Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 9 [QS. 7:9]

وَ مَنۡ خَفَّتۡ مَوَازِیۡنُہٗ فَاُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ بِمَا کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا یَظۡلِمُوۡنَ
Waman khaffat mawaaziinuhu fa-uula-ikal-ladziina khasiruu anfusahum bimaa kaanuu biaayaatinaa yazhlimuun(a);
dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.
―QS. 7:9
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Dosa-dosa besar ▪ Golongan Al A’raf
English Translation - Sahih International
And those whose scales are light – they are the ones who will lose themselves for what injustice they were doing toward Our verses.
―QS. 7:9

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
وَمَنْ dan siapa

And (for) those
خَفَّتْ ringan

(will be) light
مَوَٰزِينُهُۥ timbangannya

his scales,
فَأُو۟لَٰٓئِكَ maka mereka itu

so those
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

(will be) the ones who
خَسِرُوٓا۟ (mereka) merugikan

lost,
أَنفُسَهُم diri mereka sendiri

themselves
بِمَا dengan apa

because
كَانُوا۟ adalah mereka

they were
بِـَٔايَٰتِنَا dengan ayat-ayat Kami

to Our Verses
يَظْلِمُونَ mereka ingkar

(doing) injustice.

 

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 9

Tafsir

Alquran

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebaliknya, siapa yang kejahatannya banyak, melebihi kebaikannya, adalah orang-orang yang merugi.
Sebab mereka telah menjual diri kepada setan, sehingga tidak merenungi tanda-tanda kekuasaan Kami karena ingkar dan keras kepala.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapa yang ringan timbangannya) oleh sebab amalamal keburukannya

(maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri) yang membawa dirinya ke neraka

(disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami) mereka tidak mau mempercayainya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan barangsiapa ringan timbangan amal-amalnya disebabkan banyak kejahatannya, mereka itulah orang-orang yang telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat ridha Allah.
Sebab mereka melampaui batas (hukumhukum Allah) dengan mengingkari ayat-ayat Allah dan tidak tunduk kepada-Nya

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Timbangan.

Maksudnya, timbangan amal perbuatan kelak di hari kiamat.

…ialah kebenaran.

Yakni Allah subhanahu wa ta’ala, tidak menganiaya seorang pun.
Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.
Danjika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahalanya.
Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.
(QS. Al-Anbiyaa [21]: 47)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun seberat zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.
(QS. An-Nisa’ [4]: 40)

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?”
(Yaitu) api yang sangat panas.
(QS. Al-Qari’ah [101]: 6-11)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
(QS. Al-Mu’minun [23]: 101), Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya.
maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.
Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.
(QS. Al-Mu’minun [23]: 102-103)

Yang diletakkan pada timbangan amal perbuatan kelak di hari kiamat —menurut suatu pendapat— adalah amalamal perbuatan, sekalipun berupa sesuatu yang abstrak, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala, mengubah bentuknya menjadi jasad yang kongkret kelak di hari kiamat.

Al-Bagawi mengatakan bahwa hal tersebut telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih, bahwa surat Al-Baqarah dan Ali Imran kelak di hari kiamat datang (dalam bentuk) seakan-akan seperti dua awan, atau dua naungan, atau dua kumpulan burung-burung yang terbang berbaris.

Termasuk ke dalam pengertian ini ialah apa yang disebut di dalam hadis sahih lainnya tentang kisah Alquran, bahwa Alquran kelak akan datang kepada pemiliknya dalam rupa seorang pemuda yang pucat warna (kulit)nya.
Maka pemiliknya bertanya,
“Siapakah kamu?”
Ia menjawab,
“Aku adalah Alquran yang membuatmu tidak dapat tidur di malam harimu dan membuatmu haus di siang harimu.”

Di dalam hadis Al-Barra mengenai kisah pertanyaan kubur disebutkan:

Maka orang mukmin didatangi oleh seorang pemuda yang bagus warna kulitnya lagi harum baunya.
Maka orang mukmin itu bertanya,
“Siapakah kamu?”
Ia menjawab,
“Saya adalah amal salehmu.”

Lalu disebutkan hal yang sebaliknya tentang orang kafir dan orang munafik.

Menurut pendapat yang lain, yang ditimbang adalah kitab catatan amal perbuatan, seperti yang disebutkan di dalam hadis tentang bitaqah (kartu) mengenai seorang lelaki yang dihadapkan, lalu diletakkan baginya pada salah satu sisi timbangan sebanyak sembilan puluh sembilan catatan amal, setiap catatan amal tebalnya sejauh mata memandang.
Kemudian bitaqah tersebut didatangkan yang di dalam­nya bertuliskan kalimah
“Tidak ada Tuhan selain Allah”.
Lalu lelaki itu bertanya,
“Wahai Tuhanku, apakah bitaqah dan semua catatan ini?”
Allah subhanahu wa ta’ala, menjawab,
“Sesungguhnya engkau tidak akan dianiaya.”
Lalu bitaqah tersebut diletakkan di sisi timbangan yang lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:

Maka catatan-catatan itu menjadi ringan dan bitaqah itu menjadi berat.

Imam Turmuzi meriwayatkan hal yang semisal melalui jalur ini, dan ia menilainya sahih.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, yang ditimbang itu adalah diri orang yang bersangkutan.
Seperti yang disebutkan di dalam hadis berikut:

Kelak di hari kiamat didatangkan seorang lelaki yang gemuk, tetapi di sisi Allah timbangannya tidaklah seberat sebuah sayap nyamuk kecil pun.
Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:
dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
(QS. Al-Kahfi [18]: 105)

Di dalam manaqib (riwayat hidup) sahabat Abdullah ibnu Mas’ud disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Apakah kalian merasa aneh dengan kedua betisnya (Ibnu Mas’ud) yang kecil itu.
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kedua betisnya itu dalam timbangan amal perbuatan jauh lebih berat daripada Bukit Uhud.

Tetapi dapat pula digabungkan pengertian dari semua asar tersebut, misalnya semuanya dinilai benar karena adakalanya yang ditimbang adalah amal perbuatannya, adakalanya catatan-catatan amalnya, dan adakalanya diri orang yang bersangkutan.

Unsur Pokok Surah Al A’raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al-An’am dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al-A’raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

▪ Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat.
▪ Hanya Allah sendiri yang mengatur dan menjaga alam.
▪ Allah menciptakan undang-undang dan hukumhukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
▪ Allah bersemayam di ‘Arasy.
▪ Bantahan terhadap kepalsuan syirik.
▪ Ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia.
▪ Nabi Musa berbicara dengan Allah.
▪ Tentang melihat Allah.
▪ Perintah beribadat sambil merendahkan diri kepada Allah.
▪ Allah mempunyai al asma’ul husna.

Hukum:

▪ Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk.
▪ Kewajiban mengikuti Allah dan rasul.
▪ Perintah berhias waktu akan shalat.
▪ Bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah.
▪ Perintah memakan makanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Adam `alaihis salam dengan iblis.
▪ Kisah Nabi Nuh `alaihis salam dan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Shaleh `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Syu’aib `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Alquran diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya.
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia.
Adab orang mukmin.
Adab mendengar pembacaan Alquran dan berzikir.
Rasul bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah.
▪ Balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul.
Dakwah rasulrasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah.

Qari Internasional

QS. Al-A’raaf (7) : 9 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. Al-A’raaf (7) : 9 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. Al-A’raaf (7) : 9 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. Al-A’raaf (7) : 1-206 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 206 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 206 + Terjemahan

Gambar Ayat

Surah Al A'raaf ayat 9 - Gambar 1 Surah Al A'raaf ayat 9 - Gambar 2

Statistik QS. 7:9
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al A’raaf.

Surah Al-A’raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A’rāf, “Tempat Tertinggi”) adalah surah ke-7 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An’am dan termasuk golongan surah Assab ‘uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A’raf karena perkataan Al-A’raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A’raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An’am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
Sending
User Review
4.4 (28 votes)

Tags:

Quran 7:9, 7 9, 7-9, Al A’raaf 9, tafsir surat AlAraaf 9, Al Araf 9, Al-A’raf 9

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Hadits Shahih

Podcast

Haditds & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #25

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَAyat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat … 3 2 4

Pendidikan Agama Islam #8

Orang yang menceritakan hadits disebut … tabi’in tabi’ut tabi’in sanad haditsain perawi Benar! Kurang

Ayat Pilihan

Hadits Pilihan

Kamus Istilah Islam