QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 94 [QS. 7:94]

وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا فِیۡ قَرۡیَۃٍ مِّنۡ نَّبِیٍّ اِلَّاۤ اَخَذۡنَاۤ اَہۡلَہَا بِالۡبَاۡسَآءِ وَ الضَّرَّآءِ لَعَلَّہُمۡ یَضَّرَّعُوۡنَ
Wamaa arsalnaa fii qaryatin min nabii-yin ilaa akhadznaa ahlahaa bil ba’saa-i wadh-dharraa-i la’allahum yadh-dharra’uun(a);

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.
―QS. 7:94
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Kelemahan manusia
7:94, 7 94, 7-94, Al A’raaf 94, AlAraaf 94, Al Araf 94, Al-A’raf 94

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 94

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 94. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam ayat ini bahwa salah satu dari sunah-Nya yang berlaku ialah bahwa bila Dia mengutus rasul-Nya kepada suatu umat kemudian umat tersebut mendustai rasulnya itu, maka Allah menimpakan cobaan kepada umat tersebut berupa kesempitan dan penderitaan.
Cobaan tersebut dimaksudkan untuk menginsyafkan mereka sehingga menjadi umat yang tunduk dan rendah hati serta dengan ikhlas berdoa kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala agar mereka dilepaskan dari azab tersebut.

Para ahli dalam ilmu jiwa dan ilmu pendidikan mengatakan, bahwa kemewahan dan kesenangan hidup menyebabkan manusia lupa kepada agama Tuhannya.
Akan tetapi, bila suatu ketika ia ditimpa kesusahan dan kesempitan, maka hal itu akan menimbulkan keinsyafan dalam hatinya, lalu kembali ke jalan yang ditunjukkan agamanya, dan berusaha untuk memperbaiki dirinya.

Seseorang barulah dapat merasakan nikmat kekayaan bila suatu ketika ia pernah kehilangan kekayaan itu.
Dan ia baru mengerti nikmat kesehatan bila suatu ketika ia pernah merasa kehilangan kesehatannya itu.
Demikian pula halnya dengan nikmat-nikmat lainnya yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia.

Dengan demikian jelaslah, bahwa apabila suatu ketika Allah subhanahu wa ta’ala mencabut nikmat-Nya dari seseorang atau sesuatu bangsa, maka hal itu akan memberikan keinsyafan kepadanya serta mengembalikannya kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mempertinggi keyakinannya tentang sifat-sifat kekuasaan, keadilan dan kasih sayang kepada makhluknya.
Oleh sebab itu mereka akan kembali merendahkan diri kepada Allah dan tunduk kepada peraturan-Nya, serta mengharapkan belas kasih-Nya untuk melepaskan mereka dari kesusahan yang menimpanya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setiap kami mengutus seorang nabi ke suatu negeri untuk mengajak penduduknya kepada agama Allah yang benar tetapi mereka menolak ajakan tersebut, mereka pasti akan ditimpa kemiskinan dan penyakit.
Hal itu Kami lakukan agar mereka tunduk dan memohon kepada Allah dengan tulus hati agar dibebaskan dari siksa itu.
Begitu juga agar mereka memenuhi ajakan rasul.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada sesuatu negeri) kemudian penduduknya mendustakannya (melainkan Kami timpakan) Kami siksa (kepada penduduknya kesempitan) yakni kemiskinan yang sangat (dan penderitaan) berupa penyakit (supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri) mereka mau merendahkan dirinya sehingga mereka mau beriman.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada suatu negeri, yang mengajak penduduknya untuk beribadah kepada Allah dan melarang mereka untuk berbuat syirik, lalu kaumnya mendustakannya, kecuali Kami akan menimpakan kepada mereka kesempitan dan kemelaratan.
Kami timpakan kepada mereka penyakit dan penderitaan dan Kami jadikan mereka fakir dan miskin, agar mereka tunduk merendahkan diri, bertaubat, dan kembali kepada Allah serta rujuk kepada kebenaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan perihal cobaan yang telah menimpa umat-umat terdahulu berupa penderitaan dan kesengsaraan, yaitu mereka yang telah diutuskan para nabi.
Mereka mengalami penderitaan berupa penyakit dan gangguan pada tubuh, juga mengalami kesengsaraan dalam hidup, yaitu keadaan miskin dan papa.
Ditimpakan demikian kepada mereka agar mereka mau tunduk dengan merendahkan diri.
Dengan kata lain, agar mereka berdoa dengan khusyuk kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
untuk melenyapkan apa yang menimpa diri mereka.

Allah mencoba mereka dengan kesengsaraan agar mereka mau tun­duk merendahkan diri kepada Allah, tetapi mereka tidak melakukan sesuatu pun yang dituntutkan kepada mereka.
Setelah itu keadaan mereka dibalik hingga menjadi makmur, hal ini merupakan cobaan pula bagi mereka.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 94 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 94 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 94 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:94
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.7
Ratingmu: 4.9 (29 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/7-94









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim