang disampaikan kepada Sulaiman ibnu Daud.
Maka Allah mendustakan tuduhan yang mereka lancarkan itu, dan memberitahukan kepada Nabi-Nya (Nabi Muhammad ﷺ) bahwa Jibril dan Mikail sama sekali tidak pernah menurunkan ilmu sihir.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala membersihkan diri Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dari tuduhan mempraktikkan sihir yang mereka lancarkan itu.
Sekaligus Allah memberitahukan kepada mereka (orang-orang Yahudi) bahwa sihir itu merupakan perbuatan setan-setan.
Setan-setanlah yang mengajarkannya kepada manusia di Babil.
Orang-orang yang mengajarkan sihir kepada mereka adalah dua orang lelaki, salah seorangnya bernama Harut, sedangkan yang lain adalah Marut.

Berdasarkan takwil ini berarti Harut dan Marut adalah nama manusia, sekaligus sebagai bantahan terhadap apa yang mereka tuduhkan terhadap kedua malaikat (Jibril dan Mikail).
Demikianlah nukilan dari Ibnu Jarir secara harfiah.

Sesungguhnya Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa ia pernah menceritakan riwayat berikut dari Ubaidillah ibnu Musa yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah sehubungan dengan tafsir firman-Nya,
"Wa ma unzila ‘alal malakaini,"
bahwa Allah sama sekali tidak menurunkan ilmu sihir kepada Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Al-Fadl ibnu Syazan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Ya’la (yakni Ibnu Asad), telah menceritakan kepada kami Bakr (yakni Ibnu Mus’ab), telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Abu Ja’far, bahwa Abdur Rahman ibnu Abza selalu membaca ayat berikut dengan bacaan:
Wa ma unzila ‘alal malakaini Dawuda wa Sulaimana.

Abul Aliyah mengatakan bahwa Allah tidak menurunkan ilmu sihir kepada keduanya (Daud dan Sulaiman).
Keduanya mengajarkan kepada iman dan memperingatkan terhadap kekufuran, sedangkan sihir termasuk perbuatan kafir.
Keduanya selalu melarang perbuatan kufur dengan larangan yang sangat keras.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Kemudian Ibnu Jarir melanjutkan kata-katanya sehubungan dengan bantahannya terhadap pendapat Al-Qurtubi tadi, bahwa huruf ma dalam ayat ini bermakna al-lazi, lalu ia membahasnya dengan pembahasan yang panjang lebar.
Ia menduga bahwa Harut dan Marut adalah dua malaikat yang diturunkan ke bumi oleh Allah subhanahu wa ta’ala Allah mengizinkan keduanya untuk mengajarkan ilmu sihir sebagai cobaan buat hamba-hamba-Nya, sekaligus sebagai ujian, sesudah Allah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan rasul-rasul-Nya bahwa melakukan sihir itu merupakan perbuatan terlarang.

Ibnu Jarir menduga pula bahwa Harut dan Marut dalam mengajarkan ilmu sihir tersebut dianggap sebagai malaikat yang taat, mengingat keduanya dalam rangka melaksanakan perintah Allah.
Pendapat yang ditempuh oleh Ibnu Jarir ini sangat garib.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan berikut sanadnya melalui Ad-Dahhak ibnu Muzahim, bahwa ia pernah membacakan wama unzila ‘alal malakaini, lalu ia mengatakan bahwa keduanya adalah dua orang kafir dari kalangan penduduk negeri Babil.
Alasan yang dipegang oleh orang-orang yang berpendapat demikian ialah bahwa al-inzal di sini bermakna menciptakan, bukan menurunkan, seperti pengertian yang terkandung di dalarn firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya, yaitu:


Dia ciptakan bagi kalian delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.
(Az Zumar:6)

Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat (QS. Al-Hadiid:
25)

Dan Dia menciptakan untuk kalian rezeki dari langit.
(QS. Al-Mu’min:
13)

Di dalam sebuah hadis disebutkan seperti berikut:

Tidak sekali-kali Allah menciptakan penyakit melainkan Dia menciptakan pula obat penawarnya.

Sebagaimana dikatakan dalam suatu pepatah,
"Allah menciptakan kebaikan dan keburukan."

Al-Qurtubi meriwayatkan melalui Ibnu Abbas, Ibnu Abza, dan Al-Hasan Al-Basri, bahwa mereka membaca ayat ini seperti berikut:
Wama unzila ‘alal malikaini, dengan huruf lam yang di-kasrah-kan.
Ibnu Abza mengatakan, yang dimaksud dengan al-malikaini adalah Daud dan Sulaiman.
Imam Qurtubi mengatakan bahwa dengan bacaan ini berarti huruf ma adalah nafiyah.

Ulama lainnya berpendapat mewaqafkan pada firman-Nya,
"Yu’allimunan nasas sihra,"
sedangkan huruf ma adalah nafiyah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadanya Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Al-Qasim ibnu Muhammad ketika ditanya mengenai takwil firman-Nya oleh seorang lelaki, yaitu:
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut.
(QS. Al-Baqarah [2]: 102)
Bahwa keduanya adalah dua orang lelaki, mereka mengajarkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada keduanya.
Menurut yang lainnya, keduanya mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diturunkan kepada keduanya.
Al-Qasim ibnu Muhammad mengatakan,
"Aku tidak pedulikan lagi mana yang dimaksud di antara keduanya."

Kebanyakan ulama Salaf berpendapat bahwa Harut dan Marut adalah dua malaikat dari langit, dan bahwa keduanya diturunkan ke bumi, kemudian terjadilah apa yang dialami oleh keduanya.
Kisah keduanya itu disebutkan di dalam hadis marfu” yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya, seperti yang akan kami kemukakan nanti, insya Allah.

Berdasarkan pengertian ini, berarti dari penggabungan antara pendapat ini dengan dalil-dalil yang menyatakan bahwa para malaikat itu terpelihara dari kesalahan dapat disimpulkan bahwa peristiwa yang dialami oleh kedua malaikat ini sejak zaman azali telah diketahui oleh ilmu Allah.
Dengan demikian, berarti peristiwa ini merupakan kekhususan bagi keduanya, maka tidak ada pertentangan pada kedua dalilnya, seperti juga yang telah diketahui oleh ilmu Allah mengenai perkara iblis dalam keterangan terdahulu.
Tidak bertentangan pula dengan pendapat yang mengatakan bahwa pada awalnya iblis merupakan segolongan dari malaikat, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat,
"Sujudlah kalian kepada Adam.
Maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan.
(QS. Al-Baqarah [2]:34)

dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan makna tersebut.
Tetapi perlu diingat bahwa apa yang dilakukan oleh Harut dan Marut —bila ditinjau dari kisah keduanya— jauh lebih ringan daripada apa yang dialami oleh iblis yang dilaknat Allah.
Hal ini diriwayatkan oleh Al-Qurtubi, dari Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ka’b Al-Ahbar, As-Saddi, dan Al-Kalbi.

Sehubungan dengan kisah Harut dan Marut ini sejumlah tabi’in telah mengetengahkan riwayatnya, misalnya Mujahid, As-Saddi, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, -Abul Aliyah, Az-Zuhri, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya.
Ulama ahli tafsir dari kalangan Mufassirin terdahulu dan yang kemudian mengetengahkannya pula, tetapi pada kesimpulannya semuanya itu merujuk kepada kisah-kisah dari Bani Israil dalam semua rinciannya, mengingat tiada suatu hadis yang marfu’ lagi sahih mengenainya yang muttasil (berhubungan) kepada Nabi ﷺ yang tidak pernah berbicara dari dirinya sendiri melainkan dari wahyu yang diturunkan kepadanya.

Sedangkan pengertian lahiriah dari konteks yang disajikan oleh Alquran adalah garis besar dari kisah tersebut tanpa rincian dan tanpa pembahasan panjang lebar.
Maka kewajiban kita hanya beriman dengan semua yang disebut oleh Alquran menurut apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala, karena hanya Dialah Yang Maha Mengetahui hal yang sebenarnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan,
"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu).
Sebab itu, janganlah kamu kafir."


Dari Al-Hasan Al-Basri, disebutkan bahwa ia mengatakan dalam tafsir ayat ini,
"Memang benar, kedua malaikat itu menurunkan ilmu sihir untuk mengajarkannya kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah mendapat cobaan ini.
Maka Allah mengambil janji dari keduanya, bahwa janganlah keduanya mengajarkannya kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan, ‘Sesungguhnya kami adalah cobaan bagimu.
Karena itu, janganlah kamu kafir’."
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Demikian pula pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala ketika menceritakan kisah Nabi Musa ‘alaihis salam Allah berfirman:

Itu hanyalah cobaan dari Engkau.
(QS. Al-A’raf:
155)

Maksudnya, ujian dan cobaan dari Engkau.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:


Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.
(QS. Al-A’raf:
155)

Sebagian ulama menyimpulkan dalil ayat ini (yakni (QS. Al-Baqarah [2]: 102), bahwa kafirlah orang yang belajar ilmu sihir.
Ia memperkuat dalilnya ini dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar:


bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Hammam, dari Abdullah yang mengatakan:
Barang siapa yang mendatangi tukang tenung (dukun) atau tukang sihir, lalu ia percaya kepada apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ Sanad riwayat ini sahih dan mempunyai syawahid lain yang memperkuatnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:


Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan istrinya.

Yakni orang-orang belajar sejenis ilmu sihir dari Harut dan Marut, yang kegunaannya dapat menimbulkan berbagai macam perbuatan tereela, hingga sesungguhnya ilmu sihir ini benar-benar dapat memisahkan sepasang suami istri, sekalipun pada awalnya keduanya sangat harmonis dan rukun.
Hal seperti ini merupakan perbuatan setan, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya:


melalui hadis Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Talhah ibnu Nafi’, dari Jabir ibnu Abdullah r.a., dari Nabi ﷺ Nabi ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya iblis itu meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengirimkan bala tentaranya kepada umat manusia, maka setan yang paling besar fitnahnya terhadap umat manusia akan memperoleh kedudukan yang terdekat di sisi iblis.
Salah satu dari mereka datang, lalu mengatakan,
"Aku terus-menerus menggoda si Fulan, hingga ketika aku tinggalkan dia telah mengerjakan anu dan anu."
Iblis menjawab,
"Tidak, demi Allah, kamu masih belum melakukan sesuatu (yakni belum berhasil)."
Lalu datang lagi yang lainnya dan mengatakan,
"Aku tidak beranjak darinya sebelum aku dapat memisahkan antara dia dan istrinya."
Maka iblis memberinya kedudukan yang tinggi dan dekat dengannya serta selalu bersamanya seraya berkata,
"Kamu benar."

Penyebab yang memisahkan sepasang suami istri ialah imajinasi yang disusupkan oleh setan kepada salah seorang dari suami atau istri hingga ia memandang teman hidupnya itu seakan-akan buruk penampilan atau buruk pekertinya atau lain sebagainya, atau seakan-akan ruwet, atau marah bila memandangnya, atau lain sebagainya yang menyebabkan terjadinya perpisahan.

Lafaz al-mar-u dalam ayat ini berarti suami, sedangkan bentuk ta-nis-nya adalah imra-atun (istri).
Kedua lafaz ini dapat diungkapkan dalam bentuk tasniyah, tetapi tidak dapat diungkapkan dalam bentuk jamak.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.

Menurut Sufyan As-Sauri, makna bi-iznillah ialah dengan keputusan Allah.
Sedangkan menurut Muhammad ibnu Ishaq artinya
"kecuali bila Allah membiarkan antara si tukang sihir dengan apa yang dikehendakinya."

Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan takwil ayat ini mengatakan,
"Memang benar.
Siapa yang dikehendaki oleh Allah dapat dipengaruhi oleh sihir itu, niscaya ilmu sihir dapat mencelakakannya.
Barang siapa yang tidak dikehendaki oleh Allah, maka ilmu sihir tidak akan dapat mencelakakannya."
Para ahli sihir tidak dapat menimpakan mudarat (kecelakaan) kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah, seperti yang telah dijelaskan di dalam ayat ini.
Akan tetapi, menurut suatu riwayat yang juga dari Al-Hasan Al-Basri, sihir tidak dapat meniupkan mudarat kecuali terhadap orang yang mengerjakan ilmu sihir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat.

Yakni memberikan mudarat pada agama mereka dan tidak memberi manfaat yang sebanding dengan mudaratnya.

Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.

Yaitu sesungguhnya orang-orang Yahudi yang berpaling dari mengikuti Rasul ﷺ dan menggantikannya dengan mengikuti ilmu sihir, mereka telah mengetahui bahwa di akhirat kelak dia tidak memperoleh keuntungan.
Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan As-Saddi, makna khalaq ialah bagian.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa takwil ayat ini ialah:
"Tiadalah baginya di akhirat nanti suatu perhatian pun dari Allah subhanahu wa ta’ala"
Menurut Al-Hasan, kata Abdur Razzaq artinya tiadalah baginya agama.

Sa’d meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sesungguhnya ahli kitab itu telah mengetahui (meyakini) janji Allah yang telah ditetapkan atas diri mereka, bahwa seorang penyihir itu tiadalah baginya keuntungan di akhirat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.
Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa seburuk-buruk pertukaran adalah sihir yang mereka beli sebagai ganti dari iman dan mengikuti Rasul ﷺ, kalau saja mereka mempunyai ilmu dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
Seandainya mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya pahala di sisi Allah lebih baik bagi mereka.
Dengan kata lain, sesungguhnya kalau mereka beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, niscaya pahala Allah atas hal tersebut lebih baik bagi mereka daripada apa yang mereka pi-ihkan buat diri mereka dan apa yang mereka sukai itu.
Makna ayat ini sama dengan apa yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu,
"Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Qashash:80)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 102

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syar bin Hausyab.
Bahwa kaum Yahudi berkata: “Lihatlah Muhammad yang mencampur baurkan antara yang hak dan batil, yaitu menerangkan (Nabi) Sulaiman digolongkan pada kelompok nabi-nabi, padahal ia seorang ahli sihir yang mengendarai angin.” Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Baqarah: 102) yang menegaskan bahwa kaum Yahudi lebih mempercayai setan daripada iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah.
Bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ beberapa kali tentang beberapa hal yang ada di dalam Taurat.
Semua isi Taurat dijawab oleh Allah dengan menurunkan ayat.
Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka.
Mereka berkata kepada sesamanya: “Orang ini lebih mengetahui tentang apa yang diturunkan kepada kita daripada kita.”

Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi ﷺ ialah tentang sihir.
Dan mereka berbantah-bantahan dengan Rasulullah tentang hal itu.
Maka Allah menurunkan ayat di atas (Al-Baqarah: 102) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 102

HARUUT
هَٰرُوت

Al Baqarah (2), ayat 102, Allah menyatakan yang artinya,

"Mereka (syaitan-syaitan) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat, Haarut dan Marut di negeri Babil (Babilion), sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cubaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir"

Terdapat dua tafsiran berkenaan Haruut yaitu;

Pertama, Haarut adalah salah seorang hamba shaleh selain marut yang berada di Babilion.
Diberikan kepadanya ilmu sihir pada zaman yang berleluasa pengamalan ilmu sihir.
Dia mengajarkannya kepada manusia ilmu sihir yang memiliki berbagai perkara yang menakjubkan supaya mereka dapat membedakan di antara sihir dan mukjizat, serta memberitahu orang yang mendakwa diri mereka nabi adalah ahli sihir dan bukan para nabi.
Dia mengajarkannya kepada manusia disertai dengan peringatan sehingga dia tidak mengajarkannya kecuali dia akan berkata,
sesungguhnya kami adalah ujian dan cobaan dari Allah.
Oleh karena itu, janganlah kamu mengamalkan sihir dan jangan pula terpengaruh dengannya.
Apabila kamu tidak mengendahkannya maka kamu akan menjadi kafir.
Namun, jika kamu belajar hanya sekadar untuk mengetahuinya sahaja tanpa yakin pada hakikatnya dan tanpa terpengaruh dengannya serta mengamalkannya maka ia tidak berbahaya bagi kamu.
Lalu, manusia belajar darinya dan mengamalkannya sehingga dapat memisahkan antara suami isteri dan sebagainya.
Dia dikatakan malak (malaikat) lantaran terkenal dengan kebaikannya sehingga dia diumpamakan sebagai malaikat.

Kedua, Haarut adalah seorang malaikat yang diturunkan oleh Allah kepada manusia sebagai fitnah bagi mereka dalam pengajarannya terhadap ilmu sihir.
Ia tergolong dari malaikat yang paling baik dari segala malaikat yang bernama ‘Aza.’ Namun, sebelum mengajarkannya dia mengingatkan mereka yang mau belajar tentang buruknya sihir itu dan jangan mengamalkannya

Az Zujaj berkata,
dua malaikat itu mengajarkan tentang larangan mempelajari ilmu sihir, seakan mereka berdua berkata,
jangan berbuat begini dan begitu yang dapat memisahkan antara seseorang dari isterinya.

Adapun kisah-kisah yang berkaitan dengannya adalah dari kisah Israiliyyat, seperti dongeng Haarut dan Maarut dengan bintang Zuhrah yang begitu cantik pada zamannya yang mau berbuat jahat dengan kedua malaikat itu atau keduanya menaruh cinta kepadanya ketika melihat kecantikannya sehingga menjerumuskan mereka berdua kepada berbuat tiga perkara yaitu minum arak, berzina dan membunuh.

Kisah ini terdapat dalam Talmud, dalam kitab Madrasa Yadkul Fasal.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:630-631

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

▪ Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
▪ Menunaikan zakat.
▪ Hukum puasa.
▪ Hukum haji dan umrah.
▪ Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
▪ Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
▪ Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
▪ Hukum merusak masjid.
▪ Hukum merubah kitab-kitab Allah.
▪ Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
▪ Hukum susuan.
▪ Hukum melamar.
▪ Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
▪ Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
▪ Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 102 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 102 - Gambar 2
Statistik QS. 2:102
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’ 40 ruku’
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.6 (28 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

2:102, 2 102, 2-102, Surah Al Baqarah 102, Tafsir surat AlBaqarah 102, Quran Al-Baqarah 102, Surah Al Baqarah ayat 102

▪ fayatangalamuna minhuma
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Baqarah

۞ QS. 2:2 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:3 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:4 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:5 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:6 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 2:7 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:8 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:9 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:10 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:11 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:12 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:15 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:16 • Siksa orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:17 • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:18 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:19 Al Muhith (Maha Mengetahui) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:20 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:21 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:22 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak

۞ QS. 2:24 • Memasuki neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:25 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat wanita penghuni surga • Makanan dan minuman ahli surga

۞ QS. 2:26 • Kesabaran Allah terhadap kejahatan hamba • Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:27 • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:28 Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:29 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 2:31 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:32 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:33 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:36 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:37 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:38 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:39 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:40 • Allah menepati janji

۞ QS. 2:41 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:46 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 2:48 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:49 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:51 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:52 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:54 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:56 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:57 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:58 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:59 Syirik adalah kezaliman • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:61 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:62 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:63 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:64 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:65 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:66 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:68 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:69 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:70 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:72 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:73 • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:74 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:75 • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi

۞ QS. 2:76 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:77 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:79 • Mendustai Allah • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:80 • Mendustai Allah • Allah menepati janji

۞ QS. 2:81 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:82 • Pahala iman • Keabadian surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:83 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 2:85 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:86 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:87 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 2:89 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:90 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:91 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:92 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:93 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:94 • Mendustai Allah • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:95 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:96 Al Bashir (Maha Melihat) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 2:97 • Peranan dan tugas Jibril • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:98 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Kewajiban beriman pada para rasul • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:99 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:101 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:102 • Tugas-tugas malaikat • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Sifat iblis dan pembantunya • Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 2:103 • Pahala iman

۞ QS. 2:104 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:105 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 2:106 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:107 • Segala sesuatu milik Allah • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) •

۞ QS. 2:108 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:109 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:110 Al Bashir (Maha Melihat) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian

۞ QS. 2:111 • Mendustai Allah

۞ QS. 2:112 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:113 • Kepastian hari kiamat

۞ QS. 2:114 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 2:116 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 2:117 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Badi’ (Maha Pencipta)

۞ QS. 2:118 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:119 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:120 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:121 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:123 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir

۞ QS. 2:124 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:126 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 2:127 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:128 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:129 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:130 Islam agama para nabi

۞ QS. 2:131 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi •

۞ QS. 2:132 Tauhid UluhiyyahIslam agama yang diterima di sisi Allah • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:133 Tauhid UluhiyyahAl Wahid (Maha Esa) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi •

۞ QS. 2:134 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:135 Islam agama para nabi • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:136 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 2:137 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi

۞ QS. 2:138 Islam agama fitrah • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:139 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:140 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:141 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:142 • Segala sesuatu milik Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:143 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Orang Islam sebagai saksi Allah terhadap manusia • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:144 Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:145 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:146 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:147 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:148 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan

۞ QS. 2:149 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:152 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:154 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 2:157 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:158 Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:160 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:162 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:163 Tauhid UluhiyyahAl Rahman (Maha Pengasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Wahid (Maha Esa) •

۞ QS. 2:164 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:165 Al Qawiy (Maka Kuat) • Azab orang kafirSyirik adalah kezaliman • Siksa orang kafir • Dosa terbesar

۞ QS. 2:166 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka

۞ QS. 2:167 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 2:168 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 2:169 • Mendustai Allah • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:170 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:171 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:172 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:173 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:174 • Sifat Kalam (berfirman) • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kebangkitan • Balasan dan pahala dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:175 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:176 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:177 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:178 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:181 • Keluasan ilmu Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:182 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:183 Puasa rukun Islam

۞ QS. 2:184 • Toleransi Islam

۞ QS. 2:185 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Toleransi IslamHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:186 • Al Qarib (Maha Dekat) • Keutamaan iman

۞ QS. 2:187 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:191 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:192 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:193 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 2:194 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:196 • Siksaan Allah sangat pedih • Haji rukun Islam

۞ QS. 2:197 • Keluasan ilmu Allah • Haji rukun Islam • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:198 Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:199 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:200 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:201 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:202 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:203 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Toleransi Islam

۞ QS. 2:204 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:205 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:206 • Perlunya saling menasehati antara sesama • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:207 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:208 • Menjaga diri dari syetan • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:209 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:210 • Kedahsyatan hari kiamat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:211 • Siksaan Allah sangat pedih • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:212 • Pahala iman • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:213 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:214 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 2:215 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:216 • Keluasan ilmu Allah • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 2:217 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 2:218 • Pahala iman • Memohon hanya kepada Allah • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:219 • Larangan menghina perbuatan baik

۞ QS. 2:220 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:221 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Keutamaan iman

۞ QS. 2:223 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian • Kebenaran hari penghimpunan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:224 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:225 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:226 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:227 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:228 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:229 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:231 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:232 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:233 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Toleransi Islam • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 2:234 Al Khabir (Maha Waspada) • Perkabungan wanita dalam Islam • Berbicara saat berkabung

۞ QS. 2:235 • Keluasan ilmu Allah • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Berbicara saat berkabung

۞ QS. 2:237 Al Bashir (Maha Melihat) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:239 • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 2:240 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:242 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:243 • Kekuasaan Allah • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Kebenaran dan hakikat takdir

۞ QS. 2:244 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:245 • Kebenaran hari penghimpunan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin

۞ QS. 2:246 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:247 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 2:248 Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 2:249 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 2:250 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:251 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminSifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 2:253 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Sifat Iradah (berkeinginan) • Sifat Kalam (berfirman) • Peranan dan tugas Jibril • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 2:254 Malaikat naik kepada Allah • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 2:255 Tauhid Uluhiyyah • Sifat Kamal (sempurna) • Menafikan sifat kantuk dan tidur • Syafaat hak Allah semata • Memperoleh syafaat dengan izin Allah

۞ QS. 2:256 Tauhid Uluhiyyah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keistimewaan Islam

۞ QS. 2:257 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Al Wali (Maha Pelindung) • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 2:258 Ar Rabb (Tuhan) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:259 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan •

۞ QS. 2:260 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:261 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas) • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:262 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:263 Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghaniy (Maha Kaya) • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 2:264 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:265 Al Bashir (Maha Melihat) • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:266 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Perbuatan dilihat dari akhirnya

۞ QS. 2:267 Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 2:268 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas) • Sifat iblis dan pembantunya •

۞ QS. 2:269 Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 2:270 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:271 Al Khabir (Maha Waspada) • Amal shaleh sebagai pelebur dosa-dosa kecil • Menghitung amal kebaikan • Pelebur dosa kecil •

۞ QS. 2:272 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Allah menggerakkan hati manusia • Perbuatan dan niat • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 2:273 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:274 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:275 Ar Rabb (Tuhan) • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Usaha jin untuk menyakiti manusia • Toleransi Islam

۞ QS. 2:276 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:277 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Shalat rukun IslamZakat rukun Islam • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 2:278 • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 2:279 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:281 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian • Kebenaran hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:282 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:283 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:284 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Ampunan Allah yang luas • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 2:285 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 2:286 Ar Rabb (Tuhan) • Al Maula (Maha Penolong) • Keutamaan umat nabi Muhammad • Keadilan Allah dalam menghakimi • Keistimewaan Islam

Ayat Pilihan

Celaka,
dan celakalah kamu,
wahai pendusta!
Lalu celaka,
dan celakalah kamu selamanya!
QS. Al-Qiyamah [75]: 34

Hendaknya kamu tak menggerakkan lidahmu untuk membaca Alquran karena didorong oleh keinginan untuk cepat membaca & menghafalnya.
Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya dalam dadamu & memantapkan bacaannya di lidahmu.
QS. Al-Qiyamah [75]: 17

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
QS. Al-Insyirah [94]: 7

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Assabiqunal awwalun adalah sebutan untuk sahabat-sahabat nabi Muhammad yang pertama kali memeluk islam.

Contohnya: Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Khadijah ra. Assabiqunal awwalun artinya adalah orang-orang yang awal masuk atau memeluk agama islam.

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
QS. Al Mudatsir adalah surah ke 74 dalam Alquran yang tergolong ke dalam surah Makkiyyah.

Pembahasan:

Ayat 1

u064au064eu0627 u0623u064eu064au0651u064fu0647u064eu0627 u0627u0644u0652u0645u064fu062fu0651u064eu062bu0651u0650u0631u064f

yaa ayyuhaal muddatstsir

Hai orang yang berkemul (berselimut)


Ayat 2

u0642u064fu0645u0652 u0641u064eu0623u064eu0646u0652u0630u0650u0631u0652

Qum faandzir

bangunlah, lalu berilah peringatan


Ayat 3

u0648u064eu0631u064eu0628u0651u064eu0643u064e u0641u064eu0643u064eu0628u0651u0650u0631u0652

warabbaka fakabbir

dan Tuhanmu agungkanlah


Ayat 4

u0648u064eu062bu0650u064au064eu0627u0628u064eu0643u064e u0641u064eu0637u064eu0647u0651u0650u0631u0652

wa shiyabaqa fathahhir

dan pakaianmu bersihkanlah


Ayat 5

u0648u064eu0627u0644u0631u0651u064fu062cu0652u0632u064e u0641u064eu0627u0647u0652u062cu064fu0631u0652

warrujja fahjur

dan perbuatan dosa tinggalkanlah


Ayat 6

u0648u064eu0644u064eu0627 u062au064eu0645u0652u0646u064fu0646u0652 u062au064eu0633u0652u062au064eu0643u0652u062bu0650u0631u064f

wa laa tamnun tastakstir

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.


Ayat 7

u0648u064eu0644u0650u0631u064eu0628u0651u0650u0643u064e u0641u064eu0627u0635u0652u0628u0650u0631u0652

walirabbaka fashbir

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Pendidikan Agama Islam #11
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #11 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #11 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #13

Nama pedang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam? … Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya … kali.”

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah …

Kamus

tanfiziah

Apa itu tanfiziah? tan.fi.zi.ah eksekutif; muktamar partai yang berdasarkan Islam itu memilih kembali ketua tanfiziah yang lama untuk periode 2000-2005 … •

amal ibadah

Apa itu amal ibadah? perbuatan yang merupakan pengabdian kepada Allah, seperti salat dan zakat … •

fasik

Apa itu fasik? fa.sik (1) a tidak peduli terhadap perintah Tuhan (berarti; buruk kelakukan, jahat, berdosa besar); (2) n orang yang percaya kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala., tetapi tidak mengamalkan...