QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 8 [QS. 7:8]

وَ الۡوَزۡنُ یَوۡمَئِذِ ۣالۡحَقُّ ۚ فَمَنۡ ثَقُلَتۡ مَوَازِیۡنُہٗ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
Wal waznu yauma-idzil haqqu faman tsaqulat mawaaziinuhu fa-uula-ika humul muflihuun(a);

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
―QS. 7:8
Topik ▪ Hisab ▪ Penimbangan amal perbuatan ▪ Golongan Al A’raf
7:8, 7 8, 7-8, Al A’raaf 8, AlAraaf 8, Al Araf 8, Al-A’raf 8

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 8

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 8. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan adanya timbangan di akhirat nanti.
Timbangan ini wajib kita percayai dan dengan timbangan itulah akan diketahui besar kecilnya, berat ringannya amal seseorang.
Timbangan di akhirat nanti itu adalah timbangan yang seadil-adilnya dan tak mungkin terjadi kecurangan dalam timbangan itu sebagaimana firman Allah:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.
(Q.S. Al Anbiya’: 47)

Barangsiapa berat timbangan amalnya karena iman yang dimilikinya adalah iman yang sebenarnya, bukan iman-imanan yang menyebabkan dia banyak melakukan kebaikan.
Ibadahnya kepada Allah dilakukan sebanyak mungkin penuh dengan khusyuk dan ikhlas, dan hubungannya sesama manusia baik sekali.
Dia banyak menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, membantu pembangunan mesjid, madrasah, pesantren dan bangunan-bangunan lain yang digunakan memperbaiki dan meningkatkan akhlak umat, memelihara anak yatim dan lain sebagainya.
Manusia yang demikian inilah yang akan beruntung di akhirat nanti, merasa puas menerima semua balasan amalnya di dunia sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
(Q.S. Al-Qari’ah [101]: 6-7)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada hari itu Kami akan menanyakan dan memberitahukan mereka, perhitungan segala perbuatan untuk diberi balasan yang sangat adil.
Orang-orang yang kebaikannya banyak, dan melebihi kejahatannya, adalah orang-orang yang beruntung.
Mereka akan Kami jaga dari api neraka dan akan Kami masukkan ke dalam surga.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan timbangan) untuk amal-amal perbuatan atau untuk lembaran-lembaran catatan amal perbuatan yang ditaruh di dalamnya.

Timbangan itu memiliki jarum penunjuk berat dan dua gantungan, demikian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadis.

Timbangan itu ada (pada hari itu) yakni hari penghisaban yang telah disebutkan, yaitu hari kiamat (adalah benar) adalah adil, menjadi sifat dari lafal al-wazn (maka barang siapa berat timbangannya) oleh kebaikan (maka mereka itulah orang-orang yang berbahagia) orang-orang yang beruntung.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan timbangan amal-amal manusia pada Hari Kiamat adalah timbangan yang sebenar-benarnya berdasarkan keadilan, tidak ada kezhaliman di dalamnya.
Barangsiapa yang berat timbangan amal-amalnya disebabkan amal kebajikannya yang banyak, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Timbangan.

Maksudnya, timbangan amal perbuatan kelak di hari kiamat.

…ialah kebenaran.

Yakni Allah subhanahu wa ta’ala.
tidak menganiaya seorang pun.
Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.
Danjika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahalanya.
Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 47)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun seberat zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 40)

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” (Yaitu) api yang sangat panas.
(Q.S. Al-Qari’ah [101]: 6-11)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
(Q.S. Al-Mu’minun [23]: 101), Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya.
maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.
Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.
(Q.S. Al-Mu’minun [23]: 102-103)

Yang diletakkan pada timbangan amal perbuatan kelak di hari kiamat —menurut suatu pendapat— adalah amal-amal perbuatan, sekalipun berupa sesuatu yang abstrak, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala.
mengubah bentuknya menjadi jasad yang kongkret kelak di hari kiamat.

Al-Bagawi mengatakan bahwa hal tersebut telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih, bahwa surat Al-Baqarah dan Ali Imran kelak di hari kiamat datang (dalam bentuk) seakan-akan seperti dua awan, atau dua naungan, atau dua kumpulan burung-burung yang terbang berbaris.

Termasuk ke dalam pengertian ini ialah apa yang disebut di dalam hadis sahih lainnya tentang kisah Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an kelak akan datang kepada pemiliknya dalam rupa seorang pemuda yang pucat warna (kulit)nya.
Maka pemiliknya bertanya, “Siapakah kamu?”
Ia menjawab, “Aku adalah Al-Qur’an yang membuatmu tidak dapat tidur di malam harimu dan membuatmu haus di siang harimu.”

Di dalam hadis Al-Barra mengenai kisah pertanyaan kubur disebutkan:

Maka orang mukmin didatangi oleh seorang pemuda yang bagus warna kulitnya lagi harum baunya.
Maka orang mukmin itu bertanya, “Siapakah kamu?” Ia menjawab, “Saya adalah amal salehmu.”

Lalu disebutkan hal yang sebaliknya tentang orang kafir dan orang munafik.

Menurut pendapat yang lain, yang ditimbang adalah kitab catatan amal perbuatan, seperti yang disebutkan di dalam hadis tentang bitaqah (kartu) mengenai seorang lelaki yang dihadapkan, lalu diletakkan baginya pada salah satu sisi timbangan sebanyak sembilan puluh sembilan catatan amal, setiap catatan amal tebalnya sejauh mata memandang.
Kemudian bitaqah tersebut didatangkan yang di dalam­nya bertuliskan kalimah “Tidak ada Tuhan selain Allah”.
Lalu lelaki itu bertanya, “Wahai Tuhanku, apakah bitaqah dan semua catatan ini?”
Allah subhanahu wa ta’ala.
menjawab, “Sesungguhnya engkau tidak akan dianiaya.” Lalu bitaqah tersebut diletakkan di sisi timbangan yang lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:

Maka catatan-catatan itu menjadi ringan dan bitaqah itu menjadi berat.

Imam Turmuzi meriwayatkan hal yang semisal melalui jalur ini, dan ia menilainya sahih.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, yang ditimbang itu adalah diri orang yang bersangkutan.
Seperti yang disebutkan di dalam hadis berikut:

Kelak di hari kiamat didatangkan seorang lelaki yang gemuk, tetapi di sisi Allah timbangannya tidaklah seberat sebuah sayap nyamuk kecil pun.
Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
(Q.S. Al-Kahfi [18]: 105)

Di dalam manaqib (riwayat hidup) sahabat Abdullah ibnu Mas’ud disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Apakah kalian merasa aneh dengan kedua betisnya (Ibnu Mas’ud) yang kecil itu.
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kedua betisnya itu dalam timbangan amal perbuatan jauh lebih berat daripada Bukit Uhud.

Tetapi dapat pula digabungkan pengertian dari semua asar tersebut, misalnya semuanya dinilai benar karena adakalanya yang ditimbang adalah amal perbuatannya, adakalanya catatan-catatan amalnya, dan adakalanya diri orang yang bersangkutan.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 8 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 8 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 8 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:8
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.5
Ratingmu: 4.3 (27 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/7-8









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim