Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Balad (Negeri) – surah 90 ayat 11 [QS. 90:11]

But he has not broken through the difficult pass.
― Chapter 90. Surah Al Balad [verse 11]

فَلَا maka/tetapi tidak

But not
ٱقْتَحَمَ ia menempuh

he has attempted
ٱلْعَقَبَةَ pendakian/mendaki

the steep path.

Tafsir

Alquran

Surah Al Balad
90:11

Tafsir QS. Al Balad (90) : 11. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini, Allah bertanya,
"Apakah tidak sebaiknya ia merapikan jalan mendaki yang terjal?"
Artinya, manusia seharusnya bekerja keras dan berjuang semaksimal mungkin mengatasi segala rintangan supaya berhasil menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar dan meninggalkan jasa-jasa besar.

Tafsir QS. Al Balad (90) : 11. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Tetapi ia tidak mengambil manfaat dari apa yang Kami sediakan itu.
Dan juga tidak memudahkan jalan mendaki lagi sulit yang menghalang antara dirinya dan keselamatan, yaitu kekikiran dirinya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kemudian, mengapa ia tidak meringankan kesulitan akhirat dengan menginfakkan hartanya sehingga ia aman?

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka kenapa ia tidak) atau mengapa ia tidak


(menempuh jalan yang sulit?)

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Ismail ibnu Mujalid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Idris, dari ayahnya, dari Abu Atiyyah, dari Ibnu Umar sehubungan dengan makna firman-Nya:
Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit.
(QS. Al-Balad [90]: 11)
Maksudnya, memasuki jalan yang mendaki lagi sulit, yaitu nama sebuah gunung di dalam neraka Jahanam.
(Dengan demikian, berarti huruf lam di sini bukan lam nafi, melainkan lam taukid.
Sehingga makna ayat menjadi seperti berikut,
"Maka sesungguhnya manusia itu akan menempuh jalan yang sulit lagi mendaki,"
pent).

Ka’bul Ahbar mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit.
(QS. Al-Balad [90]: 11)
‘Aqabah adalah tingkatan yang terdiri dari tujuh puluh tingkatan di dalam neraka Jahanam.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit.
(QS. Al-Balad [90]: 11)
Yaitu jalan yang mendaki lagi sulit di dalam neraka Jahanam.
Qatadah mengatakan bahwa sesungguhnya hal itu merupakan jalan mendaki, sulit, lagi keras, maka jinakkanlah ia dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah.

Qatadah mengatakan bahwa selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:
Tahukah ‘kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
(QS. Al-Balad [90]: 12)
Lalu disebutkan pula bagaimana cara melaluinya dalam firman berikutnya:
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan.
(QS. Al-Balad [90]: 13-14)

Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?
(QS. Al-Balad [90]: 11)
Yakni tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang membawanya kepada keselamatan dan kebaikan.


Kemudian dijelaskan dalam firman berikutnya:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ أَوْ إِطْعَامٌ}

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu:
(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan atau memberi makan.
(QS. Al-Balad [90]: 12-14)

Suatu qiraat ada yang membacanya fakku raqabatin dengan me-mudaf-kannya.
Dan qiraat lain ada yang membacanya fakkun raqabatan.
Lafaz fakkun menjadi mudaf yang beramal dengan amal fi’il-nya.
Ia mengandung damir yang menjadi fa’il-nya, sedangkan raqabatan menjadi maf’ulnya.
Kedua qiraat ini maknanya berdekatan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa’id ibnu Abu Hindun, dari Ismail ibnu Abu Hakim pelayan keluarga Az-Zubair, dari Sa’id ibnu Marjanah;
ia pernah mendengar Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

«مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ إرب- أي عضو- مِنْهَا إِرْبًا مِنْهُ مِنَ النَّارِ حَتَّى إِنَّهُ لَيُعْتِقُ بِالْيَدِ الْيَدَ وَبِالرِّجْلِ الرِّجْلَ وَبِالْفَرْجِ الْفَرْجَ»

Barang siapa yang memerdekakan seorang budak yang mukmin.
maka Allah memerdekakan tiap anggota tubuhnya dengan tiap anggota tubuh budak itu dari api neraka, sehingga sesungguhnya Allah memerdekakan tangan dengan tangan, kaki dengan kaki, dan kemaluan dengan kemaluan.

Kemudian Ali ibnul Husain bertanya,
"Apakah engkau benar mendengar hadis ini dari Abu Hurairah?"
Sa’id menjawab,
"Benar."
Maka Ali ibnul Husain berkata kepada salah seorang budaknya untuk memanggil budak yang paling disayanginya."Panggilah si Mutarrif!"
Ketika Mutarrif telah berada di hadapan Ali ibnu Husain, maka Ali berkata kepadanya.
Pergilah kamu, sekarang engkau merdeka karena Allah."

Imam Bukhari dan Imam Muslim, juga Imam Turmuzi dan Imam Nasai, telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Sa’id ibnu Mirjanah dengan sanad yang sama.
Menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim budak yang dimerdekakan oleh Ali ibnul Husain alias Zainul Abidin ini adalah seorang budak yang sebelum dimerdekakan diberi uang sebanyak sepuluh ribu dirham (untuk bekalnya).

Qatadah telah meriwayatkan dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari Ma’dan ibnu Abu Talhah, dari Abu Najih yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا مُسْلِمٍ أَعْتَقَ رَجُلًا مُسْلِمًا فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ وَفَاءَ كل عظم من عظامه عظما من عظامه محررا من النار، وأيما امرأة أَعْتَقَتِ امْرَأَةً مُسْلِمَةً فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ وَفَاءَ كُلِّ عَظْمٍ مِنْ عِظَامِهَا عَظْمًا مِنْ عِظَامِهَا مِنَ النَّارِ

Orang muslim yang memerdekakan seorang budak laki-laki yang muslim, maka sesungguhnya Allah menjadikan imbalannya untuk setiap anggota tubuhnya dengan anggota tubuh budak yang dimerdekakannya itu dari neraka.
Dan wanita muslimah yang memerdekakan seorang budak perempuan, maka sesungguhnya Allah menjadikan imbalannya untuk setiap anggota tubuhnya dengan setiap anggota tubuh budak perempuan yang dimerdekakannya itu dimerdekakan dari api neraka,

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Dan Abu Najih ini adalah Amr ibnu Absah As-Sulami r.a.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih.
telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepadaku Bujair ibnu Sa’d.
dari Khalid ibnu Ma’dan.
dari Kasir ibnu Murrah, dari Amr ibnu Absah;
ia telah menceritakan kepada mereka bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِيُذْكَرَ اللَّهُ فِيهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.
وَمَنْ أَعْتَقَ نَفْسًا مُسَلِمَةً كَانَتْ فِدْيَتَهُ مِنْ جَهَنَّمَ، وَمَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Barang siapa yang membangun masjid agar disebutkan nama Allah di dalamnya, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah gedung di dalam surga.
Dan barang siapa yang memerdekakan seorang budak yang muslim, maka budak itu menjadi tebusannya dari neraka Jahanam.
Dan barang siapa yang mengalami ubanan pada sehelai rambutnya di masa Islam, maka hal itu kelak akan menjadi nur (cahaya) baginya di hari kiamat.

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi’, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Salim ibnu Amir, bahwa Syurahbil ibnus Simt pernah mengatakan kepada Amr ibnu Absah,
"Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang tidak panjang dan tidak mudah dilupakan."
Maka Amr ibnu Absa berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa memerdekakan seorang budak yang muslim, maka budak itu menjadi kebebasannya dari neraka;
setiap anggota tubuh dengan setiap anggota tubuh lainnya.
Dan barang siapa yang tumbuh ubannya sehelai dijalan Allah, maka hal itu akan menjadi cahaya baginya kelak di hari kiamat.
Dan barang siapa yang membidikkan anak panahnya, lalu mencapai sasarannya atau meleset (di jalan Allah), maka dia bagaikan seorang yang memerdekakan seorang budak dari kalangan Imam Abu Daud dan Imam Nasai telah meriwayatkan sebagian dari hadis ini.

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Luqman, dari Abu Umamah, dari Amr ibnu Absah As-Sulami.
Abu Umamah mengatakan kepadanya,
"Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang di dalamnya tidak mengandung kekurangan dan tidak pula hal yang sulit dicapai."
Amr ibnu Absah menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang dilahirkan baginya tiga orang anak dalam masa Islam, lalu mereka semuanya mati sebelum mencapai usia balig, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat kemurahan rahmat-Nya kepada mereka.
Dan barang siapa yang beruban sehelai rambutnya di jalan Allah, maka uban itu akan menjadi cahaya baginya kelak di hari kiamat.
Dan barang siapa yang membidikkan anak panah di jalan Allah hingga mencapai musuhnya, baik mengenainya atau meleset, maka baginya pahala seperti memerdekakan seorang budak.
Dan barang siapa memerdekakan seorang budak yang mukmin, maka Allah memerdekakan tiap anggota tubuhnya berkat tiap anggota tubuh budak yang dimerdekakannya dari api neraka.
Dan barang siapa yang membelanjakan dua jenis keperluan di jalan Allah, maka sesungguhnya surga itu mempunyai delapan buah pintu, Allah akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu mana pun yang disukainya.

Semua sanad hadishadis di atas berpredikat jayyid lagi kuat;
segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala

Hadis lain.


Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ais ibnu Muhammad Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Damrah, dari Ibnu Abu Ablah, dari Al-Arrif ibnu Iyasy Ad-Dailami yang mengatakan bahwa kami datang kepada Wasilah ibnul Asqa’, dan kami berkata kepadanya,
"Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang tidak ada penambahan dan tidak pula pengurangan."
Maka Wasilah marah dan berkata,
"Sesungguhnya seseorang dari kamu benar-benar membaca Alquran dan mushaf yang dibacanya tergantung di rumahnya (tersimpan di dalamnya), maka apakah dia berani menambah-nambahi atau menguranginya?"
Kami berkata,
"Bukan itu kami maksudkan, sesungguhnya yang kami maksudkan hanyalah sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ yang pernah engkau dengar secara harfiah."
Wasilah ibnu Asqa’ mengatakan,
"Kami datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ untuk menanyakan kepada beliau tentang seorang teman kami yang sudah dapat dipastikan akan masuk neraka karena bunuh diri, maka Rasulullah ﷺ menjawab:

«أَعْتِقُوا عَنْهُ يُعْتِقُ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ»

‘Merdekakanlah olehmu untuknya seorang budak, maka Allah akan memerdekakan setiap anggota tubuhnya dengan setiap anggota tubuh budak itu dari neraka’."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui hadis Ibrahim ibnu Abu Ablah, dari Al-Arrif ibnu Iyasy Ad-Dailami, dari Wasilah dengan lafaz yang sama.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari Qais Al-Juzami, dari Uqbah ibnu Amir Al-Juhani, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

«من أعتق رقبة مُسْلِمَةٍ فَهُوَ فِدَاؤُهُ مِنَ النَّارِ»

Barang siapa memerdekakan seorang budak yang muslim, maka budak itu menjadi penebus dirinya dari neraka.

Telah menceritakan pula kepada kami Abdul Wahhab Al-Khaffaf, dari Sa’d, dari Qatadah yang mengatakan bahwa pernah diceritakan kepada kami bahwa Qais Al-Juzami menceritakan hadis dari Uqbah ibnu Amir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

«مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَهِيَ فِكَاكُهُ مِنَ النَّارِ»

Barang siapa memerdekakan seorang budak yang mukmin, maka budak itu menjadi pembebasnya dari neraka.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid melalui jalur ini.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam dan Abu Ahmad, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Abdur Rahman Al-Bajali, dari Rasulullah ﷺ, lalu bertanya,
"Wahai Rasulullah, ajarilah aku suatu amal yang dapat memasukkan diriku ke dalam surga."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

«لَئِنْ كُنْتَ أَقْصَرْتَ الْخُطْبَةَ لَقَدْ أَعْرَضْتَ الْمَسْأَلَةَ، أَعْتِقِ النَّسَمَةَ وَفُكَّ الرَّقَبَةَ»

Sesungguhnya aku telah berniat akan meringkas khotbah ini, tetapi ternyata engkau menjadikannya panjang.
Merdekakanlah budak dan bantulah untuk memerdekakannya.

Lelaki Badui itu bertanya,
"Wahai Rasulullah, bukankah keduanya itu sama?"
Rasulullah ﷺ menjawab:


«لَا إِنَّ عِتْقَ النَّسَمَةِ أَنْ تَنْفَرِدَ بِعِتْقِهَا، وَفَكَّ الرَّقَبَةِ أَنْ تُعِينَ فِي عِتْقِهَا، وَالْمِنْحَةُ الْوَكُوفُ ، وَالْفَيْءُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الظَّالِمِ فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ فَأَطْعِمِ الْجَائِعَ، وَاسْقِ الظَّمْآنَ، وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلَّا من الخير»

Tidak, sesungguhnya yang pertama berarti engkau memerdekakan budak seutuhnya, sedangkan yang kedua berarti engkau hanya membantu memerdekakannya.
Dan gemarlah berderma, berilah saudara yang zalim.
Maka jika kamu tidak mampu mengerjakannya, berilah makan orang yang kelaparan, berilah minum orang yang kehausan, beramar ma’ruf dan bernahi munkarlah.
Dan jika kamu tidak mampu mengerjakannya, maka cegahlah lisanmu kecuali terhadap kebaikan.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Balad (90) Ayat 11

AQABAH
عَقَبَة

Lafaz ini adalah ism mufrad, jamaknya ialah ‘aaqabaat dan ‘iqaab, artinya sukar, jalan pendakian gunung yang sukar, sesuatu yang diletakkan di jalan musuh bagi menghalangnya dan meranjaunya.

la disebut dua kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Al Balad (90), ayat 11 dan 12.

Asy Syawkani berkata,
"Asal makna al ‘aqabah adalah jalan yang berada di gunung, ia dinamakan demikian karena kesukaran untuk melaluinya dan Allah menggambarkan perumpamaannya dengan kesukaran melawan hawa nafsu dan syaitan dalam membuat kebaikan-kebaikan, sehingga ia dijadikannya perumpamaan bagi orang yang mengalami kesukaran dalam mendaki jalan pendakian itu.

Al Hasan berkata,
"Aqabah adalah suatu kesukaran karena ia mesti berjihad melawan hawa nafsu, musuhnya dan syaitan."

Ada juga yang menyamakannya dengan dosa besar, berat dan kesukarannya dengan ‘aqabah, apabila ia memerdekakan hamba dan beramal shaleh, maka ia sama dengan orang yang sudah melintasi jalan yang sukar, yaitu dosa-dosa yang memudaratkannya, menghinakannya dan menyukarkannya.

Terdapat juga beberapa pentafsiran tentang makna ‘aqabah:

– Ibn ‘Umar mengatakan ia adalah gunung yang berada di dalam api neraka.

– dari Abi Raja’ katanya, "Diberitakan kepada kami, ‘aqabah adalah jalan mendakinya 7000 tahun, jalan menurunnya 7000 tahun"

– Al Hasan dan Qatadah berkata,
"Aqabah adalah jalan yang sukar didalam api neraka tanpa jambatan, maka lintasilah ia dengan taat kepada Allah."

Mujahid, Ad Dahhak dan Al Kalbi berkata,
"Ia adalah jalan yang berada di neraka yang tajamnya seperti mata pedang, perjalanannya baik mendatar, mendaki dan menurun selama 3000 tahun.
Bagi orang mu’min, jaraknya seperti di antara shalat Ashar hingga ke shalat shaleh dan memerdekakan hamba sahaya, memberi makan fakir miskin serta beriman.
Ia adalah asas ketaatan dan kebaikan.
Namun, dia ingkar dan kufur pada pemberi nikmat.
Maksudnya, berinfak dengan cara ini termasuk cara yang diridhai dan bermanfaat di sisi Allah.

Oleh karena itu, tidakkah dia mengeluarkan hartanya dalam memerdekakan hamba sahaya dan memberi makan fakir miskin bagi menempuh dan melintasi jalan yang sukar itu, sehingga ia menjadi lebih baik baginya berbanding mengeluarkannya dalam memusuhi Muhammad."

Penjelasan di atas jelas menunjukkan lafaz ‘aqabah bermakna jalan yang sukar, baik di dunia dan di akhirat dan ianya dapat ditempuh dengan beramal shaleh dan melakukan ketaatan kepada Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 381-382

Unsur Pokok Surah Al Balad (البلد)

Surat Al Balad terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Balad, diambil dari perkataan "Al Balad" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah kota Mekah (Tanah Haram).

Keimanan:

▪ Manusia diciptakan Allah untuk berjuang menghadapi kesulitan.
▪ Janganlah manusia terperdaya oleh kekuasaan dan harta benda yang banyak yang telah dibelanjakannya.
▪ Beberapa peringatan kepada manusia atas beberapa nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya dan bahwa Allah telah menunjukkan jalan-jalan yang akan menyampaikannya kepada kebahagiaan dan yang akan membawanya kepada kecelakaan.

Audio

QS. Al-Balad (90) : 1-20 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 20 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Balad (90) : 1-20 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 20

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Balad ayat 11 - Gambar 1 Surah Al Balad ayat 11 - Gambar 2
Statistik QS. 90:11
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Balad.

Surah Al-Balad (bahasa Arab: البلد) adalah surah ke-90 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 20 ayat.
Dinamakan “Al-Balad” yang berarti Negeri diambil dari perkataan “Al-Balad” yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan kota dalam ayat ini ialah kota Mekkah.

Nomor Surah90
Nama SurahAl Balad
Arabالبلد
ArtiNegeri
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu35
JuzJuz 30
Jumlah ruku’1 ruku’
Jumlah ayat20
Jumlah kata82
Jumlah huruf343
Surah sebelumnyaSurah Al-Fajr
Surah selanjutnyaSurah Asy-Syams
Sending
User Review
4.3 (21 votes)
Tags:

90:11, 90 11, 90-11, Surah Al Balad 11, Tafsir surat AlBalad 11, Quran Al-Balad 11, Surah Al Balad ayat 11

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 63 [QS. 11:63]

Mendengar jawaban dan sikap kaumnya, dia”Nabi saleh”berkata, “Wahai kaumku! Terangkanlah kepadaku bagaimana sikap kamu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku berupa mukjizat yang dianugerahk … 11:63, 11 63, 11-63, Surah Hud 63, Tafsir surat Hud 63, Quran Hud 63, Surah Hud ayat 63

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 95 [QS. 5:95]

Hewan buruan di tanah haram, haram dibunuh. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya! Selama kamu berihram untuk haji atau umrah janganlah kamu membunuh hewan buruan, baik yang boleh … 5:95, 5 95, 5-95, Surah Al Maa’idah 95, Tafsir surat AlMaaidah 95, Quran Al Maidah 95, AlMaidah 95, Al-Ma’idah 95, Surah Al Maidah ayat 95

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang tidak diawali basmalah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah At-Taubah adalah surah ke-9 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat. Dinamakan At-Taubah yang berarti 'Pengampunan' karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.

Proses turunnya wahyu berlangsung selama ... tahun.

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Kausar adalah surah ke-108 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari 3 ayat yang menjadi surah terpendek dalam Alquran.

Pendidikan Agama Islam #27
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #27 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #27 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #14

Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Htaman Nabiyyin Akhlakul khabisah Uswatun khisah Uswatun Hasanah Akhlakul karimah

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? Abu Bakar Yusuf Abdullah Abu Lahab Imran Benar! Kurang tepat! Ada berapa

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat

Instagram