Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 73


وَ اِلٰی ثَمُوۡدَ اَخَاہُمۡ صٰلِحًا ۘ قَالَ یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ قَدۡ جَآءَتۡکُمۡ بَیِّنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ؕ ہٰذِہٖ نَاقَۃُ اللّٰہِ لَکُمۡ اٰیَۃً فَذَرُوۡہَا تَاۡکُلۡ فِیۡۤ اَرۡضِ اللّٰہِ وَ لَا تَمَسُّوۡہَا بِسُوۡٓءٍ فَیَاۡخُذَکُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Waila tsamuuda akhaahum shaalihan qaala yaa qaumii’buduullaha maa lakum min ilahin ghairuhu qad jaa-atkum bai-yinatun min rabbikum hadzihi naaqatullahi lakum aayatan fadzaruuhaa ta’kul fii ardhillahi walaa tamassuuhaa bisuu-in faya’khudzakum ‘adzaabun aliimun;

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh.
Ia berkata:
“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu.
Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”.
―QS. 7:73
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin
7:73, 7 73, 7-73, Al A’raaf 73, AlAraaf 73, Al Araf 73, Al-A’raf 73
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 73. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Saleh kepada kaumnya yaitu kaum Tsamud.
Tsamud adalah nama suatu kabilah dari bangsa Arab yang telah dimusnahkan yang terkenal dengan istilah “Arab Baidah” yang mendiami Hijir, yaitu daerah antara Hejaz dan Syam.
Samud adalah nama nenek moyang mereka yaitu anak dari `Astir bin Iram bin Sam bin Nuh.
Munculnya kaum Samud itu sesudah kaum `Ad dibinasakan Allah.
Menurut suatu riwayat ketika Rasulullah ﷺ terlibat dalam peperangan Tabuk pada tahun 9 Hijriah ia pernah melewati daerah peninggalan kaum Samud itu.
Rasulullah pernah melarang para sahabat memasuki daerah tersebut dengan sabdanya yaitu:

Jangan kamu memasuki tempat-tempat mereka yang ditimpa azab Allah itu kecuali kamu dalam keadaan menangis.
Maka jika kamu tidak menangis, maka janganlah kamu memasuki tempat itu supaya kami tidak ditimpa oleh musibah yang telah menimpa mereka.”
(H.R Bukhari dan Muslim)

Saleh a.s.
adalah nabi yang diutus oleh Allah kepada kaum Samud itu.
Dia adalah dari kaum Samud yang terbaik keturunannya, kedudukannya dan keadaan rumah tangganya demikian juga akhlaknya.
Mukjizat kenabiannya adalah “unta Allah”.
Nabi Saleh menjalankan tugasnya dengan menyampaikan perintah-perintah Tuhannya yang ditujukan kepada kaumnya.
Nabi Saleh menyeru mereka supaya menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dengan menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain dari Allah karenanya hendaklah mereka bertakwa kepada-Nya.
Nabi Saleh mengajak mereka menerima seruannya dan janganlah mereka mengikuti orang-orang yang hanyut di dalam kemusyrikan.
Yang membawa mereka ke dalam neraka Jahanam akibat mereka meninggalkan ajaran agama yang benar.
Nabi Saleh mengatakan kepada kaumnya bahwa sudah ternyata bukti kebenaran dan kenabian itu, yaitu seekor unta yang Nabi Saleh menamakannya “Unta Allah”.
Yang diciptakan Allah tidak menurut biasa.
Menurut sebagian ahli tafsir unta ini keluar dari batu yang keras atas permintaan kaum Saleh sebagai suatu tanda kemukjizatan yang perlu diperhatikan oleh kaumnya.

Adapun sebabnya Nabi Saleh mengemukakan kepada kaumnya seekor unta sebagai tanda kebenaran kerasulannya karena mereka meminta bukti kerasulannya.
Nabi Saleh meminta kepada kaumnya supaya membiarkan unta itu memakan sesuatu yang ada di bumi Allah ini karena bumi ini kepunyaan Allah dan unta ini adalah unta Allah dan tidak wajar mereka menghalang-halangi unta itu apalagi menyakitinya dan menyembelihnya.
Nabi Saleh mengancam mereka bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih dari Allah jika mereka mengganggu atau membunuh unta itu.

Supaya tidak menimbulkan kesulitan antara mereka dan unta itu, maka diaturlah hari-hari minum ke telaga untuk mereka dan untuk unta itu karena sedikitnya persediaan air sebagaimana diutarakan oleh firman Allah:

Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu), tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran).
(Q.S Al Qamar: 28)

Dan juga firman Allah pada ayat yang lain yaitu:

Saleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu.
(Q.S Asy Syu’ara: 155)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa mereka minta ganti air minum unta itu dengan susunya.

Al A'raaf (7) ayat 73 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 73 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 73 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami utus kepada kaum Tsamud[1] saudara mereka, Shalih, yang berasal dari keturunan dan negeri mereka sendiri.
Ajarannya sama dengan ajaran rasul-rasul yang datang sebelum dan sesudah dia.
Ia berkata kepada mereka, “Sembahlah hanya Allah semata.
Tidak ada tuhan yang patut disembah selain Dia.
Telah datang untuk kalian bukti kebenaran risalah yang aku bawa dari Tuhan.
yaitu berupa unta dengan ciri-ciri khusus.
Di situ terdapat bukti yang jelas.
Unta itu adalah milik Allah, maka biarkanlah dia memakan rumput di bumi Allah.
Jangan kalian sakiti, sebab, dengan menyakitinya, kalian akan ditimpa siksa pedih yang memilukan.

[1] Kaum Tsamud merupakan generasi pertama dari Arab Ba’idah, sama seperti ‘Ad.
Nama mereka tertera dalam ukiran-ukiran peninggalan raja Sarjoun II, salah seorang raja Asiria Baru pada tahun 715 SM.
Mereka disebut sebagai termasuk bangsa-bangsa yang pernah ditaklukkan raja tersebut di sebelah utara semenanjung Arab.
Tempat tinggal mereka, yang masyhur dalam buku-buku pakar Arab adalah di Hijr yang dikenal dengan kota-kota Shalih di Wadi al-Qura.
Al-Ashtakhriy pernah mengunjungi tempat tersebut.
Dia menyebutkan bahwa di situ terdapat sebuah sumur yang disebut dengan sumur Tsamud.
al-Mas’udiy dalam bukunya Muruj al-Dzahab, jilid I, halaman 259, menyebutkan bahwa tempat tinggal mereka berada di antara Syam dan Hijaz sampai ke pantai laut Habasyah (Etiopia).
Rumah-rumah mereka terpahat di gunung-gunung.
Pada zaman al-Mas’udiy, peninggalan-peninggalan mereka masih tampak jelas bagi orang yang melakukan perjalanan haji dari Syam di dekat Wadi al-Qura.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) Kami telah mengutus (kepada kaum Tsamud) tanpa tanwin, yang dimaksud adalah kabilahnya (saudara mereka Saleh.
Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata) yakni mukjizat (dari Tuhanmu) yang membenarkan kerasulanku.
(Unta betina ini menjadi tanda bagimu) menjadi hal sedangkan amilnya adalah makna yang terkandung dalam isyarah.
Sebelumnya kaum Nabi Saleh itu meminta kepadanya agar ia mengeluarkan unta betina tersebut dari sebuah batu besar yang telah mereka tentukan sendiri (maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun) menyembelihnya atau memukulnya (maka kamu ditimpa siksaan yang pedih.”).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan Kami utus kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih, tatkala mereka menyembah berhala-berhala selain Allah.
Shalih berkata kepada mereka :
Wahai kaumku, beribadahlah hanya kepada Allah, tidak ada Ilah bagi kalian yang berhak disembah, kecuali Dia yang Mahatinggi.
Ikhlaskanlah ibadah hanya kepada-Nya.
Aku telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti yang nyata atas kebenaran seruanku kepada kalian.
Ingatlah, ketika aku berdoa memohon kepada Allah dihadapan kalian, lalu Dia mengeluarkan unta betina yang besar dari balik batu seperti yang kalian pinta, maka biarkanlah unta itu (bebas) memakan rumput di bumi Allah, jangan sekali-kali mengganggunya sehingga kalian akan ditimpa siksa yang menyakitkan karena perbuatan kalian itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ulama tafsir mengatakan bahwa nasab kaum Samud ialah Samud ibnu Asir ibnu Iram ibnu Sam ibnu Nuh.
Dia adalah saudara lelaki Jadis ibnu Asir, demikian pula kabilah Tasm.
Mereka semuanya adalah kabilah-kabilah dari kalangan bangsa Arabul Aribah sebelum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Kaum Samud ada sesudah kaum ‘Ad, tempat tinggal mereka terkenal, yaitu terletak di antara Hijaz dan negeri Syam serta Wadil Qura dan daerah sekitarnya.

Rasulullah ﷺ pernah melalui bekas tempat tinggal mereka ketika dalam perjalanannya menuju medan Tabuk, yaitu pada tahun sembilan Hijriah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad.
telah menceritakan kepada kami Sakhr ibnu Juwairiyah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ dalam perjalanannya menuju medan Tabuk memerintahkan orang-orang beristirahat di daerah Al-Hajar, yaitu di bekas tempat tinggal kaum Samud.
Kemudian orang-orang (para sahabat) mengambil air dari sumur-sumur yang dahulu dipakai untuk minum oleh kaum Samud.
Mereka membuat adonan roti dengan air sumur-sumur itu dan menem­patkannya di panci-panci besar.
Tetapi Nabi ﷺ memerintahkan kepada mereka agar menumpahkan air yang ada di panci-panci itu dan mem­berikan adonan mereka kepada unta-unta mereka sebagai makanannya.
Kemudian Nabi ﷺ membawa mereka berangkat hingga turun istirahat bersama mereka di sebuah sumur yang pernah dijadikan sebagai tempat minum unta tersebut (unta Nabi Saleh).
Nabi ﷺ melarang mereka memasuki bekas daerah kaum yang pernah diazab, dan Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya saya merasa khawatir bila kalian akan ditimpa oleh azab seperti yang menimpa mereka, maka janganlah kalian memasuki bekas tempat tinggal mereka.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Dinar, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ ketika di Al-Hajar pernah bersabda: Janganlah kalian memasuki daerah mereka yang pernah diazab itu kecuali bila kalian sambil menangis.
Dan jika kalian tidak dapat menangis, janganlah kalian memasukinya, (sebab) dikhawatirkan kalian akan ditimpa azab seperti yang pernah menimpa mereka.

Pokok hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain melalui berbagai jalur.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun Al-Mas’udi, dari Ismail ibnu Wasit, dari Muhammad ibnu Abu Kabsyah Al-Anmari, dari ayahnya yang mengatakan bahwa dalam masa Perang Tabuk orang-orang bergegas memasuki daerah Al-Hajar.
Ketika Rasulullah ﷺ mendengar berita itu, maka beliau menyerukan kepada orang-orang, “Salat berjamaah didirikan!” Lalu saya (perawi) datang menghadap Rasulullah ﷺ yang saat itu sedang memegang tombak kecil seraya bersabda, “Apakah yang mendorong kalian hingga berani memasuki daerah kaum yang dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.?”
Maka ada seorang lelaki dari kalangan mereka yang menjawab de­ngan suara yang keras, “Kami kagum kepada mereka, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Maukah kalian aku ceritakan tentang hal yang lebih mengagumkan daripada itu?
Yaitu seorang lelaki dari kalangan kalian sendiri akan menceritakan kepada kami apa yang telah terjadi sebelum kalian dan apa yang akan terjadi sesudah kalian.
Maka luruslah kalian dan luruskanlah diri kalian, karena sesungguhnya Allah tidak mempedulikan sesuatu pun bila mengazab kalian.
Kelak akan datang suatu kaum yang tidak dapat berbuat sesuatu pun untuk membela dirinya.”

Tidak ada seorang pun dari kalangan pemilik kitab sunnah yang mengetengahkan hadis ini.
Abu Kabsyah nama aslinya adalah Umar ibnu Sa’d, menurut pendapat yang lain bernama Amir ibnu Sa’d.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ, melewati daerah Al-Hajar, beliau bersabda: Janganlah kalian meminta mukjizat, karena sesungguhnya kaum Nabi Saleh pernah memintanya.
Dan unta itu datang dari lembah ini dan keluar dari lembah itu Tetapi mereka (kaum Saleh) durhaka terhadap perintah Tuhan mereka, lalu mereka menyembelihnya.
Pada mulanya unta itu meminum bagian air mereka selama satu hari, sedangkan pada hari yang lain mereka minum dari air susu unta itu.
Akhirnya mereka menyembelih unta itu, maka mereka diazab oleh suatu teriakan yang dengan teriakan itu Allah membinasakan semua manusia di kolong langit ini dari kalangan mereka, kecuali seorang lelaki (dari mereka) yang sedang berada di tanah suci Allah.
Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah lelaki itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Dia adalah Abu Rigal, tetapi ketika ia keluar dari tanah suci, maka ia pun tertimpa azab seperti apa yang menimpa kaumnya.

Hadis ini tidak terdapat di dalam suatu kitab pun dari kitab Sittah, dan dinilai sahih dengan syarat Imam Muslim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Samud.

Yaitu sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kabilah Samud saudara mereka, Saleh.

Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.”

Pada garis besarnya semua utusan Allah menyerukan untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku.” (Al Anbiyaa:25)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu.” (An Nahl:36)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepada kalian dari Tuhan kalian.
Unta betina Allah ini menjadi tanda bagi kalian.

Artinya, telah datang hujah Allah kepada kalian yang membenarkan apa yang aku sampaikan kepada kalian.
Sebelum itu mereka selalu meminta Suatu tanda dari Allah (mukjizat) kepada Nabi Saleh.
Mereka meminta agar Saleh mengeluarkan dari sebuah batu besar seekor unta untuk mereka yang hal itu disaksikan oleh mata kepala mereka sendiri.
Batu besar itu memang lain dari yang lain, terdapat di suatu bagian dari daerah Al-Hajar, batu itu dinamakan Al-Katibah.

Mereka meminta kepada Nabi Saleh untuk mengeluarkan se­ekor unta betina yang unggul dari batu besar itu buat mereka.
Maka Nabi Saleh membuat perjanjian dan ikrar terhadap mereka: Jika Allah mengabulkan permintaan mereka, maka mereka mau beriman kepada Nabi Saleh dan benar-benar akan mengikutinya.
Setelah mereka bersedia dan memberikan janji dan ikrar mereka kepadanya, maka Nabi Saleh ‘alaihis salam bangkit menuju ke tempat salatnya dan berdoa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Maka batu besar itu mendadak bergerak dan terbelah, kemudian keluarlah darinya seekor unta betina yang janinnya bergerak pada kedua sisi lambungnya (yakni sedang mengandung kembar), persis seperti apa yang mereka minta.

Pada saat itu juga berimanlah kepada Nabi Saleh pemimpin mereka (yaitu Junda: ibnu Amr) bersama para pengikutnya yang taat kepada perintahnya.
Ketika orang-orang terhormat lainnya dari kalangan kabilah Samud hendak beriman, mereka dihalang-halangi oleh Zu-ab ibnu Amr ibnu Labid dan Al-Hubab, pengurus berhala mereka, juga dihalang-halangi oleh Rabab ibnu Sa’r ibnu Jahlas.

Junda’ ibnu Amr mempunyai saudara sepupu yang dikenal dengan nama Syihab ibnu Khalifah ibnu Mihlah ibnu Labid ibnu Hiras, dia adalah orang yang terhormat dan terkemuka di kalangan kabilah Samud.
Ketika dia mau masuk Islam, ia dihalang-halangi oleh orang-orang tadi, akhirnya dia menuruti kemauan mereka.

Unta betina itu beserta anaknya sesudah ia melahirkannya tinggal bersama mereka dalam suatu masa.
Unta itu minum dari air sumur mereka sehari, dan hari yang lainnya air sumur itu merupakan bagian untuk minum mereka.
Pada hari minum unta itu mereka dapat minum dari air susu unta itu yang mereka perah.
Air susunya dapat memenuhi semua wadah dan panci besar mereka menurut sekehendak mereka.
Hal ini dikisahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya:

Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu), tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran).
(Al Qamar:28)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
lainnya yang mengatakan:

Saleh menjawab, “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kalian mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu.” (Asy Syu’ara:155)

Tersebutlah bahwa unta betina itu hidup bebas di lembah-lembah tempat mereka tinggal, datang dari suatu lembah dan keluar menuju lembah yang lain mencari kebebasan.
Unta tersebut konon hidup dari air, dan menurut kisahnya unta betina itu sangat besar tubuhnya dan mempunyai penampilan yang sangat cantik.
Apabila unta betina itu melewati ternak milik mereka, maka semua ternak mereka memisahkan diri darinya karena ketakutan.

Setelah hal tersebut berlangsung cukup lama di kalangan mereka, dan mereka makin gencar dalam mendustakan Nabi Saleh ‘alaihis salam, maka mereka bertekad membunuh unta betina itu dengan tujuan agar bagian airnya dapat mereka peroleh setiap harinya.

Menurut suatu pendapat, mereka semuanya sepakat untuk mem­bunuh unta betina itu.
Qatadah mengatakan, telah sampai kepadaku suatu kisah yang mengatakan bahwa lelaki yang membunuh unta itu terlebih dahulu berkeliling menemui semua kaumnya untuk memperoleh persetujuan dalam membunuhnya, yang dimintai persetujuan termasuk kaum wanita yang berada di dalam kemah-kemah pingitannya, juga anak-anak.

Menurut kami, memang demikianlah pengertian lahiriahnya karena berdasarkan kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka (dengan tanah).
(Asy-Syams: 14)

Dan telah Kami berikan kepada Samud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu.
(Al Israa’:59)

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 73 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 73



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (12 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku