QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 88 [QS. 7:88]

قَالَ الۡمَلَاُ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا مِنۡ قَوۡمِہٖ لَنُخۡرِجَنَّکَ یٰشُعَیۡبُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَکَ مِنۡ قَرۡیَتِنَاۤ اَوۡ لَتَعُوۡدُنَّ فِیۡ مِلَّتِنَا ؕ قَالَ اَوَ لَوۡ کُنَّا کٰرِہِیۡنَ
Qaalal malal-ladziina-astakbaruu min qaumihi lanukhrijannaka yaa syu’aibu waal-ladziina aamanuu ma’aka min qaryatinaa au lata’uudunna fii millatinaa qaala awalau kunnaa kaarihiin(a);

Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata:
“Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”.
Berkata Syu’aib:
“Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”
―QS. 7:88
Topik ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin
7:88, 7 88, 7-88, Al A’raaf 88, AlAraaf 88, Al Araf 88, Al-A’raf 88

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 88

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 88. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan dalam ayat ini, bahwa orang-orang yang terkemuka di kalangan pengikut Nabi Syuaib itu berkata kepadanya, bahwa mereka akan mengusir bersama para pengikutnya dari negeri mereka, apabila Nabi Syuaib tidak mau kembali kepada agama yang diterima dari nenek mereka, serta menghentikan dakwahnya.

Dengan perkataan lain, mereka menyuruh Nabi Syuaib dan para pengikutnya untuk memilih apakah mereka akan tetap dalam agama baru dan melanjutkan dakwah tetapi diusir dari negeri mereka, ataukah bersedia kembali kepada agama nenek moyang dan menjadi anggota masyarakat dari kaumnya yang musyrik itu.
Jika mereka memilih yang kedua ini sudah tentu Nabi Syuaib dan para pengikutnya harus meninggalkan agama mereka, dan kembali menjadi orang-orang yang musyrik seperti kaumnya.

Perlu diketahui bahwa kata-kata “kembali kepada agama nenek moyang” memberi kesan seolah-olah Nabi Syuaib sendiri sebelum diangkat menjadi rasul sebagai diungkapkan oleh mereka pernah menjadi penganut agama kaumnya, dan tentu pernah juga turut menyembah sembahan yang mereka sembah.
Hal ini tidaklah benar karena para nabi dan rasul Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa terhindar dari dosa-dosa besar termasuk dosa yang disebabkan kemusyrikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Pada akhir ayat tersebut diterangkan bahwa Nabi Syuaib menjawab tantangan mereka dengan mengajukan pertanyaan, apakah mereka akan tetap memaksanya dengan para pengikutnya untuk kembali kepada agama mereka atau mengusirnya dengan para pengikutnya dari negeri Madyan bila ia menolak anjuran itu.

Nabi Syuaib menegaskan kepada kaumnya bahwa ia dan para pengikutnya tidak merasa gentar untuk diusir dari negeri mereka, dan mereka akan tetap dalam agama Allah serta melanjutkan dakwah mereka.
Kecintaan kepada agama Allah adalah lebih tinggi daripada kecintaan kepada tumpah darah yang penduduknya ingkar kepada Allah subhanahu wa ta’ala Ia dan para pengikutnya lebih mengutamakan hidup dalam keridaan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mereka benar-benar dapat memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dan agama serta keimanan itu adalah urusan hati yang tidak dapat dipaksakan bagaimana pun juga.
Ia dan para pengikutnya benci kepada kemusyrikan, karena kemusyrikan itu adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah sedikitpun juga.

Seorang rasul yang berkewajiban menyiarkan agama Allah tidaklah segan-segan meninggalkan tanah tumpah darahnya apabila suasana dan keadaan di tempat itu tidak memungkinkan untuk melaksanakan tugas.
Seperti diketahui, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah melakukan hijrah meninggalkan tanah tumpah darahnya yaitu kota Ur di Kaldania demi untuk agama Allah.
Demikian pula Nabi Muhammad ﷺ.
telah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena kecintaannya kepada agama Allah adalah melebihi kecintaan kepada tanah air dan lain-lainnya.
Orang-orang yang enggan hijrah karena Allah, ia akan ditimpa kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”
Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.
Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya.
Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

(Q.S. An-Nisa’ [4]: 97-99)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Begitulah dakwah Syu’ayb kepada kaumnya.
Akan tetapi kaumnya telah merajalela dalam kebatilan.
Para pembesar mereka yang sombong dan tidak menerima kebenaran menghadapi Syu’ayb dengan mengatakan, “Kami pasti akan mengeluarkanmu beserta orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, dan akan kami usir kalian.
Tidak akan kami selamatkan kalian dari siksa ini, kecuali kalau kalian mengikuti agama kami yang telah kalian tinggalkan.” Lalu Syu’ayb menjawab, “Apakah kami akan kembali kepada agamamu, padahal kami tidak menyukainya karena rusak?
Tidak mungkin itu akan terjadi.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib yang menyombongkan diri berkata,) mereka yang sombong tidak mau beriman (“Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami atau kamu kembali) sungguh mau kembali (kepada agama kami.”) yaitu din/agama kami.

Di dalam pembicaraan ini yang dipakai dhamir jamak padahal pembicaranya hanya seorang yaitu Syuaib sendiri.

Sebab Syuaib itu sama sekali bukan berada dalam agama mereka, lalu ia menjawab sebaliknya (Syuaib menjawab, “Apakah) kami harus kembali kepada agamamu itu (kendatipun kami tidak menyukainya?”) Istifham/kata tanya di sini mengandung pengertian pengingkaran.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Para pemuka dan pembesar kaum Syuaib yang menyombongkan diri terhadap keimanan kepada Allah dan tidak mengikuti Nabi-Nya, Syuaib, berkata :
Wahai Syuaib, sungguh kami akan mengusirmu dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, kecuali kalian mau mengikuti agama kami.
Syuaib menjawab dengan keheranan dan mengingkari perkataan mereka :
Apakah kami harus mengikuti agama kalian yang batil itu dengan terpaksa (dan tidak suka), karena kami mengetahui bahwa agama kalian adalah batil?

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Demikianlah kisah dari Allah mengenai jawaban orang-orang kafir terhadap nabinya, yaitu Nabi Syu’aib dan pengikutnya dari kalangan kaum mukmin.
Mereka mengancam akan mengusir dan mengasingkan Nabi Syu’aib dan pengikutnya dari tanah tempat tinggalnya.
Orang-orang kafir dari kaumnya menekannya agar kembali kepada agama mereka bersama-sama mereka.
Pembicaraan dalam ayat ini ditujukan kepada seorang rasul, tetapi makna yang dimaksud menyertakan pula para pengikutnya yang memeluk agamanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan apakah (akan tetap mengusir kami) kendatipun kami tidak, menyukainya?

Nabi Syu’aib berkata kepada mereka, “Apakah kalian tetap akan melakukan ancaman terhadap kami, sekalipun kami tidak menyukai apa yang kalian serukan kepada kami?
Karena sesungguhnya jika kami kembali kepada agama kalian dan bergabung dengan kalian melakukan kebiasaan kalian, berarti kami melakukan suatu kedustaan besar terhadap Allah, sebab hal itu berarti menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang menandingi-Nya.” Ungkapan ini mengandung pengertian antipati Nabi Syu’aib untuk mengikuti seruan mereka.

Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah —Tuhan kami— menghendakinya).

Ungkapan ini merupakan pernyataan pengembalian segala sesuatu kepada Allah yang dibenarkan, karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Kepada Allah sajalah kami bertawakal.

Yaitu dalam semua urusan kami, baik yang kami kerjakan maupun yang kami tinggalkan.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 88 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 88 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 88 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:88
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.7
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/7-88









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim